Binance telah menyelesaikan dua batch konversi stablecoin ke Bitcoin masing-masing senilai US$100 juta dari Secure Asset Fund for Users (SAFU), sehingga totalnya menjadi US$200 juta atau 20% dari target US$1 miliar.
Konversi ini adalah bagian dari rencana 30 hari yang diumumkan pada 30 Januari 2026 untuk mengalihkan cadangan Dana SAFU dari stablecoin ke Bitcoin dengan tetap menjaga batas perlindungan dana pengguna.
Konversi Dana SAFU Binance: US$200 Juta Masuk, Harga Bitcoin Nampaknya Tetap Stabil
Seluruh konversi ini dikirimkan ke alamat Bitcoin SAFU yang secara publik telah diungkap: 1BAuq7Vho2CEkVkUxbfU26LhwQjbCmWQkD.
Meski ada arus masuk US$200 juta, harga Bitcoin tetap bergerak sideways di sekitar US$76.300–US$76.700 pada 4 Februari.
Performa Harga Bitcoin (BTC) | Sumber: TradingView
Jadi, apa yang menjelaskan reaksi pasar yang datar?
Kecepatan akumulasi rata-rata sekitar US$33 juta per hari jika rencana ini berjalan sesuai jadwal. Jadi, proses ini menunjukkan akumulasi secara bertahap, bukan pembelian besar-besaran yang dapat mengguncang pasar.
Selain itu, data on-chain menunjukkan sebagian besar proses konversi hanyalah pengklasifikasian ulang internal. Binance hanya memindahkan kepemilikan BTC yang sudah ada ke wallet SAFU.
Binance Mengonversi US$100 Juta USDC ke BTC | Sumber: Blockchain.com
Ini berbeda dengan pembelian agresif di pasar spot, di mana Binance akan membeli BTC baru langsung dari pasar, sehingga menambah permintaan dan bisa mendorong kenaikan harga secara instan.
Langkah ini menunjukkan keyakinan jangka panjang untuk holding, tapi hanya memberikan tekanan beli yang terbatas di pasar spot dalam waktu dekat.
Kekuatan pasar yang lebih luas juga turut memengaruhi. setelah koreksi pada 2025, rentetan likuidasi, dan volatilitas ekonomi makro yang masih berlanjut menyebabkan tekanan penurunan harga tetap dominan. Ini kemungkinan mengimbangi efek “buy-the-dip” dari konversi dana SAFU.
Dana SAFU Binance Berperan Sebagai Bank Sentral Kripto: Dukungan Struktural tanpa Dampak Harga Langsung
Dana ini memiliki mekanisme batas bawah: jika volatilitas menurunkan nilai SAFU di bawah US$800 juta, Binance akan menambahkannya hingga kembali ke US$1 miliar, seperti strategi penopang harga.
Dalam jangka panjang, pola akumulasi terstruktur menunjukkan kepercayaan institusional yang kuat terhadap Bitcoin. Dengan mengonversi cadangan yang selama ini stabil dan minim risiko ke BTC, Binance memosisikan diri mirip “bank sentral kripto” yang diam-diam menumpuk cadangan sambil mempertegas komitmen menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan.
Sentimen komunitas di X (Twitter) menganggap langkah ini sebagai “dukungan layaknya bank sentral” atau “permintaan struktural”, sambil menyoroti potensi kenaikan aplikasi jika lebih banyak batch dieksekusi dan volatilitas stabil.
Binance converting SAFU reserves into Bitcoin step-by-step is transparency plus long-term conviction. Slow, scheduled accumulation hits different – that’s treasury strategy, not trading.
Dengan 80% dana SAFU belum dikonversi (US$800 juta), arus masuk secara bertahap dan terprediksi bisa membangun fondasi support yang kuat, sehingga memberikan perlindungan downside sekaligus menopang permintaan Bitcoin yang stabil dalam beberapa pekan ke depan.
Saat ini, reaksi pasar memang belum signifikan, namun strategi ini tetap tampak bullish secara struktural, apalagi hanya beberapa hari setelah masalah komunitas Binance mencuat.
Despite the increasing FUD & heavy withdrawals yesterday. Binance is still standing tall, increasing its Bitcoin reserve
Not justifying their dealings or recent market activities but their strength during market stress needs to be studied to be honest
Efek harga jangka pendek memang minim, namun strategi berkelanjutan ini mencerminkan pendekatan terencana untuk eksposur jangka panjang pada Bitcoin.
“Langkah Binance memindahkan US$100 juta stablecoin ke Bitcoin untuk SAFU menunjukkan komitmen serius pada aset kripto, tapi apakah ini bentuk kepercayaan jangka panjang—atau hanya akumulasi oportunistik saat harga turun?” sorot seorang pengguna di X.
