Normal view

Drama Minyak AS-Venezuela Picu ‘Demam’ USOR, Meme Coin Ini Melejit 150%

21 January 2026 at 03:00

Sebuah token Solana yang relatif tidak dikenal bernama “US Oil” (USOR) melonjak lebih dari 150% dalam 24 jam pada Senin (19/1), sempat mendorong kapitalisasi pasarnya melampaui US$40 juta. Lonjakan ini terjadi ketika trader bereaksi terhadap kabar terbaru mengenai langkah Amerika Serikat menjual aset minyak Venezuela yang disita.

Token ini menjadi tren di CoinGecko, meskipun analis on-chain dan trader memperingatkan bahwa reli ini menunjukkan tanda klasik spekulasi pump.

Geopolitik Berubah Menjadi Narasi Meme yang Bisa Trader Perdagangkan

Menariknya, reli USOR datang bertepatan dengan meningkatnya perhatian geopolitik atas sektor minyak. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Washington mulai menjual blok minyak Venezuela yang sebelumnya disita.

President Trump said the US has taken about 50 million barrels of oil out of Venezuela and sold some of it on the open market.

🟠 LIVE updates: https://t.co/ZlCX9IGcsz pic.twitter.com/6PVPVQQJvS

— Al Jazeera English (@AJEnglish) January 20, 2026

Latar makro tersebut rupanya merembes ke pasar kripto. Trader dengan cepat menempelkan narasi politik ke USOR, meski tidak ada keterkaitan terverifikasi antara token ini dengan cadangan minyak pemerintah AS.

Pada puncak reli, USOR bertengger di atas US$0,04, dengan volume harian mendekati US$20 juta.

USOR Naik 150% pada 20 Januari | Sumber: CoinGecko

Pergerakan harga menunjukkan pola naik yang hampir vertikal, struktur yang oleh beberapa trader dianggap tidak normal.

Pasar USOR terpusat di ekosistem Solana, terutama melalui platform decentralized seperti Meteora. Platform charting menampilkan peringatan “chart mencurigakan” saat volume serta harga melonjak tajam.

Website proyek ini mengeklaim USOR sebagai “indeks cadangan on-chain” yang melakukan tokenisasi cadangan minyak AS, serta menggambarkan diri sebagai token yang didukung minyak, sejalan dengan kepentingan AS, dan dikelola secara transparan kepada publik.

Klaim Tokenisasi Cadangan Minyak AS yang Tidak Terverifikasi dari Proyek Ini

Kendati begitu, situsnya sama sekali tidak menyediakan bukti kepemilikan, struktur hukum, maupun keterkaitan dengan infrastruktur cadangan minyak resmi AS.

Selain itu, terdapat spekulasi bahwa token ini bisa saja menjadi aksi para insider, karena peluncurannya berlangsung di platform yang sama dengan meme coin TRUMP, yakni Meteora.

Grafik Viral, Bukti Tipis, dan Tanda Bahaya yang Menguat

Sementara itu, reaksi di crypto Twitter sangat terbelah tajam.

Sejumlah trader menilai narasi USOR sengaja direkayasa untuk menunggangi berita dunia nyata, dengan indikasi promosi terkoordinasi, wallet yang saling terhubung, serta minimnya akumulasi organik.

Ada pula yang mengingatkan bahwa branding token ini sangat mirip dengan perkembangan geopolitik sebagai upaya untuk melakukan rug pull.

retail is getting baited again by memecoins

got a text from a friend asking about Trump making 9-5 workers rich and a pump happening on Jan 31-Feb 1st

all tiktoks and roads lead to $USOR, which I'll give it to them is fucking genius

"onchain exposure to oil reserves from… pic.twitter.com/E9vFqakr8M

— tommy (@thatdegenvc) January 20, 2026

Salah satu postingan yang banyak dibagikan menggambarkan USOR sebagai “paparan on-chain terhadap cadangan minyak Venezuela”, yaitu klaim yang belum mendapat konfirmasi dari otoritas AS maupun lembaga energi mana pun.

Banyak analis membantah dengan menilai bahwa waktu kemunculan, branding, serta struktur grafiknya sangat mirip dengan meme coin bertema politik yang sebelumnya sempat melejit gara-gara headline lalu langsung ambruk.

⚠️ RUG PULL WARNING

U.S Oil – $USOR looks to be a bundled scam. The developer of this project has clustered most of the supply in the top 100 wallets which are under their control.

GMGN labels dozens of sniper wallets in this project. The Bubblemaps looks atrocious here too.… pic.twitter.com/PQrKD0uoFG

— Crypto Rug Muncher (@CryptoRugMunch) January 13, 2026

Data on-chain yang dibagikan oleh tracker independen menunjukkan pasokan token terpusat di klaster wallet tertentu.

Visual bubble map yang beredar di X mengindikasikan bahwa banyak holder terbesar saling terhubung. Walhasil, itu menimbulkan kekhawatiran adanya kontrol terpusat dan juga risiko likuiditas keluar bagi pembeli yang masuk terlambat.

Secara keseluruhan, USOR menjadi contoh lain betapa cepatnya berita ekonomi makro dan politik dapat mengalir ke spekulasi aset kripto.

Di saat AS tengah menavigasi strategi baru serta rumit terhadap minyak Venezuela, sebagian pelaku pasar aset kripto nampak ingin segera memonetisasi narasi ini—sering kali tanpa bukti.

Apakah USOR hanya sekadar meme coin sesaat atau jadi sesuatu yang lebih tahan lama masih belum jelas. Yang pasti, para trader kembali berlomba-lomba memperdagangkan cerita ini, walaupun peringatan semakin keras bahwa narasi tersebut bisa jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena token USOR yang memanfaatkan isu minyak Venezuela di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Trump Siapkan ‘Senjata’ Tarif 1 Februari, Bitcoin & Ethereum Kompak Longsor

21 January 2026 at 02:35

Pasar global kembali memasuki mode risk-off pada Selasa (20/1) setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menegaskan kembali kesiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menggunakan tarif sebagai senjata geopolitik utama. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi berbasis perang dagang, tepat ketika pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Bitcoin tergelincir ke bawah US$90.000, sementara Ethereum melorot ke bawah US$3.000. Sebab, investor meninjau ulang risiko makro menyusul komentar Bessent di World Economic Forum (WEF) Davos.

Koreksi pasar kripto usai pernyataan tarif Trump terhadap Uni Eropa | Sumber: CoinGecko

Tarif Sebagai Alat Penekan, Bukan Pilihan Terakhir

Dalam pidatonya di Davos, Bessent menekankan bahwa tarif tetap menjadi elemen sentral dalam strategi kebijakan luar negeri AS. Ia menggambarkan tarif bukan sebagai langkah sementara, melainkan sebagai instrumen yang efektif untuk menekan mitra internasional.

