Michael Saylor’s bitcoin stack is officially underwater, but here’s why he likely won't reach for the panic button



Harga Ethereum telah melemah tajam selama beberapa sesi terakhir, memperpanjang penurunan seiring sentimen pasar yang memburuk. Penurunan baru-baru ini mencerminkan kondisi bearish yang lebih luas dan juga aksi investor yang sengaja dilakukan.
Peningkatan tekanan jual membuat pemulihan semakin sulit. Pada saat yang sama, risiko distribusi yang terus berlanjut mendorong ETH bergerak lebih rendah lagi sebelum terjadi stabilisasi yang berarti.
Aktivitas whale memiliki peran besar dalam penurunan Ethereum terbaru. Selama sepekan terakhir, alamat yang memegang antara 10.000 dan 100.000 ETH mengurangi eksposur mereka secara agresif. Holder besar ini telah menjual lebih dari 1,1 juta ETH dalam periode tersebut. Pada harga saat ini, nilai distribusi tersebut melebihi US$2,8 miliar.
Penjualan dalam skala besar seperti ini memberikan tekanan langsung pada pasar spot. Ketika whale mengurangi kepemilikan, likuiditas menyerap suplai pada harga lebih rendah. Perilaku ini sering mempercepat tren turun jangka pendek.
Dalam kasus Ethereum, aksi jual ini memperkuat momentum bearish dan berkontribusi pada breakdown terbaru di bawah level teknikal kunci.
Ingin insight token seperti ini? Daftar Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Indikator makro menghadirkan prospek yang beragam untuk Ethereum. Data menunjukkan total suplai yang berada dalam kondisi profit kini turun di bawah ambang 50%. Saat semakin sedikit holder yang meraup keuntungan belum terealisasi, rasa takut biasanya meningkat. Lingkungan seperti ini bisa sementara mengurangi volume penjualan, karena investor ragu untuk merealisasikan kerugian.
namun, metrik yang sama juga membawa risiko penurunan. Jika kerugian makin dalam, perilaku investor bisa berubah cepat. Mereka bisa saja menjual untuk mencegah penurunan lebih lanjut. Dalam kondisi tersebut, harga Ethereum berpotensi kembali tertekan meski ada upaya stabilisasi jangka pendek akibat penurunan aksi profit taking.

Pada waktu publikasi, Ethereum diperdagangkan di kisaran US$2.636. Aset ini tercatat turun 12,7% dalam dua hari terakhir. Penurunan ini telah mengonfirmasi pola ascending wedge bearish. Formasi ini memproyeksikan penurunan lanjutan sebesar 16%, dengan target level US$2.465 jika momentum berlanjut.
Peluang skenario ini semakin besar setelah support kunci hilang. ETH menembus US$2.802 ke bawah, sehingga mengonfirmasi breakdown dari pola tersebut. Struktur teknikal biasanya menjadi semakin valid setelah level support gagal bertahan. Selama harga bertahan di bawah support sebelumnya, risiko bearish continuation masih sangat kuat.

Masih ada jalur pemulihan jika kondisi membaik. Jika Ethereum mampu bertahan di support US$2.570, pembeli bisa mencoba melakukan rebound. Pergerakan harga yang konsisten kembali ke area US$2.802 menjadi sangat penting. Jika level itu direbut kembali menjadi support, bias bearish akan batal dan kekuatan baru akan muncul.




