Token SKR milik Seeker mengalami debut yang volatil setelah Solana Mobile meluncurkan airdrop mereka. Pada 21 Januari, Solana Mobile membagikan 2 miliar token SKR—senilai sekitar US$26,6 juta saat peluncuran—kepada pengguna ponsel Seeker dan pengembangnya.
Airdrop ini langsung membuat SKR menjadi sorotan para trader, sehingga memicu aksi harga agresif di awal peluncuran. Meski begitu, setelah lonjakan awal mereda, proses penemuan harga menjadi tidak stabil karena tekanan jual mulai muncul dengan cepat setelah gelombang euforia pertama.
Holder Seeker Sudah Mulai Menjual
Sinyal jangka pendek menunjukkan momentum mulai melemah walaupun pembukaan berlangsung kuat. Pada grafik 15 menit, Money Flow Index (MFI) terus menurun sejak SKR mencapai puncaknya di awal peluncuran. Sebagai indikator momentum berbasis volume, saat MFI turun di bawah garis netral 50,0, itu menandakan bahwa seller mulai mengambil kendali.
Penurunan MFI yang berlangsung lama biasanya menandakan permintaan yang mulai melemah, bukan sekadar volatilitas acak. Untuk kasus SKR, ini mengarah pada penerima airdrop awal yang menjual token mereka demi mengamankan profit. Pola ini memang biasa terjadi pada peluncuran token baru, tapi tetap saja menandakan sinyal bearish selama momentum masih negatif.
Ingin wawasan token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Crypto dari Editor Harsh Notariya di sini.
Data transaksi on-chain memperkuat hal ini. Sejak peluncuran, ada sekitar 22.130 transaksi beli dibandingkan dengan kurang lebih 25.039 transaksi jual. Ketimpangan tersebut menunjukkan aksi distribusi lebih besar dari akumulasi, sehingga memperkuat bias bearish untuk jangka pendek.
Perbedaan ini menyoroti kewaspadaan trader setelah lonjakan awal. Walau perhatian terhadap SKR masih tinggi, mayoritas aksi yang terjadi justru pengambilan profit, bukan membangun posisi baru. Jika belum ada perubahan menuju arus beli bersih, tekanan turun kemungkinan tetap bertahan.
Harga SKR Menghadapi Risiko Penurunan Lebih Lanjut
Seeker (SKR) masih naik sekitar 37% dari harga saat peluncuran, dan diperdagangkan dekat US$0,01198 pada waktu publikasi. Akan tetapi, setelah sempat menyentuh puncak di US$0,01553, harganya berbalik turun dan mulai masuk fase koreksi sehingga euforia awal perlahan menghilang seiring likuiditas mulai stabil.
Jika tekanan jual terus berlanjut, SKR berisiko kehilangan support di US$0,01098. Jika harga benar-benar menembus level ini, momentum penurunan bisa semakin cepat, dan area US$0,00879 bakal menjadi target selanjutnya. Kalau koreksi terjadi lebih dalam, harga dapat meluncur ke sekitar US$0,00754, yang akan menghapus sebagian besar kenaikan di hari peluncuran.
Stabilisasi dalam waktu dekat bergantung pada pertahanan di US$0,01098. Jika zona ini bisa dipertahankan, peluang harga membentuk dasar semakin besar. Sebaliknya, jika SKR mampu menembus kembali level US$0,01417, momentum akan bergeser ke sisi positif dan menunjukkan kepercayaan buyer mulai pulih.
Perusahaan yang memilih Solana (SOL) sebagai aset strategis di treasury mereka kini menghadapi kerugian yang semakin besar karena pergerakan harga SOL berubah negatif pada Januari. Di antara mereka, Forward Industries memegang posisi SOL terbesar, yakni lebih dari 1,1% dari total suplai.
Nampaknya, kepercayaan terhadap nilai jangka panjang SOL tetap tidak berubah, meski SOL telah menghapus pemulihan sepanjang tahun berjalan.
Forward Industries Hadapi Lebih dari US$700 Juta Kerugian Mengambang seiring SOL Turun
Data dari Coingecko menunjukkan bahwa Forward Industries saat ini memegang lebih dari 6,91 juta SOL. Perusahaan ini memperoleh kepemilikan tersebut dengan total biaya sebesar US$1,59 miliar, yang setara dengan sekitar 1,12% dari total suplai Solana.
Dengan harga SOL yang saat ini di kisaran US$128, nilai investasi tersebut telah turun menjadi sekitar US$885,59 juta. Hal ini mengakibatkan kerugian belum terealisasi lebih dari US$700 juta, atau penurunan sebesar -46%.
Walau menghadapi tantangan seperti ini, Forward Industries tetap dapat mengambil manfaat dari staking. Sejak memulai strategi treasury Solana pada September 2025, perusahaan ini telah mendapatkan lebih dari 133.450 SOL dari reward staking. Reward ini membantu meningkatkan jumlah SOL per saham. Walau demikian, jumlah tersebut tetap terbilang kecil dibanding kerugian yang kini terjadi.
“Sejak awal, infrastruktur validator dari perusahaan berhasil menghasilkan 6,73% gross annual percentage yield (APY) sebelum biaya, melebihi validator rekanan teratas. Hampir seluruh kepemilikan SOL perusahaan saat ini dalam kondisi staking,” terang Forward Industries dalam laporannya.
Penurunan SOL tidak hanya memengaruhi treasury, tapi juga menyeret harga saham FWDI turun. Sejak mengumumkan pembelian SOL pada September 2025, sahamnya turun lebih dari 80%. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terkait risiko finansial.
Aksi jual ini menurunkan kapitalisasi pasar perusahaan dan ikut melemahkan kemampuan perusahaan untuk menghimpun dana serta kredibilitas di pasar saham.
DAT SOL Lain Juga Alami Kerugian dan Hentikan Akumulasi SOL
Forward Industries bukan satu-satunya. Perusahaan lain yang menggunakan model digital asset treasury (DAT) juga mengalami kerugian besar.
Upexi (UPXI) melaporkan kerugian belum terealisasi lebih dari US$47 juta dari kepemilikan SOL-nya, atau setara dengan kerugian -15,5%. Sharps Technology menghadapi kerugian belum terealisasi lebih dari US$133 juta, atau -34%. Galaxy Digital Holdings juga mencatat kerugian belum terealisasi lebih dari US$52 juta, atau -38%.
Contoh-contoh ini menunjukkan risiko sistemik dari model DAT. Volatilitas harga dapat melemahkan pondasi keuangan korporasi.
Analis mengingatkan kondisi dapat semakin memburuk. Jika SOL turun melewati level US$120, yaitu zona support multi-tahun, harga bisa turun ke kisaran US$70. Pergerakan ini dapat memperparah kerugian belum terealisasi dengan signifikan.
Data tambahan menunjukkan perusahaan-perusahaan sudah tidak lagi membeli SOL dalam dua bulan terakhir. Total SOL yang terkumpul oleh DAT pun tertahan di angka 17,7 juta.
Melambatnya pembelian ini mencerminkan sikap kehati-hatian yang meningkat di tengah rasa takut pelaku pasar yang makin besar.
Meskipun demikian, Forward Industries tetap optimistis. Perusahaan meyakini bahwa tahun 2026 akan menjadi tahunnya Solana. Mereka menyoroti roadmap upgrade paling agresif dalam sejarah jaringan ini, mulai dari konsensus hingga infrastruktur. Targetnya adalah mengubah Solana menjadi “Nasdaq terdesentralisasi.”
"Solana's 2026 roadmap may be the most aggressive upgrade cycle in the network's history, overhauling everything from consensus to infrastructure to become the decentralized Nasdaq." – @Delphi_Digital
Di saat yang sama, Token Terminal melaporkan rasio staking Solana telah mencapai 70%, atau level tertinggi sepanjang masa. Nilai total staking berada di kisaran US$60 miliar, sehingga keamanan jaringan semakin kuat.
Faktor positif ini mungkin menjadi alasan mengapa pasar belum melihat gelombang aksi jual dari DAT SOL. Pergerakan harga SOL dalam beberapa hari ke depan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana perusahaan-perusahaan ini akan meresponsnya.
Harga XRP mengalami koreksi tajam pada Januari ini. Sejak 14 Januari, XRP turun sekitar 16%. Meskipun sempat rebound sedikit, koin ini masih turun hampir 2% dalam 24 jam terakhir, sehingga pasar tetap berhati-hati.
Namun, berbagai sinyal sekarang menunjukkan tekanan jual mulai mereda, bukannya semakin kuat. Pola momentum yang secara historis selalu terbukti kini muncul kembali, aktivitas koin turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir, dan holder jangka pendek telah mengalami kerugian besar. Kombinasi kondisi ini seringkali menjadi tanda bahwa harga akan berbalik arah dengan tajam.
Bullish Divergence yang Sudah Pernah Memicu Reli 33%
Sinyal pertama berasal dari momentum.
Pada grafik harga harian, XRP menunjukkan bullish divergence. Antara 4 November hingga 31 Desember, harga mencetak lower low, sementara RSI membentuk higher low. RSI mengukur momentum dengan membandingkan keuntungan dan kerugian terkini. Ketika RSI naik sementara harga terus melemah, biasanya ini menandakan tekanan jual sudah melemah.
Terakhir kali pola ini muncul, XRP reli cukup agresif, naik sekitar 33% hanya dalam waktu kurang dari seminggu.
Ingin mendapatkan insight token seperti ini? Daftar untuk menerima Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Pola yang sama sekarang mulai terbentuk kembali, yakni antara 4 November hingga 19 Januari. Harga memang turun, namun RSI justru tidak mengikuti penurunan dan malah bergerak naik. Hal ini memang tidak menjamin XRP akan reli lagi 33%, tapi menandakan momentum kembali berlawanan dengan harga, seperti saat pembalikan tren sebelumnya.
Momentum saja tidak cukup. Perilaku penjual juga harus mengonfirmasi tanda kelelahan pasar.
Penjualan Panik Kemungkinan Menurun karena Aktivitas Coin Turun dari 83 Juta ke Hampir Nol
Konfirmasi tersebut datang dari perilaku on-chain.
Satu sinyal bearish yang terkait dengan kepanikan jual telah merosot ke level terendah dalam enam bulan. Aktivitas koin dari berbagai kelompok umur, yang diukur dengan metrik Spent Coins Age band, anjlok dari sekitar 83 juta XRP pada 15 Januari jadi hampir nol (0,06) pada 21 Januari. Ini menunjukkan sangat sedikit koin yang aktif dipindahkan atau mungkin dijual, meskipun harga turun tajam.
Aktivitas Koin Mencapai Level Terendah dalam Enam Bulan: Santiment
Pada saat yang sama, perilaku holder jangka pendek semakin menguatkan tanda kelelahan pasar ini.
NUPL holder jangka pendek (Net Unrealized Profit/Loss), yang mengukur apakah pembeli baru masih untung atau sudah rugi, turun drastis. Sejak 5 Januari, metrik ini turun dari sekitar −0,03 menjadi −0,235, atau lebih dari 680% lebih dalam ke wilayah rugi. Sederhananya, holder jangka pendek sudah benar-benar dalam posisi rugi besar.
