Here is why Ethereum's ‘brutal stumble’ looks exactly like the start of the last bull run: Asia Morning Briefing


Penurunan singkat Bitcoin di bawah US$76.000 minggu ini memicu penurunan harga saham Strategy sebesar 7%. Hal ini mengungkap kenyataan struktural bahwa pasar tidak bisa lagi mengabaikan: seluruh posisi 713.502 BTC milik perusahaan ini sekarang tepat berada di harga modalnya.
Kenyataan ini mengubah apa yang dulunya hanya taruhan treasury korporat menjadi sebuah acuan utama bagi pasar.
Strategy, sebelumnya bernama MicroStrategy, telah mengakumulasi sekitar 3,57% dari total suplai Bitcoin. Konsentrasi ini menjadikan perusahaan tersebut bukan sekadar holder besar, tapi juga bagian dari struktur pasar itu sendiri.
“Saylor bukan hanya optimistis—dia adalah pasarnya sendiri,” papar analis CryptoQuant Maartunn dalam penilaian mendalam atas posisi Strategy. “Ini sudah bukan lagi kepemilikan pasif. Ini adalah struktur pasar.”
Angka-angka memperjelas transformasi ini. Per 1 Februari, Strategy memiliki 713.502 BTC yang diperoleh dengan total sekitar US$54,26 miliar pada harga rata-rata US$76.052 per koin. Ketika harga Bitcoin menyentuh US$74.500 pada hari Senin—level terendahnya sejak April—seluruh posisi perusahaan ini sempat berada di bawah harga modal.
Harga kini sudah pulih ke sekitar US$78.800, namun peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa level US$76.000 menjadi titik acuan mekanis. Berdasarkan analisis Maartunn, sekitar 61% suplai Bitcoin yang beredar saat ini berada di atas harga pasar, sementara 39% di bawahnya. Posisi besar Strategy tepat membelah garis keseimbangan ini.
Meski volatilitas terjadi, Strategy mengumumkan pembelian lagi: 855 BTC dengan harga rata-rata US$87.974. Ini menunjukan komitmen berkelanjutan pada strategi treasury Bitcoin, sekaligus menambah tekanan struktural baru.
Strategy has acquired 855 BTC for ~$75.3 million at ~$87,974 per bitcoin. As of 2/1/2026, we hodl 713,502 $BTC acquired for ~$54.26 billion at ~$76,052 per bitcoin. $MSTR $STRC https://t.co/tYTGMwPPUF
— Michael Saylor (@saylor) February 2, 2026
Pembelian terbaru ini meningkatkan biaya marjinal kepemilikan Strategy dan memperbesar ketergantungan pada modal. Lebih krusial lagi, pembelian dilakukan di harga sekitar 7% di atas level pasar saat ini, sehingga koin baru mereka sudah mengalami kerugian di atas kertas.
“Membeli 855 BTC di US$87.974 menaikkan biaya marjinal, meningkatkan ketergantungan modal, menambah ukuran posisi yang secara langsung berada di kerugian -7%,” ulas Maartunn. “Saylor kini memegang lebih banyak BTC di atas harga pasar daripada di bawahnya. Artinya, penurunan harga kini lebih cepat terasa.”
Posisi Strategy menggunakan leverage—hanya saja bukan jenis leverage yang umum di trading kripto. Pembelian Bitcoin perusahaan ini didanai melalui penerbitan saham, obligasi konversi, dan instrumen pasar modal lainnya.
Paparan SEC memperlihatkan kapasitas dana yang tersedia: saham preferen STRK saja masih memiliki kapasitas penerbitan US$20,33 miliar, ditambah kapasitas dari STRF (US$1,62 miliar), STRC (US$3,62 miliar), STRD (US$4,01 miliar), dan saham biasa (US$8,06 miliar).
Namun, ketergantungan pada pasar modal ini bisa menciptakan efek umpan balik. Jika harga Bitcoin jatuh, saham Strategy juga melemah. Harga saham yang turun membatasi kemampuan perusahaan untuk menggalang modal lewat penerbitan saham. Akses modal yang terbatas mengurangi daya beli, sehingga menghilangkan salah satu sumber permintaan penting di pasar.
“Saylor memang tidak berleverage seperti trader, namun neraca keuangan tetap memperbesar risiko,” terang Maartunn. “Jika harga BTC turun, saham MSTR melemah, atau minat pendanaan menurun—efek umpan baliknya bisa berbalik arah.”
Saat ini, situasinya mengundang perbandingan dengan kerentanan struktural di pasar kripto sebelumnya—bukan karena Strategy terancam kolaps, melainkan karena posisinya yang sudah cukup besar sampai bisa membentuk perilaku pasar.
“Kita pernah melihat struktur seperti ini sebelumnya,” komentar Maartunn, merujuk pada Terra dan FTX. “Bukan karena mereka jahat, namun karena terlalu banyak bergantung pada mereka. Saylor belum sampai di titik itu. Tetapi dengan 3,57% dari suplai total, visibilitas publik yang ekstrim, harga yang duduk tepat di harga modalnya, dan pembelian lanjutan yang diperlukan untuk mempertahankan struktur—pola ancamannya sudah jelas.”
Metri on-chain menegaskan pandangan waspada ini. Realized Cap tetap datar, menandakan tidak ada arus modal baru yang signifikan. Spent Output Profit Ratio (SOPR) masih bertahan di bawah 1, artinya holder jangka pendek cenderung menjual dalam keadaan rugi. Tanpa perbaikan volume spot dan arus ETF, pemulihan harga kemungkinan tidak akan didukung secara struktural.
“Harga yang mendekati rata-rata modal Anda bukan berarti aman. Itu justru menandakan fokus,” tutup Maartunn. “Pasar tidak menguji cerita. Pasar tidak menguji keyakinan. Tapi pasar menguji ukuran, konsentrasi, struktur pendanaan, dan seberapa besar harga sangat bergantung pada partisipasi yang terus berlanjut.”
Untuk saat ini, pasar nampaknya akan bergerak sideways dalam pola konsolidasi, bukannya mengalami breakdown tajam—kecuali jika efek umpan balik antara harga Bitcoin, saham Strategy, dan akses pada pasar modal berubah menjadi negatif.

