Normal view

Di US$76K, Rata-Rata Biaya Strategi Menyamai Harga Bitcoin Saat Ini

3 February 2026 at 01:23

Penurunan singkat Bitcoin di bawah US$76.000 minggu ini memicu penurunan harga saham Strategy sebesar 7%. Hal ini mengungkap kenyataan struktural bahwa pasar tidak bisa lagi mengabaikan: seluruh posisi 713.502 BTC milik perusahaan ini sekarang tepat berada di harga modalnya.

Kenyataan ini mengubah apa yang dulunya hanya taruhan treasury korporat menjadi sebuah acuan utama bagi pasar.

Saat Ukuran Menjadi Struktur

Strategy, sebelumnya bernama MicroStrategy, telah mengakumulasi sekitar 3,57% dari total suplai Bitcoin. Konsentrasi ini menjadikan perusahaan tersebut bukan sekadar holder besar, tapi juga bagian dari struktur pasar itu sendiri.

“Saylor bukan hanya optimistis—dia adalah pasarnya sendiri,” papar analis CryptoQuant Maartunn dalam penilaian mendalam atas posisi Strategy. “Ini sudah bukan lagi kepemilikan pasif. Ini adalah struktur pasar.”

Angka-angka memperjelas transformasi ini. Per 1 Februari, Strategy memiliki 713.502 BTC yang diperoleh dengan total sekitar US$54,26 miliar pada harga rata-rata US$76.052 per koin. Ketika harga Bitcoin menyentuh US$74.500 pada hari Senin—level terendahnya sejak April—seluruh posisi perusahaan ini sempat berada di bawah harga modal.

Harga kini sudah pulih ke sekitar US$78.800, namun peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa level US$76.000 menjadi titik acuan mekanis. Berdasarkan analisis Maartunn, sekitar 61% suplai Bitcoin yang beredar saat ini berada di atas harga pasar, sementara 39% di bawahnya. Posisi besar Strategy tepat membelah garis keseimbangan ini.

Tekanan Pembelian yang Berlanjut

Meski volatilitas terjadi, Strategy mengumumkan pembelian lagi: 855 BTC dengan harga rata-rata US$87.974. Ini menunjukan komitmen berkelanjutan pada strategi treasury Bitcoin, sekaligus menambah tekanan struktural baru.

Strategy has acquired 855 BTC for ~$75.3 million at ~$87,974 per bitcoin. As of 2/1/2026, we hodl 713,502 $BTC acquired for ~$54.26 billion at ~$76,052 per bitcoin. $MSTR $STRC https://t.co/tYTGMwPPUF

— Michael Saylor (@saylor) February 2, 2026

Pembelian terbaru ini meningkatkan biaya marjinal kepemilikan Strategy dan memperbesar ketergantungan pada modal. Lebih krusial lagi, pembelian dilakukan di harga sekitar 7% di atas level pasar saat ini, sehingga koin baru mereka sudah mengalami kerugian di atas kertas.

“Membeli 855 BTC di US$87.974 menaikkan biaya marjinal, meningkatkan ketergantungan modal, menambah ukuran posisi yang secara langsung berada di kerugian -7%,” ulas Maartunn. “Saylor kini memegang lebih banyak BTC di atas harga pasar daripada di bawahnya. Artinya, penurunan harga kini lebih cepat terasa.”

Jenis Leverage yang Berbeda

Posisi Strategy menggunakan leverage—hanya saja bukan jenis leverage yang umum di trading kripto. Pembelian Bitcoin perusahaan ini didanai melalui penerbitan saham, obligasi konversi, dan instrumen pasar modal lainnya.

Paparan SEC memperlihatkan kapasitas dana yang tersedia: saham preferen STRK saja masih memiliki kapasitas penerbitan US$20,33 miliar, ditambah kapasitas dari STRF (US$1,62 miliar), STRC (US$3,62 miliar), STRD (US$4,01 miliar), dan saham biasa (US$8,06 miliar).

