Normal view

CEO Coinbase Brian Armstrong Bertemu Kepala Bank Sentral Prancis soal Bitcoin di Davos

21 January 2026 at 11:38

CEO Coinbase Brian Armstrong menempatkan Bitcoin di pusat perdebatan kebijakan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada hari Rabu.

Pernyataannya muncul ketika pasar menantikan kehadiran Presiden AS Donald Trump di acara Davos, karena ia dikenal kerap memberikan komentar spontan terkait perdagangan, tarif, dan geopolitik.

Independensi Bitcoin Bertabrakan dengan Perbankan Sentral di Davos

Pimpinan Coinbase ini secara langsung menantang Gubernur Banque de France, François Villeroy de Galhau, terkait isu kemandirian moneter.

“Saya lebih mempercayai bank sentral independen dengan mandat demokratis daripada penerbit swasta Bitcoin,” Gareth Jenkinson melaporkan, mengutip pernyataan Villeroy de Galhau dalam diskusi di Davos.

Pernyataan ini mencerminkan pandangan lama di kalangan bank sentral bahwa lembaga berdaulat secara inheren dianggap lebih sah dibanding alternatif terdesentralisasi.

Armstrong memberikan tanggapannya dengan mengubah fokus perdebatan ke isu pengendalian dan penerbitan, bukan sekadar mandat politik.

“Bitcoin adalah protokol terdesentralisasi. Sebenarnya tidak ada penerbitnya. Jadi jika berbicara soal kemandirian, Bitcoin justru lebih independen. Tidak ada negara, perusahaan, maupun individu mana pun di dunia yang mengendalikannya,” terang Armstrong.

Pertukaran argumen ini menjadi momen langka di WEF di mana Bitcoin itu sendiri, dan bukan sekadar teknologi blockchain atau keuangan tokenisasi, dibahas secara langsung.

Selama bertahun-tahun, panel WEF lebih sering menyoroti ledger yang terotorisasi, adopsi institusional, dan mata uang digital bank sentral. Mereka kerap menghindari tantangan Bitcoin terhadap kedaulatan moneter secara utuh.

Dinamikanya mulai berubah di WEF 2026, sebagian karena desakan dari para jurnalis yang hadir langsung di lapangan.

Gareth Jenkinson menanyakan langsung kepada Armstrong dalam sesi “Crypto at a Crossroads”, apakah AS akan melanjutkan pembahasan mengenai pembentukan Strategic Bitcoin Reserve.

Jawaban Armstrong menyoroti bahwa Bitcoin bukan sekadar instrumen spekulatif, melainkan jaringan moneter global yang netral dan kian diakui oleh pemerintah – bukan lagi diabaikan begitu saja.

Bank Melawan saat Bitcoin Masuk ke Debat Strategis dan Ekonomi Makro

Di luar Davos, Armstrong terus mempertajam kritiknya pada sistem TradFi. Dalam wawancara terpisah dengan CNBC, ia menuding lobi perbankan AS mencoba menahan persaingan melalui tekanan regulasi, terutama terkait regulasi stablecoin.

Here's a quick summary of what happened last week with the CLARITY Act.

Now we're all working together to find a win-win scenario for everyone, especially the American people. pic.twitter.com/Wcry97B3qf

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 21, 2026

Dengan merujuk pada CLARITY Act yang masih tertunda, Armstrong berpandangan bahwa pihak bank mendorong pelarangan platform kripto agar tidak menawarkan imbal hasil, bukan karena risiko sistemik, melainkan karena persaingan bisnis.

“Kelompok lobi dan asosiasi perdagangan mereka masuk dan berupaya melarang persaingan,” ujar Armstrong, sambil menambahkan bahwa perusahaan kripto harusnya dapat bersaing secara adil, bukan dibatasi oleh pelaku lama di sektor tersebut.

Debat ini juga terjadi di saat kekhawatiran ekonomi makro terkait stabilitas sistem keuangan global semakin meningkat.

Veteran hedge fund Ray Dalio, yang juga berbicara kepada CNBC selama pekan Davos, memperingatkan bahwa tatanan moneter saat ini dalam kondisi tertekan.

“Tatanan moneter sedang mengalami keruntuhan,” Dalio ucap, dengan menyoroti utang yang meningkat dan perubahan strategi cadangan di bank sentral serta sovereign wealth fund.

Ia menuturkan bahwa naiknya kembali peran emas menandakan kekhawatiran yang semakin dalam akan kestabilan mata uang fiat. Kekhawatiran ini kini juga merambah ke aset digital seperti Bitcoin.

Sinyal kebijakan dari Washington menunjukkan bahwa Bitcoin kini tidak sepenuhnya berada di luar perhitungan strategis negara.

Menkeu AS Scott Bessent memastikan pada 2025 bahwa setiap Bitcoin hasil sitaan dari penegakan hukum akan dimasukkan ke dalam Strategic Reserve Amerika.

Walaupun langkah ini bukan sebuah dukungan penuh, kebijakan tersebut diam-diam mengakui ketahanan Bitcoin sebagai aset moneter.

Jika disimak secara keseluruhan, perdebatan di Davos mencerminkan pergeseran halus namun penting. Bitcoin kini tak lagi hanya sebatas pengganggu eksternal yang dikritik dari jauh.

Bitcoin kini semakin sering menjadi bahan perdebatan, walau kadang terasa kurang nyaman, di institusi yang dulu berusaha mengabaikannya.

Mengapa Adopsi Kripto Tidak Berubah Menjadi Pembayaran Sehari-hari

21 January 2026 at 09:47

Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 5.700 holder Bitcoin (BTC) menunjukkan adanya jurang yang jelas antara keyakinan dan perilaku di dunia aset kripto. Meski hampir 80% responden mendukung adopsi aset kripto yang lebih luas, 55% mengatakan mereka jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan aset digital untuk pembayaran sehari-hari.

Jurang yang makin melebar antara keyakinan dan penggunaan nyata ini menandakan bahwa tantangan terbesar dalam industri ini bukan lagi soal pemahaman atau dukungan ideologis, melainkan hal lainnya.

Mayoritas Pengguna Kripto Mendukung Adopsi, tapi Jarang Membelanjakan Aset Kripto: Ini Alasannya

Survei GoMining ini mendapat respons dari pengguna di berbagai wilayah. Bagian terbesar berasal dari Eropa (45,7%) dan Amerika Utara (40,1%).

Peserta juga mewakili beragam tingkat pengalaman, hampir terbagi rata antara mereka yang masih baru dalam aset kripto dan para holder yang sudah beberapa tahun terjun di pasar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan soal belanja menggunakan aset kripto tidak hanya terjadi di satu wilayah atau jenis pengguna saja. Survei itu menemukan bahwa pembayaran dengan aset kripto masih menjadi kebiasaan minoritas di kalangan pengguna.

Hanya 12% responden yang memakai aset kripto untuk pembayaran sehari-hari. Angka ini sedikit naik menjadi 14,5% untuk pembayaran mingguan dan 18,3% setiap bulan. Tapi, mayoritas tetap mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali membelanjakan aset kripto mereka.

The Use of Crypto As a Payment Method
Penggunaan Aset Kripto Sebagai Metode Pembayaran | Sumber: GoMining

Kebiasaan belanja ini memperlihatkan di mana aset kripto paling efektif digunakan sebagai opsi pembayaran. Produk digital menempati porsi terbesar dengan 47%, lalu disusul dengan pembelian gim sebesar 37,7% dan transaksi e-commerce sebesar 35,7%.

Ini menunjukkan bahwa pengguna sudah aktif memakai aset kripto di lingkungan digital yang memang mendukung pembayaran semacam itu. Di luar area tersebut, penggunaan aset kripto untuk pembayaran jauh menurun.

Hasil survei mengungkap hambatan terbesar dalam membelanjakan aset kripto berasal dari masalah infrastruktur. Responden menyebut terbatasnya merchant yang menerima aset kripto (49,6%), biaya transaksi yang tinggi (44,7%), serta volatilitas harga (43,4%) sebagai alasan utama mereka belum menggunakan aset kripto untuk pembayaran. Selain itu, 36,2% pengguna juga menunjuk risiko potensi penipuan sebagai alasan penting lainnya.

Barriers to Using Bitcoin For Payments
Hambatan Penggunaan Bitcoin untuk Pembayaran | Sumber: GoMining

Mark Zalan, CEO GoMining, mengatakan kepada BeInCrypto bahwa jika memakai aset kripto menambah proses dan kerumitan seperti memilih chain, mengatur biaya, menghitung volatilitas harga, atau mencari cara membalikkan kesalahan transaksi, maka mayoritas pengguna masih akan memandangnya sebagai sekadar hal baru.

“Untuk pengguna sehari-hari, ‘utilitas nyata’ mulai terasa ketika aset kripto menjadi latar belakang saja. Saat sudah diterima di tempat mereka biasa berbelanja, biayanya jelas bersaing, penyelesaiannya cepat, serta harapan konsumen seperti nota pembelian atau penanganan perselisihan tetap terpenuhi. Kalau ingin merebut pengguna itu, pembayaran dengan aset kripto harus terasa sama membosankan dan andalnya seperti mengetapkan kartu saja,” terang dia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jurang ini bukan lagi sekadar “masalah adopsi” tapi sudah menjadi “masalah produk sehari-hari”.

“Orang bisa saja terbuka terhadap aset kripto secara prinsip, tapi tetap memilih kartu dan aplikasi bank karena opsi itu diterima di mana-mana dan terasa tanpa hambatan. Hasil survei kami konsisten dengan itu: minat memang ada, namun rutinitas penggunaan justru terhenti ketika penerimaannya terbatas, biaya tidak pasti, dan volatilitas menimbulkan keraguan,” papar dia.

Zalan menjelaskan bahwa banyaknya token tidak serta-merta menghadirkan utilitas sehari-hari karena kebanyakan token tidak memperbaiki masalah sehari-hari bagi konsumen.

Manfaat praktis muncul ketika aset kripto benar-benar memberikan keunggulan, seperti transfer nilai lintas negara, penyelesaian transaksi lebih cepat, serta kemampuan pemrograman. Karena itu, industri kini semakin fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran dan integrasi, bukan sekadar berharap pengguna mau belajar dan mengatur puluhan aset berbeda secara aktif.

Pembayaran Bitcoin Menghadapi Ekspektasi Berbasis Insentif dari Pengguna

Sementara itu, survei juga mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong pengguna memilih aset kripto dibanding metode pembayaran tradisional. Privasi dan keamanan muncul sebagai faktor utama, disebutkan oleh 46,4% responden. Hadiah serta diskon ikut mendekati di angka 45,4%.

Terkait pembayaran Bitcoin, pengguna sudah jelas soal keinginan mereka. Sebanyak 62,6% berharap biaya transaksi lebih rendah. Insentif seperti hadiah atau cashback menyusul dengan 55,2%, sedangkan penerimaan merchant yang lebih luas disebut oleh 51,4% responden.

Menariknya, hampir setengah responden menyatakan mereka berharap mendapat yield atau hadiah setiap kali melakukan pembayaran. Hal ini menunjukkan makin terbentuknya ekspektasi yang didorong oleh insentif.

Data ini juga menyoroti perubahan besar dalam cara pengguna memandang Bitcoin itu sendiri. Meski masih banyak yang menyebut diri mereka sebagai holder jangka panjang, ketertarikan pada mining, produk penghasil yield, dan tokenisasi hashrate menunjukkan munculnya preferensi terhadap Bitcoin yang mampu memberi hasil aktif, bukan hanya diam dalam wallet.

Pembayaran, dalam konteks ini, mulai dipandang sebagai peluang baru untuk menambah kepemilikan aset. Zalan menyampaikan bahwa insentif merupakan mekanisme standar di pembayaran.

Ia menguraikan bahwa sistem tradisional juga memakai skema insentif. Mereka memberi hadiah untuk konsumen, manfaat ekonomi bagi issuer, dan kepastian transaksi bagi merchant.

“Berharap pembayaran dengan aset kripto tumbuh tanpa ada dinamika ‘buat orang mau berpindah’ yang serupa jelas tidak realistis. Insentif justru mengungkapkan di mana hambatan yang tersisa: jika pengalaman pengguna sudah pasti lebih murah, lebih cepat, dan diterima di mana saja, insentif akan kurang penting. Untuk sekarang, insentif menutupi biaya perpindahan dan membantu orang membangun kebiasaan, sembari ekosistem menyelesaikan kekurangan soal penerimaan, pengembalian dana atau ekspektasi bantuan, dan alur checkout yang benar-benar mudah,” ucap CEO itu.

Bisakah Bitcoin Menjadi Alat Pembayaran dan Penyimpan Nilai?

Responden juga menjelaskan hal apa saja yang mereka pertimbangkan untuk menggunakan Bitcoin di masa depan. Pengeluaran sehari-hari menempati urutan teratas dengan 69,4%. Setelah itu, diikuti oleh gaming dan hiburan digital sebesar 47,3%, dan pembelian barang bernilai tinggi atau mewah sebesar 42,9%.

Dari sudut pandang pengguna, Bitcoin tidak hanya terbatas pada penggunaan khusus saja, tapi kini makin dianggap sebagai opsi untuk belanja sehari-hari yang layak. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan penting: jika Bitcoin berhasil dipakai secara luas sebagai metode pembayaran harian, apakah hal tersebut memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai, atau justru berisiko mengikis narasi tersebut?

Zalan meyakini bahwa manfaat pembayaran yang makin luas justru pada akhirnya akan memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Ia menerangkan bahwa status sebagai penyimpan nilai pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan di masyarakat dan pasar.

Status tersebut terbentuk dari likuiditas tinggi, penyelesaian transaksi yang andal, dan sejauh mana suatu aset terintegrasi dalam sistem keuangan dunia nyata. Menurutnya,

“Semakin sering Bitcoin digunakan (bahkan lewat layer seperti Lightning atau kartu), semakin Bitcoin bertindak sebagai aset moneter yang tahan lama dengan permintaan dan infrastruktur yang kuat di sekelilingnya.”

Ia menekankan bahwa kekhawatiran soal “pengenceran nilai” sering kali timbul karena orang keliru menganggap penggunaan harian sama dengan hilangnya keyakinan pada aset tersebut. Dalam sistem keuangan yang sudah matang, aktivitas hold jangka panjang dan penggunaan harian bisa berjalan beriringan selama infrastrukturnya memudahkan transaksi.

