Normal view

CEO OKX: Kampanye Yield USDe Binance Sebabkan Crash 10 Oktober

31 January 2026 at 15:11

CEO OKX, Star Xu, menuduh Binance sebagai pemicu krisis 10 Oktober yang menghapus hampir US$19 miliar dari pasar aset kripto.

Xu mengklaim gejolak tersebut terjadi karena pemasaran agresif Binance terhadap dollar sintetis Ethena, USDe.

CEO OKX Kritik Pemasaran USDe Binance yang Dinilai Tidak Bertanggung Jawab

Pada unggahan 31 Januari di X (dulu Twitter), Xu berpendapat bahwa kejatuhan pasar bukan kecelakaan acak akibat kompleksitas, melainkan kegagalan manajemen risiko yang bisa diprediksi.

“Tidak ada kompleksitas. Tidak ada kecelakaan. 10/10 terjadi karena kampanye pemasaran yang tidak bertanggung jawab dari beberapa perusahaan,” ucapnya.

Xu menyebutkan bahwa kampanye akuisisi pengguna Binance untuk dollar sintetis Ethena, USDe, mendorong penggunaan leverage secara berlebihan. Ia menilai hal ini menciptakan kerentanan sistemik yang akhirnya runtuh saat terjadi tekanan pasar.

Menurut CEO OKX tersebut, Binance menawarkan imbal hasil tahunan 12% pada USDe. Hal ini memungkinkan pengguna menjadikan aset tersebut sebagai jaminan dengan syarat yang mirip dengan stablecoin tradisional seperti USDT dan USDC.

No complexity. No accident.
10/10 was caused by irresponsible marketing campaigns by certain companies.

On October 10, tens of billions of dollars were liquidated. As CEO of OKX, we observed clearly that the crypto market’s microstructure fundamentally changed after that day.… pic.twitter.com/N1VlY4F7rt

— Star (@star_okx) January 31, 2026

Xu menilai hal ini menciptakan “leveraged loop” di mana para trader menukar stablecoin standar mereka menjadi USDe untuk mencari yield tinggi. Ia juga menyebut aktivitas ini membuat APY token tersebut tampak tidak wajar hingga mencapai 70%.

“Kampanye ini memungkinkan pengguna memakai USDe sebagai jaminan dengan perlakuan sama seperti USDT dan USDC tanpa batasan efektif,” tulis Xu.

Berbeda dengan stablecoin tradisional yang didukung kas atau setara kas, USDe memakai strategi lindung nilai delta netral yang menurut Xu punya “risiko struktural setara hedge fund.”

Saat volatilitas tiba pada 10 Oktober, Xu menegaskan leverage tersebut terurai dengan sangat cepat. Pelepasan peg USDe ini memicu likuidasi beruntun yang tidak mampu dikendalikan mesin risiko, terutama berdampak pada aset seperti WETH dan BNSOL.

Kata dia, beberapa token sempat diperdagangkan hampir di level nol, dan stabilitas “artifisial” USDe justru menutupi risiko sistemik yang menumpuk sampai semuanya terlambat.

“Sebagai platform global terbesar, Binance punya pengaruh besar—dan tanggung jawab yang sama besarnya—sebagai pemimpin industri. Kepercayaan jangka panjang terhadap kripto tidak akan terbangun dari permainan yield jangka pendek, leverage berlebihan, atau praktik pemasaran yang menyembunyikan risiko,” tutup Xu.

Binance, Ethena Membantah Teori dari OKX

Tapi, para pelaku utama industri tegas membantah narasi Xu dan mengacu pada data transaksi yang tak sejalan dengan kronologi yang dia jabarkan.

Haseeb Qureshi, managing partner di Dragonfly, menilai teori Xu tidak mempertimbangkan urutan kejadian. Qureshi mengatakan harga Bitcoin sudah mencapai titik terendah 30 menit sebelum USDe lepas peg di Binance.

“USDe jelas tidak mungkin jadi penyebab spiral likuidasi,” ujar Qureshi, menyebut tuduhan itu sebagai kesalahan dalam memahami sebab-akibat.

Ia menambahkan bahwa depeg USDe merupakan kejadian terisolasi di order book Binance, sementara spiral likuidasi terjadi di seluruh pasar.

“Kalau USDe ‘depeg’ tidak menyebar ke seluruh pasar, tidak mungkin menjelaskan kenapa setiap exchange mengalami pembantaian besar-besaran,” tambah Qureshi.

Pendiri Ethena Labs, Guy Young, juga menolak klaim Xu. Ia mengutip data order book yang membuktikan perbedaan harga USDe baru terjadi setelah seluruh pasar lebih dulu anjlok.

