Normal view

Received — 19 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Vitalik Buterin Paparkan Roadmap ‘Simplicity’ untuk Amankan Desentralisasi Ethereum

18 January 2026 at 23:02

Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, menyatakan bahwa kelangsungan jangka panjang jaringan ini sangat bergantung pada upaya besar untuk menyederhanakan protokolnya.

Pada sebuah unggahan di X tanggal 18 Januari, Buterin menuturkan bahwa blockchain Ethereum kini terlalu rumit untuk diverifikasi secara mandiri. Menurutnya, kompleksitas teknis yang berlebihan mengancam kedaulatan dasar jaringan ini.

Co-founder Ethereum Dukung ‘Garbage Collection’ Kode

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada “kriptografi tingkat PhD” dan kode yang semakin membengkak berisiko mempersempit aksesibilitas Ethereum. Dalam situasi seperti ini, jaringan bisa berubah menjadi model technokratis, bukan lagi menjadi layanan publik terdesentralisasi.

An important, and perenially underrated, aspect of "trustlessness", "passing the walkaway test" and "self-sovereignty" is protocol simplicity.

Even if a protocol is super decentralized with hundreds of thousands of nodes, and it has 49% byzantine fault tolerance, and nodes fully… pic.twitter.com/kvzkg11M3c

— vitalik.eth (@VitalikButerin) January 18, 2026

Mengingat hal tersebut, ia kembali menyoroti konsep “walkaway test” sebagai tolok ukur penting untuk sebuah keberhasilan. Tes ini mengukur apakah blockchain bisa tetap berjalan dengan aman jika pendiri asli dan peneliti utama benar-benar meninggalkan proyeknya selamanya.

Buterin mengingatkan bahwa Ethereum saat ini berisiko gagal dalam tes tersebut karena operasinya terlalu rumit untuk dikelola tim baru tanpa bimbingan pakar.

Ia memaparkan bahwa para pengembang cenderung bersemangat menambah fitur baru demi fungsi jangka pendek. Kebiasaan ini, dalam jangka panjang, menciptakan hutang teknis yang ia sebut sebagai sesuatu yang “sangat merusak” masa depan jaringan.

“Salah satu ketakutan saya dengan pengembangan protokol Ethereum adalah kita bisa terlalu bersemangat menambah fitur-fitur baru untuk memenuhi kebutuhan yang sangat spesifik, walaupun fitur tersebut memperbesar protokol atau menambah komponen baru yang saling terhubung, atau kriptografi rumit sebagai ketergantungan utama,” tulisnya.

Untuk mengatasi hal ini, Buterin menyerukan perlunya fungsi “garbage collection” secara eksplisit dalam proses pengembangan—yaitu kewajiban untuk menghapus kode dan ketergantungan yang sudah usang.

“Garbage collection bisa dilakukan secara bertahap, atau bisa juga secara besar-besaran. Pendekatan bertahap mencoba mengambil fitur yang sudah ada, lalu menyederhanakannya agar lebih simpel dan lebih jelas,” paparnya.

Berkaitan hal ini, ia menuturkan bahwa langkah ke depan didasari pada tiga metrik konkret. Di antaranya meminimalkan jumlah kode protokol secara keseluruhan, mengurangi ketergantungan pada komponen rumit, dan meningkatkan jumlah invarian yang mampu berjalan secara mandiri.

Buterin menunjuk transisi Ethereum dari Proof-of-Work ke Proof-of-Stake sebagai salah satu contoh sukses dari filosofi ini yang diterapkan.

Ia menegaskan bahwa transisi tersebut bukan sekadar upgrade biasa, tapi sebagai langkah penting untuk membersihkan mekanisme lama yang dinilai sudah tidak efisien.

Sementara itu, pengungkapan ini mengisyaratkan kemungkinan perlambatan dalam peluncuran fitur-fitur eksperimental. Jaringan ini kini nampaknya lebih memprioritaskan evolusi menjadi settlement layer otomatis yang dapat diverifikasi.