Harga Bitcoin mengalami rebound jangka pendek setelah turun ke level terendah baru-baru ini, naik mendekati 5% dari titik terendah akhir Januari menuju area US$76.980. Pergerakan harga BTC ini mengikuti pola momentum bullish pada grafik 4 jam, yang menunjukkan tekanan jual mulai melemah.
Sekilas, rebound BTC ini terlihat wajar dari sisi teknikal. Pola jangka pendek yang familiar sempat muncul sebelumnya. Tapi jika melihat data on-chain dan struktur pasar lebih dalam, tiga metrik utama kini mempertanyakan apakah rebound ini bisa berkembang menjadi pemulihan yang berkelanjutan.
Chart Setup yang Menandakan Reli 5%
Pada timeframe 4 jam, Bitcoin membentuk bullish divergence antara 31 Januari dan 3 Februari.
Selama periode ini, harga BTC mencetak lower low, sedangkan Relative Strength Index (RSI), indikator momentum, justru membentuk higher low. Pola seperti ini biasanya muncul saat tekanan jual mulai berkurang dan rebound jangka pendek, meski dalam waktu singkat, menjadi lebih mungkin.
Divergence serupa juga sempat muncul sebelumnya antara 20 Januari dan 30 Januari. Kondisi itu mendorong reli ke US$84.640 sebelum seller kembali menguasai pasar.
Ingin insight token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Kripto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Kali ini, pola tersebut menghasilkan rebound mendekati 5%, yang mendorong Bitcoin menuju US$76.980. Pergerakan ini mengikuti pola teknikal yang sama seperti sebelumnya, sehingga memperkuat anggapan bahwa rebound ini memang wajar secara struktur.
Rebound harga BTC ini juga didukung sentimen makro, seperti yang dijelaskan oleh Martin Gaspar, Senior Crypto Market Strategist di FalconX. Ia mengaitkan pergerakan ini dengan rotasi dari logam mulia, sesaat sebelum divergence muncul:
“Melihat lonjakan harga logam pada hari Jumat, para trader mungkin mengantisipasi rotasi kembali ke kripto. Walau sebelumnya BTC dianggap mendapat keuntungan dari penguatan emas, modal yang biasanya mengalir ke kripto justru masuk ke perak dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini bisa berubah saat harga perak mulai turun,” ujar Martin Gaspar.
Tapi setup teknikal hanya akan berjalan jika buyer terus memberi dukungan. Di sinilah tantangan besar pertama muncul.
Metric Satu — URPD Menunjukkan Sell Wall Kuat di Level Kunci BTC
Metrik pertama yang mempertanyakan rebound ini adalah UTXO Realized Price Distribution (URPD), yang memetakan di mana sebagian besar pasokan Bitcoin terakhir berpindah tangan.
Data URPD menunjukkan area di sekitar US$76.990 memuat sekitar 0,46% dari total pasokan. Ini berarti ada satu klaster pasokan penting, di mana banyak holder berada di kisaran impasnya. Hal ini menjelaskan mengapa kenaikan 5% baru-baru ini tertahan di US$76.980.
Saat harga mendekati area-area ini, tekanan jual biasanya meningkat karena investor ingin keluar tanpa rugi.
Pola seperti ini sudah pernah muncul sebelumnya.
Rebound BTC sebelumnya di akhir Januari (seperti disebut di atas) juga tertahan di sekitar US$84.640, dekat zona URPD, yang menunjukkan klaster pasokan besar sebesar 3,05%. Tembok ini terbukti terlalu kuat untuk ditembus.
Kini, rebound terbaru kembali tertahan di area pasokan yang berat. Ini menandakan bahwa rebound dibatasi oleh aksi holder, yang nampaknya justru memilih menjual di resistance daripada membangun posisi baru. Tanpa permintaan baru yang cukup, tembok jual ini akan sulit ditembus.
Cadangan Exchange Naik dan SOPR Lemah Tunjukkan Keyakinan Rendah
Metrik kedua dan ketiga berasal dari arus exchange dan perilaku profit, dan keduanya sama-sama memberi isyarat yang mengkhawatirkan.
Cadangan Bitcoin di exchange turun ke level terendah baru 2,718 juta BTC pada 19 Januari. setelah itu, cadangan naik menjadi sekitar 2,752 juta BTC.
Itu artinya ada kenaikan sekitar 34.000 BTC, atau kurang lebih 1,2% hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu.
Alih-alih koin meninggalkan exchange untuk di-hold jangka panjang, kini lebih banyak Bitcoin yang bergerak kembali ke platform trading. Ini biasanya mencerminkan meningkatnya kesiapan untuk menjual daripada mengakumulasi.
Pada waktu yang sama, Spent Output Profit Ratio (SOPR) tetap berada di dekat level terendah tahunannya. SOPR mengukur apakah koin dijual dalam keadaan untung atau rugi. Nilai di bawah 1 berarti investor sedang merealisasikan kerugian.