“Duduklah, tarik napas dalam-dalam, dan jangan melakukan pembalasan. Presiden akan berada di sini besok dan ia akan menyampaikan pesannya,” ucap Bessent, menanggapi kritik Eropa terkait ancaman tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland.

Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa Gedung Putih telah mengantisipasi perlawanan dari negara-negara sekutu dan siap meningkatkan eskalasi bila diperlukan. Pasar menafsirkan ini sebagai konfirmasi bahwa risiko gesekan dagang, khususnya antara AS dan Uni Eropa, kembali meningkat.

Bessent juga mengungkapkan garis waktu yang konkret. Ia menyebut Presiden Trump dapat memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari, apabila Denmark dan negara-negara sekutu menolak bekerja sama terkait Greenland.

At Davos today, U.S. Treasury Secretary Scott Bessent warned it would be “very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to take Greenland.

He added that European leaders should take President Trump at his word, arguing the U.S. needs Greenland for strategic leverage… pic.twitter.com/3SwvUadzMl

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Risiko Inflasi Kembali Masuk Narasi Makro

Di luar isu geopolitik, Bessent membela tarif sebagai kebijakan yang efektif secara ekonomi dan menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan merugikan perekonomian domestik AS.

“Sangat kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi utama seorang presiden,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa tarif telah menghasilkan “ratusan juta dolar” bagi negara.

Namun, pandangan tersebut nyatanya bertolak belakang dengan riset terbaru yang menunjukkan bahwa konsumen AS menanggung sebagian besar beban tarif.

Data terbaru dari ekonom Eropa dan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa tarif berfungsi layaknya pajak konsumsi terselubung, yang secara bertahap menekan likuiditas rumah tangga.

Dinamika ini krusial bagi pasar kripto. Pasalnya, berkurangnya daya beli serta meningkatnya tekanan harga secara langsung melemahkan aliran modal spekulatif, terutama ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

What is President Trump’s Greenland ambition really about? 🇬🇱🇺🇸 Is it a true national security priority for the US, or a behind-the-scenes push from tech billionaires? @c_grigera reports. pic.twitter.com/KdDapTIpBM

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Volatilitas Suku Bunga Kembali Menghantui Pasar

Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar obligasi pasca-komentarnya, dengan menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil lebih disebabkan oleh gejolak di Jepang, bukan kebijakan AS.

“Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka,” katanya, seraya menilai sulit untuk mengisolasi faktor spesifik AS.

Kendati demikian, pelaku pasar lebih menyoroti gambaran besar: ancaman tarif baru, eskalasi geopolitik, dan meningkatnya volatilitas suku bunga—kombinasi yang secara historis memberikan tekanan signifikan pada pasar kripto.

Kegagalan Bitcoin mempertahankan level US$90.000 dan koreksi Ethereum ke bawah US$3.000 mencerminkan evaluasi ulang risiko tersebut. Altcoin tercatat mengalami koreksi yang lebih curam, sejalan dengan aksi pelepasan leverage dan pengurangan eksposur risiko.

BESSENT: Markets are going down because Japan's bond market just suffered a six-standard-deviation move in ten-year bonds over the past two days.

This has nothing to do with Greenland; it's all about the Japanese bond blowout. pic.twitter.com/LWEjTeEHSB

— Bitcoin News (@BitcoinNewsCom) January 20, 2026

Pola Lama Kembali Terulang di Pasar Kripto

Aksi jual ini mencerminkan pola yang sudah familier, di mana pengumuman tarif menguras likuiditas tanpa langsung memicu kontraksi ekonomi yang luas. Tarif menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar kripto bergerak sideways setelah guncangan likuidasi pada Oktober lalu, meskipun minat institusional terus tumbuh secara perlahan.

Forum Davos kembali menempatkan risiko tersebut di garis depan.

Bitcoin holders realizing losses, for a 30-day period since, late December for the first time since October 2023. pic.twitter.com/OGsPYm8714

— Julio Moreno (@jjcmoreno) January 20, 2026

Walaupun Bessent menekankan kekuatan ekonomi AS dan pertumbuhan sektor swasta yang makin pesat, pasar lebih menanggapi arah kebijakan daripada optimisme.

Penyajian tarif sebagai alat tawar-menawar, bukan cadangan, memperjelas ketidakpastian yang berlangsung—dan aset kripto menjadi salah satu yang paling cepat merespons penyesuaian tersebut.

Untuk saat ini, pesan dari Davos jelas: risiko inflasi akibat perang dagang kembali mengancam, dan pasar kripto pun sedang menyesuaikan diri.

Bagaimana pendapat Anda tentang ancaman tarif baru Amerika Serikat yang mengguncang harga Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Emas Kalahkan Bitcoin, Minyak Anjlok Tapi Investor Borong Kripto

20 January 2026 at 18:43

Harga emas melonjak, minyak anjlok, dan Bitcoin stagnan di tahun 2025. Di saat yang sama, banyak perusahaan diam-diam membeli aset kripto senilai puluhan miliar US$. Pergerakan ini bersama-sama memperlihatkan bagaimana tarif, likuiditas, dan perilaku institusi membentuk ulang pasar menjelang 2026.

Data dari CoinGecko menunjukkan tahun yang penuh dengan kontras tajam. Emas naik 62,6%, minyak turun 21,5%, dan Bitcoin berakhir turun 6,4%. Meski begitu, Digital Asset Treasury Companies (DAT) menggelontorkan hampir US$50 miliar ke dalam Bitcoin dan Ethereum, sehingga menguasai lebih dari 5% total pasokan.

Performa Harga Bitcoin Vs Aset Utama di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Emas Menguat saat Tarif Meningkatkan Ketidakpastian

Kinerja emas yang unggul sejalan dengan situasi yang penuh tarif. Hambatan dagang meningkatkan ketidakpastian, melemahkan kepercayaan pada stabilitas mata uang jangka panjang, dan mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Emas langsung mendapat keuntungan dari situasi ini.

Berbeda dengan aset pertumbuhan, emas tidak butuh likuiditas yang terus meningkat untuk reli. Emas merespons risiko kebijakan dan tekanan geopolitik. Karena tarif meningkat dan gesekan perdagangan global terus naik, emas menjadi pilihan lindung nilai utama.

Minyak Menyerap Kejutan Pertumbuhan Saat Bitcoin Tertahan

Minyak justru menunjukkan cerita sebaliknya. Tarif memperlambat perdagangan, menekan aktivitas manufaktur, serta mengurangi volume pengiriman barang. Itu secara langsung menekan permintaan energi.