Harga Bitcoin telah turun di bawah US$80.000 untuk pertama kalinya sejak April 2025. Meski begitu, performa Bitcoin tetap melampaui emas. Sementara BTC turun bersama aset berisiko lainnya, jumlah kerugiannya jauh lebih kecil dibandingkan logam mulia.
Kekuatan relatif ini menarik perhatian peserta pasar baru. Banyak investor melihat koreksi ini sebagai peluang untuk mengakumulasi Bitcoin di harga diskon.
Bitcoin price faces technical risk. Doji candles, a lost 20-day EMA, and a rising wedge signal buyers are defending, not pushing higher.
— BeInCrypto (@beincrypto) January 24, 2026
If support breaks, Bitcoin could fall toward $77K as miner selling rises and long-term buying slows. pic.twitter.com/Do8i8PHLpc
Emas mengalami aksi jual tajam saat akhir pekan. Dari Kamis hingga Jumat, harga logam mulia ini anjlok hampir 10%. Dalam periode yang sama, Bitcoin turun sekitar 5,6%. Perbedaan ini menyoroti perubahan preferensi investor ketika pasar mengalami tekanan.
Walaupun emas biasanya dianggap sebagai lindung nilai inflasi, Bitcoin justru menunjukkan ketahanan lebih kuat dalam jangka pendek. Penurunan yang lebih kecil ini menandakan dukungan permintaan yang lebih solid untuk BTC.
Perilaku investor mencerminkan perubahan ini, karena modal cenderung lebih memilih Bitcoin dibanding emas di tengah volatilitas yang terjadi baru-baru ini.
Ingin mendapatkan insight token seperti ini? Daftar Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.

Data on-chain turut memperkuat tren ini. Jaringan Bitcoin mencatat lonjakan alamat baru dalam 24 jam terakhir. Sekitar 335.772 alamat baru tercipta, menjadi rekor tertinggi dalam dua bulan. Ini juga merupakan kenaikan harian terbesar sejak November 2025.
Peningkatan ini terjadi saat harga Bitcoin turun mendekati US$81.000. Peserta baru nampaknya melihat penurunan ini sebagai peluang masuk yang menarik.
Pertumbuhan alamat baru sering kali menandakan adopsi yang semakin luas dan minat yang kembali meningkat. Arus masuk ini dapat memperkuat permintaan dan membantu menjaga stabilitas harga saat terjadi koreksi.

Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$78.000 pada waktu publikasi. Baru-baru ini, BTC break down dari pola broadening ascending wedge. Pola bearish ini memproyeksikan penurunan sebesar 12,6%, dengan target di area US$75.850.
Aksi jual semakin intens setelah Bitcoin kehilangan level support US$82.503. Breakdown tersebut menegaskan momentum bearish jangka pendek. meski begitu, jika level ini kembali direbut, sentimen bisa berubah. Metrik on-chain yang membaik dan pertumbuhan alamat baru meningkatkan peluang stabilisasi.

Pemulihan lebih kuat membutuhkan Bitcoin untuk merebut kembali level support US$87.210. Jika hal ini tercapai, kepercayaan pembeli akan kembali dan BTC bisa menghapus kerugian terbaru. Jika tren penurunan terus berlanjut, risiko pelemahan masih terbuka.
Kegagalan bertahan di level saat ini dapat membawa Bitcoin turun menuju US$78.763. Jika support ini hilang, Bitcoin berisiko turun ke US$75.895 sehingga prospek bullish menjadi tidak berlaku.


