Normal view

Tokenisasi Jadi Sorotan Utama di Davos 2026 saat Pasar Melebihi US$21 Miliar

22 January 2026 at 05:14

Hampir empat hari sejak pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, tema paling kuat dan konsisten untuk dunia kripto adalah tokenisasi aset dunia nyata (RWA).

Acara ini mulai pada hari Senin, 19 Januari 2026, dan berjalan hingga Jumat, 23 Januari, dengan pendiri dan mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), juga masuk dalam daftar pembicara.

Tokenisasi Muncul sebagai Tema Utama Aset Kripto di Davos 2026

Publikasi-publikasi yang berkaitan dengan WEF terus menggambarkan tahun 2026 sebagai “titik perubahan” bagi aset digital. Mereka menilai bahwa blockchain sudah melampaui tahap proyek uji coba dan kini telah diterapkan secara nyata.

Bukan lagi membahas perdebatan lama soal apakah aset digital layak berada di sistem keuangan, Davos 2026 justru fokus pada bagaimana aset digital diintegrasikan ke dalam sistem keuangan.

Pembicaraan sudah bergeser dari ideologi dan spekulasi ke arah infrastruktur, skalabilitas, dan penerapan berskala enterprise.

Dalam hal ini, tokenisasi secara luas digambarkan sebagai mekanisme yang membuat teknologi blockchain perlahan-lahan terintegrasi ke TradFi.

Pergeseran ini tampak jelas pada berbagai panel tingkat tinggi, termasuk sesi dengan judul “Apakah Tokenisasi adalah Masa Depan?” dan “Di Mana Kita Soal Stablecoin?”

Is Tokenization the Future? @cnbcKaren (@CNBC), @brian_armstrong (@coinbase), @bgarlinghouse (@ripple), Valérie Urbain ( @EuroclearGroup), François Villeroy de Galhau (@banquedefrance), Bill Winters (@StanChart) #WEF26 https://t.co/Ob8n7PCh1T

— World Economic Forum (@wef) January 21, 2026

Diskusi-diskusi ini menghadirkan tokoh-tokoh senior, termasuk CEO Ripple Brad Garlinghouse dan CEO Coinbase Brian Armstrong. Turut hadir juga pejabat dari European Central Bank dan perwakilan lembaga keuangan besar lainnya.

Para panelis menekankan kemampuan tokenisasi untuk membuat aset yang biasanya tidak likuid (saham, obligasi, dana, dan properti) dapat diperdagangkan di chain. Tujuannya untuk memungkinkan kepemilikan secara fraksional, meningkatkan likuiditas, serta mengurangi gesekan dalam penyelesaian lintas negara.

Lembaga-lembaga seperti BlackRock, BNY Mellon, dan Euroclear sekarang sudah meluncurkan produk tokenisasi secara massal. Hal ini menunjukkan adanya perpaduan yang makin kuat antara bank dan blockchain.

Kejelasan regulasi yang tercapai pada tahun 2025, khususnya di AS dan sebagian wilayah Eropa, berkali-kali disebut sebagai pemicu utama perubahan ini terjadi.

Stablecoin juga memainkan peran penting sebagai jembatan antara sistem TradFi dan DeFi. Stablecoin yang sering disebut sebagai contoh penggunaan blockchain pertama yang benar-benar universal, kini dilihat sebagai infrastruktur dasar untuk pembayaran, pengelolaan treasury, dan penyelesaian transaksi di chain.

Dengan munculnya kerangka kebijakan global yang lebih jelas, termasuk rujukan pada US GENIUS Act, stablecoin semakin dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganggu, bagi jalur keuangan yang sudah ada.

🚀BREAKING: At Davos, President Trump doubles down on crypto support

He vows to make the USA the "crypto capital of the world," positioning it against China's potential dominance in the sector.

He highlighted key actions:
✅ Signed the stablecoin GENIUS Act.
✅ Pushing the… https://t.co/gs6lTErch1 pic.twitter.com/lZuAhGgT7F

— Mia-BYDFi (@rokmawinda) January 22, 2026

Tokenisasi Bergerak dari Proyek Percontohan ke Infrastruktur Keuangan Skala Triliunan

Data terbaru yang dibagikan selama WEF di Davos menyoroti besarnya peluang tokenisasi. Total value locked (TVL) dalam RWA yang sudah ditokenisasi kini sudah melampaui US$21 miliar. Angka ini mencerminkan naiknya adopsi sekaligus semakin beragamnya kelas aset yang masuk ke chain.

Proyeksi jangka panjang turut menggarisbawahi besarnya tren ini. McKinsey memperkirakan pasar aset tokenisasi bisa mencapai antara US$2 triliun hingga US$4 triliun pada tahun 2030. Sementara itu, Boston Consulting Group menyampaikan skenario yang lebih agresif hingga US$16 triliun.

Tokenized Real-World Assets Reach $21B in TVL

The RWA sector continues to expand, both in total value locked and in the range of assets being tokenized. Long-term projections highlight the scale of this trend. @McKinsey estimates the tokenized asset market could reach $2 to $4… pic.twitter.com/LkzBpPFhaX

— CryptoRank.io (@CryptoRank_io) January 21, 2026

Para pemimpin industri menggunakan momen Davos untuk menampilkan kemajuan nyata di lapangan. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, mengatakan perusahaan bekerja erat bersama bank global untuk menjembatani kesenjangan antara tokenisasi dan DeFi.

