Normal view

Empat Peristiwa Ekonomi Amerika Serikat Berdampak Besar Siap Pengaruhi Sentimen Bitcoin Pekan Ini

19 January 2026 at 10:00

Ketika para bull Bitcoin mempertahankan level psikologis US$90.000 meski volatilitas akibat geopolitik meningkat, para trader kini mencermati jadwal ekonomi Amerika Serikat yang padat dan bisa mempengaruhi sentimen kripto.

Dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang berubah-ubah, rilis data penting serta pidato tokoh-tokoh ternama mungkin bisa memicu pergerakan tajam pada BTC dan altcoin.

4 Peristiwa Ekonomi AS yang Perlu Diperhatikan Pekan Ini

Berikut rangkuman empat peristiwa utama yang masing-masing bisa berdampak signifikan pada pasar kripto minggu ini.

US Economic Events to Watch This Week
Peristiwa Ekonomi AS yang Wajib Dipantau Pekan Ini | Sumber: Trading Economics

Presiden Trump Berbicara

Pidato Presiden Donald Trump di World Economic Forum Davos pada 21 Januari pukul 13.30 ET diperkirakan akan menjadi pemicu pergerakan pasar. Ekspektasinya tinggi mengingat ia sering menyampaikan komentar tidak terduga soal perdagangan, tarif, dan geopolitik.

Trump dominates World Economic Forum in Davos. His speech will be closely watch by European leaders as Greenland situation escalates.

Reporting from Switzerland:pic.twitter.com/1qkUCw2Ewy

— Sidhant Sibal (@sidhant) January 19, 2026

Dengan delegasi AS terbesar yang pernah hadir di Davos, komentar Trump bisa saja membahas sengketa tarif yang masih berlangsung, kemungkinan aksi militer, ataupun kebijakan ekonomi yang bisa berdampak langsung pada kekuatan USD serta minat risiko global.

Pasar kripto sangat sensitif terhadap perubahan makroekonomi, sehingga volatilitas dapat meningkat bila Trump memberi sinyal kebijakan perdagangan yang hawkish, berpotensi memperkuat dolar dan menekan harga Bitcoin.

Di sisi lain, petunjuk yang mendukung pertumbuhan atau ramah terhadap kripto bisa saja memicu reli.

Initial Jobless Claims

Laporan Initial Jobless Claims pada Kamis, 22 Januari pukul 13.30 ET, memberi gambaran terbaru tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS. Data ini menunjukkan jumlah warga AS yang pertama kali mengajukan klaim asuransi pengangguran pekan lalu.

Ekonom yang disurvei Trading Economics memperkirakan jumlah initial jobless claims mencapai 203.000 untuk pekan yang berakhir 15 Januari, naik dari 198.000 pada pekan sebelumnya.

Rilis berdampak besar ini hadir di tengah data tenaga kerja yang masih solid, karena angka sebelumnya hanya 198.000, di bawah ekspektasi 215.000. Ini mengindikasikan ekonomi kuat dan mendukung penguatan dolar.

🚨 BREAKING 🚨

🇺🇸 U.S. INITIAL JOBLESS CLAIMS JUST DROPPED:

📌 ACTUAL: 198K
📌 FORECAST: 215K

LABOR MARKET STILL HOLDING STRONG 👀🔥 pic.twitter.com/Re0SSd9mkt

— Mr. Bitcoin Whale (@MrBitcoinWhalee) January 15, 2026

Bagi Bitcoin, klaim yang lebih rendah (menandakan PHK lebih sedikit) dapat memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish, mendorong yield naik dan memberi tekanan pada aset berisiko seperti kripto.

Tren terbaru menunjukkan klaim mendekati rekor terendah sepanjang masa jika disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja, tanpa tanda-tanda resesi.

“Faktanya, bila penyesuaian dilakukan terhadap jumlah tenaga kerja, jobless claims berada di *level terendah sepanjang masa* sejak 1965,” tulis perusahaan hipotek kripto, Milo.

Jika data klaim kembali melampaui ekspektasi, sentimen BTC bisa memburuk, memperpanjang koreksi dari level tertinggi US$90.000 karena muncul kekhawatiran pemangkasan suku bunga yang tertunda.

Sebaliknya, data yang lebih lemah bisa menghidupkan kembali harapan pelonggaran, menopang rebound kripto. Peristiwa ini juga senada dengan sorotan makro lain, karena analis menghubungkan kekuatan tenaga kerja dengan pergerakan kripto.

Karena korelasi antara Bitcoin dan saham sedang tinggi, penyimpangan dari ekspektasi bisa memicu volatilitas, apalagi setelah pidato Trump.

Core PCE Price Index

Selain itu, pada 22 Januari pukul 13.30 ET, data Core PCE Price Index m/m, yaitu ukuran inflasi favorit The Fed, diproyeksi sebesar 0,2%, naik dari 0,1% sebelumnya.

Rilis data bulan November ini, bersama data Oktober yang 0,2%, akan mempengaruhi peluang pemangkasan suku bunga tahun 2026. Inflasi yang lebih panas bisa saja menunda pelonggaran dan memperkuat USD.

Fed Rate Cut Probabilities
Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed | Sumber: CME FedWatch Tool

Bagi Bitcoin, inflasi yang terus bertahan di atas target dapat mengikis minat risiko, sebab yield lebih tinggi menarik dana keluar dari kripto.

Sementara itu, analisis web terbaru menyebutkan keterkaitan yang makin kuat antara PCE dan volatilitas kripto, dengan kenaikan moderat diprediksi, namun kejutan tetap bisa terjadi apalagi di tengah perdebatan tarif.

Jika PCE melampaui prediksi, BTC bisa mengalami tekanan turun, tapi data yang lebih rendah dari ekspektasi bisa mendorong sentimen positif.

Sentimen Konsumen

Menutup pekan peristiwa ekonomi AS yang berdampak pada kripto adalah laporan sentimen konsumen.

Pada 23 Januari pukul 15.00 ET, data Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan yang telah direvisi untuk Januari diproyeksi ada di angka 54,0, sama dengan angka awal 54,0, yang mana ini merupakan level terendah dalam 75 tahun terakhir.

Consumer Sentiment is the lowest its been in 75 years.

Main Street (the average Joe & Jane) are squeezed into despair.

Crypto is a retail phenomena (institutions only recently started entering Bitcoin and Ethereum).

So we need Main Street to be healthy for Crypto to rise pic.twitter.com/1JTcVsUhFX

— yourfriendSOMMI ❤️💛💚💙 (@yourfriendSOMMI) January 12, 2026

Indikator ini mencerminkan suasana ekonomi masyarakat umum, yang sangat penting untuk adopsi aset kripto yang didorong oleh ritel. Sentimen yang rendah menandakan konsumen sedang tertekan karena tingginya biaya dan ketidakpastian. Hal ini bisa mengurangi antusiasme terhadap Bitcoin karena institusi semakin mendominasi, sedangkan ritel sebenarnya yang mendorong reli pasar.

Jika revisi data ini melebihi ekspektasi, sentimen terhadap BTC bisa meningkat, menandakan adanya pemulihan. Sebaliknya, jika hasilnya mengecewakan, kehati-hatian bisa terus berlanjut dan menekan harga.

Bitcoin (BTC) Price Performance
Performa Harga Bitcoin (BTC) | Sumber: BeInCrypto

Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di harga US$92.663, turun hampir 3% dalam 24 jam terakhir.

Alien Sudah Dikonfirmasi? Mantan Orang Dalam Bank of England Kaitkan Bitcoin dengan Teori Kosmik

19 January 2026 at 09:25

Pertama, pasar membahas tentang komputasi kuantum, lalu salah satu strategi top Wall Street berhenti percaya pada Bitcoin. Sekarang, muncul argumen baru bahwa bahkan makhluk luar angkasa bisa memicu kekacauan di pasar keuangan, dan Bitcoin bisa saja ikut terjebak di tengahnya.

Helen McCaw, mantan analis senior di Bank of England (BoE), memperingatkan bahwa konfirmasi resmi tentang kehidupan luar angkasa dapat memicu kekacauan keuangan yang belum pernah terjadi di pasar modern.

Mantan Analis Bank of England Peringatkan Kekacauan Finansial jika Alien Dikonfirmasi

Menurut pandangannya, Bitcoin (BTC) bisa muncul sebagai tempat perlindungan terakhir, bahkan ketika institusi tradisional runtuh. McCaw, yang pernah bekerja di bidang stabilitas keuangan dan risiko di BoE hingga tahun 2012, menulis langsung ke Gubernur Andrew Bailey. Ia mendesak bank sentral untuk melakukan uji ketahanan pada skenario yang dianggap mustahil: kecerdasan di balik Unidentified Anomalous Phenomena (UAP) yang benar-benar terverifikasi.

Ia memprediksi akan terjadi “ontological shock”—yaitu goncangan psikologis yang dapat meruntuhkan kepercayaan kolektif terhadap realitas itu sendiri.