Saat holder sudah sedalam ini mengalami kerugian dan perpindahan koin mengering, insentif untuk jual lebih lanjut menurun tajam. Tekanan jual melemah bukan karena pembeli kuat, melainkan karena penjual sudah kelelahan.
Dengan minimnya halangan untuk rebound, perhatian kini beralih ke area potensi bounce berikutnya.
Klaster Cost Basis Tentukan Level Breakout dan Breakdown Harga XRP
Data cost basis menunjukkan di mana kelompok besar XRP pernah dibeli sebelumnya. Zona-zona ini sering menjadi resistance karena holder yang hampir impas cenderung menjual.
Level kunci pertama berada di US$2,00, harga psikologis utama sekaligus zona cost basis dengan sekitar 1,55 miliar XRP. Menembus level ini akan menjadi langkah awal menuju stabilisasi.
Di atas level itu, resistance terkuat dalam waktu dekat ada di rentang US$2,14–US$2,16. Area ini berisi sekitar 1,92 miliar XRP, menjadikannya klaster pasokan terberat di atas harga saat ini.
Pergerakan bersih di atas US$2,17 akan menghilangkan suplai ini dan menandakan bahwa penjual telah terserap. Jika itu terjadi, maka level kenaikan di sekitar US$2,41, US$2,49, bahkan US$2,89 akan menjadi fokus, menurut chart harga XRP.
Di sisi sebaliknya, jika gagal bertahan di struktur saat ini, maka risiko tetap terbuka.
Harga Ethereum turun hampir 6% dalam 24 jam terakhir dan hampir 13% dalam dua hari, memperpanjang koreksi Januari yang fluktuatif. Harga sempat turun di bawah level kunci, sehingga memunculkan keraguan baru apakah pembeli bisa kembali mengambil alih kendali.
Namun, di balik layar, holder besar langsung bergerak agresif. Sekitar US$360 juta dalam bentuk ETH dikumpulkan oleh whale saat harga turun. Potensi rebound terlihat menggoda, tapi smart money (trader berpengalaman) belum sepenuhnya yakin.
Pola Triangle dan Bullish Divergence Hadapi Klaster Supply Besar
Ethereum sedang bergerak di dalam pola segitiga simetris pada grafik harian. Penjual sebelumnya menolak harga di dekat garis tren atas sekitar 14 Januari. Kini, harga sedang menguji batas bawah. Tapi, apakah pembeli bisa menyelamatkan dari potensi breakdown sekarang?
Momentum memberikan petunjuk penting. Di antara 4 November dan 20 Januari, Ethereum mencetak level terendah baru sedangkan Relative Strength Index (RSI) membentuk level terendah yang lebih tinggi. RSI mengukur momentum dengan membandingkan kenaikan dan penurunan harga terbaru. Bullish divergence ini mengindikasikan tekanan jual mulai melemah, walaupun harga sedang menguji support.
Sinyal seperti ini sudah pernah terbukti penting sebelumnya. Pada awal Januari, bearish divergence pada RSI mendahului penurunan harga yang baru saja terjadi. Sekarang, kondisi sebaliknya mulai terbentuk, sehingga memberikan sinyal potensi pembalikan arah, bukan kelanjutan penurunan.
Ingin mendapatkan insight token seperti ini? Daftar ke Daily Crypto Newsletter dari Editor Harsh Notariya di sini.
Potensi lonjakan harga tetap menghadapi rintangan yang jelas. Data cost basis menunjukkan ada banyak pasokan yang terkonsentrasi antara sekitar US$3.146 dan US$3.164. Sekitar 3,44 juta ETH dikumpulkan di zona ini.
Banyak holder berada di titik impas. Situasi ini sering membuat area tersebut menjadi resistance yang kuat. Rebound apa pun harus mampu melewati klaster ini agar memvalidasi kekuatan dan membentuk pembalikan arah, seperti yang disarankan oleh RSI.
Whale Beli Saat Harga Turun, tapi Smart Money Menunggu
Whale bergerak dengan keyakinan. Saat Ethereum turun sekitar 13% (antara 19 Januari dan 21 Januari), kepemilikan whale naik dari sekitar 103,42 juta ETH menjadi sekitar 103,71 juta ETH. Kenaikan ini mewakili hampir US$360 juta akumulasi di harga saat ini. Hal ini bukan perilaku baru.
Pembelian whale serupa terjadi sekitar 14 Januari, tak lama sebelum ETH melonjak tajam. Selain itu, whale Ethereum mulai mengumpulkan pasokan lagi dalam beberapa jam terakhir.
Akumulasi berkelanjutan ini menandakan bahwa mereka yakin penurunan sudah cukup terbatas di level saat ini. Whale juga siap menyerap pasokan di tengah pelemahan harga.
Smart money justru memberikan gambaran berbeda.
Indeks smart money, yang memantau posisi para trader berpengalaman, masih berada di bawah garis sinyalnya. Smart money biasanya bergerak lebih awal dan agresif sebelum reli besar terjadi. Pada Desember, ketika indikator ini melesat melampaui garis sinyal, Ethereum reli sekitar 26% dalam sepuluh hari. Gerakan serupa di akhir Desember disusul kenaikan 16% hingga pertengahan Januari.
Konfirmasi seperti itu masih belum terlihat sekarang. Smart money nampaknya masih menunggu bukti bahwa resistance sudah ditembus. Klaster cost basis yang berat di atas harga ETH kemungkinan memperjelas keraguan mereka. Sampai pasokan terserap, bersabar menjadi pilihan yang masuk akal.
Level Harga Ethereum Ungkap Zona Kunci
Sekarang, semua pergerakan mengarah ke kisaran level yang semakin sempit.
Level pertama yang harus direbut kembali adalah US$3.050. Ethereum kehilangan support dengan banyak sentuhan dalam aksi jual terakhir. Jika harga penutupan harian kembali di atas level ini, maka akan menandakan awal stabilitas.
Di atas level itu, perhatian tertuju ke area US$3.160. Level ini mendapat banyak sentuhan dan sejajar dengan klaster pasokan cost basis. Penutupan harian yang bersih di atasnya akan mewakili kenaikan sekitar 6% dari harga saat ini. Lebih penting lagi, itu berarti resistance berat berhasil ditembus dan bisa membuat smart money kembali masuk. Setelah itu, pola pembalikan arah dapat terbentuk.
Jika itu terjadi, momentum bisa meningkat dengan cepat. Breakout yang terkonfirmasi akan membuka jalan menuju US$3.390, di mana pembalikan tren bullish yang lebih besar akan mulai terbentuk.
Di sisi bawah, jika harga turun melewati support segitiga bagian bawah di sekitar US$2.910, skenario rebound akan semakin lemah. Jika terjadi penurunan berkelanjutan di level itu, area US$2.610 akan menjadi support utama berikutnya.
Penjual Ethereum memang sempat unggul dalam pergerakan terbaru, tapi “perang” masih berlangsung. Para whale sudah mulai membangun posisi untuk reli. Smart money masih menanti konfirmasi. Jika Ethereum bisa menembus dinding supply di US$3.160, keraguan bisa langsung berubah menjadi momentum yang kuat.
Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 5.700 holder Bitcoin (BTC) menunjukkan adanya jurang yang jelas antara keyakinan dan perilaku di dunia aset kripto. Meski hampir 80% responden mendukung adopsi aset kripto yang lebih luas, 55% mengatakan mereka jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan aset digital untuk pembayaran sehari-hari.
Jurang yang makin melebar antara keyakinan dan penggunaan nyata ini menandakan bahwa tantangan terbesar dalam industri ini bukan lagi soal pemahaman atau dukungan ideologis, melainkan hal lainnya.
Mayoritas Pengguna Kripto Mendukung Adopsi, tapi Jarang Membelanjakan Aset Kripto: Ini Alasannya
Survei GoMining ini mendapat respons dari pengguna di berbagai wilayah. Bagian terbesar berasal dari Eropa (45,7%) dan Amerika Utara (40,1%).
Peserta juga mewakili beragam tingkat pengalaman, hampir terbagi rata antara mereka yang masih baru dalam aset kripto dan para holder yang sudah beberapa tahun terjun di pasar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan soal belanja menggunakan aset kripto tidak hanya terjadi di satu wilayah atau jenis pengguna saja. Survei itu menemukan bahwa pembayaran dengan aset kripto masih menjadi kebiasaan minoritas di kalangan pengguna.
Hanya 12% responden yang memakai aset kripto untuk pembayaran sehari-hari. Angka ini sedikit naik menjadi 14,5% untuk pembayaran mingguan dan 18,3% setiap bulan. Tapi, mayoritas tetap mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali membelanjakan aset kripto mereka.
Penggunaan Aset Kripto Sebagai Metode Pembayaran | Sumber: GoMining
Kebiasaan belanja ini memperlihatkan di mana aset kripto paling efektif digunakan sebagai opsi pembayaran. Produk digital menempati porsi terbesar dengan 47%, lalu disusul dengan pembelian gim sebesar 37,7% dan transaksi e-commerce sebesar 35,7%.
Ini menunjukkan bahwa pengguna sudah aktif memakai aset kripto di lingkungan digital yang memang mendukung pembayaran semacam itu. Di luar area tersebut, penggunaan aset kripto untuk pembayaran jauh menurun.
Hasil survei mengungkap hambatan terbesar dalam membelanjakan aset kripto berasal dari masalah infrastruktur. Responden menyebut terbatasnya merchant yang menerima aset kripto (49,6%), biaya transaksi yang tinggi (44,7%), serta volatilitas harga (43,4%) sebagai alasan utama mereka belum menggunakan aset kripto untuk pembayaran. Selain itu, 36,2% pengguna juga menunjuk risiko potensi penipuan sebagai alasan penting lainnya.
Hambatan Penggunaan Bitcoin untuk Pembayaran | Sumber: GoMining
Mark Zalan, CEO GoMining, mengatakan kepada BeInCrypto bahwa jika memakai aset kripto menambah proses dan kerumitan seperti memilih chain, mengatur biaya, menghitung volatilitas harga, atau mencari cara membalikkan kesalahan transaksi, maka mayoritas pengguna masih akan memandangnya sebagai sekadar hal baru.
“Untuk pengguna sehari-hari, ‘utilitas nyata’ mulai terasa ketika aset kripto menjadi latar belakang saja. Saat sudah diterima di tempat mereka biasa berbelanja, biayanya jelas bersaing, penyelesaiannya cepat, serta harapan konsumen seperti nota pembelian atau penanganan perselisihan tetap terpenuhi. Kalau ingin merebut pengguna itu, pembayaran dengan aset kripto harus terasa sama membosankan dan andalnya seperti mengetapkan kartu saja,” terang dia.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jurang ini bukan lagi sekadar “masalah adopsi” tapi sudah menjadi “masalah produk sehari-hari”.
“Orang bisa saja terbuka terhadap aset kripto secara prinsip, tapi tetap memilih kartu dan aplikasi bank karena opsi itu diterima di mana-mana dan terasa tanpa hambatan. Hasil survei kami konsisten dengan itu: minat memang ada, namun rutinitas penggunaan justru terhenti ketika penerimaannya terbatas, biaya tidak pasti, dan volatilitas menimbulkan keraguan,” papar dia.
