Reading view

Data Tarif Baru Tunjukkan Mengapa Pasar Kripto Macet Selama Berbulan-Bulan

Riset terbaru yang dikutip oleh The Wall Street Journal menunjukkan tarif perdagangan AS secara diam-diam membebani ekonomi domestik. Beban inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa pasar kripto kesulitan untuk mendapatkan momentum sejak aksi jual di bulan Oktober.

Sebuah studi dari Kiel Institute for the World Economy di Jerman menemukan bahwa untuk tarif yang diterapkan antara Januari 2024 hingga November 2025, sebanyak 96% biaya ditanggung oleh konsumen dan importir di AS, sedangkan eksportir asing hanya menanggung 4% saja.

Hampir US$200 miliar pendapatan dari tarif dibayarkan hampir seluruhnya di dalam ekonomi AS.

By analyzing $4 trillion of shipments between January 2024 and November 2025, researchers found that foreign exporters absorbed only about 4% of the burden of last year’s U.S. tariff increases by lowering their prices, while American consumers and importers absorbed 96%.

The…

— Nick Timiraos (@NickTimiraos) January 19, 2026

Tarif Bea Masuk Berperan Seperti Pajak Konsumsi Domestik

Riset ini menantang klaim politik utama yang menyatakan tarif dibayar oleh produsen asing. Faktanya, importir AS yang membayar tarif di perbatasan, lalu menanggung atau meneruskan biayanya ke konsumen.

Eksportir asing sebagian besar tetap mempertahankan harga. Alih-alih, mereka mengirimkan barang lebih sedikit atau mengalihkan pasokan ke pasar lain. Hasilnya bukan impor yang lebih murah, melainkan volume perdagangan yang menurun.

Ekonom menyebut efek ini sebagai pajak konsumsi yang berjalan lambat. Harga tidak langsung melonjak. Biaya secara perlahan masuk ke rantai pasok dari waktu ke waktu.

Presiden AS Trump Terapkan Tarif Baru ke Sejumlah Negara Eropa karena Menolak Penawaran Pembelian Greenland. Sumber: Truth Social

Inflasi AS Tetap Moderat, tapi Tekanan Mulai Meningkat

Inflasi AS masih cukup terkendali sampai tahun 2025. Karena itu, sebagian orang beranggapan tarif tidak berdampak besar.

namun, studi yang dikutip WSJ menunjukkan hanya sekitar 20% biaya tarif yang masuk ke harga konsumen dalam enam bulan. Sisanya ditanggung importir dan retailer, sehingga memangkas margin mereka.

Keterlambatan ini menjelaskan mengapa inflasi tetap moderat namun daya beli perlahan menurun. Tekanan menumpuk secara diam-diam, bukan meledak seketika.

Today, the US CPI inflation is 1.57% (YoY).

It's been holding below the 2% target since the end of the year.

To calculate an independent gauge of US inflation, we aggregate millions of price points daily, whereas the official US inflation is reported by the US Bureau of Labor… pic.twitter.com/ysDd9Obt68

— Truflation (@truflation) January 19, 2026

Bagaimana Ini Terkait dengan Stagnasi Pasar Aset Kripto

Pasar kripto bergantung pada likuiditas dari dana lebih. Pasar akan naik ketika rumah tangga dan bisnis percaya diri untuk mengalokasikan modal berlebih.

Tarif telah menguras kelebihan dana itu sedikit demi sedikit. Konsumen membayar lebih mahal. Bisnis menanggung tambahan biaya. Dana tunai untuk aset spekulatif pun jadi lebih sedikit.

Hal inilah yang membuat pasar kripto tidak ambruk setelah Oktober, tapi juga gagal rebound lebih tinggi. Market masuk ke liquidity plateau, bukan bear market.

Aksi jual di bulan Oktober menguras leverage dan menghentikan arus dana ke ETF. Dalam kondisi normal, inflasi yang mulai reda biasanya membuat minat risiko kembali naik.

tapi, tarif menjaga kondisi keuangan tetap ketat secara perlahan. Inflasi tetap di atas target. The Fed pun terus berhati-hati. Likuiditas tidak berkembang.

Harga kripto pun bergerak sideways akibatnya. Tidak ada kepanikan, tapi juga tak ada bahan bakar untuk kenaikan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data tarif baru ini bukan satu-satunya penjelasan volatilitas pasar kripto. Tapi, data ini membantu menjelaskan kenapa market tetap tertahan.

Tarif diam-diam memperketat sistem, menguras dana ekstra, dan menunda kembalinya minat risiko.

  •  

Taruhan Tokenized Securities NYSE Bisa Membentuk Ulang Pasar Saham AS

New York Stock Exchange sedang mempersiapkan fondasi untuk salah satu perubahan paling besar pada infrastruktur pasar saham AS dalam beberapa dekade terakhir.

Bursa ini mengumumkan rencana untuk mendukung sekuritas ter-tokenisasi dan memungkinkan perdagangan tanpa henti selama 24 jam, 7 hari seminggu. Upaya ini bertujuan memodernisasi cara saham diperdagangkan, diselesaikan, dan menerima informasi dalam sistem keuangan global.