Menurut The Times, hal semacam itu bisa memicu volatilitas pasar ekstrem, rush ke bank, kegagalan sistem pembayaran, bahkan kerusuhan sipil, bahkan dalam hitungan jam.

Kekhawatiran tersebut berpangkal pada upaya deklasifikasi yang sedang berlangsung di AS, termasuk pengarahan dari Pentagon dan UAP Transparency Act.

Menariknya, beberapa pejabat senior Amerika, termasuk Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, Senator New York Kirsten Gillibrand, dan James Clapper, mantan direktur intelijen nasional, baru-baru ini menunjukkan keyakinan mereka pada kemungkinan adanya kehidupan non-manusia yang cerdas.

Have you watched or heard of the “documentary” called The age of disclosure? Lots of US officials give evidence, even Marco Rubio. It was released last year.

— Sara 🌻 🇬🇧🏴󠁧󠁢󠁳󠁣󠁴󠁿 (@amun_sarah) January 16, 2026

Bitcoin Siap Jadi Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian Besar

McCaw memperkirakan akan ada perburuan ke aset aman. Emas tradisional mungkin tidak lagi menarik jika teknologi alien menunjukkan masa depan penuh logam mulia hasil tambang luar angkasa.

Bitcoin, sebaliknya, bersifat terdesentralisasi dan bebas dari kontrol pemerintah, sehingga bisa jadi menarik bagi investor yang mulai mempertanyakan legitimasi mata uang fiat.

Prediction market sudah mulai menyoroti isu ini, di mana platform seperti Polymarket memberi peluang sekitar 14% akan adanya pengungkapan resmi sebelum tahun 2027.

Meski kemungkinannya tetap rendah di angka 14%, McCaw berpendapat pasar belum siap terhadap efek berantai dari peristiwa radikal seperti ini.

Will the United States confirm the existence of extraterrestrials before 2027
Apakah Amerika Serikat akan mengonfirmasi keberadaan makhluk luar angkasa sebelum tahun 2027? | Sumber: Polymarket

Komunitas kripto pun ramai membahas isu ini, dengan para pengguna X yang memperbesar peringatan McCaw sebagai alasan unik yang bullish untuk BTC.

❤️💛💚💙

🧃 Juicy News

⚪ BTC $95K
⚪ ETH $3300
🟢ETH-BTC = 0.035

🇬🇧 Bank Of England releases article saying to Prepare for Alien Disclosure from the US Government.
🇬🇧 They mention that Stocks could go Down or Up, and talk about Precious Metals & Bitcoin potentially having big… pic.twitter.com/zKh5KbdeZE

— yourfriendSOMMI ❤️💛💚💙 (@yourfriendSOMMI) January 18, 2026

Mempersiapkan Diri untuk Hal yang Tak Terpikirkan dan Peran yang Bisa Dimainkan oleh Bitcoin

Bank of England sendiri belum pernah mengeluarkan peringatan tentang alien—pendapat McCaw sepenuhnya bersifat pribadi. Tapi media telah membesar-besarkan pesan ini menjadi “Bank of England Bersiap Hadapi Kiamat Alien.”

Meski demikian, logika dasarnya tetap terasa masuk akal. Sistem keuangan sangat rentan terhadap guncangan kepercayaan, dan struktur desentralisasi Bitcoin bisa saja diuntungkan ketika kepercayaan terhadap aset yang didukung pemerintah menghilang.

White paper McCaw untuk Sol Foundation tahun 2024 menekankan bahwa pemerintah harus mengatasi “cognitive dissonance” terhadap UAP dan berkoordinasi secara global dengan sekutu seperti AS dan Jepang.

Singkatnya, ini bukan soal membuktikan alien benar-benar ada, melainkan soal bersiap jika hal yang tak terbayangkan memang terjadi.

McCaw tidak meramalkan ada pendaratan alien besok. Ia hanya mendorong sektor keuangan untuk bersiap menghadapi yang tak terpikirkan. Di dunia di mana realitas pun bisa dipertanyakan, kepastian terdesentralisasi milik Bitcoin bisa bersinar paling terang—saat segalanya terasa… asing.

Apakah Anda punya opini tentang bagaimana “alien bisa berdampak pada Bitcoin” atau topik lain? Tulis kepada kami atau ikut diskusi di channel Telegram BeInCrypto, atau di YouTube. Anda juga bisa menemukan kami di  LinkedIn dan (X)Twitter.

Trump Berulah! Bitcoin Turun, Emas ATH. Uni Eropa Siaga Satu?

19 January 2026 at 07:57

Bitcoin (BTC) dan emas bergerak ke arah berlawanan ketika ketegangan tarif meningkat antara Presiden AS Donald Trump dan Uni Eropa.

Sementara logam mulia ini reli ke rekor tertinggi baru di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat, aset kripto utama justru melemah. Pergerakan yang saling bertolak belakang ini mencerminkan pola serupa yang terjadi di bulan Oktober. Hal ini kembali memicu perdebatan tentang apa yang bisa terjadi selanjutnya bagi kedua aset tersebut.

Ketegangan Perdagangan AS–Uni Eropa Meningkat setelah Langkah Tarif Terbaru Trump

Pada 17 Januari 2026, Presiden Trump mengumumkan tarif sebesar 10% untuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, yang berlaku mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni dan tetap berlaku sampai Amerika Serikat mendapatkan kesepakatan untuk membeli Greenland.

Sementara itu, para perwakilan dari delapan negara yang terdampak tarif baru AS mengadakan pertemuan darurat pada Minggu. Dalam pernyataan bersama, Presiden Costa dan Presiden von der Leyen menyampaikan bahwa Uni Eropa “sepenuhnya mendukung” Denmark dan rakyat Greenland. Hal ini menandakan respons politik yang bersatu atas langkah Washington terbaru ini.

Selain itu, Financial Times melaporkan bahwa Uni Eropa tengah mempertimbangkan paket balasan yang lebih luas. Bisa saja mencakup tarif senilai hingga €93 miliar (US$107,71 miliar) atau melarang perusahaan-perusahaan AS memasuki pasar blok kawasan tersebut.

Guncangan Tarif Dorong Investor ke Emas saat Saham dan Bitcoin Turun

Pasar bereaksi cepat terhadap berita tarif tersebut, namun dengan cara bertolak belakang. Harga emas melonjak hingga US$4.690/oz pada awal perdagangan Asia hari ini, menandai level tertinggi sepanjang masa (ATH) baru.

Harga perak juga naik mencapai rekor baru di atas US$94/oz. Sebaliknya, pasar saham dibuka melemah.

BREAKING: Stock market futures officially open for the first time since President Trump announced 10% tariffs on 8 EU countries, demanding an acquisition of Greenland:

1. S&P 500: -0.7%
2. Nasdaq 100: -1%
3. Dow Jones: -0.5%
4. Gold: +1%
5. Silver: +3%

It’s going to be an…

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) January 18, 2026

Bitcoin juga bergerak turun bersama sejumlah aset berisiko lainnya. Data Pasar BeInCrypto menunjukkan bahwa BTC sempat turun di bawah US$95.000.

Pada waktu publikasi, aset ini diperdagangkan di US$92.574, turun 2,67% dalam 24 jam terakhir. Total kapitalisasi pasar aset kripto merosot hampir US$98 miliar dalam periode yang sama.

Penurunan harga ini memicu gelombang likuidasi di seluruh pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, total nilai likuidasi mencapai US$864,35 juta, dengan posisi long menyumbang lebih dari US$780 juta dari jumlah tersebut.

“Bitcoin turun hampir -US$4.000 karena posisi long dengan leverage senilai US$500 juta terlikuidasi hanya dalam 60 menit,” papar The Kobeissi Letter .

Kontras antara emas dan Bitcoin di tengah gejolak akibat tarif ini menyoroti perbedaan utama dalam cara pasar memandang kedua aset tersebut. Peran emas sebagai penyimpan nilai di masa ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik tetap tak tergoyahkan.

Bitcoin, yang sering disebut sebagai “emas digital,” masih diperdagangkan layaknya aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat, dengan harga yang terikat erat pada sentimen pasar secara umum ketimbang permintaan safe haven yang langsung melonjak.

Apa Selanjutnya untuk Bitcoin di Januari?

Analis Timothy Peterson membagikan analisisnya soal respons Bitcoin yang tertunda terhadap pengumuman Trump. Ia menuturkan bahwa meski Bitcoin diperdagangkan 24 jam, harganya tidak merespon selama kurang lebih 36 jam dan baru turun setelah perdagangan institusional dimulai di Asia.

“Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar berita intraday soal pergerakan harga biasanya cuma narasi tidak penting yang baru diceritakan setelah kejadian. Selain itu, banyak trader ritel tetap memasang leverage meski sudah ada peringatan lebih dari sehari penuh bahwa peristiwa ini akan terjadi (Ini adalah pengumuman tarif Trump ketiga, setiap kali Bitcoin babak belur.) Benar-benar tidak bisa berkata-kata,” jelasnya .

