Normal view

‘Kiamat’ Dolar AS Makin Nyata? Seteru Trump vs The Fed Bikin Yuan Cina Makin Perkasa

20 January 2026 at 08:33

Kepercayaan pada dolar AS kini berada di bawah tekanan seiring meningkatnya pengawasan terhadap Federal Reserve (The Fed). Tensi geopolitik turut memuncak, terpicu oleh sengketa yang berkaitan dengan minat Washington pada Greenland.

Di tengah situasi ini, Cina muncul sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak langsung. Melalui perluasan perdagangan serta sistem pembayaran berbasis yuan, Beijing berpotensi diuntungkan dari dorongan global untuk diversifikasi akibat ketidakpastian politik dan kebijakan.

Stabilitas Dolar Jadi Tanya di Tengah Gejolak The Fed

Langkah-langkah kebijakan dari Washington dalam beberapa pekan terakhir telah menyuntikkan ketidakpastian ke pasar global, dan dolar menjadi salah satu aset yang paling terdampak.

Kepercayaan pada mata uang utama dunia ini pun melemah di tengah berbagai perkembangan politik, terutama penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

You might be watching the beginning of the end for the dollar's dominance.

And if you're still holding dollar-denominated assets while this unfolds in real time…

Let me tell you something:

On Friday, the Department of Justice served Federal Reserve Chair Jerome Powell with… pic.twitter.com/2UGqcaZIAb

— George Noble (@gnoble79) January 13, 2026

Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga, meski data ekonomi dan juga Federal Open Market Committee tidak menunjukkan perlunya hal itu.

Faktanya, Trump bukanlah presiden AS pertama yang bersitegang dengan Federal Reserve terkait arah kebijakan. Namun, keterlibatan Departemen Kehakiman menandai eskalasi yang jarang terjadi dan tergolong luar biasa.

Tak ayal, situasi ini pun mengguncang kepercayaan investor. Pertanyaan ihwal independensi bank sentral pun mencuat, bersamaan dengan keraguan soal seberapa besar kepercayaan yang layak diberikan kepada dolar.

Langkah geopolitik dari Gedung Putih juga semakin memperdalam keresahan ini.

Persatuan AS-Uni Eropa Mulai Retak

Amerika Serikat dan Uni Eropa selama ini dikenal menampilkan front persatuan yang solid. Namun, kohesi tersebut mulai terkikis sejak awal masa kepresidenan Trump.

Ketegangan meningkat setelah perhatian presiden tertuju pada Greenland.

Usai para pemimpin Eropa menolak kemungkinan akuisisi wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark itu oleh AS, Trump merespons dengan mengancam tarif impor sebesar 10% untuk barang dari delapan negara Eropa.

Para pemimpin Eropa kemudian bergerak menuju langkah balasan. Para kepala negara dari 27 anggota Uni Eropa menurut jadwal akan bertemu dalam beberapa hari ke depan untuk membahas respons terkoordinasi terhadap ancaman Washington.

Sejauh ini, tidak ada pihak yang mengambil langkah untuk meredakan eskalasi. Ketika berbicara kepada wartawan di World Economic Forum di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa akan menjadi langkah yang “sangat tidak bijak” apabila blok Eropa mengambil tindakan balasan terhadap Amerika Serikat.

WATCH: Scott Bessent warned at Davos that “it would be very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to purchase Greenland. pic.twitter.com/NZ8cLFnRwA

— BeInCrypto (@beincrypto) January 19, 2026

Di saat yang sama, eskalasi risiko geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta pertanyaan mengenai kredibilitas institusi membayangi peran dolar dalam perekonomian global. Namun, kondisi ini juga membuka peluang bagi negara-negara pesaing yang berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan kelemahan yang mulai muncul tersebut.

Cina Manfaatkan Perpecahan Barat

Cina telah lama mempersiapkan fondasi bagi sistem keuangan alternatif.

Seiring waktu, negara ini memperluas penyelesaian perdagangan berbasis yuan, mempromosikan infrastruktur pembayaran lintas negara miliknya sendiri, serta mendorong penggunaan mata uangnya secara lebih luas dalam transaksi internasional.

