Normal view

Received — 20 January 2026 BeInCrypto Indonesia

Ekonomi Bermuda Masuk ke Chain dengan Bantuan Circle dan Coinbase

19 January 2026 at 21:42

Bermuda mengumumkan rencana di World Economic Forum di Davos pada hari Senin untuk mengubah dirinya menjadi ekonomi nasional sepenuhnya on-chain pertama di dunia.

Circle dan Coinbase sudah berkomitmen akan menyediakan infrastruktur aset digital dan alat enterprise yang dibutuhkan untuk mendukung transisi tersebut.

Bermuda Pindahkan Pembayaran ke Chain

Inisiatif ini berfokus untuk mengintegrasikan aset kripto ke dalam infrastruktur keuangan sehari-hari negara, sehingga sistem berbasis blockchain dapat mendukung pembayaran serta aktivitas ekonomi inti lainnya.

Circle dan Coinbase juga berencana membantu transisi ini dengan berkontribusi pada inisiasi edukasi keuangan digital secara nasional.

“Bermuda selalu percaya bahwa inovasi yang bertanggung jawab paling baik dicapai melalui kemitraan antara pemerintah, regulator, dan industri,” ujar David Burt, Premier Bermuda. “Dengan dukungan dari Circle dan Coinbase, dua perusahaan keuangan digital paling terpercaya di dunia, kami mempercepat visi untuk mewujudkan keuangan digital di tingkat nasional.”

We’re taking Bermuda’s economy onchain@BermudaPremier @jerallaire https://t.co/lDqFUIb9qe pic.twitter.com/QGLzaI5VNw

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 19, 2026

Dalam pernyataan terpisah, Circle menyoroti bahwa ekonomi Bermuda yang sangat berjiwa wirausaha sebagai pihak utama yang diuntungkan dari ekonomi on-chain. Pelaku usaha lokal bisa mendapatkan manfaat dari model yang tidak terlalu bergantung pada pemroses pembayaran onshore, karena biasanya biaya layanan menjadi lebih tinggi dan margin merchant pun lebih sempit.

Pengumuman terbaru ini sejalan dengan keterlibatan Bermuda yang sudah berlangsung lama dengan aset kripto.

Sejarah Kebijakan Aset Digital

Peralihan Bermuda menuju ekonomi on-chain berakar dari keterlibatan pemerintah selama bertahun-tahun dengan aset kripto.

Pencapaian besar terjadi pada 2018 saat memperkenalkan kerangka kerja Digital Asset Business Act. Regulasi ini menghadirkan persyaratan lisensi untuk exchange, kustodian, penerbit, dan penyedia pembayaran yang beroperasi di Bermuda.

Tugas pengawasan diberikan pada Otoritas Moneter Bermuda, agar pengawasan sejalan dengan standar regulasi layanan keuangan yang berlaku. Regulasi lanjutan memperluas kerangka kerja untuk mengatur penerbitan aset kripto dan kewajiban pelaporan prudensial secara nasional.

Lembaga pemerintah juga berinteraksi langsungdenganpelaku industri melalui regulatory sandbox dan program percontohan. Pada periode ini, perusahaan aset kripto seperti Circle, Coinbase, dan Binance mendapatkan lisensi untuk beroperasi di yurisdiksi tersebut.

Inisiatif ekonomi on-chain ini menjadi kelanjutan kebijakan yang sudah berjalan, bukan perubahan mendadak. Ini menandakan tahap berikutnya dari upaya panjang pemerintah untuk mengintegrasikan aset kripto ke infrastruktur keuangan negara.

‘Kiamat’ Dolar AS Makin Nyata? Seteru Trump vs The Fed Bikin Yuan Cina Makin Perkasa

20 January 2026 at 08:33

Kepercayaan pada dolar AS kini berada di bawah tekanan seiring meningkatnya pengawasan terhadap Federal Reserve (The Fed). Tensi geopolitik turut memuncak, terpicu oleh sengketa yang berkaitan dengan minat Washington pada Greenland.

Di tengah situasi ini, Cina muncul sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak langsung. Melalui perluasan perdagangan serta sistem pembayaran berbasis yuan, Beijing berpotensi diuntungkan dari dorongan global untuk diversifikasi akibat ketidakpastian politik dan kebijakan.

Stabilitas Dolar Jadi Tanya di Tengah Gejolak The Fed

Langkah-langkah kebijakan dari Washington dalam beberapa pekan terakhir telah menyuntikkan ketidakpastian ke pasar global, dan dolar menjadi salah satu aset yang paling terdampak.

