Reading view

Analis Sebut Kedatangan Alien Bisa Picu Volatilitas Ekstrem, Bagaimana Nasib Bitcoin?

Perbincangan mengenai kemungkinan alien memengaruhi Bitcoin (BTC) kini melampaui fiksi ilmiah dan merambah diskursus finansial arus utama. Seorang mantan analis di Bank of England melontarkan peringatan tak lazim: pengumuman resmi tentang keberadaan kehidupan ekstraterestrial di luar bumi dapat memicu guncangan ekonomi global yang sukar diredam. Dalam lanskap yang serba retak ini, Bitcoin mulai diposisikan sebagai jangkar alternatif atau aset safe haven ketika kepercayaan pada institusi tradisional tergerus.

Walau terdengar ganjil, isu tersebut memperoleh traksi di media dan pasar prediksi. Bayangan “pengungkapan besar” memunculkan pertanyaan mendasar tentang stabilitas finansial, reaksi psikologis kolektif, serta relevansi aset digital dalam krisis yang belum memiliki preseden historis.

Pengungkapan Ekstraterestrial dan Bayang-bayang Instabilitas Finansial

Pengungkapan ekstraterestrial merujuk pada konfirmasi resmi, disertai bukti yang tak terbantahkan, atas eksistensi alien cerdas. Helen McCaw, mantan analis keamanan finansial di Bank of England, menilai pengumuman semacam itu dapat memicu ontological shock: guncangan eksistensial yang menembus ranah psikologis hingga ekonomi.

McCaw dikabarkan menyurati Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, dengan peringatan bahwa pasar global tidak disiapkan untuk menilai aset dalam skenario yang merobohkan kerangka valuasi konvensional.

Ia menegaskan bahwa volatilitas ekstrem bisa muncul dari dua kutub emosi yang sama-sama berbahaya: kepanikan dan euforia, disertai runtuhnya keyakinan pada metode penilaian yang selama ini dianggap mapan.

“Pengungkapan UAP sangat mungkin memicu ontological shock dan respons psikologis dengan konsekuensi material… Volatilitas harga ekstrem dapat terjadi di pasar finansial akibat katastrofik atau euforia, serta runtuhnya kepercayaan ketika pelaku pasar tidak lagi yakin bagaimana menilai aset dengan metode yang biasa,” terang McCaw.

Sinyal pasar prediksi menunjukkan isu ini tidak lagi ditempatkan di ranah mustahil. Di Polymarket, probabilitas pengungkapan sebelum 2027 berada di kisaran 11%, meski volume transaksi masih tipis.

Percakapan ini diperkuat oleh makin banyaknya pejabat Amerika Serikat, mulai dari senator hingga eks petinggi intelijen, yang secara terbuka menyinggung fenomena UAP.

Akankah Amerika Serikat mengonfirmasi keberadaan ekstraterestrial sebelum 2027? | Sumber: Polymarket

Dokumenter terbaru serta pernyataan figur politik ikut memelihara persepsi bahwa pengumuman resmi dapat muncul dalam horizon menengah.

Bagi McCaw, pertanyaan krusial bukan soal jika, melainkan bagaimana sistem keuangan bereaksi ketika kabar itu datang secara mendadak. Namun, tak semua kalangan menanggapinya dengan serius, sebagian justru menyambutnya dengan satir tajam.

“Kami menggelar rapat darurat antara CEO Bitcoin dan perwakilan ekstraterestrial. Kesimpulannya, jaringan BTC akan tetap memproduksi blok pada hari pengumuman. Bahkan, duta alien mengusulkan menjalankan node dan proyek mining BTC di sisi jauh bulan,” canda analis kripto dan Bitcoin maximalist David Battaglia.

Que no cunda el pánico 😱

Último momento: Se ha aconsejado al Banco de Inglaterra que se prepare para una importante crisis financiera que podría desencadenarse por un anuncio oficial que confirme la existencia de extraterrestres. 🤡

Hemos tenido una reunión de emergencia el… pic.twitter.com/kd0nzr0bQq

— David Battaglia (@DBATTAGLIAYtube) January 18, 2026

Bitcoin di Tengah Erosi Kepercayaan Institusional

Dalam skenario pengungkapan luas, McCaw memproyeksikan terjadinya arus pelarian menuju aset alternatif. Di antara kandidatnya, Bitcoin mencuat lantaran tidak bernaung di bawah negara ataupun bank sentral. Ketika legitimasi struktur kenegaraan dipertanyakan, aset terdesentralisasi berpotensi menjadi magnet bagi publik yang mencari kepastian di tengah kekacauan.

