Normal view

XRP Berpotensi Menjadi Bintang di 2026 dan Ungguli Ethereum

By:Bey
20 January 2026 at 11:16

Para ahli mengatakan Ethereum akan segera mengungguli seluruh pasar, tetapi XRP menantang ETH seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

XRP Mencetak Terobosan Bersejarah

XRP telah mencapai tonggak sejarah langka terhadap Ethereum dengan menembus di atas awan Ichimoku pada grafik dua mingguan. Secara historis, zona ini telah menghambat kenaikan XRP/ETH selama pasar bullish, bertindak sebagai resistensi kuat sejak 2018. Untuk pertama kalinya sejak 2021, awan tersebut kini tampak sebagai level support potensial.

Rasio XRP/ETH di perdagangkan sekitar 0,00061 ETH setelah penurunan baru-baru ini sekitar 6%, tetapi tetap berada di atas cloud

Setelah mencapai titik terendah 0,0001251 ETH pada Juni 2024, XRP kembali menembus level cloud pada November 2024. Hal ini menandakan pergeseran struktural utama. Pada tahun 2025, pasangan ini mencapai level tertinggi lima tahun di 0,00139 ETH sebelum terkoreksi sebesar 56%. Terlepas dari penurunan ini, harga tetap berada di atas level clou. Sekarang bertindak sebagai support, menandakan kemungkinan pembalikan tren bullish. Analis Matt Hughes menunjukkan bahwa Tenkan-sen telah melintasi di atas Kijun-sen, menunjukkan momentum jangka menengah yang di perbarui.

Sementara itu, cadangan XRP yang di simpan di Binance telah turun sekitar 45% dalam satu tahun. Penurunan signifikan ini menunjukkan pengurangan yang nyata dalam pasokan yang tersedia di platform pertukaran terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna memindahkan XRP mereka ke dompet pribadi daripada membiarkannya di bursa. Tren ini mencerminkan perilaku akumulasi jangka panjang daripada keinginan untuk menjual segera.

Secara historis, kontraksi cadangan di bursa semacam ini sering mendahului pasar bullish, karena pasokan yang lebih terbatas meningkatkan sensitivitas harga terhadap permintaan. Dengan lebih sedikit XRP yang tersedia untuk penjualan langsung, peningkatan permintaan apa pun dapat mendorong harga lebih cepat daripada Ethereum, yang tidak menunjukkan dinamika akumulasi yang begitu kentara.

Sumber: CryptoQuant

Target Kenaikan 5x Lipat Dalam Indikator Hijau

Sementara itu, harga XRP tetap berfluktuasi tetapi mendukung: saat ini di perdagangkan sekitar US$2,06, sedikit turun harian dan mingguan. Harga bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari (US$2,02), menunjukkan dukungan jangka pendek, tetapi tetap di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (US$2,53), mencerminkan tren bearish secara keseluruhan . Terakhir, RSI di 50,7 menunjukkan pasar netral, tanpa penjualan berlebihan maupun pembelian berlebihan.

Altcoin ini baru-baru ini menyelesaikan fase akumulasi panjang setelah menembus pola descending wedge tahun 2020-2024, di ikuti oleh ekspansi 600% sejak awal kemunculannya di US$0,60. Saat ini, altcoin tersebut diperdagangkan di atas zona breakout yang telah dikonfirmasi, dengan struktur bullish yang tetap utuh selama harganya tetap di atas US$1,30.

Target potensial meliputi US$3,50, US$5,00, US$8,70, dan di atas US$10, dengan pembatalan di bawah US$1,30 pada penutupan tertinggi. Struktur teknis ini, di kombinasikan dengan kelemahan relatif Ethereum terhadap awan Ichimoku, memposisikan XRP untuk kinerja yang lebih baik pada tahun 2026.

Bagaimana pendapat Anda tentang potensi XRP di 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

XRP Resmi Masuk ‘Big Three’ Kripto dan Raih Imunitas

By:Bey
20 January 2026 at 10:37

Dunia aset digital memasuki babak baru pada awal 2026. XRP, token yang dikembangkan oleh Ripple, secara resmi telah mengakhiri ketidakpastian regulasi selama bertahun-tahun.