Pada akhir Januari, SOPR turun mendekati 0,94. Saat ini, nilainya berada di sekitar 0,97, tetap di bawah level netral. Ini berarti banyak holder tetap menjual meskipun mereka sedang merugi.
Jika cadangan di exchange meningkat bersamaan SOPR yang rendah, ini menandakan perilaku defensif. Investor menggunakan setiap kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan memperkuat eksposur jangka panjang.
Hal ini dapat melemahkan fondasi setiap pemulihan harga kecuali ada katalis besar. Namun, Martin Gaspar dari FalconX mengisyaratkan adanya katalis sentimen yang berkaitan dengan kejelasan regulasi, yang mungkin berupaya mengubah prospek harga BTC:
“Dalam beberapa minggu ke depan, katalis utama akan mencakup setiap perkembangan terkait RUU struktur pasar kripto, dengan kelompok kunci dijadwalkan bertemu di Gedung Putih pekan ini untuk membahas RUU tersebut,” sorot Martin Gaspar dari FalconX.
Namun, level harga inilah yang tetap menjadi kunci utama!
Level Harga Bitcoin dan Smart Money Tunjukkan Reli Mulai Kehilangan Dukungan
Aksi harga Bitcoin menegaskan apa yang ditunjukkan oleh ketiga metrik tersebut. Agar Bitcoin kembali menguat, beberapa level harga berikut harus ditembus:
US$76.980: Resistance langsung dari klaster suplai saat ini
US$79.360: Hambatan jangka pendek berikutnya
US$84.640: Resistance jangka panjang utama yang berkaitan dengan zona URPD BTC terbesar
Pemulihan berkelanjutan membutuhkan penutupan candle 4 jam yang bersih di atas level-level ini, khususnya di atas US$84.640. Sampai sekarang, harga BTC belum berhasil menunjukkan kekuatan di atas resistance pertama.
Smart Money Index menambah lapisan kehati-hatian berikutnya. Indikator ini melacak posisi mirip institusi. Pada grafik 4 jam, Smart Money Index terus bergerak di bawah garis sinyalnya sejak akhir Januari. Ini menandakan pemain besar tidak menambah eksposur seiring rebound harga.
Terakhir kali indeks ini sempat melampaui garis sinyalnya di akhir Januari, harga Bitcoin reli sekitar 5%. Saat ini, konfirmasi semacam itu masih belum muncul. Jika partisipasi smart money belum pulih, maka setiap rebound jangka pendek BTC berisiko gagal berlanjut.
Ditambah lagi, jika aksi jual panik semakin meningkat, sesuai dengan penurunan SOPR, dan menekan harga BTC, maka US$72.920 menjadi zona kunci. Target penurunan baru bisa tercapai jika candle 4 jam ditutup di bawah level ini.
Tether, penerbit stablecoin USDT senilai US$185 miliar, secara drastis memangkas ambisi penggalangan dana privatnya.
Hal ini menimbulkan keraguan soal potensi IPO yang sebelumnya ramai diperbincangkan oleh para pelaku kripto, seperti co-founder BitMEX Arthur Hayes.
Penolakan Investor Membuat Tether Menilai Ulang Ambisi Pendanaan
Pada awalnya, Tether menjajaki penggalangan dana hingga US$15–20 miliar dengan valuasi US$500 miliar. Jumlah ini akan menempatkan penerbit stablecoin tersebut di jajaran perusahaan privat paling bernilai di dunia.
namun, menurut Financial Times, kini Tether mempertimbangkan hanya sekitar US$5 miliar, bahkan mungkin tidak menggalang dana sama sekali.
Penyesuaian terbaru ini terjadi setelah satu tahun spekulasi pasar yang ramai. Pada September 2025, Hayes kembali memantik spekulasi IPO Tether dan menyebutkan bahwa kehadiran di bursa publik oleh penerbit stablecoin ini bisa mengungguli debut USDC milik Circle yang sukses.
Saat itu, valuasi Tether diperkirakan lebih dari US$500 miliar. Ini menempatkannya sejajar dengan raksasa teknologi dan keuangan seperti SpaceX, OpenAI, dan ByteDance.
“S&P mencatat adanya kenaikan aset berisiko tinggi dalam cadangan Tether selama setahun terakhir, termasuk bitcoin, emas, pinjaman beragunan, obligasi korporasi, dan investasi lain dengan pengungkapan terbatas serta rentan terhadap risiko kredit, pasar, suku bunga, dan nilai tukar. Tether tetap memberikan sedikit informasi tentang kelayakan kredit kustodian, rekanan, atau penyedia rekening banknya,” lapor Reuters mengutip S&P.
Turunnya pasar aset kripto dalam enam bulan terakhir juga semakin menurunkan minat terhadap valuasi tinggi, bahkan untuk pelaku paling menguntungkan di sektor ini.
