Reading view

RUU Kripto “Very Soon” dari Trump Bertemu Jalan Buntu di Kongres

Presiden Donald Trump menyatakan di World Economic Forum di Davos pada hari Rabu bahwa ia berharap bisa menandatangani legislasi struktur pasar kripto “dalam waktu dekat.” Tapi, legislasi ini masih mengalami kebuntuan di Kongres dan memperlihatkan jurang lebar antara ambisi presiden dan kenyataan legislasi.

Pertentangan antara Coinbase dan pelobi perbankan soal imbal hasil stablecoin mengancam gagalnya apa yang disebut oleh para legislator sebagai peluang regulasi yang sangat langka—berisiko menunda selama dua tahun dan bisa membuat bisnis kripto pindah ke luar negeri.

Trump: “Bitcoin, Semuanya”

“Sekarang Kongres sedang bekerja keras pada legislasi struktur pasar kripto, yang saya harap bisa saya tandatangani sangat segera, membuka jalur baru menuju kebebasan finansial,” ujar Trump dalam pidatonya di Davos. Saat membaca naskah yang sudah dipersiapkan, presiden sempat menoleh dari teleprompter dan menambahkan, “Bitcoin, semuanya.”

Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Komite Perbankan Senat secara tiba-tiba membatalkan agenda markup yang sudah dijadwalkan. Pernyataan Trump terbaca seperti bentuk tekanan langsung kepada para legislator.

Komite Perbankan Tertunda, tapi Komite Pertanian Tetap Lanjut

RUU struktur pasar kripto sedang ditangani oleh dua komite Senat secara bersamaan. Komite Perbankan mengawasi regulasi terkait sekuritas, sedangkan Komite Pertanian menangani regulasi komoditas. Kedua RUU ini harus disahkan dan digabung sebelum maju ke sesi penuh Senat.

Komite Perbankan menunda markup minggu lalu setelah Coinbase menarik dukungan. Minggu ini, komite tersebut mengalihkan fokus ke upaya Trump untuk menekan biaya kepemilikan rumah. RUU kripto diperkirakan baru akan dilanjutkan pada akhir Februari atau Maret.

Sementara itu, Ketua Komite Pertanian Senat, John Boozman, menerbitkan teks Digital Commodity Intermediaries Act pada Rabu, yang mengonfirmasi bahwa komite akan melanjutkan markup pada 27 Januari. Boozman mengakui, tapi, negosiasi bipartisan dengan Senator Cory Booker gagal mencapai kesepakatan.

Konflik Inti: Imbal Hasil Stablecoin

Pertentangan Coinbase berfokus pada ketentuan terkait imbal hasil stablecoin. GENIUS Act, yang ditandatangani Trump tahun lalu, memungkinkan holder stablecoin mendapatkan imbalan—pada dasarnya pembayaran bunga. Imbal hasil ini bisa melampaui bunga simpanan bank tradisional, sehingga pelobi industri perbankan mendesak pembatasan dalam RUU struktur pasar yang baru.

CEO Coinbase, Brian Armstrong, menarik dukungannya dan menuturkan, “Kami lebih baik tidak punya RUU sama sekali daripada punya RUU yang buruk.” Dalam wawancara Bloomberg di Davos, Armstrong menegaskan, “Kelompok lobi dan asosiasi bank di luar sana mencoba melarang kompetitor mereka, dan saya benar-benar tidak mentolerir itu. Saya pikir, itu tidak sesuai dengan prinsip Amerika.”

White House Balas Serangan ke Coinbase

Gedung Putih menanggapi dengan tegas. Patrick Witt, direktur eksekutif dewan aset digital Trump, secara terbuka mengkritik sikap Armstrong.

“‘Lebih baik tidak ada RUU dibanding RUU buruk.’ Sungguh sebuah privilese bisa mengucapkan kata-kata itu berkat kemenangan Presiden Trump, dan pemerintahan pro-kripto yang ia bentuk,” ucap Witt.

Ia memperingatkan, jika para pelaku industri kripto menghalangi pengesahan RUU saat ini, mereka akan “menjatuhkan bola” dan menanggung konsekuensi yang bisa sangat merugikan.