Melalui implementasi Digital Asset Market Clarity Act yang berlaku mulai 1 Januari 2026, XRP kini memiliki status hukum yang setara dengan Bitcoin dan Ethereum.

Akhir Sengketa Regulasi: Imunitas Hukum dan Yurisdiksi CFTC

Langkah ini memberikan XRP apa yang disebut sebagai “imunitas hukum”. Kini, token tersebut berada di bawah yurisdiksi penuh Commodity Futures Trading Commission (CFTC), bukan lagi di bawah pengawasan ketat SEC. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyambut antusias perkembangan ini. “Hari ini kita tidak hanya merayakan kemenangan hukum, tetapi juga pengakuan bahwa XRP adalah infrastruktur vital bagi masa depan keuangan global yang transparan,” tegasnya.

Status baru ini memicu pergeseran besar dalam hierarki pasar. XRP kini resmi bergabung dalam kelompok eksklusif “Big Three” bersama Bitcoin dan Ethereum. Analis pasar dari BeInCrypto, Jakub Dziadkowiec, mencatat bahwa momen ini adalah titik balik krusial. “XRP akhirnya terbebas dari bayang-bayang SEC. Ini bukan lagi tentang spekulasi, melainkan tentang adopsi institusi skala besar yang selama ini tertahan,” ungkapnya.

XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Sorotan CNBC Television: XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Masa Depan XRP Sebagai Infrastruktur Pembayaran Global

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Bagaimana pendapat Anda tentang status hukum XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

3 Alasan Mengapa Januari Bitcoin Merupakan Fase Konsolidasi yang Krusial

20 January 2026 at 09:15

Fase konsolidasi Bitcoin sering terasa tidak nyaman bagi trader. Fase ini menguji kesabaran dan keyakinan. Tapi, periode ini juga bisa menciptakan peluang bagi investor yang mengikuti rencana manajemen modal dengan disiplin.

Beberapa sinyal menunjukkan Januari bisa menjadi bulan saat Bitcoin memasuki fase konsolidasi krusial sebelum pemulihan harga.

3 Sinyal Tunjukkan Januari Bisa Jadi Saat Bitcoin Membentuk Local Bottom

Berdasarkan data teknikal, on-chain, dan exchange, para analis percaya sinyal positif untuk pemulihan jangka panjang sudah mulai muncul.

Pertama, data teknikal menunjukkan Bitcoin sedang mendekati zona DCA optimal berdasarkan moving average (MA).

Menurut platform analitik on-chain Alphractal, zona akumulasi jangka panjang yang ideal biasanya terbentuk saat harga BTC turun di bawah semua moving average harian, mulai dari siklus 7 hari hingga 720 hari. Kondisi ini menciptakan “zona aman” di mana harga dianggap undervalued terhadap tren jangka panjangnya.

Saat ini, Bitcoin sudah turun di bawah sebagian besar moving average-nya sejak November lalu. Hanya MA720 yang masih bertahan. Level ini berada di kisaran US$86.000.

“Bitcoin sedang sangat dekat dengan salah satu zona terbaik untuk menerapkan strategi DCA. Secara historis, zona ini sangat baik untuk akumulasi jangka panjang. Agar itu terjadi, BTC harus turun di bawah US$86.000,” komentar Alphractal .

Bitcoin Dynamic MA & Price. Source: Alphractal
Bitcoin Dynamic MA & Harga | Sumber: Alphractal

Bitcoin turun di bawah US$86.000 belum tentu langsung menjadi titik terendah, tapi data historis menunjukkan periode BTC menembus MA7 sampai MA720 biasanya berlangsung beberapa bulan.

Kedua, data on-chain memperlihatkan pertumbuhan jaringan Bitcoin berada di titik terendah selama beberapa tahun terakhir. Meski terlihat negatif, pola historis justru menunjukkan hal ini sering menjadi awal fase pemulihan.

Menurut Swissblock, sebuah dana investasi sekaligus penyedia informasi pasar, lemahnya aktivitas jaringan dan likuiditas rendah mengindikasikan Bitcoin sedang berada di fase akumulasi atau konsolidasi sebelum pergerakan besar selanjutnya.