Selain itu, Crypto Rover mengingatkan bahwa minggu ini “bisa mengguncang seluruh pasar,” merujuk pada serangkaian kebijakan besar yang berpotensi membuat volatilitas tinggi di saham dan aset kripto.

“Tarif Uni Eropa mengancam arus perdagangan senilai hampir US$1,5 triliun,” ujar dia . “Jika Uni Eropa mulai membangun kesepakatan dagang dengan negara-negara yang juga dijatuhi sanksi AS, AS berisiko tersingkir dari jalur perdagangan utama. Hal itu akan: Buruk untuk sentimen risiko global, Buruk untuk saham AS, Buruk untuk dollar.”

Rover juga menyebutkan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS yang akan datang menambah tingkat ketidakpastian lain, karena keputusan apapun terkait tarif bisa saja mengguncang pasar. Ia menambahkan bahwa kedua skenario tersebut besar kemungkinan akan memberi tekanan pada saham dan aset kripto.

Di tengah situasi ini, para ahli masih berbeda pendapat mengenai potensi pergerakan Bitcoin. Mike McGlone, senior commodity strategist di Bloomberg Intelligence, memperkirakan bahwa rasio Bitcoin terhadap emas kemungkinan besar akan terus turun mendekati 10x, sehingga mempertegas kinerja emas yang lebih unggul secara berkelanjutan, bukan kembali naik mendekati 30x menguntungkan Bitcoin.

“Semua orang berharap Bitcoin mengikuti jejak emas dan reli ke level tertinggi baru. Tapi pasar sudah memberikan waktu terlalu lama bagi spekulan untuk membeli. Yang jauh lebih mungkin terjadi adalah kegagalan Bitcoin menyamai keuntungan emas justru akan melemahkan narasi Bitcoin sebagai emas digital, sehingga terjadi crash yang spektakuler,” papar ekonom Peter Schiff di postingannya.

Trader veteran Peter Brandt menuturkan bahwa aset berbasis US dollar bisa jadi tampil kurang baik daripada komoditas fisik. Ia juga mengakui masih ragu soal peran Bitcoin dalam pergeseran ini dan memprediksi bahwa altcoin akan kehilangan nilai secara signifikan.

“Emas akan kembali menjadi tempat penyimpanan kekayaan paling andal di dunia. Aset berbasis USD akan kehilangan nilai terhadap komoditas fisik — yang, omong-omong, bisa saja termasuk atau tidak termasuk Bitcoin. Altcoin akan jadi lebih tidak berharga dibanding USD,” komentar trader tersebut.

Walau begitu, optimisme masih tersisa di beberapa sudut. Sejumlah analis tetap memperkirakan Bitcoin akan menyusul performa emas.

“Tahun lalu, emas menambah kapitalisasi pasar sekitar US$10 triliun. Saya tidak akan terkejut jika sebagian keuntungan itu dipindahkan atau didiversifikasi ke bitcoin,” ucap seorang pengamat pasar di postingannya.

Global M2 expansion is already being priced in by gold and silver

Both metals moved first as liquidity accelerated, while Bitcoin is still lagging below the trend

Historically, $BTC catches up late in the cycle, not early

We are going higher pic.twitter.com/CJOaVl8bIi

— BLADE (@BladeDefi) January 18, 2026

Dengan eskalasi ketegangan perdagangan dan selera risiko yang terus memburuk, pasar akan segera mengungkap apakah Bitcoin dapat menyusul atau emas tetap menjadi standar safe haven yang tak tergantikan.

Bagaimana pendapat Anda tentang manuver terbaru Trump yang bikin market guncang ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Sinyal Bear Bitcoin Mulai Muncul Januari Ini, Apa Saja?

19 January 2026 at 07:38

Januari sejauh ini berlangsung volatil untuk Bitcoin (BTC), karena aset ini menghadapi tekanan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Uni Eropa setelah pengumuman tarif terbaru dari Presiden Trump.

Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar ini turun hampir 2,5% ke US$92.663. Sementara itu, para analis menunjukkan sinyal pasar bearish yang mulai muncul di tahun 2026.

1. Bearish Kumo Twist Muncul di Chart Bitcoin

Pada postingan terbaru di X (sebelumnya Twitter), analis Titan of Crypto menyoroti adanya “Kumo twist” yang tampak di chart mingguan Bitcoin. Sebagai informasi, Kumo twist adalah formasi yang terjadi ketika dua rentang utama dari Ichimoku Cloud (Senkou Span A dan Senkou Span B) berpotongan sehingga menyebabkan arah cloud masa depan berubah.

Bergantung pada arah perpotongan tersebut, formasi ini bisa menjadi sinyal potensi transisi dari kondisi bullish ke bearish atau sebaliknya, dari bearish ke bullish. Pada kasus Bitcoin saat ini, twist yang muncul bersifat bearish.

Bitcoin Ichimoku Cloud bearish shift
Ichimoku Cloud Mingguan Bitcoin | Sumber: X/Titan of Crypto

Merujuk pada siklus pasar sebelumnya, Titan of Crypto menjelaskan bahwa pergeseran Kumo mingguan serupa biasanya di ikuti fase koreksi yang signifikan di mana Bitcoin mencatat penurunan sekitar 67% hingga 70%.

“Secara historis, ketika Kumo mingguan berubah jadi bearish, BTC memasuki fase bear market. Itu bukan berarti harga langsung turun. Artinya, struktur dan dinamika tren pasar secara umum telah berubah. Ini hanya sebagai konteks, bukan prediksi. Berdasarkan tiga siklus terakhir,” terang postingan tersebut.

2. Bitcoin Masih Sulit Menembus Batas Penting

Selain itu, saat ini Bitcoin di perdagangkan di bawah moving average 365 hari yang berada di kisaran US$101.000. Batas ini sangat penting pada bear market tahun 2022, karena sempat menghentikan reli pemulihan.

Bitcoin 365-day moving average analysis
Penolakan Harga Bitcoin di MA 365 Hari | Sumber: X/Coin Bureau

Analisis dari Coin Bureau menerangkan bahwa posisi Bitcoin yang kini berada di bawah MA ini menandakan pasar masih dalam kondisi bearish.

Analisis teknikal lain menggunakan Gaussian Channel pada chart lima hari juga memperkuat kekhawatiran tersebut. Analis kripto bernama Raven mengamati bahwa Bitcoin telah kehilangan level median dari channel ini.

Postingan tersebut menambahkan bahwa kegagalan menahan dan melakukan retest pada level ini secara historis menandai awal fase lebih agresif dari bear market.

“Saya yakin kita memang menuju zona US$103k untuk retest, atau mungkin sedikit lebih tinggi demi mencari likuiditas. Jika kita berhasil membentuk dan mempertahankan support di atas median, saya akan memberi kabar. Sampai saat itu, semuanya sebaiknya dianggap hanya dead cat bounce,” lanjut analis tersebut.

Bitcoin Gaussian Channel analysis
Gagalnya Retest Median Gaussian Channel Bitcoin | Sumber: X/Crypto Raven

3. Pola Drawdown Historis Menunjukkan Masih Ada Penurunan

Sejarah harga Bitcoin menunjukkan pola berulang penurunan tajam setelah puncak siklus. Setelah mencapai puncak tahun 2013, harga Bitcoin turun sekitar 75,9%, lalu turun 81,2% setelah puncak tahun 2017, dan sekitar 74% penurunan setelah puncak tahun 2021.

Namun pada siklus saat ini, koreksinya jauh lebih ringan, dengan kerugian justru hanya sedikit di atas 30%, atau terbilang kecil jika di bandingkan sejarah. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan masih pada tahap awal dan ada peluang penurunan lebih lanjut seiring perkembangan siklusnya.

Bitcoin's Historical Price Drop Patterns
Pola Penurunan Harga Bitcoin Secara Historis | Sumber: CryptoQuant

4. Indikator Siklus Pasar Tunjukkan Fase Bear Bitcoin Masih Berkembang

Walaupun penurunan harga historis biasanya menyoroti perilaku harga setelah pasar mencapai puncaknya, indikator siklus yang lebih luas membantu menilai kondisi saat ini cocok dengan periode yang mana.

Indikator Siklus Pasar Bull-Bear, yang melacak fase-fase besar dalam pasar, menunjukkan kondisi bearish telah dimulai sejak Oktober 2025. tapi, indikator ini belum bergerak ke dalam fase bear yang ekstrem.

“Dengan metrik ini, BTC sudah berada di wilayah bear market, dan di setiap siklus sebelumnya kita selalu masuk ke zona biru tua, yang menandakan level harga masih bisa turun lagi. Tapi silakan saja, kalau mau prediksi harga naik! Pada akhirnya, seseorang pasti jadi exit liquidity,” ujar seorang analis melalui X.

Bitcoin Bull-Bear Market Cycle Indicator.
Indikator Siklus Pasar Bull-Bear Bitcoin | Sumber: CryptoQuant

5. Exchange Inflow Menunjukkan Distribusi oleh Holder Besar

Terakhir, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan aliran masuk Bitcoin ke exchange. Aliran ini didominasi oleh holder menengah hingga besar, terutama mereka yang memiliki 10–100 BTC dan 100–1.000 BTC.

