Reading view

3 Alasan Mengapa Januari Bitcoin Merupakan Fase Konsolidasi yang Krusial

Fase konsolidasi Bitcoin sering terasa tidak nyaman bagi trader. Fase ini menguji kesabaran dan keyakinan. Tapi, periode ini juga bisa menciptakan peluang bagi investor yang mengikuti rencana manajemen modal dengan disiplin.

Beberapa sinyal menunjukkan Januari bisa menjadi bulan saat Bitcoin memasuki fase konsolidasi krusial sebelum pemulihan harga.

3 Sinyal Tunjukkan Januari Bisa Jadi Saat Bitcoin Membentuk Local Bottom

Berdasarkan data teknikal, on-chain, dan exchange, para analis percaya sinyal positif untuk pemulihan jangka panjang sudah mulai muncul.

Pertama, data teknikal menunjukkan Bitcoin sedang mendekati zona DCA optimal berdasarkan moving average (MA).

Menurut platform analitik on-chain Alphractal, zona akumulasi jangka panjang yang ideal biasanya terbentuk saat harga BTC turun di bawah semua moving average harian, mulai dari siklus 7 hari hingga 720 hari. Kondisi ini menciptakan “zona aman” di mana harga dianggap undervalued terhadap tren jangka panjangnya.

Saat ini, Bitcoin sudah turun di bawah sebagian besar moving average-nya sejak November lalu. Hanya MA720 yang masih bertahan. Level ini berada di kisaran US$86.000.

“Bitcoin sedang sangat dekat dengan salah satu zona terbaik untuk menerapkan strategi DCA. Secara historis, zona ini sangat baik untuk akumulasi jangka panjang. Agar itu terjadi, BTC harus turun di bawah US$86.000,” komentar Alphractal .

Bitcoin Dynamic MA & Price. Source: Alphractal
Bitcoin Dynamic MA & Harga | Sumber: Alphractal

Bitcoin turun di bawah US$86.000 belum tentu langsung menjadi titik terendah, tapi data historis menunjukkan periode BTC menembus MA7 sampai MA720 biasanya berlangsung beberapa bulan.

Kedua, data on-chain memperlihatkan pertumbuhan jaringan Bitcoin berada di titik terendah selama beberapa tahun terakhir. Meski terlihat negatif, pola historis justru menunjukkan hal ini sering menjadi awal fase pemulihan.

Menurut Swissblock, sebuah dana investasi sekaligus penyedia informasi pasar, lemahnya aktivitas jaringan dan likuiditas rendah mengindikasikan Bitcoin sedang berada di fase akumulasi atau konsolidasi sebelum pergerakan besar selanjutnya.

“Pertumbuhan jaringan sudah menyentuh titik terendah sejak 2022, sementara likuiditas terus berkurang. Pada 2022, level jaringan seperti ini memicu fase konsolidasi BTC saat pertumbuhan jaringan mulai membaik, walaupun likuiditas masih lemah dan mendekati dasar,” papar Swissblock.

Bitcoin Network Growth vs Liquidity. Source: Swissblock
Pertumbuhan Jaringan Bitcoin vs Likuiditas | Sumber: Swissblock

Swissblock juga menyebutkan bahwa masih diperlukan tanda-tanda adopsi baru di jaringan. Jika skenario ini terjadi, reli seperti tahun 2022 bisa mendorong Bitcoin menyentuh all-time high baru tahun ini.

Ketiga, data exchange memperlihatkan tekanan jual dari para whale turun drastis dalam satu bulan terakhir. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk konsolidasi harga dan pemulihan selanjutnya.

Binance Whale to Exchange Flow. Source: CryptoQuant.
Arus Whale ke Exchange Binance | Sumber: CryptoQuant.

Penurunan Tekanan Jual dari Whale

Berdasarkan data CryptoQuant , arus BTC dari whale ke exchange turun sangat tajam, terutama di Binance.

Secara khusus, pasokan BTC masuk dari transaksi besar yang berkisar antara 100 sampai lebih dari 10.000 BTC telah turun dari hampir US$8 miliar per bulan pada akhir November 2025 menjadi sekitar US$2,74 miliar saat ini. Perubahan perilaku ini sangat mengurangi tekanan suplai di sisi penjual. Hal ini mendukung stabilitas harga serta memperkuat potensi pemulihan.

Kombinasi sinyal teknikal (harga diperdagangkan di bawah moving average utama), data on-chain (pertumbuhan jaringan rendah), dan metrik exchange (penurunan tekanan jual whale) mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang ideal untuk membentuk titik terendah lokal.

Meski begitu, data di atas belum cukup untuk menentukan harga dasar secara pasti. Selain itu, beberapa ketidakpastian eksternal masih belum terhitung. Hal ini termasuk potensi kembalinya tekanan tarif di tengah ketegangan geopolitik dan dampak pasar akibat pergantian kepemimpinan Federal Reserve yang akan datang.

Bagaimana pendapat Anda tentang fase konsolidasi Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Bitcoin Bakal Koreksi 30%+ Menurut Prediksi Trader Veteran Peter Brandt

Trader veteran Peter Brandt membeber prediksi bahwa Bitcoin (BTC) bisa turun menuju zona US$58.000–US$62.000. Bila benar terjadi, itu akan mewakili koreksi sebesar 33–37% dari level harga terkini sekitar US$92.400.

