Normal view

Drama Minyak AS-Venezuela Picu ‘Demam’ USOR, Meme Coin Ini Melejit 150%

21 January 2026 at 03:00

Sebuah token Solana yang relatif tidak dikenal bernama “US Oil” (USOR) melonjak lebih dari 150% dalam 24 jam pada Senin (19/1), sempat mendorong kapitalisasi pasarnya melampaui US$40 juta. Lonjakan ini terjadi ketika trader bereaksi terhadap kabar terbaru mengenai langkah Amerika Serikat menjual aset minyak Venezuela yang disita.

Token ini menjadi tren di CoinGecko, meskipun analis on-chain dan trader memperingatkan bahwa reli ini menunjukkan tanda klasik spekulasi pump.

Geopolitik Berubah Menjadi Narasi Meme yang Bisa Trader Perdagangkan

Menariknya, reli USOR datang bertepatan dengan meningkatnya perhatian geopolitik atas sektor minyak. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Washington mulai menjual blok minyak Venezuela yang sebelumnya disita.

President Trump said the US has taken about 50 million barrels of oil out of Venezuela and sold some of it on the open market.

🟠 LIVE updates: https://t.co/ZlCX9IGcsz pic.twitter.com/6PVPVQQJvS

— Al Jazeera English (@AJEnglish) January 20, 2026

Latar makro tersebut rupanya merembes ke pasar kripto. Trader dengan cepat menempelkan narasi politik ke USOR, meski tidak ada keterkaitan terverifikasi antara token ini dengan cadangan minyak pemerintah AS.

Pada puncak reli, USOR bertengger di atas US$0,04, dengan volume harian mendekati US$20 juta.

USOR Naik 150% pada 20 Januari | Sumber: CoinGecko

Pergerakan harga menunjukkan pola naik yang hampir vertikal, struktur yang oleh beberapa trader dianggap tidak normal.

Pasar USOR terpusat di ekosistem Solana, terutama melalui platform decentralized seperti Meteora. Platform charting menampilkan peringatan “chart mencurigakan” saat volume serta harga melonjak tajam.

Website proyek ini mengeklaim USOR sebagai “indeks cadangan on-chain” yang melakukan tokenisasi cadangan minyak AS, serta menggambarkan diri sebagai token yang didukung minyak, sejalan dengan kepentingan AS, dan dikelola secara transparan kepada publik.

Klaim Tokenisasi Cadangan Minyak AS yang Tidak Terverifikasi dari Proyek Ini

Kendati begitu, situsnya sama sekali tidak menyediakan bukti kepemilikan, struktur hukum, maupun keterkaitan dengan infrastruktur cadangan minyak resmi AS.

Selain itu, terdapat spekulasi bahwa token ini bisa saja menjadi aksi para insider, karena peluncurannya berlangsung di platform yang sama dengan meme coin TRUMP, yakni Meteora.

Grafik Viral, Bukti Tipis, dan Tanda Bahaya yang Menguat

Sementara itu, reaksi di crypto Twitter sangat terbelah tajam.

Sejumlah trader menilai narasi USOR sengaja direkayasa untuk menunggangi berita dunia nyata, dengan indikasi promosi terkoordinasi, wallet yang saling terhubung, serta minimnya akumulasi organik.

Ada pula yang mengingatkan bahwa branding token ini sangat mirip dengan perkembangan geopolitik sebagai upaya untuk melakukan rug pull.

retail is getting baited again by memecoins

got a text from a friend asking about Trump making 9-5 workers rich and a pump happening on Jan 31-Feb 1st

all tiktoks and roads lead to $USOR, which I'll give it to them is fucking genius

"onchain exposure to oil reserves from… pic.twitter.com/E9vFqakr8M

— tommy (@thatdegenvc) January 20, 2026

Salah satu postingan yang banyak dibagikan menggambarkan USOR sebagai “paparan on-chain terhadap cadangan minyak Venezuela”, yaitu klaim yang belum mendapat konfirmasi dari otoritas AS maupun lembaga energi mana pun.