Peningkatan transfer Bitcoin ke exchange biasanya menandakan aktivitas distribusi yang semakin banyak dibandingkan dengan akumulasi jangka panjang, karena partisipan pasar memindahkan asetnya untuk bersiap-siap menjual.

“Aktivitas mereka biasanya lebih relevan secara informasi dibandingkan aliran ritel yang terfragmentasi, karena mencerminkan keputusan strategis, bukan cuma ‘noise’. Dari sudut pandang on-chain makro, kombinasi meningkatnya aliran masuk ke exchange dan distribusi dari kelompok holder besar mengindikasikan pasar sedang masuk ke fase yang lebih rentan,” terang seorang analis di CryptoQuant.

Secara keseluruhan, Bitcoin memperlihatkan beberapa sinyal bear market di berbagai indikator teknikal, historis, dan on-chain. Meski begitu, apakah pergerakannya akan mengikuti pola penurunan historis atau justru mengejutkan pasar dengan kekuatan baru, masih belum pasti.

Bagaimana pendapat Anda tentang 5 sinyal penurunan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Jalur Breakout 13% Bitcoin Tetap Aman di Tengah Lonjakan Profit Booking 150%, Grafik Menjelaskan Caranya

19 January 2026 at 05:25

Harga Bitcoin mengalami koreksi, tapi struktur besarnya belum rusak. Setelah puncak pertama tahun 2026 pada 14 Januari, BTC terkoreksi hampir 6% dan sempat menyentuh area US$92.000. Sejak saat itu, harga BTC mulai stabil, meski masih menunjukkan penurunan sekitar 2,6% dalam 24 jam terakhir.

Sekilas, pergerakan ini terlihat lemah. Tapi kalau dilihat lebih luas, baik struktur pada grafik maupun data on-chain justru menunjukkan koreksi ini hanyalah aksi ambil untung terkontrol dan bukan awal penurunan lebih dalam. Sekarang, pertanyaan utamanya cukup sederhana: apakah ini hanya jeda, atau Bitcoin sedang bersiap untuk bergerak naik lagi?

Struktur Cup-And-Handle Menjaga Bias Bullish Tetap Hidup

Pada grafik harian, Bitcoin masih bergerak di dalam pola handle dari cup-and-handle. Ini penting karena handle-nya terbentuk di atas neckline yang terus naik. Handle yang naik menandakan pembeli mulai masuk di harga yang lebih tinggi, sehingga peluang breakout sukses akan semakin besar jika resistance berhasil dilewati.

Bullish BTC Structure
Struktur Bullish BTC | Sumber: TradingView

Ingin insight token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Kripto dari Editor Harsh Notariya di sini.

Sinyal pendukung lain datang dari sisi momentum. Antara 4 November sampai 19 Januari, harga Bitcoin membentuk lower low, tapi Relative Strength Index (RSI) justru membentuk higher low. RSI mengukur momentum dengan membandingkan kenaikan dengan penurunan harga terkini. Saat harga turun tapi RSI naik, itu menandakan tekanan jual mulai melemah.

Tim analitik dari ekosistem aset kripto all-in-one B2BINPAY dalam komentarnya eksklusif kepada BeInCrypto menyebutkan bahwa pergerakan harga ini mengisyaratkan kesabaran, bukan kelelahan pasar.

“Apa yang kami lihat pada Bitcoin adalah pergerakannya secara perlahan mulai keluar dari fase datar panjang yang telah dimulai sejak pertengahan November 2025. Tidak ada lonjakan aktivitas tajam di grafiknya, dan biasanya hal ini berarti pasar sedang jeda sebelum mencoba kembali menguji level US$100.000,” papar mereka.

RSI Hints At Price Rise
RSI Mengisyaratkan Kenaikan Harga | Sumber: TradingView

Bullish divergence ini menunjukkan tren turun selama tiga bulan terakhir, di mana Bitcoin masih turun sekitar 15%, nampaknya mulai kehilangan tenaga. Divergensi ini akan terkonfirmasi jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$92.000 dan mulai menguat kembali. Selama harga masih berada di dalam handle, struktur bullish-nya tetap utuh.

Jadi jika grafiknya masih terlihat bagus, kenapa Bitcoin justru turun awalnya?

Profit Booking oleh Holder Jangka Panjang Menjelaskan Penurunan

Jawabannya ada di data on-chain. Koreksi terbaru ini sangat selaras dengan aksi ambil untung oleh holder jangka panjang, bukan aksi jual panik.

NUPL holder jangka panjang (Net Unrealized Profit/Loss) turun dari sekitar 0,60 ke 0,58 saat terjadi koreksi. NUPL mengukur seberapa besar profit yang belum direalisasi oleh para holder. Penurunan NUPL berarti profit sedang direalisasikan. Ini menjadi salah satu koreksi NUPL paling tajam dalam timeframe bulanan, mirip penurunan yang terjadi pada 5–10 Januari lalu.

Long-Term Holders Book Profits
Holder Jangka Panjang Ambil Untung | Sumber: Glassnode

Hal ini juga dikonfirmasi oleh perubahan posisi bersih holder jangka panjang. Metode ini melacak apakah holder yang memegang koin lebih dari 365 hari sedang akumulasi atau menjual. Pada 14 Januari, holder jangka panjang melepas sekitar 25.738 BTC. Dan pada 18 Januari, angkanya naik jadi sekitar 62.656 BTC. Artinya, tekanan jual bertambah sekitar 150% hanya dalam beberapa hari.

LTH Selling Pressure
Tekanan Jual Holder Jangka Panjang | Sumber: Glassnode

Walaupun tekanan aksi ambil untung makin tinggi, para analis menyoroti bahwa perilaku permintaan tidak menunjukkan pelemahan yang berarti. Menurut tim analitik B2BINPAY, posisi pasar secara luas masih menunjukkan akumulasi yang stabil di balik layar.

“Pembeli tetap ada, tapi mereka tidak terburu-buru. Di saat yang sama, holder besar terus menambah kepemilikan. Pada 13 Januari, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot mencatat arus masuk hampir US$900 juta, jadi hari terkuat sejak 7 Oktober. Pada hari itu juga, harga Bitcoin naik hampir 8%,” terang mereka.

Aksi jual tersebut menjelaskan kenapa reli Bitcoin belakangan ini sulit berlanjut. Saat holder berkeyakinan melepas kepemilikan, kenaikan harga bakal tertahan meski grafik masih sehat.

Tapi, tidak semuanya bersifat negatif.

Saat holder jangka panjang sedang menjual, ada kelompok lain secara diam-diam melakukan hal sebaliknya.

Whale Masih Akumulasi Saat Level Harga Kunci Bitcoin Jadi Sorotan

Entitas yang memegang lebih dari 1.000 BTC terus melakukan akumulasi. Sejak 12 Januari, jumlah entitas seperti ini naik dari sekitar 1.273 menjadi kurang lebih 1.290. Angka ini memang kenaikan kecil, tapi yang penting, peningkatan itu terjadi sebelum harga turun dan terus berlanjut selama penurunan.

Ini menunjukkan para whale tidak menjual saat harga melemah. Akumulasi mereka membantu menyerap sebagian pasokan, meskipun holder jangka panjang mengambil keuntungan.

Whale Balances Grew
Saldo Whale Bertambah | Sumber: Glassnode

Dari sisi harga, saat ini Bitcoin ada di titik penentuan. Agar kembali kuat, harga perlu kembali menembus US$95.200, yang akan menjadi sinyal breakout dari pola handle. Di atas level tersebut, US$98.800 jadi level utama berikutnya. Jika tembus, jalur menuju proyeksi pola di sekitar US$111.800 pun terbuka, naik sekitar 13% dari neckline dinamis cup.

Tim B2BINPAY juga menyoroti level BTC serupa saat berbincang dengan BeInCrypto:

“Secara keseluruhan, struktur masih mendukung kelanjutan tren. Selama Bitcoin di atas area US$94–95 ribu, pergerakan ke US$100–105 ribu sangat realistis dalam beberapa minggu ke depan, bahkan bisa mencapai kisaran US$120–140 ribu pada 2026 jika permintaan tetap terjaga. Jika gagal, kemungkinan besar akan terjadi koreksi ke US$88–90 ribu, di mana likuiditas sudah terkonsentrasi,” terang mereka.

Di sisi bawah, struktur akan melemah jika Bitcoin menutup di bawah US$92.000. Jika turun signifikan di bawah US$89.200, pola tersebut sepenuhnya tidak lagi valid.

Bitcoin Price Analysis
Analisis Harga Bitcoin | Sumber: TradingView

Penurunan harga baru-baru ini didorong oleh aksi ambil untung, bukan rasa takut. Struktur masih bullish. Whale juga masih menambah. Tapi agar breakout benar-benar kuat, holder jangka panjang perlu berhenti menjual dan mulai membeli lagi. Sampai itu terjadi, harapan breakout 13% Bitcoin tetap terbuka, walau belum pasti terwujud.

