Normal view

Binance Suntik US$100 Juta Bitcoin di Tengah Kemerosotan Pasar

2 February 2026 at 12:21

Binance telah melakukan pembelian Bitcoin pertama dalam rencana konversi SAFU senilai US$1 miliar yang baru diumumkan, dengan mengakuisisi 1.315 BTC senilai sekitar US$100,7 juta.

Pembelian ini terjadi hanya beberapa hari setelah SAFU fund dialihkan menjadi cadangan Bitcoin, di saat pasar menghadapi tekanan jual yang cukup tinggi.

Binance Lakukan Langkah US$100 Juta yang Nampaknya Mirip Intervensi Bank Sentral

Pada 2 Februari, data on-chain mengonfirmasi bahwa alamat Binance SAFU Fund menerima 1.315 BTC senilai US$100,7 juta.

Binance Membeli 1.315 BTC
Binance Membeli 1.315 BTC | Sumber: Arkham Data

Ini menjadi pembelian pertama dalam rencana exchange untuk mengonversi Secure Asset Fund for Users dari stablecoin ke Bitcoin selama periode 30 hari.

Binance kemudian mengonfirmasi transaksi tersebut, dengan menyatakan bahwa US$100 juta dalam bentuk stablecoin telah dikonversi dan akan ada pembelian BTC lebih lanjut hingga target US$1 miliar tercapai.

#Binance SAFU Fund Asset Conversion progress update.

Binance has completed the first batch of Bitcoin conversion for the SAFU Fund, amounting to 100M USD stablecoins.

Our SAFU BTC address:
1BAuq7Vho2CEkVkUxbfU26LhwQjbCmWQkD

TXID: https://t.co/OdrvSINsRs

We’re continuing to… pic.twitter.com/Ue47ayJfbS

— Binance (@binance) February 2, 2026

Walaupun Binance tidak secara langsung menyebut langkah ini sebagai intervensi pasar, tetapi waktunya memang cukup signifikan. Ini terjadi saat harga Bitcoin masih dalam ketidakpastian, diperdagangkan di bawah level psikologis US$80.000.

Performa Harga Bitcoin (BTC)
Performa Harga Bitcoin (BTC) | Sumber: BeInCrypto

“Saya selalu heran, mereka yang paling banyak rugi jika Bitcoin jatuh (garis US$80.000) tidak berusaha mempertahankannya di akhir pekan,” ujar Jim Cramer, host acara Mad Money di CNBC, mengomentari.

Memang, Bitcoin mengalami akhir pekan yang sangat berat, memperlihatkan perbedaan besar di pasar antara peluang dan juga kerentanan struktural.

Melihat kondisi ini, beberapa analis membandingkan konversi SAFU seperti intervensi bank sentral di TradFi. Hal ini biasanya terjadi di dunia finansial tradisional, dimana institusi menggunakan cadangannya untuk menjaga kepercayaan pasar di masa krisis.

Beberapa contoh serupa di masa lalu antara lain:

Contoh TradFi Turun Tangan Menstabilkan Kepercayaan
Contoh TradFi Turun Tangan Menstabilkan Kepercayaan

Struktur ini pun memunculkan spekulasi bahwa Binance benar-benar berkomitmen untuk tetap membeli di harga bawah.

“Pengumuman terbaru Binance menegaskan mereka sudah membeli Bitcoin senilai US$100 juta dari pasar, dan masih ada US$900 juta yang akan dibelanjakan,” jelas analis AB Kuai Dong, menuturkan.

Ia menambahkan aturan penyeimbangan ulang fund ini bisa memperkuat dampaknya. Jika harga Bitcoin jatuh cukup dalam hingga nilai SAFU turun di bawah batas minimalnya, Binance wajib membeli BTC tambahan untuk mengembalikan nilai fund tersebut.

Backstop Bitcoin yang Lunak Muncul saat Binance, Saylor, dan Whale Terus Akumulasi

Berdasarkan kerangka SAFU, fund ini selalu diawasi secara berkala. Jika penurunan harga Bitcoin menyebabkan nilainya turun melampaui batas yang sudah ditentukan, Binance harus menambah dana ke fund tersebut. Dinamika ini bisa berperan sebagai penyangga lemah pada periode volatilitas tinggi.

Sinyal on-chain mengindikasikan Binance mungkin tengah bersiap melakukan akumulasi lebih lanjut. Sebelumnya di hari yang sama, alamat SAFU mulai melakukan transaksi otorisasi untuk menambah alamat penerima baru ke whitelist.