Ardoino sendiri tetap optimistis terhadap fundamental Tether. Ia menyebut angka US$15–20 miliar sebagai salah paham. Menurut Ardoino, perusahaan akan “sangat senang” meski tidak menggalang dana sama sekali.
“Angka itu bukan tujuan kami. Itu hanya batas maksimal, kami siap menjual…Jika kami menjual nol, kami juga akan sangat senang,” kutip salah satu bagian dalam laporan tersebut, mengacu pada pernyataan Ardoino.
Dengan profitabilitas yang masih terjaga, Tether hampir tidak membutuhkan tambahan dana operasional. Ini menunjukkan bahwa upaya penggalangan dana lebih banyak bertujuan meningkatkan kredibilitas dan membangun kemitraan strategis, bukan sekadar untuk tambahan kas.
IPO Tether: Hanya Angan-Angan?
Penarikan ini juga mengubah ekspektasi terhadap IPO Tether. Walaupun langkah ke pasar publik tidak akan segera terjadi, dorongan regulasi dan strategi baru membuat opsi tersebut tetap terbuka.
Jadi, pondasi bisa saja disiapkan untuk potensi IPO di tahun 2026 jika kondisi pasar membaik, meski valuasinya mungkin perlu disesuaikan.
Meski begitu, langkah hati-hati dari Tether ini membawa sinyal penting untuk ekosistem aset kripto secara lebih luas. Sebagai mata uang cadangan de facto di pasar dengan kepemilikan Treasury dan emas yang masif, langkah mundur Tether menyoroti semakin pentingnya profitabilitas dan transparansi daripada sekadar hype.
Bagi perusahaan kripto lain dengan valuasi tinggi yang ingin melantai di bursa publik, pengalaman Tether bisa menjadi blueprint: pertumbuhan berkelanjutan dan fundamental kuat makin krusial untuk membangun kepercayaan investor, bahkan untuk nama besar di industri ini.
Patut dicatat juga bahwa CEO Tether Paolo Arodino pernah menyampaikan bahwa perusahaan tidak harus go public. Tapi, ia juga tidak menutup kemungkinan itu.
Platform pertukaran kripto terkemuka, OKX, resmi meluncurkan kampanye spesial bertajuk “SEA Race to Paddock”. Kampanye yang berlangsung selama 21 hari ini memberikan kesempatan eksklusif bagi pengguna di wilayah Asia Tenggara untuk memenangkan tiket menonton balapan Formula 1 (F1) secara langsung di China dan Jepang.
Berlangsung dari tanggal 2 Februari hingga 22 Februari, kampanye ini terbuka bagi seluruh pengguna, baik pengguna baru maupun pengguna lama. Hadiah utama yang ditawarkan adalah pengalaman Race Weekend di F1 China pada 13-15 Maret dan F1 Jepang pada 27-29 Maret.
Tiga Jalur Utama Menuju Paddock
Para peserta dapat berpartisipasi melalui tiga kategori aktivitas yang berbeda sesuai dengan profil trading mereka:
Kompetisi Trading: Adu Profit untuk Tiket F1
Kompetisi ini menantang kemampuan strategi trader untuk memperebutkan peringkat teratas. Pemenang akan ditentukan berdasarkan dua kategori:
Ranking PnL Amount (Profit Nominal): Ditujukan bagi trader dengan volume besar. Tiga peserta dengan profit nominal tertinggi akan mendapatkan Race Day Ticket.
Ranking PnL % (Persentase Profit): Berfokus pada efisiensi modal dan strategi. Performa terbaik di kategori ini akan mendapatkan Qualifying Ticket.
Bonanza Mystery Box: Hadiah untuk Semua
Bagi pengguna yang tidak ingin berkompetisi secara intensif, section Bonanza menawarkan hadiah melalui penyelesaian tugas. Terdapat total 26 tugas yang mencakup aktivitas seperti deposit pertama (FTD), perdagangan pertama (FTT), penggunaan bot trading, aktivitas P2P, hingga pencapaian target volume trading tertentu. Semakin banyak tugas yang diselesaikan, semakin besar peluang untuk mendapatkan Mystery Box Rewards.
Deposit & VIP Referral: Jalur High-Roller
Section ini dirancang khusus bagi pengguna yang ingin memaksimalkan aset mereka atau mengincar status VIP:
APR Boost Bonus: Pengguna yang melakukan deposit minimal $5,000 atau $10,000 akan mendapatkan bonus peningkatan APR untuk aset yang mereka simpan.
VIP Referral: Dengan mengajak rekan untuk melakukan deposit minimal $50,000, pengguna berkesempatan mendapatkan akses VIP Trial, peningkatan APR, hingga peluang memenangkan tiket F1 jika berhasil mencapai status VIP sesungguhnya.
