Reading view

White House Mungkin Akan Tarik Dukungan untuk CLARITY Act setelah Perseteruan dengan Coinbase

Gedung Putih mempertimbangkan untuk sepenuhnya menarik dukungannya terhadap rancangan undang-undang struktur pasar aset kripto di AS, setelah Coinbase mencabut dukungan dan menolak kembali ke meja perundingan, menurut berbagai laporan.

Administrasi dilaporkan sedang mendorong tercapainya kesepakatan di menit terakhir terkait aturan imbal hasil stablecoin agar dapat memuaskan pihak bank serta membawa pelaku industri kembali sejalan. Jika Coinbase menolak untuk terlibat lagi, Gedung Putih bisa saja meninggalkan rancangan undang-undang tersebut.

Ketegangan CLARITY Act Semakin Meningkat

Konfrontasi ini menjadi babak terbaru dalam saga CLARITY Act yang berlangsung sangat cepat dalam satu minggu terakhir.

🚨SCOOP: The White House is considering pulling its support for the crypto market structure bill entirely if @coinbase does not come back to the table with a yield agreement that satisfies the banks and gets everyone to a deal, a source close to the Trump administration tells me.…

— Eleanor Terrett (@EleanorTerrett) January 17, 2026

Pejabat disebut sangat marah atas apa yang mereka gambarkan sebagai langkah “sepihak” dari Coinbase awal pekan ini. Perusahaan tersebut dikabarkan tidak memberi tahu pihak administrasi terlebih dahulu.

CLARITY Act yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat dirancang untuk mengatasi isu inti dalam regulasi aset kripto di AS. RUU ini menentukan apakah sebagian besar aset digital harus diawasi oleh Commodity Futures Trading Commission atau Securities and Exchange Commission.

Pada awalnya, kerangka kerja ini mendapatkan dukungan luas dari industri.

namun, Komite Perbankan Senat memperkenalkan revisi total rancangan undang-undang tersebut, memperluas kewenangan SEC, memperketat aturan keterbukaan untuk token, membatasi imbal hasil stablecoin, dan menarik sebagian aspek DeFi agar semakin tunduk pada regulasi serta pengawasan bergaya perbankan.

After reviewing the Senate Banking draft text over the last 48hrs, Coinbase unfortunately can’t support the bill as written.

There are too many issues, including:

– A defacto ban on tokenized equities
– DeFi prohibitions, giving the government unlimited access to your financial…

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 14, 2026

Coinbase merespons dengan menarik dukungan mereka, dengan alasan bahwa versi Senat justru merugikan ekuitas ter-tokenisasi, melemahkan peran CFTC, membatasi DeFi, serta membiarkan bank membatasi persaingan di stablecoin.

Langkah Coinbase tersebut langsung mengganggu perjalanan RUU ini dan menyebabkan Senat menunda penjadwalan pembahasan resmi.

Mengapa Gedung Putih Turut Campur

Keterlibatan Gedung Putih menunjukkan betapa pentingnya secara politis RUU ini bagi pemerintahan Trump.

Gedung Putih kini mendorong kompromi soal imbal hasil stablecoin. Hal ini menjadi titik panas antara perusahaan aset kripto dan pihak perbankan, demi menyelamatkan legislasi sekaligus menampilkan persatuan di industri.

Yep https://t.co/CXTOOmrRn8

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 16, 2026

Kegagalan mencapai kompromi bisa membuat administrasi menarik dukungannya, bukan membiarkan RUU itu mandek sebab perpecahan di industri.

Waktu kini sangat krusial.

Mengesahkan CLARITY Act sebelum pemilu paruh waktu November akan memungkinkan pemerintahan Trump mengklaim kemenangan besar dalam inovasi keuangan, kejelasan regulasi, dan daya saing AS di aset digital.

Keterlambatan hingga melampaui pemilu paruh waktu berisiko mengubah total lanskap politik. Kepemimpinan komite bisa berubah, prioritas regulator dapat bergeser, dan Kongres baru mungkin tidak sejalan dengan pendekatan administrasi terhadap pasar aset kripto.

Bagi Gedung Putih, mendorong pengesahan RUU ini dengan cepat bisa mengurangi risiko politik dan menghindari pembukaan kembali perundingan di bawah keseimbangan kekuasaan yang mungkin kurang menguntungkan.

  •  

Pemberi Pinjaman Perumahan AS Akan Terima Bitcoin dan Ethereum untuk Kualifikasi Hipotek

Newrez, salah satu pemberi pinjaman dan pengelola hipotek terkemuka, mengumumkan rencana untuk mulai mengakui aset kripto sebagai syarat kualifikasi hipotek pada Februari 2026.