Namun, ketergantungan pada pasar modal ini bisa menciptakan efek umpan balik. Jika harga Bitcoin jatuh, saham Strategy juga melemah. Harga saham yang turun membatasi kemampuan perusahaan untuk menggalang modal lewat penerbitan saham. Akses modal yang terbatas mengurangi daya beli, sehingga menghilangkan salah satu sumber permintaan penting di pasar.

“Saylor memang tidak berleverage seperti trader, namun neraca keuangan tetap memperbesar risiko,” terang Maartunn. “Jika harga BTC turun, saham MSTR melemah, atau minat pendanaan menurun—efek umpan baliknya bisa berbalik arah.”

Apa yang Sebenarnya Diuji oleh Pasar

Saat ini, situasinya mengundang perbandingan dengan kerentanan struktural di pasar kripto sebelumnya—bukan karena Strategy terancam kolaps, melainkan karena posisinya yang sudah cukup besar sampai bisa membentuk perilaku pasar.

“Kita pernah melihat struktur seperti ini sebelumnya,” komentar Maartunn, merujuk pada Terra dan FTX. “Bukan karena mereka jahat, namun karena terlalu banyak bergantung pada mereka. Saylor belum sampai di titik itu. Tetapi dengan 3,57% dari suplai total, visibilitas publik yang ekstrim, harga yang duduk tepat di harga modalnya, dan pembelian lanjutan yang diperlukan untuk mempertahankan struktur—pola ancamannya sudah jelas.”

Metri on-chain menegaskan pandangan waspada ini. Realized Cap tetap datar, menandakan tidak ada arus modal baru yang signifikan. Spent Output Profit Ratio (SOPR) masih bertahan di bawah 1, artinya holder jangka pendek cenderung menjual dalam keadaan rugi. Tanpa perbaikan volume spot dan arus ETF, pemulihan harga kemungkinan tidak akan didukung secara struktural.

“Harga yang mendekati rata-rata modal Anda bukan berarti aman. Itu justru menandakan fokus,” tutup Maartunn. “Pasar tidak menguji cerita. Pasar tidak menguji keyakinan. Tapi pasar menguji ukuran, konsentrasi, struktur pendanaan, dan seberapa besar harga sangat bergantung pada partisipasi yang terus berlanjut.”

Untuk saat ini, pasar nampaknya akan bergerak sideways dalam pola konsolidasi, bukannya mengalami breakdown tajam—kecuali jika efek umpan balik antara harga Bitcoin, saham Strategy, dan akses pada pasar modal berubah menjadi negatif.

Clarity Act Kehilangan Kejelasan atas Kesepakatan Kripto Trump dengan UEA

2 February 2026 at 23:51

Negosiasi yang dipimpin Gedung Putih terkait Clarity Act berakhir pada hari Senin tanpa adanya kesepakatan, karena industri aset kripto dan kelompok lobi perbankan gagal mencapai titik temu terkait imbal hasil stablecoin. Selain itu, investasi baru sebesar US$500 juta oleh pejabat UEA di perusahaan kripto keluarga Presiden Donald Trump, semakin memperumit prospek rancangan undang-undang tersebut.

Clarity Act dibuat untuk memberikan kepastian regulasi di pasar aset kripto Amerika. Akan tetapi, rancangan ini justru terjerat kontroversi konflik kepentingan yang berpotensi menggagalkan prioritas utama pemerintah dalam regulasi aset kripto—serta bisa mengubah masa depan keuangan digital secara menyeluruh.

Deadlock Yield

Pertemuan di Eisenhower Executive Office Building, yang dipandu oleh penasihat kripto presiden Patrick Witt, mempertemukan perwakilan dari Coinbase, Circle, dan Ripple, serta kelompok perdagangan bank. Setelah lebih dari dua jam diskusi, para peserta meninggalkan ruangan tanpa ada persetujuan apakah exchange kripto boleh menawarkan bunga pada stablecoin atau tidak.

Pihak kripto, yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan perbankan, merasa bahwa bank-bank sedang mengulur-ulur waktu. Gedung Putih meminta kedua belah pihak agar dapat mencapai kompromi sebelum akhir bulan.