Solana mulai menunjukkan tanda-tanda awal stabilisasi setelah koreksi tajam di pasar. Selama tujuh hari terakhir, SOL turun sekitar 15,5%. Penurunan ini makin tajam saat pasar secara keseluruhan mengalami aksi jual pada 31 Januari hingga 1 Februari.
Pada titik terendahnya, Solana sempat turun ke US$95,87 sebelum menemukan support. setelah itu, harga Solana sudah rebound hampir 8% dan sekarang diperdagangkan di kisaran US$103,15.
Rebound ini sudah menghapus sebagian besar kerugian harian terbaru. Lebih penting lagi, rebound ini didukung oleh arus modal yang mulai membaik dan perilaku holder jangka panjang yang tetap stabil. Sinyal-sinyal ini memperlihatkan adanya pembeli kuat yang mulai masuk. Tapi, risiko tetap ada. Apakah pemulihan ini bisa berubah menjadi reli berkelanjutan kini bergantung pada satu level kunci: US$120.
Penurunan terbaru Solana mengikuti pola teknikal yang jelas. Pada grafik harian, harga SOL menunjukkan breakdown head-and-shoulders di akhir Januari. Target penurunan dari pola ini mengarah ke zona US$95–US$96.
Target itu pun tercapai hampir sempurna di US$95,87.
Setelah menyentuh level ini, tekanan jual mulai mereda, dan pembeli mulai masuk. Pergeseran ini terlihat pada Chaikin Money Flow (CMF). CMF mengukur apakah modal sedang masuk atau keluar dari sebuah aset dengan memanfaatkan harga dan volume. Ketika CMF naik, artinya investor besar sedang mengakumulasi.
Antara 27 Januari hingga 3 Februari, harga SOL cenderung turun, namun CMF justru naik. Fenomena ini disebut bullish divergence. Artinya, walaupun harga melemah, dana tetap masuk ke pasar.
Ingin wawasan token seperti ini? Daftarkan diri Anda di Newsletter Kripto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.

Perilaku ini jarang terjadi saat koreksi tajam. Biasanya, CMF juga turun seiring dengan harga. Dalam kasus ini, CMF yang naik menandakan whale atau bahkan institusi melihat zona US$95-US$96 sebagai area menarik.
Sekarang, CMF bergerak kembali mendekati garis nol. Jika CMF menembus di atas nol, itu akan mengonfirmasi bahwa tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual. Hal ini bisa memperkuat peluang rebound. Sampai kini, data ini memperlihatkan bahwa support Solana di sekitar US$96 bukanlah kebetulan. Support ini benar-benar dijaga oleh modal besar.
Rebound yang kuat biasanya memerlukan dukungan dari investor jangka panjang. Dalam kasus Solana, dukungan itu bisa dilihat di data liveliness.
Liveliness mengukur seberapa sering koin yang sudah lama disimpan akhirnya dijual. Ketika liveliness naik, holder jangka panjang menjual asetnya. Kalau turun, mereka tetap menahan.
Selama sebulan terakhir, liveliness Solana terus bergerak turun.
Bahkan waktu harga turun tajam dari US$127 sampai di bawah US$100, liveliness tidak langsung melonjak tinggi. Selain ada kenaikan singkat sekitar 29-30 Januari, tren liveliness justru turun. Hal ini menunjukkan holder jangka panjang tidak melakukan panic selling. Sebaliknya, mereka tetap sabar.