“Dalam jangka panjang, saya berharap laju perubahan di Ethereum bisa lebih lambat. Saya pikir atas berbagai alasan, pada akhirnya hal itu _harus_ terjadi. Lima belas tahun pertama ini sebaiknya dipandang sebagai masa remaja, di mana kita mencoba banyak ide dan melihat mana yang berhasil, yang berguna, dan mana yang tidak,” terang Buterin.

Dengan memprioritaskan auditability dibandingkan kompleksitas, Buterin ingin memastikan Ethereum tetap aman tanpa harus membutuhkan tim ahli terpusat untuk merawatnya.

Kode Keras, MicroStrategy Siapkan US$1,25 Miliar untuk Borong Bitcoin Lagi

20 January 2026 at 06:58

Strategy Inc. (sebelumnya MicroStrategy) mengisyaratkan bahwa mereka tengah bersiap mengeksekusi akuisisi Bitcoin yang akan melampaui pembelian besar senilai US$1,25 miliar yang baru saja rampung pekan lalu.

Pada 18 Januari, Michael Saylor mengunggah sebuah grafik di platform media sosial X dengan keterangan “Bigger Orange”. Para analis pasar secara luas menafsirkan frasa tersebut sebagai sinyal niat untuk melampaui 13.627 Bitcoin yang baru saja perusahaan borong.

Strategy Beri Sinyal Beli Bitcoin Tertinggi di Tengah Drop Premium Saham

Akuisisi sebelumnya itu sendiri telah memperkuat posisi Strategy sebagai holder Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Namun, aksi beli yang melampaui jumlah tersebut akan mengerek total kepemilikan Bitcoin Strategy melewati ambang 700.000 BTC.

₿igger Orange. pic.twitter.com/HI47hMCnui

— Michael Saylor (@saylor) January 18, 2026

Catatan ini akan menempatkan treasury perusahaan pada level yang langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) IBIT milik BlackRock dan estimasi 1,2 juta BTC yang dimiliki oleh Satoshi Nakamoto, pendiri jaringan yang menggunakan nama samaran.

Pencapaian ini akan menempatkan kas perusahaan di level yang sangat langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) BlackRock IBIT serta estimasi kepemilikan sekitar 1,2 juta BTC milik Satoshi Nakamoto, pendiri pseudonim jaringan Bitcoin.

Langkah agresif ini terjadi di saat yang cukup rentan bagi perusahaan perangkat lunak enterprise.

Saham Strategy anjlok lebih dari 50% tahun lalu, dan premi market-to-net-asset-value (mNAV) yang penting juga turun drastis menjadi sekitar 1,0x.

Penurunan premi ini mengancam model arbitrase yang selama ini Saylor gunakan untuk mendanai akuisisi.

Ketika modal institusi semakin banyak masuk ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot—yang memberikan eksposur tanpa kerumitan atau premi dari saham Strategy—perusahaan pun kehilangan leverage mudah yang dulunya bisa mereka nikmati.

Guna mempertahankan laju akumulasi di tengah situasi ini, Strategy beralih ke taktik pendanaan yang lebih agresif.

Hanya dalam setahun terakhir, perusahaan sudah mengumpulkan dana US$25 miliar melalui penjualan saham biasa serta penerbitan jenis saham preferen baru, termasuk STRC.

Strategy Bitcoin Fundraise in 2025.
Penggalangan Dana Strategy untuk Bitcoin di 2025 | Sumber: Strategy

Sementara itu, Wall Street menyikapi dilusi ini dengan hati-hati. TD Cowen baru-baru ini memangkas target harga saham menjadi US$440 dari US$500, namun tetap mempertahankan rating Beli.

Perusahaan itu menyebut turunnya “Bitcoin Yield” untuk tahun fiskal 2026, sebuah metrik khusus yang mengukur eksposur Bitcoin per saham. Para analis menyatakan bahwa ketergantungan perusahaan untuk menerbitkan lebih banyak ekuitas guna pembelian, secara aktif mendilusi yield bagi para pemegang saham.