Dia menerangkan bahwa volume tokenisasi di XRP Ledger naik dari US$19 triliun menjadi US$33 triliun hanya dalam satu tahun. Fokusnya, papar dia, lebih kepada infrastruktur berstandar institusional, bukan pada kasus penggunaan bersifat spekulatif.

BOOM! 🚨 $XRP is building the rails for trillions.

Ripple CEO Brad Garlinghouse just said at Davos 2026 that the company has been working with banks worldwide to bridge tokenization and DeFi through the XRP Ledger.

Tokenized volume grew from 19T to 33T in just one year.
Most… pic.twitter.com/OdzyGT9nQU

— X Finance Bull (@Xfinancebull) January 21, 2026

Penyedia infrastruktur juga menyampaikan pesan serupa. SWIFT mengatakan aset tokenisasi yang saling terhubung bisa sangat mempercepat perdagangan global, membuka likuiditas yang terjebak, dan menghubungkan TradFi dengan keuangan digital secara lebih luas.

CEO Coinbase Brian Armstrong juga menambahkan bahwa saham yang telah ditokenisasi adalah masa depan pasar tradisional. Eksekutif kripto ini memandangnya sebagai evolusi infrastruktur pasar saham yang tak terelakkan, bukan eksperimen khas dunia kripto.

Pasar Tradisional Adopsi Tokenisasi sebagai Infrastruktur Keuangan Inti

Pandangan ini semakin diterima oleh pelaku utama. New York Stock Exchange (NYSE) sedang menjelajahi sekuritas tokenisasi dan perdagangan 24/7 tanpa mengubah kerangka regulasi yang berlaku.

Tujuannya untuk memodernisasi infrastruktur pasar, bukan mendorong perilaku spekulatif. Sementara itu, data yang dipaparkan selama Davos menunjukkan lebih dari 65% aset tokenisasi, termasuk stablecoin berbasis fiat, saat ini diterbitkan di Ethereum. Ini menegaskan peran sentral Ethereum dalam ekonomi tokenisasi yang sedang berkembang.

Secara keseluruhan, Davos 2026 menunjukkan bahwa tokenisasi bukan lagi konsep masa depan. Kini, tokenisasi menjadi kacamata utama bagi keuangan global dalam berinteraksi dengan kripto, bukan sebagai kekuatan yang mengganggu, melainkan sebagai infrastruktur kokoh yang diam-diam mengubah pasar modal dunia.

Trader Polymarket Kena Imbas Setelah “TACO Trade” Trump Hancurkan Taruhan Greenland

22 January 2026 at 04:27

Beberapa trader di Polymarket mengalami kerugian besar setelah Presiden Trump membatalkan tarif pada Uni Eropa dan memberikan pernyataan baru soal Greenland.

Meskipun strategi yang disebut “TACO trade” ini telah merugikan banyak peserta, akan tetapi hal ini juga mendorong reli baru di pasar aset kripto.

Ancaman dan Penarikan Tarif Trump Menghidupkan Kembali Narasi “TACO Trade”

Sebagai konteks, istilah “TACO trade” adalah singkatan dari “Trump Always Chickens Out.” Kolumnis Financial Times, Robert Armstrong, memperkenalkannya pada Mei 2025.

Strategi ini memanfaatkan siklus yang berulang, yakni Trump memakai ancaman ekstrim sebagai tekanan, pasar bereaksi negatif, lalu dia mundur dan menyebabkan pasar kembali menguat.

Siklus ini terlihat jelas pada 2 April 2025, disebut sebagai “Liberation Day.” Presiden mengumumkan tarif luas yang menargetkan hampir semua mitra dagang Amerika Serikat, sehingga memicu kekacauan pasar.

Kebijakan tersebut kemudian dikurangi, namun tarif baru yang menargetkan industri tertentu langsung menyusul setelahnya.

Pola yang mirip kembali muncul pada Januari 2026. Dalam sebuah pengumuman di akhir pekan, Presiden Trump menyampaikan rencana mengenakan tarif 10% kepada delapan negara Eropa, dengan penerapan mulai 1 Februari.

Proposal tersebut juga memuat ketentuan untuk menaikkan tarif menjadi 25% pada bulan Juni, dengan lamanya tergantung pada tercapainya kesepakatan Amerika Serikat dalam pembelian Greenland.

Pada hari Rabu, Presiden mengubah keputusannya dan membatalkan rencana tarif itu. Dia juga menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland.

“Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah menetapkan kerangka untuk kesepakatan di masa depan terkait Greenland dan, bahkan, seluruh Kawasan Arktik. Jika solusi ini terlaksana, ini akan menjadi hal yang luar biasa bagi Amerika Serikat dan semua negara anggota NATO. Berdasarkan pemahaman ini, saya tidak akan memberlakukan Tarif yang semula dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Februari,” tulis Trump .