Para Pembuat Undang-Undang Khawatir Tertinggal

Dalam wawancara dengan Fox Business, para legislator menyampaikan rasa frustrasi mereka atas legislasi yang tertahan. Senator Cynthia Lummis (R-WY), pendukung utama kripto yang akan pensiun tahun depan, menyatakan kekecewaannya, “Saya merasa seperti Flat Stanley setelah ditabrak truk Mack. Saya masih punya waktu sebelas bulan lagi untuk mengupayakan agar ini selesai.”

CEO Blockchain Association, Peter Smith, memperingatkan ada konsekuensi besar, “Jika ini tidak lolos sekarang—padahal sudah dikerjakan sekitar satu setengah tahun—kita akan menghadapi penundaan signifikan setelah pemilu paruh waktu. Artinya, secara realistis, ada kemungkinan dua tahun tertunda lagi.”

Anggota DPR William Timmons (R-SC) menegaskan aspek ekonominya, “Puluhan miliar US$ akan masuk kembali ke AS jika Kongres menetapkan kerangka aturan yang baik. Jika tidak, apa pun yang berhubungan dengan kripto malah bisa pergi ke luar negeri.”

Di tengah perdebatan para legislator, pasar sudah melaju lebih dulu. New York Stock Exchange mengumumkan rencana meluncurkan platform perdagangan sekuritas ter-tokenisasi berbasis blockchain, dengan penyelesaian instan dan operasional 24 jam setiap hari.

Senator Thom Tillis (R-NC) menyoroti urgensi, “Kalau kita ingin tetap jadi standar emas di dunia perbankan, kita juga harus mengatur kripto dengan tepat karena kripto jelas merupakan bagian dari masa depan sistem perbankan kelas atas.”

Apa Selanjutnya

Garis pertempurannya jelas. Pemerintahan Trump ingin legislasi cepat, Coinbase memandang pembatasan imbal hasil stablecoin sebagai batas mutlak, dan pelobi bank tetap menuntut pembatasan itu tetap ada.

RUU Komite Pertanian fokus pada yurisdiksi CFTC atas pasar spot aset digital dan tidak langsung membahas isu imbal hasil stablecoin, sehingga markup 27 Januari tetap berjalan. Tapi, kerangka struktur pasar yang komprehensif butuh RUU Komite Perbankan untuk lolos dan digabungkan.

Penyelesaian sengketa antara Coinbase dan pelobi perbankan soal imbal hasil stablecoin tetap menjadi faktor kunci. Meskipun mendapat tekanan dari Gedung Putih, Armstrong belum memperlihatkan tanda akan mundur.

  •  

Likuidasi Kripto Capai US$1 Miliar saat 182.000 Trader Rugi Besar dalam Satu Hari

Pada 20 Januari 2026, pasar aset kripto mengalami peristiwa deleveraging tajam. Lebih dari 182.000 trader terpaksa menutup posisi mereka, dengan total likuidasi lebih dari US$1,08 miliar. Posisi long menjadi penyumbang utama kerugian karena trader Bitcoin dan Ethereum Futures terkena margin call beruntun.

Saat ini, para trader menghadapi leverage yang lebih tinggi di tengah tekanan ekonomi makro global yang semakin intensif dan kelemahan teknikal di seluruh aset digital.

Likuidasi Rekor Hantam Trader Leverage

Berdasarkan data CoinGlass, sebanyak 182.729 trader terlikuidasi selama periode 24 jam yang berakhir pada 20 Januari, dengan total kerugian mencapai US$1,08 miliar. Sebagian besar merupakan posisi long, sebesar US$1,08 miliar, sedangkan likuidasi short jauh lebih kecil, yaitu US$79,67 juta.

Bitcoin mencatat likuidasi long sebesar US$427,06 juta, disusul Ethereum sebesar US$374,47 juta. Likuidasi tunggal terbesar di Bitget terjadi pada posisi BTCUSDT_UMCBL dengan nilai US$13,52 juta. Sejumlah exchange utama juga mencatat kerugian besar: Hyperliquid membukukan long likuidasi senilai US$132,39 juta, Bybit US$91,35 juta, dan Binance US$64,08 juta dalam periode empat jam.