Cara Mengikuti Kampanye
Bagi masyarakat yang tertarik untuk bergabung, langkah-langkah pendaftaran cukup sederhana:
Pilih section kampanye yang diinginkan untuk mulai mengejar hadiah.
Jangan lewatkan kesempatan langka untuk merasakan sensasi kecepatan di lintasan balap bersama OKX!
Bagaimana pendapat Anda tentang kampanye OKX SEA Race to Paddock ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Chairman BitMine Immersion Technologies, Tom Lee, menyampaikan bahwa kerugian belum terealisasi pada kepemilikan Ethereum (ETH) perusahaan saat pasar turun merupakan “fitur, bukan kekurangan,” sambil menekankan model treasury perusahaan yang berfokus pada Ethereum.
Pernyataannya muncul ketika kerugian di atas kertas treasury ETH terbesar dunia tersebut melonjak menjadi lebih dari US$6 miliar di tengah penurunan pasar secara luas yang telah mendorong harga aset kripto terbesar kedua ini ke posisi terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Kerugian Belum Direalisasi BitMine Melebihi US$6 Miliar
Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa Ethereum telah turun lebih dari 24% dalam sepekan terakhir. Ini menjadi penurunan mingguan terparah di antara 10 aset kripto teratas berdasarkan kapitalisasi pasar.
Pada hari Selasa, ETH sempat turun ke US$2.109 di Binance, level terendah sejak Mei 2025. Pada waktu publikasi, altcoin ini diperdagangkan di US$2.270, turun 3,06% dalam 24 jam terakhir.
Aksi jual yang tajam ini menambah tekanan pada treasury aset kripto, di mana holder besar menghadapi kerugian belum terealisasi yang signifikan di tengah melemahnya pasar secara keseluruhan.
Berdasarkan data CryptoQuant, BitMine saat ini menanggung kerugian di atas kertas sekitar US$6,4 miliar dari kepemilikan Ethereum mereka.
Kerugian Belum Terealisasi BitMine pada Kepemilikan ETH | Sumber: CryptoQuant
Beberapa pengkritik bahkan mengkhawatirkan bahwa kepemilikan besar seperti ini dapat membatasi pertumbuhan harga ETH di masa depan jika BitMine memilih untuk melakukan likuidasi. Namun, dalam sebuah postingan di X (dulu Twitter), Lee membantah kritik terhadap perusahaan treasury yang berfokus pada Ethereum, sembari menilai bahwa kerugian yang terjadi baru-baru ini justru mencerminkan kondisi pasar, bukan kelemahan struktural.
Ia menuturkan BitMine memang dirancang untuk mengikuti harga Ethereum dan bahkan berpotensi mengunggulinya sepanjang satu siklus pasar penuh. Sebab, ketika pasar aset kripto secara luas sedang lesu, penurunan ETH juga secara alami menghasilkan kerugian di atas kertas.
“BMNR akan mengalami kerugian ‘belum terealisasi’ pada kepemilikan ETH kami saat masa-masa seperti ini: ini adalah fitur, bukan kekurangan. haruskah kita juga menyoroti seluruh ETF indeks karena kerugian mereka? Intinya: ethereum adalah masa depan keuangan,” ujar Lee .
Pernyataan terbaru ini muncul usai chairman BitMine mengisyaratkan bahwa volatilitas terkini di Bitcoin dan Ethereum kemungkinan bersifat sementara. Ini menggambarkan keyakinan sang eksekutif terhadap Ethereum, yang juga diperkuat lewat aksi pembelian ETH oleh BitMine secara berkelanjutan.
Berdasarkan CoinGecko, perusahaan sudah membeli lebih dari 141.000 ETH dalam sebulan terakhir, sehingga total kepemilikannya mencapai 4.285.125 ETH. Perusahaan bukan satu-satunya yang menambah aset ETH.
Data on-chain menunjukkan adanya akumulasi Ethereum aktif oleh investor. Lookonchain mendeteksi tiga wallet yang sebelumnya tidak aktif—kemungkinan saling terkait—membelanjakan US$13,1 juta untuk membeli 5.970 ETH di harga rata-rata US$2.195 selama penurunan baru-baru ini. Dalam transaksi terpisah, satu OTC whale membeli 33.000 ETH senilai US$76,6 juta.
Trend Research Hadapi Kerugian US$562 Juta di Tengah Deleveraging
Meski akumulasi terus berlangsung, tekanan jual juga meningkat di sisi lain pasar. Trend Research yang dipimpin Jack Yi, secara konsisten mengalihkan ETH ke exchange.
Berdasarkan OnChain Lens, perusahaan tersebut hari ini menyetor 15.000 ETH bernilai US$33,08 juta ke Binance. Secara total, Trend Research telah memindahkan 153.588 ETH ke exchange.