Banyak analis membantah dengan menilai bahwa waktu kemunculan, branding, serta struktur grafiknya sangat mirip dengan meme coin bertema politik yang sebelumnya sempat melejit gara-gara headline lalu langsung ambruk.

⚠️ RUG PULL WARNING

U.S Oil – $USOR looks to be a bundled scam. The developer of this project has clustered most of the supply in the top 100 wallets which are under their control.

GMGN labels dozens of sniper wallets in this project. The Bubblemaps looks atrocious here too.… pic.twitter.com/PQrKD0uoFG

— Crypto Rug Muncher (@CryptoRugMunch) January 13, 2026

Data on-chain yang dibagikan oleh tracker independen menunjukkan pasokan token terpusat di klaster wallet tertentu.

Visual bubble map yang beredar di X mengindikasikan bahwa banyak holder terbesar saling terhubung. Walhasil, itu menimbulkan kekhawatiran adanya kontrol terpusat dan juga risiko likuiditas keluar bagi pembeli yang masuk terlambat.

Secara keseluruhan, USOR menjadi contoh lain betapa cepatnya berita ekonomi makro dan politik dapat mengalir ke spekulasi aset kripto.

Di saat AS tengah menavigasi strategi baru serta rumit terhadap minyak Venezuela, sebagian pelaku pasar aset kripto nampak ingin segera memonetisasi narasi ini—sering kali tanpa bukti.

Apakah USOR hanya sekadar meme coin sesaat atau jadi sesuatu yang lebih tahan lama masih belum jelas. Yang pasti, para trader kembali berlomba-lomba memperdagangkan cerita ini, walaupun peringatan semakin keras bahwa narasi tersebut bisa jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena token USOR yang memanfaatkan isu minyak Venezuela di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Trump Siapkan ‘Senjata’ Tarif 1 Februari, Bitcoin & Ethereum Kompak Longsor

21 January 2026 at 02:35

Pasar global kembali memasuki mode risk-off pada Selasa (20/1) setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menegaskan kembali kesiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menggunakan tarif sebagai senjata geopolitik utama. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi berbasis perang dagang, tepat ketika pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Bitcoin tergelincir ke bawah US$90.000, sementara Ethereum melorot ke bawah US$3.000. Sebab, investor meninjau ulang risiko makro menyusul komentar Bessent di World Economic Forum (WEF) Davos.

Koreksi pasar kripto usai pernyataan tarif Trump terhadap Uni Eropa | Sumber: CoinGecko

Tarif Sebagai Alat Penekan, Bukan Pilihan Terakhir

Dalam pidatonya di Davos, Bessent menekankan bahwa tarif tetap menjadi elemen sentral dalam strategi kebijakan luar negeri AS. Ia menggambarkan tarif bukan sebagai langkah sementara, melainkan sebagai instrumen yang efektif untuk menekan mitra internasional.

“Duduklah, tarik napas dalam-dalam, dan jangan melakukan pembalasan. Presiden akan berada di sini besok dan ia akan menyampaikan pesannya,” ucap Bessent, menanggapi kritik Eropa terkait ancaman tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland.

Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa Gedung Putih telah mengantisipasi perlawanan dari negara-negara sekutu dan siap meningkatkan eskalasi bila diperlukan. Pasar menafsirkan ini sebagai konfirmasi bahwa risiko gesekan dagang, khususnya antara AS dan Uni Eropa, kembali meningkat.

Bessent juga mengungkapkan garis waktu yang konkret. Ia menyebut Presiden Trump dapat memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari, apabila Denmark dan negara-negara sekutu menolak bekerja sama terkait Greenland.

At Davos today, U.S. Treasury Secretary Scott Bessent warned it would be “very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to take Greenland.

He added that European leaders should take President Trump at his word, arguing the U.S. needs Greenland for strategic leverage… pic.twitter.com/3SwvUadzMl

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Risiko Inflasi Kembali Masuk Narasi Makro

Di luar isu geopolitik, Bessent membela tarif sebagai kebijakan yang efektif secara ekonomi dan menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan merugikan perekonomian domestik AS.

“Sangat kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi utama seorang presiden,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa tarif telah menghasilkan “ratusan juta dolar” bagi negara.

