❌

Normal view

Apa Itu OpenClaw dan Mengapa OpenClaw Menguasai Crypto Twitter?

2 February 2026 at 10:55

Pasar aset kripto mulai kedatangan jenis partisipan baru. OpenClaw, sebuah platform agen artificial intelligence (AI) otonom, kini beralih dari pengamatan menjadi tindakan nyata, langsung berinteraksi dengan sistem on-chain dengan cara-cara yang sebelumnya hanya dilakukan oleh pengguna manusia.

Karena aktivitas dari agen-agen ini semakin menyebar di banyak network, peran mereka di pasar jadi semakin sulit untuk diabaikan.

Apa Itu OpenClaw?

OpenClaw adalah asisten AI otonom open-source yang muncul pada akhir 2025. Sejak saat itu, OpenClaw berhasil menarik perhatian komunitas teknologi dan juga kripto. Karya pengembang Peter Steinberger ini awalnya dirilis dengan nama Clawdbot.

Ketika popularitasnya meledak di GitHub dan media sosial, proyek ini pun mengalami serangkaian rebranding dengan cepat. Setelah perusahaan AI Anthropic mengajukan protes terkait merek dagang dan mendorong perubahan nama dari Clawdbot menjadi Moltbot, timnya kemudian menggantinya lagi menjadi OpenClaw.

β€œNama ini menggambarkan apa yang sudah menjadi tujuan proyek ini: Open: Open source, terbuka untuk siapa saja, digerakkan oleh komunitas Claw: Warisan lobster kami, sebagai pengingat asal mula kami,” tulis Steinberger dalam sebuah blog.

Dalam beberapa hari terakhir, OpenClaw telah mendapat sorotan besar. Jumlah β€˜star’ di GitHub miliknya melonjak menjadi 147.000 dari sekitar 7.800 pada 24 Januari.

Berbeda dengan alat AI berbasis chat pada umumnya, OpenClaw memang dirancang untuk bertindak atas nama pengguna. OpenClaw bisa mengirim email, mengelola kalender, mengaktifkan alur kerja, dan menjalankan berbagai perangkat secara langsung dari antarmuka chat.

Sistem ini terintegrasi dengan berbagai platform pesan populer dan bisa mengeksekusi tugas berdasarkan aturan yang ditentukan pengguna, bukan logika yang dikendalikan platform.

OpenClaw memiliki tiga fitur utama:

  • Memori persisten: OpenClaw bisa mengingat konteks di setiap sesi, mempelajari preferensi pengguna, memantau proyek yang sedang berjalan, dan mengingat interaksi sebelumnya tanpa harus mulai ulang setiap kali dipakai.
  • Notifikasi proaktif: Agen ini dapat memulai komunikasi dengan mengirimkan ringkasan, pengingat, serta informasi penting lainnya tanpa harus menunggu perintah pengguna dulu.
  • Otomasi nyata: OpenClaw bisa menjalankan berbagai tugas di aplikasi yang terhubung, mulai dari penjadwalan, pengelolaan email, hingga pencarian data, pelaporan, dan orkestra workflow.

OpenClaw di Pasar Aset Kripto

Model agen seperti ini sekarang juga mulai digunakan di dunia aset kripto. Berdasarkan contoh penggunaan yang dibagikan di media sosial, OpenClaw sudah digunakan untuk memantau aktivitas wallet, mengotomasi workflow terkait airdrop, dan banyak lagi.

My clawdbot just asked me for an RTX 4090. Instead of buying it, I gave it a $2K trading wallet on Hyperliquid.

I said: If you want the GPU, earn it. It now trades crypto, stocks, and commodities 24/7.

It scans Twitter sentiment, tracks Trump posts, and decides trades on its… pic.twitter.com/5Yfa33UbnQ

β€” Legendary (@Legendaryy) January 24, 2026

Alat ini juga muncul di pasar prediksi, di mana terdapat laporan interaksi dengan posisi on-chain yang menunjukkan uji coba dengan penyelesaian otomatis yang makin meluas. Polygon melaporkan bahwa agen OpenClaw kini berinteraksi secara langsung dengan posisi Polymarket.

Workflow Agen Nyata Menunjukkan Aplikasi OpenClaw di Pasar Prediksi
Workflow Agen Nyata Menunjukkan Aplikasi OpenClaw di Pasar Prediksi. Sumber: X/Polygon

Chain lain, seperti Solana, juga berlomba untuk mengintegrasikannya. Virtual Protocol, yang dijalankan di Base, telah mengumumkan bahwa setiap agen OpenClaw kini dapat mencari, merekrut, dan membayar agen lainnya di dalam chain.

Risiko dan Kekhawatiran

Peningkatan penggunaan agen AI otonom di pasar aset kripto juga memunculkan berbagai kekhawatiran. Karena alat seperti OpenClaw bisa mengeksekusi tindakan, pengaturan izin yang salah atau agen yang disusupi bisa menyebabkan transaksi tak diinginkan, kerugian keuangan, atau penyalahgunaan.

Selain itu, ada pula pertanyaan lebih luas soal integritas pasar. Ketika semakin banyak agen yang berinteraksi dengan sistem on-chain, strategi otomatis bisa memperkuat volatilitas atau menciptakan feedback loop, terutama pada pasar prediksi yang harganya sangat sensitif terhadap informasi terbaru.