On-chain data shows that at 07:13 (UTC) today, the Binance SAFU Fund address initiated an authorization transaction to add two new addresses to its “approved recipient whitelist,” possibly in preparation for increasing its Bitcoin holdings. Previously, Binance converted $1…

— Wu Blockchain (@WuBlockchain) February 2, 2026

Langkah ini biasanya menjadi persiapan operasional untuk transfer aset tambahan.

Pembelian ini juga berlangsung di tengah munculnya sinyal kepercayaan baru dari para holder besar Bitcoin lainnya. Sehari sebelumnya, Executive Chair Strategy Michael Saylor mengunggah pesan misterius “More Orange” di X (Twitter), yang secara luas diartikan sebagai kode bahwa akan ada akuisisi Bitcoin berikutnya.

More Orange. pic.twitter.com/b5iYIMARJX

— Michael Saylor (@saylor) February 1, 2026

Unggahan itu muncul meski harga saham MicroStrategy baru saja turun tajam di beberapa sesi terakhir dan harga Bitcoin sempat menyentuh rata-rata harga beli perusahaan tersebut.

Secara keseluruhan, langkah-langkah ini memperkuat narasi bahwa para pemain bermodal besar sedang berupaya menstabilkan pasar secara organik, bukan melalui aksi terkoordinasi.

Selain pengumuman individu, tren on-chain yang lebih luas menunjukkan bahwa holder besar mungkin sudah mulai turun tangan. Data dari CryptoQuant memperlihatkan bahwa whale tetap melakukan akumulasi selama penurunan harga baru-baru ini.

Whale Membeli BTC Saat Harga Bitcoin Turun
Whale Membeli BTC Saat Harga Bitcoin Turun | Sumber: CryptoQuant

Apakah dukungan yang mulai muncul ini bisa berubah menjadi lantai harga yang kuat di dekat US$75.000?

Performa Harga Bitcoin
Performa Harga Bitcoin | Sumber: TradingView

Meski begitu, dengan konversi SAFU senilai US$900 juta yang belum dieksekusi, Binance telah menempatkan dirinya sebagai salah satu sumber permintaan Bitcoin struktural paling signifikan dalam waktu dekat.

Bagaimana pendapat Anda tentang langkah agresif Binance memborong Bitcoin di tengah penurunan pasar ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Justin Sun Diterpa Klaim Manipulasi Pasar Eksplosif saat Diduga Mantan Pacar Berikan Bukti ke SEC

1 February 2026 at 18:19

Pendiri Tron, Justin Sun, kembali mendapat sorotan setelah seorang wanita yang mengaku mantan pacarnya secara terbuka menuduhnya melakukan manipulasi pasar besar-besaran pada masa awal TRX.

Diduga, eksekutif aset kripto kontroversial ini memakai banyak akun Binance untuk mengerek harga TRX sebelum melakukan dump token ke investor ritel.

Justin Sun Dituduh Gunakan Akun Binance untuk Manipulasi TRX

Wanita penuduh, yang memperkenalkan dirinya sebagai Ten Ten (Zeng Ying), menyatakan bahwa dirinya pernah menjalin hubungan asmara dengan Sun saat peluncuran TRON dan masa pertumbuhan awalnya.

Ia menuduh Justin Sun menyuruh sejumlah karyawan yang berbasis di Beijing agar menggunakan identitas dan ponsel pribadi mereka untuk mendaftar banyak akun Binance. Akun tersebut kemudian dipakai untuk aksi trading terkoordinasi.

Diduga, akun-akun ini melakukan pembelian agresif untuk secara artifisial mendorong harga dan kapitalisasi pasar TRX pada akhir 2017 dan awal 2018.

Setelah itu terjadi aksi jual dalam skala besar, yang diduga mengakibatkan dump token ke investor ritel dan menghasilkan apa yang ia sebut sebagai “keuntungan ilegal yang sangat besar”.

“Saya memegang bukti yang menunjukkan bahwa ia menggunakan identitas dan ponsel dari banyak karyawan untuk mendaftar banyak akun Binance,” tulisnya.

Ten Ten mengaku memiliki rekaman percakapan WeChat, kesaksian orang dalam dari karyawan, serta dokumen lain. Ia tekankan bahwa yang sudah dipublikasikan selama ini “hanya sebagian kecil saja” dari semua bukti yang ada.