Langkah ini menandai integrasi besar antara keuangan digital dan pasar properti tradisional.

Newrez Bidik Gen Z dengan Produk Hipotek yang Mengakomodasi Aset Kripto

Inisiatif ini akan memungkinkan peminjam menggunakan kepemilikan Bitcoin, Ethereum, stablecoin yang dipatok US dollar, dan exchange-traded fund (ETF) kripto spot untuk memverifikasi aset. Kepemilikan tersebut juga dapat digunakan untuk memperkirakan pendapatan dalam pengajuan pinjaman hipotek.

Program ini eksklusif untuk produk Smart Series milik Newrez. Lini ini menawarkan pinjaman hipotek non-kualifikasi bagi peminjam yang tidak memenuhi kriteria standar pinjaman pemerintah.

Presiden Newrez, Baron Silverstein ujar langkah ini merefleksikan evolusi yang diperlukan dalam pembiayaan modern seiring industri kripto yang makin terintegrasi dengan keuangan tradisional.

Pemberi pinjaman ini mengutip data internal yang menunjukkan sekitar 45% investor Gen Z dan Milenial memiliki aset kripto. Kelompok ini digambarkan sebagai demografi inti pembeli rumah pertama kali.

Perlu dicatat, selama ini pemberi pinjaman biasanya mewajibkan peminjam untuk menjual aset digital mereka demi membuktikan cadangan dana, yang memicu beban pajak dan membuat mereka keluar dari pasar.

“Kami percaya sekarang adalah waktu yang tepat untuk dengan hati-hati mengintegrasikan aset kripto yang memenuhi syarat ke dalam pembiayaan hipotek modern—sehingga konsumen dapat tetap memiliki investasinya sembari mengakses solusi pendanaan inovatif,” jelas Silverstein.

Newrez Menghindari Decentralized Finance, Wajibkan Penyimpanan di Exchange Teregulasi

Berdasarkan kebijakan baru ini, peminjam bisa memenuhi syarat tanpa perlu menjual asetnya. tapi, pemberi pinjaman akan menggunakan valuasi aset yang sudah disesuaikan dengan pasar untuk memperhitungkan volatilitas harga kripto.

“Misi kami di Newrez adalah melakukan segala yang mungkin agar setiap orang dapat memiliki rumah, dan inovasi ini menjadi langkah baru dalam menciptakan jalur baru untuk memiliki rumah, memberi konsumen fleksibilitas dan kendali,” terang Chief Commercial Officer Newrez, Leslie Gillin.

Selain itu, program ini juga menerapkan aturan ketat bagi peminjam baru. Newrez menegaskan, peminjam bisa menggunakan kripto untuk rasio underwriting, tapi tetap harus membayar uang muka dan biaya penutupan dalam mata uang US dollar.

Selain itu, semua aset yang memenuhi syarat wajib disimpan di entitas yang diawasi di AS, seperti exchange yang sesuai, aplikasi retail FinTech, atau broker yang diatur SEC maupun FINRA.

Syarat ini secara efektif mengecualikan aset yang disimpan di wallet self-custody atau protokol decentralized finance (DeFi).

Sementara itu, pengumuman ini mengikuti perubahan regulasi yang lebih luas di Washington.

Pada Juni 2025, Federal Housing Finance Agency mengeluarkan arahan untuk mempertimbangkan kripto dalam pemodelan risiko hipotek. Lembaga ini meminta Fannie Mae dan Freddie Mac membuat proposal agar aset digital dapat dimasukkan dalam penilaian risiko pinjaman keluarga tunggal.

Arahan tersebut merupakan bagian dari reformasi kebijakan keuangan AS yang dilakukan pemerintahan Trump. Hal ini menandakan mulai mencairnya hubungan antara regulator perumahan federal dan industri kripto.

  •  

Trump Ubah Pilihan untuk The Fed setelah Peluang Hassett Menurun: Siapa yang Akan Gantikan Powell?

Presiden Donald Trump secara terbuka menunjukkan keragu-raguan tentang memindahkan Kevin Hassett ke Federal Reserve, sehingga membuat peluang Hassett menjadi pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed semakin diragukan.

Berbicara di sebuah konferensi, Trump menyebut ia ingin tetap mempertahankan Hassett di posisi saat ini, karena ia khawatir akan kehilangan penasihat kepercayaannya jika Hassett dipindahkan ke The Fed.

BREAKING: President Trump comments on Kevin Hassett, the expected replacement for Fed Chair Powell:

“You were fantastic on TV today, I actually want to keep you where you are.”