Ia menilai Bitcoin bisa memainkan peran safe haven digital, sepadan dengan fungsi emas di masa krisis, meski dampak awalnya nyaris pasti kacau dan sulit dipetakan. Volatilitas tinggi diperkirakan mendahului fase stabilisasi, jika itu pun tercapai.

Let’s say Aliens do come to earth.

You think they want USD or Bitcoin to zap ⚡️ back home with? https://t.co/SYPglTFWVh

— CrisCy₿org.Com (@criscyborg) January 18, 2026

Emas sendiri menyimpan paradoks. Rekam jejaknya sebagai penyimpan nilai bisa menarik arus masuk, tetapi bayang-bayang depresiasi jangka panjang juga mengintai jika teknologi luar angkasa memungkinkan ekstraksi logam secara masif.

Berbeda dengan emas, Bitcoin memegang kebijakan moneter yang rigid. Algoritma difficulty adjustment memastikan pasokan tidak melonjak secara tiba-tiba, sekalipun minat atau kapasitas mining meningkat drastis. Kekakuan inilah yang mempertebal narasi Bitcoin sebagai aset yang dapat diprediksi dalam lanskap ketidakpastian ekstrem.

“Kapten, saya sudah tak bisa membedakan kapan Anda serius dan kapan bercanda. Begitulah dunia sekarang, batas antara akal sehat dan absurditas makin kabur. Saya bisa saja menjual BTC dan beralih ke obligasi negara kapan pun,” tulis fedemdq menanggapi komentar Battaglia.

Risiko tentu belum sirna. Serangan sosial, pergeseran konsensus, hingga ancaman komputasi kuantum tetap menjadi variabel laten. Namun demikian, para pengembang telah mulai menyiapkan mitigasi dan jalur peningkatan untuk mengantisipasi ancaman di masa depan.

Kesimpulan

Kemungkinan pengungkapan kehidupan ekstraterestrial telah melahirkan perdebatan yang nyaris tak nyata di dunia finansial. Walau probabilitasnya kecil, skenario ini menelanjangi pertanyaan fundamental: bagaimana pasar bereaksi ketika seluruh asumsi dasar runtuh sekaligus.

Dalam konteks ekstrem tersebut, Bitcoin tampil sebagai opsi perlindungan dari erosi kepercayaan institusional. Di luar soal alien, diskursus ini menegaskan satu hal: aset digital kini dipertimbangkan serius sebagai alternatif ketika dunia memasuki wilayah ketidakpastian yang nyaris tak terbayangkan.

Bagaimana pendapat Anda tentang kedatangan alien yang berpotensi berimbas ke pasar kripto dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Trump Berulah! Bitcoin Turun, Emas ATH. Uni Eropa Siaga Satu?

Bitcoin (BTC) dan emas bergerak ke arah berlawanan ketika ketegangan tarif meningkat antara Presiden AS Donald Trump dan Uni Eropa.

Sementara logam mulia ini reli ke rekor tertinggi baru di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat, aset kripto utama justru melemah. Pergerakan yang saling bertolak belakang ini mencerminkan pola serupa yang terjadi di bulan Oktober. Hal ini kembali memicu perdebatan tentang apa yang bisa terjadi selanjutnya bagi kedua aset tersebut.

Ketegangan Perdagangan AS–Uni Eropa Meningkat setelah Langkah Tarif Terbaru Trump

Pada 17 Januari 2026, Presiden Trump mengumumkan tarif sebesar 10% untuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, yang berlaku mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni dan tetap berlaku sampai Amerika Serikat mendapatkan kesepakatan untuk membeli Greenland.

Sementara itu, para perwakilan dari delapan negara yang terdampak tarif baru AS mengadakan pertemuan darurat pada Minggu. Dalam pernyataan bersama, Presiden Costa dan Presiden von der Leyen menyampaikan bahwa Uni Eropa “sepenuhnya mendukung” Denmark dan rakyat Greenland. Hal ini menandakan respons politik yang bersatu atas langkah Washington terbaru ini.

Selain itu, Financial Times melaporkan bahwa Uni Eropa tengah mempertimbangkan paket balasan yang lebih luas. Bisa saja mencakup tarif senilai hingga €93 miliar (US$107,71 miliar) atau melarang perusahaan-perusahaan AS memasuki pasar blok kawasan tersebut.

