Normal view

Sentimen Ritel XRP Berubah dari Greed ke Extreme Fear — Sinyal Bullish?

22 January 2026 at 05:45

Harga XRP telah turun di bawah US$2, atau sekitar 19% lebih rendah dari puncaknya pada 5 Januari 2026. Koreksi ini membuat banyak investor merasa khawatir. meski begitu, analis masih melihat beberapa sinyal positif yang bisa mendukung pemulihan.

Artikel ini membahas faktor-faktor utama di balik pandangan tersebut. Analisis mengacu pada data sosial, aktivitas perdagangan, dan perkembangan terbaru dari exchange.

Sentimen Ritel Menjadi Bearish di Tengah Koreksi Harga

Sentimen untuk XRP mengalami pembalikan tajam.

Data Sentimen Positif/Negatif dari Santiment—platform analisis sentimen pasar berbasis percakapan di media sosial—menunjukkan bahwa XRP jatuh ke zona “Extreme Fear”. Padahal, satu minggu sebelumnya, metrik ini masih menunjukkan adanya greed.

Santiment menjelaskan bahwa, secara historis, ekstrem sentimen sering menjadi penanda titik pembalikan. Pasar cenderung bergerak berlawanan dengan ekspektasi mayoritas.

XRP Ratio of Positive/Negative Sentiment. Source: Santiment
Rasio Sentimen Positif/Negatif XRP | Sumber: Santiment

“Secara historis, banyak komentar bearish seperti ini justru memicu reli. Harga sering bergerak berlawanan dari ekspektasi ritel,” papar Santiment dalam laporannya.

Walaupun pengamatan ini memberi gambaran positif, perubahan sentimen yang sangat cepat dalam waktu singkat menunjukkan adanya ketidakpastian serta inkonsistensi di kalangan trader ritel. Biasanya, kondisi tidak stabil seperti ini kurang mendukung tren naik yang berkelanjutan.

Funding Rate Negatif Isyaratkan Pola Reversal Potensial

Data pasar juga menunjukkan sinyal pembalikan lainnya. Seorang analis di CryptoQuant mengidentifikasi funding rate negatif di kontrak perpetual futures, yang menandakan adanya penumpukan posisi short secara berlebihan.

Funding rate menggambarkan pembayaran periodik antara pemegang long dan short di pasar perpetual futures. Jika funding rate negatif, berarti penjual short membayar posisi long. Secara historis, kondisi seperti ini sering muncul sebelum harga XRP akhirnya kembali naik.

XRP Funding Rate. Source: CryptoQuant.
Funding Rate XRP | Sumber: CryptoQuant.

Data CryptoQuant memperlihatkan pola seperti ini sudah muncul dua kali sejak 2024—yaitu pada Agustus–September 2024 dan April 2025. Di kedua kasus itu, funding rate negatif mendahului rebound harga yang signifikan.

“Secara historis, pasar cenderung bergerak berlawanan dengan konsensus yang terlambat. Akumulasi posisi short memang memberikan tekanan jual jangka pendek, tapi sebetulnya juga membangun tekanan beli yang tersembunyi. Kalau harga mulai naik, posisi ini bisa terlikuidasi dan justru mendorong kenaikan lebih lanjut,” jelas analis CryptoQuant Darkfost dalam laporannya.

Binance Listing Pair Perdagangan XRP/RLUSD, Meningkatkan Volume

Perkembangan positif di sektor exchange juga memperkuat prospek XRP. Pada 21 Januari 2026, Binance mengumumkan listing pasangan trading baru XRP/RLUSD.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyampaikan keyakinan bahwa langkah ini positif. Trading RLUSD di Binance membawa stablecoin ini ke lebih banyak pengguna. Ekspansi ini mampu memperkuat ekosistem XRP Ledger dan secara tidak langsung bisa mendukung harga XRP.

Listing ini juga membuka jalur likuiditas tambahan baik untuk XRP maupun RLUSD. Dalam jangka panjang dan kondisi pasar yang mendukung, likuiditas yang lebih dalam bisa menambah kedalaman pasar, mengurangi volatilitas harga, serta menarik aliran modal baru.