“Pertumbuhan jaringan sudah menyentuh titik terendah sejak 2022, sementara likuiditas terus berkurang. Pada 2022, level jaringan seperti ini memicu fase konsolidasi BTC saat pertumbuhan jaringan mulai membaik, walaupun likuiditas masih lemah dan mendekati dasar,” papar Swissblock.

Bitcoin Network Growth vs Liquidity. Source: Swissblock
Pertumbuhan Jaringan Bitcoin vs Likuiditas | Sumber: Swissblock

Swissblock juga menyebutkan bahwa masih diperlukan tanda-tanda adopsi baru di jaringan. Jika skenario ini terjadi, reli seperti tahun 2022 bisa mendorong Bitcoin menyentuh all-time high baru tahun ini.

Ketiga, data exchange memperlihatkan tekanan jual dari para whale turun drastis dalam satu bulan terakhir. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk konsolidasi harga dan pemulihan selanjutnya.

Binance Whale to Exchange Flow. Source: CryptoQuant.
Arus Whale ke Exchange Binance | Sumber: CryptoQuant.

Penurunan Tekanan Jual dari Whale

Berdasarkan data CryptoQuant , arus BTC dari whale ke exchange turun sangat tajam, terutama di Binance.

Secara khusus, pasokan BTC masuk dari transaksi besar yang berkisar antara 100 sampai lebih dari 10.000 BTC telah turun dari hampir US$8 miliar per bulan pada akhir November 2025 menjadi sekitar US$2,74 miliar saat ini. Perubahan perilaku ini sangat mengurangi tekanan suplai di sisi penjual. Hal ini mendukung stabilitas harga serta memperkuat potensi pemulihan.

Kombinasi sinyal teknikal (harga diperdagangkan di bawah moving average utama), data on-chain (pertumbuhan jaringan rendah), dan metrik exchange (penurunan tekanan jual whale) mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang ideal untuk membentuk titik terendah lokal.

Meski begitu, data di atas belum cukup untuk menentukan harga dasar secara pasti. Selain itu, beberapa ketidakpastian eksternal masih belum terhitung. Hal ini termasuk potensi kembalinya tekanan tarif di tengah ketegangan geopolitik dan dampak pasar akibat pergantian kepemimpinan Federal Reserve yang akan datang.

Bagaimana pendapat Anda tentang fase konsolidasi Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Pola Breakdown XRP 2022: Sejarah Terulang di Bawah US$1?

20 January 2026 at 08:56

Harga XRP (XRP) turun hampir 10% sejak Rabu lalu karena tekanan ekonomi makro terus membebani pasar aset kripto secara keseluruhan.

Menariknya, ada tiga pola utama yang terakhir muncul pada tahun 2022 kini muncul kembali, sehingga memicu kekhawatiran bahwa XRP bisa jatuh di bawah level US$1.

3 Pararel Historis Tunjukkan Risiko XRP yang Meningkat

Pertama, data Glassnode menunjukkan bahwa investor aktif dalam rentang 1 minggu hingga 1 bulan kini sedang melakukan akumulasi pada harga di bawah biaya dasar holder 6 bulan hingga 12 bulan. Hal ini menandakan kalau pelaku pasar baru mulai masuk di level yang lebih menguntungkan.

Dinamika Klaster Holder XRP | Sumber: X/Glassnode

Selama ketidakseimbangan ini terjadi, tekanan psikologis terus meningkat bagi investor yang membeli di dekat harga puncak. Glassnode memperingatkan bahwa “pembeli di puncak” ini akan menghadapi tekanan yang makin besar seiring waktu. Pola ini mirip dengan situasi yang terjadi pada Februari 2022.

“Pola itu tidak berakhir dengan baik waktu itu,” tutur seorang pengamat pasar menambahkan.

Kedua, penurunan volume yang terjadi bersamaan dengan turunnya harga sangat mirip dengan perilaku pasar pada periode 2021–2022.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga XRP belakangan ini tidak menarik minat beli saat harga rendah yang berarti. Ini menandakan kurangnya keyakinan para pelaku pasar. Pola yang sama juga terjadi sebelum penurunan besar di Februari 2022.