Zalan menjelaskan bahwa banyaknya token tidak serta-merta menghadirkan utilitas sehari-hari karena kebanyakan token tidak memperbaiki masalah sehari-hari bagi konsumen.
Manfaat praktis muncul ketika aset kripto benar-benar memberikan keunggulan, seperti transfer nilai lintas negara, penyelesaian transaksi lebih cepat, serta kemampuan pemrograman. Karena itu, industri kini semakin fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran dan integrasi, bukan sekadar berharap pengguna mau belajar dan mengatur puluhan aset berbeda secara aktif.
Pembayaran Bitcoin Menghadapi Ekspektasi Berbasis Insentif dari Pengguna
Sementara itu, survei juga mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong pengguna memilih aset kripto dibanding metode pembayaran tradisional. Privasi dan keamanan muncul sebagai faktor utama, disebutkan oleh 46,4% responden. Hadiah serta diskon ikut mendekati di angka 45,4%.
Terkait pembayaran Bitcoin, pengguna sudah jelas soal keinginan mereka. Sebanyak 62,6% berharap biaya transaksi lebih rendah. Insentif seperti hadiah atau cashback menyusul dengan 55,2%, sedangkan penerimaan merchant yang lebih luas disebut oleh 51,4% responden.
Menariknya, hampir setengah responden menyatakan mereka berharap mendapat yield atau hadiah setiap kali melakukan pembayaran. Hal ini menunjukkan makin terbentuknya ekspektasi yang didorong oleh insentif.
Data ini juga menyoroti perubahan besar dalam cara pengguna memandang Bitcoin itu sendiri. Meski masih banyak yang menyebut diri mereka sebagai holder jangka panjang, ketertarikan pada mining, produk penghasil yield, dan tokenisasi hashrate menunjukkan munculnya preferensi terhadap Bitcoin yang mampu memberi hasil aktif, bukan hanya diam dalam wallet.
Pembayaran, dalam konteks ini, mulai dipandang sebagai peluang baru untuk menambah kepemilikan aset. Zalan menyampaikan bahwa insentif merupakan mekanisme standar di pembayaran.
Ia menguraikan bahwa sistem tradisional juga memakai skema insentif. Mereka memberi hadiah untuk konsumen, manfaat ekonomi bagi issuer, dan kepastian transaksi bagi merchant.
“Berharap pembayaran dengan aset kripto tumbuh tanpa ada dinamika ‘buat orang mau berpindah’ yang serupa jelas tidak realistis. Insentif justru mengungkapkan di mana hambatan yang tersisa: jika pengalaman pengguna sudah pasti lebih murah, lebih cepat, dan diterima di mana saja, insentif akan kurang penting. Untuk sekarang, insentif menutupi biaya perpindahan dan membantu orang membangun kebiasaan, sembari ekosistem menyelesaikan kekurangan soal penerimaan, pengembalian dana atau ekspektasi bantuan, dan alur checkout yang benar-benar mudah,” ucap CEO itu.
Bisakah Bitcoin Menjadi Alat Pembayaran dan Penyimpan Nilai?
Responden juga menjelaskan hal apa saja yang mereka pertimbangkan untuk menggunakan Bitcoin di masa depan. Pengeluaran sehari-hari menempati urutan teratas dengan 69,4%. Setelah itu, diikuti oleh gaming dan hiburan digital sebesar 47,3%, dan pembelian barang bernilai tinggi atau mewah sebesar 42,9%.
Dari sudut pandang pengguna, Bitcoin tidak hanya terbatas pada penggunaan khusus saja, tapi kini makin dianggap sebagai opsi untuk belanja sehari-hari yang layak. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan penting: jika Bitcoin berhasil dipakai secara luas sebagai metode pembayaran harian, apakah hal tersebut memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai, atau justru berisiko mengikis narasi tersebut?
Zalan meyakini bahwa manfaat pembayaran yang makin luas justru pada akhirnya akan memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Ia menerangkan bahwa status sebagai penyimpan nilai pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan di masyarakat dan pasar.
Status tersebut terbentuk dari likuiditas tinggi, penyelesaian transaksi yang andal, dan sejauh mana suatu aset terintegrasi dalam sistem keuangan dunia nyata. Menurutnya,
“Semakin sering Bitcoin digunakan (bahkan lewat layer seperti Lightning atau kartu), semakin Bitcoin bertindak sebagai aset moneter yang tahan lama dengan permintaan dan infrastruktur yang kuat di sekelilingnya.”
Ia menekankan bahwa kekhawatiran soal “pengenceran nilai” sering kali timbul karena orang keliru menganggap penggunaan harian sama dengan hilangnya keyakinan pada aset tersebut. Dalam sistem keuangan yang sudah matang, aktivitas hold jangka panjang dan penggunaan harian bisa berjalan beriringan selama infrastrukturnya memudahkan transaksi.
Melihat ke tahun 2026 mendatang, Zalan menggambarkan hasil yang lebih realistis: Bitcoin berperan sebagai cadangan dan jangkar penyelesaian transaksi, sedangkan layer pembayaran yang ramah pengguna memudahkan pembayaran langsung, sehingga pengguna dapat bertransaksi tanpa perlu memikirkan soal blok, biaya, ataupun waktu.
Pergerakan harga terbaru Solana menggagalkan peluang reli jangka pendek menuju dan menembus level US$150. SOL mengalami penurunan tajam sejalan dengan aset berisiko lainnya ketika ketidakpastian ekonomi makro meningkat.
Walau terjadi penurunan tersebut, perilaku holder menunjukkan keyakinan mereka belum luntur. Para investor SOL sebagian besar tetap memperlihatkan bias bullish, yang mengindikasikan kepercayaan melampaui fluktuasi harga jangka pendek.
Solana Menarik Minat Investor yang Relatif Kuat
ETF Solana spot mencatat arus masuk bersih mengejutkan sebesar US$3,08 juta di tengah tekanan pasar yang berat. Arus tersebut masuk ketika pasar saham global juga terpukul, bahkan pasar kripto secara keseluruhan kehilangan lebih dari US$120 miliar dari total kapitalisasi. Perbedaan ini menyoroti kemampuan SOL menarik modal bahkan di kondisi risk-off.
Perbedaannya dengan produk kripto lain sangat jelas. ETF Bitcoin mengalami arus keluar bersih sebesar US$483 juta pada hari Senin ketika investor mengurangi risiko. Hampir semua aset utama mengikuti tren keluar tersebut. Solana, sebaliknya, justru menentang arus, menguatkan narasi bullish yang bisa mendukung reli pemulihan.
Ingin mendapatkan insight token seperti ini? Silakan daftar ke Newsletter Harian Kripto Editor Harsh Notariya di sini.
Data on-chain memperlihatkan kisah serupa. Pertumbuhan alamat baru di Solana tetap stabil walau ada sentimen negatif di pasar. Jaringan ini menambah sekitar 8,6 juta alamat baru pada hari Senin dan 8,4 juta alamat lagi pada hari Selasa — hanya turun 2,38%.
Konsistensi seperti ini menandakan permintaan belum benar-benar menurun. Pembentukan alamat baru biasanya mencerminkan penggunaan nyata dan minat masuk, bukan spekulasi jangka pendek. Kemampuan bertahan di tengah penurunan harga memberikan sinyal ada dukungan di balik layar yang bisa jadi bahan bakar pemulihan ketika situasi membaik.
SOL diperdagangkan di sekitar US$127 pada waktu publikasi, turun 12,8% dalam sepekan. Harga bertahan di zona support US$125 dan mencegah penurunan lebih dalam. Area ini sedang menjadi lantai kunci jangka pendek, di mana pembeli masuk untuk menyerap suplai.
Kekuatan relatif masih berpihak pada SOL dibanding aset big cap lainnya. Arus masuk ETF dan aktivitas jaringan yang stabil mengisyaratkan potensi rebound lebih cepat. Jika harga kembali menembus US$132 dan bertahan di atasnya sebagai support, maka peluang untuk bergerak menuju US$136 dan koreksi sebagian kerugian terakhir terbuka lebar.
Sinyal berubah bearish jika momentum kembali stagnan. Jika harga menembus US$125 secara bersih, support saat ini tidak berlaku lagi dan sentimen akan bergerak ke bawah. Dalam situasi tersebut, SOL bisa terkoreksi ke sekitar US$119 dan memperpanjang fase koreksi sekaligus menyingkirkan skenario bullish.
Manajer aset Grayscale sedang mengupayakan persetujuan dari regulator untuk mengonversi Grayscale Near Trust menjadi exchange-traded fund (ETF) spot.
Perusahaan tersebut mengajukan Formulir S-1 ke US Securities and Exchange Commission pada 20 Januari, yang menandai langkah untuk memperluas jajaran produk ETF aset kripto mereka.
Grayscale Ajukan Perubahan Near Trust Jadi ETF dengan Pengajuan Baru ke SEC
Sebagai informasi, Grayscale Near Trust saat ini mengelola sekitar US$900.000 aset dan memiliki nilai aset bersih US$2,19 per saham. Produk ini diperdagangkan di pasar OTCQB dengan kode GSNR.
Jika konversi ini disetujui, ETF tersebut akan tercatat di NYSE Arca. Berdasarkan pengajuan tersebut,
“Saham saat ini tercatat di OTCQB dengan simbol ticker ‘GSNR’ dan setelah pernyataan pendaftaran yang menjadi bagian dari prospektus ini berlaku, Trust bermaksud untuk mencatatkan saham di NYSE Arca, Inc. (‘NYSE Arca’) dengan simbol ‘GSNR’.”
Selain itu, Grayscale menunjuk Coinbase Custody Trust Company sebagai kustodian untuk aset NEAR. Sementara itu, Coinbase akan bertindak sebagai broker utama. Bank of New York Mellon akan berperan sebagai administrator dan agen transfer.
Dalam pengajuannya dijelaskan bahwa ETF ini dirancang untuk memberi investor cara yang mudah dan efisien untuk mengakses NEAR melalui kendaraan investasi yang diatur. Grayscale terang bahwa dana tersebut tidak akan menggunakan leverage, derivatif, atau instrumen keuangan serupa dalam strategi investasinya.
Manajer aset tersebut kini bergabung dengan Bitwise, yang juga mengajukan Formulir S-1 untuk ETF Near pada Mei 2025. Pengajuan terbaru ini memperlihatkan ekspansi strategis berkelanjutan Grayscale di pasar ETF aset kripto.
Pada tahun 2025, perusahaan ini mengonversi beberapa produk menjadi ETF, termasuk Digital Large Cap Fund, Chainlink Trust, dan XRP Trust. Kini, Grayscale menawarkan 9 ETF aktif.
Selain itu, di awal bulan ini, Grayscale telah membentuk Delaware statutory trusts baru untuk ETF BNB dan Hyperliquid yang diusulkan. Registrasi trust Delaware ini menjadi langkah awal sebelum pengajuan aplikasi ETF lengkap ke SEC. Di samping itu, Grayscale juga mengupayakan persetujuan untuk ETF atas Hedera, Avalanche, dan Bittensor.
Meski demikian, pengumuman ini tidak mampu mendorong harga NEAR secara langsung. Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa altcoin ini turun sebesar 1,76% dalam 24 jam terakhir, mengikuti tren penurunan pasar secara keseluruhan. Pada waktu publikasi, NEAR diperdagangkan di harga US$1,54.