Melihat ke tahun 2026 mendatang, Zalan menggambarkan hasil yang lebih realistis: Bitcoin berperan sebagai cadangan dan jangkar penyelesaian transaksi, sedangkan layer pembayaran yang ramah pengguna memudahkan pembayaran langsung, sehingga pengguna dapat bertransaksi tanpa perlu memikirkan soal blok, biaya, ataupun waktu.

Likuidasi Kripto Capai US$1 Miliar saat 182.000 Trader Rugi Besar dalam Satu Hari

21 January 2026 at 05:02

Pada 20 Januari 2026, pasar aset kripto mengalami peristiwa deleveraging tajam. Lebih dari 182.000 trader terpaksa menutup posisi mereka, dengan total likuidasi lebih dari US$1,08 miliar. Posisi long menjadi penyumbang utama kerugian karena trader Bitcoin dan Ethereum Futures terkena margin call beruntun.

Saat ini, para trader menghadapi leverage yang lebih tinggi di tengah tekanan ekonomi makro global yang semakin intensif dan kelemahan teknikal di seluruh aset digital.

Likuidasi Rekor Hantam Trader Leverage

Berdasarkan data CoinGlass, sebanyak 182.729 trader terlikuidasi selama periode 24 jam yang berakhir pada 20 Januari, dengan total kerugian mencapai US$1,08 miliar. Sebagian besar merupakan posisi long, sebesar US$1,08 miliar, sedangkan likuidasi short jauh lebih kecil, yaitu US$79,67 juta.

Bitcoin mencatat likuidasi long sebesar US$427,06 juta, disusul Ethereum sebesar US$374,47 juta. Likuidasi tunggal terbesar di Bitget terjadi pada posisi BTCUSDT_UMCBL dengan nilai US$13,52 juta. Sejumlah exchange utama juga mencatat kerugian besar: Hyperliquid membukukan long likuidasi senilai US$132,39 juta, Bybit US$91,35 juta, dan Binance US$64,08 juta dalam periode empat jam.

Likuidasi terjadi ketika exchange menutup posisi leverage trader karena margin tidak cukup untuk menutupi kerugian. Saat harga bergerak berlawanan dengan posisi leverage tinggi, exchange otomatis menjual jaminan, yang memicu aksi jual beruntun karena setiap likuidasi mendorong harga turun dan menimbulkan margin call lanjutan.

Trader papan atas juga terkena dampak besar. Machi Big Brother, seorang investor ternama, mengalami lima kali likuidasi dalam satu hari. Total kerugiannya mencapai US$24,18 juta, dan sisa 2.200 ETH miliknya, senilai US$6,67 juta, berisiko terlikuidasi juga jika Ethereum turun ke US$2.991,43.

Sinyal Kelemahan Teknis dan Stres Pasar

Sejumlah indikator pasar menunjukkan tekanan jelas di luar harga yang jatuh. Analisis teknikal menemukan bahwa sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan Relative Strength Index (RSI) harian di bawah 50, menandakan adanya tekanan jual. RSI bergerak dari 0 sampai 100; nilai di bawah 50 menunjukkan sentimen bearish.

Market stress indicators
Indikator teknikal menunjukkan RSI di bawah 50 dan rasio likuidasi yang tinggi. Sumber: Alphractal

Rasio likuidasi-terhadap-open interest selama 24 jam terakhir tetap tinggi di sebagian besar pasar, menandakan proses deleveraging secara nyata. Rasio ini mengukur persentase posisi terbuka yang terlikuidasi dan biasanya melonjak saat terjadi tekanan dan aksi jual paksa.

“Sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan RSI harian di bawah 50, mengindikasikan tekanan jual. Selain itu, rasio 24 jam Likuidasi / Open Interest tinggi di banyak pasar, menandakan banyak trader telah terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Ini adalah situasi deleverage dan tekanan pasar yang biasa terjadi.”

Likuidasi yang berulang ini menguras modal investor, sehingga trader makin sulit masuk kembali ke pasar saat harga lebih rendah. Kondisi ini bisa menyebabkan spiral penurunan harga yang berulang karena jumlah pembeli semakin sedikit saat permintaan paling dibutuhkan untuk menahan harga.

Ancaman Likuiditas Global yang Meningkat Tekan Pasar Lebih Kuat

Selain tantangan internal kripto, peristiwa ekonomi makro memperbesar volatilitas pasar. Pasar obligasi Jepang mengalami pergeseran ekstrem pada 20 Januari: yield Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun melonjak 25 basis poin menjadi 3,86%, sedangkan yield 10 tahun naik 8 basis poin ke 2,34%. Keduanya mencetak rekor tertinggi baru untuk surat utang Jepang.

Japan bond yields chart
Lonjakan tajam yield Obligasi Pemerintah Jepang ke rekor tertinggi (Sumber: Ole S. Hansen)

Pergeseran yield ini berdampak luas. Rendahnya yield Jepang selama puluhan tahun menjadi pijakan likuiditas global dan mendorong carry trade, di mana investor meminjam yen dengan bunga murah lalu mengalirkannya ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi, termasuk aset kripto.

namun, naiknya yield Jepang membuat posisi carry trade menjadi jauh lebih mahal. Akibatnya, modal berpindah kembali ke Jepang dan menjauh dari aset berisiko seperti kripto. Bank of Japan memiliki pilihan terbatas: menahan yield berisiko membuat yen melemah, sementara kebijakan moneter ketat bisa mendistorsi pasar atau mengikis kepercayaan. Apa pun pilihannya, ketatnya likuiditas global semakin terasa.

Tekanan tambahan hadir dari penyelenggaraan World Economic Forum di Davos, di mana diskusi kebijakan bisa memunculkan ketidakpastian regulasi baru. Acara tahunan ini kerap menimbulkan gejolak pasar, khususnya pada aset kripto yang terus berada di bawah pengawasan regulasi global.

Volatilitas Berlanjut Nampaknya Akan Terjadi di Pasar Aset Kripto

Kelemahan teknikal, modal trader leverage yang terkuras, dan ketatnya likuiditas global semua menandakan ketidakpastian masih berlanjut. Volatilitas jangka pendek bisa makin tinggi seiring pasar menghadapi kenaikan yield Jepang dan sinyal baru dari Davos.

Trader dengan leverage tinggi tetap sangat rentan. Saat kondisi memburuk, exchange secara otomatis melikuidasi posisi untuk membatasi risiko—seringkali modal trader langsung habis. Komunitas kripto menyebut hasil seperti ini sebagai “rekt”, istilah slang untuk “wrecked.”

Manajemen risiko yang efektif menjadi sangat penting saat rasio likuidasi dan tekanan pasar tinggi. Walau demikian, kondisi yang tidak menarik dan kelelahan modal dapat membatasi pembelian, sehingga harga tetap tertekan sampai harga turun cukup dalam untuk menarik modal baru, atau tren makro mulai mereda.

Beberapa hari ke depan akan menunjukkan apakah pasar kripto mampu menyerap gejolak ini, atau justru akan menghadapi gelombang likuidasi lanjutan sejalan dengan perubahan kondisi keuangan global.

Smart Money Akumulasi Bitcoin Senilai US$3,2 Miliar: Apa Artinya untuk Harga?

21 January 2026 at 04:38

Para whale dan shark Bitcoin (BTC) terus melakukan akumulasi selama sembilan hari terakhir, meskipun investor ritel kecil mengurangi eksposurnya. Hal ini menandakan, menurut Santiment, adanya “kondisi optimal” untuk potensi breakout.

Perbedaan perilaku antara holder besar dan kecil ini terjadi di tengah volatilitas yang meningkat, di mana Bitcoin hampir menghapus seluruh keuntungan yang didapat selama 2026.

Smart Money Bangun Posisi Bitcoin saat Investor Ritel Keluar

Setelah penutupan tahun 2025 yang penuh tantangan, tahun baru untuk Bitcoin dibuka dengan catatan positif. Aset kripto ini naik lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari, didukung oleh sentimen optimistis di berbagai aset berisiko. tapi, reli ini tidak berlangsung lama karena volatilitas pasar kembali terjadi.

Meskipun sempat pulih sebentar pekan lalu, kondisi pasar secara keseluruhan kembali memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif untuk 8 negara di Uni Eropa (UE), sehingga menimbulkan ketidakpastian baru. Kabar ini menekan aset berisiko dan ikut memicu penurunan pasar aset kripto.

Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa BTC turun 6,25% selama sepekan terakhir. Kemarin, harga BTC turun di bawah US$88.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun.

Pada waktu publikasi, kripto terbesar ini diperdagangkan di US$89.329, turun 3,31% dalam 24 jam terakhir.

Bitcoin Price Performance
Performa Harga Bitcoin | Sumber: BeInCrypto Markets

Meski volatilitas melanda, whale dan shark terus menambah posisi mereka. Data Santiment menunjukkan wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah 36.322 koin, senilai US$3,2 miliar dengan harga pasar saat ini, dalam sembilan hari terakhir. Hal ini menunjukkan kenaikan 0,27% dalam kepemilikan investor besar.

Tren akumulasi ini sangat kontras dengan perilaku investor ritel. Holder kecil justru melepas 132 koin selama sembilan hari, atau penurunan 0,28% dalam total kepemilikan mereka.

Biasanya, pola seperti ini menandakan holder lemah keluar saat harga menurun, sementara investor berpengalaman justru membeli saat harga turun.

“Kondisi optimal untuk breakout di kripto adalah ketika smart money melakukan akumulasi, dan ritel melakukan dump. Terlepas dari isu geopolitik, pola ini terus menciptakan divergensi bullish jangka panjang,” terang postingan tersebut.

Retail has left Bitcoin markets and whales are buying. pic.twitter.com/5I8ev1GftT

— Ki Young Ju (@ki_young_ju) January 15, 2026

Penting dicatat, meski smart money sedang akumulasi, prospek Bitcoin masih terbelah. Beberapa pengamat pasar menilai Bitcoin memberikan sinyal bear market, sehingga risiko penurunan lanjut semakin besar. tapi, ada juga indikator baru yang menguatkan peluang pemulihan jangka panjang.

Saat ini, sensitivitas Bitcoin terhadap perkembangan ekonomi makro global masih menjadi faktor utama yang perlu diawasi. Apakah aset ini akan terus melemah dalam waktu dekat atau mulai bangkit kembali sangat tergantung pada bagaimana sentimen risiko global berkembang.

Trump Siapkan ‘Senjata’ Tarif 1 Februari, Bitcoin & Ethereum Kompak Longsor

21 January 2026 at 02:35

Pasar global kembali memasuki mode risk-off pada Selasa (20/1) setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menegaskan kembali kesiapan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menggunakan tarif sebagai senjata geopolitik utama. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi berbasis perang dagang, tepat ketika pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Bitcoin tergelincir ke bawah US$90.000, sementara Ethereum melorot ke bawah US$3.000. Sebab, investor meninjau ulang risiko makro menyusul komentar Bessent di World Economic Forum (WEF) Davos.

Koreksi pasar kripto usai pernyataan tarif Trump terhadap Uni Eropa | Sumber: CoinGecko

Tarif Sebagai Alat Penekan, Bukan Pilihan Terakhir

Dalam pidatonya di Davos, Bessent menekankan bahwa tarif tetap menjadi elemen sentral dalam strategi kebijakan luar negeri AS. Ia menggambarkan tarif bukan sebagai langkah sementara, melainkan sebagai instrumen yang efektif untuk menekan mitra internasional.

“Duduklah, tarik napas dalam-dalam, dan jangan melakukan pembalasan. Presiden akan berada di sini besok dan ia akan menyampaikan pesannya,” ucap Bessent, menanggapi kritik Eropa terkait ancaman tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland.

Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa Gedung Putih telah mengantisipasi perlawanan dari negara-negara sekutu dan siap meningkatkan eskalasi bila diperlukan. Pasar menafsirkan ini sebagai konfirmasi bahwa risiko gesekan dagang, khususnya antara AS dan Uni Eropa, kembali meningkat.

Bessent juga mengungkapkan garis waktu yang konkret. Ia menyebut Presiden Trump dapat memberlakukan tarif sebesar 10% mulai 1 Februari, apabila Denmark dan negara-negara sekutu menolak bekerja sama terkait Greenland.

At Davos today, U.S. Treasury Secretary Scott Bessent warned it would be “very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to take Greenland.

He added that European leaders should take President Trump at his word, arguing the U.S. needs Greenland for strategic leverage… pic.twitter.com/3SwvUadzMl

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Risiko Inflasi Kembali Masuk Narasi Makro

Di luar isu geopolitik, Bessent membela tarif sebagai kebijakan yang efektif secara ekonomi dan menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan merugikan perekonomian domestik AS.

“Sangat kecil kemungkinan Mahkamah Agung akan membatalkan kebijakan ekonomi utama seorang presiden,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa tarif telah menghasilkan “ratusan juta dolar” bagi negara.

Namun, pandangan tersebut nyatanya bertolak belakang dengan riset terbaru yang menunjukkan bahwa konsumen AS menanggung sebagian besar beban tarif.

Data terbaru dari ekonom Eropa dan Amerika Serikat mengindikasikan bahwa tarif berfungsi layaknya pajak konsumsi terselubung, yang secara bertahap menekan likuiditas rumah tangga.

Dinamika ini krusial bagi pasar kripto. Pasalnya, berkurangnya daya beli serta meningkatnya tekanan harga secara langsung melemahkan aliran modal spekulatif, terutama ke aset berisiko tinggi seperti kripto.

What is President Trump’s Greenland ambition really about? 🇬🇱🇺🇸 Is it a true national security priority for the US, or a behind-the-scenes push from tech billionaires? @c_grigera reports. pic.twitter.com/KdDapTIpBM

— BeInCrypto (@beincrypto) January 20, 2026

Volatilitas Suku Bunga Kembali Menghantui Pasar

Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar obligasi pasca-komentarnya, dengan menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil lebih disebabkan oleh gejolak di Jepang, bukan kebijakan AS.

“Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka,” katanya, seraya menilai sulit untuk mengisolasi faktor spesifik AS.

Kendati demikian, pelaku pasar lebih menyoroti gambaran besar: ancaman tarif baru, eskalasi geopolitik, dan meningkatnya volatilitas suku bunga—kombinasi yang secara historis memberikan tekanan signifikan pada pasar kripto.

Kegagalan Bitcoin mempertahankan level US$90.000 dan koreksi Ethereum ke bawah US$3.000 mencerminkan evaluasi ulang risiko tersebut. Altcoin tercatat mengalami koreksi yang lebih curam, sejalan dengan aksi pelepasan leverage dan pengurangan eksposur risiko.

BESSENT: Markets are going down because Japan's bond market just suffered a six-standard-deviation move in ten-year bonds over the past two days.