We want simple explanations and scapegoats but unfortunately this is just factually incorrect.

Data below shows clearly USDe had a price discrepancy on Binance orderbooks a full 30 minutes *after* BTC had bottomed from the crash.

Either you are wrong or this is the first "root… https://t.co/eyhVHuIQR2 pic.twitter.com/VLjY7r2xr2

— G | Ethena (@gdog97_) January 31, 2026

Sementara itu, Binance tetap berpendapat masalah utama berasal dari “kekosongan likuiditas” alih-alih produk yang mereka tawarkan.

Exchange itu merilis data yang menunjukkan likuiditas Bitcoin berada di level “nol atau hampir nol” di sebagian besar exchange utama selama kejatuhan. Kondisi pasar tipis ini memicu skenario di mana penjualan mekanis membuat harga turun keterlaluan.

Kronologi Peristiwa Binance pada 10 Oktober.
Kronologi Peristiwa Binance pada 10 Oktober | Sumber: Binance

Exchange ini juga membantah tuduhan manipulasi sistemik, dan menyebut perilaku harga yang kacau karena market maker menarik inventaris mereka saat volatilitas ekstrem serta keterlambatan API.

Meski begitu, konflik ini memperlihatkan semakin memanaskan saling tuding di antara exchange kripto papan atas karena mereka terus diterpa sorotan terkait kerentanan struktur yang terkuak dalam insiden 10 Oktober.

Investor Kripto Kehilangan Lebih dari US$12 Juta Ethereum karena Scam ‘Address Poisoning’

31 January 2026 at 13:35

Seorang investor aset kripto kehilangan 4.556 Ethereum, dengan nilai sekitar US$12,4 juta, setelah menjadi korban serangan “address poisoning” yang sangat canggih.

Specter, seorang analis blockchain yang dikenal dengan nama samaran, melaporkan bahwa pencurian ini terjadi sekitar 32 jam setelah pelaku “mempercikkan” wallet korban dengan transaksi nominal.

Bagaimana Alamat Palsu Mirip Asli Membuat Seorang Holder Ethereum Rugi Jutaan US$

Berdasarkan analisis on-chain dari Specter, pelaku menghabiskan dua bulan untuk memantau aktivitas transaksi korban. Selama periode ini, hacker secara khusus menemukan alamat deposit yang digunakan untuk penyelesaian OTC.

A victim has lost 4,556 ETH (~$12.4M) to an address-poisoning attack.

The attacker had been dusting the victim’s wallet with a look-alike address mimicking the victim’s OTC deposit address for over two months. The recent dusting occurred ~32 hours before the loss, after which… pic.twitter.com/YBriKd65Fi

— Specter (@SpecterAnalyst) January 30, 2026

Pelaku menggunakan perangkat lunak vanity address generation untuk membuat wallet tiruan yang sangat mirip. Alamat palsu ini memiliki karakter awal dan akhir yang persis sama seperti alamat tujuan sah milik korban.

Address poisoning mengandalkan kebiasaan pengguna yang hanya memeriksa beberapa karakter pertama dan terakhir dari serangkaian angka dan huruf heksadesimal yang panjang. Dalam kasus ini, alamat palsu dan alamat OTC asli terlihat sangat mirip jika dilihat sekilas.

Pertama, pelaku mengirimkan transaksi kecil ke wallet korban, sebuah strategi agar alamat palsu muncul di riwayat aktivitas pengguna. Langkah ini membuat alamat yang sudah diubah tersebut tampil paling atas dalam daftar “transaksi terbaru”.

Berdasarkan daftar yang sudah tercemar ini, tanpa sengaja korban menyalin alamat yang sudah teracuni itu, alih-alih alamat yang sah, saat mencoba memindahkan dana senilai US$12,4 juta.

Serangan Address Poisoning.
Serangan Address Poisoning | Sumber: Scam Sniffer

Kejadian ini menjadi kasus besar kedua pencurian dana delapan digit melalui metode yang sama dalam beberapa pekan terakhir. Bulan lalu, seorang trader kripto lainnya kehilangan sekitar US$50 juta dalam skema serupa.

Pelaku industri menilai, maraknya serangan ini terjadi karena antarmuka wallet sering memotong tampilan alamat untuk menghemat ruang pada layar. Desain seperti ini akhirnya menyembunyikan karakter tengah yang berbeda.

Di sisi lain, insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai protokol verifikasi di kalangan investor kelas institusi.

Sementara trader ritel biasanya hanya copy-paste alamat, pihak yang mengelola dana jutaan biasanya menerapkan prosedur whitelist yang ketat dan melakukan uji transaksi.