Penurunan NEAR lebih besar jika dilihat secara mingguan. Dalam tujuh hari terakhir, token ini kehilangan sekitar 14,3% nilainya, mencerminkan tekanan jual yang berkelanjutan dan sentimen investor yang berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik yang terus berlangsung.
Walau pasar aset kripto masih diliputi ketakutan karena volatilitas global, Axie Infinity (AXS) justru tak diduga muncul sebagai titik terang. Token AXS melonjak tajam, melewati US$2,4 dan menghapus seluruh kerugian dari aksi jual Oktober tahun lalu.
Pertanyaan utama adalah apakah reli ini bisa bertahan. Data multi-dimensi menawarkan pandangan yang lebih objektif untuk investor.
Apa yang Mendorong Reli Axie Infinity (AXS) di Januari?
Data terbaru dari BeInCrypto Price menunjukkan bahwa AXS sudah melonjak lebih dari 200% sejak awal tahun. Volume transaksi harian sudah menembus US$1 miliar.
Reli ini dimulai setelah pendiri proyek mengumumkan rencana untuk mengubah reward AXS di Axie Infinity menjadi versi token aplikasi AXS, yaitu bAXS. Pemain bisa memakai bAXS di Axie Core dan melakukan staking untuk mendapatkan manfaat tambahan.
Performa Harga AXS Selama Tiga Bulan Terakhir | Sumber: BeInCrypto Price
Data dari CoinGecko menyoroti faktor penting lainnya. Trader Korea Selatan berperan besar dalam menyediakan likuiditas. Antusiasme mereka mendorong harga AXS menembus level US$2,4.
Volume Perdagangan AXS di Berbagai Exchange | Sumber: CoinGecko
Dari lebih dari US$1 miliar volume transaksi harian, Upbit sendiri menyumbang lebih dari US$320 juta atau 32%. Harga di Upbit juga diperdagangkan lebih premium dibandingkan Binance dan exchange lain. Hal ini menunjukkan trader Korea Selatan rela membayar harga lebih tinggi karena berharap ada kenaikan lebih lanjut.
Selain itu, laporan BeInCrypto terbaru mengungkap adanya minat baru pada proyek GameFi. Investor nampaknya mulai menengok masa lalu serta kembali mengalokasikan dana ke token GameFi yang sebelumnya dianggap terlupakan.
“Nostalgia adalah emosi paling kuat di alam semesta. Tidak ada IP lain di kripto yang dapat membuat orang merasa sekaligus rindu masa lalu dan bersemangat menyambut masa depan. Itulah zona kejeniusan tempat Axie berada.” — ujar Jihoz.ron, Co-founder Axie Infinity, .
Sinyal Peringatan yang Bisa Mengancam Reli AXS
Reli AXS melawan tren pasar yang melemah justru membuat beberapa analis merasa skeptis. Di pasar kripto, semangat internal terkadang bisa mengalahkan rasa takut dari luar.
namun, di balik lonjakan harga yang impresif, ada sinyal on-chain yang mengkhawatirkan. Saldo AXS di exchange meningkat seiring harga melonjak. Ini menandakan makin banyak token yang tersedia di pasar dan berpotensi menciptakan tekanan jual.
Laporan BeInCrypto terbaru juga menunjukkan rata-rata jumlah transaksi deposit tujuh hari telah mencapai level tertinggi dalam tiga tahun. Data on-chain memperlihatkan sejumlah wallet dengan saldo besar baru-baru ini mengirim AXS ke Binance.
Sepanjang tekanan beli tetap kuat, aliran masuk ini bisa terserap dengan cepat. Tetapi, jika permintaan melemah, tren tersebut bisa berbalik.
Faktor lain yang juga perlu diperhitungkan adalah tidak adanya pertumbuhan pemain baru di jaringan Ronin, yaitu platform inti Axie Infinity.
Jumlah Alamat Aktif Mingguan di Jaringan Ronin | Sumber: Dune/Ronin
Data Dune Analytics untuk Ronin menunjukkan jumlah alamat aktif baru mingguan tetap berada di bawah 10.000. Angka ini telah turun drastis dari lebih dari 500.000 pada 2024 dan belum menampakkan tanda pemulihan yang jelas.
Tidak ada perluasan basis pengguna yang berarti menandakan saturasi dalam model play-to-earn. Model ini sebelumnya menarik jutaan pemain selama pandemi. Tanpa masuknya pengguna baru, pemulihan AXS berpotensi menghadapi tantangan struktural.
Selain itu, open interest pada kontrak Futures AXS sudah melebihi US$130 juta, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini memperlihatkan aktivitas spekulasi yang semakin tinggi, dengan investor memanfaatkan leverage untuk bertaruh pada pergerakan harga.
Open interest yang tinggi biasanya menunjukkan risiko likuidasi yang juga meningkat, terlebih di kondisi pasar yang volatil. Lingkungan seperti ini memperbesar kemungkinan terjadinya likuidasi berantai, yang bisa membuat harga AXS anjlok tajam.
Berapa lama reli AXS bisa bertahan akan sangat bergantung pada apakah katalis positif mampu mengimbangi sinyal-sinyal peringatan di atas. Trading di situasi seperti ini membutuhkan keseimbangan berbagai faktor untuk mengurangi risiko, seiring pasar yang masih sering menghadapi volatilitas tak terduga dan meningkat.
Pertarungan politik baru terkait imbal hasil stablecoin mengancam menggagalkan reformasi struktur pasar kripto AS yang sudah lama dinanti.
Perkembangan terbaru mengungkap perpecahan mendalam antara perbankan, perusahaan kripto, dan pembuat kebijakan tentang siapa yang paling diuntungkan dari fase regulasi keuangan berikutnya.
Persaingan Yield Stablecoin Hambat Reformasi Pasar Kripto di AS
CEO Galaxy, Mike Novogratz, memperingatkan bahwa penolakan dari lobi perbankan bisa saja menghancurkan upaya legislasi secara luas, walaupun hukum yang berlaku sebenarnya sudah mengizinkan beberapa bentuk yield stablecoin tertentu.
“Dinamika yield dalam RUU stable coin ini sangat menarik dan bisa berakibat pada gugurnya RUU tersebut. Politik mengalahkan kebijakan yang baik. Bank tidak ingin platform kripto mampu memberikan imbalan kepada pengguna (GENIUS, yang merupakan hukum, mengizinkan itu). Jika RUU ini batal, maka status quo yang mereka nampaknya takutkan,” tulis Novogratz .
Menurut Novogratz, bank lebih khawatir terhadap persaingan dibandingkan perlindungan konsumen. Jika platform kripto boleh membayar imbal hasil atas stablecoin, ini bisa mempercepat arus keluar dana dari bank tradisional, menekan margin keuntungan, sekaligus menantang model bisnis lama yang telah mapan.
“Jika hal ini yang menyingkirkan RUU struktur pasar, maka pihak yang paling rugi adalah konsumen AS,” tambahnya.
Lebih dari 3.200 bankir telah meminta legislator untuk menutup apa yang mereka sebut sebagai “celah pembayaran bunga.” Mereka menegaskan bahwa imbalan stablecoin bisa melemahkan bank komunitas serta mengurangi kemampuan pinjaman.
Pihak yang mengkritik menyatakan bahwa RUU tersebut, dalam bentuk draft saat ini, menguntungkan salah satu pihak. Meski bank masih punya hak untuk memberi bunga atas simpanan, platform kripto menghadapi pembatasan lebih ketat, di mana imbalan hanya boleh untuk partisipasi aktif seperti staking, penyediaan likuiditas, atau tata kelola.
Akibatnya, para penentang berpendapat regulasi ini justru melindungi pemain lama dan mengorbankan persaingan serta pilihan konsumen.
Perselisihan White House dan Kripto Semakin Dalam saat Kompromi Beradu dengan Kekhawatiran Retail
Kebuntuan ini juga mengungkap gesekan antara Gedung Putih dan industri kripto. Jurnalis Brendan Pedersen baru-baru ini menuturkan bahwa “Gedung Putih masih kesal dengan Coinbase,” menyoroti adanya ketegangan yang belum selesai di saat perundingan terus berlangsung di balik layar.
CEO Coinbase, Brian Armstrong, membantah klaim tentang adanya perpecahan, menegaskan bahwa diskusi masih berlangsung secara konstruktif serta berfokus pada upaya kompromi.
Meski demikian, pandangan di dalam pemerintahan masih terbelah. Patrick Witt, Direktur Eksekutif Dewan Penasihat Presiden untuk Aset Digital, telah memperingatkan agar kesempurnaan legislatif jangan sampai menghalangi kemajuan.
“Akan ada RUU struktur pasar kripto — pertanyaannya adalah kapan, bukan apakah,” tulis Witt .
Dia mengungkapkan bahwa meloloskan RUU sekarang di bawah pemerintahan yang pro-kripto lebih baik daripada menghadapi aturan yang lebih keras di masa depan.
“Mungkin kamu tidak suka setiap bagian dari CLARITY Act, tapi saya bisa jamin kamu akan lebih tidak suka pada versi Demokrat di masa mendatang.”
Tidak semua orang setuju. Komentator kripto Wendy O merespons dengan menyebut bahwa meski logika Witt bisa saja benar secara politik, investor ritel tetap akan dirugikan.
You are not wrong, but at the same time this is retails chance to actually be able to get ahead and it’s really sad watching public servants continue to take more from us.
Di sisi lain, para ahli hukum memperingatkan bahwa taruhannya bisa lebih besar dari yang diperkirakan saat ini. Pengacara Consensys, Bill Hughes, mengingatkan bahwa regulasi kripto yang menghukum tidak memerlukan krisis keuangan baru.
“Tidak perlu ada krisis keuangan masa depan untuk melihat undang-undang yang menghukum,” ujar dia , memperingatkan akan adanya “potongan kecil tersembunyi dalam undang-undang yang wajib disahkan.”
Selain masalah yield stablecoin, CLARITY Act nantinya akan memberi aturan lebih jelas untuk aset kripto besar, perlindungan bagi pengembang, serta perbedaan antara DeFi dan TradFi.
Sementara itu, seluruh reformasi tersebut masih tertahan, terperangkap dalam pertarungan politik di mana bank, legislator, dan perusahaan kripto saling berebut pengaruh untuk membentuk masa depan regulasi aset digital di AS.
Setelah dihantam tahun yang brutal, GameFi sempat dianggap mati suri. Sepanjang 2025, sektor ini anjlok sekitar 75%, menghapus hampir seluruh minat investor. Namun, memasuki awal 2026, lanskapnya mulai menunjukkan retakan kecil. Bukan kehancuran lanjutan, melainkan potensi pemulihan.
Data penggunaan dan pergerakan harga perlahan berbelok naik di beberapa blockchain yang berfokus pada gaming. Masih terlalu dini untuk menyebut kebangkitan penuh. Namun, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, angka-angka mulai menyiratkan bahwa GameFi tengah menemukan dasar pijakannya kembali, di mana segelintir token bergerak lebih dulu.
Aktivitas On-Chain Jadi Sinyal Awal, GameFi Tak Sepenuhnya Mati
Isyarat pertama datang dari penggunaan on-chain, bukan dari euforia harga.