This has nothing to do with Greenland; it's all about the Japanese bond blowout. pic.twitter.com/LWEjTeEHSB

— Bitcoin News (@BitcoinNewsCom) January 20, 2026

Pola Lama Kembali Terulang di Pasar Kripto

Aksi jual ini mencerminkan pola yang sudah familier, di mana pengumuman tarif menguras likuiditas tanpa langsung memicu kontraksi ekonomi yang luas. Tarif menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar kripto bergerak sideways setelah guncangan likuidasi pada Oktober lalu, meskipun minat institusional terus tumbuh secara perlahan.

Forum Davos kembali menempatkan risiko tersebut di garis depan.

Bitcoin holders realizing losses, for a 30-day period since, late December for the first time since October 2023. pic.twitter.com/OGsPYm8714

— Julio Moreno (@jjcmoreno) January 20, 2026

Walaupun Bessent menekankan kekuatan ekonomi AS dan pertumbuhan sektor swasta yang makin pesat, pasar lebih menanggapi arah kebijakan daripada optimisme.

Penyajian tarif sebagai alat tawar-menawar, bukan cadangan, memperjelas ketidakpastian yang berlangsung—dan aset kripto menjadi salah satu yang paling cepat merespons penyesuaian tersebut.

Untuk saat ini, pesan dari Davos jelas: risiko inflasi akibat perang dagang kembali mengancam, dan pasar kripto pun sedang menyesuaikan diri.

Bagaimana pendapat Anda tentang ancaman tarif baru Amerika Serikat yang mengguncang harga Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Pembelian Bitcoin Terbesar MicroStrategy Guncang Kepercayaan Pasar Saham

20 January 2026 at 20:13

Strategy (sebelumnya MicroStrategy) melakukan pembelian Bitcoin terbesar sejak November 2024, hanya satu hari sebelum harga Bitcoin turun di bawah ambang US$90.000.

Meski perusahaan ini tetap konsisten menjalankan strategi akumulasi agresif, harga saham Strategy turun lebih dari 7%.

Pembelian Bitcoin Terbesar Strategy sejak 2024

Pada hari Selasa, Strategy mengumumkan telah membeli 22.305 Bitcoin senilai sekitar US$2,13 miliar, sehingga total kepemilikan Bitcoin-nya menjadi 709.715.

Transaksi ini, yang di lakukan pada hari Senin, menjadi pembelian Bitcoin terbesar oleh Strategy sejak November 2024. Selain itu, ini juga mengikuti dua pembelian tambahan yang mereka lakukan di awal Januari, yang semakin menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus memperbesar cadangan Bitcoin-nya.

Pembelian Bitcoin oleh MicroStrategy Dalam 6 Bulan Terakhir | Sumber: Strategy

Walaupun besaran pembelian terbaru ini terbilang signifikan, reaksi pasar tetap tidak terlalu besar. Sama seperti akuisisi yang di umumkan hari Senin lalu, langkah ini gagal meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Strategy.

Dalam 24 jam terakhir, harga saham perusahaan turun 7,39%, dengan MSTR diperdagangkan di harga US$160,87 pada waktu publikasi.

Strategi perusahaan dalam menentukan waktu pembelian Bitcoin juga mendapatkan sorotan dari berbagai pihak.

Harga Saham MicroStrategy pada 20 Januari | Sumber: Google Finance

Akumulasi Bitcoin Tetap Berlanjut meski Pasar Melemah

Menurut pengumuman hari Senin, Strategy membayar rata-rata US$95.284 untuk setiap Bitcoin. Padahal, di hari yang sama harga Bitcoin di perdagangkan di kisaran US$92.500 dan bahkan sempat turun di bawah US$90.000 keesokan harinya.

Waktu pembelian ini menunjukkan pola yang sering terulang, di mana Strategy nampaknya gagal memanfaatkan penurunan harga jangka pendek.

Pada bulan Desember, BeInCrypto melaporkan bahwa perusahaan ini menghabiskan hampir US$1 miliar untuk membeli 10.624 Bitcoin. Walaupun harga Bitcoin saat itu sempat turun ke sekitar US$86.000, Strategy justru melakukan pembelian setelah harga pulih ke kisaran US$90.615.

Pendekatan seperti ini terus menimbulkan pertanyaan mengenai strategi masuk pasar perusahaan dan kecenderungan mereka untuk mengakumulasi Bitcoin di harga tinggi di bandingkan saat terjadi koreksi di pasar.

Langkah Strategy ini juga belum mampu meredakan kekhawatiran para pemegang saham terkait keputusan alokasi modal secara keseluruhan.

Meski harga Bitcoin sempat pulih tipis selama sebulan terakhir, aset ini belum mampu kembali ke level US$100.000. Di sisi lain, kekhawatiran analis tentang potensi bear market juga semakin meningkatkan ketidakpastian terkait prospek harga Bitcoin dalam waktu dekat.

Di tengah situasi tersebut, Strategy tetap melanjutkan rencana akumulasi mereka.

Walaupun strategi akumulasi ini dimaksudkan memberi sinyal optimisme pada prospek jangka panjang Bitcoin, sejauh ini langkah tersebut belum banyak meredakan kekhawatiran investor dalam jangka pendek.

Bagaimana pendapat Anda tentang manuver microstrategy ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

3 Alasan Mengapa Januari Bitcoin Merupakan Fase Konsolidasi yang Krusial

20 January 2026 at 09:15

Fase konsolidasi Bitcoin sering terasa tidak nyaman bagi trader. Fase ini menguji kesabaran dan keyakinan. Tapi, periode ini juga bisa menciptakan peluang bagi investor yang mengikuti rencana manajemen modal dengan disiplin.

Beberapa sinyal menunjukkan Januari bisa menjadi bulan saat Bitcoin memasuki fase konsolidasi krusial sebelum pemulihan harga.

3 Sinyal Tunjukkan Januari Bisa Jadi Saat Bitcoin Membentuk Local Bottom

Berdasarkan data teknikal, on-chain, dan exchange, para analis percaya sinyal positif untuk pemulihan jangka panjang sudah mulai muncul.

Pertama, data teknikal menunjukkan Bitcoin sedang mendekati zona DCA optimal berdasarkan moving average (MA).

Menurut platform analitik on-chain Alphractal, zona akumulasi jangka panjang yang ideal biasanya terbentuk saat harga BTC turun di bawah semua moving average harian, mulai dari siklus 7 hari hingga 720 hari. Kondisi ini menciptakan “zona aman” di mana harga dianggap undervalued terhadap tren jangka panjangnya.

Saat ini, Bitcoin sudah turun di bawah sebagian besar moving average-nya sejak November lalu. Hanya MA720 yang masih bertahan. Level ini berada di kisaran US$86.000.

“Bitcoin sedang sangat dekat dengan salah satu zona terbaik untuk menerapkan strategi DCA. Secara historis, zona ini sangat baik untuk akumulasi jangka panjang. Agar itu terjadi, BTC harus turun di bawah US$86.000,” komentar Alphractal .

Bitcoin Dynamic MA & Price. Source: Alphractal
Bitcoin Dynamic MA & Harga | Sumber: Alphractal

Bitcoin turun di bawah US$86.000 belum tentu langsung menjadi titik terendah, tapi data historis menunjukkan periode BTC menembus MA7 sampai MA720 biasanya berlangsung beberapa bulan.

Kedua, data on-chain memperlihatkan pertumbuhan jaringan Bitcoin berada di titik terendah selama beberapa tahun terakhir. Meski terlihat negatif, pola historis justru menunjukkan hal ini sering menjadi awal fase pemulihan.

Menurut Swissblock, sebuah dana investasi sekaligus penyedia informasi pasar, lemahnya aktivitas jaringan dan likuiditas rendah mengindikasikan Bitcoin sedang berada di fase akumulasi atau konsolidasi sebelum pergerakan besar selanjutnya.

“Pertumbuhan jaringan sudah menyentuh titik terendah sejak 2022, sementara likuiditas terus berkurang. Pada 2022, level jaringan seperti ini memicu fase konsolidasi BTC saat pertumbuhan jaringan mulai membaik, walaupun likuiditas masih lemah dan mendekati dasar,” papar Swissblock.

Bitcoin Network Growth vs Liquidity. Source: Swissblock
Pertumbuhan Jaringan Bitcoin vs Likuiditas | Sumber: Swissblock

Swissblock juga menyebutkan bahwa masih diperlukan tanda-tanda adopsi baru di jaringan. Jika skenario ini terjadi, reli seperti tahun 2022 bisa mendorong Bitcoin menyentuh all-time high baru tahun ini.

Ketiga, data exchange memperlihatkan tekanan jual dari para whale turun drastis dalam satu bulan terakhir. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk konsolidasi harga dan pemulihan selanjutnya.

Binance Whale to Exchange Flow. Source: CryptoQuant.
Arus Whale ke Exchange Binance | Sumber: CryptoQuant.

Penurunan Tekanan Jual dari Whale

Berdasarkan data CryptoQuant , arus BTC dari whale ke exchange turun sangat tajam, terutama di Binance.

Secara khusus, pasokan BTC masuk dari transaksi besar yang berkisar antara 100 sampai lebih dari 10.000 BTC telah turun dari hampir US$8 miliar per bulan pada akhir November 2025 menjadi sekitar US$2,74 miliar saat ini. Perubahan perilaku ini sangat mengurangi tekanan suplai di sisi penjual. Hal ini mendukung stabilitas harga serta memperkuat potensi pemulihan.

Kombinasi sinyal teknikal (harga diperdagangkan di bawah moving average utama), data on-chain (pertumbuhan jaringan rendah), dan metrik exchange (penurunan tekanan jual whale) mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang ideal untuk membentuk titik terendah lokal.

Meski begitu, data di atas belum cukup untuk menentukan harga dasar secara pasti. Selain itu, beberapa ketidakpastian eksternal masih belum terhitung. Hal ini termasuk potensi kembalinya tekanan tarif di tengah ketegangan geopolitik dan dampak pasar akibat pergantian kepemimpinan Federal Reserve yang akan datang.

Bagaimana pendapat Anda tentang fase konsolidasi Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Bitcoin Bakal Koreksi 30%+ Menurut Prediksi Trader Veteran Peter Brandt

20 January 2026 at 05:33

Trader veteran Peter Brandt membeber prediksi bahwa Bitcoin (BTC) bisa turun menuju zona US$58.000–US$62.000. Bila benar terjadi, itu akan mewakili koreksi sebesar 33–37% dari level harga terkini sekitar US$92.400.

Prediksi ini muncul di tengah Bitcoin yang terus memancarkan banyak sinyal bearish, sementara analis lain juga turut menyoroti adanya risiko koreksi lanjutan.

Peter Brandt Wanti-wanti Bitcoin Berpotensi Drop Merujuk Pola Teknikal

Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), Brandt menyebut Bitcoin berpeluang bergerak turun ke kisaran US$58.000 sampai US$62.000. Chart atau grafik harga yang tercantum menunjukkan bahwa pandangannya bersandarkan pada pola rising wedge yang terbentuk selama dua bulan terakhir.

“US$58.000 sampai US$62.000 adalah area yang saya prediksi akan menjadi tujuan BTC,” begitu isi unggahan tersebut.

Peter Brandt's Bitcoin Price Prediction
Prediksi Harga Bitcoin Peter Brandt | Sumber: X/Peter Brandt

Sebagai informasi, pola rising wedge muncul ketika harga terkonsolidasi di antara dua garis tren naik yang saling mendekat, di mana garis tren bawah naik lebih curam ketimbang garis tren atas.

Pola ini acap kali mengindikasikan melemahnya momentum dan meningkatkan probabilitas pergerakan turun, meskipun analisis teknikal tidak pernah menjamin hasil pasti. Brandt juga mengakui adanya ketidakpastian dalam setiap proyeksi pasar. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika prediksinya meleset.

“Kalau ternyata tidak turun sampai ke sana, saya TIDAK akan malu. Jadi saya tidak perlu melihat para troll menyimpan tangkapan layar ini di masa depan. Saya salah sekitar 50% sejauh ini. Saya tidak masalah jika salah.”

Selain Brandt, beberapa pengamat pasar juga menyoroti skenario bearish lain. Seorang analis menemukan kemiripan antara struktur harga Bitcoin saat ini dengan siklus pasar tahun 2022, lalu berpendapat bahwa aset ini “mengulang pola fractal 2022 secara persis”.

Sang analis membagikan perbandingan visual yang menunjukkan bahwa dalam kedua periode tersebut, Bitcoin sempat mencatat relief rally yang kemudian tertahan di bawah resistance horizontal. Pergerakan ini akhirnya membentuk bull trap sebelum harga menembus support yang menanjak.

Pada 2022, jebolnya support tersebut memicu akselerasi penurunan yang tajam. Menurut analis tersebut, dinamika serupa kini berpotensi kembali terjadi, seiring momentum penurunan yang mulai terakumulasi.

Bitcoin 2022 vs 2026
Bitcoin 2022 vs 2026 | Sumber: Linton Worm

Terakhir, BeInCrypto juga telah menemukan 5 sinyal utama bearish untuk Bitcoin, yang semakin memperkuat kemungkinan pergerakan turun. Meski begitu, beberapa analis punya pandangan yang berlawanan.

Analis Ted Pillows menerangkan bahwa pertumbuhan likuiditas AS secara tahunan mulai menyentuh titik terendah pada November 2025, yang kebetulan juga bertepatan dengan titik terendah lokal bagi Bitcoin.

Menurut Pillows, kondisi likuiditas AS kini sudah mulai membaik, hal yang ia percaya dapat mendukung reli aset kripto.

“Sekarang likuiditas AS membaik, yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memperkirakan akan ada reli aset kripto. Sesederhana itu,” papar dia.

$BTC is still in an uptrend on the weekly chart.

We’ve tested the same support line 3 times now and it keeps holding.
This last bounce around ~$93K shows buyers are still stepping in.

As long as BTC stays above this trendline, the trend stays bullish.

Next level to watch is… pic.twitter.com/XPCC3K0ME6

— Crypto King (@CryptoKing4Ever) January 19, 2026

Aktivitas Crypto Whale OG Bitcoin Kembali Muncul di Tengah Pandangan Pasar yang Terbelah

Di tengah indikator teknikal dan ekonomi makro yang menunjukkan sinyal beragam, data on-chain menunjukkan bahwa holder jangka panjang juga mulai semakin aktif. Platform analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa seorang crypto whale OG Bitcoin yang lama tidak aktif terekam memindahkan 909,38 BTC senilai sekitar US$84,62 juta ke wallet baru setelah 13 tahun.