Taruhannya sangat besar. Analisis Departemen Keuangan memperkirakan hingga US$6,6 triliun simpanan dapat berpindah dari bank ke stablecoin jika imbal hasil diperbolehkan. Pihak bank memperingatkan risiko lahirnya sistem keuangan paralel tanpa regulasi; sedangkan eksekutif kripto membalas bahwa bank sekadar takut menghadapi persaingan.

Perselisihan ini memanas pada Januari lalu saat CEO Coinbase, Brian Armstrong, menarik dukungannya untuk rancangan undang-undang, dengan menyatakan bahwa ia lebih memilih tidak ada peraturan sama sekali ketimbang undang-undang yang dianggap cacat.

🚨NEW: Some preliminary color from sources in the room on the White House stablecoin meeting that just wrapped:

📌In attendance: Reps from @bankpolicy, @ABABankers, @FSForum, @ICBA, @Fidelity, @PayPal, @paradigm, @SoFi, @crypto_council, @BlockchainAssn, @DigitalChamber,… https://t.co/wNccPn21kT

— Eleanor Terrett (@EleanorTerrett) February 2, 2026

Kesepakatan UAE Membayangi

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan—Penasihat Keamanan Nasional UEA sekaligus ketua sovereign wealth fund negara itu senilai US$1,5 triliun—mengakuisisi 49% saham World Liberty Financial, perusahaan aset kripto milik keluarga Trump, hanya empat hari sebelum pelantikan.

Pemantau etika mengkritik keras kesepakatan ini sebagai konflik kepentingan yang jelas dan potensi pelanggaran konstitusi. Kronologi waktunya sendiri jadi sorotan: Trump menjamu Tahnoon dalam makan malam Gedung Putih di bulan Maret; stablecoin USD1 milik World Liberty memfasilitasi investasi UEA sebesar US$2 miliar ke Binance pada bulan Mei; dua minggu kemudian, pemerintah menyetujui ekspor 500.000 chip AI Nvidia ke UEA, membatalkan larangan era Biden sebelumnya.

Paradoks Kejelasan

Di sinilah letak ironinya: jika lolos, Clarity Act akan mengatur semua stablecoin AS—termasuk USD1 milik World Liberty. Artinya, Trump akan menandatangani aturan yang justru mengatur bisnis aset kripto keluarganya sendiri. Dengan demikian, posisi pemerintah tentang imbal hasil akan langsung memengaruhi daya saing USD1.

Bahkan sebelum munculnya investasi UEA, pihak Demokrat sudah mendesak adanya pasal anti-korupsi. Senator Elizabeth Warren menyebut situasi ini jelas-jelas sebagai korupsi dan mendesak dilakukan tindakan Kongres. Namun karena Partai Republik menguasai kedua kamar, penyelidikan resmi masih sangat kecil kemungkinannya.

Jalur yang Menyempit

Rancangan undang-undang ini telah lolos di Komite Pertanian DPR dan Senat, namun masih perlu melewati Komite Perbankan Senat. Partai Demokrat memegang kekuatan di sana, dan tuntutan mereka tak hanya soal etika, namun juga penambahan staf penuh untuk CFTC serta penguatan perlindungan anti pencucian uang.

Jaksa di New York menambah rumit situasi, dengan menuduh melalui surat bahwa undang-undang ini memungkinkan penerbit stablecoin memperoleh untung dari penipuan dengan menahan dana curian alih-alih mengembalikannya kepada korban.

Trump menjanjikan di Davos akan menandatangani undang-undang struktur pasar dalam waktu dekat. Akan tetapi, kebuntuan soal imbal hasil, problem etika, dan tuduhan UEA kian membuat waktu tersebut sulit untuk tercapai. Penurunan harga Bitcoin sampai 40% sejak puncak Oktober mencerminkan ketidakpastian yang terus meningkat.

Clarity Act bertujuan untuk menghadirkan aturan yang jelas bagi pasar aset kripto. Namun kenyataannya, undang-undang ini justru menjadi contoh bagaimana konflik kepentingan presiden dapat mengaburkan niat legislasi yang semula sangat jelas.