Walaupun ada rasa skeptis, beberapa pengamat pasar berpendapat Strategy telah membangun benteng struktural yang sulit keuangan tradisional jangkau.

“Mereka menemukan cara mengakumulasi Bitcoin dalam skala besar, membungkusnya ke dalam produk, dan menawarkan eksposur dengan cara yang tidak bisa ditandingi bank tradisional,” ujar analis Bitcoin Shagun Makin.

Makin berpendapat bahwa tekanan regulasi dan pasar yang makin besar terhadap perusahaan mencerminkan efektivitas modelnya, alih-alih kelemahannya.

“Bank tidak bisa meniru model ini tanpa merusak neraca mereka sendiri. Jadi, satu-satunya pilihan nyata adalah memperlambatnya, mendiskreditkannya, atau mengaturnya,” tambahnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang isyarat akuisisi Bitcoin oleh Strategy di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Kritik Strategi Ethereum, CEO Solana Tolak Konsep “Ossification” Buterin

19 January 2026 at 04:45

Co-founder Solana, Anatoly Yakovenko, menegaskan bahwa protokol blockchain harus senantiasa “beriterasi” agar dapat bertahan.

Pada 17 Januari, lewat platform media sosial X, Yakovenko berpendapat bahwa umur panjang sebuah jaringan sangat bergantung pada kemampuannya untuk terus beriterasi.

Yakovenko Paparkan Masa Depan Solana Berbasis AI

Ia mengemukakan bahwa agar blockchain tidak usang, jaringan harus selalu berubah mengikuti kebutuhan para pengembang serta penggunanya yang terus berubah.

“Agar tidak mati, harus selalu bermanfaat. Jadi, tujuan utama perubahan protokol seharusnya ialah menyelesaikan masalah pengembang atau pengguna. Itu bukan berarti semua masalah harus dipecahkan, bahkan, mengatakan tidak pada sebagian besar masalah justru diperlukan,” tulisnya.

Yakovenko menggambarkan masa depan di mana Solana tidak bergantung pada satu individu atau tim inti rekayasa untuk mendorong iterasi ini. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa upgrade protokol selayaknya berasal dari komunitas kontributor yang beragam dan terdesentralisasi.

I actually think fairly differently on this. Solana needs to never stop iterating. It shouldn’t depend on any single group or individual to do so, but if it ever stops changing to fit the needs of its devs and users, it will die.

It needs to be so materially useful to humans… https://t.co/itqr1b5az4

— toly 🇺🇸 (@toly) January 17, 2026

Menariknya, eksekutif Solana ini menyebut bahwa kecerdasan buatan dapat memainkan peran sentral dalam menjaga perkembangan jaringan yang pesat dengan membentuk tata kelola dan proses pengkodean di masa depan.

“LLM bisa menghasilkan spesifikasi SIMD yang sangat ketat sehingga LLM dapat memverifikasi bahwa spesifikasi itu lengkap dan tidak ambigu, lalu mengimplementasikannya. Satu-satunya hambatan utama adalah kesepakatan dan pengujian di testnet,” klaimnya.

Pendekatan ini, menurutnya, akan memungkinkan jaringan melakukan self-optimization (optimasi diri) dengan kecepatan yang mustahil dicapai oleh tim yang sepenuhnya bergantung pada manusia.

Sementara itu, pernyataan Yakovenko menjadi bantahan langsung terhadap strategi visi terbaru yang diajukan oleh co-founder Ethereum, Vitalik Buterin.

Buterin baru-baru ini memperkenalkan konsep “walkaway test”. Ini adalah sebuah pencapaian di mana jaringan Ethereum dapat bertahan sendiri dan terus berjalan secara permanen tanpa keterlibatan para pengembang awalnya.

Dalam visi tersebut, Ethereum akan mengalami “ossification”, yaitu mencapai kondisi di mana nilai utamanya berasal dari ketetapan protokol, bukan dari janji fitur-fitur baru di masa depan.