Selain itu, ia menyampaikan kesediaannya bekerja sama penuh jika SEC AS melakukan penyelidikan. Ia juga menyerukan agar pihak berwenang segera menghubunginya.

Sudah Ada Preseden meski Klaim Ten Ten Belum Terverifikasi

Kendati klaim tersebut belum terverifikasi, tuduhan itu mirip sekali dengan gugatan dari SEC sebelumnya. Pada Maret 2023, regulator ini telah menggugat Sun, Tron Foundation Limited, BitTorrent Foundation Ltd., dan Rainberry Inc. (dulunya BitTorrent) secara perdata.

Regulator sekuritas menuduh mereka menawarkan dan menjual TRX serta BitTorrent Token (BTT) secara ilegal tanpa pendaftaran, serta melakukan manipulasi pasar dalam skala besar.

Pada gugatan itu, SEC menuduh Sun melakukan wash trading. Dilaporkan, ia melakukan lebih dari 600.000 transaksi antara April 2018 hingga Februari 2019. Sun disebut memakai akun yang dikendalikan atau nama pinjaman untuk menciptakan volume trading dan stabilitas harga buatan tanpa ada perubahan kepemilikan riil.

Badan tersebut juga menuding Sun mengatur promosi selebritas berbayar tanpa mengungkapkan sponsornya demi mendongkrak hype token. SEC mengatakan, skema ini menghasilkan sekitar US$31 juta keuntungan ilegal.

Kasus terdahulu ini memang tidak secara spesifik menyinggung identitas karyawan atau akun Binance. Tapi, inti tuduhannya sejalan dengan pengakuan Ten Ten terkait aktivitas trading TRX pada periode awal, yaitu:

  • Trading terkoordinasi
  • Inflasi volume secara artifisial, dan
  • Pengambilan keuntungan oleh orang dalam

Kasus SEC ini ditunda pada Februari 2025. Penundaan itu terjadi tak lama setelah muncul kabar Sun menginvestasikan jutaan dolar ke proyek aset kripto yang terkait keluarga Trump, termasuk World Liberty Financial, yang diduga memberi manfaat sekitar US$50 juta pada Donald Trump.

Penundaan yang berlanjut hingga kini menuai kritik dari anggota Kongres AS Maxine Waters, Sean Casten, dan Brad Sherman pada pertengahan Januari 2026.

Dalam surat pada Ketua SEC Paul Atkins, para legislator itu mempertanyakan sikap SEC yang seolah-olah mundur dari penegakan hukum di ranah aset kripto. Mereka menyebut berbagai kasus yang dihentikan atau ditunda, seperti terhadap Sun, Binance, Coinbase, dan Kraken, serta memperingatkan potensi adanya dinamika “bayar untuk main” yang terkait pengaruh politik.

“Permintaan SEC untuk menunda litigasi Sun, serta langkah selanjutnya untuk menyelesaikannya, bisa saja dipengaruhi secara tak wajar oleh hubungan Sun dengan keluarga Trump, termasuk kontribusi finansial besar ke bisnis mereka,” tulis mereka.

Pada pernyataannya, Ten Ten menyampaikan bahwa keputusannya untuk berbicara didorong oleh alasan pribadi sekaligus moral. Dia mengungkapkan antara lain:

  • Menyaksikan dugaan eksploitasi investor ritel
  • Pencucian uang, dan
  • Pemanfaatan kekayaan demi membangun pujian dan perlindungan politik.

The reason I exposed him is that I devoted my own future to his career. The man who once promised to marry me later, at a recent public event, openly boasted to CZ that he was dating a well-known athlete. Subsequently, at a private dinner with prominent figures from the Chinese…

— 曾颖 (@tenten19901107) February 1, 2026

Dia juga secara terbuka meminta Donald Trump dan Eric Trump untuk menjauhkan diri dari Sun, mempertanyakan integritas hukum di AS jika hubungan tersebut tetap terjadi. Ia mengatakan dirinya menyimpan bukti dengan aman dan merasa khawatir terhadap keselamatan pribadi.

Sun belum menanggapi substansi tuduhan ini. Satu-satunya respons publik darinya adalah unggahan singkat di X, “Ignore the FUD and keep building & holding.”