Perilaku ini mendukung gagasan bahwa penurunan baru-baru ini dianggap bersifat sementara, bukan perubahan struktural. Namun, tidak semua grup holder sejalan.
HODL Waves menunjukkan berapa lama investor memegang koin mereka. HODL Waves membantu mengidentifikasi grup mana yang sedang membeli atau menjual. Data terbaru memperlihatkan bahwa kelompok holder 1 hari sampai 1 minggu menaikkan kepemilikan mereka dari sekitar 4,38% ke 5,26% antara 31 Desember dan 1 Februari.
Kelompok ini mewakili trader jangka pendek dan spekulan.
Mereka biasanya membeli saat harga turun dan langsung jual ketika harga rebound. Semakin banyak mereka, volatilitas juga meningkat. Ini juga menambah risiko bahwa reli bisa cepat berbalik begitu harga naik lagi.

Jadi, meskipun holder jangka panjang tetap menunjukkan keyakinan tinggi, trader jangka pendek kini makin aktif. Hal ini menciptakan struktur yang campur aduk. Situasi ini mendukung rebound jangka pendek, namun membatasi potensi reli kecuali CMF, alias permintaan institusi, benar-benar melonjak atau bergerak di atas garis nol.
Dengan momentum yang mulai membaik tapi risiko masih ada, level harga Solana sekarang lebih penting daripada indikator teknikal.
Support penting pertama tetap pada zona US$95,87–US$96,88. Area ini menandai target breakdown yang sudah tercapai. Selama SOL bertahan di atasnya, struktur rebound masih terjaga. Jika zona ini jebol, potensi penurunan terbuka hingga ke US$77. Hal ini akan membatalkan banyak setup bullish.
Di sisi atas, hambatan jangka pendek pertama berada di sekitar US$103,60. Saat ini, Solana sedang menguji area ini. Penutupan harian yang stabil di atas level tersebut akan menandakan kekuatan jangka pendek.
Namun, level terpenting ada di US$120,88. Level ini penting karena tiga alasan.
Pertama, area ini merupakan titik breakdown utama sejak 29 Januari. Kedua, level ini hampir sejajar dengan exponential moving average (EMA) 20 hari. EMA melacak tren harga terbaru dan berfungsi sebagai resistance dinamis saat terjadi tren turun.