Aksi jual ini terjadi di saat posisi perusahaan masih mencatatkan kerugian di atas kertas yang signifikan, menambah tekanan di tengah volatilitas pasar yang terus terjadi. Jika penurunan harga Ethereum terus berlanjut, likuidasi sangat mungkin terjadi, dengan estimasi Trend Research titik likuidasi sekitar US$1.800 per ETH.
HE’S DOWN $500M .. BUT STILL LONG $1B OF ETH
Jack Yi’s Trend Research is long over $1 Billion of ETH through levered AAVE positions – and as of today they are down $562M on-chain.
Trend Research has deposited $367.8M of ETH into Binance since the start of the month, to try and… pic.twitter.com/ky9ZFseAHT
Michael Burry, investor yang memprediksi krisis keuangan 2008, memperingatkan pada Senin bahwa penurunan tajam Bitcoin berpotensi memicu gelombang aksi jual paksa lintas kelas aset.
Dengan Bitcoin yang drop sekitar 40% dari puncak Oktober dan altcoin amblas 20–40% sejak pertemuan FOMC Januari, pertanyaan besar yang kini mendominasi pasar kripto adalah apakah crypto winter penuh telah dimulai.
Michael Burry Wanti-wanti BTC Bisa Drop ke US$50.000
Dalam sebuah postingan Substack, investor “Big Short” ini memperkirakan hingga US$1 miliar logam mulia terlikuidasi di akhir Januari seiring investor institusi dan bendahara perusahaan buru-buru menutup kerugian aset kripto.
“Tidak ada alasan penggunaan organik bagi Bitcoin untuk memperlambat atau menghentikan penurunan harga,” tulis Burry. Ia memperingatkan jika BTC turun ke US$50.000, perusahaan mining bisa menghadapi kebangkrutan serta pasar Futures logam yang sudah ditokenisasi dapat “ambruk ke dalam lubang hitam tanpa pembeli.”
Bitcoin sempat menyentuh US$73.000 pada hari Selasa, menandai penurunan 40% dari puncaknya di atas US$126.000 pada bulan Oktober. Burry berpendapat bahwa aset kripto ini gagal memenuhi janji sebagai safe haven digital dan alternatif emas, lalu menganggap kenaikan harga baru-baru ini akibat ETF hanya sebatas spekulasi, bukan tanda adopsi jangka panjang.
Strategy dan BitMine: Retaknya Model Crypto Treasury
Peringatan efek domino dari Burry ini didukung bukti nyata dari derita perusahaan crypto treasury. Strategy, perusahaan akumulasi Bitcoin yang dipimpin oleh Michael Saylor, kini mencatat kerugian di atas kertas setelah BTC jatuh di bawah harga beli rata-rata sekitar US$76.000. Perusahaan ini menanggung kerugian belum terealisasi sebesar US$17,44 miliar hanya di kuartal keempat saja.
Kapitalisasi pasar Strategy anjlok dari US$128 miliar di bulan Juli menjadi US$40 miliar, atau turun 61% dari puncak Bitcoin bulan Oktober. mNAV perusahaan—nilai perusahaan dibagi dengan nilai aset kriptonya—turun dari di atas 2 pada setahun lalu kini menjadi 1,1, mendekati batas kritis yang bisa memaksa mereka menjual token.
Strategy telah mengangkat kemungkinan menjual kepemilikan jika mNAV di bawah satu, menandai pergeseran dari prinsip “tidak akan menjual” yang lama dipegang Saylor. Perusahaan ini mengumpulkan dana US$1,44 miliar lewat penjualan saham agar bisa memenuhi pembayaran dividen dan utang ke depan.
BitMine Immersion Technologies, yang didukung Peter Thiel dan diketuai Tom Lee dari Fundstrat, mengalami kerugian yang lebih tajam. Perusahaan akumulasi Ethereum ini memegang 4,3 juta ETH yang dibeli dengan harga rata-rata US$3.826, kini hanya bernilai sekitar US$2.300 per koin—mewakili kerugian belum terealisasi lebih dari US$6 miliar.
Para analis memperingatkan perusahaan crypto-treasury terjebak dalam narasi yang mereka ciptakan sendiri. Penjualan aset—sebesar apapun jumlahnya—akan memberi sinyal buruk yang dapat menjatuhkan harga saham perusahaan maupun harga token dasarnya, jauh melebihi dampak positif dari hasil penjualan itu sendiri.
Analis Jepang Hiroyuki Kato dari CXR Engineering memperingatkan bahwa pasar kripto mungkin telah masuk tren turun jangka panjang. Bitcoin menembus level terendah November, menandakan perubahan strategi dari buy the dip ke short selling.
Pelemahan Ethereum di bawah support penting 400.000 yen (US$2.600) mempercepat penurunannya, di mana hampir semua altcoin sudah anjlok 20-40% sejak FOMC Januari. Kato menyebut grafik mingguan membentuk pola head and shoulders yang mendekati neckline—jika jebol, peluang pemulihan jangka pendek semakin sulit secara struktur.