Buterin mengakui Ethereum harus terus berubah dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa jaringan ini bertujuan untuk mengunci protokol setelah mampu melewati beberapa hambatan teknis tertentu.

Beberapa hambatan tersebut antara lain perlunya ketahanan terhadap kuantum secara penuh, skalabilitas yang memadai, dan arsitektur state yang berkelanjutan.

Benturan ideologi ini dengan jelas menggambarkan dua jalur berbeda dalam pasar kripto.

Roadmap Buterin menempatkan Ethereum sebagai sistem penyelesaian yang andal dengan mengutamakan keamanan dan immutability, guna menarik kepercayaan komunitas.

Di sisi lain, strategi Yakovenko menempatkan Solana sebagai platform teknologi dengan pertumbuhan tinggi. Dengan demikian, jaringan ini lebih mengutamakan kecepatan dan juga adaptasi agresif agar bisa merebut pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat.

Bagaimana pendapat Anda tentang CEO Solana yang tentang visi Buterin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Coinbase Bantah Standoff Dengan White House, Targetkan Kompromi Stablecoin untuk CLARITY Act

18 January 2026 at 11:59

CEO Coinbase, Brian Armstrong, membantah laporan tentang meningkatnya ketegangan dengan pemerintahan Trump, dan menegaskan bahwa kolaborasi terkait CLARITY Act tetap “sangat konstruktif”.

Pernyataan ini muncul setelah laporan dari jurnalis kripto, Eleanor Terrett, yang menyebutkan bahwa pemerintahan sangat marah kepada exchange tersebut.

Polymarket Menempatkan Peluang Pengesahan CLARITY Act Tahun Ini di 41%

Berdasarkan laporan tersebut, pejabat pemerintah bahkan siap menarik dukungan untuk regulasi itu jika Coinbase tidak kembali bernegosiasi dengan kompromi soal imbal hasil stablecoin.

Pertikaian ini berakar dari kekhawatiran sektor perbankan tradisional akan “melarikan dana simpanan.”

Bank komunitas dan bank regional sudah memperingatkan bahwa jika exchange kripto boleh menawarkan yield tinggi pada stablecoin, maka arus keluar simpanan bisa makin cepat. Mereka berpendapat bahwa nasabah akan memindahkan dana dari rekening tabungan berbunga rendah ke aset digital yang mengacu pada dolar, sehingga risiko stabilitas perbankan meningkat.

Meski begitu, Armstrong menyangkal anggapan bahwa Gedung Putih mengancam untuk membatalkan RUU tersebut. Ia justru menggambarkan situasinya sebagai arahan strategis dari pemerintah untuk menyelesaikan kekhawatiran khusus bank regional.

Ia menerangkan bahwa Gedung Putih meminta exchange tersebut untuk bernegosiasi dengan pihak bank, dan detail lebih lanjut terkait hal ini akan “segera diumumkan”.

“Sebenarnya, kami sudah sedang merancang beberapa gagasan bagus tentang bagaimana kami bisa membantu bank komunitas secara spesifik melalui RUU ini, karena inilah fokus utamanya,” tulis Armstrong di platform media sosial X.

Ketegangan ini menyoroti rapuhnya rancangan undang-undang komprehensif tersebut, yang bertujuan memberikan kejelasan regulasi yang sudah lama dicari bagi industri aset kripto.

Pada awal pekan, Coinbase sempat memberi sinyal akan menarik dukungan terhadap CLARITY Act. Exchange itu menyoroti beberapa aturan yang melarang tokenisasi saham, membatasi protokol decentralized finance, serta menghapus imbalan stablecoin.

Di sisi lain, pelaku industri lain juga mencermati negosiasi ini dengan seksama.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menuturkan bahwa meski proses legislatif berlangsung alot, langkah dari Senat adalah “kemajuan besar” untuk melindungi konsumen dan membangun kerangka kerja yang lebih jelas.