Harga minyak mentah turun 21,5% di tahun 2025 karena pasokan tetap melimpah dan produksi non-OPEC naik. Dalam situasi penuh tarif, minyak bergerak seperti proksi pertumbuhan—dan laju pertumbuhan pun menurun.

Capaian -6,4% Bitcoin pada tahun ini mencerminkan tarik-menarik. Tarif menyebabkan ketidakpastian yang seharusnya menguntungkan aset lindung nilai, tapi juga menguras likuiditas bebas. Di saat yang sama, inflasi di AS tetap moderat namun cenderung bertahan, sehingga kondisi keuangan tetap ketat.

Hasilnya adalah konsolidasi panjang setelah guncangan likuidasi pada bulan Oktober. Bitcoin tidak anjlok seperti minyak dan juga tidak reli seperti emas. Bitcoin menunggu tekanan likuiditas mereda.

Grafik Harga Bitcoin 1 Tahun | Sumber: CoinGecko

Tekanan Fiat Masih Terkendali untuk Saat Ini

Walau tarif berperan sebagai “pajak domestik yang lambat”, inflasi tetap terjaga. Biaya naiknya tarif diambil secara bertahap oleh importir dan peritel, sehingga kenaikan harga ke konsumen tertunda. Itulah sebabnya stres terhadap mata uang fiat tidak begitu terlihat di data utama, sekalipun daya beli publik diam-diam menyusut.

“Slow burn” ini membatasi selera risiko tanpa memicu kepanikan—itulah salah satu alasan kenapa kripto bergerak sideways, bukan mengalami penurunan drastis.

Pembeli Treasury Terus Akumulasi Selama Reset

Ketika harga masih tertahan, DAT justru membeli besar-besaran. Mereka membelanjakan US$49,7 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar setengahnya dilakukan di paruh kedua tahun. Kepemilikan mereka naik menjadi US$134 miliar pada akhir tahun, meningkat 137% dibanding tahun sebelumnya.

Perilaku ini menandakan keyakinan jangka panjang. Pembeli treasury menerima volatilitas demi mengamankan pasokan. Akumulasi mereka selama periode penurunan membuat Bitcoin dan Ethereum makin terkonsentrasi di pemegang kuat, serta mengurangi jumlah yang tersedia di pasar.

Pembelian Kripto oleh Digital Asset Treasury di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tahun pengetatan untuk pasar kripto. Tarif mendukung emas, menekan minyak, dan menunda siklus Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas. Sementara itu, institusi membangun posisi mereka secara diam-diam.

Saat tekanan tarif tidak lagi bertambah berat dan tekanan jual mulai reda, Bitcoin perlahan bergerak lagi. Pasar memasuki 2026 dengan pasokan yang lebih ketat, holder yang lebih kuat, dan peluang ekspansi yang lebih jelas ketika likuiditas membaik.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena divergensi aset antara emas dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Received — 20 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Data Tarif Baru Tunjukkan Mengapa Pasar Kripto Macet Selama Berbulan-Bulan

20 January 2026 at 00:17

Riset terbaru yang dikutip oleh The Wall Street Journal menunjukkan tarif perdagangan AS secara diam-diam membebani ekonomi domestik. Beban inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa pasar kripto kesulitan untuk mendapatkan momentum sejak aksi jual di bulan Oktober.

Sebuah studi dari Kiel Institute for the World Economy di Jerman menemukan bahwa untuk tarif yang diterapkan antara Januari 2024 hingga November 2025, sebanyak 96% biaya ditanggung oleh konsumen dan importir di AS, sedangkan eksportir asing hanya menanggung 4% saja.

Hampir US$200 miliar pendapatan dari tarif dibayarkan hampir seluruhnya di dalam ekonomi AS.

By analyzing $4 trillion of shipments between January 2024 and November 2025, researchers found that foreign exporters absorbed only about 4% of the burden of last year’s U.S. tariff increases by lowering their prices, while American consumers and importers absorbed 96%.

The…

— Nick Timiraos (@NickTimiraos) January 19, 2026

Tarif Bea Masuk Berperan Seperti Pajak Konsumsi Domestik

Riset ini menantang klaim politik utama yang menyatakan tarif dibayar oleh produsen asing. Faktanya, importir AS yang membayar tarif di perbatasan, lalu menanggung atau meneruskan biayanya ke konsumen.

Eksportir asing sebagian besar tetap mempertahankan harga. Alih-alih, mereka mengirimkan barang lebih sedikit atau mengalihkan pasokan ke pasar lain. Hasilnya bukan impor yang lebih murah, melainkan volume perdagangan yang menurun.

Ekonom menyebut efek ini sebagai pajak konsumsi yang berjalan lambat. Harga tidak langsung melonjak. Biaya secara perlahan masuk ke rantai pasok dari waktu ke waktu.

Presiden AS Trump Terapkan Tarif Baru ke Sejumlah Negara Eropa karena Menolak Penawaran Pembelian Greenland. Sumber: Truth Social

Inflasi AS Tetap Moderat, tapi Tekanan Mulai Meningkat

Inflasi AS masih cukup terkendali sampai tahun 2025. Karena itu, sebagian orang beranggapan tarif tidak berdampak besar.

namun, studi yang dikutip WSJ menunjukkan hanya sekitar 20% biaya tarif yang masuk ke harga konsumen dalam enam bulan. Sisanya ditanggung importir dan retailer, sehingga memangkas margin mereka.

Keterlambatan ini menjelaskan mengapa inflasi tetap moderat namun daya beli perlahan menurun. Tekanan menumpuk secara diam-diam, bukan meledak seketika.

Today, the US CPI inflation is 1.57% (YoY).

It's been holding below the 2% target since the end of the year.

To calculate an independent gauge of US inflation, we aggregate millions of price points daily, whereas the official US inflation is reported by the US Bureau of Labor… pic.twitter.com/ysDd9Obt68

— Truflation (@truflation) January 19, 2026

Bagaimana Ini Terkait dengan Stagnasi Pasar Aset Kripto

Pasar kripto bergantung pada likuiditas dari dana lebih. Pasar akan naik ketika rumah tangga dan bisnis percaya diri untuk mengalokasikan modal berlebih.

Tarif telah menguras kelebihan dana itu sedikit demi sedikit. Konsumen membayar lebih mahal. Bisnis menanggung tambahan biaya. Dana tunai untuk aset spekulatif pun jadi lebih sedikit.

Hal inilah yang membuat pasar kripto tidak ambruk setelah Oktober, tapi juga gagal rebound lebih tinggi. Market masuk ke liquidity plateau, bukan bear market.

