❌

Normal view

Solana Reli setelah Sell-Off saat Dana Besar Kembali β€” Kenapa US$120 Penting Berikutnya

3 February 2026 at 00:00

Solana mulai menunjukkan tanda-tanda awal stabilisasi setelah koreksi tajam di pasar. Selama tujuh hari terakhir, SOL turun sekitar 15,5%. Penurunan ini makin tajam saat pasar secara keseluruhan mengalami aksi jual pada 31 Januari hingga 1 Februari.

Pada titik terendahnya, Solana sempat turun ke US$95,87 sebelum menemukan support. setelah itu, harga Solana sudah rebound hampir 8% dan sekarang diperdagangkan di kisaran US$103,15.

Rebound ini sudah menghapus sebagian besar kerugian harian terbaru. Lebih penting lagi, rebound ini didukung oleh arus modal yang mulai membaik dan perilaku holder jangka panjang yang tetap stabil. Sinyal-sinyal ini memperlihatkan adanya pembeli kuat yang mulai masuk. Tapi, risiko tetap ada. Apakah pemulihan ini bisa berubah menjadi reli berkelanjutan kini bergantung pada satu level kunci: US$120.


Target Breakdown Tercapai saat Dana Besar Masuk di Dekat Support

Penurunan terbaru Solana mengikuti pola teknikal yang jelas. Pada grafik harian, harga SOL menunjukkan breakdown head-and-shoulders di akhir Januari. Target penurunan dari pola ini mengarah ke zona US$95–US$96.

Target itu pun tercapai hampir sempurna di US$95,87.

Setelah menyentuh level ini, tekanan jual mulai mereda, dan pembeli mulai masuk. Pergeseran ini terlihat pada Chaikin Money Flow (CMF). CMF mengukur apakah modal sedang masuk atau keluar dari sebuah aset dengan memanfaatkan harga dan volume. Ketika CMF naik, artinya investor besar sedang mengakumulasi.

Antara 27 Januari hingga 3 Februari, harga SOL cenderung turun, namun CMF justru naik. Fenomena ini disebut bullish divergence. Artinya, walaupun harga melemah, dana tetap masuk ke pasar.

Ingin wawasan token seperti ini? Daftarkan diri Anda di Newsletter Kripto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.

Breakdown Harga Solana
Breakdown Harga Solana: TradingView

Perilaku ini jarang terjadi saat koreksi tajam. Biasanya, CMF juga turun seiring dengan harga. Dalam kasus ini, CMF yang naik menandakan whale atau bahkan institusi melihat zona US$95-US$96 sebagai area menarik.

Sekarang, CMF bergerak kembali mendekati garis nol. Jika CMF menembus di atas nol, itu akan mengonfirmasi bahwa tekanan beli lebih kuat daripada tekanan jual. Hal ini bisa memperkuat peluang rebound. Sampai kini, data ini memperlihatkan bahwa support Solana di sekitar US$96 bukanlah kebetulan. Support ini benar-benar dijaga oleh modal besar.


Holder Jangka Panjang Tetap Sabar, tetapi Risiko Jangka Pendek Semakin Meningkat

Rebound yang kuat biasanya memerlukan dukungan dari investor jangka panjang. Dalam kasus Solana, dukungan itu bisa dilihat di data liveliness.

Liveliness mengukur seberapa sering koin yang sudah lama disimpan akhirnya dijual. Ketika liveliness naik, holder jangka panjang menjual asetnya. Kalau turun, mereka tetap menahan.

Selama sebulan terakhir, liveliness Solana terus bergerak turun.

Bahkan waktu harga turun tajam dari US$127 sampai di bawah US$100, liveliness tidak langsung melonjak tinggi. Selain ada kenaikan singkat sekitar 29-30 Januari, tren liveliness justru turun. Hal ini menunjukkan holder jangka panjang tidak melakukan panic selling. Sebaliknya, mereka tetap sabar.

Liveliness Turun
Liveliness Turun: Glassnode

Perilaku ini mendukung gagasan bahwa penurunan baru-baru ini dianggap bersifat sementara, bukan perubahan struktural. Namun, tidak semua grup holder sejalan.

HODL Waves menunjukkan berapa lama investor memegang koin mereka. HODL Waves membantu mengidentifikasi grup mana yang sedang membeli atau menjual. Data terbaru memperlihatkan bahwa kelompok holder 1 hari sampai 1 minggu menaikkan kepemilikan mereka dari sekitar 4,38% ke 5,26% antara 31 Desember dan 1 Februari.

Kelompok ini mewakili trader jangka pendek dan spekulan.

Mereka biasanya membeli saat harga turun dan langsung jual ketika harga rebound. Semakin banyak mereka, volatilitas juga meningkat. Ini juga menambah risiko bahwa reli bisa cepat berbalik begitu harga naik lagi.