“Volatilitas tinggi di aset kripto dan logam mulia, mendahului pasar saham yang lebih luas, bisa menjadi pertanda bahaya,” tulis Kato, menyarankan langkah risk-off hingga kondisinya stabil kembali.
Meski sinyal bearish bermunculan, Tiger Research berpendapat crash kali ini secara fundamental berbeda dengan crypto winter sebelumnya. Crypto winter terdahulu—keruntuhan Mt. Gox di 2014, kegagalan ICO tahun 2018, kolaps Terra-FTX 2022—bersumber dari kegagalan di dalam industri yang menghancurkan kepercayaan serta menyebabkan para talenta hengkang.
“Kita tidak menciptakan musim semi, jadi musim dingin pun nihil,” terang laporan itu. Baik reli 2024 maupun penurunan pasar saat ini dipicu faktor eksternal: persetujuan ETF, kebijakan tarif, hingga ekspektasi suku bunga.
Lebih penting lagi, pasar kini terpecah jadi tiga lapisan pasca regulasi: zona teregulasi dengan volatilitas terbatas, zona tidak teregulasi untuk spekulasi berisiko tinggi, serta infrastruktur bersama seperti stablecoin yang melayani keduanya. Efek trickle-down—di mana semua token ikut naik saat Bitcoin menguat—kini sudah hilang. Modal ETF pun hanya berputar di Bitcoin tanpa mengalir ke altcoin.
“Musim kripto di mana semuanya naik bersama kemungkinan tidak akan terjadi lagi,” simpul Tiger Research. “Bull run berikutnya pasti akan datang. Namun, bukan untuk semua pihak.”
Agar bull run itu terwujud, dua syarat harus terpenuhi: use case hebat muncul dari zona tidak teregulasi serta lingkungan ekonomi makro yang mendukung. Sampai itu terjadi, pasar tetap dalam kondisi belum pernah terjadi sebelumnya—bukan winter maupun spring, melainkan sesuatu yang benar-benar baru.
Bagaimana pendapat Anda tentang debat soal apakah pasar saat ini crypto winter atau awal dari paradigma baru? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Strategy (dulu bernama MicroStrategy) akan melaporkan pendapatan Q4 2025 setelah penutupan pasar pada 5 Februari, sehingga perjuangan Bitcoin untuk bertahan di level US$76.000 kini lebih dari sekadar pertarungan teknis.
Harga Bitcoin sekarang secara langsung membentuk narasi pendapatan perusahaan, sentimen investor, serta kredibilitas dari model treasury Bitcoin yang menggunakan leverage.
Support Teknikal Bitcoin di US$76.000 dan Konsekuensi Neraca untuk Strategi
Pada waktu publikasi tanggal 4 Februari, Bitcoin diperdagangkan di US$76.645 setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah intraday di US$72.945 pada sesi sebelumnya.
Performa Harga Bitcoin (BTC) | Sumber: TradingView
Pergerakan ini membuat posisi Bitcoin mendekati rata-rata akuisisi Strategy di US$76.052 dari total kepemilikan 713.502 BTC mereka. Kini, level US$76.000 bukan lagi sekadar level di grafik, melainkan titik balik di neraca keuangan.
Garis Breakeven dengan Implikasi terhadap Laba
Berdasarkan aturan akuntansi fair-value yang diadopsi pada 2025, Strategy wajib menyesuaikan nilai Bitcoin mereka ke harga pasar setiap kuartal, sehingga keuntungan dan kerugian yang belum terealisasi langsung tercermin dalam pendapatan.
Meskipun hasil Q4 akan mencerminkan harga Bitcoin yang lebih tinggi di bulan Desember—saat BTC diperdagangkan di atas US$80.000 selama sebagian besar kuartal—kelemahan harga yang berlanjut hingga mendekati laporan keuangan berisiko mendominasi perbincangan investor.
The Q4 Earnings Call will be livestreamed across platforms, including X, YouTube, and Zoom.https://t.co/ipfvNuup4e
Pada level saat ini, posisi Bitcoin Strategy secara garis besar berada di titik impas. Namun, jika penurunan di bawah US$76.000 terjadi secara berkelanjutan, treasury perusahaan akan mencatat kerugian yang belum terealisasi. Ketika Bitcoin sempat bergerak mendekati US$74.500 baru-baru ini, Strategy menghadapi kerugian di atas kertas yang mendekati US$1 miliar.
Meski kerugian tersebut tidak secara langsung mengubah angka Q4, sentimen pasar tetap terpengaruh menjelang panggilan pendapatan dan komentar dari Michael Saylor.
Beli di Harga Tinggi Lagi dan Masalah Optik
Situasi makin rumit karena strategi pembelian terbaru yang dilakukan Strategy. Pada akhir Januari dan awal Februari, mereka membeli Bitcoin di harga yang jauh lebih tinggi daripada harga pasar saat ini.