“Ripple (dan saya) tahu secara langsung bahwa kejelasan selalu lebih baik daripada kekacauan, dan keberhasilan RUU ini berarti keberhasilan kripto. Kami tetap terlibat dalam pembahasan, dan akan terus mendorong debat yang adil,” ujar dia.

Meski ada optimisme, pasar prediksi tetap skeptis soal waktu pengesahan. Di platform taruhan Polymarket, para trader kini memperkirakan hanya ada peluang 41% RUU struktur pasar ini akan menjadi undang-undang tahun ini.

Received — 17 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Jaringan Burger Amerika Lakukan Pembelian Bitcoin Senilai US$10 Juta

17 January 2026 at 20:45

Steak ‘n Shake telah membeli Bitcoin senilai US$10.000.000, menandakan peningkatan besar dalam strategi mereka untuk mengubah pendapatan restoran cepat saji menjadi treasury aset kripto perusahaan.

Aksi akuisisi ini menandai fase terbaru dari inisiatif “Bitcoin-to-Burger” milik jaringan yang sudah berusia 90 tahun, yaitu langkah keuangan yang langsung mengkonversi arus kas operasional menjadi aset digital.

Steak ‘n Shake Klaim Strategi Bitcoin Dorong Pertumbuhan ‘Terbaik di Industri’ pada 2025

Program ini, yang dimulai pada Mei 2025, mengintegrasikan akumulasi aset digital ke dalam operasi harian perusahaan.

Dengan menerima pembayaran Bitcoin dan memasarkan langsung ke komunitas kripto, jaringan restoran ini bertujuan untuk memodernisasi struktur modalnya.

Eight months ago today, Steak n Shake launched its burger-to-Bitcoin transformation when we started accepting bitcoin payments. Our same-store sales have risen dramatically ever since.

All Bitcoin sales go into our Strategic Bitcoin Reserve.

Today we increased our Bitcoin…

— Steak 'n Shake (@SteaknShake) January 17, 2026

Manajemen perusahaan menggambarkan model ini sebagai “sistem yang dapat menopang dirinya sendiri.” Dalam kerangka ini, peningkatan kualitas makanan mendorong peningkatan pendapatan, yang kemudian dialirkan ke cadangan Bitcoin perusahaan.

Berdasarkan data internal, strategi ini telah memberikan hasil nyata. Tahun lalu, perusahaan mencatat pertumbuhan dua digit pada penjualan toko yang sama, didorong oleh adopsi BTC, yang membuatnya unggul jauh dibandingkan industri serupa.

“Pada tahun 2025, Steak n Shake mencapai pertumbuhan penjualan toko sejenis dua digit — terbaik di industri! Menjadi perusahaan Bitcoin memberikan dorongan besar pada bisnis kami, sehingga kami bisa lebih meningkatkan kualitas makanan,” demikian dinyatakan oleh mereka.

Yang penting, jaringan restoran ini sedang memantapkan diri sebagai entitas “hanya Bitcoin”.

Walaupun survei perusahaan baru-baru ini menunjukkan 53% responden memilih menambah Ethereum (ETH) sebagai metode pembayaran, pihak manajemen dengan tegas menolak usulan tersebut.

Keputusan ini memperkuat filosofi maksimalis yang bertujuan menjaga loyalitas dari segmen pasar yang spesifik dan memiliki orientasi ideologis.

Selain itu, integrasi BTC ini juga meluas ke karyawan perusahaan.

Pada Oktober lalu, Steak ‘n Shake mengupdate infrastruktur penggajian mereka agar 10.000 karyawannya dapat menerima persentase gaji mereka dalam Bitcoin. Langkah ini menunjukkan pandangan perusahaan bahwa aset ini sebagai penyimpan nilai yang layak sebanding dengan mata uang fiat.

Berdiri sejak tahun 1934, Steak ‘n Shake mengoperasikan ratusan lokasi di seluruh Amerika Serikat dan juga di mancanegara.

Langkah terbarunya mengukuhkan status mereka sebagai pengecualian di sektor restoran konvensional, dengan mencoba memodernisasi merek warisan dengan mengaitkan kesehatan finansial jangka panjang perusahaan ke performa aset kripto terbesar di dunia ini.