Ketiga, ketika Solana berhasil merebut kembali zona ini pada awal Januari lalu, harganya sempat reli 17%. Jika Solana mampu breakout dan menutup harian di atas US$120,88, maka itu menandakan momentum mulai beralih ke pembeli. Ini juga akan menjadi sinyal bahwa fase koreksi mulai berakhir.
Di atas US$120,88, resistance harga Solana berikutnya ada di sekitar US$128,29. Jika berhasil menembus level tersebut, potensi reli lanjutan bisa membawa harga menuju US$148,63 sebagai bagian dari relief rally.
Namun, skenario ini hanya mungkin terjadi jika aliran modal terus masuk dan perilaku holder jangka panjang tetap stabil. Jika volume didominasi oleh trader jangka pendek, reli bisa saja terhenti sebelum mencapai target tersebut.
Negosiasi yang dipimpin Gedung Putih terkait Clarity Act berakhir pada hari Senin tanpa adanya kesepakatan, karena industri aset kripto dan kelompok lobi perbankan gagal mencapai titik temu terkait imbal hasil stablecoin. Selain itu, investasi baru sebesar US$500 juta oleh pejabat UEA di perusahaan kripto keluarga Presiden Donald Trump, semakin memperumit prospek rancangan undang-undang tersebut.
Clarity Act dibuat untuk memberikan kepastian regulasi di pasar aset kripto Amerika. Akan tetapi, rancangan ini justru terjerat kontroversi konflik kepentingan yang berpotensi menggagalkan prioritas utama pemerintah dalam regulasi aset kripto—serta bisa mengubah masa depan keuangan digital secara menyeluruh.
Pertemuan di Eisenhower Executive Office Building, yang dipandu oleh penasihat kripto presiden Patrick Witt, mempertemukan perwakilan dari Coinbase, Circle, dan Ripple, serta kelompok perdagangan bank. Setelah lebih dari dua jam diskusi, para peserta meninggalkan ruangan tanpa ada persetujuan apakah exchange kripto boleh menawarkan bunga pada stablecoin atau tidak.
Pihak kripto, yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan perbankan, merasa bahwa bank-bank sedang mengulur-ulur waktu. Gedung Putih meminta kedua belah pihak agar dapat mencapai kompromi sebelum akhir bulan.
Taruhannya sangat besar. Analisis Departemen Keuangan memperkirakan hingga US$6,6 triliun simpanan dapat berpindah dari bank ke stablecoin jika imbal hasil diperbolehkan. Pihak bank memperingatkan risiko lahirnya sistem keuangan paralel tanpa regulasi; sedangkan eksekutif kripto membalas bahwa bank sekadar takut menghadapi persaingan.
Perselisihan ini memanas pada Januari lalu saat CEO Coinbase, Brian Armstrong, menarik dukungannya untuk rancangan undang-undang, dengan menyatakan bahwa ia lebih memilih tidak ada peraturan sama sekali ketimbang undang-undang yang dianggap cacat.
🚨NEW: Some preliminary color from sources in the room on the White House stablecoin meeting that just wrapped:
— Eleanor Terrett (@EleanorTerrett) February 2, 2026
📌In attendance: Reps from @bankpolicy, @ABABankers, @FSForum, @ICBA, @Fidelity, @PayPal, @paradigm, @SoFi, @crypto_council, @BlockchainAssn, @DigitalChamber,… https://t.co/wNccPn21kT
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan—Penasihat Keamanan Nasional UEA sekaligus ketua sovereign wealth fund negara itu senilai US$1,5 triliun—mengakuisisi 49% saham World Liberty Financial, perusahaan aset kripto milik keluarga Trump, hanya empat hari sebelum pelantikan.
Pemantau etika mengkritik keras kesepakatan ini sebagai konflik kepentingan yang jelas dan potensi pelanggaran konstitusi. Kronologi waktunya sendiri jadi sorotan: Trump menjamu Tahnoon dalam makan malam Gedung Putih di bulan Maret; stablecoin USD1 milik World Liberty memfasilitasi investasi UEA sebesar US$2 miliar ke Binance pada bulan Mei; dua minggu kemudian, pemerintah menyetujui ekspor 500.000 chip AI Nvidia ke UEA, membatalkan larangan era Biden sebelumnya.
Di sinilah letak ironinya: jika lolos, Clarity Act akan mengatur semua stablecoin AS—termasuk USD1 milik World Liberty. Artinya, Trump akan menandatangani aturan yang justru mengatur bisnis aset kripto keluarganya sendiri. Dengan demikian, posisi pemerintah tentang imbal hasil akan langsung memengaruhi daya saing USD1.
Bahkan sebelum munculnya investasi UEA, pihak Demokrat sudah mendesak adanya pasal anti-korupsi. Senator Elizabeth Warren menyebut situasi ini jelas-jelas sebagai korupsi dan mendesak dilakukan tindakan Kongres. Namun karena Partai Republik menguasai kedua kamar, penyelidikan resmi masih sangat kecil kemungkinannya.
Rancangan undang-undang ini telah lolos di Komite Pertanian DPR dan Senat, namun masih perlu melewati Komite Perbankan Senat. Partai Demokrat memegang kekuatan di sana, dan tuntutan mereka tak hanya soal etika, namun juga penambahan staf penuh untuk CFTC serta penguatan perlindungan anti pencucian uang.
Jaksa di New York menambah rumit situasi, dengan menuduh melalui surat bahwa undang-undang ini memungkinkan penerbit stablecoin memperoleh untung dari penipuan dengan menahan dana curian alih-alih mengembalikannya kepada korban.
Trump menjanjikan di Davos akan menandatangani undang-undang struktur pasar dalam waktu dekat. Akan tetapi, kebuntuan soal imbal hasil, problem etika, dan tuduhan UEA kian membuat waktu tersebut sulit untuk tercapai. Penurunan harga Bitcoin sampai 40% sejak puncak Oktober mencerminkan ketidakpastian yang terus meningkat.
Clarity Act bertujuan untuk menghadirkan aturan yang jelas bagi pasar aset kripto. Namun kenyataannya, undang-undang ini justru menjadi contoh bagaimana konflik kepentingan presiden dapat mengaburkan niat legislasi yang semula sangat jelas.
Harga XRP sedang berusaha menstabilkan diri setelah aksi jual besar-besaran di pasar kripto. Token ini sempat turun hingga mendekati US$1,50 sebelum kembali naik ke sekitar US$1,61, mengikuti penurunan besar yang terjadi pada 31 Januari hingga 1 Februari. Secara teknikal, pergerakan ini terlihat seperti pantulan teknikal dan mungkin menjadi awal dari tren yang lebih besar.
Tapi, data on-chain dan aliran token memperlihatkan bahwa pemulihan ini masih lemah. Para pembeli yang menopang harga XRP saat ini kebanyakan berasal dari trader jangka pendek. Permintaan secara keseluruhan juga tetap lemah. Ada tiga indikator yang menjelaskan mengapa rebound ini masih bisa gagal.
Harga XRP masih bergerak di dalam channel turun jangka panjang yang aktif sejak awal Juli lalu.
Kenaikan baru-baru ini terjadi di dekat batas bawah channel tersebut, sekitar US$1,50. Level itu menarik minat pembeli yang membantu menahan harga. Tapi, siapa yang membeli lebih penting dibandingkan di mana harga memantul.