“If I move him, these Fed guys don’t talk much, I would lose you. It’s a serious concern to me,”… pic.twitter.com/em0C28Oe6A

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) January 16, 2026

Peluang Kevin Hassett Nampaknya Menurun

Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi tentang siapa yang akan menjadi ketua The Fed berikutnya. Dengan peluang Hassett menurun, kini perhatian beralih ke Kevin Warsh, yang sekarang dipandang oleh pasar dan kalangan Washington sebagai kandidat terkuat.

Nama Hassett sebelumnya banyak dibicarakan sebagai calon utama pengganti Powell menjelang masa transisi Mei 2026.

Namun, pernyataan Trump nampaknya menunjukkan bahwa dia lebih memilih adanya kesinambungan di dalam Gedung Putih dibandingkan memindahkan Hassett ke bank sentral.

Akibatnya, pasar prediksi dan pembicaraan analis dalam beberapa hari terakhir mulai menjauhi nama Hassett.

Kevin Warsh Naik Peringkat di Peluang Polymarket | Sumber: Polymarket

Kevin Warsh Maju ke Depan

Kevin Warsh membawa pengalaman dari bank sentral, setelah pernah menjabat sebagai gubernur The Fed saat krisis keuangan global. Profilnya telah lama menarik minat Partai Republik yang ingin memiliki kredibilitas di mata pasar dan pemisahan yang lebih tegas antara kebijakan moneter dan politik sehari-hari.

Keengganan Trump untuk melepas Hassett telah mengangkat nama Warsh ke jajaran kandidat teratas.

Crypto Lens: Warsh vs. Powell

Terkait aset kripto, Warsh dan Powell lebih banyak berbeda dari segi nada bicara, bukan hasil kebijakan. Powell tetap menjaga pendekatan hati-hati dan mengutamakan kelembagaan, berulang kali menekankan stabilitas keuangan, perlindungan konsumen, serta kejelasan aturan untuk stablecoin dan exchange.

FORMER FED GOVERNOR KEVIN WARSH: Bitcoin "could provide market discipline or it could tell the world that things need to be fixed."

"Bitcoin does NOT make me nervous."

"It can often be a very good policeman for policy." pic.twitter.com/3pYKyCFiCy

— Fiat Archive (@fiatarchive) December 27, 2025

Powell belum pernah secara terbuka mendukung kripto sebagai uang, namun tetap memberikan ruang bagi pasar berkembang di bawah aturan yang ada.

Rekam jejak Warsh menunjukkan sikap skeptis pragmatis. Ia mengakui potensi Bitcoin sebagai penyimpan nilai, sering membandingkannya dengan emas, namun dia tetap berhati-hati terhadap penggunaan aset kripto privat sebagai uang sehari-hari.

Sikap ini menunjukkan kemungkinan adanya pengawasan yang lebih ketat, bukan permusuhan secara langsung. Jika dibandingkan Powell, Warsh memang terdengar lebih terbuka untuk berdiskusi soal aset digital, tapi hasil kebijakan sepertinya akan tetap konservatif.

Waktu Powell Mulai Habis

Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada 15 Mei 2026. Ia masih bisa bertahan sebagai anggota Dewan Gubernur hingga tahun 2028, meskipun jarang ada ketua yang tetap menjabat setelah mengundurkan diri.

Meski inflasi mulai mereda tetapi belum sepenuhnya teratasi, pasar memprediksi ruang perubahan kebijakan yang besar sangat terbatas sebelum Powell lengser.

Trader semakin memproyeksikan satu kali pemangkasan suku bunga lagi di bawah Powell sebelum masa transisi, dengan asumsi data ekonomi mendukungnya.

Mayoritas Pasar Memperkirakan Suku Bunga Akan Tetap Sama Sampai April 2026 | Sumber: CME FedWatch

Setiap perubahan kebijakan besar saat ini nampaknya semakin kecil kemungkinannya, sehingga semakin menegaskan bahwa kebijakan di tahun 2026 dan setelahnya bakal sangat dipengaruhi oleh ketua baru.

Sementara itu, Powell tengah menghadapi situasi politik yang tak biasa. Penyelidikan oleh Departemen Kehakiman terkait kesaksiannya di kongres soal pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed sudah memicu pemanggilan dokumen sebagai barang bukti.

Powell menyampaikan bahwa kasus tersebut tidak memengaruhi kebijakan moneter. Meski begitu, investigasi ini semakin memperkuat perdebatan tentang independensi bank sentral di tengah mendekatnya pergantian kepemimpinan.

  •  
❌