Aksi jual di bulan Oktober menguras leverage dan menghentikan arus dana ke ETF. Dalam kondisi normal, inflasi yang mulai reda biasanya membuat minat risiko kembali naik.

tapi, tarif menjaga kondisi keuangan tetap ketat secara perlahan. Inflasi tetap di atas target. The Fed pun terus berhati-hati. Likuiditas tidak berkembang.

Harga kripto pun bergerak sideways akibatnya. Tidak ada kepanikan, tapi juga tak ada bahan bakar untuk kenaikan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data tarif baru ini bukan satu-satunya penjelasan volatilitas pasar kripto. Tapi, data ini membantu menjelaskan kenapa market tetap tertahan.

Tarif diam-diam memperketat sistem, menguras dana ekstra, dan menunda kembalinya minat risiko.

Taruhan Tokenized Securities NYSE Bisa Membentuk Ulang Pasar Saham AS

19 January 2026 at 23:07

New York Stock Exchange sedang mempersiapkan fondasi untuk salah satu perubahan paling besar pada infrastruktur pasar saham AS dalam beberapa dekade terakhir.

Bursa ini mengumumkan rencana untuk mendukung sekuritas ter-tokenisasi dan memungkinkan perdagangan tanpa henti selama 24 jam, 7 hari seminggu. Upaya ini bertujuan memodernisasi cara saham diperdagangkan, diselesaikan, dan menerima informasi dalam sistem keuangan global.

Jika berhasil, perubahan ini bisa mengubah mekanisme pembentukan harga, risiko penyelesaian, perilaku likuiditas, dan psikologi investor di seluruh pasar AS.

Apa yang Sebenarnya Diusulkan oleh NYSE

Rencana NYSE berfokus pada pembangunan platform berbasis blockchain yang mampu mendukung versi ter-tokenisasi dari sekuritas tradisional, seperti saham dan ETF. Sekuritas ter-tokenisasi ini akan mewakili saham asli yang diakui secara hukum, didukung satu banding satu dengan aset dasarnya, dan diatur oleh hukum sekuritas AS yang berlaku.

Today, NYSE is proud to announce the development of a platform for trading and on-chain settlement of tokenized securities.

NYSE’s new digital platform will enable tokenized trading experiences, including 24/7 operations, instant settlement, orders sized in dollar amounts, and…

— NYSE 🏛 (@NYSE) January 19, 2026

Sebuah saham ter-tokenisasi tetap merepresentasikan kepemilikan di perusahaan publik, dengan hak ekonomi dan tata kelola yang sama seperti saham konvensional. Perbedaannya ada pada cara pencatatan kepemilikan dan penyelesaian transaksi.

Poin pentingnya, NYSE tidak serta-merta mengganti sistem pasar yang sudah ada. Sekuritas ter-tokenisasi ini dirancang untuk beroperasi bersama-sama dengan saham tradisional, dengan kemungkinan saling dipertukarkan di masa depan.

Jadi, ini merupakan sistem paralel, bukan perpindahan paksa.

NYSE’s announcement on tokenized securities is being misunderstood across X.

The New York Stock Exchange is not turning stocks into crypto, moving markets on-chain overnight, or launching DeFi for equities. This is an announcement of intent, not an approved or live product.

At… pic.twitter.com/NQ1fHV0A2r

— Andrew Hiesinger (@AndrewHiesinger) January 19, 2026

Struktur Pasar Saham Saat Ini Mulai Menua

Meski teknologi sudah berkembang pesat selama puluhan tahun, pasar saham AS masih bergantung pada struktur berlapis yang dibuat untuk era sebelum digital. Proses perdagangan, kliring, penyelesaian, dan penitipan saham ditangani oleh pihak berbeda, masing-masing memegang buku catatannya sendiri.

Struktur ini menimbulkan beberapa masalah. Modal tertahan selama masa penyelesaian. Risiko pihak lawan tetap ada sampai transaksi benar-benar selesai. Rekonsiliasi antarlembaga perantara menambah biaya dan risiko operasional.

Lebih penting lagi, pasar tetap terikat pada jam perdagangan tetap, sementara arus informasi kini berjalan secara global dan terus-menerus.

Gesekan-gesekan ini memang tidak selalu terlihat oleh investor ritel. tapi faktor-faktor inilah yang membentuk volatilitas, likuiditas, dan perilaku pasar setiap hari.

The NYSE is going all-in on tokenization.

The world's most iconic stock exchange just announced plans for 24/7 trading and instant settlement of tokenized securities.

“Tokenization has the potential to bring greater efficiency, transparency and accessibility to capital… pic.twitter.com/JajKg1zX0T

— Ondo Finance (@OndoFinance) January 19, 2026

Tokenisasi Mengubah Segalanya di Tingkat Infrastruktur

Tokenisasi menargetkan masalah-masalah ini secara langsung. Dengan merepresentasikan sekuritas di buku digital bersama, pembaruan kepemilikan dan penyelesaian bisa berlangsung hampir seketika. Proses perdagangan dan penyelesaian pun tidak harus terpisah lalu digabungkan belakangan.

Hal ini mengurangi risiko penyelesaian karena penyerahan dan pembayaran bisa terjadi secara otomatis dalam satu transaksi. Selain itu, efisiensi modal juga meningkat karena jaminan dan uang tunai tidak lagi mengendap menunggu penyelesaian.

Bagi institusi, hal ini berpengaruh pada neraca keuangan. Untuk pasar secara keseluruhan, proses administrasi pasca-perdagangan yang makin rumit bisa lebih sederhana.

Poin pentingnya adalah tokenisasi tidak mengubah apa itu saham, melainkan mengubah cara sistem memproses kepemilikan saham.

Sebuah pasar ter-tokenisasi yang dirancang untuk beroperasi tanpa henti akan mengubah dinamika lama. Perdagangan tidak perlu berhenti saat akhir pekan atau larut malam. Pembentukan harga pun berlangsung secara terus-menerus, bukan dibatasi waktu.

Ini membawa dampak penting. Saat ini, jika ada laporan keuangan, kejadian geopolitik, atau data ekonomi makro yang muncul di luar jam bursa, penyesuaian harga jadi tertunda dan lalu terjadi lonjakan tajam saat bursa dibuka.

Secara keseluruhan, perdagangan tanpa henti membuat harga menyesuaikan secara bertahap seiring menyebarnya informasi, sehingga titik-titik kejutan buatan bisa berkurang.