HODL Waves SOL
HODL Waves SOL: Glassnode

Jadi, meskipun holder jangka panjang tetap menunjukkan keyakinan tinggi, trader jangka pendek kini makin aktif. Hal ini menciptakan struktur yang campur aduk. Situasi ini mendukung rebound jangka pendek, namun membatasi potensi reli kecuali CMF, alias permintaan institusi, benar-benar melonjak atau bergerak di atas garis nol.


Level Harga Kunci Solana dan Kenapa US$120 Merupakan Ujian Sebenarnya

Dengan momentum yang mulai membaik tapi risiko masih ada, level harga Solana sekarang lebih penting daripada indikator teknikal.

Support penting pertama tetap pada zona US$95,87–US$96,88. Area ini menandai target breakdown yang sudah tercapai. Selama SOL bertahan di atasnya, struktur rebound masih terjaga. Jika zona ini jebol, potensi penurunan terbuka hingga ke US$77. Hal ini akan membatalkan banyak setup bullish.

Di sisi atas, hambatan jangka pendek pertama berada di sekitar US$103,60. Saat ini, Solana sedang menguji area ini. Penutupan harian yang stabil di atas level tersebut akan menandakan kekuatan jangka pendek.

Namun, level terpenting ada di US$120,88. Level ini penting karena tiga alasan.

Pertama, area ini merupakan titik breakdown utama sejak 29 Januari. Kedua, level ini hampir sejajar dengan exponential moving average (EMA) 20 hari. EMA melacak tren harga terbaru dan berfungsi sebagai resistance dinamis saat terjadi tren turun.

Analisis Harga Solana
Analisis Harga Solana | Sumber: TradingView

Ketiga, ketika Solana berhasil merebut kembali zona ini pada awal Januari lalu, harganya sempat reli 17%. Jika Solana mampu breakout dan menutup harian di atas US$120,88, maka itu menandakan momentum mulai beralih ke pembeli. Ini juga akan menjadi sinyal bahwa fase koreksi mulai berakhir.

Di atas US$120,88, resistance harga Solana berikutnya ada di sekitar US$128,29. Jika berhasil menembus level tersebut, potensi reli lanjutan bisa membawa harga menuju US$148,63 sebagai bagian dari relief rally.

Namun, skenario ini hanya mungkin terjadi jika aliran modal terus masuk dan perilaku holder jangka panjang tetap stabil. Jika volume didominasi oleh trader jangka pendek, reli bisa saja terhenti sebelum mencapai target tersebut.

Harga XRP Menemukan Support di US$1,50 β€” Tapi Buyer yang Salah yang Menguasai Pasar

2 February 2026 at 23:00

Harga XRP sedang berusaha menstabilkan diri setelah aksi jual besar-besaran di pasar kripto. Token ini sempat turun hingga mendekati US$1,50 sebelum kembali naik ke sekitar US$1,61, mengikuti penurunan besar yang terjadi pada 31 Januari hingga 1 Februari. Secara teknikal, pergerakan ini terlihat seperti pantulan teknikal dan mungkin menjadi awal dari tren yang lebih besar.

Tapi, data on-chain dan aliran token memperlihatkan bahwa pemulihan ini masih lemah. Para pembeli yang menopang harga XRP saat ini kebanyakan berasal dari trader jangka pendek. Permintaan secara keseluruhan juga tetap lemah. Ada tiga indikator yang menjelaskan mengapa rebound ini masih bisa gagal.


Holder Jangka Pendek Memimpin Reli β€” dan Itu Berisiko

Harga XRP masih bergerak di dalam channel turun jangka panjang yang aktif sejak awal Juli lalu.

Kenaikan baru-baru ini terjadi di dekat batas bawah channel tersebut, sekitar US$1,50. Level itu menarik minat pembeli yang membantu menahan harga. Tapi, siapa yang membeli lebih penting dibandingkan di mana harga memantul.

XRP Masih Cenderung Bearish
XRP Masih Cenderung Bearish: TradingView

Ingin dapat insight token seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Crypto Newsletter Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.

Di sinilah peran penting HODL Waves. HODL Waves memantau berapa lama investor menyimpan aset mereka. Grafik ini juga menunjukkan kelompok holder mana yang sedang menambah atau mengurangi kepemilikan.

Data terbaru memperlihatkan bahwa kelompok pemegang 1 minggu hingga 1 bulan, yang adalah trader jangka pendek, menjadi pendorong utama pembelian. Persentase suplai XRP yang mereka miliki meningkat dari sekitar 1,99% menjadi 5,27% antara 31 Januari hingga 1 Februari. Ini adalah lonjakan besar jika melihat rentang waktu cuma dua hari.

Kenaikan kepemilikan spekulatif yang sangat tajam seperti ini jelas berisiko.

Sejarah mencatat alasan mengapa ini berisiko. Saat harga XRP mencapai puncak mendekati US$2,35 pada 5 Januari, kelompok yang sama memegang sekitar 4,83% suplai. Begitu harga mulai melandai, mereka cepat-cepat menjual kepemilikan hampir separuh menjadi 2,15%. Gelombang jual inilah yang ikut mendorong harga XRP turun ke kisaran US$1,65 beberapa minggu setelahnya.