Ignore the FUD and keep building & holding

— H.E. Justin Sun 👨‍🚀 🌞 (@justinsuntron) February 1, 2026

Baik Binance maupun SEC belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait tuduhan baru ini per 1 Februari 2026.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa tuduhan dari mantan pasangan perlu diwaspadai karena bisa mengandung bias pribadi.

Meskipun begitu, detail yang diungkapkan, kesesuaian dengan temuan SEC sebelumnya, serta kemunculannya di tengah sorotan politik dan regulasi yang lebih luas membuat tuduhan ini punya bobot lebih dari sekadar drama media sosial.

Jika terbukti, tuduhan tersebut bisa semakin meningkatkan desakan untuk meneliti ulang praktik perdagangan awal TRON, konsistensi penegakan hukum, dan juga peran pengaruh pada persimpangan ranah aset kripto, politik, dan regulasi.

Performa Harga TRON (TRX)
Performa Harga TRON (TRX) | Sumber: BeInCrypto

Token TRX milik TRON diperdagangkan di harga US$0,2843 pada waktu publikasi, turun tipis sebesar 0,5% dalam 24 jam terakhir.

Binance pins crypto's worst-ever liquidation day on macro risks, not exchange failure

Binance says October 10’s crypto flash crash was driven by a macro risk-off shock, cascading liquidations, and thin liquidity, while acknowledging two platform-specific issues that occurred after most losses had already been incurred.

The Binance Playbook: Kenapa Crypto Twitter Membenci Exchange Terbesar?

30 January 2026 at 20:41

Crypto Twitter kembali marah. Kali ini, targetnya adalah pihak yang sudah dikenal: Binance, exchange aset kripto terbesar di dunia, serta co-founder-nya, Changpeng Zhao (CZ).

Dalam beberapa hari terakhir, tuduhan-tuduhan besar memenuhi linimasa Twitter (atau X), dengan beberapa pengguna menyebut CZ “penipu” dan menuntut agar ia “dikirim kembali ke penjara.” Lantas, sebenarnya apa yang mendasari tuduhan terbaru ini, dan sejauh mana hal itu didukung bukti yang bisa diverifikasi?

Crash Pasar Oktober: Apa yang Terjadi?

Salah satu tuduhan paling serius yang menghadang Binance berawal dari Oktober, pada saat yang kini dikenal dengan sebutan “Crypto Black Friday.”

Pada 10 Oktober, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 100% dan kontrol ekspor yang menyasar Cina. Pengumuman ini langsung mengguncang pasar global, hingga aset-aset berisiko anjlok tajam.

Dunia kripto pun ikut terdampak. BeInCrypto melaporkan Bitcoin turun sekitar 10%. Altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP (XRP), dan BNB (BNB) juga jatuh lebih dari 15%.

Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober.
Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober | Sumber: TradingView

Dalam waktu 24 jam, lebih dari US$19 miliar posisi leverage terlikuidasi, menandai peristiwa likuidasi terbesar yang pernah tercatat oleh firma analisis data kripto, CoinGlass.

Pada awalnya, kejatuhan ini dipandang sebagai kepanikan pasar secara luas yang dipicu oleh berita ekonomi makro. tapi, para pelaku pasar segera mempertanyakan apakah kejatuhan tersebut murni organik.

Di media sosial, para trader menduga bahwa besarnya dan cepatnya likuidasi menunjukkan sesuatu yang lebih terkoordinasi dibanding aksi jual biasa. Fokus pun cepat mengarah ke Binance.

Mengapa Binance Menjadi Fokus Utama

Saat fase terburuk kejatuhan terjadi, para pengguna Binance melaporkan akun yang dibekukan dan perintah stop-loss yang gagal, serta sulitnya mengakses platform. Bahkan, beberapa trader mengamati adanya flash crash singkat yang membuat aset seperti Enjin (ENJ) dan Cosmos (ATOM) hampir menyentuh nol.

BeInCrypto melaporkan bahwa tiga aset yang listing di Binance, termasuk USDe, wBETH, dan BNSOL, sempat kehilangan peg-nya secara sementara di tengah kekacauan tersebut.

Binance secara terbuka mengakui adanya gangguan saat peristiwa itu terjadi. Exchange tersebut menyebutkan “aktivitas pasar yang sangat padat” sebagai penyebab keterlambatan sistem, juga masalah tampilan, sambil menegaskan dana pengguna tetap SAFU.