Likuidasi terjadi ketika exchange menutup posisi leverage trader karena margin tidak cukup untuk menutupi kerugian. Saat harga bergerak berlawanan dengan posisi leverage tinggi, exchange otomatis menjual jaminan, yang memicu aksi jual beruntun karena setiap likuidasi mendorong harga turun dan menimbulkan margin call lanjutan.

Trader papan atas juga terkena dampak besar. Machi Big Brother, seorang investor ternama, mengalami lima kali likuidasi dalam satu hari. Total kerugiannya mencapai US$24,18 juta, dan sisa 2.200 ETH miliknya, senilai US$6,67 juta, berisiko terlikuidasi juga jika Ethereum turun ke US$2.991,43.

Sinyal Kelemahan Teknis dan Stres Pasar

Sejumlah indikator pasar menunjukkan tekanan jelas di luar harga yang jatuh. Analisis teknikal menemukan bahwa sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan Relative Strength Index (RSI) harian di bawah 50, menandakan adanya tekanan jual. RSI bergerak dari 0 sampai 100; nilai di bawah 50 menunjukkan sentimen bearish.

Market stress indicators
Indikator teknikal menunjukkan RSI di bawah 50 dan rasio likuidasi yang tinggi. Sumber: Alphractal

Rasio likuidasi-terhadap-open interest selama 24 jam terakhir tetap tinggi di sebagian besar pasar, menandakan proses deleveraging secara nyata. Rasio ini mengukur persentase posisi terbuka yang terlikuidasi dan biasanya melonjak saat terjadi tekanan dan aksi jual paksa.

“Sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan RSI harian di bawah 50, mengindikasikan tekanan jual. Selain itu, rasio 24 jam Likuidasi / Open Interest tinggi di banyak pasar, menandakan banyak trader telah terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Ini adalah situasi deleverage dan tekanan pasar yang biasa terjadi.”

Likuidasi yang berulang ini menguras modal investor, sehingga trader makin sulit masuk kembali ke pasar saat harga lebih rendah. Kondisi ini bisa menyebabkan spiral penurunan harga yang berulang karena jumlah pembeli semakin sedikit saat permintaan paling dibutuhkan untuk menahan harga.

Ancaman Likuiditas Global yang Meningkat Tekan Pasar Lebih Kuat

Selain tantangan internal kripto, peristiwa ekonomi makro memperbesar volatilitas pasar. Pasar obligasi Jepang mengalami pergeseran ekstrem pada 20 Januari: yield Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun melonjak 25 basis poin menjadi 3,86%, sedangkan yield 10 tahun naik 8 basis poin ke 2,34%. Keduanya mencetak rekor tertinggi baru untuk surat utang Jepang.

Japan bond yields chart
Lonjakan tajam yield Obligasi Pemerintah Jepang ke rekor tertinggi (Sumber: Ole S. Hansen)

Pergeseran yield ini berdampak luas. Rendahnya yield Jepang selama puluhan tahun menjadi pijakan likuiditas global dan mendorong carry trade, di mana investor meminjam yen dengan bunga murah lalu mengalirkannya ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi, termasuk aset kripto.

namun, naiknya yield Jepang membuat posisi carry trade menjadi jauh lebih mahal. Akibatnya, modal berpindah kembali ke Jepang dan menjauh dari aset berisiko seperti kripto. Bank of Japan memiliki pilihan terbatas: menahan yield berisiko membuat yen melemah, sementara kebijakan moneter ketat bisa mendistorsi pasar atau mengikis kepercayaan. Apa pun pilihannya, ketatnya likuiditas global semakin terasa.

Tekanan tambahan hadir dari penyelenggaraan World Economic Forum di Davos, di mana diskusi kebijakan bisa memunculkan ketidakpastian regulasi baru. Acara tahunan ini kerap menimbulkan gejolak pasar, khususnya pada aset kripto yang terus berada di bawah pengawasan regulasi global.

Volatilitas Berlanjut Nampaknya Akan Terjadi di Pasar Aset Kripto

Kelemahan teknikal, modal trader leverage yang terkuras, dan ketatnya likuiditas global semua menandakan ketidakpastian masih berlanjut. Volatilitas jangka pendek bisa makin tinggi seiring pasar menghadapi kenaikan yield Jepang dan sinyal baru dari Davos.