Guncangan Tarif Dorong Investor ke Emas saat Saham dan Bitcoin Turun

Pasar bereaksi cepat terhadap berita tarif tersebut, namun dengan cara bertolak belakang. Harga emas melonjak hingga US$4.690/oz pada awal perdagangan Asia hari ini, menandai level tertinggi sepanjang masa (ATH) baru.

Harga perak juga naik mencapai rekor baru di atas US$94/oz. Sebaliknya, pasar saham dibuka melemah.

BREAKING: Stock market futures officially open for the first time since President Trump announced 10% tariffs on 8 EU countries, demanding an acquisition of Greenland:

1. S&P 500: -0.7%
2. Nasdaq 100: -1%
3. Dow Jones: -0.5%
4. Gold: +1%
5. Silver: +3%

It’s going to be an…

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) January 18, 2026

Bitcoin juga bergerak turun bersama sejumlah aset berisiko lainnya. Data Pasar BeInCrypto menunjukkan bahwa BTC sempat turun di bawah US$95.000.

Pada waktu publikasi, aset ini diperdagangkan di US$92.574, turun 2,67% dalam 24 jam terakhir. Total kapitalisasi pasar aset kripto merosot hampir US$98 miliar dalam periode yang sama.

Penurunan harga ini memicu gelombang likuidasi di seluruh pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, total nilai likuidasi mencapai US$864,35 juta, dengan posisi long menyumbang lebih dari US$780 juta dari jumlah tersebut.

“Bitcoin turun hampir -US$4.000 karena posisi long dengan leverage senilai US$500 juta terlikuidasi hanya dalam 60 menit,” papar The Kobeissi Letter .

Kontras antara emas dan Bitcoin di tengah gejolak akibat tarif ini menyoroti perbedaan utama dalam cara pasar memandang kedua aset tersebut. Peran emas sebagai penyimpan nilai di masa ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik tetap tak tergoyahkan.

Bitcoin, yang sering disebut sebagai “emas digital,” masih diperdagangkan layaknya aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat, dengan harga yang terikat erat pada sentimen pasar secara umum ketimbang permintaan safe haven yang langsung melonjak.

Apa Selanjutnya untuk Bitcoin di Januari?

Analis Timothy Peterson membagikan analisisnya soal respons Bitcoin yang tertunda terhadap pengumuman Trump. Ia menuturkan bahwa meski Bitcoin diperdagangkan 24 jam, harganya tidak merespon selama kurang lebih 36 jam dan baru turun setelah perdagangan institusional dimulai di Asia.

“Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar berita intraday soal pergerakan harga biasanya cuma narasi tidak penting yang baru diceritakan setelah kejadian. Selain itu, banyak trader ritel tetap memasang leverage meski sudah ada peringatan lebih dari sehari penuh bahwa peristiwa ini akan terjadi (Ini adalah pengumuman tarif Trump ketiga, setiap kali Bitcoin babak belur.) Benar-benar tidak bisa berkata-kata,” jelasnya .

Selain itu, Crypto Rover mengingatkan bahwa minggu ini “bisa mengguncang seluruh pasar,” merujuk pada serangkaian kebijakan besar yang berpotensi membuat volatilitas tinggi di saham dan aset kripto.

“Tarif Uni Eropa mengancam arus perdagangan senilai hampir US$1,5 triliun,” ujar dia . “Jika Uni Eropa mulai membangun kesepakatan dagang dengan negara-negara yang juga dijatuhi sanksi AS, AS berisiko tersingkir dari jalur perdagangan utama. Hal itu akan: Buruk untuk sentimen risiko global, Buruk untuk saham AS, Buruk untuk dollar.”

Rover juga menyebutkan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS yang akan datang menambah tingkat ketidakpastian lain, karena keputusan apapun terkait tarif bisa saja mengguncang pasar. Ia menambahkan bahwa kedua skenario tersebut besar kemungkinan akan memberi tekanan pada saham dan aset kripto.

Di tengah situasi ini, para ahli masih berbeda pendapat mengenai potensi pergerakan Bitcoin. Mike McGlone, senior commodity strategist di Bloomberg Intelligence, memperkirakan bahwa rasio Bitcoin terhadap emas kemungkinan besar akan terus turun mendekati 10x, sehingga mempertegas kinerja emas yang lebih unggul secara berkelanjutan, bukan kembali naik mendekati 30x menguntungkan Bitcoin.