Rekor Opsi Ritel & Guncangan Geopolitik Ancam Pasar Pekan Ini

19 January 2026 at 02:35

Pasar kripto tengah bersiap menghadapi pekan yang luar biasa turbulen, seiring aktivitas opsi ritel yang mencetak rekor bertabrakan dengan risiko geopolitik yang kian memanas.

Meski harga Bitcoin bertahan di sekitar US$95.100 pada Minggu, memberi kesan pasar tanpa volatilitas ketika kripto pelopor tersebut berkonsolidasi di level yang tipis, perhatian tetap tertuju pada konvergensi ketegangan dagang AS–UE, putusan Mahkamah Agung yang membayangi, serta lonjakan spekulasi ritel.

Pekan Berisiko Tinggi di Depan Mata: Kripto, Saham, dan Logam dalam Bidikan

Trader ritel saat ini memberikan pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap dinamika pasar, dengan laporan yang menunjukan bahwa partisipasi ritel di pasar opsi kini mencapai 21,7% dari total volume, naik dari 10,7% pada tahun 2022.

Volume call harian dari ritel melonjak menjadi 8,2 juta kontrak, sedangkan put mencapai 5,4 juta, jumlah ini merupakan rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Retail Options Trading Share
Pangsa Perdagangan Opsi Ritel | Sumber: Kobeissi Letter di X

Pionir Bitcoin Max Keiser menyebut kegilaan ini sebagai “casino gulag” pasar, mengacu pada pasar yang didominasi spekulasi, leverage, serta taruhan jangka pendek dengan pelaku yang terjebak dalam lingkungan perjudian berisiko tinggi.

Casino Gulag 🫠 https://t.co/WJzhzkCIRT

— Max Keiser (@maxkeiser) January 18, 2026

Investor individu kini semakin membentuk tren harga dan memperbesar penggunaan leverage di BTC, SPY, serta aset likuid lainnya.

“Investor ritel belum pernah berspekulasi sebanyak ini sebelumnya,” tulis seorang pengamat pasar global. “Volume call saja melebihi 8 juta kontrak per hari, sedangkan put naik sampai 5 juta. Secara keseluruhan, volume opsi ritel lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Selera risiko tetap sangat tinggi.”

Menambah tekanan pasar, tensi dagang AS–UE kian meningkat. Selama akhir pekan, Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 10% atas 8 negara Eropa. Ini adalah langkah yang dirancang untuk menekan dukungan terhadap pembelian Greenland oleh AS.

Tarif ini bisa meningkat sampai 25% pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan, sehingga mengancam arus perdagangan senilai US$1,5 triliun. Presiden Prancis Emmanuel Macron membalas dengan menyerukan Uni Eropa untuk menggunakan instrumen anti-koersi”. Yakni, langkah yang dapat memblokir perbankan AS dari pengadaan di Uni Eropa dan menargetkan raksasa teknologi Amerika.

INTEL: Macron calls for EU to deploy unprecedented “anti-coercion instrument” against US after Trump’s Greenland tariff threat. It could block US banks from EU procurement and target American tech giants. pic.twitter.com/GSI7Gk1H75

— Solid Intel 📡 (@solidintel_x) January 18, 2026

Langkah balasan yang belum pernah terjadi ini berpotensi membentuk ulang leverage perdagangan global.

Tensi Geopolitik, Ketidakpastian Hukum, dan Spekulasi Ritel Ancam Stabilitas Pasar

Risiko geopolitik juga melebar lebih dari sekadar tarif. Analis memperingatkan bahwa kesepakatan dagang Uni Eropa-Mercosur dan pengaruh AS terhadap negara-negara Mercosur, termasuk Argentina dan Brasil, dapat semakin memperburuk sentimen risiko global.

Analis Endgame Macro menggambarkan situasi ini sebagai uji kekuatan pengaruh, menjelaskan bahwa Washington bisa diam-diam memberi tekanan pada blok dagang Amerika Selatan lewat saluran keuangan dan perdagangan, sehingga menciptakan risiko tidak seimbang meski tanpa konflik terbuka.

If the EU really moves to block or freeze a U.S. trade in response to Trump’s tariff threats, this stops being about tariffs or Greenland and turns into something much bigger. It becomes a test of leverage.

The EU-Mercosur agreement that was signed yesterday, after decades of… https://t.co/nir8xI8MGj

— EndGame Macro (@onechancefreedm) January 18, 2026

Di sisi lain, pasar sedang menunggu putusan Mahkamah Agung tentang legalitas tarif Trump, yang menambah ketidakpastian.

Jika Mahkamah memutuskan menentang pemerintah, hal ini bisa menggerus kepercayaan terhadap kebijakan perdagangan dan memicu aksi jual mendadak di pasar.

Sebaliknya, putusan yang berpihak pada tarif akan memaksa investor memasukkan kemungkinan gangguan perdagangan berkepanjangan dan pertumbuhan yang melambat. Hasil seperti ini akan menekan baik pasar saham maupun aset kripto.

Logam mulia bahkan sudah memperlihatkan tanda-tanda tekanan. Pelaku pasar terus memantau perak fisik dan logam mulia lain, yang turut terdampak volatilitas berlipat karena guncangan tarif serta isu kelangkaan di exchange seperti LBMA (London Bullion Market Association).

Bitcoin (BTC), Gold (XAU), and Silver (XAG) Price Performances
Performa Harga Bitcoin (BTC), Emas (XAU), dan Perak (XAG) | Sumber: TradingView

Secara historis, guncangan tarif seperti ini telah memicu arus dana tajam dari London ke Comex (Commodity Exchange di New York), memperbesar backwardation, dan menyebabkan gangguan jangka pendek.

Di tengah situasi ini, level Bitcoin yang mendekati US$95.000 semakin rapuh. Spekulasi ritel, ketidakpastian hukum, dan gesekan geopolitik saat ini bertemu serta menciptakan skenario berisiko tinggi untuk trader dan institusi.

Kombinasi rekor aktivitas ritel dan guncangan ekonomi makro bisa membuat minggu ini menjadi salah satu periode paling volatil dalam sejarah pasar belakangan ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang sejumlah faktor yang berpotensi guncang pasar pekan ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Kode Keras, MicroStrategy Siapkan US$1,25 Miliar untuk Borong Bitcoin Lagi

20 January 2026 at 06:58

Strategy Inc. (sebelumnya MicroStrategy) mengisyaratkan bahwa mereka tengah bersiap mengeksekusi akuisisi Bitcoin yang akan melampaui pembelian besar senilai US$1,25 miliar yang baru saja rampung pekan lalu.

Pada 18 Januari, Michael Saylor mengunggah sebuah grafik di platform media sosial X dengan keterangan “Bigger Orange”. Para analis pasar secara luas menafsirkan frasa tersebut sebagai sinyal niat untuk melampaui 13.627 Bitcoin yang baru saja perusahaan borong.

Strategy Beri Sinyal Beli Bitcoin Tertinggi di Tengah Drop Premium Saham

Akuisisi sebelumnya itu sendiri telah memperkuat posisi Strategy sebagai holder Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Namun, aksi beli yang melampaui jumlah tersebut akan mengerek total kepemilikan Bitcoin Strategy melewati ambang 700.000 BTC.

₿igger Orange. pic.twitter.com/HI47hMCnui

— Michael Saylor (@saylor) January 18, 2026

Catatan ini akan menempatkan treasury perusahaan pada level yang langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) IBIT milik BlackRock dan estimasi 1,2 juta BTC yang dimiliki oleh Satoshi Nakamoto, pendiri jaringan yang menggunakan nama samaran.

Pencapaian ini akan menempatkan kas perusahaan di level yang sangat langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) BlackRock IBIT serta estimasi kepemilikan sekitar 1,2 juta BTC milik Satoshi Nakamoto, pendiri pseudonim jaringan Bitcoin.

Langkah agresif ini terjadi di saat yang cukup rentan bagi perusahaan perangkat lunak enterprise.

Saham Strategy anjlok lebih dari 50% tahun lalu, dan premi market-to-net-asset-value (mNAV) yang penting juga turun drastis menjadi sekitar 1,0x.

Penurunan premi ini mengancam model arbitrase yang selama ini Saylor gunakan untuk mendanai akuisisi.

Ketika modal institusi semakin banyak masuk ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot—yang memberikan eksposur tanpa kerumitan atau premi dari saham Strategy—perusahaan pun kehilangan leverage mudah yang dulunya bisa mereka nikmati.

Guna mempertahankan laju akumulasi di tengah situasi ini, Strategy beralih ke taktik pendanaan yang lebih agresif.

Hanya dalam setahun terakhir, perusahaan sudah mengumpulkan dana US$25 miliar melalui penjualan saham biasa serta penerbitan jenis saham preferen baru, termasuk STRC.

Strategy Bitcoin Fundraise in 2025.
Penggalangan Dana Strategy untuk Bitcoin di 2025 | Sumber: Strategy

Sementara itu, Wall Street menyikapi dilusi ini dengan hati-hati. TD Cowen baru-baru ini memangkas target harga saham menjadi US$440 dari US$500, namun tetap mempertahankan rating Beli.