Ingin dapat insight token seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Crypto Newsletter Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Di sinilah peran penting HODL Waves. HODL Waves memantau berapa lama investor menyimpan aset mereka. Grafik ini juga menunjukkan kelompok holder mana yang sedang menambah atau mengurangi kepemilikan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa kelompok pemegang 1 minggu hingga 1 bulan, yang adalah trader jangka pendek, menjadi pendorong utama pembelian. Persentase suplai XRP yang mereka miliki meningkat dari sekitar 1,99% menjadi 5,27% antara 31 Januari hingga 1 Februari. Ini adalah lonjakan besar jika melihat rentang waktu cuma dua hari.
Kenaikan kepemilikan spekulatif yang sangat tajam seperti ini jelas berisiko.
Sejarah mencatat alasan mengapa ini berisiko. Saat harga XRP mencapai puncak mendekati US$2,35 pada 5 Januari, kelompok yang sama memegang sekitar 4,83% suplai. Begitu harga mulai melandai, mereka cepat-cepat menjual kepemilikan hampir separuh menjadi 2,15%. Gelombang jual inilah yang ikut mendorong harga XRP turun ke kisaran US$1,65 beberapa minggu setelahnya.

Sederhananya, kelompok trader ini biasanya membeli di saat harga turun dan cepat menjual begitu harga mulai naik. Mereka tidak tahan menghadapi ketidakpastian pasar.
Sekarang, mereka kembali menjadi motor utama rebound harga. Artinya, support saat ini lebih banyak berasal dari perputaran modal spekulatif, bukan kepercayaan jangka panjang. Jika harga XRP kesulitan menembus resistance, kelompok ini bisa saja buru-buru keluar dan memicu penurunan baru.
Peringatan kedua datang dari data arus keluar-masuk di exchange.
Arus keluar dari exchange mencerminkan seberapa banyak aset yang keluar dari platform perdagangan. Biasanya, semakin banyak aset keluar, menandakan ada yang membeli dan ingin menyimpan jangka panjang. Sebaliknya, arus masuk menunjukkan tekanan jual. Rebound harga yang kuat umumnya didukung oleh peningkatan arus keluar saat harga turun, tanda adanya permintaan baru.
XRP menunjukkan pola sebaliknya.
Pada 31 Januari, arus keluar XRP dari exchange tercatat sebesar 31,38 juta XRP. Di awal Februari, angkanya turun tajam hingga sekitar 9,81 juta. Artinya ada penurunan hampir 70%. Hal ini terjadi saat XRP anjlok sekitar 14% dari harga puncak akhir Januari.

Alih-alih meningkat saat harga turun, tekanan beli justru semakin melemah.
Hal ini penting karena menunjukkan hanya sebagian kecil trader yang menopang harga, yaitu kelompok spekulatif seperti yang dijelaskan tadi. Peserta pasar yang lebih luas tidak menambah porsi investasi mereka. Jadi jika holder jangka pendek mulai menjual, tidak banyak permintaan baru yang siap menyerap suplai tersebut.
Ini menimbulkan struktur yang rapuh. Harga mungkin bisa bertahan sementara, tapi daya tahannya kurang. Tanpa arus keluar yang lebih kuat, rebound harga biasanya tidak bertahan lama.
Risiko terakhir berasal dari tidak adanya investor jangka panjang dan investor “berkeyakinan tinggi”.
HODL Waves memperlihatkan kelompok yang berinvestasi lebih lama, terutama holder 2 tahun sampai 3 tahun, belum kembali masuk. Kelompok ini pernah memegang lebih dari 14% suplai XRP di akhir 2025. Saat ini angkanya turun menjadi sekitar 5,7% dan cenderung datar. Tidak ada aksi beli meski harga sempat turun drastis.
Kelompok holder seperti ini biasanya melakukan akumulasi besar saat harga benar-benar telah jatuh dalam. Tidak munculnya mereka menjadi tanda bahwa pasar belum menilai harga saat ini cukup menarik untuk masuk jangka panjang. Kurangnya keyakinan ini sejalan dengan struktur harga XRP sekarang.

Saat ini, ada beberapa level yang menentukan prospek XRP.
Di sisi atas, US$1,69 adalah resistensi utama pertama. Jika XRP berhasil merebut kembali level ini, kepercayaan diri mulai membaik. Jika berhasil naik lagi, US$1,96 menjadi level krusial. Pergerakan harga di atas area ini bisa menantang channel penurunan dan berpeluang mengubah tren menjadi netral.
Sementara di sisi bawah, zona support penting berada di US$1,47-US$1,50. Jika level ini jebol, harga bisa turun ke US$1,25. Hal tersebut akan mengonfirmasi terjadinya breakdown channel dan membuka potensi penurunan sekitar 27% sampai serendah US$0,93. Selama XRP bergerak di antara US$1,47 dan US$1,69, ketidakpastian masih mendominasi.