Analisis teknikal dari BeInCrypto juga menyoroti terjadinya bullish divergence ketika XRP turun di bawah US$2. Sinyal ini menambah kepercayaan untuk potensi pemulihan jangka pendek.

Tokenisasi Jadi Sorotan Utama di Davos 2026 saat Pasar Melebihi US$21 Miliar

22 January 2026 at 05:14

Hampir empat hari sejak pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, tema paling kuat dan konsisten untuk dunia kripto adalah tokenisasi aset dunia nyata (RWA).

Acara ini mulai pada hari Senin, 19 Januari 2026, dan berjalan hingga Jumat, 23 Januari, dengan pendiri dan mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), juga masuk dalam daftar pembicara.

Tokenisasi Muncul sebagai Tema Utama Aset Kripto di Davos 2026

Publikasi-publikasi yang berkaitan dengan WEF terus menggambarkan tahun 2026 sebagai “titik perubahan” bagi aset digital. Mereka menilai bahwa blockchain sudah melampaui tahap proyek uji coba dan kini telah diterapkan secara nyata.

Bukan lagi membahas perdebatan lama soal apakah aset digital layak berada di sistem keuangan, Davos 2026 justru fokus pada bagaimana aset digital diintegrasikan ke dalam sistem keuangan.

Pembicaraan sudah bergeser dari ideologi dan spekulasi ke arah infrastruktur, skalabilitas, dan penerapan berskala enterprise.

Dalam hal ini, tokenisasi secara luas digambarkan sebagai mekanisme yang membuat teknologi blockchain perlahan-lahan terintegrasi ke TradFi.

Pergeseran ini tampak jelas pada berbagai panel tingkat tinggi, termasuk sesi dengan judul “Apakah Tokenisasi adalah Masa Depan?” dan “Di Mana Kita Soal Stablecoin?”

Is Tokenization the Future? @cnbcKaren (@CNBC), @brian_armstrong (@coinbase), @bgarlinghouse (@ripple), Valérie Urbain ( @EuroclearGroup), François Villeroy de Galhau (@banquedefrance), Bill Winters (@StanChart) #WEF26 https://t.co/Ob8n7PCh1T

— World Economic Forum (@wef) January 21, 2026

Diskusi-diskusi ini menghadirkan tokoh-tokoh senior, termasuk CEO Ripple Brad Garlinghouse dan CEO Coinbase Brian Armstrong. Turut hadir juga pejabat dari European Central Bank dan perwakilan lembaga keuangan besar lainnya.

Para panelis menekankan kemampuan tokenisasi untuk membuat aset yang biasanya tidak likuid (saham, obligasi, dana, dan properti) dapat diperdagangkan di chain. Tujuannya untuk memungkinkan kepemilikan secara fraksional, meningkatkan likuiditas, serta mengurangi gesekan dalam penyelesaian lintas negara.

Lembaga-lembaga seperti BlackRock, BNY Mellon, dan Euroclear sekarang sudah meluncurkan produk tokenisasi secara massal. Hal ini menunjukkan adanya perpaduan yang makin kuat antara bank dan blockchain.

Kejelasan regulasi yang tercapai pada tahun 2025, khususnya di AS dan sebagian wilayah Eropa, berkali-kali disebut sebagai pemicu utama perubahan ini terjadi.

Stablecoin juga memainkan peran penting sebagai jembatan antara sistem TradFi dan DeFi. Stablecoin yang sering disebut sebagai contoh penggunaan blockchain pertama yang benar-benar universal, kini dilihat sebagai infrastruktur dasar untuk pembayaran, pengelolaan treasury, dan penyelesaian transaksi di chain.

Dengan munculnya kerangka kebijakan global yang lebih jelas, termasuk rujukan pada US GENIUS Act, stablecoin semakin dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganggu, bagi jalur keuangan yang sudah ada.

🚀BREAKING: At Davos, President Trump doubles down on crypto support

He vows to make the USA the "crypto capital of the world," positioning it against China's potential dominance in the sector.