Meskipun demikian, penjelasan ini tidak bisa menenangkan seluruh kritikus. Beberapa pengguna menuduh Binance diuntungkan oleh pembekuan perdagangan, dan menyangka gangguan tersebut memberi exchange keuntungan saat volatilitas pasar sedang tinggi-tingginya.

due to our market makers manipulation, some users may experience negative balance

we’re actively making sure everyone get a fair share of it.

don’t celebrate yet, your bag could still go down by -90%

thanks for your attention to this matter!

— Ola Ξlixir (@thegreatola) October 10, 2025

Apakah Strategi Kompensasi Binance Berhasil?

Pada 12 Oktober, Binance merilis pernyataan setelah melakukan tinjauan internal terhadap insiden tersebut. Menurut exchange ini, mesin pencocokan perdagangan spot inti dan Futures, serta perdagangan API, tetap berjalan normal. 

“Berdasarkan data, volume likuidasi paksa yang diproses oleh platform Binance hanya mencakup proporsi yang relatif rendah dari total volume perdagangan, menandakan bahwa volatilitas ini terutama didorong oleh kondisi pasar secara keseluruhan,” terang exchange tersebut dalam laporannya.

Meski begitu, Binance mengakui bahwa beberapa modul di platformnya sempat mengalami kendala teknis singkat setelah pukul 21:18 UTC tanggal 10 Oktober, serta beberapa aset mengalami de-pegging akibat gejolak pasar ekstrem.

Binance menyebutkan bahwa mereka telah menyelesaikan kompensasi kepada pengguna yang terdampak dalam waktu 24 jam, dengan mendistribusikan sekitar US$283 juta dalam dua tahap.

Dua hari kemudian, pada 14 Oktober, Binance meluncurkan inisiatif dukungan senilai US$400 juta. Paket ini berisi voucher penggantian US$300 juta untuk trader yang memenuhi syarat, dan dana sisanya diberikan untuk pinjaman institusi dengan bunga rendah.

Walaupun Binance menjadi pusat protes dari komunitas, exchange ini bukanlah satu-satunya platform yang terdampak di tengah kejatuhan tersebut. Exchange besar lain seperti Coinbase dan Robinhood juga melaporkan adanya gangguan layanan. 

Aktivitas perdagangan Bitcoin di Coinbase juga diawasi publik, meski belum ada bukti yang mengaitkannya dengan manipulasi pasar maupun sebagai pemicu kejatuhan.

Patut dicatat bahwa pengawasan publik berlanjut di beberapa minggu setelah crash; beberapa klaim sebelumnya kemudian ditinjau ulang. Salah satu trader yang pernah menuduh Binance secara terbuka akhirnya mencabut pernyataan tersebut. 

Setelah meninjau data teknis yang diberikan oleh exchange, trader itu mengatakan log Binance menunjukkan tidak ada kesalahan sistem. Ia kemudian menghapus postingan aslinya, dan menyampaikan ia tidak ingin menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Argumen utama saya adalah bahwa ‘order API gagal, dan order reduce-only mengembalikan error 503.’ Namun, tim teknis Binance memberikan log lengkap saat pertemuan kami, yang menunjukkan bahwa order reduce-only sebenarnya tidak pernah mengalami error 503. Sebuah perusahaan investasi yang terhubung dengan teman saya juga ikut dalam investigasi. Tim pengelola akun utama dan staf yang bertanggung jawab meninjau log global dan memastikan tidak ada error 503 untuk order reduce-only,” terang unggahan tersebut.

Mengapa Backlash Terhadap Binance Muncul Lagi di Januari 2026

Untuk sementara waktu, masalah ini sepertinya sudah mereda. Tapi ketika 2026 tiba, isu ini kembali mencuat. Hal ini sangat berkaitan dengan kinerja pasar aset kripto dalam beberapa bulan setelah Oktober.

Setelah peristiwa deleveraging besar-besaran itu, pasar tetap tertekan. Bitcoin dan Ethereum menyerahkan seluruh kenaikan yang mereka dapatkan di 2025, dan menutup tahun dalam zona merah. Para ahli pasar semakin sering menunjuk ke kejatuhan bulan Oktober sebagai faktor utama di balik performa sektor kripto yang lesu.

“Telah terjadi deleveraging besar-besaran…beberapa exchange dan market maker…jadi industri ini seolah berjalan pincang, tapi fundamentalnya sudah banyak membaik,” komentar Chairman BitMine Tom Lee.