Namun, pandangan tersebut nyatanya bertolak belakang dengan riset terbaru yang menunjukkan bahwa konsumen AS menanggung sebagian besar beban tarif.

Data terbaru dari ekonom Eropa dan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa tarif berfungsi layaknya pajak konsumsi terselubung, yang secara bertahap menekan likuiditas rumah tangga.

Dinamika ini krusial bagi pasar kripto. Pasalnya, berkurangnya daya beli serta meningkatnya tekanan harga secara langsung melemahkan aliran modal spekulatif, terutama ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

What is President Trump’s Greenland ambition really about? 🇬🇱🇺🇸 Is it a true national security priority for the US, or a behind-the-scenes push from tech billionaires? @c_grigera reports. pic.twitter.com/KdDapTIpBM

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Volatilitas Suku Bunga Kembali Menghantui Pasar

Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar obligasi pasca-komentarnya, dengan menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil lebih disebabkan oleh gejolak di Jepang, bukan kebijakan AS.

“Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka,” katanya, seraya menilai sulit untuk mengisolasi faktor spesifik AS.

Kendati demikian, pelaku pasar lebih menyoroti gambaran besar: ancaman tarif baru, eskalasi geopolitik, dan meningkatnya volatilitas suku bunga—kombinasi yang secara historis memberikan tekanan signifikan pada pasar kripto.

Kegagalan Bitcoin mempertahankan level US$90.000 dan koreksi Ethereum ke bawah US$3.000 mencerminkan evaluasi ulang risiko tersebut. Altcoin tercatat mengalami koreksi yang lebih curam, sejalan dengan aksi pelepasan leverage dan pengurangan eksposur risiko.

BESSENT: Markets are going down because Japan's bond market just suffered a six-standard-deviation move in ten-year bonds over the past two days.

This has nothing to do with Greenland; it's all about the Japanese bond blowout. pic.twitter.com/LWEjTeEHSB

— Bitcoin News (@BitcoinNewsCom) January 20, 2026

Pola Lama Kembali Terulang di Pasar Kripto

Aksi jual ini mencerminkan pola yang sudah familier, di mana pengumuman tarif menguras likuiditas tanpa langsung memicu kontraksi ekonomi yang luas. Tarif menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar kripto bergerak sideways setelah guncangan likuidasi pada Oktober lalu, meskipun minat institusional terus tumbuh secara perlahan.

Forum Davos kembali menempatkan risiko tersebut di garis depan.

Bitcoin holders realizing losses, for a 30-day period since, late December for the first time since October 2023. pic.twitter.com/OGsPYm8714

— Julio Moreno (@jjcmoreno) January 20, 2026

Walaupun Bessent menekankan kekuatan ekonomi AS dan pertumbuhan sektor swasta yang makin pesat, pasar lebih menanggapi arah kebijakan daripada optimisme.

Penyajian tarif sebagai alat tawar-menawar, bukan cadangan, memperjelas ketidakpastian yang berlangsung—dan aset kripto menjadi salah satu yang paling cepat merespons penyesuaian tersebut.

Untuk saat ini, pesan dari Davos jelas: risiko inflasi akibat perang dagang kembali mengancam, dan pasar kripto pun sedang menyesuaikan diri.

Bagaimana pendapat Anda tentang ancaman tarif baru Amerika Serikat yang mengguncang harga Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Emas Kalahkan Bitcoin, Minyak Anjlok Tapi Investor Borong Kripto

20 January 2026 at 18:43

Harga emas melonjak, minyak anjlok, dan Bitcoin stagnan di tahun 2025. Di saat yang sama, banyak perusahaan diam-diam membeli aset kripto senilai puluhan miliar US$. Pergerakan ini bersama-sama memperlihatkan bagaimana tarif, likuiditas, dan perilaku institusi membentuk ulang pasar menjelang 2026.

Data dari CoinGecko menunjukkan tahun yang penuh dengan kontras tajam. Emas naik 62,6%, minyak turun 21,5%, dan Bitcoin berakhir turun 6,4%. Meski begitu, Digital Asset Treasury Companies (DAT) menggelontorkan hampir US$50 miliar ke dalam Bitcoin dan Ethereum, sehingga menguasai lebih dari 5% total pasokan.