Kepercayaan pada mata uang utama dunia ini pun melemah di tengah berbagai perkembangan politik, terutama penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

You might be watching the beginning of the end for the dollar's dominance.

And if you're still holding dollar-denominated assets while this unfolds in real time…

Let me tell you something:

On Friday, the Department of Justice served Federal Reserve Chair Jerome Powell with… pic.twitter.com/2UGqcaZIAb

— George Noble (@gnoble79) January 13, 2026

Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga, meski data ekonomi dan juga Federal Open Market Committee tidak menunjukkan perlunya hal itu.

Faktanya, Trump bukanlah presiden AS pertama yang bersitegang dengan Federal Reserve terkait arah kebijakan. Namun, keterlibatan Departemen Kehakiman menandai eskalasi yang jarang terjadi dan tergolong luar biasa.

Tak ayal, situasi ini pun mengguncang kepercayaan investor. Pertanyaan ihwal independensi bank sentral pun mencuat, bersamaan dengan keraguan soal seberapa besar kepercayaan yang layak diberikan kepada dolar.

Langkah geopolitik dari Gedung Putih juga semakin memperdalam keresahan ini.

Persatuan AS-Uni Eropa Mulai Retak

Amerika Serikat dan Uni Eropa selama ini dikenal menampilkan front persatuan yang solid. Namun, kohesi tersebut mulai terkikis sejak awal masa kepresidenan Trump.

Ketegangan meningkat setelah perhatian presiden tertuju pada Greenland.

Usai para pemimpin Eropa menolak kemungkinan akuisisi wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark itu oleh AS, Trump merespons dengan mengancam tarif impor sebesar 10% untuk barang dari delapan negara Eropa.

Para pemimpin Eropa kemudian bergerak menuju langkah balasan. Para kepala negara dari 27 anggota Uni Eropa menurut jadwal akan bertemu dalam beberapa hari ke depan untuk membahas respons terkoordinasi terhadap ancaman Washington.

Sejauh ini, tidak ada pihak yang mengambil langkah untuk meredakan eskalasi. Ketika berbicara kepada wartawan di World Economic Forum di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa akan menjadi langkah yang “sangat tidak bijak” apabila blok Eropa mengambil tindakan balasan terhadap Amerika Serikat.

WATCH: Scott Bessent warned at Davos that “it would be very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to purchase Greenland. pic.twitter.com/NZ8cLFnRwA

— BeInCrypto (@beincrypto) January 19, 2026

Di saat yang sama, eskalasi risiko geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta pertanyaan mengenai kredibilitas institusi membayangi peran dolar dalam perekonomian global. Namun, kondisi ini juga membuka peluang bagi negara-negara pesaing yang berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan kelemahan yang mulai muncul tersebut.

Cina Manfaatkan Perpecahan Barat

Cina telah lama mempersiapkan fondasi bagi sistem keuangan alternatif.

Seiring waktu, negara ini memperluas penyelesaian perdagangan berbasis yuan, mempromosikan infrastruktur pembayaran lintas negara miliknya sendiri, serta mendorong penggunaan mata uangnya secara lebih luas dalam transaksi internasional.

Inisiatif-inisiatif ini dirancang dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap kebijakan dan sanksi AS, terlepas dari dinamika geopolitik saat ini.

Kini, langkah-langkah tersebut memiliki bobot yang lebih besar seiring meningkatnya keraguan atas stabilitas institusional Amerika Serikat. Bagi Beijing, lingkungan saat ini menghadirkan celah strategis yang lebih dibentuk oleh ketidakpastian kepemimpinan AS ketimbang oleh tindakannya sendiri.

Cina tidak perlu menggantikan dolar untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran ini. Daya tariknya terletak pada opsionalitas, bukan dominasi, dengan menawarkan jalur tambahan bagi mitra dagang dalam penyelesaian transaksi dan pembiayaan.

Tensi antara Washington dan Uni Eropa semakin memperkuat peluang tersebut. Blok Barat yang kurang solid melemahkan persepsi tatanan persatuan yang selama ini menopang peran global dolar.

Bagi negara-negara yang waspada terhadap gangguan perdagangan, infrastruktur keuangan Cina yang terus berkembang dapat menjadi alternatif yang layak.

Dalam menguji kepemimpinannya sendiri, Washington berpotensi justru menciptakan ruang bagi Beijing untuk secara senyap memperluas pengaruhnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang tekanan pada The Fed serta keretakan Barat yang buka celah bagi Yuan Cina ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