Lunasi Utang Aave, Whale Ethereum Dump US$371 Juta ETH dalam 48 Jam

2 February 2026 at 12:26

Dua crypto whale Ethereum besar menjual ETH senilai total US$371 juta dalam waktu 48 jam untuk melunasi utang yang masih ada di Aave, yaitu protokol pinjaman decentralized terbesar.

Langkah ini terjadi ketika Aave memproses lebih dari US$140 juta dalam likuidasi otomatis di beberapa jaringan, dan hal tersebut menandakan kehati-hatian yang meningkat bahkan di antara pelaku pasar paling bermodal besar.

BitcoinOG Jual ETH US$292 Juta dan Bayar Utang US$92,5 Juta

Whale yang dikenal sebagai BitcoinOG (1011short), salah satu entitas on-chain yang paling banyak dipantau, menyetorkan 121.185 ETH senilai US$292 juta ke Binance selama dua hari. Dari hasil tersebut, entitas ini menarik US$92,5 juta dalam stablecoin dan menggunakannya untuk membayar utang di Aave.

Meski melakukan aksi jual masif, BitcoinOG tetap menjadi salah satu holder individu terbesar di dunia aset kripto. Wallet ini masih menyimpan 30.661 BTC, yang nilainya sekitar US$2,36 miliar. Juga, 783.514 ETH, setara kurang lebih US$1,78 miliar, secara on-chain, berdasarkan data Arkham Intelligence seperti dikutip Lookonchain.

Perlu dicatat bahwa hanya sekitar sepertiga dari ETH yang disetorkan ke Binance yang benar-benar digunakan untuk melunasi pinjaman. Adapun sisanya US$200 juta lagi kemungkinan digunakan untuk tujuan lain. Termasuk untuk reposisi, lindung nilai, atau menambah cadangan kas, meski belum ada detail tambahan on-chain yang terkonfirmasi.

BitcoinOG ini mulai dikenal publik setelah berhasil meraih untung dari posisi short BTC yang tepat waktu sebelum crash pada Oktober 2025. Di akhir Januari, entitas ini memindahkan 148.000 ETH ke Aave dan meminjam US$240 juta dalam stablecoin untuk memasang posisi long leverage. Langkah deleverage saat ini lebih mirip strategi mengurangi eksposur ketimbang likuidasi paksa.

Trend Research Jual ETH US$79 Juta, Lunasi Hampir Seluruh Utang

Perusahaan investasi asal Hong Kong, Trend Research, melakukan operasi yang serupa namun lebih terfokus. Dalam waktu 20 jam, perusahaan ini menyetorkan 33.589 ETH US$79 juta ke Binance. Kemudian, menarik 77,5 juta USDT untuk melunasi utang di Aave. Hampir seluruh jumlah yang dijual langsung digunakan untuk pembayaran utang.

Saat ini, Trend Research masih memegang 618.045 ETH yang nilainya sekitar US$1,4 miliar. Perusahaan ini, yang merupakan afiliasi dari LD Capital, sebelumnya menjadi salah satu akumulator ETH paling agresif dalam beberapa bulan terakhir. Mereka bahkan pernah meminjam hingga US$958 juta dalam stablecoin dari Aave untuk membeli dengan rata-rata harga masuk sekitar US$3.265 per ETH.

Pendiri Jack Yi pernah menyampaikan secara publik bahwa perusahaan ini bersiap untuk kuartal pertama 2026 yang bullish secara struktural. Namun, keputusan untuk mulai melunasi utang mengindikasikan sikap yang kini lebih berhati-hati, meskipun Trend Research masih memiliki posisi ETH yang sangat besar.

Dua Crypto Whale, Dua Pendekatan

Kedua whale ini mengonversi ETH ke stablecoin lewat Binance sebelum membayar utang di Aave, namun detailnya menunjukkan strategi yang berbeda.