Trump Balikkan Tarif Picu Kerugian pada Taruhan Greenland di Prediction Markets

Perubahan kebijakan yang mendadak ini membuat harga kontrak terkait politik dan ekonomi makro di pasar prediksi langsung berubah tajam. Di Polymarket, probabilitas untuk pertanyaan “Apakah Trump akan mendapatkan Greenland sebelum 2027?” turun menjadi hanya 11%.

Peluang Trump Mengambil Alih Greenland Sebelum Desember 2027 | Sumber: Polymarket

Akibatnya, para trader yang mempertaruhkan dana besar pada hasil “Ya” mengalami kerugian besar. Lookonchain melaporkan bahwa akun baru bernama GamblingRuinsLives memasang taruhan senilai US$105.000 untuk hasil “Ya.”

Sekarang, trader tersebut rugi US$46.000, dengan posisinya kini hanya bernilai US$56.300. Trader lainnya, opticnrvs, bahkan merugi lebih besar, yakni lebih dari US$91.000, juga karena bertaruh pada akuisisi Greenland.

Pemilik posisi “Ya” terbesar kini mengalami penurunan nilai sebesar kurang lebih 40% hingga 50%. Sebaliknya, trader yang bertaruh pada hasil “Tidak” mencatatkan profit tipis.

Kejadian ini menunjukkan seberapa cepat narasi politik bisa berubah di pasar prediksi, khususnya ketika ancaman kebijakan dibatalkan atau dilunakkan. Hal ini juga menegaskan semakin besarnya pengaruh sinyal politik jangka pendek terhadap posisi spekulatif.

Di sisi lain, “TACO trade” terus mendukung pasar aset kripto. Berdasarkan data BeInCrypto Markets, total kapitalisasi pasar aset kripto naik 1,5% dalam 24 jam terakhir, sejalan dengan membaiknya sentimen investor dan meningkatnya selera risiko. Seluruh 10 aset kripto teratas bergerak hijau, mencatatkan kenaikan yang tipis namun merata.

Pasar Reli Pasca Trump Hapus Tarif, tapi Risiko Greenland & The Fed Masih Ada

22 January 2026 at 03:26

Pasar keuangan global menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana penerapan tarif terhadap sekutu Eropa pada Rabu (21/1), menyusul pidatonya di World Economic Forum di Davos.

Namun, sentimen positif tersebut tidak bertahan lama. Meski ancaman tarif dan aksi militer telah dikesampingkan, kekhawatiran terkait potensi pengambilalihan Greenland serta intervensi terhadap Federal Reserve di dalam negeri terus membebani kepercayaan investor.

Reli Pasar Global Berlangsung Singkat

Tak lama setelah Trump menarik kembali janji sebelumnya untuk memberlakukan tarif terhadap delapan negara Eropa, Bitcoin kembali menembus level US$90.000. Pergerakan ini mencerminkan kelegaan investor di tengah sinyal de-eskalasi setelah sepekan pasar bergejolak.

Saham AS ikut stabil. Indeks S&P 500 naik 1%, memulihkan sebagian dari penurunan 2,1% yang terjadi sehari sebelumnya setelah pengumuman tarif awal oleh Trump. Indeks Nasdaq juga mencatat kenaikan serupa. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 550 poin.

BULL MARKET BACK ON

Trump cancels tariffs $SPY $QQQ pic.twitter.com/cnz0seRZ94

— Justin Banks (@RealJGBanks) January 21, 2026

Namun, kelegaan ini sepertinya berlangsung singkat. Dolar tetap tertekan, turun terhadap euro dan yen.

Permintaan emas juga tetap solid, dengan harga mendekati US$4.839, naik sekitar 1% dibanding hari sebelumnya.

Walaupun Trump membatalkan tarif dan menegaskan bahwa AS tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, kepercayaan investor masih rapuh. Pernyataan itu faktanya belum cukup untuk mengurangi kekhawatiran yang lebih besar soal risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan yang tetap memengaruhi sentimen pasar.

Dorongan Greenland Bertemu Kekhawatiran Indepedensi The Fed

Tekanan kuat Trump supaya AS mengakuisisi Greenland belum benar-benar menghilangkan keraguan di pasar. Meski ia mengumumkan di media sosial bahwa AS dan Eropa sudah “membentuk kerangka kesepakatan masa depan”, kesepakatan itu sejauh ini belum rampung dan detailnya juga masih belum diketahui.

Jika gagal terjadi, Trump sudah memperkirakan bahwa akan ada konsekuensi jika Uni Eropa tidak memenuhi permintaan AS.

“Kami ingin sepotong es untuk perlindungan dunia. Jika kalian bilang ya, kami akan sangat berterima kasih. Jika kalian bilang tidak, kami akan selalu ingat hal itu,” ujar Presiden AS.

Pada saat yang sama, Trump kembali mendesak pelonggaran kebijakan moneter, bahkan mengkritik keras The Fed. Ia menyerang Ketua Jerome Powell dengan menyebutnya “bodoh” dan menuduhnya mempertahankan suku bunga yang terlalu ketat, yang menurut Trump, menekan pertumbuhan ekonomi.