HODL Waves Menunjukkan Uang Spekulatif
HODL Waves Menunjukkan Uang Spekulatif: Glassnode

Sederhananya, kelompok trader ini biasanya membeli di saat harga turun dan cepat menjual begitu harga mulai naik. Mereka tidak tahan menghadapi ketidakpastian pasar.

Sekarang, mereka kembali menjadi motor utama rebound harga. Artinya, support saat ini lebih banyak berasal dari perputaran modal spekulatif, bukan kepercayaan jangka panjang. Jika harga XRP kesulitan menembus resistance, kelompok ini bisa saja buru-buru keluar dan memicu penurunan baru.


Outflow Exchange Menurun karena Pembelian Lebih Luas Melemah

Peringatan kedua datang dari data arus keluar-masuk di exchange.

Arus keluar dari exchange mencerminkan seberapa banyak aset yang keluar dari platform perdagangan. Biasanya, semakin banyak aset keluar, menandakan ada yang membeli dan ingin menyimpan jangka panjang. Sebaliknya, arus masuk menunjukkan tekanan jual. Rebound harga yang kuat umumnya didukung oleh peningkatan arus keluar saat harga turun, tanda adanya permintaan baru.

XRP menunjukkan pola sebaliknya.

Pada 31 Januari, arus keluar XRP dari exchange tercatat sebesar 31,38 juta XRP. Di awal Februari, angkanya turun tajam hingga sekitar 9,81 juta. Artinya ada penurunan hampir 70%. Hal ini terjadi saat XRP anjlok sekitar 14% dari harga puncak akhir Januari.

Arus Keluar Exchange Turun
Arus Keluar Exchange Turun: Santiment

Alih-alih meningkat saat harga turun, tekanan beli justru semakin melemah.

Hal ini penting karena menunjukkan hanya sebagian kecil trader yang menopang harga, yaitu kelompok spekulatif seperti yang dijelaskan tadi. Peserta pasar yang lebih luas tidak menambah porsi investasi mereka. Jadi jika holder jangka pendek mulai menjual, tidak banyak permintaan baru yang siap menyerap suplai tersebut.

Ini menimbulkan struktur yang rapuh. Harga mungkin bisa bertahan sementara, tapi daya tahannya kurang. Tanpa arus keluar yang lebih kuat, rebound harga biasanya tidak bertahan lama.


Pembeli Berkeyakinan Lemah dan Level Harga Kunci Bikin XRP Rentan

Risiko terakhir berasal dari tidak adanya investor jangka panjang dan investor β€œberkeyakinan tinggi”.

HODL Waves memperlihatkan kelompok yang berinvestasi lebih lama, terutama holder 2 tahun sampai 3 tahun, belum kembali masuk. Kelompok ini pernah memegang lebih dari 14% suplai XRP di akhir 2025. Saat ini angkanya turun menjadi sekitar 5,7% dan cenderung datar. Tidak ada aksi beli meski harga sempat turun drastis.

Kelompok holder seperti ini biasanya melakukan akumulasi besar saat harga benar-benar telah jatuh dalam. Tidak munculnya mereka menjadi tanda bahwa pasar belum menilai harga saat ini cukup menarik untuk masuk jangka panjang. Kurangnya keyakinan ini sejalan dengan struktur harga XRP sekarang.

Pembeli XRP Berkeyakinan Tinggi Masih Menjauh
Pembeli XRP Berkeyakinan Tinggi Masih Menjauh | Sumber: Glassnode

Saat ini, ada beberapa level yang menentukan prospek XRP.

Di sisi atas, US$1,69 adalah resistensi utama pertama. Jika XRP berhasil merebut kembali level ini, kepercayaan diri mulai membaik. Jika berhasil naik lagi, US$1,96 menjadi level krusial. Pergerakan harga di atas area ini bisa menantang channel penurunan dan berpeluang mengubah tren menjadi netral.

Sementara di sisi bawah, zona support penting berada di US$1,47-US$1,50. Jika level ini jebol, harga bisa turun ke US$1,25. Hal tersebut akan mengonfirmasi terjadinya breakdown channel dan membuka potensi penurunan sekitar 27% sampai serendah US$0,93. Selama XRP bergerak di antara US$1,47 dan US$1,69, ketidakpastian masih mendominasi.

Analisis Harga XRP
Analisis Harga XRP | Sumber: TradingView

Pantulan harga baru-baru ini menunjukkan tekanan jual mulai melambat. Tapi arus exchange yang lemah, perilaku holder yang terpecah, dan ketiadaan pembeli berkeyakinan tinggi masih membatasi potensi kenaikan harga.

Saat ini, kelompok trader yang menahan harga XRP tetap di atas adalah mereka yang dulu juga pernah menjual lebih awal. Jika permintaan yang lebih besar dan partisipasi jangka panjang tidak kembali, support ini bisa justru menjadi pemicu gelombang jual berikutnya semakin cepat.

❌