He highlighted key actions:
✅ Signed the stablecoin GENIUS Act.
✅ Pushing the… https://t.co/gs6lTErch1 pic.twitter.com/lZuAhGgT7F

— Mia-BYDFi (@rokmawinda) January 22, 2026

Tokenisasi Bergerak dari Proyek Percontohan ke Infrastruktur Keuangan Skala Triliunan

Data terbaru yang dibagikan selama WEF di Davos menyoroti besarnya peluang tokenisasi. Total value locked (TVL) dalam RWA yang sudah ditokenisasi kini sudah melampaui US$21 miliar. Angka ini mencerminkan naiknya adopsi sekaligus semakin beragamnya kelas aset yang masuk ke chain.

Proyeksi jangka panjang turut menggarisbawahi besarnya tren ini. McKinsey memperkirakan pasar aset tokenisasi bisa mencapai antara US$2 triliun hingga US$4 triliun pada tahun 2030. Sementara itu, Boston Consulting Group menyampaikan skenario yang lebih agresif hingga US$16 triliun.

Tokenized Real-World Assets Reach $21B in TVL

The RWA sector continues to expand, both in total value locked and in the range of assets being tokenized. Long-term projections highlight the scale of this trend. @McKinsey estimates the tokenized asset market could reach $2 to $4… pic.twitter.com/LkzBpPFhaX

— CryptoRank.io (@CryptoRank_io) January 21, 2026

Para pemimpin industri menggunakan momen Davos untuk menampilkan kemajuan nyata di lapangan. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, mengatakan perusahaan bekerja erat bersama bank global untuk menjembatani kesenjangan antara tokenisasi dan DeFi.

Dia menerangkan bahwa volume tokenisasi di XRP Ledger naik dari US$19 triliun menjadi US$33 triliun hanya dalam satu tahun. Fokusnya, papar dia, lebih kepada infrastruktur berstandar institusional, bukan pada kasus penggunaan bersifat spekulatif.

BOOM! 🚨 $XRP is building the rails for trillions.

Ripple CEO Brad Garlinghouse just said at Davos 2026 that the company has been working with banks worldwide to bridge tokenization and DeFi through the XRP Ledger.

Tokenized volume grew from 19T to 33T in just one year.
Most… pic.twitter.com/OdzyGT9nQU

— X Finance Bull (@Xfinancebull) January 21, 2026

Penyedia infrastruktur juga menyampaikan pesan serupa. SWIFT mengatakan aset tokenisasi yang saling terhubung bisa sangat mempercepat perdagangan global, membuka likuiditas yang terjebak, dan menghubungkan TradFi dengan keuangan digital secara lebih luas.

CEO Coinbase Brian Armstrong juga menambahkan bahwa saham yang telah ditokenisasi adalah masa depan pasar tradisional. Eksekutif kripto ini memandangnya sebagai evolusi infrastruktur pasar saham yang tak terelakkan, bukan eksperimen khas dunia kripto.

Pasar Tradisional Adopsi Tokenisasi sebagai Infrastruktur Keuangan Inti

Pandangan ini semakin diterima oleh pelaku utama. New York Stock Exchange (NYSE) sedang menjelajahi sekuritas tokenisasi dan perdagangan 24/7 tanpa mengubah kerangka regulasi yang berlaku.

Tujuannya untuk memodernisasi infrastruktur pasar, bukan mendorong perilaku spekulatif. Sementara itu, data yang dipaparkan selama Davos menunjukkan lebih dari 65% aset tokenisasi, termasuk stablecoin berbasis fiat, saat ini diterbitkan di Ethereum. Ini menegaskan peran sentral Ethereum dalam ekonomi tokenisasi yang sedang berkembang.

Secara keseluruhan, Davos 2026 menunjukkan bahwa tokenisasi bukan lagi konsep masa depan. Kini, tokenisasi menjadi kacamata utama bagi keuangan global dalam berinteraksi dengan kripto, bukan sebagai kekuatan yang mengganggu, melainkan sebagai infrastruktur kokoh yang diam-diam mengubah pasar modal dunia.

❌