Received — 17 January 2026 BeInCrypto Indonesia

White House Mungkin Akan Tarik Dukungan untuk CLARITY Act setelah Perseteruan dengan Coinbase

17 January 2026 at 12:51

Gedung Putih mempertimbangkan untuk sepenuhnya menarik dukungannya terhadap rancangan undang-undang struktur pasar aset kripto di AS, setelah Coinbase mencabut dukungan dan menolak kembali ke meja perundingan, menurut berbagai laporan.

Administrasi dilaporkan sedang mendorong tercapainya kesepakatan di menit terakhir terkait aturan imbal hasil stablecoin agar dapat memuaskan pihak bank serta membawa pelaku industri kembali sejalan. Jika Coinbase menolak untuk terlibat lagi, Gedung Putih bisa saja meninggalkan rancangan undang-undang tersebut.

Ketegangan CLARITY Act Semakin Meningkat

Konfrontasi ini menjadi babak terbaru dalam saga CLARITY Act yang berlangsung sangat cepat dalam satu minggu terakhir.

🚨SCOOP: The White House is considering pulling its support for the crypto market structure bill entirely if @coinbase does not come back to the table with a yield agreement that satisfies the banks and gets everyone to a deal, a source close to the Trump administration tells me.…

— Eleanor Terrett (@EleanorTerrett) January 17, 2026

Pejabat disebut sangat marah atas apa yang mereka gambarkan sebagai langkah “sepihak” dari Coinbase awal pekan ini. Perusahaan tersebut dikabarkan tidak memberi tahu pihak administrasi terlebih dahulu.

CLARITY Act yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat dirancang untuk mengatasi isu inti dalam regulasi aset kripto di AS. RUU ini menentukan apakah sebagian besar aset digital harus diawasi oleh Commodity Futures Trading Commission atau Securities and Exchange Commission.

Pada awalnya, kerangka kerja ini mendapatkan dukungan luas dari industri.

namun, Komite Perbankan Senat memperkenalkan revisi total rancangan undang-undang tersebut, memperluas kewenangan SEC, memperketat aturan keterbukaan untuk token, membatasi imbal hasil stablecoin, dan menarik sebagian aspek DeFi agar semakin tunduk pada regulasi serta pengawasan bergaya perbankan.

After reviewing the Senate Banking draft text over the last 48hrs, Coinbase unfortunately can’t support the bill as written.

There are too many issues, including:

– A defacto ban on tokenized equities
– DeFi prohibitions, giving the government unlimited access to your financial…

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 14, 2026

Coinbase merespons dengan menarik dukungan mereka, dengan alasan bahwa versi Senat justru merugikan ekuitas ter-tokenisasi, melemahkan peran CFTC, membatasi DeFi, serta membiarkan bank membatasi persaingan di stablecoin.

Langkah Coinbase tersebut langsung mengganggu perjalanan RUU ini dan menyebabkan Senat menunda penjadwalan pembahasan resmi.

Mengapa Gedung Putih Turut Campur

Keterlibatan Gedung Putih menunjukkan betapa pentingnya secara politis RUU ini bagi pemerintahan Trump.

Gedung Putih kini mendorong kompromi soal imbal hasil stablecoin. Hal ini menjadi titik panas antara perusahaan aset kripto dan pihak perbankan, demi menyelamatkan legislasi sekaligus menampilkan persatuan di industri.

Yep https://t.co/CXTOOmrRn8

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 16, 2026

Kegagalan mencapai kompromi bisa membuat administrasi menarik dukungannya, bukan membiarkan RUU itu mandek sebab perpecahan di industri.

Waktu kini sangat krusial.

Mengesahkan CLARITY Act sebelum pemilu paruh waktu November akan memungkinkan pemerintahan Trump mengklaim kemenangan besar dalam inovasi keuangan, kejelasan regulasi, dan daya saing AS di aset digital.

Keterlambatan hingga melampaui pemilu paruh waktu berisiko mengubah total lanskap politik. Kepemimpinan komite bisa berubah, prioritas regulator dapat bergeser, dan Kongres baru mungkin tidak sejalan dengan pendekatan administrasi terhadap pasar aset kripto.

Bagi Gedung Putih, mendorong pengesahan RUU ini dengan cepat bisa mengurangi risiko politik dan menghindari pembukaan kembali perundingan di bawah keseimbangan kekuasaan yang mungkin kurang menguntungkan.

Trump Ubah Pilihan untuk The Fed setelah Peluang Hassett Menurun: Siapa yang Akan Gantikan Powell?

16 January 2026 at 23:32

Presiden Donald Trump secara terbuka menunjukkan keragu-raguan tentang memindahkan Kevin Hassett ke Federal Reserve, sehingga membuat peluang Hassett menjadi pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed semakin diragukan.

Berbicara di sebuah konferensi, Trump menyebut ia ingin tetap mempertahankan Hassett di posisi saat ini, karena ia khawatir akan kehilangan penasihat kepercayaannya jika Hassett dipindahkan ke The Fed.

BREAKING: President Trump comments on Kevin Hassett, the expected replacement for Fed Chair Powell:

“You were fantastic on TV today, I actually want to keep you where you are.”

“If I move him, these Fed guys don’t talk much, I would lose you. It’s a serious concern to me,”… pic.twitter.com/em0C28Oe6A

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) January 16, 2026

Peluang Kevin Hassett Nampaknya Menurun

Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi tentang siapa yang akan menjadi ketua The Fed berikutnya. Dengan peluang Hassett menurun, kini perhatian beralih ke Kevin Warsh, yang sekarang dipandang oleh pasar dan kalangan Washington sebagai kandidat terkuat.

Nama Hassett sebelumnya banyak dibicarakan sebagai calon utama pengganti Powell menjelang masa transisi Mei 2026.

Namun, pernyataan Trump nampaknya menunjukkan bahwa dia lebih memilih adanya kesinambungan di dalam Gedung Putih dibandingkan memindahkan Hassett ke bank sentral.

Akibatnya, pasar prediksi dan pembicaraan analis dalam beberapa hari terakhir mulai menjauhi nama Hassett.

Kevin Warsh Naik Peringkat di Peluang Polymarket | Sumber: Polymarket

Kevin Warsh Maju ke Depan

Kevin Warsh membawa pengalaman dari bank sentral, setelah pernah menjabat sebagai gubernur The Fed saat krisis keuangan global. Profilnya telah lama menarik minat Partai Republik yang ingin memiliki kredibilitas di mata pasar dan pemisahan yang lebih tegas antara kebijakan moneter dan politik sehari-hari.

Keengganan Trump untuk melepas Hassett telah mengangkat nama Warsh ke jajaran kandidat teratas.