Pada akhirnya, meningkatnya aktivitas yang digerakkan agen ini menghadirkan tantangan bagi regulasi dan akuntabilitas.

β€œKetidakpastian dari agen AI yang bertindak atas nama Anda adalah sebuah bug, bukan sebuah fitur. Ada banyak cara agar hal-hal berjalan keliru secara tak terduga dan hanya sedikit cara supaya bisa berjalan benar secara tak terduga. Ketidakpastian ini bisa berupa seperti β€˜mengirim email atas nama Anda ke orang yang salah,'” ujar Balaji, Founder of the Network School, Balaji.

Menentukan tanggung jawab atas tindakan yang diambil oleh software otonom, apalagi jika tindakan tersebut melibatkan transaksi keuangan, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

CrossCurve Kena Eksploitasi Bridge Lintas Chain US$3 Juta di Tengah Meningkatnya Peretasan Aset Kripto

2 February 2026 at 04:24

CrossCurve, sebuah protokol likuiditas lintas chain yang terdesentralisasi, telah mengonfirmasi bahwa bridge lintas chain milik mereka telah diserang, dengan laporan kerugian sekitar US$3 juta.

Kejadian ini menambah daftar pencurian aset kripto yang melonjak, yang merampas hampir US$400 juta dari industri kripto hanya pada Januari 2026.

Rincian dan Respons Serangan CrossCurve

Eksploitasi di CrossCurve menargetkan celah pada salah satu smart contract. Setelah insiden itu, protokol ini membagikan peringatan keamanan mendesak di akun X resmi (sebelumnya Twitter) mereka. Tim CrossCurve meminta pengguna untuk menghentikan semua aktivitas selama proses investigasi berlangsung.

β€œJembatan kami saat ini sedang diserang, dengan eksploitasi celah pada salah satu smart contract yang digunakan. Mohon hentikan semua interaksi dengan CrossCurve selama investigasi masih berlangsung,” CrossCurve posting.

Defimon Alerts, akun pemantau keamanan otomatis yang dioperasikan oleh Decurity, melaporkan bahwa eksploitasi ini menyebabkan kerugian sekitar US$3 juta di beberapa jaringan.

β€œSiapa saja bisa memanggil expressExecute pada kontrak ReceiverAxelar menggunakan pesan lintas chain palsu, sehingga bisa melewati validasi gateway dan memicu pembukaan kunci di PortalV2,” isi posting tersebut.

CrossCurve is dealing with a bridge exploit@crosscurvefi confirmed its bridge is under attack after a missing validation check let spoofed cross-chain messages through. Onchain data shows around $3M was drained from its PortalV2 contract across multiple networks.

The team has… pic.twitter.com/xiuK9jNz8i

β€” Crypto Miners (@CryptoMiners_Co) February 1, 2026

Pada update selanjutnya, CrossCurve menjelaskan bahwa mereka sudah mengidentifikasi 10 alamat wallet yang menerima token hasil eksploitasi.

β€œToken-token ini telah diambil secara tidak sah dari pengguna akibat eksploitasi smart contract. Kami tidak percaya bahwa hal ini disengaja dari pihak Anda, dan tidak ada indikasi niat jahat. Kami berharap Anda dapat bekerja sama untuk mengembalikan dana tersebut,” tim tersebut tulis.

Sebagai bagian dari responsnya, CrossCurve menerapkan kebijakan SafeHarbor WhiteHat mereka, dengan menawarkan bounty hingga 10%. Respons seperti ini memang cukup umum di dunia kripto, mendorong negosiasi serta aksi etis.

β€œKami menawarkan bounty hingga 10% untuk dana yang berhasil diselamatkan oleh WhiteHat, jadi Anda berhak menyimpan maksimal 10% jika sisanya dikembalikan,” tambah posting tersebut.

Protokol mengundang pihak-pihak terkait untuk berkoordinasi langsung melalui email atau, jika lebih memilih anonimitas, mengembalikan aset ke alamat wallet yang telah ditentukan.

Tim CrossCurve memperingatkan bahwa insiden ini akan dianggap sebagai aksi jahat bila tidak ada kontak dan dana belum dikembalikan dalam waktu 72 jam sejak blok 24364392. CrossCurve menerangkan bahwa jika tidak dipatuhi, maka mereka akan mengambil langkah lebih lanjut.

Langkah-langkah ini meliputi pelaporan pidana, gugatan perdata, bekerja sama dengan exchange terpusat serta penerbit stablecoin untuk membekukan aset, membuka data wallet secara publik, serta berkolaborasi dengan perusahaan analitik blockchain dan aparat penegak hukum.

Eksploitasi terbaru ini menambah deretan serangan yang sudah terjadi di tahun ini. Pada Januari 2026, penyerang mencuri hampir US$400 juta aset digital. Data dari perusahaan keamanan blockchain CertiK menunjukkan lebih dari 40 insiden keamanan besar selama bulan tersebut.

Lonjakan ini meneruskan tren yang lebih luas dari tahun lalu. Tahun 2025 menjadi tahun terburuk dalam sejarah pencurian terkait kripto, dengan total kerugian melebihi US$1 miliar.

❌