Diskusi makin ramai setelah CEO Ark Invest, Cathie Wood, memberikan komentar terbaru. Dalam wawancara bersama Fox Business, ia mengatakan:

“Apa yang kita alami dalam 2-3 bulan terakhir adalah getaran setelah 10/10…10 Oktober….merupakan flash crash yang berkaitan dengan glitch software di Binance yang menyebabkan sistem deleverage, dan jumlahnya mencapai US$28 miliar, banyak orang yang terdampak,” ucapnya.

Tak lama kemudian, sejumlah tokoh industri juga mulai angkat suara. Star Xu, pendiri OKX, berpendapat bahwa masyarakat “meremehkan dampak 10/10,” di mana ia menegaskan bahwa crash tersebut membawa “kerusakan nyata dan berkepanjangan” bagi industri kripto.

Menurut dia, sebuah perusahaan terdepan di industri harus mengutamakan infrastruktur inti, kepercayaan dengan pengguna dan regulator, serta kesehatan jangka panjang ekosistem. Tanpa menyebut nama perusahaan tertentu, Xu membandingkan ideal tersebut dengan apa yang ia gambarkan sebagai semakin besarnya fokus pada keuntungan jangka pendek.

“Sebaliknya, ada pihak yang memilih mengejar keuntungan jangka pendek—berulang kali meluncurkan skema mirip ponzi, memperbesar narasi ‘cepat kaya’, dan secara langsung atau tidak langsung memanipulasi harga token berkualitas rendah, menarik jutaan pengguna ke aset yang berhubungan erat dengan mereka. Cara ini digunakan sebagai jalan pintas untuk mendatangkan trafik dan perhatian pengguna. Kritik yang sah akhirnya terkubur—bukan karena fakta atau pertanggungjawaban, melainkan lewat kontrol narasi yang agresif dan kampanye terkoordinasi dari influencer,” tambah eksekutif itu dalam unggahannya.

First Cathie Wood, and now the CEO of OKx coming after Binance.

C. Wood blamed the 10/10 crash on a Binance 'bug,' yet Binance, in their statement, claimed the crash happened due to 'overall market conditions.'

Their "core futures and spot matching engines and API trading… pic.twitter.com/kfg5QHjVWT

— Ignas | DeFi (@DefiIgnas) January 28, 2026

Binance Hadapi Tuduhan dari Trader

Para pengamat pasar mulai membagikan apa yang mereka sebut sebagai bukti dugaan kesalahan Binance.

Pada sebuah unggahan di X (dulu Twitter), Star Platinum menyoroti pengumuman Binance tanggal 6 Oktober bahwa mereka akan melakukan update sumber harga untuk BNSOL dan wBETH, yang dijadwalkan pada 14 Oktober.

Binance was probably behind that massive October dump

This is my view and opinion based on onchain data, exchange notices, and timing:

On Oct 6, Binance publicly said it would change how it prices BNSOL and wBETH on Oct 14.

That created a 4-day window (Oct 10–14) where thin… pic.twitter.com/mbcTpSKNEN

— StarPlatinum (@StarPlatinum_) January 28, 2026

StarPlatinum juga mengklaim bahwa lebih dari US$10 miliar berpindah dalam 24 sampai 48 jam sebelum peristiwa tersebut, termasuk arus masuk besar USDT dan USDC ke hot wallet exchange.

Analis tersebut juga menyoroti arus USDe yang terhubung dengan wallet yang mereka label sebagai milik Binance. Ia membandingkan situasi Binance dengan Coinbase, dan menyatakan:

“Coinbase tidak melakukan listing pada mata rantai lemah (USDe / wBETH / BNSOL) tapi melakukan dua hal: memindahkan 1.066 BTC dari cold ke hot wallet beberapa menit sebelum cascade (US$130 juta di harga sebelum crash). Saat harga anjlok, arus besar yang tak bisa terisi di Coinbase nampaknya dialihkan keluar lewat market maker (diversi gaya Prime). Nilai tukar cbETH di Coinbase tetap stabil; wBETH di Binance ambruk,” paparnya.

StarPlatinum juga menyebut kalau perusahaan market-making besar seperti Wintermute dan Jump nampaknya membatasi aktivitas pada USDe, wBETH, dan BNSOL selama masa gejolak ekstrem tersebut.