Pantulan harga baru-baru ini menunjukkan tekanan jual mulai melambat. Tapi arus exchange yang lemah, perilaku holder yang terpecah, dan ketiadaan pembeli berkeyakinan tinggi masih membatasi potensi kenaikan harga.
Saat ini, kelompok trader yang menahan harga XRP tetap di atas adalah mereka yang dulu juga pernah menjual lebih awal. Jika permintaan yang lebih besar dan partisipasi jangka panjang tidak kembali, support ini bisa justru menjadi pemicu gelombang jual berikutnya semakin cepat.

Berkas Epstein yang baru dirilis menunjukkan bahwa Jeffrey Epstein menerima email pada Maret 2019 yang menyoroti apa yang digambarkan sebagai “kontroversi besar” terkait Coinbase dan akuisisinya atas perusahaan analitik blockchain, Neutrino.
Email tertanggal 12 Maret 2019 itu dikirim oleh Richard Kahn, seorang konsultan keuangan berbasis di New York yang sering muncul dalam berkas sebagai sumber berita dan analisis yang diteruskan.
Baris subjek email tersebut menyinggung klaim yang dikaitkan dengan CEO Kraken dan menyebut Ripple XRP beserta Neutrino.

Waktu pengiriman pesan tersebut bertepatan dengan gelombang penolakan besar-besaran terhadap Coinbase setelah akuisisi Neutrino pada akhir Februari 2019.
Pendiri Neutrino sebelumnya bekerja di Hacking Team, sebuah perusahaan perangkat lunak pengawasan kontroversial yang dituduh mendukung pelanggaran hak asasi manusia.
Langkah akuisisi itu memicu reaksi keras di seluruh industri aset kripto. Para pegiat privasi dan pengguna menuding Coinbase telah mengkhianati kepercayaan pengguna, sehingga terlahir kampanye #DeleteCoinbase serta ajakan untuk melakukan boikot.
So, I spent some time looking into @coinbase's latest acquisition, Neutrino. What I found, just by reading existing reporting, is insanely dark, and could/deserves to become a massive scandal for Coinbase. Thread. /1https://t.co/z8MvAaPPKQ
— David Z. Morris (@davidzmorris) February 26, 2019
Pada periode yang sama, CEO Kraken Jesse Powell mengkritik secara terbuka kesepakatan tersebut, dengan menyatakan bahwa Neutrino tidak akan lolos dari tinjauan etika internal Kraken.
Coinbase kemudian mengumumkan bahwa karyawan Neutrino yang terafiliasi dengan Hacking Team akan keluar dari perusahaan.
Even more bizarre is the acquisition they made and reputational hit they took to be able to offer this service to the government. https://t.co/7VMpF66pYd
— Jesse Powell (@jespow) September 19, 2021
Kontroversi ini terjadi di saat yang sensitif bagi Coinbase.
Beberapa minggu sebelumnya, exchange tersebut telah melakukan listing XRP untuk diperdagangkan, sehingga menambah sorotan terhadap tata kelola, standar listing, dan pengaruh mereka di pasar aset kripto.
Pemberitaan di masa itu seringkali menghubungkan beberapa isu sekaligus – mulai dari listing XRP oleh Coinbase, latar belakang Neutrino, dan kekhawatiran lebih luas tentang pengawasan serta regulasi – meskipun keterkaitan secara langsung belum terbukti.
Baris subjek email tersebut mencerminkan situasi penuh kecurigaan dan penyebaran informasi yang sangat cepat saat itu.
Email Coinbase ini menjadi salah satu dari beberapa referensi terkait aset kripto dalam berkas Epstein yang baru dirilis.
— BeInCrypto (@beincrypto) February 2, 2026
Dokumen lain menunjukkan Epstein pernah berdiskusi tentang identitas Bitcoin bersama Peter Thiel, berinvestasi di perusahaan infrastruktur Bitcoin tahap awal Blockstream, dan menjaga kedekatan sosial dengan tokoh seperti Michael Saylor maupun Kevin Warsh.
Secara keseluruhan, catatan tersebut mengisyaratkan bahwa Epstein mengamati perkembangan aset kripto dengan cermat, khususnya di titik pertemuan antara keuangan, regulasi, dan jaringan kekuasaan elit – meski penyidik tidak menemukan bukti bahwa aset kripto terkait aktivitas kriminal dirinya.

![]()
Mozilla has implemented the long-anticipated Firefox AI Kill Switch controls that strips the web browser of any AI-powered features. You can test it right now in Firefox Nightly.
The post Firefox’s AI Kill Switch Lands in Firefox Nightly, Slated for Firefox 148 appeared first on 9to5Linux - do not reproduce this article without permission. This RSS feed is intended for readers, not scrapers.