Saat menelusuri dashboard Dune Analytics awal 2026 di berbagai jaringan EVM, satu metrik mencuat, yakni rata-rata transaksi per wallet aktif. Indikator ini mengukur kedalaman aktivitas, bukan sekadar jumlah wallet. Selama empat hari berturut-turut, B3, layer gaming yang dibangun di atas Base, memimpin metrik ini, mengungguli Optimism, Mantle, Flow, dan jaringan besar lainnya.
Mengapa ini penting? Perilaku gaming yang autentik tecermin dari aksi berulang oleh pengguna yang sama, bukan sekadar kunjungan sesaat.
Base sendiri memperkuat sinyal tersebut. Di luar dominasi B3 dalam aktivitas per wallet, Base juga konsisten berada di jajaran teratas dalam total transaksi harian. Ini menandakan bahwa aktivitas gaming mulai menyusup dan memperkaya penggunaan jaringan secara keseluruhan.
Pola serupa juga terlihat di Sei, blockchain lain yang sarat dengan proyek gaming. Dalam beberapa hari terakhir, Sei secara konsisten menonjol dalam jumlah alamat unik harian.
Konteks menjadi penting di sini. GameFi anjlok hampir 75% pada 2025.
According to CoinGecko’s Crypto Narratives Ranked by Returns 2025, RWA led the market with +185.76%, followed by Layer 1 (+80.31%) and Made in USA (+30.62%), while most other sectors posted losses—led by Gaming (−75.16%) and DePIN (−76.74%). https://t.co/BGdrxjLiSUpic.twitter.com/RtFW77ZVVu
Memasuki bulan pertama 2026, sinyal-sinyal ini mulai sejalan, seperti yang ditekankan oleh para ahli seperti Yat Siu, Chairman dari Animoca Brands.
1/ Specific web3 gaming tokens in the @animocabrands fam are sharply up with volume for $AXS and $SAND over $1 billion and $380m respectively. Over the last 30 days $CHECK is up 300% $AXS 143% $SAND 35% during the same period. 2026 will be an exciting year for gaming a 🧵👇 pic.twitter.com/6TZ8yLZQzj
Ini bukan berarti GameFi telah bangkit sepenuhnya. Namun, ada indikasi kuat bahwa fase terburuk, yang ditandai oleh pengabaian massal, mulai terlewati.
Ketika ditanya apa yang benar-benar menentukan pemulihan GameFi, melampaui sekadar lonjakan harga jangka pendek, Robby Yung, CEO Animoca Brands, menyampaikan kepada BeInCrypto:
“Untuk kategori GameFi secara umum, saya rasa harus ada produk yang solid dan menarik di balik token tersebut (seperti seharusnya),” tutur dia.
Kini perhatian beralih ke harga. Sekelompok kecil token GameFi mapan sudah mulai merespons.
Axie Infinity (AXS): Lonjakan Sentimen dan Struktur yang Selaras
Axie Infinity muncul sebagai salah satu pemimpin terkuat dalam kebangkitan GameFi. AXS naik sekitar 117% selama tujuh hari terakhir, jelas melampaui token game berkapitalisasi besar lainnya di bulan Januari ini.
Salah satu alasan Axie unggul adalah sentimen yang semakin membaik, didorong oleh perubahan cara komunitas memandang proyek ini. Pada 17 Januari, sentimen positif untuk AXS melonjak ke 8,31, level tertinggi dalam lebih dari enam bulan. Sentimen positif melacak seberapa sering token dibicarakan secara baik di media sosial maupun channel on-chain, dan lonjakan sebesar ini biasanya mencerminkan keterlibatan ulang, bukan spekulasi di akhir siklus.
Pergeseran sentimen itu sejalan dengan katalis fundamental yang dipaparkan langsung oleh Robby Yung, yang membahas kekuatan Axie baru-baru ini:
“Pemicu kali ini adalah perubahan pada model tokenomic AXS, yang sangat disambut baik oleh komunitas dan membuat minat beli meningkat karena komunitas bergairah lagi, jadi ini betul-betul pergerakan yang dipimpin oleh akar rumput,” ucapnya.
Meskipun pembacaan sentimen itu sedikit menurun, tingkatnya masih lebih tinggi dibandingkan beberapa minggu terakhir, sehingga AXS tetap menjadi pusat perhatian.
Dari sisi harga, AXS memulai reli sejak awal Januari dan kini sedang mengalami konsolidasi setelah pergerakan naik yang tajam. Kondisi jeda ini membentuk struktur bull-flag, yakni harga sedang mencerna kenaikan tanpa mematahkan tren. Selama harga terus membentuk higher low, pola ini masih sehat dan belum kehabisan tenaga.
Dukungan tren semakin ketat. Exponential moving average (EMA) 20 hari naik mendekati exponential moving average 100 hari, yang biasanya menjadi filter tren jangka menengah. Jika terjadi bullish crossover yang jelas, maka sinyal kelanjutan tren semakin kuat. Penutupan harian di atas US$2,20 akan menandakan terjadi breakout dari konsolidasi dan membuka peluang kenaikan menuju US$3,11 bahkan lebih tinggi.
Level invalidasi sudah jelas. Jika harga turun terus-menerus di bawah US$1,98, maka struktur bullish menjadi lemah. Jika penurunan menembus US$1,63 dan lalu garis moving average 100 hari, maka pola ini batal sepenuhnya.
The Sandbox (SAND): Efek Indikator Axie Menyebar ke Token GameFi Besar
Sandbox mulai mengikuti jejak Axie Infinity, sehingga memperkuat dugaan bahwa kebangkitan GameFi merambah lebih dari satu token saja. SAND naik kurang lebih 27% selama tujuh hari terakhir dan hampir 9% dalam 24 jam terakhir, sebuah lonjakan yang cukup besar untuk salah satu token gaming dengan nilai pasar terbesar.
Urutan ini penting. Axie bergerak lebih dahulu, sedangkan Sandbox baru menyusul setelahnya, padahal SAND lebih unggul berdasarkan kapitalisasi pasar. Pola ini sejalan dengan penjelasan Robby Yung mengenai dinamika sektor ini, yang menekankan bahwa Axie sering kali menjadi penentu langkah GameFi yang lebih luas. Seperti yang ia sampaikan,
“AXS sangat mewakili kategori ini, jadi jika kita melihat ada pergerakan di sana, biasanya kabar baik untuk sektor lainnya,” ujar dia.
Data on-chain juga mendukung prospek positif ini. Sejak 16 Januari, saldo arus SAND di exchange berubah drastis. Pada awal bulan, saldo exchange mencatat arus masuk bersih sekitar 4,36 juta SAND, menandakan aksi jual aktif. Kini, posisi tersebut berbalik menjadi arus keluar bersih sekitar 2,33 juta SAND, yang berarti token SAND ditarik keluar dari exchange, bukan lagi untuk dijual.
Arus Masuk SAND Berubah Menjadi Arus Keluar | Sumber: Santiment
Tekanan beli yang meningkat sejalan dengan penguatan harga adalah sinyal positif, khususnya untuk token kapitalisasi besar.
Dari sisi struktur harga, SAND sedang membentuk pola cup-and-handle yang juga merupakan formasi breakout. Dasar melengkung terbentuk selama Desember, lalu diikuti pemulihan tajam awal Januari. Saat ini harga sedang konsolidasi di area handle. Jika penutupan harian menembus US$0,168 dengan jelas, maka leher pola ini pecah dan SAND berpotensi menuju US$0,190, bahkan bisa lanjut ke zona US$0,227.
Decentraland (MANA): Akumulasi Whale Sinyalkan Posisi Awal
Decentraland menjadi token GameFi utama dengan performa terlemah dalam jangka pendek. namun, justru itu sepertinya menarik dana besar untuk masuk. MANA naik sekitar 7% dalam 24 jam terakhir dan sekitar 15% dalam sepekan, masih tertinggal dari Axie Infinity dan Sandbox secara persentase.
Yang menarik adalah posisi para whale di tengah performa yang kalah ini.
Sejak 17 Januari, wallet yang memegang saldo MANA dalam jumlah besar menambah koleksi mereka dari sekitar 1,00 miliar token menjadi 1,02 miliar, bertambah 20 juta MANA, senilai hampir US$3,2 juta, hanya dalam beberapa hari. Bahkan, saldo whale sempat menyentuh 1,03 miliar sebelum berkurang sedikit. Koreksi tersebut ringan dan langsung diikuti akumulasi ulang, yang menandakan mereka melakukan positioning, bukan distribusi.
Dari sudut pandang struktur harga, MANA nampaknya sedang mengalami breakout dari pola inverse head-and-shoulders pada grafik harian. Pola ini sering menandakan transisi dari tren turun ke pemulihan ketika valid. Area breakout berada di sekitar US$0,159, dengan kekuatan yang semakin meningkat seiring penutupan harga yang lebih tinggi.
Untuk konfirmasi, MANA perlu ditutup harian di atas US$0,161. Jika level ini bertahan, target kenaikan berikutnya terbuka di sekitar US$0,177, US$0,20, dan bahkan bisa mencapai US$0,221, sementara resistance lanjutan berada di sekitar US$0,24 jika momentum GameFi meluas.
Jika harga turun kembali di bawah US$0,152, breakout akan melemah, sedangkan jika bergerak di bawah US$0,137 maka seluruh struktur akan batal.
MANA mungkin bergerak terakhir, tapi perilaku whale menandakan kondisinya bisa berubah jika narasi GameFi terus bangkit lagi.
Bagaimana pendapat Anda tentang kebangkitan narasi GameFi dan potensi reli AXS, SAND, serta MANA di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Para whale dan shark Bitcoin (BTC) terus melakukan akumulasi selama sembilan hari terakhir, meskipun investor ritel kecil mengurangi eksposurnya. Hal ini menandakan, menurut Santiment, adanya “kondisi optimal” untuk potensi breakout.
Perbedaan perilaku antara holder besar dan kecil ini terjadi di tengah volatilitas yang meningkat, di mana Bitcoin hampir menghapus seluruh keuntungan yang didapat selama 2026.
Smart Money Bangun Posisi Bitcoin saat Investor Ritel Keluar
Setelah penutupan tahun 2025 yang penuh tantangan, tahun baru untuk Bitcoin dibuka dengan catatan positif. Aset kripto ini naik lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari, didukung oleh sentimen optimistis di berbagai aset berisiko. tapi, reli ini tidak berlangsung lama karena volatilitas pasar kembali terjadi.
Meskipun sempat pulih sebentar pekan lalu, kondisi pasar secara keseluruhan kembali memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif untuk 8 negara di Uni Eropa (UE), sehingga menimbulkan ketidakpastian baru. Kabar ini menekan aset berisiko dan ikut memicu penurunan pasar aset kripto.
Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa BTC turun 6,25% selama sepekan terakhir. Kemarin, harga BTC turun di bawah US$88.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun.
Pada waktu publikasi, kripto terbesar ini diperdagangkan di US$89.329, turun 3,31% dalam 24 jam terakhir.
Meski volatilitas melanda, whale dan shark terus menambah posisi mereka. Data Santiment menunjukkan wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah 36.322 koin, senilai US$3,2 miliar dengan harga pasar saat ini, dalam sembilan hari terakhir. Hal ini menunjukkan kenaikan 0,27% dalam kepemilikan investor besar.