BitcoinOG (1011short)Trend Research
ETH Terjual121.185 ETH (US$292Jt)33.589 ETH (US$79Jt)
Utang DilunasiUS$92,5Jt stablecoin77,5Jt USDT
Rasio Pelunasan Utang~31,7% dari hasil penjualan~98,1% dari hasil penjualan
Rentang Waktu2 hari20 jam
Sisa ETH783.514 ETH (US$1,78M)618.045 ETH (US$1,4M)
Kepemilikan Lain30.661 BTC (US$2,36M)

Rasio pelunasan utang yang lebih kecil dari BitcoinOG menunjukkan bahwa entitas ini sedang melakukan rebalancing di beberapa aspek, tidak hanya mengurangi eksposur di Aave. Sementara itu, Trend Research hampir seluruhnya menggunakan hasil penjualan untuk melunasi utang — strategi deleverage yang lebih terfokus.

Kedua entitas tidak terpaksa melakukan penjualan tersebut. Mereka bertindak secara proaktif untuk mengurangi risiko, sebuah pola yang lazim dalam manajemen portofolio profesional saat kondisi pasar sedang volatil.

Aave Bertahan dari Badai Likuidasi US$140 Juta

Langkah-langkah sukarela ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang penuh gejolak. Pada 31 Januari, sistem otomatis Aave telah melikuidasi lebih dari US$140 juta jaminan di beberapa jaringan blockchain.

Pendiri Aave, Stani Kulechov, menyebut kejadian ini sebagai stress test besar untuk pasar pinjaman on-chain Aave yang kini bernilai lebih dari US$50 miliar. “Aave Protocol melikuidasi lebih dari US$140 juta jaminan di beberapa network tanpa masalah, semuanya berjalan otomatis,” tulis Kulechov di X.

Penting untuk membedakan dua jenis aktivitas ini. US$140 juta likuidasi pada 31 Januari terjadi otomatis — dipicu saat nilai jaminan peminjam turun di bawah ambang batas yang ditentukan. Sementara US$371 juta deleverage whale pada 1–2 Februari bersifat sukarela — sebuah keputusan proaktif untuk jual aset dan melunasi utang sebelum risiko likuidasi muncul.

Keduanya terjadi di dalam rentang waktu 48 jam yang sama, namun menunjukkan mekanisme yang berbeda. Likuidasi otomatis memperlihatkan ketahanan protokol Aave, sementara pelunasan dari whale menunjukkan bagaimana holder besar secara aktif mengelola risiko sebelum kemungkinan drop lebih lanjut.

Deposit ETH di Aave Tembus Rekor Tertinggi

Meskipun pasar sedang bergolak, fundamental Aave masih sangat kuat. Deposit ETH di protokol ini menyentuh rekor tertinggi baru di awal Januari, melampaui 3 juta ETH dan hampir mendekati 4 juta ETH, menurut data Token Terminal.

Saat ini, Aave memimpin semua protokol DeFi dalam hal total value locked (TVL) dan menempati peringkat pertama di daftar 10 besar protokol versi DeFiLlama pada awal 2026. Kemampuan protokol ini untuk memproses likuidasi berskala besar tanpa risiko insolvensi ataupun intervensi manual terus membuatnya unggul dibanding para pesaingnya.

Apa Artinya Ini?

Deleveraging yang dilakukan secara bersamaan oleh dua holder ETH terbesar di jaringan memberikan sinyal yang jelas: bahkan whale paling bullish pun sedang mengurangi eksposur risiko seiring berjalannya Februari 2026. Baik BitcoinOG maupun Trend Research masih memegang posisi sangat besar — dengan total kepemilikan ETH lebih dari US$3 miliar — tetapi keduanya memilih untuk mengurangi leverage alih-alih menghadapi volatilitas secara langsung.

Bagi pasar yang lebih luas, pertanyaan utamanya adalah apakah langkah ini hanya sekadar penataan ulang yang bijak atau justru merupakan tanda awal dari pergeseran risk-off yang lebih besar di kalangan peserta DeFi skala institusi.

Bagaimana pendapat Anda tentang langkah deleveraging dua crypto whale Ethereum dan implikasinya ke pasar DeFi serta Aave ke depan? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Nomura Catat Kerugian Aset Kripto—Namun Itu Baru Setengah Cerita

2 February 2026 at 03:28

Perusahaan sekuritas terbesar di Jepang, Nomura, mengungkapkan pada tanggal 30 Januari bahwa anak usaha kripto mereka, Laser Digital, mencatat kerugian pada kuartal Oktober–Desember. Perusahaan itu sudah mengurangi posisi aset kripto dan memperketat pengendalian risiko.