“Menarik bid dari buku-buku order tersebut saat Binance menandai aset jaminan dari buku itu, dan mesin likuidasi justru menghancurkan dirinya sendiri,” ujar sang analis.

Mereka juga menuduh adanya akun baru yang berhasil membangun posisi short BTC dan ETH secara notional hingga sekitar US$1,1 miliar dalam dua jam terakhir sebelum crash terjadi, dengan satu posisi ETH meningkat sekitar satu menit sebelum unggahan kunci, dan menghasilkan perkiraan keuntungan sekitar US$160 juta hingga US$200 juta.

Pengguna lain menuduh Binance telah memanipulasi waktu likuidasi. Menurutnya, Binance mengumumkan setelah crash bahwa mereka akan memberi kompensasi untuk likuidasi yang memenuhi syarat jika terjadi setelah pukul 05.18 (UTC+8).

Namun, trader tersebut mengungkapkan bahwa likuidasinya tercatat di platform pada pukul 05.17:06, sehingga tidak memenuhi syarat kompensasi.

Trader itu berargumen bahwa waktu ini bertentangan dengan email sistem otomatis yang menampilkan waktu pemicu likuidasi pada 05.20:08 (UTC+8), beda sekitar tiga menit.

“Email otomatis, tidak bisa dimanipulasi ini adalah bukti yang paling kuat. Inilah inti kripto: Kode adalah Hukum,” papar unggahan tersebut.

Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp
Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp | Sumber: X/Mr_CryptoWhale

Sementara itu, pernyataan resmi dari Binance menyebutkan rentang waktu yang berbeda:

“Semua pengguna Futures, Margin, dan Loan yang memegang USDE, BNSOL, serta WBETH sebagai jaminan dan terdampak oleh depeg antara 2025-10-10 pukul 21:36 dan 22:16 (UTC) akan menerima kompensasi, beserta biaya likuidasi yang timbul,” terang exchange tersebut dalam pengumuman resminya.

Crypto Twitter Ramai dengan Tuduhan “Scammer” terhadap CZ

Ketika tuduhan ini mulai beredar, suasana di media sosial pun dengan cepat memanas. Pengguna mulai membagikan unggahan-unggahan panjang yang menyebut CZ sebagai “penipu” serta menuduh dirinya dan Binance menyalahgunakan dominasi pasar mereka secara sistematis hingga merugikan kompetitor dan trader ritel.

Beberapa unggahan semakin ramai, bahkan menjadi viral seiring anggota komunitas yang memperkuat tuduhan dan menunjukkan dukungan. Semakin banyak keterlibatan, tuduhan tersebut kian sering muncul di linimasa Crypto Twitter.

My timeline is filled with people fed up with CZ and the Binance cartel.

First, thank you for raising your voices.

Secondly, why did this movement wait to happen until finally every last person realized we were in a bear market now?

If I could make a wish it would be that we…

— The White Whale (@TheWhiteWhaleV2) January 30, 2026

Dalam wawancara bersama BeInCrypto, Ray Youssef, CEO NoOnes, menggambarkan Binance sebagai alat yang berpihak ke AS demi agenda yang ia sebut sebagai “kontrol penghancuran pasar” aset kripto.

Youssef berpendapat bahwa Zhao sekarang sudah berpihak pada kekuatan besar di AS, yang menurutnya menjadi pengendali utama yang memengaruhi arah Binance.

Bagi Youssef, kedekatan Binance dengan Amerika Serikat menjadi hal yang patut diwaspadai. Ia mengklaim exchange tersebut kini telah menjadi aset yang dikendalikan dan bisa digunakan untuk memicu atau mempercepat gejolak pasar yang lebih luas.

“Binance sekarang menjadi FTX berikutnya atau justru seperti apa yang FTX seharusnya lakukan…Saat CZ meledakkan gelembung FTX, dampaknya hanya sekitar 1% dari apa yang negara rencanakan. Sekarang, mereka akan menggunakan Binance dan membuat ‘bangkai’ itu meledak di depan wajah kita,” papar Youssef kepada BeInCrypto.

Kritik juga mengarah pada pernyataan terbaru Zhao soal strategi beli dan tahan.

“Selama bertahun-tahun saya melihat banyak strategi trading berbeda, dan sangat sedikit yang bisa mengalahkan strategi sederhana ‘beli dan tahan’, yang juga saya lakukan. Bukan saran finansial,” tulis CZ dalam unggahannya.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman. Para pengkritik menyoroti performa aset kripto yang listing di Binance, dan menyebut banyak token yang telah kehilangan nilai signifikan, sehingga mempertanyakan apakah strategi beli dan tahan realistis untuk pengguna ritel.