Trader dengan leverage tinggi tetap sangat rentan. Saat kondisi memburuk, exchange secara otomatis melikuidasi posisi untuk membatasi risiko—seringkali modal trader langsung habis. Komunitas kripto menyebut hasil seperti ini sebagai “rekt”, istilah slang untuk “wrecked.”

Manajemen risiko yang efektif menjadi sangat penting saat rasio likuidasi dan tekanan pasar tinggi. Walau demikian, kondisi yang tidak menarik dan kelelahan modal dapat membatasi pembelian, sehingga harga tetap tertekan sampai harga turun cukup dalam untuk menarik modal baru, atau tren makro mulai mereda.

Beberapa hari ke depan akan menunjukkan apakah pasar kripto mampu menyerap gejolak ini, atau justru akan menghadapi gelombang likuidasi lanjutan sejalan dengan perubahan kondisi keuangan global.

  •  

Bagaimana Bessent Memainkan Jepang: Panduan Hedge Fund untuk Mengalihkan Kesalahan

Menteri Keuangan Scott Bessent, seorang veteran hedge fund yang telah puluhan tahun berdagang mata uang dan obligasi, kini muncul sebagai manajer krisis utama pemerintahan Trump di pasar global—dengan akurat mendiagnosis penjualan besar-besaran obligasi Jepang dan secara strategis membingkai narasi agar Gedung Putih terlindungi dari tudingan atas aksi agresif mereka terkait Greenland.

Strategi ini menunjukkan bagaimana mantan manajer hedge fund tersebut mengubah dua sekutu terbesar AS di Asia menjadi bidak catur yang berbeda—yang satu dijadikan penanggung jawab, dan yang lain sebagai pemberi investasi.

Veteran Hedge Fund Temukan “Six-Standard-Deviation Move” di Jepang

Dalam sebuah wawancara pada 20 Januari, Bessent menunjuk volatilitas luar biasa di pasar obligasi Jepang sebagai penyebab utama gejolak di pasar global.

“Saya rasa sangat sulit memisahkan reaksi pasar dari apa yang terjadi di dalam negeri Jepang sendiri,” ujar Bessent. “Dalam dua hari terakhir, Jepang mengalami pergerakan enam standar deviasi di pasar obligasi mereka. Jika dibandingkan dengan AS, itu setara dengan pergerakan 50 basis poin pada obligasi 10-tahun.”

Penilaian Bessent ini memang didasarkan pada fakta. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun melewati 4% untuk pertama kalinya sejak mereka diperkenalkan pada 2007, sedangkan imbal hasil obligasi 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 1999. Penjualan ini makin memburuk setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan pemilihan cepat pada 8 Februari dan mengonfirmasi rencana menangguhkan pajak penjualan makanan sebesar 8% selama dua tahun—hal ini memicu kekhawatiran investor atas rasio utang terhadap PDB Jepang yang tinggi, yaitu 200%, dan kenaikan imbal hasil obligasi.

Bessent menegaskan bahwa ia mengharapkan otoritas Jepang segera bertindak. “Saya telah berkomunikasi dengan rekan ekonomi saya di Jepang dan saya yakin mereka akan mulai menyampaikan pernyataan yang bisa menenangkan pasar,” terang Bessent.

Tokyo Tindak Lanjut, Pasar Stabil

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama nampaknya menjawab seruan Bessent dalam acara World Economic Forum di Davos pada hari Selasa.

Katayama berjanji rasio utang Jepang terhadap PDB bisa dikurangi melalui “pengeluaran bijak” dan “langkah fiskal strategis” untuk mendorong pertumbuhan potensial. “Langkah ini akan membawa keberlanjutan keuangan publik dan memastikan kepercayaan pasar,” tutur Katayama.

Respons pasar datang seketika. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) turun di semua tenor pada 21 Januari, dimana obligasi tenor 20 tahun mencatat penurunan terbesar yakni 12,1 basis poin. Imbal hasil obligasi 40 tahun turun menjadi 4,15% dari puncaknya di atas 4,2%.

Rangkaian peristiwa tersebut membenarkan strategi Bessent: temukan titik tekan masalah, minta intervensi verbal, dan biarkan pejabat Jepang bekerja lebih keras menghadapi situasi ini.