Prediksi ini muncul di tengah Bitcoin yang terus memancarkan banyak sinyal bearish, sementara analis lain juga turut menyoroti adanya risiko koreksi lanjutan.

Peter Brandt Wanti-wanti Bitcoin Berpotensi Drop Merujuk Pola Teknikal

Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), Brandt menyebut Bitcoin berpeluang bergerak turun ke kisaran US$58.000 sampai US$62.000. Chart atau grafik harga yang tercantum menunjukkan bahwa pandangannya bersandarkan pada pola rising wedge yang terbentuk selama dua bulan terakhir.

“US$58.000 sampai US$62.000 adalah area yang saya prediksi akan menjadi tujuan BTC,” begitu isi unggahan tersebut.

Peter Brandt's Bitcoin Price Prediction
Prediksi Harga Bitcoin Peter Brandt | Sumber: X/Peter Brandt

Sebagai informasi, pola rising wedge muncul ketika harga terkonsolidasi di antara dua garis tren naik yang saling mendekat, di mana garis tren bawah naik lebih curam ketimbang garis tren atas.

Pola ini acap kali mengindikasikan melemahnya momentum dan meningkatkan probabilitas pergerakan turun, meskipun analisis teknikal tidak pernah menjamin hasil pasti. Brandt juga mengakui adanya ketidakpastian dalam setiap proyeksi pasar. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika prediksinya meleset.

“Kalau ternyata tidak turun sampai ke sana, saya TIDAK akan malu. Jadi saya tidak perlu melihat para troll menyimpan tangkapan layar ini di masa depan. Saya salah sekitar 50% sejauh ini. Saya tidak masalah jika salah.”

Selain Brandt, beberapa pengamat pasar juga menyoroti skenario bearish lain. Seorang analis menemukan kemiripan antara struktur harga Bitcoin saat ini dengan siklus pasar tahun 2022, lalu berpendapat bahwa aset ini “mengulang pola fractal 2022 secara persis”.

Sang analis membagikan perbandingan visual yang menunjukkan bahwa dalam kedua periode tersebut, Bitcoin sempat mencatat relief rally yang kemudian tertahan di bawah resistance horizontal. Pergerakan ini akhirnya membentuk bull trap sebelum harga menembus support yang menanjak.

Pada 2022, jebolnya support tersebut memicu akselerasi penurunan yang tajam. Menurut analis tersebut, dinamika serupa kini berpotensi kembali terjadi, seiring momentum penurunan yang mulai terakumulasi.

Bitcoin 2022 vs 2026
Bitcoin 2022 vs 2026 | Sumber: Linton Worm

Terakhir, BeInCrypto juga telah menemukan 5 sinyal utama bearish untuk Bitcoin, yang semakin memperkuat kemungkinan pergerakan turun. Meski begitu, beberapa analis punya pandangan yang berlawanan.

Analis Ted Pillows menerangkan bahwa pertumbuhan likuiditas AS secara tahunan mulai menyentuh titik terendah pada November 2025, yang kebetulan juga bertepatan dengan titik terendah lokal bagi Bitcoin.

Menurut Pillows, kondisi likuiditas AS kini sudah mulai membaik, hal yang ia percaya dapat mendukung reli aset kripto.

“Sekarang likuiditas AS membaik, yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memperkirakan akan ada reli aset kripto. Sesederhana itu,” papar dia.

$BTC is still in an uptrend on the weekly chart.

We’ve tested the same support line 3 times now and it keeps holding.
This last bounce around ~$93K shows buyers are still stepping in.

As long as BTC stays above this trendline, the trend stays bullish.

Next level to watch is… pic.twitter.com/XPCC3K0ME6

— Crypto King (@CryptoKing4Ever) January 19, 2026

Aktivitas Crypto Whale OG Bitcoin Kembali Muncul di Tengah Pandangan Pasar yang Terbelah

Di tengah indikator teknikal dan ekonomi makro yang menunjukkan sinyal beragam, data on-chain menunjukkan bahwa holder jangka panjang juga mulai semakin aktif. Platform analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa seorang crypto whale OG Bitcoin yang lama tidak aktif terekam memindahkan 909,38 BTC senilai sekitar US$84,62 juta ke wallet baru setelah 13 tahun.

Saat pertama kali diterima, setiap BTC tersebut bernilai kurang dari US$7, yang berarti telah mengalami apresiasi sekitar 13.900 kali lipat. Pergerakan semacam ini kerap memantik perhatian pasar karena bisa mengindikasikan potensi aksi jual atau reposisi strategis oleh investor awal.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024.

“Sejak 4 Desember 2024, ia sudah menjual $BTC, melakukan dump sebanyak 2.500 $BTC (US$265,0 juta) di harga rata-rata US$106.164. Dia masih menyimpan 2.500 $BTC (US$237,5 juta), dengan total keuntungan lebih dari US$500,0 juta,” terang postingan tersebut.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024. Ihwal ke mana arah Bitcoin selanjutnya, masih harus kita tunggu.

Bagaimana pendapat Anda tentang analisis dan prediksi Bitcoin versi Brandt di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  
❌