Tren akumulasi ini sangat kontras dengan perilaku investor ritel. Holder kecil justru melepas 132 koin selama sembilan hari, atau penurunan 0,28% dalam total kepemilikan mereka.
Biasanya, pola seperti ini menandakan holder lemah keluar saat harga menurun, sementara investor berpengalaman justru membeli saat harga turun.
“Kondisi optimal untuk breakout di kripto adalah ketika smart money melakukan akumulasi, dan ritel melakukan dump. Terlepas dari isu geopolitik, pola ini terus menciptakan divergensi bullish jangka panjang,” terang postingan tersebut.
Penting dicatat, meski smart money sedang akumulasi, prospek Bitcoin masih terbelah. Beberapa pengamat pasar menilai Bitcoin memberikan sinyal bear market, sehingga risiko penurunan lanjut semakin besar. tapi, ada juga indikator baru yang menguatkan peluang pemulihan jangka panjang.
Saat ini, sensitivitas Bitcoin terhadap perkembangan ekonomi makro global masih menjadi faktor utama yang perlu diawasi. Apakah aset ini akan terus melemah dalam waktu dekat atau mulai bangkit kembali sangat tergantung pada bagaimana sentimen risiko global berkembang.
Menteri Keuangan Scott Bessent, seorang veteran hedge fund yang telah puluhan tahun berdagang mata uang dan obligasi, kini muncul sebagai manajer krisis utama pemerintahan Trump di pasar global—dengan akurat mendiagnosis penjualan besar-besaran obligasi Jepang dan secara strategis membingkai narasi agar Gedung Putih terlindungi dari tudingan atas aksi agresif mereka terkait Greenland.
Strategi ini menunjukkan bagaimana mantan manajer hedge fund tersebut mengubah dua sekutu terbesar AS di Asia menjadi bidak catur yang berbeda—yang satu dijadikan penanggung jawab, dan yang lain sebagai pemberi investasi.
Veteran Hedge Fund Temukan “Six-Standard-Deviation Move” di Jepang
Dalam sebuah wawancara pada 20 Januari, Bessent menunjuk volatilitas luar biasa di pasar obligasi Jepang sebagai penyebab utama gejolak di pasar global.
“Saya rasa sangat sulit memisahkan reaksi pasar dari apa yang terjadi di dalam negeri Jepang sendiri,” ujar Bessent. “Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka. Jika dibandingkan dengan AS, itu setara dengan pergerakan 50 basis poin pada obligasi 10-tahun.”
Penilaian Bessent ini memang didasarkan pada fakta. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun melewati 4% untuk pertama kalinya sejak mereka diperkenalkan pada 2007, sedangkan imbal hasil obligasi 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 1999. Penjualan ini makin memburuk setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pemilihan cepat pada 8 Februari dan mengonfirmasi rencana menangguhkan pajak penjualan makanan sebesar 8% selama dua tahun—hal ini memicu kekhawatiran investor atas rasio utang terhadap PDB Jepang yang tinggi, yaitu 200%, dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Bessent menegaskan bahwa ia mengharapkan otoritas Jepang segera bertindak. “Saya telah berkomunikasi dengan rekan ekonomi saya di Jepang dan saya yakin mereka akan mulai menyampaikan pernyataan yang bisa menenangkan pasar,” terang Bessent.
Tokyo Tindak Lanjut, Pasar Stabil
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama nampaknya menjawab seruan Bessent dalam acara World Economic Forum di Davos pada hari Selasa.
Katayama berjanji rasio utang Jepang terhadap PDB bisa dikurangi melalui “pengeluaran bijak” dan “langkah fiskal strategis” untuk mendorong pertumbuhan potensial. “Langkah ini akan membawa keberlanjutan keuangan publik dan memastikan kepercayaan pasar,” tutur Katayama.
Respons pasar datang seketika. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) turun di semua tenor pada 21 Januari, dimana obligasi tenor 20 tahun mencatat penurunan terbesar yakni 12,1 basis poin. Imbal hasil obligasi 40 tahun turun menjadi 4,15% dari puncaknya di atas 4,2%.
Rangkaian peristiwa tersebut membenarkan strategi Bessent: temukan titik tekan masalah, minta intervensi verbal, dan biarkan pejabat Jepang bekerja lebih keras menghadapi situasi ini.
Waktu yang Tepat: Mengalihkan dari Dampak Greenland
Meski demikian, framing ala Bessent ini juga punya tujuan ganda. Dengan mengaitkan volatilitas pasar dengan gejolak obligasi Jepang, ia berhasil mengalihkan perhatian publik dari meningkatnya ketegangan pemerintahan Trump terhadap sekutu Eropa terkait Greenland.
“Menurut saya, situasi di Jepang—di mana pasar mereka mengalami pergerakan enam standar deviasi lagi—dan hal itu terjadi sebelum muncul kabar apa pun tentang Greenland,” papar Bessent.
Pada minggu yang sama, Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa—Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia—karena mereka menolak rencana akuisisi Greenland oleh AS. Para pemimpin Eropa menerbitkan pernyataan bersama yang mengecam ancaman tersebut, sementara pejabat Denmark memutuskan memboikot forum di Davos sama sekali.
Dengan menjadikan Jepang sebagai sumber tekanan pasar, Bessent sukses membangun narasi yang membentengi diplomasi agresif Trump dari tanggung jawab pasar secara langsung.
Korea: Studi dalam Kontras
Pendekatan Bessent terhadap Korea Selatan terlihat sangat berbeda, meski kedua negara sama-sama memiliki komitmen investasi besar ke AS. Jepang setuju pada paket investasi sebesar US$550 miliar, lebih besar dibanding Korea yang hanya US$350 miliar. Tapi, Tokyo tetap mendapat tekanan keras sementara Seoul justru mendapat dukungan verbal.
Pada 15 Januari, Bessent memberikan dukungan langka bagi mata uang Korea won yang telah jatuh ke level terendah dalam 17 tahun terhadap dollar. Departemen Keuangan menyatakan bahwa Bessent “menegaskan bahwa volatilitas berlebihan di pasar valuta asing tidak diinginkan” dan menyebut penurunan won “tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Korea yang kuat.”
USD/KRW | Sumber: Investing.com
Won sempat menguat dari sekitar 1.477 menjadi 1.462 per dollar beberapa hari setelah pernyataan Bessent. Tapi reli tersebut hanya berlangsung singkat—karena pada 21 Januari, mata uang ini kembali melemah ke 1.478, sehingga hampir seluruh gain-nya hilang.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa pertimbangan Bessent tidak hanya soal arus investasi. Gejolak di pasar obligasi Jepang memberiknya kambing hitam yang nyaman untuk menyalahkan volatilitas global dan mengalihkan perhatian dari isu Greenland. Sementara Korea tidak menghadirkan peluang seperti itu—maka nilainya pun berbeda di mata Bessent.
Playbook Hedge Fund
Bessent memahami Jepang dengan baik. Pada 2013, saat menjabat sebagai chief investment officer di Soros Fund Management, ia meraup US$1,2 miliar hanya dalam waktu tiga bulan dengan bertaruh terhadap yen Jepang. Satu dekade kemudian, dia menggunakan keahliannya itu—bukan untuk meraup untung dari gejolak Tokyo, tetapi justru sebagai tameng politik.
Bersama Jepang, ia menemukan dislokasi pasar yang nyata dan memanfaatkannya sebagai alat kebijakan serta pelindung politik. Dengan Korea, dia lebih banyak memberikan dukungan verbal untuk menjaga komitmen investasi besar, sedangkan terhadap Eropa, pemerintahan Trump justru memilih opsi konfrontasi langsung.
Pendekatan ini menandai perubahan dari doktrin lama Treasury yang biasanya menghindari untuk mengomentari nilai tukar tertentu. Tapi, Bessent sekarang menjalankan strategi khusus di setiap negara, menyesuaikan tekanan dan dukungan berdasarkan kepentingan strategis AS.
Apakah strategi ini bisa berjalan terus atau tidak, sangat bergantung pada faktor-faktor di luar kendali Bessent—termasuk apakah jalur fiskal Jepang benar-benar membaik, atau apakah pasar nantinya menghubungkan ancaman perdagangan Trump dengan ketidakstabilan keuangan yang lebih luas.
Saat ini, mantan trader makro tersebut sudah memberi waktu bagi pemerintahan, dengan memakai krisis obligasi Tokyo sebagai tameng dan tetap menjaga Seoul tetap di pihak mereka. Ini adalah manajemen risiko ala hedge fund: pisahkan variabel yang bisa dikendalikan, lalu cari pihak lain untuk disalahkan untuk sisanya.
Sebuah token Solana yang relatif tidak dikenal bernama “US Oil” (USOR) melonjak lebih dari 150% dalam 24 jam pada Senin (19/1), sempat mendorong kapitalisasi pasarnya melampaui US$40 juta. Lonjakan ini terjadi ketika trader bereaksi terhadap kabar terbaru mengenai langkah Amerika Serikat menjual aset minyak Venezuela yang disita.
Token ini menjadi tren di CoinGecko, meskipun analis on-chain dan trader memperingatkan bahwa reli ini menunjukkan tanda klasik spekulasi pump.
Geopolitik Berubah Menjadi Narasi Meme yang Bisa Trader Perdagangkan
Menariknya, reli USOR datang bertepatan dengan meningkatnya perhatian geopolitik atas sektor minyak. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Washington mulai menjual blok minyak Venezuela yang sebelumnya disita.
President Trump said the US has taken about 50 million barrels of oil out of Venezuela and sold some of it on the open market.
Latar makro tersebut rupanya merembes ke pasar kripto. Trader dengan cepat menempelkan narasi politik ke USOR, meski tidak ada keterkaitan terverifikasi antara token ini dengan cadangan minyak pemerintah AS.
Pada puncak reli, USOR bertengger di atas US$0,04, dengan volume harian mendekati US$20 juta.
USOR Naik 150% pada 20 Januari | Sumber: CoinGecko
Pergerakan harga menunjukkan pola naik yang hampir vertikal, struktur yang oleh beberapa trader dianggap tidak normal.
Pasar USOR terpusat di ekosistem Solana, terutama melalui platform decentralized seperti Meteora. Platform charting menampilkan peringatan “chart mencurigakan” saat volume serta harga melonjak tajam.
Website proyek ini mengeklaim USOR sebagai “indeks cadangan on-chain” yang melakukan tokenisasi cadangan minyak AS, serta menggambarkan diri sebagai token yang didukung minyak, sejalan dengan kepentingan AS, dan dikelola secara transparan kepada publik.
Klaim Tokenisasi Cadangan Minyak AS yang Tidak Terverifikasi dari Proyek Ini
Kendati begitu, situsnya sama sekali tidak menyediakan bukti kepemilikan, struktur hukum, maupun keterkaitan dengan infrastruktur cadangan minyak resmi AS.
Selain itu, terdapat spekulasi bahwa token ini bisa saja menjadi aksi para insider, karena peluncurannya berlangsung di platform yang sama dengan meme coinTRUMP, yakni Meteora.
Grafik Viral, Bukti Tipis, dan Tanda Bahaya yang Menguat
Sementara itu, reaksi di crypto Twitter sangat terbelah tajam.