Waktu yang Tepat: Mengalihkan dari Dampak Greenland

Meski demikian, framing ala Bessent ini juga punya tujuan ganda. Dengan mengaitkan volatilitas pasar dengan gejolak obligasi Jepang, ia berhasil mengalihkan perhatian publik dari meningkatnya ketegangan pemerintahan Trump terhadap sekutu Eropa terkait Greenland.

“Menurut saya, situasi di Jepang—di mana pasar mereka mengalami pergerakan enam standar deviasi lagi—dan hal itu terjadi sebelum muncul kabar apa pun tentang Greenland,” papar Bessent.

Pada minggu yang sama, Presiden Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa—Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia—karena mereka menolak rencana akuisisi Greenland oleh AS. Para pemimpin Eropa menerbitkan pernyataan bersama yang mengecam ancaman tersebut, sementara pejabat Denmark memutuskan memboikot forum di Davos sama sekali.

Dengan menjadikan Jepang sebagai sumber tekanan pasar, Bessent sukses membangun narasi yang membentengi diplomasi agresif Trump dari tanggung jawab pasar secara langsung.

Korea: Studi dalam Kontras

Pendekatan Bessent terhadap Korea Selatan terlihat sangat berbeda, meski kedua negara sama-sama memiliki komitmen investasi besar ke AS. Jepang setuju pada paket investasi sebesar US$550 miliar, lebih besar dibanding Korea yang hanya US$350 miliar. Tapi, Tokyo tetap mendapat tekanan keras sementara Seoul justru mendapat dukungan verbal.

Pada 15 Januari, Bessent memberikan dukungan langka bagi mata uang Korea won yang telah jatuh ke level terendah dalam 17 tahun terhadap dollar. Departemen Keuangan menyatakan bahwa Bessent “menegaskan bahwa volatilitas berlebihan di pasar valuta asing tidak diinginkan” dan menyebut penurunan won “tidak sesuai dengan fundamental ekonomi Korea yang kuat.”

USD/KRW | Sumber: Investing.com

Won sempat menguat dari sekitar 1.477 menjadi 1.462 per dollar beberapa hari setelah pernyataan Bessent. Tapi reli tersebut hanya berlangsung singkat—karena pada 21 Januari, mata uang ini kembali melemah ke 1.478, sehingga hampir seluruh gain-nya hilang.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa pertimbangan Bessent tidak hanya soal arus investasi. Gejolak di pasar obligasi Jepang memberiknya kambing hitam yang nyaman untuk menyalahkan volatilitas global dan mengalihkan perhatian dari isu Greenland. Sementara Korea tidak menghadirkan peluang seperti itu—maka nilainya pun berbeda di mata Bessent.

Playbook Hedge Fund

Bessent memahami Jepang dengan baik. Pada 2013, saat menjabat sebagai chief investment officer di Soros Fund Management, ia meraup US$1,2 miliar hanya dalam waktu tiga bulan dengan bertaruh terhadap yen Jepang. Satu dekade kemudian, dia menggunakan keahliannya itu—bukan untuk meraup untung dari gejolak Tokyo, tetapi justru sebagai tameng politik.

Bersama Jepang, ia menemukan dislokasi pasar yang nyata dan memanfaatkannya sebagai alat kebijakan serta pelindung politik. Dengan Korea, dia lebih banyak memberikan dukungan verbal untuk menjaga komitmen investasi besar, sedangkan terhadap Eropa, pemerintahan Trump justru memilih opsi konfrontasi langsung.

Pendekatan ini menandai perubahan dari doktrin lama Treasury yang biasanya menghindari untuk mengomentari nilai tukar tertentu. Tapi, Bessent sekarang menjalankan strategi khusus di setiap negara, menyesuaikan tekanan dan dukungan berdasarkan kepentingan strategis AS.

Apakah strategi ini bisa berjalan terus atau tidak, sangat bergantung pada faktor-faktor di luar kendali Bessent—termasuk apakah jalur fiskal Jepang benar-benar membaik, atau apakah pasar nantinya menghubungkan ancaman perdagangan Trump dengan ketidakstabilan keuangan yang lebih luas.

Saat ini, mantan trader makro tersebut sudah memberi waktu bagi pemerintahan, dengan memakai krisis obligasi Tokyo sebagai tameng dan tetap menjaga Seoul tetap di pihak mereka. Ini adalah manajemen risiko ala hedge fund: pisahkan variabel yang bisa dikendalikan, lalu cari pihak lain untuk disalahkan untuk sisanya.