Sebuah Perampokan Bitcoin Senilai US$280 Juta Picu Reli Harga Monero

17 January 2026 at 15:29

Seorang investor aset kripto kehilangan lebih dari US$282 juta dalam bentuk Bitcoin dan Litecoin setelah terkena scam rekayasa sosial yang melibatkan hardware wallet.

Pada 16 Januari, investigator on-chain ZachXBT mengungkap pencurian besar ini, yang dilaporkan menguras akun korban hingga 2,05 juta Litecoin (LTC) dan 1.459 Bitcoin (BTC).

Monero Naik 36% setelah Hacker Tukar Aset Kripto Curian ke Privacy Coin

Perusahaan keamanan siber ZeroShadow memastikan bahwa pelaku melakukan aksi perampokan ini dengan menyamar sebagai customer support Trezor. Trezor sendiri adalah penyedia hardware wallet ternama yang sudah memiliki lebih dari 2 juta pengguna.

Penipu itu berhasil memanipulasi korban dengan membuatnya memberikan recovery seed phrase, sehingga mereka bisa menguasai penuh seluruh aset korban.

Setelah terjadinya peretasan, pelaku langsung mulai mencuci dana hasil curian tersebut.

ZachXBT melaporkan bahwa pelaku memanfaatkan beberapa instant exchange, terutama Thorchain, untuk menjembatani Bitcoin curian ke Ethereum, Ripple, dan Litecoin.

On January 10, 2026 at around 11 pm UTC a victim lost $282M+ worth of LTC & BTC due to a hardware wallet social engineering scam.

The attacker began converting the stolen LTC & BTC to Monero via multiple instant exchanges causing the XMR price to sharply increase.

BTC was also…

— ZachXBT (@zachxbt) January 16, 2026

Sementara itu, ketergantungan pelaku pada Thorchain mendapat kritik tajam terhadap penyedia infrastruktur decentralized tersebut.

ZachXBT menuturkan bahwa ini bukan pertama kalinya pelaku kejahatan memanfaatkan platform ini untuk keperluan semacam itu. Hal ini menandakan bahwa platform tersebut masih menjadi tujuan favorit para kriminal untuk memindahkan kekayaan hasil curian.

Di saat bersamaan, hacker tersebut mengonversi sebagian besar dana curian ke Monero (XMR), token yang berfokus pada privasi dan dirancang untuk menyembunyikan detail transaksi.

“ZeroShadow melacak arus keluar dana dan berhasil membekukan lebih dari US$1 juta sebelum dana itu ditukar ke XMR. Aktivitas yang lolos kemungkinan meningkatkan harga XMR,” demikian bunyi pernyataan Zero Shadow dalam keterangannya.

Menariknya, aksi pembelian besar-besaran tersebut memicu kenaikan harga signifikan di pasar Monero.

Data dari BeinCrypto menunjukkan token tersebut melonjak lebih dari 36% selama periode tujuh hari, mencapai puncak hampir US$800. Setelah itu, harga aset telah mengalami koreksi ke kisaran US$621 pada saat artikel ini diterbitkan.

Insiden ini semakin menyoroti krisis keamanan yang semakin besar di sektor aset digital. Para pelaku kini mulai mengubah taktik, mengutamakan scam rekayasa sosial dan penyamaran merek ketimbang eksploitasi kode teknis untuk menipu korban.

Perusahaan analitik blockchain Chainalysis menghitung tren ini, dengan melaporkan lonjakan scam impersonasi hingga 1.400% dari tahun ke tahun. Perusahaan itu juga menyebutkan bahwa rata-rata kerugian finansial per kejadian naik lebih dari 600%.

Vitalik Buterin Akui Ethereum ‘Mundur’ dalam 10 Tahun Terakhir

19 January 2026 at 02:07

Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, telah menetapkan tahun 2026 sebagai tahun di mana blockchain ini akan kembali ke asal-usul “cypherpunk”-nya.