Sejumlah trader menilai narasi USOR sengaja direkayasa untuk menunggangi berita dunia nyata, dengan indikasi promosi terkoordinasi, wallet yang saling terhubung, serta minimnya akumulasi organik.
Ada pula yang mengingatkan bahwa branding token ini sangat mirip dengan perkembangan geopolitik sebagai upaya untuk melakukan rug pull.
retail is getting baited again by memecoins
got a text from a friend asking about Trump making 9-5 workers rich and a pump happening on Jan 31-Feb 1st
all tiktoks and roads lead to $USOR, which I'll give it to them is fucking genius
Salah satu postingan yang banyak dibagikan menggambarkan USOR sebagai “paparan on-chain terhadap cadangan minyak Venezuela”, yaitu klaim yang belum mendapat konfirmasi dari otoritas AS maupun lembaga energi mana pun.
Banyak analis membantah dengan menilai bahwa waktu kemunculan, branding, serta struktur grafiknya sangat mirip dengan meme coin bertema politik yang sebelumnya sempat melejit gara-gara headline lalu langsung ambruk.
⚠️ RUG PULL WARNING
U.S Oil – $USOR looks to be a bundled scam. The developer of this project has clustered most of the supply in the top 100 wallets which are under their control.
GMGN labels dozens of sniper wallets in this project. The Bubblemaps looks atrocious here too.… pic.twitter.com/PQrKD0uoFG
Data on-chain yang dibagikan oleh tracker independen menunjukkan pasokan token terpusat di klaster wallet tertentu.
Visual bubble map yang beredar di X mengindikasikan bahwa banyak holder terbesar saling terhubung. Walhasil, itu menimbulkan kekhawatiran adanya kontrol terpusat dan juga risiko likuiditas keluar bagi pembeli yang masuk terlambat.
Secara keseluruhan, USOR menjadi contoh lain betapa cepatnya berita ekonomi makro dan politik dapat mengalir ke spekulasi aset kripto.
Di saat AS tengah menavigasi strategi baru serta rumit terhadap minyak Venezuela, sebagian pelaku pasar aset kripto nampak ingin segera memonetisasi narasi ini—sering kali tanpa bukti.
Apakah USOR hanya sekadar meme coin sesaat atau jadi sesuatu yang lebih tahan lama masih belum jelas. Yang pasti, para trader kembali berlomba-lomba memperdagangkan cerita ini, walaupun peringatan semakin keras bahwa narasi tersebut bisa jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena token USOR yang memanfaatkan isu minyak Venezuela di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Pasar global kembali memasuki mode risk-off pada Selasa (20/1) setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menegaskan kembali kesiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menggunakan tarif sebagai senjata geopolitik utama. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi berbasis perang dagang, tepat ketika pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Bitcoin tergelincir ke bawah US$90.000, sementara Ethereum melorot ke bawah US$3.000. Sebab, investor meninjau ulang risiko makro menyusul komentar Bessent di World Economic Forum (WEF) Davos.
Koreksi pasar kripto usai pernyataan tarif Trump terhadap Uni Eropa | Sumber: CoinGecko
Tarif Sebagai Alat Penekan, Bukan Pilihan Terakhir
Dalam pidatonya di Davos, Bessent menekankan bahwa tarif tetap menjadi elemen sentral dalam strategi kebijakan luar negeri AS. Ia menggambarkan tarif bukan sebagai langkah sementara, melainkan sebagai instrumen yang efektif untuk menekan mitra internasional.
“Duduklah, tarik napas dalam-dalam, dan jangan melakukan pembalasan. Presiden akan berada di sini besok dan ia akan menyampaikan pesannya,” ucap Bessent, menanggapi kritik Eropa terkait ancaman tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland.
Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa Gedung Putih telah mengantisipasi perlawanan dari negara-negara sekutu dan siap meningkatkan eskalasi bila diperlukan. Pasar menafsirkan ini sebagai konfirmasi bahwa risiko gesekan dagang, khususnya antara AS dan Uni Eropa, kembali meningkat.
Bessent juga mengungkapkan garis waktu yang konkret. Ia menyebut Presiden Trump dapat memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari, apabila Denmark dan negara-negara sekutu menolak bekerja sama terkait Greenland.
At Davos today, U.S. Treasury Secretary Scott Bessent warned it would be “very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to take Greenland.
He added that European leaders should take President Trump at his word, arguing the U.S. needs Greenland for strategic leverage… pic.twitter.com/3SwvUadzMl
Di luar isu geopolitik, Bessent membela tarif sebagai kebijakan yang efektif secara ekonomi dan menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan merugikan perekonomian domestik AS.
“Sangat kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi utama seorang presiden,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa tarif telah menghasilkan “ratusan juta dolar” bagi negara.
Data terbaru dari ekonom Eropa dan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa tarif berfungsi layaknya pajak konsumsi terselubung, yang secara bertahap menekan likuiditas rumah tangga.
Dinamika ini krusial bagi pasar kripto. Pasalnya, berkurangnya daya beli serta meningkatnya tekanan harga secara langsung melemahkan aliran modal spekulatif, terutama ke aset berisiko tinggi seperti kripto.
What is President Trump’s Greenland ambition really about? 🇬🇱🇺🇸 Is it a true national security priority for the US, or a behind-the-scenes push from tech billionaires? @c_grigera reports. pic.twitter.com/KdDapTIpBM
Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar obligasi pasca-komentarnya, dengan menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil lebih disebabkan oleh gejolak di Jepang, bukan kebijakan AS.
“Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka,” katanya, seraya menilai sulit untuk mengisolasi faktor spesifik AS.
Kendati demikian, pelaku pasar lebih menyoroti gambaran besar: ancaman tarif baru, eskalasi geopolitik, dan meningkatnya volatilitas suku bunga—kombinasi yang secara historis memberikan tekanan signifikan pada pasar kripto.
Kegagalan Bitcoin mempertahankan level US$90.000 dan koreksi Ethereum ke bawah US$3.000 mencerminkan evaluasi ulang risiko tersebut. Altcoin tercatat mengalami koreksi yang lebih curam, sejalan dengan aksi pelepasan leverage dan pengurangan eksposur risiko.
Aksi jual ini mencerminkan pola yang sudah familier, di mana pengumuman tarif menguras likuiditas tanpa langsung memicu kontraksi ekonomi yang luas. Tarif menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar kripto bergerak sideways setelah guncangan likuidasi pada Oktober lalu, meskipun minat institusional terus tumbuh secara perlahan.
Forum Davos kembali menempatkan risiko tersebut di garis depan.
Bitcoin holders realizing losses, for a 30-day period since, late December for the first time since October 2023. pic.twitter.com/OGsPYm8714
Walaupun Bessent menekankan kekuatan ekonomi AS dan pertumbuhan sektor swasta yang makin pesat, pasar lebih menanggapi arah kebijakan daripada optimisme.
Penyajian tarif sebagai alat tawar-menawar, bukan cadangan, memperjelas ketidakpastian yang berlangsung—dan aset kripto menjadi salah satu yang paling cepat merespons penyesuaian tersebut.
Untuk saat ini, pesan dari Davos jelas: risiko inflasi akibat perang dagang kembali mengancam, dan pasar kripto pun sedang menyesuaikan diri.
Bagaimana pendapat Anda tentang ancaman tarif baru Amerika Serikat yang mengguncang harga Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Bitcoin (BTC) kehilangan seluruh kenaikan awal 2026 setelah terkoreksi sekitar 4% dalam 24 jam terakhir ke area US$88.850 pada Rabu (21/1) pagi waktu Asia.
Harga kini berada nyaris persis di level penutupan akhir 2025, menghapus reli tiga pekan yang sebelumnya sempat mendorong Bitcoin menembus US$97.000. Pada waktu publikasi, BTC berupaya memantul setelah sempat menyentuh level terendah sesi di US$87.901.
Penutupan 2025 yang Mengecewakan
Bitcoin menutup tahun 2025 di kisaran US$87.000–US$88.000, turun sekitar 30% dari rekor all-time high Oktober di US$126.000, serta mencatatkan penurunan tahunan sekitar 6%. Desember menjadi periode yang sangat berat. BTC anjlok sekitar 22%, menjadikannya kinerja bulanan terburuk sejak Desember 2018.
Reli yang dinanti-nantikan, kerap disebut sebagai “Santa rally”, tidak pernah terwujud. Likuiditas liburan yang tipis dan minimnya katalis baru membuat pasar bergerak lesu hingga sesi perdagangan terakhir tahun ini. Upaya berulang untuk merebut kembali area resistance utama terus berujung pada tekanan jual.
Awal 2026: Rebound Singkat Didukung Inflasi dan Harapan Regulasi
Sentimen berubah drastis di awal tahun 2026. Pada 14 Januari, Bureau of Labor Statistics merilis laporan inflasi yang menunjukkan harga mulai stabil, sehingga Bitcoin melesat lebih dari 4% dalam 24 jam dan menembus level US$97.000, yang terakhir kali tercapai pada pertengahan November.
Keberhasilan menembus area US$95.000—zona yang penting secara teknikal sekaligus psikologis—membuka peluang kelanjutan kenaikan. Optimisme terhadap Clarity Act, yang bertujuan membentuk kerangka regulasi menyeluruh bagi aset digital, turut menopang sentimen. Namun, Senat AS menunda agenda pembahasan (markup) RUU tersebut hingga pekan terakhir Januari, menandakan dukungan suara yang dibutuhkan belum sepenuhnya terkunci.
Pada 21 Januari, upaya Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland serta ancaman tarif baru pada sekutu Eropa mengguncang pasar global. Indeks saham acuan AS jatuh lebih dari 2%, VIX menyentuh level tertinggi sejak November, dan dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.
Shiyan Cao dari hedge fund Winshore Capital mengatakan kepada Bloomberg bahwa situasi ini “membuka risiko baru—yaitu orang-orang tidak lagi ingin memegang aset AS”. Maka dari itu, menurut Cao, sekarang investor harus memperhitungkan premi risiko politik.
Aksi jual ini mengingatkan pada ketakutan di April 2025, ketika pengumuman tarif besar-besaran dari Trump memicu penurunan tajam di pasar AS serta lonjakan volatilitas yang sangat signifikan.
Bitcoin kini telah menyelesaikan pergerakan bolak-balik penuh (round trip), menghapus seluruh kenaikan year-to-date dan kembali ke level penutupan 2025. Volatilitas tambahan berpotensi muncul pada Rabu. Yaitu ketika Mahkamah Agung AS mendengarkan argumen terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook.
Meski sebuah kesepakatan pada akhirnya dapat meredakan ketegangan seputar Greenland, proses tersebut diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Dalam periode tersebut, pasar berisiko menghadapi volatilitas yang tetap tinggi.
Untuk sementara, Bitcoin terekam berusaha bertahan di atas US$88.000. Sementara pelaku pasar menilai apakah level ini menjadi peluang beli atau justru awal dari koreksi yang lebih dalam.
Bagaimana pendapat Anda tentang prospek harga Bitcoin (BTC) ke depan? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Strategy (sebelumnya MicroStrategy) melakukan pembelian Bitcoin terbesar sejak November 2024, hanya satu hari sebelum harga Bitcoin turun di bawah ambang US$90.000.