Kekhawatiran akan potensi intervensi politik pada bank sentral AS mulai merambat ke pasar keuangan dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya kecemasan di kalangan investor.

Beberapa pemimpin bisnis besar telah secara terbuka membela prinsip independensi bank sentral. Pekan lalu, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, mengkritik keputusan Departemen Kehakiman untuk membuka penyelidikan pidana terhadap Powell.

“Menurut saya, ini mungkin bukan ide bagus dan justru bisa berdampak sebaliknya, yaitu menaikkan ekspektasi inflasi dan mungkin malah memicu kenaikan suku bunga dalam jangka panjang,” papar dia kepada wartawan dalam sebuah panggilan konferensi.

Meski menuai kritik, Trump tetap tidak melunak. Ia menutup pernyataannya dengan menyampaikan keyakinan bahwa orang selanjutnya yang dipilih untuk menggantikan Powell sebagai ketua akan “melakukan tugas dengan benar”.

Secara keseluruhan, investor masih bersikap hati-hati terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang dampak kebijakan Trump dan isu independensi The Fed terhadap stabilitas pasar kripto ke depannya? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Bank Sentral Iran Beli USDT Stablecoin Senilai US$500 Juta untuk Topang Rial

21 January 2026 at 22:35

Bank Sentral Iran diam-diam membeli lebih dari US$500 juta dalam bentuk stablecoin Tether USDT seiring krisis mata uang di negara itu yang semakin dalam, menurut temuan baru dari perusahaan keamanan kripto Elliptic.

Transaksi ini menunjukkan upaya level negara untuk menstabilkan nilai rial yang runtuh serta menjaga arus perdagangan dengan melewati sistem perbankan global.

Penjelasan Krisis Rial Iran

Elliptic mengungkapkan bahwa mereka mengidentifikasi jaringan wallet kripto yang dikendalikan oleh Bank Sentral Iran (CBI) yang mengumpulkan sedikitnya US$507 juta dalam USDT sepanjang tahun 2025.

Nominal ini adalah batas bawah, sebab analisis hanya mencakup wallet yang diatribusi dengan tingkat keyakinan tinggi.

Bagaimana Bank Sentral Iran Menerima USDT Secara Berkala Sepanjang 2025 | Sumber: Elliptic

Krisis mata uang Iran semakin parah dalam setahun terakhir, dengan nilai rial anjlok ke rekor terendah di pasar terbuka.

Di awal tahun 2026, nilai tukar memburuk sampai pada titik di mana daya beli rial benar-benar terhapus, sehingga menimbulkan kemarahan publik dan panik pasar.

Walaupun rial secara teknis tidak turun ke “nol”, depresiasi yang sangat cepat membuatnya hampir tidak bisa digunakan untuk perdagangan internasional maupun menabung.

Nilai Rial Iran Ambruk Terhadap Dolar AS | Sumber: Google Finance


Adanya berbagai nilai tukar, inflasi tinggi, dan hilangnya kepercayaan membuat pelaku usaha dan rumah tangga beralih ke dolar, emas, dan alternatif yang terhubung dengan kripto.

Tekanan sanksi menambah parah krisis ini. Akses yang dibatasi ke sistem kliring dolar dan bank koresponden sangat membatasi kemampuan Iran untuk menggunakan cadangan mata uang asing, meski mereka memiliki pendapatan minyak.

Elliptic Telusuri Pembelian USDT hingga 2025

Di tengah situasi ini, Elliptic menemukan dokumen bocor yang menunjukkan dua kali pembelian USDT oleh Bank Sentral pada April dan Mei 2025, yang dibayar dengan dirham UEA (AED). Waktunya bertepatan dengan meningkatnya tekanan pada rial dan gejolak baru di pasar mata uang.

Dengan menjadikan dokumen tersebut sebagai titik awal, Elliptic memetakan infrastruktur wallet milik Bank Sentral secara lebih luas. Analisisnya menunjukkan adanya akumulasi stablecoin secara sistematis, bukan hanya penggunaan kripto secara ad hoc.

Ketergantungan Awal pada Exchange Domestik

Sampai pertengahan 2025, sebagian besar USDT milik Bank Sentral mengalir ke Nobitex, exchange aset kripto terbesar di Iran. Nobitex memungkinkan pengguna menyimpan USDT, menukarnya ke aset kripto lain, atau menjualnya menjadi rial.

Pola ini menunjukkan kalau Bank Sentral semula memakai exchange tersebut sebagai saluran likuiditas domestik. USDT berfungsi sebagai cadangan dolar paralel yang bisa dikonversi ke mata uang lokal saat dibutuhkan.

namun, strategi tersebut membawa risiko besar.

BREAKING 🔴🔴🔴

Israeli-linked hacker group “Predatory Sparrow” wiped out 95% of assets on Iran’s Nobitex crypto exchange.

Nobitex was reportedly used by Tehran to evade sanctions through crypto. Wallet balances plunged from $1.8 billion to just $100 million. pic.twitter.com/vaKoRwHHRV

— Open Source Intel (@Osint613) June 18, 2025

Perubahan Strategi setelah Peretasan Besar

Pada Juni 2025, alur dana berubah drastis. Elliptic menemukan bahwa USDT tidak lagi disalurkan utama lewat Nobitex melainkan melalui bridge lintas chain, dengan memindahkan aset dari TRON ke Ethereum.