Tapi hanya dua hari sebelumnya, anak usaha yang sama tersebut sudah mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin bank di Amerika Serikat. Ini bukanlah sebuah kontradiksi—melainkan sebuah pola.

48 Jam Berbeda

Pada 27 Januari di New York, Laser Digital mengajukan permohonan kepada US Office of the Comptroller of the Currency (OCC) untuk mendirikan bank kepercayaan nasional yang diatur secara federal. Anak usaha tersebut ingin menawarkan layanan kustodian, spot trading, dan staking untuk nasabah institusi di Amerika. Steve Ashley, Chairman Laser Digital, menyebut Amerika Serikat sebagai “pasar keuangan terpenting di dunia.”

Sementara itu, pada tanggal 30 di Tokyo, Chief Financial Officer Hiroyuki Moriuchi menyampaikan kepada para analis pada panggilan hasil kuartalan Nomura bahwa perusahaan sudah “mengurangi posisi di aset kripto” dan mulai memperketat pengendalian risiko. Laser Digital mencatat kerugian pada kuartal Oktober–Desember, sehingga membebani kinerja perusahaan grup di Eropa.

Kondisi yang berlawanan ini terlihat mencolok. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ini bukan putar balik mendadak—melainkan strategi yang disengaja dan berulang.

Bukan untuk Pertama Kali

Ini bukan pertama kalinya Laser Digital membebani hasil Nomura di Eropa. Pada Oktober 2025, Moriuchi mengakui bahwa “kinerja Laser Digital berkontribusi pada kerugian di operasi grup di Eropa selama kuartal April–Juni.” Saat itu, Nomura tidak mengambil langkah mundur, melainkan justru melangkah maju: Laser Digital sedang melakukan konsultasi awal dengan Financial Services Agency (FSA) Jepang untuk memperoleh lisensi trading aset kripto di dalam negeri untuk klien institusi.

Pola ini kini terulang lagi. Kerugian pada kuartal Oktober–Desember 2025 kembali mendorong pengelolaan posisi yang lebih ketat, sementara ekspansi pengembangan justru semakin dipercepat.

Strategi Dua Jalur

Nomura nampaknya menjalankan dua operasi berbeda di bawah payung Laser Digital. Di satu sisi, mereka menjalankan trading proprietary book—posisi yang diambil di aset kripto, yang rentan terhadap volatilitas pasar dan telah menyebabkan kerugian pada beberapa kuartal. “Kami telah memperketat pengelolaan posisi serta eksposur risiko untuk membatasi volatilitas laba dalam jangka pendek,” ucap Moriuchi kepada para analis pada 30 Januari.

Di sisi lain, ada pengembangan infrastruktur dan lisensi—strategi jangka panjang yang nampaknya tidak terpengaruh oleh hasil trading tiap kuartal. Perhatikan saja lini waktunya:

TanggalPeristiwaJalur
21 Sep 2022Laser Digital Holdings AG didirikan di Swiss🔵 Infrastruktur
1 Agu 2023Mendapat lisensi usaha kripto penuh dari Dubai VARA🔵 Infrastruktur
Apr–Jun 2025Laser Digital berkontribusi pada kerugian operasi di Eropa🔴 Kerugian trading
6 Agu 2025Lisensi derivatif kripto OTC teregulasi pertama dalam kerangka pilot VARA🔵 Infrastruktur
3 Okt 2025Konsultasi awal FSA untuk lisensi trading institusi di Jepang diungkap🔵 Infrastruktur
Okt–Des 2025Laser Digital kembali mencatat kerugian, posisi dikurangi🔴 Kerugian trading
22 Jan 2026Tokenized Bitcoin Diversified Yield Fund diluncurkan🔵 Infrastruktur
28 Jan 2026Permohonan charter bank nasional OCC diajukan di AS🔵 Infrastruktur
30 Jan 2026Kerugian dan pengetatan risiko diumumkan di panggilan hasil🔴 Kerugian trading

Pesan dari pimpinan Nomura sangat jelas: kerugian trading adalah persoalan manajemen risiko; pengembangan infrastruktur institusi merupakan keharusan strategis yang tidak boleh dihentikan hanya karena satu-dua kuartal yang kurang baik.