Kevin Warsh, calon yang baru saja dinominasikan oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin Federal Reserve AS, muncul dalam dokumen terbaru terkait Jeffrey Epstein yang dirilis oleh Departemen Kehakiman minggu ini.
Pengungkapan ini terjadi hanya satu hari setelah Trump mengonfirmasi Warsh sebagai pilihannya untuk menggantikan Jerome Powell sebagai ketua The Fed pada bulan Mei, sehingga memicu reaksi politik dan sorotan baru terhadap tokoh-tokoh elit yang disebutkan dalam kasus Epstein yang telah berlangsung lama.
Trump’s newly named Fed Chair Kevin Warsh is listed in the Epstein files in connection with a “St. Barth’s Christmas” event in 2010.
— AF Post (@AFpost) January 30, 2026
Warsh is a former steering committee member of the Bilderberg Group.
He is the son-in-law of Ronald Lauder, the former president of the World… pic.twitter.com/l4NTreCSlF
Menurut sejumlah laporan yang telah dikonfirmasi, nama Warsh tercantum dalam satu email dari seorang humas kepada Epstein yang mencantumkan 43 orang yang diundang ke acara Natal. Email itu juga memuat beberapa nama terkenal dari dunia bisnis, politik, dan hiburan.
Tidak ada bukti dalam dokumen yang menunjukkan Warsh pernah bertemu Epstein, menghadiri acara tersebut, atau terlibat dalam aktivitas kriminal apa pun. Laporan itu menekankan bahwa munculnya nama seseorang dalam dokumen ini tidak berarti yang bersangkutan melakukan pelanggaran.
Warsh belum memberikan komentar publik terkait pengungkapan ini per 31 Januari.
Departemen Kehakiman merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen, beserta ribuan video dan gambar, yang menurut pejabat merupakan rilis terakhir yang diwajibkan.
Dokumen tersebut memuat email dan catatan yang menyebutkan tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Bill Gates, Melania Trump, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick. Dalam banyak kasus, dokumen ini hanya menampilkan undangan acara sosial atau korespondensi email dan bukan bukti tindakan kejahatan.
Howard Lutnick in 2005: I never want to be in the same room as Jeffrey Epstein again.
— Rogue POTUS Staff (@RoguePOTUSStaff) January 30, 2026
Howard Lutnick in 2012: Jeffrey, darling, let's have dinner. There's 8 children I want you to meet! pic.twitter.com/BYChg4nE3j
Penyintas pelecehan oleh Epstein mengkritik proses rilis ini, karena menurut mereka identitas korban justru terbuka sementara dugaan pelaku masih terlindungi melalui pengaburan data.
Warsh adalah mantan gubernur Federal Reserve yang menjabat dari tahun 2006 sampai 2011. Ia dikenal sebagai sosok yang hawkish terhadap inflasi dan pengkritik kebijakan The Fed pasca pandemi.
Berbeda dengan Jerome Powell, Warsh berpendapat mandat The Fed sebaiknya dipersempit, neraca keuangan harus lebih kecil, dan disiplin moneter yang lebih ketat. Ia juga menentang keterlibatan The Fed dalam kebijakan iklim dan sosial.
Kevin Warsh vs. Powell: How is Trump's new Fed chair pick different? And what does it mean for crypto? pic.twitter.com/l2eKVw3zdM