“Exchange penipu terbesar yang pernah ada, semua proyek seharusnya mengajukan delisting dari binance,” tegas seorang analis dalam unggahannya.

🌪️🌪️THE BINANCE DEATH SPIRAL🌪️🌪️

Many coins get listed on @binance and enter what I call a death spiral. Their purpose?

Extract liquidity.
This is just a handful of coins, you can prob find 1000's
Sometimes they go straight down, sometimes they have 1-4 weeks of up before never… pic.twitter.com/bCY12F8YHj

— BareNakedCrypto 🫐, (@BullNakedCrypto) January 29, 2026

namun, laporan BeInCrypto menunjukkan bahwa kelemahan tersebut tidak bersifat khusus pada exchange tertentu. Token kripto yang listing di berbagai platform utama pada tahun 2025 memang mengalami kesulitan untuk mempertahankan performa harga positif.

Tren tersebut terjadi di semua exchange dan mencerminkan penurunan pasar secara luas, bukan karena adanya permasalahan di satu platform trading saja.

Tidak hanya itu. Pengguna juga menuduh Binance menjual Bitcoin hari ini di tengah koreksi pasar.

Binance dan CZ Beri Tanggapan di Tengah Kritik di Crypto Twitter

Meski demikian, di tengah besarnya protes, Binance segera mengambil langkah untuk menunjukkan kekuatan. Exchange ini mengumumkan rencana mengonversi seluruh cadangan SAFU senilai US$1 miliar dari stablecoin menjadi Bitcoin dalam 30 hari ke depan.

None of this is coordinated 😆🧐, and there isn't a single shred of truth in any of it.

At the very moment people claimed Binance was selling, they were actually purchasing $1 billion worth of #BTC.
Furthermore, Binance or ETFs don't sell on their own, it is the users of… pic.twitter.com/tOR8QzRlz2

— Meta Financial AI (@MetaFinancialAI) January 30, 2026

Dalam surat terbuka kepada komunitas, Binance menegaskan bahwa mereka “senantiasa memegang standar tinggi” dan “terus berbenah berdasarkan masukan” dari pengguna maupun publik yang lebih luas.

Exchange tersebut mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, mereka terus berinvestasi dalam kontrol risiko, kepatuhan, dan pengembangan ekosistem, dengan menyoroti beberapa hal berikut:

  • Binance mengungkapkan telah membantu memulihkan dana sebesar US$48 juta dari 38.648 deposit pengguna yang salah.
  • Mereka juga menambahkan bahwa telah membantu 5,4 juta pengguna dan mencegah potensi kerugian akibat penipuan sekitar US$6,69 miliar.
  • Binance menuturkan bahwa kerja sama dengan penegak hukum telah berkontribusi pada penyitaan dana ilegal sebesar US$131 juta.
  • Mereka menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, listing spot mencakup 21 blockchain, dipimpin oleh Ethereum, BNB Smart Chain, dan Solana.
  • Mereka juga melaporkan Proof of Reserves dengan total US$162,8 miliar di 45 aset kripto.

Respon pribadi juga muncul. CZ menanggapi secara terbuka, mengesampingkan tuduhan terbaru sebagai siklus yang sudah biasa.

“Bukan pertama kali, juga bukan yang terakhir. Sejak hari pertama sudah menerima serangan FUD. Akan saya bahas di AMA malam ini, coba lihat di balik permukaannya mengapa dan bagaimana,” ujar CZ.

FUD doesn't hurt the target. My followers increased.

FUD hurts the market (ie everyone).

I/Binance do not sell in any meaningful amounts.

My selling = I swipe my card and $5 worth of BNB gets converted/sent to the coffee shop.

I don't run Binance anymore, but based on what I…

— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) January 30, 2026

Peninjauan ulang terhadap Binance ini mencerminkan lebih dari sekadar satu peristiwa atau serangkaian klaim. Situasi ini menyoroti betapa kepercayaan terhadap aset kripto masih sangat rapuh setelah bertahun-tahun volatilitas, keruntuhan akibat leverage, dan kegagalan besar di industri.

Di pasar yang masih berjuang untuk pulih, pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab cenderung muncul kembali.

❌