Audiens Berbeda, Pesan Berbeda

Kontradiksi yang nampak ini juga memperlihatkan bahwa Nomura sedang berbicara pada banyak audiens sekaligus. Permohonan OCC dan konsultasi ke FSA bertujuan untuk regulator dan klien institusi, yang ingin melihat kepercayaan diri pada peran jangka panjang aset kripto dalam keuangan.

Steve Ashley, chairman dan co-founder Laser Digital, menggambarkan permohonan di Amerika Serikat dengan pernyataan yang luas: “Amerika Serikat adalah pasar keuangan terpenting di dunia, dan kami percaya bab selanjutnya dari dunia keuangan digital akan ditulis oleh perusahaan-perusahaan yang benar-benar siap beroperasi di bawah tingkat pengawasan dan ketahanan itu.”

Adapun panggilan hasil kuartalan, difokuskan pada pemegang saham dan analis yang ingin keyakinan bahwa volatilitas jangka pendek bisa dikelola. Penekanan Moriuchi pada “pengelolaan posisi secara ketat” dan “pengurangan eksposur risiko” memang ditujukan untuk memberikan keyakinan tersebut.

Gambaran Lebih Besar

Nomura bukan satu-satunya yang menerapkan pendekatan ini. Sekuritas terbesar kedua di Jepang, Daiwa Securities, mulai menawarkan pinjaman berbasis yen yang dijamin oleh Bitcoin dan Ethereum pada akhir 2025. FSA Jepang kabarnya juga bersiap membuka izin exchange-traded fund (ETF) kripto di bawah Undang-Undang Investasi Trust, dengan kemungkinan produk akan listing pada 2028. Baik Nomura maupun SBI Holdings sudah mengungkapkan minat untuk meluncurkan produk semacam itu.

Survei tahun 2024 yang dilakukan oleh Nomura dan Laser Digital menemukan bahwa lebih dari separuh investor institusi memperkirakan akan mengalokasikan portofolio ke aset digital dalam tiga tahun ke depan, umumnya di kisaran 2–5% porsi portofolio. Untuk perusahaan sekuritas tradisional yang menghadapi tekanan atas pendapatan berbasis fee dari saham dan obligasi, ranah aset digital menjadi peluang diversifikasi sekaligus kebutuhan persaingan.

Jadi, paradoks ini hanyalah di permukaan saja. Nomura bukan mundur dari kripto—mereka justru menyesuaikan ulang cara mengambil risiko di ruang ini sembari mempercepat investasi struktural yang akan memantapkan posisi mereka saat siklus berikutnya tiba. Apakah taruhan pada lisensi akan berhasil atau tidak, semuanya tergantung pada hasil regulasi di Washington, Tokyo, dan tempat lainnya. Tapi satu hal pasti: Nomura sama sekali tidak berniat hanya menonton dari pinggir lapangan.

Jereh Shenzhen Runtuh: 150.000 Investor Emas Ditawari Hanya Beberapa Sen per US$1

2 February 2026 at 02:18

Sebuah platform perdagangan emas berbasis di Shenzhen telah runtuh setelah menjalankan operasi taruhan leverage tanpa jaminan fisik, sehingga lebih dari 150.000 investor kini berebut untuk mendapatkan kembali dana mereka.

Keruntuhan Jereh — yang menjadi kasus terbesar dalam gelombang kegagalan platform emas ilegal baru-baru ini di seluruh Cina — kini berubah menjadi kebuntuan karena para korban menolak skema pembayaran yang hanya memberikan sebagian kecil dari modal mereka dan meminta agar mereka melepaskan seluruh hak hukum.

Bagaimana Jereh Bekerja

Jereh beroperasi di Shuibei, pusat perdagangan emas dan perhiasan terbesar di Cina. Platform ini menarik banyak investor ritel dengan menawarkan perdagangan emas tanpa biaya, harga buyback yang menggiurkan, serta produk bernama “perdagangan harga yang telah ditentukan sebelumnya” — di mana pengguna bisa mengunci harga satu gram emas hanya dengan deposit mulai dari US$4.