Meski perusahaan ini tetap konsisten menjalankan strategi akumulasi agresif, harga saham Strategy turun lebih dari 7%.
Pembelian Bitcoin Terbesar Strategy sejak 2024
Pada hari Selasa, Strategy mengumumkan telah membeli 22.305 Bitcoin senilai sekitar US$2,13 miliar, sehingga total kepemilikan Bitcoin-nya menjadi 709.715.
Transaksi ini, yang di lakukan pada hari Senin, menjadi pembelian Bitcoin terbesar oleh Strategy sejak November 2024. Selain itu, ini juga mengikuti dua pembelian tambahan yang mereka lakukan di awal Januari, yang semakin menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus memperbesar cadangan Bitcoin-nya.
Pembelian Bitcoin oleh MicroStrategy Dalam 6 Bulan Terakhir | Sumber: Strategy
Walaupun besaran pembelian terbaru ini terbilang signifikan, reaksi pasar tetap tidak terlalu besar. Sama seperti akuisisi yang di umumkan hari Senin lalu, langkah ini gagal meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Strategy.
Dalam 24 jam terakhir, harga saham perusahaan turun 7,39%, dengan MSTR diperdagangkan di harga US$160,87 pada waktu publikasi.
Strategi perusahaan dalam menentukan waktu pembelian Bitcoin juga mendapatkan sorotan dari berbagai pihak.
Harga Saham MicroStrategy pada 20 Januari | Sumber: Google Finance
Akumulasi Bitcoin Tetap Berlanjut meski Pasar Melemah
Menurut pengumuman hari Senin, Strategy membayar rata-rata US$95.284 untuk setiap Bitcoin. Padahal, di hari yang sama harga Bitcoin di perdagangkan di kisaran US$92.500 dan bahkan sempat turun di bawah US$90.000 keesokan harinya.
Waktu pembelian ini menunjukkan pola yang sering terulang, di mana Strategy nampaknya gagal memanfaatkan penurunan harga jangka pendek.
Pada bulan Desember, BeInCrypto melaporkan bahwa perusahaan ini menghabiskan hampir US$1 miliar untuk membeli 10.624 Bitcoin. Walaupun harga Bitcoin saat itu sempat turun ke sekitar US$86.000, Strategy justru melakukan pembelian setelah harga pulih ke kisaran US$90.615.
Pendekatan seperti ini terus menimbulkan pertanyaan mengenai strategi masuk pasar perusahaan dan kecenderungan mereka untuk mengakumulasi Bitcoin di harga tinggi di bandingkan saat terjadi koreksi di pasar.
Meski harga Bitcoin sempat pulih tipis selama sebulan terakhir, aset ini belum mampu kembali ke level US$100.000. Di sisi lain, kekhawatiran analis tentang potensi bear market juga semakin meningkatkan ketidakpastian terkait prospek harga Bitcoin dalam waktu dekat.
Di tengah situasi tersebut, Strategy tetap melanjutkan rencana akumulasi mereka.
Walaupun strategi akumulasi ini dimaksudkan memberi sinyal optimisme pada prospek jangka panjang Bitcoin, sejauh ini langkah tersebut belum banyak meredakan kekhawatiran investor dalam jangka pendek.
Bagaimana pendapat Anda tentang manuver microstrategy ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
ETH mulai menunjukkan tanda-tanda melemah setelah gagal bertahan di atas resistance penting, dan tekanan jual semakin terasa berat. Harga kembali turun setelah sempat naik di awal bulan, sehingga struktur bearish kembali muncul.
Walaupun holder jangka panjang masih memberikan sedikit dukungan, tekanan jual yang semakin besar dan kondisi pasar yang lemah membuat minat beli mereka diuji.
Bisakah LTH Ethereum Mencegah Breakout ke Bawah?
Data on-chain menunjukkan holder Ethereum jangka panjang masih banyak yang berada dalam mode akumulasi. Perubahan Posisi Bersih HODLer terus menampilkan bar hijau sejak akhir Desember, menandakan distribusi berkurang dan akumulasi oleh tangan-tangan kuat terus berlanjut. Perilaku ini membantu menahan koreksi belakangan ini dan memperlambat laju penurunan harga.
Meski begitu, permintaan holder jangka panjang pun bisa kalah jika tekanan dari ekonomi makro dan derivatif terus membesar. Jika sentimen risk-off berlanjut, dukungan jangka panjang saja sepertinya tidak akan cukup untuk mencegah penurunan yang lebih dalam.
Ingin lebih banyak insight token seperti ini? Daftar Newsletter Harian Kripto Editor Harsh Notariya di sini.
Perubahan Posisi HODLer Ethereum | Sumber: Glassnode
Bull Ethereum Hadapi Kerugian Lebih Lanjut
Pada pasar derivatif ETH tampak beberapa sinyal peringatan. Posisi Futures saat ini sangat berat ke sisi short, dengan lebih dari 83% open interest cenderung bearish. Ketidakseimbangan seperti ini biasanya memperbesar volatilitas ketika harga bergerak, apalagi saat mendekati level psikologis utama.
Data likuidasi menunjukkan zona bahaya jelas berada di sekitar US$3.000. Jika harga masuk ke area tersebut, sekitar US$368 juta posisi long berisiko terlikuidasi. Bila itu terjadi, tekanan jual bisa meningkat tajam karena posisi bullish terhapus.
Indikator momentum pun mendukung sentimen bearish. Money Flow Index turun di bawah garis tengah 50, yang menandakan modal mulai keluar. Setelah sempat menyentuh area overbought di awal bulan ini, tekanan beli ETH terus berkurang secara perlahan.
MFI yang menurun biasanya berarti penjual masih mendominasi sampai situasi berubah. Selama arus modal belum stabil atau kembali positif, harga Ethereum masih rentan untuk terus turun.
Harga Ethereum berada di kisaran US$3.109 pada waktu publikasi. Grafik 12 jam memperlihatkan pola double top yang sedang berkembang, di mana formasi ini bersifat bearish. Pola ini memperkirakan potensi penurunan sebesar 7,5% dengan target menuju level US$2.900 jika pola terkonfirmasi.
Faktor teknikal dan on-chain semakin menguatkan skenario penurunan tersebut. Jika kehilangan support US$3.085 maka akan mengonfirmasi breakdown. Tekanan jual bisa semakin deras begitu ETH tembus di bawah level psikologis US$3.000, di mana risiko likuidasi meningkat signifikan dan pertahanan bullish jadi melemah.
Reversal bullish masih mungkin terjadi jika holder jangka panjang tetap dominan. Pemantulan yang sukses dari US$3.085 bisa mengembalikan kepercayaan pasar. Dalam skenario tersebut, Ethereum mungkin akan mencoba pulih menuju US$3.287. Jika berhasil kembali ke level itu, maka skenario bearish dapat dianggap gagal dan permintaan baru akan muncul.
Harga emas melonjak, minyak anjlok, dan Bitcoin stagnan di tahun 2025. Di saat yang sama, banyak perusahaan diam-diam membeli aset kripto senilai puluhan miliar US$. Pergerakan ini bersama-sama memperlihatkan bagaimana tarif, likuiditas, dan perilaku institusi membentuk ulang pasar menjelang 2026.
Data dari CoinGecko menunjukkan tahun yang penuh dengan kontras tajam. Emas naik 62,6%, minyak turun 21,5%, dan Bitcoin berakhir turun 6,4%. Meski begitu, Digital Asset Treasury Companies (DAT) menggelontorkan hampir US$50 miliar ke dalam Bitcoin dan Ethereum, sehingga menguasai lebih dari 5% total pasokan.
Performa Harga Bitcoin Vs Aset Utama di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko
Emas Menguat saat Tarif Meningkatkan Ketidakpastian
Kinerja emas yang unggul sejalan dengan situasi yang penuh tarif. Hambatan dagang meningkatkan ketidakpastian, melemahkan kepercayaan pada stabilitas mata uang jangka panjang, dan mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Emas langsung mendapat keuntungan dari situasi ini.
Berbeda dengan aset pertumbuhan, emas tidak butuh likuiditas yang terus meningkat untuk reli. Emas merespons risiko kebijakan dan tekanan geopolitik. Karena tarif meningkat dan gesekan perdagangan global terus naik, emas menjadi pilihan lindung nilai utama.
Minyak Menyerap Kejutan Pertumbuhan Saat Bitcoin Tertahan
Minyak justru menunjukkan cerita sebaliknya. Tarif memperlambat perdagangan, menekan aktivitas manufaktur, serta mengurangi volume pengiriman barang. Itu secara langsung menekan permintaan energi.
Harga minyak mentah turun 21,5% di tahun 2025 karena pasokan tetap melimpah dan produksi non-OPEC naik. Dalam situasi penuh tarif, minyak bergerak seperti proksi pertumbuhan—dan laju pertumbuhan pun menurun.
Capaian -6,4% Bitcoin pada tahun ini mencerminkan tarik-menarik. Tarif menyebabkan ketidakpastian yang seharusnya menguntungkan aset lindung nilai, tapi juga menguras likuiditas bebas. Di saat yang sama, inflasi di AS tetap moderat namun cenderung bertahan, sehingga kondisi keuangan tetap ketat.
Hasilnya adalah konsolidasi panjang setelah guncangan likuidasi pada bulan Oktober. Bitcoin tidak anjlok seperti minyak dan juga tidak reli seperti emas. Bitcoin menunggu tekanan likuiditas mereda.
Walau tarif berperan sebagai “pajak domestik yang lambat”, inflasi tetap terjaga. Biaya naiknya tarif diambil secara bertahap oleh importir dan peritel, sehingga kenaikan harga ke konsumen tertunda. Itulah sebabnya stres terhadap mata uang fiat tidak begitu terlihat di data utama, sekalipun daya beli publik diam-diam menyusut.
“Slow burn” ini membatasi selera risiko tanpa memicu kepanikan—itulah salah satu alasan kenapa kripto bergerak sideways, bukan mengalami penurunan drastis.
Pembeli Treasury Terus Akumulasi Selama Reset
Ketika harga masih tertahan, DAT justru membeli besar-besaran. Mereka membelanjakan US$49,7 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar setengahnya dilakukan di paruh kedua tahun. Kepemilikan mereka naik menjadi US$134 miliar pada akhir tahun, meningkat 137% dibanding tahun sebelumnya.
Perilaku ini menandakan keyakinan jangka panjang. Pembeli treasury menerima volatilitas demi mengamankan pasokan. Akumulasi mereka selama periode penurunan membuat Bitcoin dan Ethereum makin terkonsentrasi di pemegang kuat, serta mengurangi jumlah yang tersedia di pasar.
Pembelian Kripto oleh Digital Asset Treasury di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko
Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tahun pengetatan untuk pasar kripto. Tarif mendukung emas, menekan minyak, dan menunda siklus Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas. Sementara itu, institusi membangun posisi mereka secara diam-diam.
Saat tekanan tarif tidak lagi bertambah berat dan tekanan jual mulai reda, Bitcoin perlahan bergerak lagi. Pasar memasuki 2026 dengan pasokan yang lebih ketat, holder yang lebih kuat, dan peluang ekspansi yang lebih jelas ketika likuiditas membaik.
Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena divergensi aset antara emas dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!