Oleh karena itu, perusahaan keamanan blockchain, Scam Sniffer, telah mengimbau investor untuk tidak lagi mengandalkan riwayat transaksi ketika melakukan pembayaran kripto secara berulang. Sebagai gantinya, mereka merekomendasikan penggunaan buku alamat yang sudah terverifikasi dan dikodekan secara manual guna mengurangi risiko pemalsuan antarmuka.

Tether Catat Laba Rekor saat Kepemilikan Utang AS Capai US$141 Miliar

31 January 2026 at 11:30

Tether, tulang punggung kontroversial namun dominan di pasar aset kripto, melaporkan laba bersih fantastis sebesar US$10 miliar untuk tahun 2025.

Hasil ini menegaskan tahun ekspansi agresif yang mengubah penerbit stablecoin tersebut menjadi salah satu pemegang surat utang pemerintah AS swasta terbesar di dunia.

Ekspansi USDT Senilai US$50 Miliar Dorong Laba Rekor

Laba ini, yang Tether klaim sepenuhnya berasal dari bisnis inti stablecoin mereka, bertepatan dengan suntikan likuiditas raksasa sebesar US$50 miliar ke dalam ekosistem kripto.

Tether just released its quarterly attestation for Q4 2025.

Tether had a great year, surpassing 10B in profits.

USDT expanded throughout the year by 50 billion, because global demand for dollars is increasingly moving outside traditional banking rails, particularly in regions… https://t.co/RMkIvQC9uY

— Paolo Ardoino 🤖 (@paoloardoino) January 30, 2026

Penerbitan ini mendorong total USDT beredar melewati US$186 miliar. Ini menjadi ekspansi tahunan terbesar kedua dalam sejarah perusahaan yang sudah berjalan satu dekade.

“USDT berkembang sepanjang tahun sebesar 50 miliar, karena permintaan global untuk dolar makin bergerak ke luar jalur perbankan tradisional, terutama di wilayah di mana sistem keuangan lambat, terfragmentasi, atau sulit dijangkau. USDT, dengan efek jaringannya dan pertumbuhan parabolis, kini menjadi jejaring sosial moneter yang paling banyak diadopsi dalam sejarah umat manusia.” ujar CEO Tether Paolo Ardoino.

Sementara Tether punya portofolio ventura senilai US$20 miliar di berbagai sektor seperti AI dan bioteknologi, investasi berisiko tinggi itu bukanlah penggerak utama rezeki tahun ini. Justru, laba tersebut merupakan hasil dari kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lama.

Di sisi lain, neraca keuangan Tether kini bisa menyaingi negara-negara berdaulat besar. Total aset cadangan perusahaan ini melonjak ke rekor US$193 miliar, didukung oleh eksposur besar US$141 miliar ke US Treasury (baik langsung maupun tidak langsung).

Cadangan Stablecoin USDT Tether
Cadangan Stablecoin USDT Tether | Sumber: Tether

Angka US$141 miliar ini menempatkan Tether di antara kreditor terbesar pemerintah AS secara global, sebuah fakta yang menuai kekaguman investor dan juga pengawasan dari Washington.

Pertumbuhan ini membawa risiko sistemik yang kian tinggi karena perusahaan masih belum diaudit oleh kantor akuntan “Big Four”.

Akibatnya, para kritikus masih mempertanyakan likuiditas sejati dari kepemilikan emas senilai US$17,4 miliar dan kepemilikan Bitcoin senilai US$8,4 miliar saat terjadi tekanan pasar. meski begitu, perusahaan menegaskan mereka masih memiliki cadangan lebih sebesar US$6,3 miliar.

Hambatan Regulasi Tether

Pencapaian finansial ini saat ini tertutupi oleh jurang regulasi yang makin melebar. Di Eropa, USDT tetap beroperasi tanpa izin di bawah kerangka Markets in Crypto-Assets (MiCA).

Lebih penting lagi, pengesahan GENIUS Act di Amerika Serikat membuat USDT menjadi “tidak memenuhi syarat” untuk dipakai secara domestik.

Untuk melindungi kepentingannya di Amerika, Tether meluncurkan USAT, sebuah aset onshore yang secara khusus mengikuti aturan pemerintah federal AS.

Strategi terpisah ini—menggunakan USDT untuk “shadow banking” global dan USAT untuk kegiatan niaga yang diregulasi di AS—menandai perubahan penting dalam upaya Tether mencapai status “too big to fail”.

Meski diterpa berbagai kendala, USDT masih punya pangsa pasar 60,5%. Untuk saat ini, Tether tetap menjadi pemimpin likuiditas utama, walaupun tembok regulasi global mulai menutup ruang geraknya.

❌