Altcoin menunjukkan kekuatan baru di awal Februari, dengan beberapa token tertentu yang semakin mendekati level tertinggi sepanjang masa. Momentum yang kuat, arus masuk dana yang meningkat, serta setup teknikal yang menguntungkan membuat beberapa nama altcoin menjadi pusat perhatian.
Oleh karena itu, BeInCrypto telah menganalisis tiga altcoin yang berpotensi menantang atau bahkan mencetak rekor tertinggi baru di pekan pertama bulan Februari.
RAIN diperdagangkan di kisaran US$0,0094 pada waktu publikasi, dan masih berada di bawah level resistance US$0,0100. Aset kripto ini hanya sekitar 11% dari rekor tertingginya di US$0,0105. Konsolidasi harga di dekat resistance mengisyaratkan minat yang semakin besar karena pembeli kembali menguji batas atas harga.
Indikator momentum menunjukkan stabilitas jangka pendek yang cukup kuat. Money Flow Index berada di atas garis netral, menandakan adanya tekanan beli yang aktif. Permintaan yang stabil dapat meminimalkan risiko koreksi tajam. Kondisi ini memberi ruang bagi RAIN untuk mencoba naik lebih tinggi dan menantang rekor harga tertingginya.
Mau insight token lain seperti ini? Daftar Newsletter Harian Crypto dari Editor Harsh Notariya di sini.

Struktur makro masih menjadi perhatian. RAIN bergerak di dalam pola wedge naik, pola yang seringkali mendahului koreksi harga. Breakout di atas ATH bisa saja bertemu resistance garis tren dan menyebabkan pembalikan arah. Jika gagal menembus US$0,0100, harga bisa turun ke US$0,0090 dan membatalkan skenario bullish.
KITE muncul sebagai salah satu altcoin terkuat pekan ini, naik 22% dan diperdagangkan di kisaran US$0,141 pada waktu publikasi. Token ini masih bertahan di atas level support US$0,138. Struktur ini menandakan permintaan yang berkelanjutan sekaligus antusiasme investor setelah reli terbaru.
Agar mencapai ATH di US$0,163, KITE perlu naik sekitar 14,8%. Breakout di atas resistance US$0,150 akan menjadi konfirmasi lanjutan tren bullish. Chaikin Money Flow masih berada di atas nol, artinya arus dana masuk masih tercatat. Bahkan jika arus masuk mulai melambat, potensi kenaikan harga jangka pendek masih terbuka.

Risiko koreksi akan meningkat jika KITE kehilangan level support di US$0,138. Langkah ini juga dapat mematahkan tren naik yang sedang berlangsung. Arus keluar dana yang mendominasi bisa memperkuat tekanan jual. Dalam skenario ini, harga KITE bisa turun menuju US$0,116, membatalkan skenario bullish dan menunda potensi pemulihan.
STABLE menjadi salah satu token small cap dengan performa terkuat pekan ini, naik 32% dalam tujuh hari terakhir. Altcoin ini kini diperdagangkan di dekat US$0,0271 pada waktu publikasi. Pergerakan ini mencerminkan permintaan yang meningkat dan perhatian lebih dari para trader yang beralih ke aset dengan momentum tinggi.
Saat reli kemarin, STABLE mencetak rekor harga tertinggi baru di US$0,0325, alias sekitar 19,9% di atas harga saat ini. Bertahan di atas US$0,0261 sebagai support sangat krusial. Jika kekuatan harga terjaga di atas zona ini, harga berpeluang menantang ATH dan memperpanjang tren naik.

Risiko penurunan harga tetap tinggi jika para holder memilih untuk mengambil profit. Gagal bertahan di support bisa menghentikan reli. Bila tekanan jual semakin kuat, STABLE berpotensi terkoreksi ke US$0,0214. Kondisi seperti ini akan membatalkan skenario bullish dan menandakan fase konsolidasi yang lebih dalam.


Pada minggu pertama Februari 2026, pasar aset kripto akan kedatangan token baru dengan nilai lebih dari US$638 juta. Proyek-proyek besar seperti Hyperliquid (HYPE), XDC Network (XDC), dan Berachain (BERA) akan merilis pasokan token baru dalam jumlah besar.
Pelepasan token ini bisa menimbulkan volatilitas pasar dan memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek. Berikut penjelasan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan.
Hyperliquid adalah decentralized perpetual futures exchange terkemuka yang dibangun di chain layer-1 miliknya sendiri. Platform ini menawarkan trading berperforma tinggi dengan latensi rendah, order book on-chain, dan finalisasi transaksi dalam waktu kurang dari satu detik.
Pada 6 Februari, tim Hyperliquid akan unlock 9,92 juta HYPE senilai US$303,55 juta. Token ini mewakili 2,79% dari total pasokan yang dilepas.

Hyperliquid akan mengarahkan semua altcoin yang di-unlock ke kontributor inti. Unlock kali ini berlangsung setelah Hyperliquid mengurangi jumlah token tim yang di-unlock tiap bulan menjadi 140.000 HYPE untuk Februari, turun dari 1,2 juta unit pada Januari.
XDC Network adalah protokol blockchain EVM-compatible dengan standar enterprise yang dirancang untuk pembiayaan perdagangan. Platform ini memungkinkan tokenisasi aset dunia nyata dan instrumen keuangan dengan skalabilitas dan keamanan tinggi.
Pada tanggal 5 Februari, XDC Network akan unlock 841,18 juta token XDC. Token tersebut bernilai US$29,55 juta dan mencakup 5% dari total pasokan yang dilepas.