Saat pertama kali diterima, setiap BTC tersebut bernilai kurang dari US$7, yang berarti telah mengalami apresiasi sekitar 13.900 kali lipat. Pergerakan semacam ini kerap memantik perhatian pasar karena bisa mengindikasikan potensi aksi jual atau reposisi strategis oleh investor awal.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024.

“Sejak 4 Desember 2024, ia sudah menjual $BTC, melakukan dump sebanyak 2.500 $BTC (US$265,0 juta) di harga rata-rata US$106.164. Dia masih menyimpan 2.500 $BTC (US$237,5 juta), dengan total keuntungan lebih dari US$500,0 juta,” terang postingan tersebut.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024. Ihwal ke mana arah Bitcoin selanjutnya, masih harus kita tunggu.

Bagaimana pendapat Anda tentang analisis dan prediksi Bitcoin versi Brandt di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Empat Peristiwa Ekonomi Amerika Serikat Berdampak Besar Siap Pengaruhi Sentimen Bitcoin Pekan Ini

19 January 2026 at 10:00

Ketika para bull Bitcoin mempertahankan level psikologis US$90.000 meski volatilitas akibat geopolitik meningkat, para trader kini mencermati jadwal ekonomi Amerika Serikat yang padat dan bisa mempengaruhi sentimen kripto.

Dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang berubah-ubah, rilis data penting serta pidato tokoh-tokoh ternama mungkin bisa memicu pergerakan tajam pada BTC dan altcoin.

4 Peristiwa Ekonomi AS yang Perlu Diperhatikan Pekan Ini

Berikut rangkuman empat peristiwa utama yang masing-masing bisa berdampak signifikan pada pasar kripto minggu ini.

US Economic Events to Watch This Week
Peristiwa Ekonomi AS yang Wajib Dipantau Pekan Ini | Sumber: Trading Economics

Presiden Trump Berbicara

Pidato Presiden Donald Trump di World Economic Forum Davos pada 21 Januari pukul 13.30 ET diperkirakan akan menjadi pemicu pergerakan pasar. Ekspektasinya tinggi mengingat ia sering menyampaikan komentar tidak terduga soal perdagangan, tarif, dan geopolitik.

Trump dominates World Economic Forum in Davos. His speech will be closely watch by European leaders as Greenland situation escalates.

Reporting from Switzerland:pic.twitter.com/1qkUCw2Ewy

— Sidhant Sibal (@sidhant) January 19, 2026

Dengan delegasi AS terbesar yang pernah hadir di Davos, komentar Trump bisa saja membahas sengketa tarif yang masih berlangsung, kemungkinan aksi militer, ataupun kebijakan ekonomi yang bisa berdampak langsung pada kekuatan USD serta minat risiko global.

Pasar kripto sangat sensitif terhadap perubahan makroekonomi, sehingga volatilitas dapat meningkat bila Trump memberi sinyal kebijakan perdagangan yang hawkish, berpotensi memperkuat dolar dan menekan harga Bitcoin.

Di sisi lain, petunjuk yang mendukung pertumbuhan atau ramah terhadap kripto bisa saja memicu reli.

Initial Jobless Claims

Laporan Initial Jobless Claims pada Kamis, 22 Januari pukul 13.30 ET, memberi gambaran terbaru tentang kesehatan pasar tenaga kerja AS. Data ini menunjukkan jumlah warga AS yang pertama kali mengajukan klaim asuransi pengangguran pekan lalu.

Ekonom yang disurvei Trading Economics memperkirakan jumlah initial jobless claims mencapai 203.000 untuk pekan yang berakhir 15 Januari, naik dari 198.000 pada pekan sebelumnya.

Rilis berdampak besar ini hadir di tengah data tenaga kerja yang masih solid, karena angka sebelumnya hanya 198.000, di bawah ekspektasi 215.000. Ini mengindikasikan ekonomi kuat dan mendukung penguatan dolar.

🚨 BREAKING 🚨

🇺🇸 U.S. INITIAL JOBLESS CLAIMS JUST DROPPED:

📌 ACTUAL: 198K
📌 FORECAST: 215K

LABOR MARKET STILL HOLDING STRONG 👀🔥 pic.twitter.com/Re0SSd9mkt

— Mr. Bitcoin Whale (@MrBitcoinWhalee) January 15, 2026

Bagi Bitcoin, klaim yang lebih rendah (menandakan PHK lebih sedikit) dapat memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish, mendorong yield naik dan memberi tekanan pada aset berisiko seperti kripto.

Tren terbaru menunjukkan klaim mendekati rekor terendah sepanjang masa jika disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja, tanpa tanda-tanda resesi.

“Faktanya, bila penyesuaian dilakukan terhadap jumlah tenaga kerja, jobless claims berada di *level terendah sepanjang masa* sejak 1965,” tulis perusahaan hipotek kripto, Milo.

Jika data klaim kembali melampaui ekspektasi, sentimen BTC bisa memburuk, memperpanjang koreksi dari level tertinggi US$90.000 karena muncul kekhawatiran pemangkasan suku bunga yang tertunda.

Sebaliknya, data yang lebih lemah bisa menghidupkan kembali harapan pelonggaran, menopang rebound kripto. Peristiwa ini juga senada dengan sorotan makro lain, karena analis menghubungkan kekuatan tenaga kerja dengan pergerakan kripto.

Karena korelasi antara Bitcoin dan saham sedang tinggi, penyimpangan dari ekspektasi bisa memicu volatilitas, apalagi setelah pidato Trump.

Core PCE Price Index

Selain itu, pada 22 Januari pukul 13.30 ET, data Core PCE Price Index m/m, yaitu ukuran inflasi favorit The Fed, diproyeksi sebesar 0,2%, naik dari 0,1% sebelumnya.

Rilis data bulan November ini, bersama data Oktober yang 0,2%, akan mempengaruhi peluang pemangkasan suku bunga tahun 2026. Inflasi yang lebih panas bisa saja menunda pelonggaran dan memperkuat USD.

Fed Rate Cut Probabilities
Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed | Sumber: CME FedWatch Tool

Bagi Bitcoin, inflasi yang terus bertahan di atas target dapat mengikis minat risiko, sebab yield lebih tinggi menarik dana keluar dari kripto.

Sementara itu, analisis web terbaru menyebutkan keterkaitan yang makin kuat antara PCE dan volatilitas kripto, dengan kenaikan moderat diprediksi, namun kejutan tetap bisa terjadi apalagi di tengah perdebatan tarif.

Jika PCE melampaui prediksi, BTC bisa mengalami tekanan turun, tapi data yang lebih rendah dari ekspektasi bisa mendorong sentimen positif.

Sentimen Konsumen

Menutup pekan peristiwa ekonomi AS yang berdampak pada kripto adalah laporan sentimen konsumen.

Pada 23 Januari pukul 15.00 ET, data Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan yang telah direvisi untuk Januari diproyeksi ada di angka 54,0, sama dengan angka awal 54,0, yang mana ini merupakan level terendah dalam 75 tahun terakhir.

Consumer Sentiment is the lowest its been in 75 years.

Main Street (the average Joe & Jane) are squeezed into despair.

Crypto is a retail phenomena (institutions only recently started entering Bitcoin and Ethereum).

So we need Main Street to be healthy for Crypto to rise pic.twitter.com/1JTcVsUhFX

— yourfriendSOMMI ❤️💛💚💙 (@yourfriendSOMMI) January 12, 2026

Indikator ini mencerminkan suasana ekonomi masyarakat umum, yang sangat penting untuk adopsi aset kripto yang didorong oleh ritel. Sentimen yang rendah menandakan konsumen sedang tertekan karena tingginya biaya dan ketidakpastian. Hal ini bisa mengurangi antusiasme terhadap Bitcoin karena institusi semakin mendominasi, sedangkan ritel sebenarnya yang mendorong reli pasar.

Jika revisi data ini melebihi ekspektasi, sentimen terhadap BTC bisa meningkat, menandakan adanya pemulihan. Sebaliknya, jika hasilnya mengecewakan, kehati-hatian bisa terus berlanjut dan menekan harga.

Bitcoin (BTC) Price Performance
Performa Harga Bitcoin (BTC) | Sumber: BeInCrypto

Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di harga US$92.663, turun hampir 3% dalam 24 jam terakhir.

Alien Sudah Dikonfirmasi? Mantan Orang Dalam Bank of England Kaitkan Bitcoin dengan Teori Kosmik

19 January 2026 at 09:25

Pertama, pasar membahas tentang komputasi kuantum, lalu salah satu strategi top Wall Street berhenti percaya pada Bitcoin. Sekarang, muncul argumen baru bahwa bahkan makhluk luar angkasa bisa memicu kekacauan di pasar keuangan, dan Bitcoin bisa saja ikut terjebak di tengahnya.

Helen McCaw, mantan analis senior di Bank of England (BoE), memperingatkan bahwa konfirmasi resmi tentang kehidupan luar angkasa dapat memicu kekacauan keuangan yang belum pernah terjadi di pasar modern.

Mantan Analis Bank of England Peringatkan Kekacauan Finansial jika Alien Dikonfirmasi

Menurut pandangannya, Bitcoin (BTC) bisa muncul sebagai tempat perlindungan terakhir, bahkan ketika institusi tradisional runtuh. McCaw, yang pernah bekerja di bidang stabilitas keuangan dan risiko di BoE hingga tahun 2012, menulis langsung ke Gubernur Andrew Bailey. Ia mendesak bank sentral untuk melakukan uji ketahanan pada skenario yang dianggap mustahil: kecerdasan di balik Unidentified Anomalous Phenomena (UAP) yang benar-benar terverifikasi.

Ia memprediksi akan terjadi “ontological shock”—yaitu goncangan psikologis yang dapat meruntuhkan kepercayaan kolektif terhadap realitas itu sendiri.

Menurut The Times, hal semacam itu bisa memicu volatilitas pasar ekstrem, rush ke bank, kegagalan sistem pembayaran, bahkan kerusuhan sipil, bahkan dalam hitungan jam.

Kekhawatiran tersebut berpangkal pada upaya deklasifikasi yang sedang berlangsung di AS, termasuk pengarahan dari Pentagon dan UAP Transparency Act.

Menariknya, beberapa pejabat senior Amerika, termasuk Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, Senator New York Kirsten Gillibrand, dan James Clapper, mantan direktur intelijen nasional, baru-baru ini menunjukkan keyakinan mereka pada kemungkinan adanya kehidupan non-manusia yang cerdas.

Have you watched or heard of the “documentary” called The age of disclosure? Lots of US officials give evidence, even Marco Rubio. It was released last year.

— Sara 🌻 🇬🇧🏴󠁧󠁢󠁳󠁣󠁴󠁿 (@amun_sarah) January 16, 2026

Bitcoin Siap Jadi Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian Besar

McCaw memperkirakan akan ada perburuan ke aset aman. Emas tradisional mungkin tidak lagi menarik jika teknologi alien menunjukkan masa depan penuh logam mulia hasil tambang luar angkasa.

Bitcoin, sebaliknya, bersifat terdesentralisasi dan bebas dari kontrol pemerintah, sehingga bisa jadi menarik bagi investor yang mulai mempertanyakan legitimasi mata uang fiat.

Prediction market sudah mulai menyoroti isu ini, di mana platform seperti Polymarket memberi peluang sekitar 14% akan adanya pengungkapan resmi sebelum tahun 2027.

Meski kemungkinannya tetap rendah di angka 14%, McCaw berpendapat pasar belum siap terhadap efek berantai dari peristiwa radikal seperti ini.

Will the United States confirm the existence of extraterrestrials before 2027
Apakah Amerika Serikat akan mengonfirmasi keberadaan makhluk luar angkasa sebelum tahun 2027? | Sumber: Polymarket

Komunitas kripto pun ramai membahas isu ini, dengan para pengguna X yang memperbesar peringatan McCaw sebagai alasan unik yang bullish untuk BTC.

❤️💛💚💙

🧃 Juicy News

⚪ BTC $95K
⚪ ETH $3300
🟢ETH-BTC = 0.035

🇬🇧 Bank Of England releases article saying to Prepare for Alien Disclosure from the US Government.
🇬🇧 They mention that Stocks could go Down or Up, and talk about Precious Metals & Bitcoin potentially having big… pic.twitter.com/zKh5KbdeZE

— yourfriendSOMMI ❤️💛💚💙 (@yourfriendSOMMI) January 18, 2026

Mempersiapkan Diri untuk Hal yang Tak Terpikirkan dan Peran yang Bisa Dimainkan oleh Bitcoin

Bank of England sendiri belum pernah mengeluarkan peringatan tentang alien—pendapat McCaw sepenuhnya bersifat pribadi. Tapi media telah membesar-besarkan pesan ini menjadi “Bank of England Bersiap Hadapi Kiamat Alien.”

Meski demikian, logika dasarnya tetap terasa masuk akal. Sistem keuangan sangat rentan terhadap guncangan kepercayaan, dan struktur desentralisasi Bitcoin bisa saja diuntungkan ketika kepercayaan terhadap aset yang didukung pemerintah menghilang.

White paper McCaw untuk Sol Foundation tahun 2024 menekankan bahwa pemerintah harus mengatasi “cognitive dissonance” terhadap UAP dan berkoordinasi secara global dengan sekutu seperti AS dan Jepang.

Singkatnya, ini bukan soal membuktikan alien benar-benar ada, melainkan soal bersiap jika hal yang tak terbayangkan memang terjadi.

McCaw tidak meramalkan ada pendaratan alien besok. Ia hanya mendorong sektor keuangan untuk bersiap menghadapi yang tak terpikirkan. Di dunia di mana realitas pun bisa dipertanyakan, kepastian terdesentralisasi milik Bitcoin bisa bersinar paling terang—saat segalanya terasa… asing.

Apakah Anda punya opini tentang bagaimana “alien bisa berdampak pada Bitcoin” atau topik lain? Tulis kepada kami atau ikut diskusi di channel Telegram BeInCrypto, atau di YouTube. Anda juga bisa menemukan kami di  LinkedIn dan (X)Twitter.

Trump Berulah! Bitcoin Turun, Emas ATH. Uni Eropa Siaga Satu?

19 January 2026 at 07:57

Bitcoin (BTC) dan emas bergerak ke arah berlawanan ketika ketegangan tarif meningkat antara Presiden AS Donald Trump dan Uni Eropa.