“Semua orang berharap Bitcoin mengikuti jejak emas dan reli ke level tertinggi baru. Tapi pasar sudah memberikan waktu terlalu lama bagi spekulan untuk membeli. Yang jauh lebih mungkin terjadi adalah kegagalan Bitcoin menyamai keuntungan emas justru akan melemahkan narasi Bitcoin sebagai emas digital, sehingga terjadi crash yang spektakuler,” papar ekonom Peter Schiff di postingannya.

Trader veteran Peter Brandt menuturkan bahwa aset berbasis US dollar bisa jadi tampil kurang baik daripada komoditas fisik. Ia juga mengakui masih ragu soal peran Bitcoin dalam pergeseran ini dan memprediksi bahwa altcoin akan kehilangan nilai secara signifikan.

“Emas akan kembali menjadi tempat penyimpanan kekayaan paling andal di dunia. Aset berbasis USD akan kehilangan nilai terhadap komoditas fisik — yang, omong-omong, bisa saja termasuk atau tidak termasuk Bitcoin. Altcoin akan jadi lebih tidak berharga dibanding USD,” komentar trader tersebut.

Walau begitu, optimisme masih tersisa di beberapa sudut. Sejumlah analis tetap memperkirakan Bitcoin akan menyusul performa emas.

“Tahun lalu, emas menambah kapitalisasi pasar sekitar US$10 triliun. Saya tidak akan terkejut jika sebagian keuntungan itu dipindahkan atau didiversifikasi ke bitcoin,” ucap seorang pengamat pasar di postingannya.

Global M2 expansion is already being priced in by gold and silver

Both metals moved first as liquidity accelerated, while Bitcoin is still lagging below the trend

Historically, $BTC catches up late in the cycle, not early

We are going higher pic.twitter.com/CJOaVl8bIi

— BLADE (@BladeDefi) January 18, 2026

Dengan eskalasi ketegangan perdagangan dan selera risiko yang terus memburuk, pasar akan segera mengungkap apakah Bitcoin dapat menyusul atau emas tetap menjadi standar safe haven yang tak tergantikan.

Bagaimana pendapat Anda tentang manuver terbaru Trump yang bikin market guncang ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Sinyal Bear Bitcoin Mulai Muncul Januari Ini, Apa Saja?

Januari sejauh ini berlangsung volatil untuk Bitcoin (BTC), karena aset ini menghadapi tekanan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Uni Eropa setelah pengumuman tarif terbaru dari Presiden Trump.

Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar ini turun hampir 2,5% ke US$92.663. Sementara itu, para analis menunjukkan sinyal pasar bearish yang mulai muncul di tahun 2026.

1. Bearish Kumo Twist Muncul di Chart Bitcoin

Pada postingan terbaru di X (sebelumnya Twitter), analis Titan of Crypto menyoroti adanya “Kumo twist” yang tampak di chart mingguan Bitcoin. Sebagai informasi, Kumo twist adalah formasi yang terjadi ketika dua rentang utama dari Ichimoku Cloud (Senkou Span A dan Senkou Span B) berpotongan sehingga menyebabkan arah cloud masa depan berubah.

Bergantung pada arah perpotongan tersebut, formasi ini bisa menjadi sinyal potensi transisi dari kondisi bullish ke bearish atau sebaliknya, dari bearish ke bullish. Pada kasus Bitcoin saat ini, twist yang muncul bersifat bearish.

Bitcoin Ichimoku Cloud bearish shift
Ichimoku Cloud Mingguan Bitcoin | Sumber: X/Titan of Crypto

Merujuk pada siklus pasar sebelumnya, Titan of Crypto menjelaskan bahwa pergeseran Kumo mingguan serupa biasanya di ikuti fase koreksi yang signifikan di mana Bitcoin mencatat penurunan sekitar 67% hingga 70%.

“Secara historis, ketika Kumo mingguan berubah jadi bearish, BTC memasuki fase bear market. Itu bukan berarti harga langsung turun. Artinya, struktur dan dinamika tren pasar secara umum telah berubah. Ini hanya sebagai konteks, bukan prediksi. Berdasarkan tiga siklus terakhir,” terang postingan tersebut.

2. Bitcoin Masih Sulit Menembus Batas Penting

Selain itu, saat ini Bitcoin di perdagangkan di bawah moving average 365 hari yang berada di kisaran US$101.000. Batas ini sangat penting pada bear market tahun 2022, karena sempat menghentikan reli pemulihan.