Perusahaan itu menyebut turunnya “Bitcoin Yield” untuk tahun fiskal 2026, sebuah metrik khusus yang mengukur eksposur Bitcoin per saham. Para analis menyatakan bahwa ketergantungan perusahaan untuk menerbitkan lebih banyak ekuitas guna pembelian, secara aktif mendilusi yield bagi para pemegang saham.

Walaupun ada rasa skeptis, beberapa pengamat pasar berpendapat Strategy telah membangun benteng struktural yang sulit keuangan tradisional jangkau.

“Mereka menemukan cara mengakumulasi Bitcoin dalam skala besar, membungkusnya ke dalam produk, dan menawarkan eksposur dengan cara yang tidak bisa ditandingi bank tradisional,” ujar analis Bitcoin Shagun Makin.

Makin berpendapat bahwa tekanan regulasi dan pasar yang makin besar terhadap perusahaan mencerminkan efektivitas modelnya, alih-alih kelemahannya.

“Bank tidak bisa meniru model ini tanpa merusak neraca mereka sendiri. Jadi, satu-satunya pilihan nyata adalah memperlambatnya, mendiskreditkannya, atau mengaturnya,” tambahnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang isyarat akuisisi Bitcoin oleh Strategy di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Jaringan Burger Amerika Lakukan Pembelian Bitcoin Senilai US$10 Juta

17 January 2026 at 20:45

Steak ‘n Shake telah membeli Bitcoin senilai US$10.000.000, menandakan peningkatan besar dalam strategi mereka untuk mengubah pendapatan restoran cepat saji menjadi treasury aset kripto perusahaan.

Aksi akuisisi ini menandai fase terbaru dari inisiatif “Bitcoin-to-Burger” milik jaringan yang sudah berusia 90 tahun, yaitu langkah keuangan yang langsung mengkonversi arus kas operasional menjadi aset digital.

Steak ‘n Shake Klaim Strategi Bitcoin Dorong Pertumbuhan ‘Terbaik di Industri’ pada 2025

Program ini, yang dimulai pada Mei 2025, mengintegrasikan akumulasi aset digital ke dalam operasi harian perusahaan.

Dengan menerima pembayaran Bitcoin dan memasarkan langsung ke komunitas kripto, jaringan restoran ini bertujuan untuk memodernisasi struktur modalnya.

Eight months ago today, Steak n Shake launched its burger-to-Bitcoin transformation when we started accepting bitcoin payments. Our same-store sales have risen dramatically ever since.

All Bitcoin sales go into our Strategic Bitcoin Reserve.

Today we increased our Bitcoin…

— Steak 'n Shake (@SteaknShake) January 17, 2026

Manajemen perusahaan menggambarkan model ini sebagai “sistem yang dapat menopang dirinya sendiri.” Dalam kerangka ini, peningkatan kualitas makanan mendorong peningkatan pendapatan, yang kemudian dialirkan ke cadangan Bitcoin perusahaan.

Berdasarkan data internal, strategi ini telah memberikan hasil nyata. Tahun lalu, perusahaan mencatat pertumbuhan dua digit pada penjualan toko yang sama, didorong oleh adopsi BTC, yang membuatnya unggul jauh dibandingkan industri serupa.

“Pada tahun 2025, Steak n Shake mencapai pertumbuhan penjualan toko sejenis dua digit — terbaik di industri! Menjadi perusahaan Bitcoin memberikan dorongan besar pada bisnis kami, sehingga kami bisa lebih meningkatkan kualitas makanan,” demikian dinyatakan oleh mereka.

Yang penting, jaringan restoran ini sedang memantapkan diri sebagai entitas “hanya Bitcoin”.

Walaupun survei perusahaan baru-baru ini menunjukkan 53% responden memilih menambah Ethereum (ETH) sebagai metode pembayaran, pihak manajemen dengan tegas menolak usulan tersebut.

Keputusan ini memperkuat filosofi maksimalis yang bertujuan menjaga loyalitas dari segmen pasar yang spesifik dan memiliki orientasi ideologis.

Selain itu, integrasi BTC ini juga meluas ke karyawan perusahaan.

Pada Oktober lalu, Steak ‘n Shake mengupdate infrastruktur penggajian mereka agar 10.000 karyawannya dapat menerima persentase gaji mereka dalam Bitcoin. Langkah ini menunjukkan pandangan perusahaan bahwa aset ini sebagai penyimpan nilai yang layak sebanding dengan mata uang fiat.

Berdiri sejak tahun 1934, Steak ‘n Shake mengoperasikan ratusan lokasi di seluruh Amerika Serikat dan juga di mancanegara.

Langkah terbarunya mengukuhkan status mereka sebagai pengecualian di sektor restoran konvensional, dengan mencoba memodernisasi merek warisan dengan mengaitkan kesehatan finansial jangka panjang perusahaan ke performa aset kripto terbesar di dunia ini.

Top Strategist Wall Street Tak Lagi Percayai Bitcoin, Kenapa? | Berita Kripto AS

19 January 2026 at 03:05

Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing, rangkuman esensial perkembangan kripto terpenting untuk hari ini.

Silakan ambil secangkir kopi, karena hari ini kita tidak membahas grafik harga, arus masuk exchange-traded fund (ETF), maupun narasi halving berikutnya. Alih-alih, kita akan membahas sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman: apakah Bitcoin, seperti yang ada saat ini, memang dibangun untuk bertahan lama.

Berita Kripto Hari Ini: Mengapa Salah Satu “Bitcoin Bull” Terbesar Wall Street Memilih Pergi

Perubahan yang senyap namun berdampak besar tengah terjadi dalam cara institusi memandang kripto. Christopher Wood, global head of equity strategy di Jefferies dan salah satu strategist pasar paling diperhatikan di Wall Street, telah menghapus Bitcoin sepenuhnya dari model portofolio andalannya.

Petinggi Jefferies tersebut tidak menyebut volatilitas harga sebagai alasan, melainkan keraguan akan daya tahan aset ini dalam jangka panjang.

Wood memangkas alokasi Bitcoin sebesar 10% dari portofolio model Jefferies dan mengalihkannya secara merata ke emas fisik serta saham penambang emas.

Keputusan ini dipaparkan dalam edisi terbaru newsletter Greed & Fear, di mana Wood menyoroti ancaman jangka panjang yang diakibatkan oleh kemajuan komputasi kuantum terhadap keamanan Bitcoin dan anggapan Bitcoin sebagai penyimpan nilai.

“Ancaman komputasi kuantum yang dahulu terasa jauh sekarang membuat salah satu analis pasar yang paling diperhatikan memutuskan untuk meninggalkan Bitcoin,” lapor Bloomberg mengutip pernyataan Wood di newsletter tersebut, serta menyoroti bagaimana sebuah risiko teoretis kini mulai masuk ke dalam konstruksi portofolio utama.

Wood adalah salah satu pendukung institusional awal untuk Bitcoin, yang pertama kali menambahkan aset ini ke dalam portofolio modelnya pada Desember 2020 di tengah stimulus era pandemi dan kekhawatiran atas penurunan nilai mata uang.

Kemudian, ia menambah eksposur menjadi 10% di 2021. Menariknya, sejak penambahan awal tersebut, Bitcoin telah naik sekitar 325%, sedangkan emas hanya naik 145%. Meski begitu, Wood menyatakan performa bukan lagi hal yang utama.

Menurutnya, komputasi kuantum telah melemahkan argumen bahwa Bitcoin bisa berfungsi sebagai penyimpan nilai andal untuk jangka panjang, khususnya bagi investor pensiun dan jangka waktu panjang lainnya.

“Ada kekhawatiran yang semakin besar di komunitas Bitcoin bahwa komputasi kuantum mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi, bukan satu dekade atau lebih,” tulis Wood.

Memang, keamanan Bitcoin saat ini bertumpu pada sistem kriptografi yang membuat komputer masa kini nyaris mustahil mendapatkan private key dari public key.

Akan tetapi, jika komputer kuantum yang relevan untuk kriptografi (CRQC) hadir, hal ini dapat mematahkan asimetri tersebut. Ini bisa membuat para penyerang mampu menemukan kembali private key hanya dalam hitungan jam atau hari.

Risiko Kuantum, Tata Kelola, dan Pemikiran Ulang Institusional tentang Bitcoin

Perdebatan ini membuka jurang yang semakin lebar antara pengelola modal dan pengembang. Nic Carter, partner di Castle Island Ventures, menangkap ketegangan ini dalam sebuah postingan pada bulan Desember lalu.

The discrepancy between capital and developers on this issue is massive. Capital is concerned and looking for a solution. Devs are mainly in complete denial. Inability to even acknowledge quantum risk is already weighing on the price.

— nic carter (@nic_carter) December 18, 2025

Kendati demikian, isu utama terletak pada tata kelola. Solusi yang diusulkan—seperti membakar koin yang rentan terhadap kuantum atau memaksa migrasi ke kriptografi pasca-kuantum—mengundang pertanyaan pelik seputar hak kepemilikan dan perubahan aturan main.