— BeInCrypto (@beincrypto) January 30, 2026
Warsh bukan anti-kripto, tapi ia bersikap skeptis terhadap aset kripto sebagai uang.
Ia telah mengakui potensi Bitcoin sebagai penyimpan nilai, namun memperingatkan bahwa volatilitas harga membatasi penggunaannya dalam pembayaran. Warsh juga pernah berinvestasi di perusahaan yang bergerak di bidang kripto serta mendukung regulasi yang lebih jelas untuk stablecoin.
Ia lebih memilih bank sentral digital US (CBDC) untuk transaksi skala besar daripada CBDC versi ritel.
Soon, Kevin Warsh will be the first pro-Bitcoin Chairman of the Federal Reserve.pic.twitter.com/afEBrBFeWX
— Michael Saylor (@saylor) January 30, 2026
Momentum ini memang sangat sensitif.
Pasar sudah berada dalam kondisi waspada di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, ketidakpastian pemangkasan suku bunga, dan tekanan politik terhadap The Fed. Nominasi Warsh mengisyaratkan kemungkinan perubahan kebijakan. Kemunculannya di dokumen Epstein, meskipun tanpa tuduhan, menambah ketidakpastian baru.
Harga XRP melemah dalam 48 jam terakhir karena kondisi pasar yang lebih luas belum stabil. Aset kripto ini memperpanjang koreksi, mencerminkan sikap menghindari risiko yang terus-menerus di seluruh aset digital.
Walaupun harga turun, XRP tidak memperlihatkan tanda-tanda penjualan yang kacau. Saat ini, fokus bergeser ke upaya stabilisasi, dengan beberapa kelompok holder berusaha menyerap tekanan dan mendukung potensi pemulihan.
Indikator sentimen pasar menunjukkan XRP mungkin mendekati titik balik. Rasio Market Value to Realized Value (MVRV) sudah masuk wilayah peluang.
Nilai di bawah -14% biasanya menandakan kejenuhan penjualan. Secara historis, kondisi seperti ini sering mendahului fase akumulasi karena investor mencari titik masuk yang undervalued.
Situasi seperti ini biasanya menarik pembeli yang siap menyerap kelebihan suplai. Saat MVRV tertahan di area rendah, momentum penurunan harga cenderung melambat. Investor sering masuk untuk memanfaatkan harga diskon.
Perilaku serupa juga diharapkan akan muncul dalam beberapa hari ke depan, sehingga bisa membantu XRP membentuk fondasi jangka pendek.
Ingin insight token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Perilaku holder jangka panjang semakin mendukung potensi stabilisasi harga. Indikator Liveliness XRP terus turun secara konsisten selama beberapa minggu terakhir. Saat ini, angkanya mendekati level terendah dalam empat bulan. Liveliness melacak pergerakan aset kripto yang sudah lama di-hold sehingga memberi gambaran tentang keyakinan holder.
Penurunan nilai Liveliness mengindikasikan akumulasi, bukan distribusi. Dalam kasus XRP, holder jangka panjang terlihat menambah posisi, bukan melepasnya. Pola ini membuat suplai beredar menurun dan volatilitas harga lebih terjaga. Akumulasi yang konsisten dari kelompok ini sering membantu stabilisasi harga saat terjadi penurunan berkepanjangan.