Dari sana, dana ini ditukar di decentralized exchange, dipindahkan antar blockchain, serta dialirkan melalui sejumlah platform terpusat. Proses ini berjalan hingga akhir 2025.

Perubahan ini terjadi setelah peretasan sebesar US$90 juta terhadap Nobitex pada 18 Juni 2025, yang dilakukan oleh kelompok pro-Israel Gonjeshke Darande.

Kelompok ini menuduh Nobitex membantu penghindaran sanksi dan mengklaim telah menghancurkan aset hasil curian tersebut.

Klaim Lokal Picu Kekhawatiran Keamanan Data

Media Iran melaporkan bahwa sorotan terhadap operasi aset kripto Bank Sentral Iran semakin besar setelah adanya laporan ini.

Pengusaha Babak Zanjani baru-baru ini mengklaim bahwa Bank Sentral membeli USDT untuk mengelola pasar valuta asing dan mentransfer dana tersebut ke wallet yang terhubung dengan anak perusahaan teknologi perbankan nasional.

“Hal yang mengkhawatirkan adalah untuk setiap wallet yang kami transfer Tether, alamat wallet kami, dalam waktu singkat, baik terungkap ke jaringan musuh atau masuk ke daftar sanksi dan penyitaan Israel. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius dan mendasar: Apakah terjadi kebocoran informasi di dalam Bank Sentral, atau Israel diam-diam memantau struktur dan proses Bank Sentral?” tulis Babak Zanjani.

Zanjani menuduh bahwa alamat wallet cepat terungkap dan kemudian diberi tanda oleh pihak bermusuhan, sehingga memunculkan kekhawatiran tentang kebocoran informasi di dalam institusi keuangan sensitif.

Walau belum terbukti, klaim tersebut membuat banyak pihak semakin mendesak Bank Sentral dan mitra teknologinya agar lebih transparan.

Trump Batalkan Tarif Greenland, Pasar Menguat seiring Risiko Mereda

21 January 2026 at 20:01

Bitcoin dan pasar global pulih tajam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ia tidak akan melanjutkan tarif yang terkait dengan Greenland. Pernyataan tersebut menghapus kekhawatiran perang dagang yang sebelumnya membuat investor khawatir.

Bitcoin naik kembali mendekati US$90.000, setelah sempat turun ke level intraday di bawah US$89.000, sementara Ethereum juga pulih menuju US$3.000 setelah sempat tergelincir di bawah level tersebut. Saham-saham AS juga kembali stabil, dengan S&P 500 berbalik menguat setelah sempat merugi. Emas, yang sebelumnya naik karena risiko geopolitik, memotong kenaikannya.

Postingan Terbaru Donald Trump di Truth Social

Ketakutan Tarif Greenland Sudah Mendorong Pergerakan Risk-off

Reaksi pasar muncul setelah Trump menyampaikan bahwa sebuah kerangka kesepakatan telah dicapai dengan Sekjen NATO Mark Rutte, sehingga memperkecil kemungkinan aksi perdagangan terhadap sekutu Eropa dalam waktu dekat.

Sebelumnya pada sesi perdagangan, pasar terjual karena Trump dan pejabat tinggi AS kembali menyampaikan retorika tarif yang agresif pada World Economic Forum di Davos

Pasar Kripto Bangkit Setelah Trump Batalkan Tarif Greenland | Sumber: CoinGecko

Investor bereaksi terhadap penggunaan kembali tarif sebagai alat geopolitik, terutama setelah Menteri Keuangan Scott Bessent membela tarif sebagai alat negosiasi yang efektif.

Bessent memperingatkan pemerintah asing untuk tidak membalas, dengan mengatakan, “Tenang, tarik napas dalam-dalam. Jangan membalas,” sambil menegaskan bahwa tarif tetap menjadi inti strategi ekonomi dan keamanan AS.

Pasar kripto anjlok bersama dengan saham karena investor memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi, kondisi likuiditas yang makin ketat, dan ketidakpastian perdagangan global yang kembali muncul

Bitcoin turun di bawah US$90.000, sementara Ethereum melemah ke bawah US$3.000, menunjukkan sensitivitas aset kripto terhadap guncangan risiko ekonomi makro.  

Seiring memudarnya risiko tersebut berkat update terbaru dari Presiden AS, pasar mulai berubah. Aset berisiko menunjukkan tanda-tanda pemulihan awal. Sementara itu, harga emas langsung turun setelah pengumuman tersebut. 

Harga Emas Turun Setelah Trump Batalkan Tarif Greenland | Sumber: TradingView

Reversal Validasi Arus Kripto yang Dipengaruhi Ekonomi Makro

Pemulihan cepat ini menunjukkan bahwa pasar kripto kini sangat terikat dengan sinyal kebijakan dan faktor ekonomi makro, khususnya terkait inflasi dan perdagangan.

Analisis sebelumnya menunjukkan bahwa tarif yang diberlakukan sepanjang tahun lalu sebagian besar sudah terbebankan kepada konsumen AS. Data ini menguatkan kekhawatiran bahwa eskalasi perang dagang yang berlanjut dapat menunda pemangkasan suku bunga dan memperketat kondisi keuangan.