The crypto community is debating the threat of quantum computers to the blockchain, specifically for Bitcoin.

I will explain to you what the threat is.

Modern blockchains rely on asymmetric cryptography.

The following principles apply:

▪️A private key is a secret number… pic.twitter.com/0DUQkSWfx4

— Cardano YOD₳ (@JaromirTesar) December 22, 2025

Jefferies menyoroti bahwa meski Bitcoin pernah mengalami fork sebelumnya, tindakan untuk menyita atau membatalkan koin bisa merusak nilai-nilai mendasar yang membuat jaringan ini dipercaya.

Selain itu, Jefferies juga menyoroti bahwa sebagian besar suplai Bitcoin bisa saja rentan jika skenario kuantum benar-benar terjadi. Termasuk di antaranya:

  • Aset dari era Satoshi yang disimpan di alamat Pay-to-Public-Key (P2PK)
  • Koin yang hilang, dan
  • Alamat yang digunakan ulang berkali-kali dalam banyak transaksi

Apabila dijumlahkan, potensi ini menyentuh jutaan BTC.

Analisis terbaru dari Coinbase juga menggemakan sejumlah kekhawatiran tersebut. Kepala Riset Investasi Coinbase David Duong mengatakan, komputasi kuantum membawa risiko jangka panjang, bukan hanya untuk keamanan private key, tetapi bisa memengaruhi model ekonomi serta keamanan Bitcoin.

Walau menekankan bahwa teknologi kuantum saat ini masih belum mampu membobol Bitcoin, Duong mengingatkan ada sekitar 6,5 juta BTC yang rentan akan serangan kuantum dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat migrasi ke kriptografi pasca-kuantum menjadi sangat penting, meskipun pelaksanaannya masih bertahun-tahun lagi.

Bitcoin At Risk of Quantum Attacks due to Vulnerable Addresses
Bitcoin Berisiko Terkena Serangan Quantum akibat Alamat yang Rentan | Sumber: David Duong di LinkedIn


Sementara itu, Wood mengatakan bahwa pertanyaan jangka panjang seputar komputasi kuantum justru menjadi hal positif untuk emas dalam jangka panjang. Pandangan ini didasarkan pada sejarah emas sebagai lindung nilai yang telah teruji dan bebas dari ketidakpastian teknologi maupun tata kelola.

Langkah ini menandai perubahan besar dalam pola pikir institusional. Pendiri dan CIO Cyber Capital, Justin Bons, menyatakan Bitcoin bisa saja runtuh kapan saja setelah tahun 2033. Meski begitu, Bons menjelaskan penyebabnya adalah subsidi miner yang terus menurun setelah halving dan biaya transaksi yang rendah.

BTC will collapse within 7 to 11 years from now!

First, the mining industry will fall, as the security budget shrinks

That is when the attacks begin; censorship & double-spends

Core will then have to increase inflation beyond 21M, splitting the chain & that will be the end! 🧵… pic.twitter.com/HqFmhW480L

— Justin Bons (@Justin_Bons) January 15, 2026

Menurut Justin Bons, 51% attack bisa menjadi menguntungkan dengan biaya harian di bawah US$3 juta, sehingga berpotensi memungkinkan terjadinya double-spend di exchange dengan nilai miliaran. Semua kekhawatiran ini berkaitan dengan keamanan Bitcoin.

Chart of the Day

Performa Harga Bitcoin dan Emas Sejak Alokasi Modal Awal Wood | Sumber: TradingView

Byte-Sized Alpha

Berikut rangkuman berita kripto AS menarik lainnya hari ini:

Ringkasan Pre-Market Saham Kripto

PerusahaanPenutupan per 15 JanuariGambaran Pre-Market
Strategy (MSTR)US$170,91US$172,74 (+1,07%)
Coinbase (COIN)US$239,28US$241,38 (+0,88%)
Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$31,99US$32,21 (+0,69%)
MARA Holdings (MARA)US$10,66US$10,74 (+0,75%)
Riot Platforms (RIOT)US$16,57US$16,76 (+1,15%)
Core Scientific (CORZ)US$18,08US$18,25 (+0,94%)
Lomba Pembukaan Pasar Crypto Equities: Google Finance

Bagaimana pendapat Anda tentang berita kripto AS teranyar ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Bitcoin Berpotensi Runtuh dalam 7–11 Tahun, Pendiri Cyber Capital Wanti-wanti

17 January 2026 at 03:50

Pendiri sekaligus Chief Investment Officer Cyber Capital, Justin Bons, memprediksi bahwa Bitcoin (BTC) berpotensi kolaps dalam kurun 7 hingga 11 tahun ke depan.

Ia menunjuk pada menurunnya security budget (anggaran keamanan), meningkatnya risiko 51% attack, serta apa yang ia sebut sebagai pilihan mustahil yang harus dihadapi jaringan Bitcoin. Menurut Bons, kerentanan fundamental ini dapat menggerus kepercayaan dan bahkan memicu perpecahan chain.

Model Keamanan Ekonomi Bitcoin Mulai Dipertanyakan

Selama bertahun-tahun, para pakar telah menyoroti berbagai risiko yang mengancam Bitcoin, terutama komputasi kuantum, yang berpotensi merusak standar kriptografi saat ini.

Tetapi, lewat sebuah unggahan yang detail, Bons menyampaikan kekhawatiran yang berbeda. Ia menilai ancaman jangka panjang Bitcoin ada pada model keamanan ekonominya.

“BTC akan runtuh dalam 7 sampai 11 tahun mendatang! Industri mining akan tumbang terlebih dahulu, seiring anggaran keamanan yang menyusut. Saat itulah serangan mulai terjadi; sensor & double-spend,” tulisnya.

Inti dari argumennya adalah penurunan anggaran keamanan Bitcoin. Setiap kali halving terjadi, reward miner terpotong setengah, sehingga insentif untuk mengamankan jaringan pun turut melemah.

Halving terbaru terjadi pada April 2024, dan akan terus berlangsung setiap empat tahun sekali. Menurut Bons, untuk mempertahankan tingkat keamanan saat ini, Bitcoin butuh kenaikan harga eksponensial yang berkelanjutan atau biaya transaksi yang permanen tinggi, dua hal yang ia anggap tidak realistis.

Bitcoin's Declining Security Budget
Anggaran Keamanan Bitcoin yang Menurun. Sumber: X/Justin Bons

Pendapatan Miner Susut, Risiko Serangan Bertambah

Menurut Bons, pendapatan miner, bukan sekadar hashrate, adalah tolok ukur paling penting untuk keamanan jaringan. Ia menyoroti bahwa seiring efisiensi perangkat keras yang meningkat, hashrate bisa naik walaupun biaya memproduksi hash turun, sehingga hashrate menjadi indikator yang menyesatkan tentang ketahanan terhadap serangan.

Menurutnya, pendapatan miner yang menurun langsung menurunkan biaya untuk menyerang jaringan. Ketika biaya menjalankan 51% attack lebih kecil daripada potensi keuntungan dari double-spending atau mengacaukan jaringan, serangan seperti itu jadi masuk akal secara ekonomi.

“Teori permainan kripto-ekonomi bergantung pada hukuman & imbalan, carrot & stick. Itulah alasan kenapa pendapatan miner menentukan biaya sebuah serangan. Untuk sisi imbalannya: Double-spending dengan 51% attack yang menyasar exchange, adalah vektor serangan yang sangat realistis karena keuntungan potensialnya sangat besar,” ulas unggahan itu.

Saat ini, biaya transaksi hanya menyumbang sebagian kecil dari pendapatan miner. Ketika subsidi blok mendekati nol dalam beberapa dekade mendatang, Bitcoin nyaris hanya bisa mengandalkan biaya transaksi untuk menjaga keamanan jaringan. Akan tetapi, ruang blok terbatas bikin jumlah transaksi dan total pendapatan biaya jadi terbatas.

Bons juga menyatakan kecil kemungkinan biaya tinggi bisa bertahan lama, sebab pengguna cenderung keluar dari jaringan setiap kali biaya membengkak, sehingga biaya tidak dapat secara konsisten menggantikan subsidi blok dalam jangka panjang.

Kemacetan, Dinamika Bank Run, dan Ancaman Death Spiral

Selain kekhawatiran soal anggaran keamanan, Bons juga memperingatkan potensi skenario “rush ke bank”. Menurut dia,

“Bahkan menurut estimasi paling konservatif, jika setiap pengguna BTC saat ini hanya melakukan satu transaksi, antrean akan panjang hingga 1,82 bulan!”

Ia memaparkan bahwa saat terjadi kepanikan, jaringan tidak akan mampu memproses penarikan dengan cukup cepat sehingga pengguna bisa terjebak karena kemacetan dan biaya yang melonjak. Kondisi ini mirip dengan bank run.