Dalam 48 jam terakhir, harga XRP turun 10,9% dan saat ini diperdagangkan di kisaran US$1,69 pada waktu publikasi. Harga token ini berada tepat di bawah area support US$1,70. Tekanan bearish dari tren turun yang lebih luas masih memberi beban pada pergerakan harga.
Garis tren menurun sudah menjadi resistance sejak awal tahun ini. Agar XRP bisa pulih, partisipasi investor harus meningkat. Mengambil kembali area support di US$1,81 akan menjadi langkah penting.
Jika digabungkan dengan perbaikan indikator sentimen, pergerakan ini bisa membawa XRP naik ke level US$2,00.

Risiko penurunan masih tetap ada jika tekanan jual berlanjut. Jika koreksi berlanjut, XRP bisa turun di bawah zona support US$1,61. Jika skenario ini terjadi, harga bisa jatuh ke sekitar US$1,54. Pergerakan seperti ini akan menginvalidasi skenario bullish dan menandakan kelemahan berkepanjangan sampai permintaan baru muncul.



CEO OKX, Star Xu, menuduh Binance sebagai pemicu krisis 10 Oktober yang menghapus hampir US$19 miliar dari pasar aset kripto.
Xu mengklaim gejolak tersebut terjadi karena pemasaran agresif Binance terhadap dollar sintetis Ethena, USDe.
Pada unggahan 31 Januari di X (dulu Twitter), Xu berpendapat bahwa kejatuhan pasar bukan kecelakaan acak akibat kompleksitas, melainkan kegagalan manajemen risiko yang bisa diprediksi.
“Tidak ada kompleksitas. Tidak ada kecelakaan. 10/10 terjadi karena kampanye pemasaran yang tidak bertanggung jawab dari beberapa perusahaan,” ucapnya.
Xu menyebutkan bahwa kampanye akuisisi pengguna Binance untuk dollar sintetis Ethena, USDe, mendorong penggunaan leverage secara berlebihan. Ia menilai hal ini menciptakan kerentanan sistemik yang akhirnya runtuh saat terjadi tekanan pasar.
Menurut CEO OKX tersebut, Binance menawarkan imbal hasil tahunan 12% pada USDe. Hal ini memungkinkan pengguna menjadikan aset tersebut sebagai jaminan dengan syarat yang mirip dengan stablecoin tradisional seperti USDT dan USDC.
No complexity. No accident.
— Star (@star_okx) January 31, 2026
10/10 was caused by irresponsible marketing campaigns by certain companies.
On October 10, tens of billions of dollars were liquidated. As CEO of OKX, we observed clearly that the crypto market’s microstructure fundamentally changed after that day.… pic.twitter.com/N1VlY4F7rt
Xu menilai hal ini menciptakan “leveraged loop” di mana para trader menukar stablecoin standar mereka menjadi USDe untuk mencari yield tinggi. Ia juga menyebut aktivitas ini membuat APY token tersebut tampak tidak wajar hingga mencapai 70%.
“Kampanye ini memungkinkan pengguna memakai USDe sebagai jaminan dengan perlakuan sama seperti USDT dan USDC tanpa batasan efektif,” tulis Xu.
Berbeda dengan stablecoin tradisional yang didukung kas atau setara kas, USDe memakai strategi lindung nilai delta netral yang menurut Xu punya “risiko struktural setara hedge fund.”
Saat volatilitas tiba pada 10 Oktober, Xu menegaskan leverage tersebut terurai dengan sangat cepat. Pelepasan peg USDe ini memicu likuidasi beruntun yang tidak mampu dikendalikan mesin risiko, terutama berdampak pada aset seperti WETH dan BNSOL.
Kata dia, beberapa token sempat diperdagangkan hampir di level nol, dan stabilitas “artifisial” USDe justru menutupi risiko sistemik yang menumpuk sampai semuanya terlambat.
“Sebagai platform global terbesar, Binance punya pengaruh besar—dan tanggung jawab yang sama besarnya—sebagai pemimpin industri. Kepercayaan jangka panjang terhadap kripto tidak akan terbangun dari permainan yield jangka pendek, leverage berlebihan, atau praktik pemasaran yang menyembunyikan risiko,” tutup Xu.
Tapi, para pelaku utama industri tegas membantah narasi Xu dan mengacu pada data transaksi yang tak sejalan dengan kronologi yang dia jabarkan.
Haseeb Qureshi, managing partner di Dragonfly, menilai teori Xu tidak mempertimbangkan urutan kejadian. Qureshi mengatakan harga Bitcoin sudah mencapai titik terendah 30 menit sebelum USDe lepas peg di Binance.
“USDe jelas tidak mungkin jadi penyebab spiral likuidasi,” ujar Qureshi, menyebut tuduhan itu sebagai kesalahan dalam memahami sebab-akibat.
Ia menambahkan bahwa depeg USDe merupakan kejadian terisolasi di order book Binance, sementara spiral likuidasi terjadi di seluruh pasar.
“Kalau USDe ‘depeg’ tidak menyebar ke seluruh pasar, tidak mungkin menjelaskan kenapa setiap exchange mengalami pembantaian besar-besaran,” tambah Qureshi.
Pendiri Ethena Labs, Guy Young, juga menolak klaim Xu. Ia mengutip data order book yang membuktikan perbedaan harga USDe baru terjadi setelah seluruh pasar lebih dulu anjlok.
We want simple explanations and scapegoats but unfortunately this is just factually incorrect.
— G | Ethena (@gdog97_) January 31, 2026
Data below shows clearly USDe had a price discrepancy on Binance orderbooks a full 30 minutes *after* BTC had bottomed from the crash.
Either you are wrong or this is the first "root… https://t.co/eyhVHuIQR2 pic.twitter.com/VLjY7r2xr2
Sementara itu, Binance tetap berpendapat masalah utama berasal dari “kekosongan likuiditas” alih-alih produk yang mereka tawarkan.
Exchange itu merilis data yang menunjukkan likuiditas Bitcoin berada di level “nol atau hampir nol” di sebagian besar exchange utama selama kejatuhan. Kondisi pasar tipis ini memicu skenario di mana penjualan mekanis membuat harga turun keterlaluan.