Crypto Lens: Warsh vs. Powell

Terkait aset kripto, Warsh dan Powell lebih banyak berbeda dari segi nada bicara, bukan hasil kebijakan. Powell tetap menjaga pendekatan hati-hati dan mengutamakan kelembagaan, berulang kali menekankan stabilitas keuangan, perlindungan konsumen, serta kejelasan aturan untuk stablecoin dan exchange.

FORMER FED GOVERNOR KEVIN WARSH: Bitcoin "could provide market discipline or it could tell the world that things need to be fixed."

"Bitcoin does NOT make me nervous."

"It can often be a very good policeman for policy." pic.twitter.com/3pYKyCFiCy

— Fiat Archive (@fiatarchive) December 27, 2025

Powell belum pernah secara terbuka mendukung kripto sebagai uang, namun tetap memberikan ruang bagi pasar berkembang di bawah aturan yang ada.

Rekam jejak Warsh menunjukkan sikap skeptis pragmatis. Ia mengakui potensi Bitcoin sebagai penyimpan nilai, sering membandingkannya dengan emas, namun dia tetap berhati-hati terhadap penggunaan aset kripto privat sebagai uang sehari-hari.

Sikap ini menunjukkan kemungkinan adanya pengawasan yang lebih ketat, bukan permusuhan secara langsung. Jika dibandingkan Powell, Warsh memang terdengar lebih terbuka untuk berdiskusi soal aset digital, tapi hasil kebijakan sepertinya akan tetap konservatif.

Waktu Powell Mulai Habis

Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada 15 Mei 2026. Ia masih bisa bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga tahun 2028, meskipun jarang ada ketua yang tetap menjabat setelah mengundurkan diri.

Meski inflasi mulai mereda tetapi belum sepenuhnya teratasi, pasar memprediksi ruang perubahan kebijakan yang besar sangat terbatas sebelum Powell lengser.

Trader semakin memproyeksikan satu kali pemangkasan suku bunga lagi di bawah Powell sebelum masa transisi, dengan asumsi data ekonomi mendukungnya.

Mayoritas Pasar Memperkirakan Suku Bunga Akan Tetap Sama Sampai April 2026 | Sumber: CME FedWatch

Setiap perubahan kebijakan besar saat ini nampaknya semakin kecil kemungkinannya, sehingga semakin menegaskan bahwa kebijakan di tahun 2026 dan setelahnya bakal sangat dipengaruhi oleh ketua baru.

Sementara itu, Powell tengah menghadapi situasi politik yang tak biasa. Penyelidikan oleh Departemen Kehakiman terkait kesaksiannya di kongres soal pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed sudah memicu pemanggilan dokumen sebagai barang bukti.

Powell menyampaikan bahwa kasus tersebut tidak memengaruhi kebijakan moneter. Meski begitu, investigasi ini semakin memperkuat perdebatan tentang independensi bank sentral di tengah mendekatnya pergantian kepemimpinan.

Received — 16 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Polygon PHK Nyaris 30% Karyawan Pasca Akuisisi, Apa Alasannya?

16 January 2026 at 03:11

Polygon kabarnya melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran secara internal, menurut sejumlah pihak yang mengetahui situasi tersebut. Sumber industri menyebut kepada BeInCrypto bahwa sekitar 30% staf diberhentikan dalam pekan ini.

Di berbagai platform media sosial, sejumlah karyawan yang terhubung dengan Polygon serta figur dalam ekosistemnya mulai membagikan unggahan terkait kepergian mereka dan perubahan tim yang sedang berlangsung.

after a far too short of a run, i was let go from @0xPolygon today in a restructuring. sad!

but im ready to find my next home and give it everything.

— regan (@0xthegipper) January 15, 2026

Pergeseran Strategis Besar di Polygon?

Faktanya, ini bukan kali pertama jaringan layer-2 (L2) tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Pada 2024 lalu, perusahaan juga merumahkan hampir 20% dari total tenaga kerjanya.

Adapun timing terjadinya langkah ini selaras dengan restrukturisasi yang sudah Polygon sinyalkan dalam beberapa pekan terakhir. Awal bulan ini, Polygon Labs menyampaikan bahwa mereka tengah menyelaraskan ulang tenaga kerja dengan strategi baru yang berfokus pada pembayaran (payments-first), setelah melakukan pergeseran besar dari narasi murni scaling dan DeFi.

Perubahan arah tersebut terjadi setelah Polygon melakukan rangkaian akuisisi senilai lebih dari US$250 juta, termasuk Coinme—on-ramp fiat ke kripto yang teregulasi di Amerika Serikat—serta Sequence, penyedia wallet dan infrastruktur pembayaran lintas-chain.

Secara kolektif, aset-aset ini membentuk fondasi dari apa yang kini Polygon namai sebagai Open Money Stack, yakni sistem terintegrasi secara vertikal untuk pembayaran stablecoin yang teregulasi serta pergerakan dana on-chain.

Grafik Harga POL Dalam Sebulan Terakhir | Sumber: CoinGecko

Di saat yang sama, Polygon terus menggencarkan upgrade jaringan. Upgrade Madhugiri yang baru-baru ini tayang meningkatkan throughput dan mempersiapkan blockchain tersebut untuk volume transaksi yang lebih tinggi.

Perubahan-perubahan ini juga tecermin di pasar. Native token Polygon, POL, mencatat reli tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Namun secara internal, transisi ini nampaknya datang dengan konsekuensi. Meski sejumlah unggahan di media sosial mengeklaim bahwa beberapa PHK dilakukan melalui email, Polygon memberikan klarifikasi kepada BeInCrypto.

.@Polygon is laying people off via email, extremely fucking cool guys

— David Z. Morris (@davidzmorris) January 15, 2026

“Setiap karyawan yang terdampak menjalani percakapan langsung secara real-time dengan manajer mereka. Restrukturisasi ini berkaitan dengan integrasi pasca-akuisisi. Dengan bergabungnya tim Coinme dan Sequence, jumlah total karyawan diperkirakan akan tetap relatif seimbang,” ujar Kurt Patat, Head of Communications Polygon Labs, kepada BeInCrypto.

Untuk saat ini, Polygon belum mengonfirmasi secara resmi rumor PHK yang beredar tersebut. Namun, dengan semakin terlihatnya kepergian staf di berbagai platform media sosial, perubahan internal di Polygon kian nyata.

Bagaimana pendapat Anda tentang PHK massal oleh Polygon ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Received — 15 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Monero (XMR) Cetak All-Time High Pasca Breakout 60%, Ini Alasannya

15 January 2026 at 04:10

Monero (XMR) melesat ke rekor harga all-time high (ATH) baru pada hari Rabu (14/1), menembus level US$797 karena investor berbondong-bondong membeli aset kripto yang berfokus pada privasi. Reli ini menutup kenaikan selama sepekan yang mengangkat XMR lebih dari 50%, sehingga menjadi salah satu aset kripto dengan performa terkuat di pasar.