Sementara logam mulia ini reli ke rekor tertinggi baru di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat, aset kripto utama justru melemah. Pergerakan yang saling bertolak belakang ini mencerminkan pola serupa yang terjadi di bulan Oktober. Hal ini kembali memicu perdebatan tentang apa yang bisa terjadi selanjutnya bagi kedua aset tersebut.

Ketegangan Perdagangan AS–Uni Eropa Meningkat setelah Langkah Tarif Terbaru Trump

Pada 17 Januari 2026, Presiden Trump mengumumkan tarif sebesar 10% untuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, yang berlaku mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni dan tetap berlaku sampai Amerika Serikat mendapatkan kesepakatan untuk membeli Greenland.

Sementara itu, para perwakilan dari delapan negara yang terdampak tarif baru AS mengadakan pertemuan darurat pada Minggu. Dalam pernyataan bersama, Presiden Costa dan Presiden von der Leyen menyampaikan bahwa Uni Eropa “sepenuhnya mendukung” Denmark dan rakyat Greenland. Hal ini menandakan respons politik yang bersatu atas langkah Washington terbaru ini.

Selain itu, Financial Times melaporkan bahwa Uni Eropa tengah mempertimbangkan paket balasan yang lebih luas. Bisa saja mencakup tarif senilai hingga €93 miliar (US$107,71 miliar) atau melarang perusahaan-perusahaan AS memasuki pasar blok kawasan tersebut.

Guncangan Tarif Dorong Investor ke Emas saat Saham dan Bitcoin Turun

Pasar bereaksi cepat terhadap berita tarif tersebut, namun dengan cara bertolak belakang. Harga emas melonjak hingga US$4.690/oz pada awal perdagangan Asia hari ini, menandai level tertinggi sepanjang masa (ATH) baru.

Harga perak juga naik mencapai rekor baru di atas US$94/oz. Sebaliknya, pasar saham dibuka melemah.

BREAKING: Stock market futures officially open for the first time since President Trump announced 10% tariffs on 8 EU countries, demanding an acquisition of Greenland:

1. S&P 500: -0.7%
2. Nasdaq 100: -1%
3. Dow Jones: -0.5%
4. Gold: +1%
5. Silver: +3%

It’s going to be an…

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) January 18, 2026

Bitcoin juga bergerak turun bersama sejumlah aset berisiko lainnya. Data Pasar BeInCrypto menunjukkan bahwa BTC sempat turun di bawah US$95.000.

Pada waktu publikasi, aset ini diperdagangkan di US$92.574, turun 2,67% dalam 24 jam terakhir. Total kapitalisasi pasar aset kripto merosot hampir US$98 miliar dalam periode yang sama.

Penurunan harga ini memicu gelombang likuidasi di seluruh pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, total nilai likuidasi mencapai US$864,35 juta, dengan posisi long menyumbang lebih dari US$780 juta dari jumlah tersebut.

“Bitcoin turun hampir -US$4.000 karena posisi long dengan leverage senilai US$500 juta terlikuidasi hanya dalam 60 menit,” papar The Kobeissi Letter .

Kontras antara emas dan Bitcoin di tengah gejolak akibat tarif ini menyoroti perbedaan utama dalam cara pasar memandang kedua aset tersebut. Peran emas sebagai penyimpan nilai di masa ketidakpastian ekonomi maupun geopolitik tetap tak tergoyahkan.

Bitcoin, yang sering disebut sebagai “emas digital,” masih diperdagangkan layaknya aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat, dengan harga yang terikat erat pada sentimen pasar secara umum ketimbang permintaan safe haven yang langsung melonjak.

Apa Selanjutnya untuk Bitcoin di Januari?

Analis Timothy Peterson membagikan analisisnya soal respons Bitcoin yang tertunda terhadap pengumuman Trump. Ia menuturkan bahwa meski Bitcoin diperdagangkan 24 jam, harganya tidak merespon selama kurang lebih 36 jam dan baru turun setelah perdagangan institusional dimulai di Asia.

“Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar berita intraday soal pergerakan harga biasanya cuma narasi tidak penting yang baru diceritakan setelah kejadian. Selain itu, banyak trader ritel tetap memasang leverage meski sudah ada peringatan lebih dari sehari penuh bahwa peristiwa ini akan terjadi (Ini adalah pengumuman tarif Trump ketiga, setiap kali Bitcoin babak belur.) Benar-benar tidak bisa berkata-kata,” jelasnya .

Selain itu, Crypto Rover mengingatkan bahwa minggu ini “bisa mengguncang seluruh pasar,” merujuk pada serangkaian kebijakan besar yang berpotensi membuat volatilitas tinggi di saham dan aset kripto.

“Tarif Uni Eropa mengancam arus perdagangan senilai hampir US$1,5 triliun,” ujar dia . “Jika Uni Eropa mulai membangun kesepakatan dagang dengan negara-negara yang juga dijatuhi sanksi AS, AS berisiko tersingkir dari jalur perdagangan utama. Hal itu akan: Buruk untuk sentimen risiko global, Buruk untuk saham AS, Buruk untuk dollar.”

Rover juga menyebutkan bahwa keputusan Mahkamah Agung AS yang akan datang menambah tingkat ketidakpastian lain, karena keputusan apapun terkait tarif bisa saja mengguncang pasar. Ia menambahkan bahwa kedua skenario tersebut besar kemungkinan akan memberi tekanan pada saham dan aset kripto.

Di tengah situasi ini, para ahli masih berbeda pendapat mengenai potensi pergerakan Bitcoin. Mike McGlone, senior commodity strategist di Bloomberg Intelligence, memperkirakan bahwa rasio Bitcoin terhadap emas kemungkinan besar akan terus turun mendekati 10x, sehingga mempertegas kinerja emas yang lebih unggul secara berkelanjutan, bukan kembali naik mendekati 30x menguntungkan Bitcoin.

“Semua orang berharap Bitcoin mengikuti jejak emas dan reli ke level tertinggi baru. Tapi pasar sudah memberikan waktu terlalu lama bagi spekulan untuk membeli. Yang jauh lebih mungkin terjadi adalah kegagalan Bitcoin menyamai keuntungan emas justru akan melemahkan narasi Bitcoin sebagai emas digital, sehingga terjadi crash yang spektakuler,” papar ekonom Peter Schiff di postingannya.

Trader veteran Peter Brandt menuturkan bahwa aset berbasis US dollar bisa jadi tampil kurang baik daripada komoditas fisik. Ia juga mengakui masih ragu soal peran Bitcoin dalam pergeseran ini dan memprediksi bahwa altcoin akan kehilangan nilai secara signifikan.

“Emas akan kembali menjadi tempat penyimpanan kekayaan paling andal di dunia. Aset berbasis USD akan kehilangan nilai terhadap komoditas fisik — yang, omong-omong, bisa saja termasuk atau tidak termasuk Bitcoin. Altcoin akan jadi lebih tidak berharga dibanding USD,” komentar trader tersebut.

Walau begitu, optimisme masih tersisa di beberapa sudut. Sejumlah analis tetap memperkirakan Bitcoin akan menyusul performa emas.

“Tahun lalu, emas menambah kapitalisasi pasar sekitar US$10 triliun. Saya tidak akan terkejut jika sebagian keuntungan itu dipindahkan atau didiversifikasi ke bitcoin,” ucap seorang pengamat pasar di postingannya.

Global M2 expansion is already being priced in by gold and silver

Both metals moved first as liquidity accelerated, while Bitcoin is still lagging below the trend

Historically, $BTC catches up late in the cycle, not early

We are going higher pic.twitter.com/CJOaVl8bIi

— BLADE (@BladeDefi) January 18, 2026

Dengan eskalasi ketegangan perdagangan dan selera risiko yang terus memburuk, pasar akan segera mengungkap apakah Bitcoin dapat menyusul atau emas tetap menjadi standar safe haven yang tak tergantikan.

Bagaimana pendapat Anda tentang manuver terbaru Trump yang bikin market guncang ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Sinyal Bear Bitcoin Mulai Muncul Januari Ini, Apa Saja?

19 January 2026 at 07:38

Januari sejauh ini berlangsung volatil untuk Bitcoin (BTC), karena aset ini menghadapi tekanan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Uni Eropa setelah pengumuman tarif terbaru dari Presiden Trump.

Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar ini turun hampir 2,5% ke US$92.663. Sementara itu, para analis menunjukkan sinyal pasar bearish yang mulai muncul di tahun 2026.

1. Bearish Kumo Twist Muncul di Chart Bitcoin

Pada postingan terbaru di X (sebelumnya Twitter), analis Titan of Crypto menyoroti adanya “Kumo twist” yang tampak di chart mingguan Bitcoin. Sebagai informasi, Kumo twist adalah formasi yang terjadi ketika dua rentang utama dari Ichimoku Cloud (Senkou Span A dan Senkou Span B) berpotongan sehingga menyebabkan arah cloud masa depan berubah.

Bergantung pada arah perpotongan tersebut, formasi ini bisa menjadi sinyal potensi transisi dari kondisi bullish ke bearish atau sebaliknya, dari bearish ke bullish. Pada kasus Bitcoin saat ini, twist yang muncul bersifat bearish.

Bitcoin Ichimoku Cloud bearish shift
Ichimoku Cloud Mingguan Bitcoin | Sumber: X/Titan of Crypto

Merujuk pada siklus pasar sebelumnya, Titan of Crypto menjelaskan bahwa pergeseran Kumo mingguan serupa biasanya di ikuti fase koreksi yang signifikan di mana Bitcoin mencatat penurunan sekitar 67% hingga 70%.

“Secara historis, ketika Kumo mingguan berubah jadi bearish, BTC memasuki fase bear market. Itu bukan berarti harga langsung turun. Artinya, struktur dan dinamika tren pasar secara umum telah berubah. Ini hanya sebagai konteks, bukan prediksi. Berdasarkan tiga siklus terakhir,” terang postingan tersebut.

2. Bitcoin Masih Sulit Menembus Batas Penting

Selain itu, saat ini Bitcoin di perdagangkan di bawah moving average 365 hari yang berada di kisaran US$101.000. Batas ini sangat penting pada bear market tahun 2022, karena sempat menghentikan reli pemulihan.

Bitcoin 365-day moving average analysis
Penolakan Harga Bitcoin di MA 365 Hari | Sumber: X/Coin Bureau

Analisis dari Coin Bureau menerangkan bahwa posisi Bitcoin yang kini berada di bawah MA ini menandakan pasar masih dalam kondisi bearish.

Analisis teknikal lain menggunakan Gaussian Channel pada chart lima hari juga memperkuat kekhawatiran tersebut. Analis kripto bernama Raven mengamati bahwa Bitcoin telah kehilangan level median dari channel ini.

Postingan tersebut menambahkan bahwa kegagalan menahan dan melakukan retest pada level ini secara historis menandai awal fase lebih agresif dari bear market.

“Saya yakin kita memang menuju zona US$103k untuk retest, atau mungkin sedikit lebih tinggi demi mencari likuiditas. Jika kita berhasil membentuk dan mempertahankan support di atas median, saya akan memberi kabar. Sampai saat itu, semuanya sebaiknya dianggap hanya dead cat bounce,” lanjut analis tersebut.

Bitcoin Gaussian Channel analysis
Gagalnya Retest Median Gaussian Channel Bitcoin | Sumber: X/Crypto Raven

3. Pola Drawdown Historis Menunjukkan Masih Ada Penurunan

Sejarah harga Bitcoin menunjukkan pola berulang penurunan tajam setelah puncak siklus. Setelah mencapai puncak tahun 2013, harga Bitcoin turun sekitar 75,9%, lalu turun 81,2% setelah puncak tahun 2017, dan sekitar 74% penurunan setelah puncak tahun 2021.

Namun pada siklus saat ini, koreksinya jauh lebih ringan, dengan kerugian justru hanya sedikit di atas 30%, atau terbilang kecil jika di bandingkan sejarah. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan masih pada tahap awal dan ada peluang penurunan lebih lanjut seiring perkembangan siklusnya.

Bitcoin's Historical Price Drop Patterns
Pola Penurunan Harga Bitcoin Secara Historis | Sumber: CryptoQuant

4. Indikator Siklus Pasar Tunjukkan Fase Bear Bitcoin Masih Berkembang

Walaupun penurunan harga historis biasanya menyoroti perilaku harga setelah pasar mencapai puncaknya, indikator siklus yang lebih luas membantu menilai kondisi saat ini cocok dengan periode yang mana.

Indikator Siklus Pasar Bull-Bear, yang melacak fase-fase besar dalam pasar, menunjukkan kondisi bearish telah dimulai sejak Oktober 2025. tapi, indikator ini belum bergerak ke dalam fase bear yang ekstrem.

“Dengan metrik ini, BTC sudah berada di wilayah bear market, dan di setiap siklus sebelumnya kita selalu masuk ke zona biru tua, yang menandakan level harga masih bisa turun lagi. Tapi silakan saja, kalau mau prediksi harga naik! Pada akhirnya, seseorang pasti jadi exit liquidity,” ujar seorang analis melalui X.

Bitcoin Bull-Bear Market Cycle Indicator.
Indikator Siklus Pasar Bull-Bear Bitcoin | Sumber: CryptoQuant

5. Exchange Inflow Menunjukkan Distribusi oleh Holder Besar

Terakhir, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan aliran masuk Bitcoin ke exchange. Aliran ini didominasi oleh holder menengah hingga besar, terutama mereka yang memiliki 10–100 BTC dan 100–1.000 BTC.

Peningkatan transfer Bitcoin ke exchange biasanya menandakan aktivitas distribusi yang semakin banyak dibandingkan dengan akumulasi jangka panjang, karena partisipan pasar memindahkan asetnya untuk bersiap-siap menjual.

“Aktivitas mereka biasanya lebih relevan secara informasi dibandingkan aliran ritel yang terfragmentasi, karena mencerminkan keputusan strategis, bukan cuma ‘noise’. Dari sudut pandang on-chain makro, kombinasi meningkatnya aliran masuk ke exchange dan distribusi dari kelompok holder besar mengindikasikan pasar sedang masuk ke fase yang lebih rentan,” terang seorang analis di CryptoQuant.

Secara keseluruhan, Bitcoin memperlihatkan beberapa sinyal bear market di berbagai indikator teknikal, historis, dan on-chain. Meski begitu, apakah pergerakannya akan mengikuti pola penurunan historis atau justru mengejutkan pasar dengan kekuatan baru, masih belum pasti.