XRP Historical Parallels
Paralel Historis XRP | Sumber: Coinglass

Ketiga, sinyal teknikal menyoroti risiko tambahan. Jika membandingkan struktur histogram Moving average convergence/divergence (MACD) antara periode 2025–2026 dan siklus 2021–2022, nampak pola momentum yang sangat mirip.

Data ini mengindikasikan bahwa XRP bisa saja turun hingga 45% jika harga menembus zona support di US$1,8–US$1,9. Jika terjadi breakdown, harga XRP bisa turun di bawah US$1, dan melintasi ambang psikologis dan teknikal yang penting.

XRP Price Prediction
Prediksi Harga XRP | Sumber: TradingView

Skenario Bullish: Potensi Pembalikan Arah

Sementara itu, analisis BeInCrypto menyebut XRP kini berada di momen penentuan. Harga XRP sedang membentuk pola inverse head-and-shoulders yang berpotensi bullish.

Pola ini hanya akan valid bullish jika XRP berhasil merebut kembali EMA 100 hari di atas US$2,24 dan menembus zona neckline US$2,48–US$2,52. Jika terkonfirmasi, formasi ini berpotensi memberikan kenaikan sekitar 33%.

Selain itu, sebagian pelaku pasar percaya potensi reli mulai terbentuk untuk XRP. Seorang analis on-chain kripto ucap bahwa retest tren harian CME XRP telah selesai dan gap 4 jam CME juga sudah terisi.

Menurut analis tersebut, kondisi ini bisa membuka peluang bagi XRP untuk bergerak terpisah dari pasar dan segera reli dari level saat ini.

$XRP will pump hard soon.

Stay focused. 👇 pic.twitter.com/YEIglUifpK

— STEPH IS CRYPTO (@Steph_iscrypto) January 19, 2026

Dalam beberapa minggu ke depan, para trader akan mengamati apakah pola tahun 2022 terulang. Untuk sekarang, baik sinyal teknikal maupun on-chain serta kondisi pasar secara luas menunjukkan outlook hati-hati saat XRP menghadapi fase krusial ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang pola breakdown XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Whale Ethereum Transaksi US$110 Juta saat Tekanan Pasar Meningkat

20 January 2026 at 06:08

Ethereum (ETH) mengalami tekanan jual yang signifikan pada Januari 2026. Wallet whale dan institusi telah memindahkan lebih dari US$110 juta ETH ke beberapa exchange utama.

Pada saat yang sama, Coinbase Premium Index menunjukkan permintaan yang melemah di pasar Amerika Serikat. Meski begitu, permintaan staking yang semakin tinggi. Sinyal teknikal yang mendukung memberikan prospek yang tetap optimistis meskipun hati-hati untuk aset ini.

Transfer Ethereum Besar Tunjukkan Aktivitas Tinggi dari Whale dan Institusi

Data on-chain menunjukkan banyak transaksi besar Ethereum. Perusahaan analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa sebuah wallet dengan identitas 0xB3E8, yang mulai melakukan trading ETH delapan tahun lalu, telah mentransfer 13.083 ETH senilai sekitar US$43,35 juta ke Gemini minggu lalu.

Walaupun terjadi perpindahan tersebut, wallet tersebut masih menyimpan 34.616 ETH, dengan nilai sekitar US$115 juta.

It appears that a whale is dumping 13,000 $ETH($41.75M).

Galaxy Digital OTC wallet just transferred 13,000 $ETH($41.75M) out and has already deposited 6,500 $ETH($20.89M) into #Binance, #Bybit, and #OKX.https://t.co/UT2jKKEMFS pic.twitter.com/GolGaNMzrN

— Lookonchain (@lookonchain) January 19, 2026

Selain whale, pelaku institusi juga melakukan pergerakan besar. Lookonchain mencatat bahwa perusahaan Ethereum treasury FG Nexus menjual 2.500 ETH, dengan nilai sekitar US$8,04 juta.