Latar belakang ini sudah membebani aset digital sejak Oktober, membuat harga bergerak dalam rentang terbatas dan reli terus-menerus gagal menembus resistance kunci.

Begitu ancaman tarif langsung dihapus, selera risiko kembali muncul, sehingga memicu short covering dan pembelian aset kripto serta saham. S&P 500 menghapus kerugian, sedangkan Bitcoin stabil setelah sesi yang volatil.

S&P 500 Balik Menguat Usai Kerugian Sebelumnya | Sumber: Google Finance

Meski pasar menyambut deeskalasi, ketidakpastian masih ada. Trump menyatakan pembicaraan lebih lanjut masih berlangsung terkait peran strategis Greenland dalam pertahanan rudal dan keamanan Arktik, sehingga permasalahan ini belum sepenuhnya selesai.

Optimalisasi Portofolio Makin Populer saat Harga Emas Mendekati US$5.000

21 January 2026 at 17:23

Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—rangkuman penting mengenai perkembangan aset kripto utama hari ini.

Siapkan kopi, duduklah dengan nyaman, lalu bergabunglah bersama para investor untuk meninjau kembali aturan lama soal aset apa saja yang pantas masuk portofolio. Dengan pasar yang bergerak sangat cepat dan berita yang berubah setiap jam, debat tentang aset mana sebenarnya yang melindungi kekayaan makin memanas. Harga emas melonjak, Bitcoin menunggu, dan strategi yang dulu dianggap niche kini menjadi sorotan.

Berita Kripto Hari Ini: Apakah Emas dan Bitcoin Satu Tim atau Saling Bersaing?

Lonjakan harga emas kini memicu kembali perdebatan tentang cara terbaik untuk lindung nilai menghadapi ketidakpastian ekonomi makro. Para analis dan investor kini semakin mempertimbangkan kombinasi pendekatan antara aset tradisional dan aset digital.

Logam kuning ini menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level US$4.830 minggu ini, dengan momentum menuju US$5.000 semakin kuat. Kenaikan hampir US$250 selama sepekan menegaskan dominasi emas sebagai penyimpan nilai.

“Saya ingat dulu emas butuh waktu berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun, untuk naik sebanyak itu. Sekarang kenaikan sebesar itu hanya butuh beberapa hari. Sebentar lagi bisa terjadi hanya dalam satu hari!” terang Peter Schiff .

Di tengah situasi ini, analis kuantitatif PlanB kembali mengangkat diskusi soal emas dan Bitcoin. Sang analis berpendapat bahwa kedua aset sebaiknya dipandang saling melengkapi, bukan sebagai pesaing.

Berdasarkan analisisnya, keduanya punya profil risiko dan imbal hasil yang hampir sama, jika diukur dengan Calmar ratio, dan menggabungkannya dapat meningkatkan performa portofolio.

Gold and bitcoin investors love to argue about who is smarter. But gold and bitcoin are in the same team and risk/return profile (calmar) is almost identical. Best investment is a combi of gold AND bitcoin. E.g. 80% gold + 20% bitcoin has LESS risk and 2x MORE return than gold. pic.twitter.com/Cs3PFPA25o

— PlanB (@100trillionUSD) January 20, 2026

Argumen untuk menggabungkan alokasi diperkuat oleh sejumlah investor seperti ZynxBTC, yang melihat reli emas sebagai batu loncatan pada adopsi Bitcoin yang lebih luas.

“Emas dengan kapitalisasi pasar US$34 triliun membuktikan tesis Bitcoin. Lebih mudah orang beralih dari emas ke Bitcoin dibanding dari fiat ke Bitcoin. Jujur saja, kalau tidak ada Bitcoin, kebanyakan dari kita pasti jadi Gold Bugs,” ujar Zynx , seraya menekankan bahwa kondisi pasar saat ini memberikan “kesempatan emas” untuk memiliki BTC di level harga menarik.

Meski demikian, perilaku Bitcoin saat ini berbeda dibanding aset safe haven tradisional. Reli yang terjadi pada emas dan logam lain seperti perak tidak diikuti oleh Bitcoin, sehingga untuk saat ini, pasar sepertinya belum sepenuhnya memandang BTC sebagai aset pertahanan.

Bitcoin (BTC), Gold (XAU), and Silver (XAG) Price Performance
Performa Harga Bitcoin (BTC), Emas (XAU), dan Perak (XAG) | Sumber: TradingView

Menyeimbangkan Emas dan Bitcoin: Mengapa Investor Mulai Memikirkan Ulang Strategi Hedging

Trader filbfilb menekankan utilitas unik Bitcoin, dengan menyoroti kemampuan transaksi yang permissionless serta nilainya, meski aset kripto pionir ini tidak reli bersama logam mulia.

https://twitter.com/filbfilb/status/2013924034434523602

Di tengah situasi ini, goldbug Peter Schiff mengingatkan para holder Bitcoin—meski BTC dan emas dibeli untuk tujuan ekonomi makro yang serupa, investor BTC bisa menghadapi kekecewaan bila prediksi ekonomi terjadi, namun performa portofolio digital mereka tertinggal.