Pada praktiknya, mekanisme ini sebenarnya bekerja seperti perdagangan opsi ilegal. Platform mengambil posisi berlawanan dari setiap taruhan pengguna, dengan leverage bisa mencapai hingga 40 kali. Tidak ada emas fisik yang berpindah tangan. Saat pengguna memperoleh keuntungan, Jereh harus membayar selisihnya. Ketika harga emas melonjak, beban utang itu menjadi tak tertahankan.

Bank Run

Penarikan dana mulai dibatasi sekitar 20 Januari, dengan batas harian hanya US$69 atau satu gram emas. Ribuan investor, banyak yang datang dari provinsi lain, berkumpul di kantor Jereh di Shenzhen untuk menuntut uang mereka. Dilaporkan juga terjadi adu fisik dengan polisi. Mayoritas korban adalah ibu rumah tangga serta investor kelas pekerja, menurut laporan media lokal.

Pembayaran Jauh di Bawah Ekspektasi

Pemerintah setempat membentuk satuan tugas khusus dan mengumumkan pada 31 Januari bahwa Jereh telah mulai memproses pembayaran setelah menjual aset serta mengumpulkan dana. Audit pihak ketiga juga dilakukan, dan pihak berwenang menyampaikan bahwa angka 13,4 miliar yuan yang beredar luas terkait dana belum dibayar adalah “sangat berlebihan.”

Tetapi, bagi para korban, realitas pembayaran itu sungguh menyedihkan.

Awalnya, platform menawarkan dua pilihan: pembayaran sekaligus sebesar 20% dari modal, atau 40% yang dicicil selama 12 bulan. Pada praktiknya, rasio pembayaran aktual bahkan tidak sampai 20% sekalipun.

Seorang investor asal Henan yang menginvestasikan US$5.100 mengajukan dua permohonan penebusan. Permohonan pertama ditawarkan US$1.219. Pada permohonan kedua, jumlahnya turun jadi US$244. Ada juga korban lain dengan saldo lebih dari US$44.400 dalam bentuk tunai, 5,2 gram emas, dan 1.000 gram perak hanya ditawari sekitar US$2.800 — kira-kira 6% dari total asetnya.

Pelanggan yang membeli platinum lewat platform ini sama sekali tidak dihitung dalam perhitungan pembayaran, sehingga makin memperkuat dugaan bahwa Jereh memang tidak pernah memegang logam mulia tersebut secara fisik.

Klausul Pengampunan Kriminal Picu Kemarahan

Memperparah kemarahan, proses penebusan Jereh mengharuskan korban menandatangani tiga perjanjian, termasuk “surat pengampunan pidana” — sebuah dokumen yang menurut beberapa investor berarti mereka harus melepaskan hak untuk menuntut lebih lanjut tanpa memandang jumlah pembayaran akhir.

“Bahkan setelah tandatangan, tidak ada jaminan kamu benar-benar menerima uangnya. Dan kamu harus menyerahkan hak untuk menuntut. Untuk apa — 1.700 yuan (US$236)?” ungkap seorang investor asal Zhengzhou kepada media lokal.

Banyak yang menolak menandatangani, sehingga mereka berada dalam situasi buntu dengan pihak platform. Beberapa mengatakan bahwa mereka sedang bersiap untuk menuntut secara mandiri.

Bukan Kasus yang Terpisah

Jereh bukan satu-satunya. Banyak platform serupa di Cina yang juga mengalami krisis arus kas dalam beberapa bulan terakhir seiring harga emas yang melonjak dan operator tidak memiliki mekanisme lindung nilai memadai, serta bertaruh melawan pelanggannya sendiri.

Akun media sosial Jereh telah dihapus. Berulang kali menelepon perusahaan tidak mendapat respons, dan upaya menghubungi pemiliknya, Zhang Zhiteng, juga belum berhasil.

Satuan tugas Distrik Luohu menyatakan bahwa mereka terus mendata klaim korban. Proses penyelidikan masih berlangsung.

❌