Kenaikan ini mengerek nilai pasar Monero di atas US$13 miliar dan sempat menempatkannya di jajaran 15 aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Volume transaksi juga melonjak karena pembeli berlomba-lomba mendapatkan eksposur.

Meningkatnya Permintaan untuk Privasi Keuangan

Pendorong utama reli ini adalah lonjakan permintaan privasi keuangan. Di berbagai pasar utama, regulator memperketat aturan KYC dan anti-pencucian uang. Hal ini membuat transaksi anonim semakin sulit dilakukan di sebagian besar blockchain.

Karena itu, semakin banyak pengguna beralih ke aset kripto yang menyembunyikan saldo wallet, jumlah transaksi, serta identitas pengirim. Monero tetap menjadi aset kripto terbesar dan paling teruji dalam kategori ini.

Monero Rekor Tertinggi Hampir US$800 pada 14 Januari | Sumber: CoinGecko

Secara paradoks, larangan dan pembatasan justru memicu reli alih-alih menghentikannya.

Pada awal pekan ini, regulator keuangan Dubai melarang exchange di Dubai International Financial Centre untuk melakukan listing atau mempromosikan privacy coin (koin privasi).

Selain itu, Uni Eropa sedang menyiapkan regulasi yang akan melarang akun kripto anonim dan token privasi mulai 2027.

Bukannya membunuh permintaan, langkah-langkah tersebut justru memicu aksi beli lebih awal. Investor ramai-ramai membeli aset privasi sebelum akses semakin terbatas.

Monero is pumping with no etf, no major exchanges, no michael saylor, no government strategic reserves

just a community of people who love freedom

— Crypto Tea (@Cryptotea) January 12, 2026


Modal Berpindah dari Zcash

Monero juga diuntungkan dari gejolak di ekosistem Zcash.

Zcash, pesaing terdekatnya di ranah privacy coin, kehilangan momentum setelah terjadi perselisihan tata kelola dan keluarnya tim pengembang inti mereka.

Saat kepercayaan memudar, trader mengalihkan modal ke Monero yang dipandang lebih terdesentralisasi dan tidak terlalu bergantung pada satu foundation.

Pergeseran ini semakin memicu breakout XMR.

The privacy coin CT told me to buy vs the privacy coin I should've bought pic.twitter.com/3wEo7vd0Cm

— wale.moca 🐳 (@waleswoosh) January 12, 2026

Monero juga berhasil melewati level resistance dalam beberapa tahun terakhir di grafik. Setelah menembus kisaran US$600–US$650, trader sistematik dan dana berbasis momentum ikut masuk ke pasar.

Minat di media sosial melonjak dan likuiditas pun meningkat. Hal ini menciptakan umpan balik pembelian yang mendorong harga mendekati US$700.

Drama CLARITY Act Dorong Reli

Debat kebijakan kripto di AS juga mungkin membantu narasi soal privasi.

Revisi CLARITY Act di Senat akan memperluas pengawasan finansial, memperkuat kewajiban pelaporan, dan memberi regulator akses lebih luas ke data transaksi di berbagai exchange dan platform DeFi.

The CLARITY Act just changed. The Senate amendment adds more SEC power, more disclosures, tighter stablecoin rules, and DeFi oversight.

Coinbase has already opposed this version ❌ pic.twitter.com/XH0RB3XN7w

— BeInCrypto (@beincrypto) January 14, 2026

Walaupun rancangan undang-undang ini tidak langsung menargetkan koin privasi, beleid itu memperkuat kekhawatiran bahwa aktivitas on-chain akan semakin mudah diawasi pemerintah.

Kondisi ini membuat aset yang menjaga privasi semakin menarik, bahkan bagi pengguna yang tidak melakukan aktivitas ilegal sekalipun.

Monero kini menghadapi resistance teknikal yang kuat di sekitar US$700. Koreksi jangka pendek kemungkinan terjadi setelah kenaikan tajam seperti ini.

Meski begitu, tren dasarnya sudah jelas. Ketika pemerintah memperketat pengawasan dan membatasi anonimitas, permintaan akan privasi keuangan terus naik. Untuk saat ini, Monero masih menjadi pihak yang paling diuntungkan di pasar.

Bagaimana pendapat Anda tentang harga XMR yang sukses torehkan rekor harga ATH baru ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Coinbase Cabut Dukungan untuk CLARITY Act usai Revisi Versi Senat

15 January 2026 at 07:28

CEO Coinbase Brian Armstrong mengungkapkan pada Selasa malam bahwa perusahaannya tidak bisa lagi mendukung versi CLARITY Act yang disusun Senat AS setelah para legislator memperkenalkan perubahan besar pada struktur RUU pasar kripto (CLARITY Act) tersebut.

Ia menyampaikan bahwa draf Komite Perbankan Senat “merusak bagian-bagian penting dari struktur pasar” dan menciptakan risiko untuk saham yang ditokenisasi, DeFi, stablecoin, serta pasar kripto terbuka secara umum.

CLARITY Act Baru Saja Berubah

Coinbase menarik dukungannya hanya beberapa jam sebelum Senat dijadwalkan untuk membawa RUU tersebut ke tahap markup komite.

After reviewing the Senate Banking draft text over the last 48hrs, Coinbase unfortunately can’t support the bill as written.

There are too many issues, including:

– A defacto ban on tokenized equities
– DeFi prohibitions, giving the government unlimited access to your financial…

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 14, 2026

Pada saat yang sama, terdapat laporan yang belum dikonfirmasi beredar di lingkungan Capitol Hill bahwa markup yang dijadwalkan untuk esok hari bisa saja dibatalkan setelah langkah Coinbase tersebut.

Laporan ini masih berupa rumor, namun menunjukkan risiko politik yang semakin besar seputar RUU ini.

Armstrong memaparkan ada empat kekhawatiran utama dalam pernyataannya. Pelarangan de facto terhadap saham tokenisasi berarti instrumen keuangan dan saham berbasis blockchain tidak bisa diperdagangkan secara bebas di infrastruktur aset kripto.

CEO Coinbase menilai bahwa RUU ini memperluas akses pemerintah terhadap data transaksi DeFi dengan mendorong protokol terdesentralisasi masuk ke dalam rezim Bank Secrecy Act dan anti pencucian uang.

Penting untuk dipahami bahwa perubahan terbaru memperluas kendali SEC atas pasar aset kripto. Ini berpotensi membawa masalah era Gensler kembali ke industri ini.