Exchange ini juga membantah tuduhan manipulasi sistemik, dan menyebut perilaku harga yang kacau karena market maker menarik inventaris mereka saat volatilitas ekstrem serta keterlambatan API.
Meski begitu, konflik ini memperlihatkan semakin memanaskan saling tuding di antara exchange kripto papan atas karena mereka terus diterpa sorotan terkait kerentanan struktur yang terkuak dalam insiden 10 Oktober.

Seorang investor aset kripto kehilangan 4.556 Ethereum, dengan nilai sekitar US$12,4 juta, setelah menjadi korban serangan “address poisoning” yang sangat canggih.
Specter, seorang analis blockchain yang dikenal dengan nama samaran, melaporkan bahwa pencurian ini terjadi sekitar 32 jam setelah pelaku “mempercikkan” wallet korban dengan transaksi nominal.
Berdasarkan analisis on-chain dari Specter, pelaku menghabiskan dua bulan untuk memantau aktivitas transaksi korban. Selama periode ini, hacker secara khusus menemukan alamat deposit yang digunakan untuk penyelesaian OTC.
A victim has lost 4,556 ETH (~$12.4M) to an address-poisoning attack.
— Specter (@SpecterAnalyst) January 30, 2026
The attacker had been dusting the victim’s wallet with a look-alike address mimicking the victim’s OTC deposit address for over two months. The recent dusting occurred ~32 hours before the loss, after which… pic.twitter.com/YBriKd65Fi
Pelaku menggunakan perangkat lunak vanity address generation untuk membuat wallet tiruan yang sangat mirip. Alamat palsu ini memiliki karakter awal dan akhir yang persis sama seperti alamat tujuan sah milik korban.
Address poisoning mengandalkan kebiasaan pengguna yang hanya memeriksa beberapa karakter pertama dan terakhir dari serangkaian angka dan huruf heksadesimal yang panjang. Dalam kasus ini, alamat palsu dan alamat OTC asli terlihat sangat mirip jika dilihat sekilas.
Pertama, pelaku mengirimkan transaksi kecil ke wallet korban, sebuah strategi agar alamat palsu muncul di riwayat aktivitas pengguna. Langkah ini membuat alamat yang sudah diubah tersebut tampil paling atas dalam daftar “transaksi terbaru”.
Berdasarkan daftar yang sudah tercemar ini, tanpa sengaja korban menyalin alamat yang sudah teracuni itu, alih-alih alamat yang sah, saat mencoba memindahkan dana senilai US$12,4 juta.

Kejadian ini menjadi kasus besar kedua pencurian dana delapan digit melalui metode yang sama dalam beberapa pekan terakhir. Bulan lalu, seorang trader kripto lainnya kehilangan sekitar US$50 juta dalam skema serupa.
Pelaku industri menilai, maraknya serangan ini terjadi karena antarmuka wallet sering memotong tampilan alamat untuk menghemat ruang pada layar. Desain seperti ini akhirnya menyembunyikan karakter tengah yang berbeda.
Di sisi lain, insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai protokol verifikasi di kalangan investor kelas institusi.
Sementara trader ritel biasanya hanya copy-paste alamat, pihak yang mengelola dana jutaan biasanya menerapkan prosedur whitelist yang ketat dan melakukan uji transaksi.
Oleh karena itu, perusahaan keamanan blockchain, Scam Sniffer, telah mengimbau investor untuk tidak lagi mengandalkan riwayat transaksi ketika melakukan pembayaran kripto secara berulang. Sebagai gantinya, mereka merekomendasikan penggunaan buku alamat yang sudah terverifikasi dan dikodekan secara manual guna mengurangi risiko pemalsuan antarmuka.