  •  

Reli Tiga Pekan Bitcoin Kandas, Harga BTC Balik ke Area US$88.000

Bitcoin (BTC) kehilangan seluruh kenaikan awal 2026 setelah terkoreksi sekitar 4% dalam 24 jam terakhir ke area US$88.850 pada Rabu (21/1) pagi waktu Asia.

Harga kini berada nyaris persis di level penutupan akhir 2025, menghapus reli tiga pekan yang sebelumnya sempat mendorong Bitcoin menembus US$97.000. Pada waktu publikasi, BTC berupaya memantul setelah sempat menyentuh level terendah sesi di US$87.901.

Penutupan 2025 yang Mengecewakan

Bitcoin menutup tahun 2025 di kisaran US$87.000–US$88.000, turun sekitar 30% dari rekor all-time high Oktober di US$126.000, serta mencatatkan penurunan tahunan sekitar 6%. Desember menjadi periode yang sangat berat. BTC anjlok sekitar 22%, menjadikannya kinerja bulanan terburuk sejak Desember 2018.

Reli yang dinanti-nantikan, kerap disebut sebagai “Santa rally”, tidak pernah terwujud. Likuiditas liburan yang tipis dan minimnya katalis baru membuat pasar bergerak lesu hingga sesi perdagangan terakhir tahun ini. Upaya berulang untuk merebut kembali area resistance utama terus berujung pada tekanan jual.

Awal 2026: Rebound Singkat Didukung Inflasi dan Harapan Regulasi

Sentimen berubah drastis di awal tahun 2026. Pada 14 Januari, Bureau of Labor Statistics merilis laporan inflasi yang menunjukkan harga mulai stabil, sehingga Bitcoin melesat lebih dari 4% dalam 24 jam dan menembus level US$97.000, yang terakhir kali tercapai pada pertengahan November.

Keberhasilan menembus area US$95.000—zona yang penting secara teknikal sekaligus psikologis—membuka peluang kelanjutan kenaikan. Optimisme terhadap Clarity Act, yang bertujuan membentuk kerangka regulasi menyeluruh bagi aset digital, turut menopang sentimen. Namun, Senat AS menunda agenda pembahasan (markup) RUU tersebut hingga pekan terakhir Januari, menandakan dukungan suara yang dibutuhkan belum sepenuhnya terkunci.

Risiko Geopolitik Kembali Menekan Pasar

Pada 21 Januari, upaya Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland serta ancaman tarif baru pada sekutu Eropa mengguncang pasar global. Indeks saham acuan AS jatuh lebih dari 2%, VIX menyentuh level tertinggi sejak November, dan dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.

Shiyan Cao dari hedge fund Winshore Capital mengatakan kepada Bloomberg bahwa situasi ini “membuka risiko baru—yaitu orang-orang tidak lagi ingin memegang aset AS”. Maka dari itu, menurut Cao, sekarang investor harus memperhitungkan premi risiko politik.

Aksi jual ini mengingatkan pada ketakutan di April 2025, ketika pengumuman tarif besar-besaran dari Trump memicu penurunan tajam di pasar AS serta lonjakan volatilitas yang sangat signifikan.

Prospek: Volatilitas Masih Membayangi

Bitcoin kini telah menyelesaikan pergerakan bolak-balik penuh (round trip), menghapus seluruh kenaikan year-to-date dan kembali ke level penutupan 2025. Volatilitas tambahan berpotensi muncul pada Rabu. Yaitu ketika Mahkamah Agung AS mendengarkan argumen terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook.

Meski sebuah kesepakatan pada akhirnya dapat meredakan ketegangan seputar Greenland, proses tersebut diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Dalam periode tersebut, pasar berisiko menghadapi volatilitas yang tetap tinggi.

Untuk sementara, Bitcoin terekam berusaha bertahan di atas US$88.000. Sementara pelaku pasar menilai apakah level ini menjadi peluang beli atau justru awal dari koreksi yang lebih dalam.

Bagaimana pendapat Anda tentang prospek harga Bitcoin (BTC) ke depan? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  
❌