Bitcoin 365-day moving average analysis
Penolakan Harga Bitcoin di MA 365 Hari | Sumber: X/Coin Bureau

Analisis dari Coin Bureau menerangkan bahwa posisi Bitcoin yang kini berada di bawah MA ini menandakan pasar masih dalam kondisi bearish.

Analisis teknikal lain menggunakan Gaussian Channel pada chart lima hari juga memperkuat kekhawatiran tersebut. Analis kripto bernama Raven mengamati bahwa Bitcoin telah kehilangan level median dari channel ini.

Postingan tersebut menambahkan bahwa kegagalan menahan dan melakukan retest pada level ini secara historis menandai awal fase lebih agresif dari bear market.

“Saya yakin kita memang menuju zona US$103k untuk retest, atau mungkin sedikit lebih tinggi demi mencari likuiditas. Jika kita berhasil membentuk dan mempertahankan support di atas median, saya akan memberi kabar. Sampai saat itu, semuanya sebaiknya dianggap hanya dead cat bounce,” lanjut analis tersebut.

Bitcoin Gaussian Channel analysis
Gagalnya Retest Median Gaussian Channel Bitcoin | Sumber: X/Crypto Raven

3. Pola Drawdown Historis Menunjukkan Masih Ada Penurunan

Sejarah harga Bitcoin menunjukkan pola berulang penurunan tajam setelah puncak siklus. Setelah mencapai puncak tahun 2013, harga Bitcoin turun sekitar 75,9%, lalu turun 81,2% setelah puncak tahun 2017, dan sekitar 74% penurunan setelah puncak tahun 2021.

Namun pada siklus saat ini, koreksinya jauh lebih ringan, dengan kerugian justru hanya sedikit di atas 30%, atau terbilang kecil jika di bandingkan sejarah. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan masih pada tahap awal dan ada peluang penurunan lebih lanjut seiring perkembangan siklusnya.

Bitcoin's Historical Price Drop Patterns
Pola Penurunan Harga Bitcoin Secara Historis | Sumber: CryptoQuant

4. Indikator Siklus Pasar Tunjukkan Fase Bear Bitcoin Masih Berkembang

Walaupun penurunan harga historis biasanya menyoroti perilaku harga setelah pasar mencapai puncaknya, indikator siklus yang lebih luas membantu menilai kondisi saat ini cocok dengan periode yang mana.

Indikator Siklus Pasar Bull-Bear, yang melacak fase-fase besar dalam pasar, menunjukkan kondisi bearish telah dimulai sejak Oktober 2025. tapi, indikator ini belum bergerak ke dalam fase bear yang ekstrem.

“Dengan metrik ini, BTC sudah berada di wilayah bear market, dan di setiap siklus sebelumnya kita selalu masuk ke zona biru tua, yang menandakan level harga masih bisa turun lagi. Tapi silakan saja, kalau mau prediksi harga naik! Pada akhirnya, seseorang pasti jadi exit liquidity,” ujar seorang analis melalui X.

Bitcoin Bull-Bear Market Cycle Indicator.
Indikator Siklus Pasar Bull-Bear Bitcoin | Sumber: CryptoQuant

5. Exchange Inflow Menunjukkan Distribusi oleh Holder Besar

Terakhir, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan aliran masuk Bitcoin ke exchange. Aliran ini didominasi oleh holder menengah hingga besar, terutama mereka yang memiliki 10–100 BTC dan 100–1.000 BTC.

Peningkatan transfer Bitcoin ke exchange biasanya menandakan aktivitas distribusi yang semakin banyak dibandingkan dengan akumulasi jangka panjang, karena partisipan pasar memindahkan asetnya untuk bersiap-siap menjual.

“Aktivitas mereka biasanya lebih relevan secara informasi dibandingkan aliran ritel yang terfragmentasi, karena mencerminkan keputusan strategis, bukan cuma ‘noise’. Dari sudut pandang on-chain makro, kombinasi meningkatnya aliran masuk ke exchange dan distribusi dari kelompok holder besar mengindikasikan pasar sedang masuk ke fase yang lebih rentan,” terang seorang analis di CryptoQuant.

Secara keseluruhan, Bitcoin memperlihatkan beberapa sinyal bear market di berbagai indikator teknikal, historis, dan on-chain. Meski begitu, apakah pergerakannya akan mengikuti pola penurunan historis atau justru mengejutkan pasar dengan kekuatan baru, masih belum pasti.

Bagaimana pendapat Anda tentang 5 sinyal penurunan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  
❌