Pada 16 Januari, Buterin mengumumkan roadmap teknis yang bertujuan membalikkan apa yang ia sebut sebagai “mundurnya” desentralisasi selama satu dekade terakhir.

Bagaimana Ethereum Berencana Memperbaiki Komprominya?

Co-founder Ethereum itu mengakui bahwa upaya jaringan untuk mencapai skalabilitas secara luas telah mengorbankan janji dasarnya tentang kedaulatan diri (self-sovereignty).

2026 is the year that we take back lost ground in terms of self-sovereignty and trustlessness.

Some of what this practically means:

Full nodes: thanks to ZK-EVM and BAL, it will once again become easier to locally run a node and verify the Ethereum chain on your own computer.…

— vitalik.eth (@VitalikButerin) January 16, 2026

Menurutnya, ekosistem saat ini membuat pengguna sangat bergantung pada infrastruktur terpusat untuk berinteraksi dengan ledger. Ketergantungan ini terpusat pada server tepercaya dan Remote Procedure Calls (RPC).

Arsitektur ini memaksa pengguna untuk percaya pada penyedia data pihak ketiga alih-alih memverifikasi chain sendiri.

Untuk mengatasi ketergantungan ini, roadmap tahun 2026 memprioritaskan penerapan Helios dan Zero-Knowledge Ethereum Virtual Machines (ZK-EVMs).

Teknologi tersebut bertujuan mendemokratisasi pengalaman “full node”, sehingga perangkat keras konsumen biasa bisa memverifikasi data yang masuk menggunakan Bridges dan Local Verification (BAL).

Dengan memindahkan verifikasi ke sisi pengguna, Ethereum ingin menghilangkan kebutuhan pengguna untuk percaya begitu saja pada gateway terpusat seperti Infura atau Alchemy.

Roadmap ini juga memperkenalkan fitur “privacy UX” agresif yang bisa menempatkan jaringan ini berseberangan dengan perusahaan analitik yang haus data.

Maka dari itu, Buterin mengusulkan integrasi Oblivious RAM (ORAM) dan Private Information Retrieval (PIR). Protokol kriptografi ini memungkinkan wallet untuk meminta data dari jaringan tanpa mengungkapkan pola akses spesifik, sehingga RPC provider tidak bisa melihat aktivitas pengguna secara langsung.

Langkah ini bertujuan mencegah “penjualan” data perilaku pengguna ke pihak ketiga.

Dari sisi keamanan, jaringan akan membuat standarisasi penggunaan social recovery wallet dan time lock. Kedua alat ini bertujuan membuat pemulihan dana jadi lebih mudah tanpa harus kembali ke penyedia kustodian terpusat atau cadangan cloud yang bisa saja “dibobol Google” atau raksasa teknologi lainnya.

Selain itu, Ethereum juga akan memperkuat antarmuka pengguna dengan menggunakan protokol penyimpanan terdesentralisasi seperti IPFS. Hal ini mengurangi risiko peretasan tampilan depan yang dapat mengunci pengguna dari aset mereka sendiri.

Meski dia mengingatkan bahwa peningkatan ini mungkin belum hadir di rilis berikutnya, agenda 2026 menandai perombakan mendasar pada cara blockchain terbesar kedua di dunia menangani kepercayaan.

“Ini akan menjadi perjalanan panjang. Kita tidak akan mendapatkan semua yang kita inginkan di rilis Kohaku berikutnya, atau di hard fork selanjutnya, ataupun di hard fork setelah itu. Tetapi, perubahan ini akan membuat Ethereum menjadi ekosistem yang layak bukan hanya untuk posisinya saat ini di dunia, melainkan tempat yang jauh lebih besar lagi,” terang dia.

Bagaimana pendapat Anda tentang pengakuan Buterin soal Ethereum yang mundur selama 10 tahun terakhir ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Pemberi Pinjaman Perumahan AS Akan Terima Bitcoin dan Ethereum untuk Kualifikasi Hipotek

17 January 2026 at 11:03

Newrez, salah satu pemberi pinjaman dan pengelola hipotek terkemuka, mengumumkan rencana untuk mulai mengakui aset kripto sebagai syarat kualifikasi hipotek pada Februari 2026.