Penjualan sebelumnya dari perusahaan ini terjadi pada November 2025, saat mereka memindahkan 10.975 ETH ke Galaxy Digital pada 18 dan 19 November. Saat ini, perusahaan tersebut memegang 37.594 ETH dengan nilai sekitar US$119,7 juta.

Selain itu, Lookonchain mengungkapkan bahwa sebuah wallet yang kemungkinan terkait dengan perusahaan venture capital Fenbushi Capital mengirim 7.798 ETH senilai US$25 juta ke Binance. Token-token tersebut telah di-staking selama dua tahun sebelum akhirnya kembali beredar.

Perlu dicatat bahwa pelaku pasar sering melihat arus masuk dana ke exchange sebagai sinyal awal adanya potensi aksi jual. Aset biasanya dipindahkan ke exchange terpusat untuk mendapatkan likuiditas atau melakukan trading.

Tapi, pergerakan ini belum tentu langsung diikuti oleh penjualan pasar secara segera. Dana tersebut bisa juga untuk kebutuhan rebalancing internal, penempatan collateral, strategi hedging, atau penyelesaian over-the-counter. Jadi, meskipun deposit ke exchange bisa meningkatkan risiko aksi jual jangka pendek, hal ini tidak serta merta menandakan bahwa likuidasi akan segera terjadi.

Sejalan dengan pergerakan on-chain tersebut, indikator berbasis pasar juga memberikan gambaran tambahan soal kondisi saat ini. Coinbase Premium Index, yang mengukur perbedaan persentase harga Coinbase Pro (pasangan USD) dan harga Binance (pasangan USDT), saat ini berada di zona negatif. Hal ini menunjukkan permintaan yang lebih lemah dari investor institusi asal Amerika Serikat.

ETH's Negative Coinbase Premium Index
Coinbase Premium Index Negatif ETH | Sumber: CryptoQuant

Ethereum Staking dan Sinyal Teknikal Tunjukkan Ketahanan

Meski begitu, ekosistem staking Ethereum terus menunjukkan permintaan yang konsisten. Berdasarkan data antrean validator, terdapat 2,7 juta ETH dalam antrean masuk untuk staking, sehingga menyebabkan waktu tunggu hingga 47 hari. Backlog yang besar ini menandakan minat yang tinggi untuk berpartisipasi sebagai validator dan dukungan jangka panjang terhadap jaringan.

Perbandingan antara antrean masuk dan keluar menjadi perhatian. Ada 36.960 ETH yang menunggu antrean keluar. Ketidakseimbangan ini memberi sinyal bahwa meski beberapa holder besar memilih untuk menjual, mayoritas validator tetap berkomitmen ingin mendapatkan imbalan staking dan membantu menjaga keamanan jaringan.

Tom Lee(@fundstrat)'s #Bitmine staked another 86,848 $ETH($277.5M) 5 hours ago.

In total, #Bitmine has now staked 1,771,936 $ETH($5.66B).https://t.co/P684j5Yil8 pic.twitter.com/fNoIuERqKt

— Lookonchain (@lookonchain) January 20, 2026

Selain itu, analis pasar juga menyoroti sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi kenaikan lebih lanjut untuk aset ini. Mengomentari situasi saat ini, analis Crypto Gerla menuturkan bahwa ETH sedang berada di fase re-akumulasi. Analis tersebut juga menambahkan bahwa pergerakan menuju US$3.600 bisa saja terjadi.

Bears called for a top last cycle because of the $ETH head and shoulder pattern.

Now, ETH is forming an inverse head and shoulder pattern, but bears think it won't play out this time.

They were right in 2022 and will be wrong in 2026. pic.twitter.com/mHcDZyGBXY

— BitBull (@AkaBull_) January 19, 2026

Berdasarkan data terbaru dari BeInCrypto Markets, harga perdagangan Ethereum berada di angka US$3.166,51, turun 1,11%. Apakah tekanan jual akan tetap menekan aset ini atau justru momentum bullish kembali berkuasa, bakal menjadi tren penting yang perlu diperhatikan dalam periode mendatang.

Bagaimana pendapat Anda tentang pergerakan whale Ethereum ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

❌