Inisiatif-inisiatif ini dirancang dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap kebijakan dan sanksi AS, terlepas dari dinamika geopolitik saat ini.

Kini, langkah-langkah tersebut memiliki bobot yang lebih besar seiring meningkatnya keraguan atas stabilitas institusional Amerika Serikat. Bagi Beijing, lingkungan saat ini menghadirkan celah strategis yang lebih dibentuk oleh ketidakpastian kepemimpinan AS ketimbang oleh tindakannya sendiri.

Cina tidak perlu menggantikan dolar untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran ini. Daya tariknya terletak pada opsionalitas, bukan dominasi, dengan menawarkan jalur tambahan bagi mitra dagang dalam penyelesaian transaksi dan pembiayaan.

Tensi antara Washington dan Uni Eropa semakin memperkuat peluang tersebut. Blok Barat yang kurang solid melemahkan persepsi tatanan persatuan yang selama ini menopang peran global dolar.

Bagi negara-negara yang waspada terhadap gangguan perdagangan, infrastruktur keuangan Cina yang terus berkembang dapat menjadi alternatif yang layak.

Dalam menguji kepemimpinannya sendiri, Washington berpotensi justru menciptakan ruang bagi Beijing untuk secara senyap memperluas pengaruhnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang tekanan pada The Fed serta keretakan Barat yang buka celah bagi Yuan Cina ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Trader Memecoin Ubah US$85 ke US$ 150.000 Berkat Koin Cina

By:Bey
14 January 2026 at 13:08

Dunia aset kripto kembali di hebohkan oleh kisah sukses fenomenal yang melibatkan keberuntungan luar biasa dan ketepatan waktu. Seorang trader memecoin anonim di laporkan berhasil mencetak keuntungan fantastis hingga lebih dari 1.700 kali lipat hanya dalam waktu 11 hari.

Dengan modal awal yang sangat minim, investor ini membuktikan bahwa ekosistem koin “micin” masih menjadi ladang keuntungan bagi mereka yang berani mengambil risiko tinggi.

Modal Kecil, Hasil Raksasa

Berdasarkan data on-chain dari Lookonchain, trader dengan alamat dompet 0xf380 ini awalnya hanya mengeluarkan 0,1 BNB atau sekitar US$85 (sekitar Rp1,3 juta) untuk membeli token bernama “我踏马来了” (I’m So Rich). Token ini merupakan salah satu memecoin asal Tiongkok yang baru saja di luncurkan di jaringan BNB Chain.

Performa Harga Memecoin

Saat pembelian di lakukan, token tersebut hampir tidak memiliki riwayat transaksi dan kapitalisasi pasarnya sangat kecil. Namun, berkat narasi viral di komunitas kripto Tiongkok dan spekulasi yang masif, harga token tersebut meroket tajam dalam waktu singkat.

Strategi “Take Profit” Yang Cerdas

Hanya dalam 11 hari sejak pembelian, nilai aset trader tersebut membengkak menjadi hampir US$146.600 atau sekitar Rp2,3 miliar. Alih-alih memegang seluruh asetnya (HODL), sang trader melakukan langkah pengamanan modal. Ia menjual 1,53 juta token dan mengantongi keuntungan tunai sebesar 34,88 BNB (setara US$31.500).

Hingga saat ini, dompet tersebut diketahui masih menyimpan sisa 4,72 juta token yang bernilai sekitar US$115.000. Total keuntungan gabungan antara saldo yang sudah di jual dan sisa aset mencapai angka yang mencengangkan bagi ukuran modal “uang jajan”.

Peringatan Risiko Bagi Investor

Meskipun kisah trader memecoin ini menginspirasi banyak orang, para analis mengingatkan bahwa kasus seperti ini adalah pengecualian, bukan aturan umum. Lonjakan harga memecoin sering kali dipicu oleh manipulasi pasar atau tren sesaat yang cepat hilang. Sebagian besar investor justru sering kehilangan modal mereka karena volatilitas yang ekstrem atau risiko rug pull.

Keberhasilan trader ini menunjukkan bahwa di tengah gejolak pasar 2026, peluang besar tetap ada, namun manajemen risiko tetap menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam euforia yang merugikan.

Bagaimana pendapat Anda tentang trader memecoin yang mendadak jadi miliarder di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