Bons juga menyoroti mekanisme penyesuaian tingkat kesulitan dua minggu sekali pada Bitcoin sebagai risiko yang bisa memperburuk. Jika harga turun tajam, miner yang tidak lagi untung bisa tutup usaha, sehingga produksi blok melambat sampai penyesuaian berikutnya.

“Karena kepanikan bikin harga jatuh, lalu makin banyak miner tutup, sehingga chain makin melambat, memicu kepanikan baru yang bikin harga makin terjun dan masih lebih banyak miner menutup operasinya, begitu seterusnya, tanpa henti…Itu disebut sebagai siklus ganas dalam teori permainan, juga dikenal sebagai negative feedback loop atau death spiral,” tutur Bons.

Ia menambahkan bahwa risiko kemacetan ini membuat self-custody massal jadi tidak aman saat periode stres, dan memperingatkan bahwa pengguna bisa saja tidak dapat keluar dari jaringan ketika lonjakan permintaan terjadi.

Dilema yang Tidak Terhindarkan untuk Bitcoin

Sebagai penutup, Bons menyimpulkan bahwa Bitcoin menghadapi dilema mendasar.

Satu opsi adalah meningkatkan total suplai di atas batas 21 juta BTC demi menjaga insentif miner dan keamanan jaringan. Namun, langkah ini akan merusak proposisi nilai utama Bitcoin dan hampir pasti memicu perpecahan chain.

Opsi lainnya, terang dia, adalah membiarkan model keamanan terus melemah, yang berarti eksposur terhadap serangan dan sensor akan semakin besar.

“Kemungkinan terbesar, dalam 7 sampai 11 tahun ke depan, kedua opsi yang saya paparkan & lebih banyak lagi bisa terjadi bersamaan,” tulis Bons.

Ia juga mengaitkan masalah ini dengan warisan perang ukuran blok, dan berpendapat bahwa kendala tata kelola dalam Bitcoin Core membuat perubahan protokol yang bermakna sulit terjadi secara politis sebelum krisis benar-benar memaksa. Saat momen itu terjadi, ia memperingatkan, bisa saja sudah terlambat.

Bagaimana pendapat Anda tentang risiko runtuhnya Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Aksi Borong BTC: Pembelian Bitcoin Besar-besaran US$6 Miliar

15 January 2026 at 16:59

Bitcoin melonjak tajam minggu ini, naik dari sekitar US$91.000 pada hari Senin menjadi sedikit di atas US$95.000 pada hari Rabu. Sementara itu, data on-chain menunjukkan aksi borong BTC dalam jumlah besar ke wallet exchange utama.

Pergerakan harga yang dramatis ini memicu banyak diskusi. Sebagian orang menduga bahwa pasar mungkin sedang mengalami dorongan beli secara terkoordinasi.

Arus Masuk BTC Sebesar US$6 Miliar Dorong Bitcoin Menuju US$100.000

Data dari perusahaan analitik on-chain Arkham menunjukkan bahwa wallet Binance saja menambah 32.752 BTC baik ke cold wallet maupun hot wallet. Coinbase mengalami peningkatan 26.486 BTC.

Exchange yang lebih kecil juga mencatat arus masuk besar, dengan Kraken dan Bitfinex masing-masing menambah 3.508 BTC dan 3.000 BTC. Secara total, pergerakan ini mewakili sekitar US$6 miliar daya beli gabungan, menurut Arkham.

Bitcoin Inflows into Exchanges Over the Last 24 Hours
Arus Masuk Bitcoin ke Exchange Selama 24 Jam Terakhir | Sumber: Arkham

Besarnya transfer ini memicu perdebatan soal apakah lonjakan harga baru-baru ini didorong oleh aktivitas pasar yang terkoordinasi. CEO Binance Changpeng Zhao menanggapi spekulasi tersebut. Ia menegaskan bahwa setoran BTC tersebut mencerminkan pembelian pengguna di wallet exchange, bukan pembelian internal oleh exchange itu sendiri.

users on those exchanges bought…

— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) January 14, 2026

Meski sudah ada penegasan ini, para analis menilai bahwa data tersebut menunjukkan adanya arus masuk yang kuat dari investor institusi dan investor dengan kekayaan besar.

Hal ini terjadi tidak lama setelah arus masuk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin mencapai level tertinggi seperti terakhir di bulan Oktober 2025, karena investasi ke instrumen keuangan tersebut mencapai US$753 juta pada hari Selasa, 13 Januari.

Bitcoin ETF Flows
Arus Masuk ETF Bitcoin | Sumber: SoSoValue

FBTC milik Fidelity mencatatkan arus masuk tertinggi pada hari Selasa, mencapai US$351 juta, dan menandai salah satu sinyal permintaan harian terkuat untuk eksposur institusi pada BTC di tahun ini.

Apakah US$100.000 Jadi Target Berikutnya ?

Dengan harga Silver menargetkan US$100, Bitcoin pun berlomba ke US$100.000 yang didorong oleh aktivitas beli terbaru dan sentimen bullish yang meluas di pasar aset kripto.

Kenaikan Bitcoin menuju US$100.000 terjadi saat investor mempertimbangkan faktor ekonomi makro, termasuk tren inflasi dan kebijakan likuiditas bank sentral, bersamaan dengan perkembangan ekosistem aset digital yang lebih luas.

Kenaikan tersebut memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian keuangan dan kekacauan geopolitik.

Data Arkham menunjukkan konsentrasi aktivitas di exchange besar, yang seringkali menjadi pintu masuk utama bagi pembelian institusi.

Arus masuk seperti ini secara historis biasanya terjadi sebelum reli harga yang signifikan. Ini mencerminkan permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas di pasar. Tapi, meski skala pembeliannya besar, pasar kripto tetap bergejolak dan pembalikan harga secara tiba-tiba selalu mungkin terjadi.

Bagaimana pendapat Anda tentang aksi borong Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

3 Mata Uang Kripto Incaran Institusi, Apa Saja?

By:Bey
15 January 2026 at 09:52

Tahun 2026 menjadi titik balik bagi industri kripto global. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa raksasa keuangan dunia tidak lagi melihat aset digital sebagai eksperimen spekulatif, melainkan sebagai komponen inti dalam portofolio mereka. Arus modal kini mengalir deras ke tiga aset utama.

Pergeseran ini menandai berakhirnya era spekulasi liar, berganti dengan strategi berbasis fundamental yang dipandu oleh para pemimpin pemikiran finansial dunia. Berikut adalah alasan mengapa ‘Smart Money’ kini berlabuh pada tiga pilar digital tersebut.

Standar Baru Aset Cadangan Korporasi

Bitcoin kini telah mengukuhkan posisinya sebagai “emas digital” yang wajib di miliki oleh institusi melalui instrumen ETF. Strategi ini di pertegas oleh Michael Saylor, Chairman MicroStrategy, yang melalui akun X miliknya Saylor menyatakan:

“Bitcoin bukan sekadar aset; ia adalah standar cadangan digital untuk peradaban modern. Di tahun 2026, setiap entitas yang tidak memiliki eksposur pada BTC berarti mereka sedang bertaruh melawan efisiensi matematika.”

Sejalan dengan Saylor, BlackRock kini memandang Bitcoin sebagai aset safe haven yang mampu bertahan di tengah fluktuasi ekonomi global.

Pusat Tokenisasi Aset Dunia Nyata (RWA)

Bagi institusi yang fokus pada infrastruktur keuangan, Ethereum tetap menjadi raja yang tak tergoyahkan. Raoul Pal, CEO Global Macro Investor Raoul GMI, menjelaskan bahwa Ethereum adalah pusat dari digitalisasi aset global.

ethereum

Ethereum adalah ‘Global Settlement Layer’. Semua jalan menuju digitalisasi aset dunia nyata (RWA) bermuara di sini. Institusi memilih ETH karena mereka membutuhkan keamanan yang sudah teruji, bukan sekadar janji kecepatan.

Mesin Utama Adopsi Massal dan Efisiensi

Solana muncul sebagai “kuda hitam” yang paling disukai untuk skalabilitas tinggi. Cathie Wood, CEO ARK Invest CathieDWood, secara terbuka memuji kemampuan teknis jaringan ini dalam menangani transaksi skala besar.

Jika Ethereum adalah Apple-nya blockchain, maka Solana adalah infrastruktur yang memungkinkan adopsi massal terjadi sekarang. Kecepatannya yang setara dengan internet tradisional adalah alasan mengapa kami terus menambah posisi pada SOL.

Bagi banyak manajer aset, Solana dipandang sebagai solusi praktis untuk pembayaran global dan integrasi dengan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

Dukungan eksplisit dari tokoh-tokoh besar ini menunjukkan bahwa pasar kripto 2026 bukan lagi tentang “koin mana yang akan naik,” melainkan “infrastruktur mana yang akan di gunakan oleh dunia.” Bitcoin sebagai emas digital, Ethereum sebagai pusat data keuangan, dan Solana sebagai mesin transaksi cepat adalah tiga pilar yang kini memimpin revolusi ekonomi digital.

Bagaimana pendapat Anda tentang harga 3 mata uang kripto incaran institusi di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