🚨NEW: It probably speaks to the size and influence of @coinbase on Capitol Hill that I'm hearing rumblings the markup could be pulled tomorrow after CEO @brian_armstrong announced he was withdrawing the company's support for the bill an hour ago. TO BE CLEAR: I have not…

— Eleanor Terrett (@EleanorTerrett) January 14, 2026

Terakhir, ia menyebutkan bahwa draf ini memiliki ketentuan stablecoin dan perbankan yang mengizinkan bank untuk membatasi persaingan dan mengurangi insentif murni dari dunia kripto.

Apa yang Diubah dalam Versi Senat?

Komite Perbankan Senat tidak melakukan voting pada CLARITY Act yang sudah disetujui DPR. Sebaliknya, mereka menggunakan penulisan ulang secara penuh yang dikenal sebagai “amendment in the nature of a substitute”.

Draf tersebut membuat beberapa perubahan besar dalam cara pengaturan pasar aset kripto di AS.

Berikut perbandingan sederhana mengenai apa saja yang berubah.

CLARITY Act Asli vs Penulisan Ulang oleh Senat

Coinbase merupakan crypto exchange teregulasi terbesar di Amerika Serikat dan menjadi salah satu suara paling aktif di dunia kebijakan industri ini di Washington.

Penarikan dukungan secara terbuka ini memberi sinyal pada para legislator bahwa RUU tersebut mungkin sudah tidak mendapat dukungan dari industri di momen krusial.

Hal ini penting karena Komite Perbankan Senat dan Komite Pertanian Senat memerlukan dukungan bipartisan untuk meloloskan RUU tersebut ke tahap berikutnya.

Apa Langkah Selanjutnya untuk CLARITY Act?

Senat sebelumnya diperkirakan akan memulai markup komite pekan ini, yaitu saat para pembuat undang-undang secara resmi membahas dan melakukan voting atas amandemen.

Akan tetapi, setelah pernyataan Coinbase tersebut, beberapa pihak yang dekat dengan kebijakan kini menyebut pimpinan mungkin akan menunda atau membatalkan markup guna menghindari kegagalan dukungan secara terbuka.

Untuk saat ini, RUU masih belum pasti. Namun, persaingan seputar siapa yang mengendalikan aset kripto, stablecoin, dan DeFi di Amerika Serikat jelas sudah memasuki tahap yang paling rapuh sejauh ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang Coinbase yang menarik dukungan untuk CLARITY Act ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

SEC Tutup Investigasi Zcash Foundation, ZEC Langsung “to the Moon”

15 January 2026 at 07:53

SEC telah menyelesaikan investigasinya atas Zcash Foundation dan memberitahukan kepada organisasi nirlaba tersebut bahwa mereka tidak berniat merekomendasikan tindakan penegakan hukum atau perubahan regulasi lain terkait kasus tersebut.

Keputusan ini menghapus ketidakpastian hukum yang telah membayangi Zcash selama lebih dari dua tahun.

Investigasi Selama Dua Tahun Berakhir

ZEC sontak meroket menyusul kabar ini. Token ini parkir di kisaran US$440, naik sekitar 13% dalam sehari, dengan volume tinggi karena para trader memperhitungkan risiko regulasi yang lebih rendah.

Namun, reli ini juga terjadi setelah beberapa hari gejolak tata kelola internal di ekosistem Zcash yang sebelumnya sempat menekan harga token secara tajam.

We are pleased to announce that the SEC has concluded its review and informed us that it does not intend to recommend any enforcement action or other changes against Zcash Foundation regarding this matter. https://t.co/zjxfh3mmst

— Zcash Foundation 🛡️ (@ZcashFoundation) January 14, 2026


SEC pertama kali menargetkan Zcash Foundation pada Agustus 2023, ketika lembaga tersebut menerbitkan subpoena resmi dalam penyelidikan luas bertajuk “Certain Crypto Asset Offerings”.

Dalam penyelidikan itu, SEC meminta informasi terkait apakah pendanaan, tata kelola, atau distribusi token yang berhubungan dengan Zcash dapat dikategorikan sebagai sekuritas menurut hukum AS.

Seperti banyak penyelidikan kripto pada periode tersebut, fokus utama adalah apakah ada bagian dari proyek yang menyerupai penawaran sekuritas tidak terdaftar. Desain Zcash yang berfokus pada privasi, serta keberadaan yayasan berbasis di AS, membuat proyek ini berada di bawah pengawasan ekstra.

Kini, lebih dari dua tahun kemudian, SEC menutup kasus tersebut tanpa merekomendasikan dakwaan, denda, maupun perubahan kepatuhan.

Harga Zcash Reli Setelah Dapat Persetujuan Regulasi | Sumber: CoinGecko


Kisruh Governance Melanda Zcash

Sementara kasus regulasi berjalan secara senyap, Zcash justru menghadapi krisis internal anyar bulan ini.

Pekan lalu, seluruh tim pengembang inti Electric Coin Company (ECC) mengundurkan diri setelah konflik terbuka dengan Bootstrap Foundation, entitas yang mengawasi tata kelola Zcash.

Pimpinan ECC menuduh dewan pengawas memberlakukan perubahan ketenagakerjaan dan tata kelola yang membuat pengembangan berkelanjutan menjadi tidak mungkin. Mereka menyebut situasi tersebut sebagai constructive discharge dan menyatakan akan tetap mengembangkan teknologi privasi di luar struktur yang ada saat ini.

Kabar ini memicu aksi jual brutal, dan ZEC anjlok lebih dari 20% dalam hitungan hari. Sebab, investor khawatir akan runtuhnya kepemimpinan protokol.

Sejak saat itu, para stakeholder Zcash berupaya menegaskan bahwa blockchain Zcash tetap terdesentralisasi dan beroperasi normal.

Tim juga disebut tengah melakukan restrukturisasi sebagai startup guna mempercepat skalabilitas jaringan. Pengembang independen, operator node, dan miner masih terus menjalankan jaringan.

We are all in on Zcash.
We need to scale Zcash to billions of users.
Startups can scale, but nonprofits can't.
That's why we created a new Zcash startup.https://t.co/ZurjfTxnPi pic.twitter.com/ksnwLewpPp

— Josh Swihart 🛡 (@jswihart) January 8, 2026

Di saat yang sama, keputusan SEC menghapus ancaman regulasi terbesar yang tersisa bagi proyek ini.

Kombinasi antara kejelasan regulasi dan stabilisasi internal inilah yang rupanya menggeser sentimen pasar kembali ke arah positif.

Bagaimana pendapat Anda tentang reli harga Zcash (ZEC) usai rampungnya investigasi oleh SEC ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