Bagaimana pendapat Anda tentang 5 sinyal penurunan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Jalur Breakout 13% Bitcoin Tetap Aman di Tengah Lonjakan Profit Booking 150%, Grafik Menjelaskan Caranya

19 January 2026 at 05:25

Harga Bitcoin mengalami koreksi, tapi struktur besarnya belum rusak. Setelah puncak pertama tahun 2026 pada 14 Januari, BTC terkoreksi hampir 6% dan sempat menyentuh area US$92.000. Sejak saat itu, harga BTC mulai stabil, meski masih menunjukkan penurunan sekitar 2,6% dalam 24 jam terakhir.

Sekilas, pergerakan ini terlihat lemah. Tapi kalau dilihat lebih luas, baik struktur pada grafik maupun data on-chain justru menunjukkan koreksi ini hanyalah aksi ambil untung terkontrol dan bukan awal penurunan lebih dalam. Sekarang, pertanyaan utamanya cukup sederhana: apakah ini hanya jeda, atau Bitcoin sedang bersiap untuk bergerak naik lagi?

Struktur Cup-And-Handle Menjaga Bias Bullish Tetap Hidup

Pada grafik harian, Bitcoin masih bergerak di dalam pola handle dari cup-and-handle. Ini penting karena handle-nya terbentuk di atas neckline yang terus naik. Handle yang naik menandakan pembeli mulai masuk di harga yang lebih tinggi, sehingga peluang breakout sukses akan semakin besar jika resistance berhasil dilewati.

Bullish BTC Structure
Struktur Bullish BTC | Sumber: TradingView

Ingin insight token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Kripto dari Editor Harsh Notariya di sini.

Sinyal pendukung lain datang dari sisi momentum. Antara 4 November sampai 19 Januari, harga Bitcoin membentuk lower low, tapi Relative Strength Index (RSI) justru membentuk higher low. RSI mengukur momentum dengan membandingkan kenaikan dengan penurunan harga terkini. Saat harga turun tapi RSI naik, itu menandakan tekanan jual mulai melemah.

Tim analitik dari ekosistem aset kripto all-in-one B2BINPAY dalam komentarnya eksklusif kepada BeInCrypto menyebutkan bahwa pergerakan harga ini mengisyaratkan kesabaran, bukan kelelahan pasar.

“Apa yang kami lihat pada Bitcoin adalah pergerakannya secara perlahan mulai keluar dari fase datar panjang yang telah dimulai sejak pertengahan November 2025. Tidak ada lonjakan aktivitas tajam di grafiknya, dan biasanya hal ini berarti pasar sedang jeda sebelum mencoba kembali menguji level US$100.000,” papar mereka.

RSI Hints At Price Rise
RSI Mengisyaratkan Kenaikan Harga | Sumber: TradingView

Bullish divergence ini menunjukkan tren turun selama tiga bulan terakhir, di mana Bitcoin masih turun sekitar 15%, nampaknya mulai kehilangan tenaga. Divergensi ini akan terkonfirmasi jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$92.000 dan mulai menguat kembali. Selama harga masih berada di dalam handle, struktur bullish-nya tetap utuh.

Jadi jika grafiknya masih terlihat bagus, kenapa Bitcoin justru turun awalnya?

Profit Booking oleh Holder Jangka Panjang Menjelaskan Penurunan

Jawabannya ada di data on-chain. Koreksi terbaru ini sangat selaras dengan aksi ambil untung oleh holder jangka panjang, bukan aksi jual panik.

NUPL holder jangka panjang (Net Unrealized Profit/Loss) turun dari sekitar 0,60 ke 0,58 saat terjadi koreksi. NUPL mengukur seberapa besar profit yang belum direalisasi oleh para holder. Penurunan NUPL berarti profit sedang direalisasikan. Ini menjadi salah satu koreksi NUPL paling tajam dalam timeframe bulanan, mirip penurunan yang terjadi pada 5–10 Januari lalu.

Long-Term Holders Book Profits
Holder Jangka Panjang Ambil Untung | Sumber: Glassnode

Hal ini juga dikonfirmasi oleh perubahan posisi bersih holder jangka panjang. Metode ini melacak apakah holder yang memegang koin lebih dari 365 hari sedang akumulasi atau menjual. Pada 14 Januari, holder jangka panjang melepas sekitar 25.738 BTC. Dan pada 18 Januari, angkanya naik jadi sekitar 62.656 BTC. Artinya, tekanan jual bertambah sekitar 150% hanya dalam beberapa hari.

LTH Selling Pressure
Tekanan Jual Holder Jangka Panjang | Sumber: Glassnode

Walaupun tekanan aksi ambil untung makin tinggi, para analis menyoroti bahwa perilaku permintaan tidak menunjukkan pelemahan yang berarti. Menurut tim analitik B2BINPAY, posisi pasar secara luas masih menunjukkan akumulasi yang stabil di balik layar.

“Pembeli tetap ada, tapi mereka tidak terburu-buru. Di saat yang sama, holder besar terus menambah kepemilikan. Pada 13 Januari, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot mencatat arus masuk hampir US$900 juta, jadi hari terkuat sejak 7 Oktober. Pada hari itu juga, harga Bitcoin naik hampir 8%,” terang mereka.

Aksi jual tersebut menjelaskan kenapa reli Bitcoin belakangan ini sulit berlanjut. Saat holder berkeyakinan melepas kepemilikan, kenaikan harga bakal tertahan meski grafik masih sehat.

Tapi, tidak semuanya bersifat negatif.

Saat holder jangka panjang sedang menjual, ada kelompok lain secara diam-diam melakukan hal sebaliknya.

Whale Masih Akumulasi Saat Level Harga Kunci Bitcoin Jadi Sorotan

Entitas yang memegang lebih dari 1.000 BTC terus melakukan akumulasi. Sejak 12 Januari, jumlah entitas seperti ini naik dari sekitar 1.273 menjadi kurang lebih 1.290. Angka ini memang kenaikan kecil, tapi yang penting, peningkatan itu terjadi sebelum harga turun dan terus berlanjut selama penurunan.

Ini menunjukkan para whale tidak menjual saat harga melemah. Akumulasi mereka membantu menyerap sebagian pasokan, meskipun holder jangka panjang mengambil keuntungan.

Whale Balances Grew
Saldo Whale Bertambah | Sumber: Glassnode

Dari sisi harga, saat ini Bitcoin ada di titik penentuan. Agar kembali kuat, harga perlu kembali menembus US$95.200, yang akan menjadi sinyal breakout dari pola handle. Di atas level tersebut, US$98.800 jadi level utama berikutnya. Jika tembus, jalur menuju proyeksi pola di sekitar US$111.800 pun terbuka, naik sekitar 13% dari neckline dinamis cup.

Tim B2BINPAY juga menyoroti level BTC serupa saat berbincang dengan BeInCrypto:

“Secara keseluruhan, struktur masih mendukung kelanjutan tren. Selama Bitcoin di atas area US$94–95 ribu, pergerakan ke US$100–105 ribu sangat realistis dalam beberapa minggu ke depan, bahkan bisa mencapai kisaran US$120–140 ribu pada 2026 jika permintaan tetap terjaga. Jika gagal, kemungkinan besar akan terjadi koreksi ke US$88–90 ribu, di mana likuiditas sudah terkonsentrasi,” terang mereka.

Di sisi bawah, struktur akan melemah jika Bitcoin menutup di bawah US$92.000. Jika turun signifikan di bawah US$89.200, pola tersebut sepenuhnya tidak lagi valid.

Bitcoin Price Analysis
Analisis Harga Bitcoin | Sumber: TradingView

Penurunan harga baru-baru ini didorong oleh aksi ambil untung, bukan rasa takut. Struktur masih bullish. Whale juga masih menambah. Tapi agar breakout benar-benar kuat, holder jangka panjang perlu berhenti menjual dan mulai membeli lagi. Sampai itu terjadi, harapan breakout 13% Bitcoin tetap terbuka, walau belum pasti terwujud.

Rekor Opsi Ritel & Guncangan Geopolitik Ancam Pasar Pekan Ini

19 January 2026 at 02:35

Pasar kripto tengah bersiap menghadapi pekan yang luar biasa turbulen, seiring aktivitas opsi ritel yang mencetak rekor bertabrakan dengan risiko geopolitik yang kian memanas.

Meski harga Bitcoin bertahan di sekitar US$95.100 pada Minggu, memberi kesan pasar tanpa volatilitas ketika kripto pelopor tersebut berkonsolidasi di level yang tipis, perhatian tetap tertuju pada konvergensi ketegangan dagang AS–UE, putusan Mahkamah Agung yang membayangi, serta lonjakan spekulasi ritel.

Pekan Berisiko Tinggi di Depan Mata: Kripto, Saham, dan Logam dalam Bidikan

Trader ritel saat ini memberikan pengaruh yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap dinamika pasar, dengan laporan yang menunjukan bahwa partisipasi ritel di pasar opsi kini mencapai 21,7% dari total volume, naik dari 10,7% pada tahun 2022.

Volume call harian dari ritel melonjak menjadi 8,2 juta kontrak, sedangkan put mencapai 5,4 juta, jumlah ini merupakan rekor tertinggi kedua sepanjang sejarah.

Retail Options Trading Share
Pangsa Perdagangan Opsi Ritel | Sumber: Kobeissi Letter di X

Pionir Bitcoin Max Keiser menyebut kegilaan ini sebagai “casino gulag” pasar, mengacu pada pasar yang didominasi spekulasi, leverage, serta taruhan jangka pendek dengan pelaku yang terjebak dalam lingkungan perjudian berisiko tinggi.

Casino Gulag 🫠 https://t.co/WJzhzkCIRT

— Max Keiser (@maxkeiser) January 18, 2026

Investor individu kini semakin membentuk tren harga dan memperbesar penggunaan leverage di BTC, SPY, serta aset likuid lainnya.

“Investor ritel belum pernah berspekulasi sebanyak ini sebelumnya,” tulis seorang pengamat pasar global. “Volume call saja melebihi 8 juta kontrak per hari, sedangkan put naik sampai 5 juta. Secara keseluruhan, volume opsi ritel lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu. Selera risiko tetap sangat tinggi.”

Menambah tekanan pasar, tensi dagang AS–UE kian meningkat. Selama akhir pekan, Presiden Donald Trump mengumumkan tarif 10% atas 8 negara Eropa. Ini adalah langkah yang dirancang untuk menekan dukungan terhadap pembelian Greenland oleh AS.

Tarif ini bisa meningkat sampai 25% pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan, sehingga mengancam arus perdagangan senilai US$1,5 triliun. Presiden Prancis Emmanuel Macron membalas dengan menyerukan Uni Eropa untuk menggunakan instrumen anti-koersi”. Yakni, langkah yang dapat memblokir perbankan AS dari pengadaan di Uni Eropa dan menargetkan raksasa teknologi Amerika.

INTEL: Macron calls for EU to deploy unprecedented “anti-coercion instrument” against US after Trump’s Greenland tariff threat. It could block US banks from EU procurement and target American tech giants. pic.twitter.com/GSI7Gk1H75

— Solid Intel 📡 (@solidintel_x) January 18, 2026

Langkah balasan yang belum pernah terjadi ini berpotensi membentuk ulang leverage perdagangan global.

Tensi Geopolitik, Ketidakpastian Hukum, dan Spekulasi Ritel Ancam Stabilitas Pasar

Risiko geopolitik juga melebar lebih dari sekadar tarif. Analis memperingatkan bahwa kesepakatan dagang Uni Eropa-Mercosur dan pengaruh AS terhadap negara-negara Mercosur, termasuk Argentina dan Brasil, dapat semakin memperburuk sentimen risiko global.

Analis Endgame Macro menggambarkan situasi ini sebagai uji kekuatan pengaruh, menjelaskan bahwa Washington bisa diam-diam memberi tekanan pada blok dagang Amerika Selatan lewat saluran keuangan dan perdagangan, sehingga menciptakan risiko tidak seimbang meski tanpa konflik terbuka.

If the EU really moves to block or freeze a U.S. trade in response to Trump’s tariff threats, this stops being about tariffs or Greenland and turns into something much bigger. It becomes a test of leverage.

The EU-Mercosur agreement that was signed yesterday, after decades of… https://t.co/nir8xI8MGj

— EndGame Macro (@onechancefreedm) January 18, 2026

Di sisi lain, pasar sedang menunggu putusan Mahkamah Agung tentang legalitas tarif Trump, yang menambah ketidakpastian.

Jika Mahkamah memutuskan menentang pemerintah, hal ini bisa menggerus kepercayaan terhadap kebijakan perdagangan dan memicu aksi jual mendadak di pasar.

Sebaliknya, putusan yang berpihak pada tarif akan memaksa investor memasukkan kemungkinan gangguan perdagangan berkepanjangan dan pertumbuhan yang melambat. Hasil seperti ini akan menekan baik pasar saham maupun aset kripto.

Logam mulia bahkan sudah memperlihatkan tanda-tanda tekanan. Pelaku pasar terus memantau perak fisik dan logam mulia lain, yang turut terdampak volatilitas berlipat karena guncangan tarif serta isu kelangkaan di exchange seperti LBMA (London Bullion Market Association).

Bitcoin (BTC), Gold (XAU), and Silver (XAG) Price Performances
Performa Harga Bitcoin (BTC), Emas (XAU), dan Perak (XAG) | Sumber: TradingView

Secara historis, guncangan tarif seperti ini telah memicu arus dana tajam dari London ke Comex (Commodity Exchange di New York), memperbesar backwardation, dan menyebabkan gangguan jangka pendek.

Di tengah situasi ini, level Bitcoin yang mendekati US$95.000 semakin rapuh. Spekulasi ritel, ketidakpastian hukum, dan gesekan geopolitik saat ini bertemu serta menciptakan skenario berisiko tinggi untuk trader dan institusi.

Kombinasi rekor aktivitas ritel dan guncangan ekonomi makro bisa membuat minggu ini menjadi salah satu periode paling volatil dalam sejarah pasar belakangan ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang sejumlah faktor yang berpotensi guncang pasar pekan ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Kode Keras, MicroStrategy Siapkan US$1,25 Miliar untuk Borong Bitcoin Lagi

20 January 2026 at 06:58

Strategy Inc. (sebelumnya MicroStrategy) mengisyaratkan bahwa mereka tengah bersiap mengeksekusi akuisisi Bitcoin yang akan melampaui pembelian besar senilai US$1,25 miliar yang baru saja rampung pekan lalu.

Pada 18 Januari, Michael Saylor mengunggah sebuah grafik di platform media sosial X dengan keterangan “Bigger Orange”. Para analis pasar secara luas menafsirkan frasa tersebut sebagai sinyal niat untuk melampaui 13.627 Bitcoin yang baru saja perusahaan borong.