Jika berhasil, perubahan ini bisa mengubah mekanisme pembentukan harga, risiko penyelesaian, perilaku likuiditas, dan psikologi investor di seluruh pasar AS.

Apa yang Sebenarnya Diusulkan oleh NYSE

Rencana NYSE berfokus pada pembangunan platform berbasis blockchain yang mampu mendukung versi ter-tokenisasi dari sekuritas tradisional, seperti saham dan ETF. Sekuritas ter-tokenisasi ini akan mewakili saham asli yang diakui secara hukum, didukung satu banding satu dengan aset dasarnya, dan diatur oleh hukum sekuritas AS yang berlaku.

Today, NYSE is proud to announce the development of a platform for trading and on-chain settlement of tokenized securities.

NYSE’s new digital platform will enable tokenized trading experiences, including 24/7 operations, instant settlement, orders sized in dollar amounts, and…

— NYSE 🏛 (@NYSE) January 19, 2026

Sebuah saham ter-tokenisasi tetap merepresentasikan kepemilikan di perusahaan publik, dengan hak ekonomi dan tata kelola yang sama seperti saham konvensional. Perbedaannya ada pada cara pencatatan kepemilikan dan penyelesaian transaksi.

Poin pentingnya, NYSE tidak serta-merta mengganti sistem pasar yang sudah ada. Sekuritas ter-tokenisasi ini dirancang untuk beroperasi bersama-sama dengan saham tradisional, dengan kemungkinan saling dipertukarkan di masa depan.

Jadi, ini merupakan sistem paralel, bukan perpindahan paksa.

NYSE’s announcement on tokenized securities is being misunderstood across X.

The New York Stock Exchange is not turning stocks into crypto, moving markets on-chain overnight, or launching DeFi for equities. This is an announcement of intent, not an approved or live product.

At… pic.twitter.com/NQ1fHV0A2r

— Andrew Hiesinger (@AndrewHiesinger) January 19, 2026

Struktur Pasar Saham Saat Ini Mulai Menua

Meski teknologi sudah berkembang pesat selama puluhan tahun, pasar saham AS masih bergantung pada struktur berlapis yang dibuat untuk era sebelum digital. Proses perdagangan, kliring, penyelesaian, dan penitipan saham ditangani oleh pihak berbeda, masing-masing memegang buku catatannya sendiri.

Struktur ini menimbulkan beberapa masalah. Modal tertahan selama masa penyelesaian. Risiko pihak lawan tetap ada sampai transaksi benar-benar selesai. Rekonsiliasi antarlembaga perantara menambah biaya dan risiko operasional.

Lebih penting lagi, pasar tetap terikat pada jam perdagangan tetap, sementara arus informasi kini berjalan secara global dan terus-menerus.

Gesekan-gesekan ini memang tidak selalu terlihat oleh investor ritel. tapi faktor-faktor inilah yang membentuk volatilitas, likuiditas, dan perilaku pasar setiap hari.

The NYSE is going all-in on tokenization.

The world's most iconic stock exchange just announced plans for 24/7 trading and instant settlement of tokenized securities.

“Tokenization has the potential to bring greater efficiency, transparency and accessibility to capital… pic.twitter.com/JajKg1zX0T

— Ondo Finance (@OndoFinance) January 19, 2026

Tokenisasi Mengubah Segalanya di Tingkat Infrastruktur

Tokenisasi menargetkan masalah-masalah ini secara langsung. Dengan merepresentasikan sekuritas di buku digital bersama, pembaruan kepemilikan dan penyelesaian bisa berlangsung hampir seketika. Proses perdagangan dan penyelesaian pun tidak harus terpisah lalu digabungkan belakangan.

Hal ini mengurangi risiko penyelesaian karena penyerahan dan pembayaran bisa terjadi secara otomatis dalam satu transaksi. Selain itu, efisiensi modal juga meningkat karena jaminan dan uang tunai tidak lagi mengendap menunggu penyelesaian.

Bagi institusi, hal ini berpengaruh pada neraca keuangan. Untuk pasar secara keseluruhan, proses administrasi pasca-perdagangan yang makin rumit bisa lebih sederhana.

Poin pentingnya adalah tokenisasi tidak mengubah apa itu saham, melainkan mengubah cara sistem memproses kepemilikan saham.

Sebuah pasar ter-tokenisasi yang dirancang untuk beroperasi tanpa henti akan mengubah dinamika lama. Perdagangan tidak perlu berhenti saat akhir pekan atau larut malam. Pembentukan harga pun berlangsung secara terus-menerus, bukan dibatasi waktu.

Ini membawa dampak penting. Saat ini, jika ada laporan keuangan, kejadian geopolitik, atau data ekonomi makro yang muncul di luar jam bursa, penyesuaian harga jadi tertunda dan lalu terjadi lonjakan tajam saat bursa dibuka.

Secara keseluruhan, perdagangan tanpa henti membuat harga menyesuaikan secara bertahap seiring menyebarnya informasi, sehingga titik-titik kejutan buatan bisa berkurang.

  •  
❌