Pendiri, penasihat, dan tim akan menerima 441,18 juta token. Selain itu, jaringan akan mengalokasikan 400 juta XDC untuk pengembangan ekosistem.
Berachain adalah blockchain layer-1 identik dengan EVM yang fokus untuk mengoptimalkan likuiditas dan aktivitas decentralized finance. Mereka menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Liquidity (PoL) yang inovatif.
Pada tanggal 6 Februari, Berachain akan unlock 63,75 juta token BERA, dengan nilai sekitar US$28,8 juta, yang mewakili 41,70% dari pasokan yang dilepas. Tim Berachain akan membagi pasokan yang dilepas ini menjadi lima bagian.

Investor akan menerima 28,58 juta BERA, sedangkan kontributor inti awal akan mendapat 14 juta token. Selain itu, tim juga mengalokasikan 10,92 juta token untuk inisiatif komunitas di masa depan dan 8,67 juta token untuk pengembangan ekosistem serta riset & pengembangan. Terakhir, Berachain menahan 1,58 juta token untuk keperluan airdrop.
Selain tiga aset ini, Ethena (ENA), COCA (COCA), dan Tribal Token (TRIBL), bersama beberapa aset lainnya, juga akan mengalami pasokan baru yang masuk ke pasar minggu ini.
Penjualan besar Bitcoin terbaru tidak hanya sekadar koreksi teknikal. Pergerakannya kini semakin dalam hingga mendekati level yang langsung mempengaruhi ekonomi mining — dan ini mengubah profil risiko di pasar.
Di sekitar US$70.000, Bitcoin bergerak dari pasar yang sepenuhnya digerakkan trader menuju pasar di mana faktor ekonomi jaringan, perilaku miner, dan risiko forced selling mulai menjadi sangat penting. Inilah sebabnya level ini jauh lebih penting dibandingkan garis tren atau moving average saat ini.
Pada tingkat kesulitan jaringan saat ini dan biaya listrik sekitar US$0,08 per kWh, data mining terbaru menunjukkan adanya zona tekanan yang jelas.
Kebanyakan mesin Antminer seri S21, yang mencakup sebagian besar hashrate global modern, punya harga shutdown di kisaran US$69.000 hingga US$74.000 per BTC.
Sederhananya, di bawah kisaran harga ini, banyak miner tidak mendapatkan keuntungan dari aktivitas mining saja.

Pergerakan harga Bitcoin bisa naik turun ribuan dolar dalam waktu singkat. Tapi yang membedakan situasi kali ini adalah siapa yang tertekan, bukan seberapa cepat harga bergerak.
Di atas US$70.000, mining tetap secara umum menguntungkan. Tapi, di bawah level itu, hanya miner paling efisien saja yang masih profit, sementara operator kelas menengah mulai rugi.
Kondisi ini jadi tekanan bukan hanya pada harga, namun juga arus kas, neraca keuangan, dan perilaku pelaku industri.
Penting untuk bersikap jelas.
Harga shutdown bukan berarti jadi level support yang terjamin. Miner tidak mengendalikan harga Bitcoin, dan pasar bisa saja turun melewati titik impas mining cukup lama.
Namun, harga shutdown menandakan zona di mana perilaku berubah, dan perilaku inilah yang menggerakkan pasar saat masa tekanan berlangsung.

Harga Bitcoin Selama Sebulan Terakhir | Sumber: CoinGecko
Jika Bitcoin hanya sebentar turun di bawah US$70.000 lalu dengan cepat kembali naik, dampaknya cenderung terbatas. Tapi kalau harga terus berada di bawah level itu, maka efek domino mulai bermunculan.
Pertama, miner yang lemah bisa saja menjual cadangan BTC mereka untuk tutup biaya listrik dan hosting. Sebagian miner bahkan akan mematikan mesinnya, yang akhirnya menurunkan hashrate.
Paling penting, sentimen negatif akan semakin kuat ketika berita bergeser dari isu “volatilitas” ke “tekanan mining”.
Risiko semacam ini tidak fatal jika berdiri sendiri. Tetapi jika digabungkan, dampaknya bisa memperdalam koreksi harga.
Tekanan mining bisa sangat berbahaya ketika bertemu dengan tekanan likuiditas.
Saat ini, Bitcoin sudah berhadapan dengan:
Jika tekanan mining menambah aksi jual dengan terpaksa di atas semua masalah ini, harga di pasar bisa jatuh jauh lebih cepat dari yang dibenarkan oleh fundamental.
Beginilah gerakan tajam serta tidak teratur bisa terjadi — bukan karena Bitcoin rusak, melainkan karena banyak tekanan terjadi bersamaan.