Strategy Beri Sinyal Beli Bitcoin Tertinggi di Tengah Drop Premium Saham

Akuisisi sebelumnya itu sendiri telah memperkuat posisi Strategy sebagai holder Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Namun, aksi beli yang melampaui jumlah tersebut akan mengerek total kepemilikan Bitcoin Strategy melewati ambang 700.000 BTC.

₿igger Orange. pic.twitter.com/HI47hMCnui

— Michael Saylor (@saylor) January 18, 2026

Catatan ini akan menempatkan treasury perusahaan pada level yang langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) IBIT milik BlackRock dan estimasi 1,2 juta BTC yang dimiliki oleh Satoshi Nakamoto, pendiri jaringan yang menggunakan nama samaran.

Pencapaian ini akan menempatkan kas perusahaan di level yang sangat langka, hanya berada di bawah exchange-traded fund (ETF) BlackRock IBIT serta estimasi kepemilikan sekitar 1,2 juta BTC milik Satoshi Nakamoto, pendiri pseudonim jaringan Bitcoin.

Langkah agresif ini terjadi di saat yang cukup rentan bagi perusahaan perangkat lunak enterprise.

Saham Strategy anjlok lebih dari 50% tahun lalu, dan premi market-to-net-asset-value (mNAV) yang penting juga turun drastis menjadi sekitar 1,0x.

Penurunan premi ini mengancam model arbitrase yang selama ini Saylor gunakan untuk mendanai akuisisi.

Ketika modal institusi semakin banyak masuk ke exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot—yang memberikan eksposur tanpa kerumitan atau premi dari saham Strategy—perusahaan pun kehilangan leverage mudah yang dulunya bisa mereka nikmati.

Guna mempertahankan laju akumulasi di tengah situasi ini, Strategy beralih ke taktik pendanaan yang lebih agresif.

Hanya dalam setahun terakhir, perusahaan sudah mengumpulkan dana US$25 miliar melalui penjualan saham biasa serta penerbitan jenis saham preferen baru, termasuk STRC.

Strategy Bitcoin Fundraise in 2025.
Penggalangan Dana Strategy untuk Bitcoin di 2025 | Sumber: Strategy

Sementara itu, Wall Street menyikapi dilusi ini dengan hati-hati. TD Cowen baru-baru ini memangkas target harga saham menjadi US$440 dari US$500, namun tetap mempertahankan rating Beli.

Perusahaan itu menyebut turunnya “Bitcoin Yield” untuk tahun fiskal 2026, sebuah metrik khusus yang mengukur eksposur Bitcoin per saham. Para analis menyatakan bahwa ketergantungan perusahaan untuk menerbitkan lebih banyak ekuitas guna pembelian, secara aktif mendilusi yield bagi para pemegang saham.

Walaupun ada rasa skeptis, beberapa pengamat pasar berpendapat Strategy telah membangun benteng struktural yang sulit keuangan tradisional jangkau.

“Mereka menemukan cara mengakumulasi Bitcoin dalam skala besar, membungkusnya ke dalam produk, dan menawarkan eksposur dengan cara yang tidak bisa ditandingi bank tradisional,” ujar analis Bitcoin Shagun Makin.

Makin berpendapat bahwa tekanan regulasi dan pasar yang makin besar terhadap perusahaan mencerminkan efektivitas modelnya, alih-alih kelemahannya.

“Bank tidak bisa meniru model ini tanpa merusak neraca mereka sendiri. Jadi, satu-satunya pilihan nyata adalah memperlambatnya, mendiskreditkannya, atau mengaturnya,” tambahnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang isyarat akuisisi Bitcoin oleh Strategy di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Jaringan Burger Amerika Lakukan Pembelian Bitcoin Senilai US$10 Juta

17 January 2026 at 20:45

Steak ‘n Shake telah membeli Bitcoin senilai US$10.000.000, menandakan peningkatan besar dalam strategi mereka untuk mengubah pendapatan restoran cepat saji menjadi treasury aset kripto perusahaan.

Aksi akuisisi ini menandai fase terbaru dari inisiatif “Bitcoin-to-Burger” milik jaringan yang sudah berusia 90 tahun, yaitu langkah keuangan yang langsung mengkonversi arus kas operasional menjadi aset digital.

Steak ‘n Shake Klaim Strategi Bitcoin Dorong Pertumbuhan ‘Terbaik di Industri’ pada 2025

Program ini, yang dimulai pada Mei 2025, mengintegrasikan akumulasi aset digital ke dalam operasi harian perusahaan.

Dengan menerima pembayaran Bitcoin dan memasarkan langsung ke komunitas kripto, jaringan restoran ini bertujuan untuk memodernisasi struktur modalnya.

Eight months ago today, Steak n Shake launched its burger-to-Bitcoin transformation when we started accepting bitcoin payments. Our same-store sales have risen dramatically ever since.

All Bitcoin sales go into our Strategic Bitcoin Reserve.

Today we increased our Bitcoin…

— Steak 'n Shake (@SteaknShake) January 17, 2026

Manajemen perusahaan menggambarkan model ini sebagai “sistem yang dapat menopang dirinya sendiri.” Dalam kerangka ini, peningkatan kualitas makanan mendorong peningkatan pendapatan, yang kemudian dialirkan ke cadangan Bitcoin perusahaan.

Berdasarkan data internal, strategi ini telah memberikan hasil nyata. Tahun lalu, perusahaan mencatat pertumbuhan dua digit pada penjualan toko yang sama, didorong oleh adopsi BTC, yang membuatnya unggul jauh dibandingkan industri serupa.

“Pada tahun 2025, Steak n Shake mencapai pertumbuhan penjualan toko sejenis dua digit — terbaik di industri! Menjadi perusahaan Bitcoin memberikan dorongan besar pada bisnis kami, sehingga kami bisa lebih meningkatkan kualitas makanan,” demikian dinyatakan oleh mereka.

Yang penting, jaringan restoran ini sedang memantapkan diri sebagai entitas “hanya Bitcoin”.

Walaupun survei perusahaan baru-baru ini menunjukkan 53% responden memilih menambah Ethereum (ETH) sebagai metode pembayaran, pihak manajemen dengan tegas menolak usulan tersebut.

Keputusan ini memperkuat filosofi maksimalis yang bertujuan menjaga loyalitas dari segmen pasar yang spesifik dan memiliki orientasi ideologis.

Selain itu, integrasi BTC ini juga meluas ke karyawan perusahaan.

Pada Oktober lalu, Steak ‘n Shake mengupdate infrastruktur penggajian mereka agar 10.000 karyawannya dapat menerima persentase gaji mereka dalam Bitcoin. Langkah ini menunjukkan pandangan perusahaan bahwa aset ini sebagai penyimpan nilai yang layak sebanding dengan mata uang fiat.

Berdiri sejak tahun 1934, Steak ‘n Shake mengoperasikan ratusan lokasi di seluruh Amerika Serikat dan juga di mancanegara.

Langkah terbarunya mengukuhkan status mereka sebagai pengecualian di sektor restoran konvensional, dengan mencoba memodernisasi merek warisan dengan mengaitkan kesehatan finansial jangka panjang perusahaan ke performa aset kripto terbesar di dunia ini.

Top Strategist Wall Street Tak Lagi Percayai Bitcoin, Kenapa? | Berita Kripto AS

19 January 2026 at 03:05

Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing, rangkuman esensial perkembangan kripto terpenting untuk hari ini.

Silakan ambil secangkir kopi, karena hari ini kita tidak membahas grafik harga, arus masuk exchange-traded fund (ETF), maupun narasi halving berikutnya. Alih-alih, kita akan membahas sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman: apakah Bitcoin, seperti yang ada saat ini, memang dibangun untuk bertahan lama.

Berita Kripto Hari Ini: Mengapa Salah Satu “Bitcoin Bull” Terbesar Wall Street Memilih Pergi

Perubahan yang senyap namun berdampak besar tengah terjadi dalam cara institusi memandang kripto. Christopher Wood, global head of equity strategy di Jefferies dan salah satu strategist pasar paling diperhatikan di Wall Street, telah menghapus Bitcoin sepenuhnya dari model portofolio andalannya.

Petinggi Jefferies tersebut tidak menyebut volatilitas harga sebagai alasan, melainkan keraguan akan daya tahan aset ini dalam jangka panjang.

Wood memangkas alokasi Bitcoin sebesar 10% dari portofolio model Jefferies dan mengalihkannya secara merata ke emas fisik serta saham penambang emas.

Keputusan ini dipaparkan dalam edisi terbaru newsletter Greed & Fear, di mana Wood menyoroti ancaman jangka panjang yang diakibatkan oleh kemajuan komputasi kuantum terhadap keamanan Bitcoin dan anggapan Bitcoin sebagai penyimpan nilai.

“Ancaman komputasi kuantum yang dahulu terasa jauh sekarang membuat salah satu analis pasar yang paling diperhatikan memutuskan untuk meninggalkan Bitcoin,” lapor Bloomberg mengutip pernyataan Wood di newsletter tersebut, serta menyoroti bagaimana sebuah risiko teoretis kini mulai masuk ke dalam konstruksi portofolio utama.

Wood adalah salah satu pendukung institusional awal untuk Bitcoin, yang pertama kali menambahkan aset ini ke dalam portofolio modelnya pada Desember 2020 di tengah stimulus era pandemi dan kekhawatiran atas penurunan nilai mata uang.

Kemudian, ia menambah eksposur menjadi 10% di 2021. Menariknya, sejak penambahan awal tersebut, Bitcoin telah naik sekitar 325%, sedangkan emas hanya naik 145%. Meski begitu, Wood menyatakan performa bukan lagi hal yang utama.

Menurutnya, komputasi kuantum telah melemahkan argumen bahwa Bitcoin bisa berfungsi sebagai penyimpan nilai andal untuk jangka panjang, khususnya bagi investor pensiun dan jangka waktu panjang lainnya.

“Ada kekhawatiran yang semakin besar di komunitas Bitcoin bahwa komputasi kuantum mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi, bukan satu dekade atau lebih,” tulis Wood.

Memang, keamanan Bitcoin saat ini bertumpu pada sistem kriptografi yang membuat komputer masa kini nyaris mustahil mendapatkan private key dari public key.

Akan tetapi, jika komputer kuantum yang relevan untuk kriptografi (CRQC) hadir, hal ini dapat mematahkan asimetri tersebut. Ini bisa membuat para penyerang mampu menemukan kembali private key hanya dalam hitungan jam atau hari.

Risiko Kuantum, Tata Kelola, dan Pemikiran Ulang Institusional tentang Bitcoin

Perdebatan ini membuka jurang yang semakin lebar antara pengelola modal dan pengembang. Nic Carter, partner di Castle Island Ventures, menangkap ketegangan ini dalam sebuah postingan pada bulan Desember lalu.

The discrepancy between capital and developers on this issue is massive. Capital is concerned and looking for a solution. Devs are mainly in complete denial. Inability to even acknowledge quantum risk is already weighing on the price.

— nic carter (@nic_carter) December 18, 2025

Kendati demikian, isu utama terletak pada tata kelola. Solusi yang diusulkan—seperti membakar koin yang rentan terhadap kuantum atau memaksa migrasi ke kriptografi pasca-kuantum—mengundang pertanyaan pelik seputar hak kepemilikan dan perubahan aturan main.

The crypto community is debating the threat of quantum computers to the blockchain, specifically for Bitcoin.

I will explain to you what the threat is.

Modern blockchains rely on asymmetric cryptography.

The following principles apply:

▪️A private key is a secret number… pic.twitter.com/0DUQkSWfx4

— Cardano YOD₳ (@JaromirTesar) December 22, 2025

Jefferies menyoroti bahwa meski Bitcoin pernah mengalami fork sebelumnya, tindakan untuk menyita atau membatalkan koin bisa merusak nilai-nilai mendasar yang membuat jaringan ini dipercaya.

Selain itu, Jefferies juga menyoroti bahwa sebagian besar suplai Bitcoin bisa saja rentan jika skenario kuantum benar-benar terjadi. Termasuk di antaranya:

  • Aset dari era Satoshi yang disimpan di alamat Pay-to-Public-Key (P2PK)
  • Koin yang hilang, dan
  • Alamat yang digunakan ulang berkali-kali dalam banyak transaksi

Apabila dijumlahkan, potensi ini menyentuh jutaan BTC.

Analisis terbaru dari Coinbase juga menggemakan sejumlah kekhawatiran tersebut. Kepala Riset Investasi Coinbase David Duong mengatakan, komputasi kuantum membawa risiko jangka panjang, bukan hanya untuk keamanan private key, tetapi bisa memengaruhi model ekonomi serta keamanan Bitcoin.

Walau menekankan bahwa teknologi kuantum saat ini masih belum mampu membobol Bitcoin, Duong mengingatkan ada sekitar 6,5 juta BTC yang rentan akan serangan kuantum dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat migrasi ke kriptografi pasca-kuantum menjadi sangat penting, meskipun pelaksanaannya masih bertahun-tahun lagi.

Bitcoin At Risk of Quantum Attacks due to Vulnerable Addresses
Bitcoin Berisiko Terkena Serangan Quantum akibat Alamat yang Rentan | Sumber: David Duong di LinkedIn


Sementara itu, Wood mengatakan bahwa pertanyaan jangka panjang seputar komputasi kuantum justru menjadi hal positif untuk emas dalam jangka panjang. Pandangan ini didasarkan pada sejarah emas sebagai lindung nilai yang telah teruji dan bebas dari ketidakpastian teknologi maupun tata kelola.

Langkah ini menandai perubahan besar dalam pola pikir institusional. Pendiri dan CIO Cyber Capital, Justin Bons, menyatakan Bitcoin bisa saja runtuh kapan saja setelah tahun 2033. Meski begitu, Bons menjelaskan penyebabnya adalah subsidi miner yang terus menurun setelah halving dan biaya transaksi yang rendah.

BTC will collapse within 7 to 11 years from now!

First, the mining industry will fall, as the security budget shrinks

That is when the attacks begin; censorship & double-spends

Core will then have to increase inflation beyond 21M, splitting the chain & that will be the end! 🧵… pic.twitter.com/HqFmhW480L

— Justin Bons (@Justin_Bons) January 15, 2026

Menurut Justin Bons, 51% attack bisa menjadi menguntungkan dengan biaya harian di bawah US$3 juta, sehingga berpotensi memungkinkan terjadinya double-spend di exchange dengan nilai miliaran. Semua kekhawatiran ini berkaitan dengan keamanan Bitcoin.