“Akan sangat mengecewakan dan disayangkan bagi para HODLer Bitcoin, yang beli Bitcoin karena alasan sama seperti saya membeli emas dan perak, ketika nanti semua prediksi ekonomi kita bersama terbukti, namun akhirnya mereka justru rugi lebih besar daripada orang yang tidak melakukan persiapan apa-apa,” papar Schiff .

Kenaikan harga emas, potensi jangka panjang Bitcoin, serta strategi alokasi gabungan kini mendorong investor untuk meninjau ulang cara hedging di pasar yang volatil.

Dengan menyeimbangkan stabilitas emas dan potensi kenaikan nilai Bitcoin, bisakah pelaku pasar meraih imbal hasil penyesuaian risiko yang lebih kuat sambil tetap siap menghadapi guncangan ekonomi makro di masa depan?

Geopolitik, kekuatan ekonomi makro, dan perdagangan global terus membentuk tahun 2026, membuat pembahasan portofolio kombinasi kini makin diminati.

Dengan emas menorehkan rekor baru dan keunikan Bitcoin yang makin diakui, perdebatan bukan lagi soal memilih pemenang, melainkan mencari sinergi terbaik. Bisa jadi, lindung nilai terbaik bukan emas atau Bitcoin; keduanya justru bisa menjadi jawaban.

Chart of the Day

Bitcoin-to-gold ratio
Rasio Bitcoin terhadap Emas | Sumber: Longterm Trends

Berdasarkan grafik ini, rasio saat ini berada di bawah puncak terakhirnya, yang menunjukkan bahwa Bitcoin lebih murah dibandingkan emas dibandingkan saat bull run sebelumnya, walaupun kedua aset ini mengalami kenaikan secara nominal. Ini menandakan reli emas belakangan ini meningkatkan nilainya lebih cepat dari Bitcoin di awal 2026.

Alpha Singkat Byte

Berikut ini rangkuman berita kripto AS lainnya yang perlu kamu ikuti hari ini:

Ringkasan Pre-Market Saham Kripto

PerusahaanPenutupan per 20 JanuariRingkasan Pre-Market
Strategy (MSTR)US$160,23US$159,50 (-0,46%)
Coinbase (COIN)US$227,73US$226,79 (-0,41%)
Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$32,10US$31,64 (-1,43%)
MARA Holdings (MARA)US$10,37US$10,33 (-0,39%)
Riot Platforms (RIOT)US$18,10US$18,06 (-0,22%)
Core Scientific (CORZ)US$18,36US$18,31 (-0,27%)
Perlombaan pembukaan pasar saham kripto | Sumber: Google Finance

Komputasi Kuantum Ternyata Sudah Menghantam Bitcoin, Apa Buktinya?

22 January 2026 at 02:48

Ancaman komputasi kuantum terhadap Bitcoin kerap dianggap masih jauh di masa depan. Namun, jika dicermati lebih dalam, dampaknya mulai terasa sejak sekarang.

Sejumlah riset terbaru dan langkah investor institusional menunjukkan bahwa “jam hitung mundur” bisa berjalan lebih cepat dari perkiraan.

Komputasi Kuantum Sudah Berdampak ke Bitcoin, namun Tidak Seperti yang Anda Kira

Kinerja Bitcoin yang tertinggal dari emas belakangan ini kembali mencuri perhatian investor institusional. Namun, penyebabnya bukan sekadar faktor pasar konvensional, melainkan meningkatnya kekhawatiran akan risiko komputasi kuantum yang berpotensi mengancam sistem kriptografi Bitcoin di masa depan.

Para ahli strategi kini tidak lagi memandang risiko ini sebagai teori semata. Kekhawatiran tersebut mulai memengaruhi keputusan alokasi portofolio dan memicu perdebatan baru soal ketahanan jangka panjang Bitcoin.

BeInCrypto melaporkan bahwa Christopher Wood, ahli strategi Jefferies, menghapus alokasi Bitcoin sebesar 10% dari portofolio model andalannya “Greed & Fear”, lalu mengalihkan dana tersebut ke emas fisik dan saham perusahaan tambang.

Wood menilai komputasi kuantum berpotensi memecahkan kunci Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) milik Bitcoin, yang pada akhirnya dapat meruntuhkan narasi Bitcoin sebagai store of value alias instrumen penyimpan nilai.

“Penasihat keuangan membaca riset semacam ini dan akhirnya menahan alokasi klien di level rendah atau bahkan nol, karena komputasi kuantum adalah ancaman eksistensial. Ini akan menjadi beban di leher BTC sampai masalah ini benar-benar teratasi,” tulis pengguna X populer, batsoupyum.

Sejumlah riset mendukung sikap hati-hati ini. Studi Chaincode Labs pada 2025 memperkirakan sekitar 20 hingga 50% alamat Bitcoin yang beredar berpotensi rawan terhadap serangan komputasi kuantum di masa depan akibat penggunaan ulang public key (kunci publik). Artinya, sekitar 6,26 juta BTC dengan nilai US$650 miliar hingga US$750 miliar bisa terekspos.