Performa Harga Bitcoin Vs Aset Utama di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Emas Menguat saat Tarif Meningkatkan Ketidakpastian

Kinerja emas yang unggul sejalan dengan situasi yang penuh tarif. Hambatan dagang meningkatkan ketidakpastian, melemahkan kepercayaan pada stabilitas mata uang jangka panjang, dan mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Emas langsung mendapat keuntungan dari situasi ini.

Berbeda dengan aset pertumbuhan, emas tidak butuh likuiditas yang terus meningkat untuk reli. Emas merespons risiko kebijakan dan tekanan geopolitik. Karena tarif meningkat dan gesekan perdagangan global terus naik, emas menjadi pilihan lindung nilai utama.

Minyak Menyerap Kejutan Pertumbuhan Saat Bitcoin Tertahan

Minyak justru menunjukkan cerita sebaliknya. Tarif memperlambat perdagangan, menekan aktivitas manufaktur, serta mengurangi volume pengiriman barang. Itu secara langsung menekan permintaan energi.

Harga minyak mentah turun 21,5% di tahun 2025 karena pasokan tetap melimpah dan produksi non-OPEC naik. Dalam situasi penuh tarif, minyak bergerak seperti proksi pertumbuhan—dan laju pertumbuhan pun menurun.

Capaian -6,4% Bitcoin pada tahun ini mencerminkan tarik-menarik. Tarif menyebabkan ketidakpastian yang seharusnya menguntungkan aset lindung nilai, tapi juga menguras likuiditas bebas. Di saat yang sama, inflasi di AS tetap moderat namun cenderung bertahan, sehingga kondisi keuangan tetap ketat.

Hasilnya adalah konsolidasi panjang setelah guncangan likuidasi pada bulan Oktober. Bitcoin tidak anjlok seperti minyak dan juga tidak reli seperti emas. Bitcoin menunggu tekanan likuiditas mereda.

Grafik Harga Bitcoin 1 Tahun | Sumber: CoinGecko

Tekanan Fiat Masih Terkendali untuk Saat Ini

Walau tarif berperan sebagai “pajak domestik yang lambat”, inflasi tetap terjaga. Biaya naiknya tarif diambil secara bertahap oleh importir dan peritel, sehingga kenaikan harga ke konsumen tertunda. Itulah sebabnya stres terhadap mata uang fiat tidak begitu terlihat di data utama, sekalipun daya beli publik diam-diam menyusut.

“Slow burn” ini membatasi selera risiko tanpa memicu kepanikan—itulah salah satu alasan kenapa kripto bergerak sideways, bukan mengalami penurunan drastis.

Pembeli Treasury Terus Akumulasi Selama Reset

Ketika harga masih tertahan, DAT justru membeli besar-besaran. Mereka membelanjakan US$49,7 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar setengahnya dilakukan di paruh kedua tahun. Kepemilikan mereka naik menjadi US$134 miliar pada akhir tahun, meningkat 137% dibanding tahun sebelumnya.

Perilaku ini menandakan keyakinan jangka panjang. Pembeli treasury menerima volatilitas demi mengamankan pasokan. Akumulasi mereka selama periode penurunan membuat Bitcoin dan Ethereum makin terkonsentrasi di pemegang kuat, serta mengurangi jumlah yang tersedia di pasar.

Pembelian Kripto oleh Digital Asset Treasury di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tahun pengetatan untuk pasar kripto. Tarif mendukung emas, menekan minyak, dan menunda siklus Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas. Sementara itu, institusi membangun posisi mereka secara diam-diam.

Saat tekanan tarif tidak lagi bertambah berat dan tekanan jual mulai reda, Bitcoin perlahan bergerak lagi. Pasar memasuki 2026 dengan pasokan yang lebih ketat, holder yang lebih kuat, dan peluang ekspansi yang lebih jelas ketika likuiditas membaik.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena divergensi aset antara emas dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