Chart of the Day

Performa Harga Bitcoin dan Emas Sejak Alokasi Modal Awal Wood | Sumber: TradingView

Byte-Sized Alpha

Berikut rangkuman berita kripto AS menarik lainnya hari ini:

Ringkasan Pre-Market Saham Kripto

PerusahaanPenutupan per 15 JanuariGambaran Pre-Market
Strategy (MSTR)US$170,91US$172,74 (+1,07%)
Coinbase (COIN)US$239,28US$241,38 (+0,88%)
Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$31,99US$32,21 (+0,69%)
MARA Holdings (MARA)US$10,66US$10,74 (+0,75%)
Riot Platforms (RIOT)US$16,57US$16,76 (+1,15%)
Core Scientific (CORZ)US$18,08US$18,25 (+0,94%)
Lomba Pembukaan Pasar Crypto Equities: Google Finance

Bagaimana pendapat Anda tentang berita kripto AS teranyar ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Bitcoin Berpotensi Runtuh dalam 7–11 Tahun, Pendiri Cyber Capital Wanti-wanti

17 January 2026 at 03:50

Pendiri sekaligus Chief Investment Officer Cyber Capital, Justin Bons, memprediksi bahwa Bitcoin (BTC) berpotensi kolaps dalam kurun 7 hingga 11 tahun ke depan.

Ia menunjuk pada menurunnya security budget (anggaran keamanan), meningkatnya risiko 51% attack, serta apa yang ia sebut sebagai pilihan mustahil yang harus dihadapi jaringan Bitcoin. Menurut Bons, kerentanan fundamental ini dapat menggerus kepercayaan dan bahkan memicu perpecahan chain.

Model Keamanan Ekonomi Bitcoin Mulai Dipertanyakan

Selama bertahun-tahun, para pakar telah menyoroti berbagai risiko yang mengancam Bitcoin, terutama komputasi kuantum, yang berpotensi merusak standar kriptografi saat ini.

Tetapi, lewat sebuah unggahan yang detail, Bons menyampaikan kekhawatiran yang berbeda. Ia menilai ancaman jangka panjang Bitcoin ada pada model keamanan ekonominya.

“BTC akan runtuh dalam 7 sampai 11 tahun mendatang! Industri mining akan tumbang terlebih dahulu, seiring anggaran keamanan yang menyusut. Saat itulah serangan mulai terjadi; sensor & double-spend,” tulisnya.

Inti dari argumennya adalah penurunan anggaran keamanan Bitcoin. Setiap kali halving terjadi, reward miner terpotong setengah, sehingga insentif untuk mengamankan jaringan pun turut melemah.

Halving terbaru terjadi pada April 2024, dan akan terus berlangsung setiap empat tahun sekali. Menurut Bons, untuk mempertahankan tingkat keamanan saat ini, Bitcoin butuh kenaikan harga eksponensial yang berkelanjutan atau biaya transaksi yang permanen tinggi, dua hal yang ia anggap tidak realistis.

Bitcoin's Declining Security Budget
Anggaran Keamanan Bitcoin yang Menurun. Sumber: X/Justin Bons

Pendapatan Miner Susut, Risiko Serangan Bertambah

Menurut Bons, pendapatan miner, bukan sekadar hashrate, adalah tolok ukur paling penting untuk keamanan jaringan. Ia menyoroti bahwa seiring efisiensi perangkat keras yang meningkat, hashrate bisa naik walaupun biaya memproduksi hash turun, sehingga hashrate menjadi indikator yang menyesatkan tentang ketahanan terhadap serangan.

Menurutnya, pendapatan miner yang menurun langsung menurunkan biaya untuk menyerang jaringan. Ketika biaya menjalankan 51% attack lebih kecil daripada potensi keuntungan dari double-spending atau mengacaukan jaringan, serangan seperti itu jadi masuk akal secara ekonomi.

“Teori permainan kripto-ekonomi bergantung pada hukuman & imbalan, carrot & stick. Itulah alasan kenapa pendapatan miner menentukan biaya sebuah serangan. Untuk sisi imbalannya: Double-spending dengan 51% attack yang menyasar exchange, adalah vektor serangan yang sangat realistis karena keuntungan potensialnya sangat besar,” ulas unggahan itu.

Saat ini, biaya transaksi hanya menyumbang sebagian kecil dari pendapatan miner. Ketika subsidi blok mendekati nol dalam beberapa dekade mendatang, Bitcoin nyaris hanya bisa mengandalkan biaya transaksi untuk menjaga keamanan jaringan. Akan tetapi, ruang blok terbatas bikin jumlah transaksi dan total pendapatan biaya jadi terbatas.

Bons juga menyatakan kecil kemungkinan biaya tinggi bisa bertahan lama, sebab pengguna cenderung keluar dari jaringan setiap kali biaya membengkak, sehingga biaya tidak dapat secara konsisten menggantikan subsidi blok dalam jangka panjang.

Kemacetan, Dinamika Bank Run, dan Ancaman Death Spiral

Selain kekhawatiran soal anggaran keamanan, Bons juga memperingatkan potensi skenario “rush ke bank”. Menurut dia,

“Bahkan menurut estimasi paling konservatif, jika setiap pengguna BTC saat ini hanya melakukan satu transaksi, antrean akan panjang hingga 1,82 bulan!”

Ia memaparkan bahwa saat terjadi kepanikan, jaringan tidak akan mampu memproses penarikan dengan cukup cepat sehingga pengguna bisa terjebak karena kemacetan dan biaya yang melonjak. Kondisi ini mirip dengan bank run.

Bons juga menyoroti mekanisme penyesuaian tingkat kesulitan dua minggu sekali pada Bitcoin sebagai risiko yang bisa memperburuk. Jika harga turun tajam, miner yang tidak lagi untung bisa tutup usaha, sehingga produksi blok melambat sampai penyesuaian berikutnya.

“Karena kepanikan bikin harga jatuh, lalu makin banyak miner tutup, sehingga chain makin melambat, memicu kepanikan baru yang bikin harga makin terjun dan masih lebih banyak miner menutup operasinya, begitu seterusnya, tanpa henti…Itu disebut sebagai siklus ganas dalam teori permainan, juga dikenal sebagai negative feedback loop atau death spiral,” tutur Bons.

Ia menambahkan bahwa risiko kemacetan ini membuat self-custody massal jadi tidak aman saat periode stres, dan memperingatkan bahwa pengguna bisa saja tidak dapat keluar dari jaringan ketika lonjakan permintaan terjadi.

Dilema yang Tidak Terhindarkan untuk Bitcoin

Sebagai penutup, Bons menyimpulkan bahwa Bitcoin menghadapi dilema mendasar.

Satu opsi adalah meningkatkan total suplai di atas batas 21 juta BTC demi menjaga insentif miner dan keamanan jaringan. Namun, langkah ini akan merusak proposisi nilai utama Bitcoin dan hampir pasti memicu perpecahan chain.

Opsi lainnya, terang dia, adalah membiarkan model keamanan terus melemah, yang berarti eksposur terhadap serangan dan sensor akan semakin besar.

“Kemungkinan terbesar, dalam 7 sampai 11 tahun ke depan, kedua opsi yang saya paparkan & lebih banyak lagi bisa terjadi bersamaan,” tulis Bons.

Ia juga mengaitkan masalah ini dengan warisan perang ukuran blok, dan berpendapat bahwa kendala tata kelola dalam Bitcoin Core membuat perubahan protokol yang bermakna sulit terjadi secara politis sebelum krisis benar-benar memaksa. Saat momen itu terjadi, ia memperingatkan, bisa saja sudah terlambat.

Bagaimana pendapat Anda tentang risiko runtuhnya Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Aksi Borong BTC: Pembelian Bitcoin Besar-besaran US$6 Miliar

15 January 2026 at 16:59

Bitcoin melonjak tajam minggu ini, naik dari sekitar US$91.000 pada hari Senin menjadi sedikit di atas US$95.000 pada hari Rabu. Sementara itu, data on-chain menunjukkan aksi borong BTC dalam jumlah besar ke wallet exchange utama.

Pergerakan harga yang dramatis ini memicu banyak diskusi. Sebagian orang menduga bahwa pasar mungkin sedang mengalami dorongan beli secara terkoordinasi.

Arus Masuk BTC Sebesar US$6 Miliar Dorong Bitcoin Menuju US$100.000

Data dari perusahaan analitik on-chain Arkham menunjukkan bahwa wallet Binance saja menambah 32.752 BTC baik ke cold wallet maupun hot wallet. Coinbase mengalami peningkatan 26.486 BTC.

Exchange yang lebih kecil juga mencatat arus masuk besar, dengan Kraken dan Bitfinex masing-masing menambah 3.508 BTC dan 3.000 BTC. Secara total, pergerakan ini mewakili sekitar US$6 miliar daya beli gabungan, menurut Arkham.

Bitcoin Inflows into Exchanges Over the Last 24 Hours
Arus Masuk Bitcoin ke Exchange Selama 24 Jam Terakhir | Sumber: Arkham

Besarnya transfer ini memicu perdebatan soal apakah lonjakan harga baru-baru ini didorong oleh aktivitas pasar yang terkoordinasi. CEO Binance Changpeng Zhao menanggapi spekulasi tersebut. Ia menegaskan bahwa setoran BTC tersebut mencerminkan pembelian pengguna di wallet exchange, bukan pembelian internal oleh exchange itu sendiri.

users on those exchanges bought…

— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) January 14, 2026

Meski sudah ada penegasan ini, para analis menilai bahwa data tersebut menunjukkan adanya arus masuk yang kuat dari investor institusi dan investor dengan kekayaan besar.

Hal ini terjadi tidak lama setelah arus masuk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin mencapai level tertinggi seperti terakhir di bulan Oktober 2025, karena investasi ke instrumen keuangan tersebut mencapai US$753 juta pada hari Selasa, 13 Januari.

Bitcoin ETF Flows
Arus Masuk ETF Bitcoin | Sumber: SoSoValue

FBTC milik Fidelity mencatatkan arus masuk tertinggi pada hari Selasa, mencapai US$351 juta, dan menandai salah satu sinyal permintaan harian terkuat untuk eksposur institusi pada BTC di tahun ini.

Apakah US$100.000 Jadi Target Berikutnya ?

Dengan harga Silver menargetkan US$100, Bitcoin pun berlomba ke US$100.000 yang didorong oleh aktivitas beli terbaru dan sentimen bullish yang meluas di pasar aset kripto.

Kenaikan Bitcoin menuju US$100.000 terjadi saat investor mempertimbangkan faktor ekonomi makro, termasuk tren inflasi dan kebijakan likuiditas bank sentral, bersamaan dengan perkembangan ekosistem aset digital yang lebih luas.

Kenaikan tersebut memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang di tengah ketidakpastian keuangan dan kekacauan geopolitik.

Data Arkham menunjukkan konsentrasi aktivitas di exchange besar, yang seringkali menjadi pintu masuk utama bagi pembelian institusi.

Arus masuk seperti ini secara historis biasanya terjadi sebelum reli harga yang signifikan. Ini mencerminkan permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas di pasar. Tapi, meski skala pembeliannya besar, pasar kripto tetap bergejolak dan pembalikan harga secara tiba-tiba selalu mungkin terjadi.

Bagaimana pendapat Anda tentang aksi borong Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

3 Mata Uang Kripto Incaran Institusi, Apa Saja?

By:Bey
15 January 2026 at 09:52

Tahun 2026 menjadi titik balik bagi industri kripto global. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa raksasa keuangan dunia tidak lagi melihat aset digital sebagai eksperimen spekulatif, melainkan sebagai komponen inti dalam portofolio mereka. Arus modal kini mengalir deras ke tiga aset utama.

Pergeseran ini menandai berakhirnya era spekulasi liar, berganti dengan strategi berbasis fundamental yang dipandu oleh para pemimpin pemikiran finansial dunia. Berikut adalah alasan mengapa ‘Smart Money’ kini berlabuh pada tiga pilar digital tersebut.

Standar Baru Aset Cadangan Korporasi

Bitcoin kini telah mengukuhkan posisinya sebagai “emas digital” yang wajib di miliki oleh institusi melalui instrumen ETF. Strategi ini di pertegas oleh Michael Saylor, Chairman MicroStrategy, yang melalui akun X miliknya Saylor menyatakan:

“Bitcoin bukan sekadar aset; ia adalah standar cadangan digital untuk peradaban modern. Di tahun 2026, setiap entitas yang tidak memiliki eksposur pada BTC berarti mereka sedang bertaruh melawan efisiensi matematika.”

Sejalan dengan Saylor, BlackRock kini memandang Bitcoin sebagai aset safe haven yang mampu bertahan di tengah fluktuasi ekonomi global.

Pusat Tokenisasi Aset Dunia Nyata (RWA)

Bagi institusi yang fokus pada infrastruktur keuangan, Ethereum tetap menjadi raja yang tak tergoyahkan. Raoul Pal, CEO Global Macro Investor Raoul GMI, menjelaskan bahwa Ethereum adalah pusat dari digitalisasi aset global.

ethereum

Ethereum adalah ‘Global Settlement Layer’. Semua jalan menuju digitalisasi aset dunia nyata (RWA) bermuara di sini. Institusi memilih ETH karena mereka membutuhkan keamanan yang sudah teruji, bukan sekadar janji kecepatan.

Mesin Utama Adopsi Massal dan Efisiensi

Solana muncul sebagai “kuda hitam” yang paling disukai untuk skalabilitas tinggi. Cathie Wood, CEO ARK Invest CathieDWood, secara terbuka memuji kemampuan teknis jaringan ini dalam menangani transaksi skala besar.

Jika Ethereum adalah Apple-nya blockchain, maka Solana adalah infrastruktur yang memungkinkan adopsi massal terjadi sekarang. Kecepatannya yang setara dengan internet tradisional adalah alasan mengapa kami terus menambah posisi pada SOL.

Bagi banyak manajer aset, Solana dipandang sebagai solusi praktis untuk pembayaran global dan integrasi dengan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

Dukungan eksplisit dari tokoh-tokoh besar ini menunjukkan bahwa pasar kripto 2026 bukan lagi tentang “koin mana yang akan naik,” melainkan “infrastruktur mana yang akan di gunakan oleh dunia.” Bitcoin sebagai emas digital, Ethereum sebagai pusat data keuangan, dan Solana sebagai mesin transaksi cepat adalah tiga pilar yang kini memimpin revolusi ekonomi digital.

Bagaimana pendapat Anda tentang harga 3 mata uang kripto incaran institusi di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