Sementara itu, grafik Projection Calculator menunjukkan pertumbuhan eksponensial kapabilitas perangkat keras kuantum dari waktu ke waktu.

Quantum Doomsday Clock
Jam Kiamat Quantum | Sumber: Projection Calculator

Seiring meningkatnya jumlah qubit pada mesin komputasi kuantum, terutama setelah tonggak pencapaian Google pada 2025, keberadaan cryptographically relevant quantum computers (CRQC) menjadi semakin realistis.

Struktur Bitcoin yang sepenuhnya terdesentralisasi justru memperbesar tantangan ini. Berbeda dengan bank tradisional yang bisa memaksakan upgrade sistem tahan komputasi kuantum melalui otoritas terpusat, Bitcoin harus mengoordinasikan perubahan lewat jaringan global yang tersebar.

Tidak ada komite risiko, tidak ada mandat, dan tidak ada satu entitas pun yang dapat memaksakan perubahan secara instan.

“Saya dulu menganggap remeh risiko komputasi kuantum terhadap Bitcoin. Sekarang tidak lagi. Argumen klasiknya selalu sama: komputasi kuantum belum menjadi ancaman, dan jika iya, seluruh sistem keuangan juga akan bermasalah. Memang Bitcoin bisa melakukan upgrade secara teknis, tetapi prosesnya lambat dan berantakan karena harus melalui koordinasi jaringan terdesentralisasi. Tidak ada yang bisa berkata, ‘kita ganti sekarang’,” terang Jamie Coutts.

Risiko Komputasi Kuantum Mulai Membayangi Daya Tarik Bitcoin bagi Institusi

Pasar mulai memperlihatkan kekhawatiran ini. Sepanjang 2026, kinerja Bitcoin terhadap emas turun sekitar 6,5%, sementara harga emas melonjak hingga 55%. Rasio BTC terhadap emas yang berada di level 19,26 pada Januari 2026 sejalan dengan sikap hati-hati para penasihat investasi.

Bitcoin-to-Gold Ratio
Rasio Bitcoin-Emas | Sumber: longtermtrends

Respons institusi pun terpecah. Di satu sisi, Wood memangkas eksposur. Namun di sisi lain, Harvard justru menambah alokasi Bitcoin hampir 240%.

Harvard ramped its bitcoin investment in Q3 from $117m ot $443m. It also boosted its gold ETF allocation from $102m to $235m.

Think about that for a second: Harvard decided to put on a debasement trade and it allocated to bitcoin 2-to-1 over gold.

— Matt Hougan (@Matt_Hougan) December 8, 2025

Begitu juga, Morgan Stanley mulai merekomendasikan klien wealth management untuk mengalokasikan hingga 4% portofolio mereka ke aset digital. Selain itu, Bank of America mengizinkan alokasi antara 1% hingga 4%.

Hal ini menunjukkan bahwa dukungan institusional tidak menghilang, melainkan terdistribusi berdasarkan penilaian risiko yang berbeda.

Meski demikian, sebagian analis menilai risiko komputasi kuantum memiliki probabilitas rendah, tetapi dampaknya sangat besar jika terjadi. David Duong dari Coinbase menyoroti dua ancaman utama: quantum computer yang bisa membobol kunci ECDSA dan menargetkan SHA-256, yang menjadi dasar sistem proof-of-work Bitcoin.

Alamat yang dianggap rentan mencakup skrip Pay-to-Public-Key lama, beberapa multi-signature wallet, serta konfigurasi Taproot yang public key-nya terekspos.

Menjaga kebersihan alamat, menghindari penggunaan ulang alamat, serta memindahkan koin ke alamat yang lebih tahan terhadap komputasi kuantum dinilai sebagai langkah mitigasi awal yang penting.

Standar kriptografi pasca-kuantum yang difinalisasi oleh NIST pada 2024 memberikan roadmap perlindungan di masa depan. Namun, implementasinya di Bitcoin tetap kompleks.

Charles Hoskinson dari Cardano memperingatkan bahwa adopsi yang terlalu dini bisa sangat menurunkan efisiensi. Sementara itu, Quantum Blockchain Initiative milik DARPA menunjukkan ancaman yang berarti kemungkinan muncul pada tahun 2030-an.

Meski demikian, kemajuan pesat yang tergambar pada grafik proyeksi memperlihatkan bahwa garis waktunya bisa saja lebih cepat, khususnya jika integrasi AI mempercepat pengembangan kuantum.

Pertanyaan tentang komputasi kuantum sekarang sudah bergeser dari sekadar teori menjadi dampak nyata pada portofolio. Performa buruk Bitcoin bukan hanya cerminan dari siklus pasar. Justru, ini menunjukkan beban risiko eksistensial yang terus bertambah, memengaruhi cara institusi mengalokasikan modal dan memaksa jaringan menghadapi tantangan teknis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selama jaringan Bitcoin belum mampu mengoordinasikan upgrade yang benar-benar tahan komputasi kuantum, “beban” tersebut akan terus membayangi BTC.

Bagaimana pendapat Anda tentang tentang ancaman komputasi kuantum terhadap keamanan aset Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