Langkah ini menandai integrasi besar antara keuangan digital dan pasar properti tradisional.

Newrez Bidik Gen Z dengan Produk Hipotek yang Mengakomodasi Aset Kripto

Inisiatif ini akan memungkinkan peminjam menggunakan kepemilikan Bitcoin, Ethereum, stablecoin yang dipatok US dollar, dan exchange-traded fund (ETF) kripto spot untuk memverifikasi aset. Kepemilikan tersebut juga dapat digunakan untuk memperkirakan pendapatan dalam pengajuan pinjaman hipotek.

Program ini eksklusif untuk produk Smart Series milik Newrez. Lini ini menawarkan pinjaman hipotek non-kualifikasi bagi peminjam yang tidak memenuhi kriteria standar pinjaman pemerintah.

Presiden Newrez, Baron Silverstein ujar langkah ini merefleksikan evolusi yang diperlukan dalam pembiayaan modern seiring industri kripto yang makin terintegrasi dengan keuangan tradisional.

Pemberi pinjaman ini mengutip data internal yang menunjukkan sekitar 45% investor Gen Z dan Milenial memiliki aset kripto. Kelompok ini digambarkan sebagai demografi inti pembeli rumah pertama kali.

Perlu dicatat, selama ini pemberi pinjaman biasanya mewajibkan peminjam untuk menjual aset digital mereka demi membuktikan cadangan dana, yang memicu beban pajak dan membuat mereka keluar dari pasar.

“Kami percaya sekarang adalah waktu yang tepat untuk dengan hati-hati mengintegrasikan aset kripto yang memenuhi syarat ke dalam pembiayaan hipotek modern—sehingga konsumen dapat tetap memiliki investasinya sembari mengakses solusi pendanaan inovatif,” jelas Silverstein.

Newrez Menghindari Decentralized Finance, Wajibkan Penyimpanan di Exchange Teregulasi

Berdasarkan kebijakan baru ini, peminjam bisa memenuhi syarat tanpa perlu menjual asetnya. tapi, pemberi pinjaman akan menggunakan valuasi aset yang sudah disesuaikan dengan pasar untuk memperhitungkan volatilitas harga kripto.

“Misi kami di Newrez adalah melakukan segala yang mungkin agar setiap orang dapat memiliki rumah, dan inovasi ini menjadi langkah baru dalam menciptakan jalur baru untuk memiliki rumah, memberi konsumen fleksibilitas dan kendali,” terang Chief Commercial Officer Newrez, Leslie Gillin.

Selain itu, program ini juga menerapkan aturan ketat bagi peminjam baru. Newrez menegaskan, peminjam bisa menggunakan kripto untuk rasio underwriting, tapi tetap harus membayar uang muka dan biaya penutupan dalam mata uang US dollar.

Selain itu, semua aset yang memenuhi syarat wajib disimpan di entitas yang diawasi di AS, seperti exchange yang sesuai, aplikasi retail FinTech, atau broker yang diatur SEC maupun FINRA.

Syarat ini secara efektif mengecualikan aset yang disimpan di wallet self-custody atau protokol decentralized finance (DeFi).

Sementara itu, pengumuman ini mengikuti perubahan regulasi yang lebih luas di Washington.

Pada Juni 2025, Federal Housing Finance Agency mengeluarkan arahan untuk mempertimbangkan kripto dalam pemodelan risiko hipotek. Lembaga ini meminta Fannie Mae dan Freddie Mac membuat proposal agar aset digital dapat dimasukkan dalam penilaian risiko pinjaman keluarga tunggal.

Arahan tersebut merupakan bagian dari reformasi kebijakan keuangan AS yang dilakukan pemerintahan Trump. Hal ini menandakan mulai mencairnya hubungan antara regulator perumahan federal dan industri kripto.

❌