Strategy has acquired 855 BTC for ~$75.3 million at ~$87,974 per bitcoin. As of 2/1/2026, we hodl 713,502 $BTC acquired for ~$54.26 billion at ~$76,052 per bitcoin. $MSTR$STRChttps://t.co/x4BXtpl6UD
Pembelian pada awal Januari bahkan terjadi di harga rata-rata yang lebih tinggi lagi, termasuk satu tranche di kisaran US$90.000 dan lainnya di atas US$95.000.
Pola seperti ini bukan hal baru. Strategy memang cenderung meningkatkan pembelian saat reli besar, dengan dana yang berasal dari penerbitan saham serta obligasi konversi tanpa kupon.
Strategi ini memang menguntungkan dalam siklus penuh, namun berulang kali membuat perusahaan terpapar penurunan harga tajam dalam jangka pendek dan memicu kritik bahwa Strategy sering “membeli di puncak” sebelum koreksi harga.
Gema Dari 2021–2022
Episode kali ini dibandingkan dengan aksi beli agresif Strategy pada 2021, ketika perusahaan mengakumulasi puluhan ribu Bitcoin di dekat puncak siklus. Ketika Bitcoin anjlok lebih dari 70% di 2022, Strategy mencatat kerugian belum terealisasi hingga miliaran dan saham mereka jatuh lebih dari 80%.
Michael Saylor just disclosed that MicroStrategy purchased another 480 #Bitcoin's for ~$10M in cash, or $20,817 per coin, between May 3 and Tuesday. How is he doing? Bad. He has lost on paper almost $1.38B or 34.8%.🤷♂️ pic.twitter.com/0SswIvvxZr
Meskipun perusahaan berhasil bertahan tanpa harus melakukan penjualan paksa—dan akhirnya sangat diuntungkan dari reli besar di 2024–2025—peristiwa itu menyoroti risiko volatilitas dan dilusi yang menyertai strategi mereka.
“MicroStrategy memiliki Bitcoin terbanyak dibanding semua perusahaan publik. Baru saja membukukan kerugian US$299 juta akibat crypto crash. Beginilah resikonya kalau berinvestasi pada aset yang sangat volatil & tidak punya fundamental. Sedikit saja kabar bisa bikin kerugian BESAR,” komentar profesor ekonomi Steve Hanke.
Catatan sejarah ini kembali muncul saat Bitcoin diperdagangkan sekitar 42% di bawah rekor puncak Oktober 2025 di US$126.000, menghapus kapitalisasi pasar lebih dari US$1 triliun dalam empat bulan terakhir.
Cramer Semakin Panas
Memperkeruh perdebatan, Jim Cramer secara terbuka mendesak Saylor untuk turun tangan lagi, menyebut US$73.802 sebagai “garis pertahanan paling akhir” bagi Bitcoin. Dengan itu, ia mendesak Strategy untuk menerbitkan obligasi konversi tanpa kupon atau melakukan penawaran sekunder guna menghentikan penurunan harga sebelum laporan keuangan.
“Pendapatan Strategy sangat tergantung pada hal itu,” tulis Cramer, sekaligus mempertanyakan topik yang bisa dibahas Saylor di panggilan pendapatan kalau Bitcoin tidak segera pulih.
Cramer kembali menegaskan sikapnya beberapa jam kemudian, menggambarkan Strategy sebagai benteng harga Bitcoin, meski hal ini bertentangan dengan penolakan Saylor secara konsisten untuk mengelola harga jangka pendek.
Kritik yang Meningkat dan Kekhawatiran Sistemik
Tekanan bukan hanya datang dari Cramer saja. Komentator seperti Bull Theory sudah menggambarkan penurunan harga ini sebagai bukti bahwa mungkin ada sesuatu yang rusak secara fundamental di aset kripto, sementara yang lain mengambil sikap jauh lebih keras.
Skeptis lama Michael Burry telah memperingatkan bahwa penurunan Bitcoin yang berkepanjangan bisa menghapus perusahaan yang memiliki cadangan BTC besar. Analis ini berargumen bahwa Bitcoin gagal berperan sebagai aset safe haven dan bisa memicu kesulitan lebih luas di perusahaan secara umum.
BITCOIN SLIDE COULD WIPE OUT COMPANIES
Michael Burry warned that Bitcoin’s ongoing decline could destroy significant value, especially for companies holding large BTC reserves. He said Bitcoin has failed as a safe haven like gold and could push aggressive corporate holders into…
Pihak yang mengkritik lebih ekstrem bahkan melangkah lebih jauh, menyebut pendekatan Strategy tidak kokoh secara struktural. Mereka memperingatkan bahwa leverage dan dilusi bisa saja akhirnya membebani model ini jika pelemahan berlangsung lama.
Mengapa US$76.000 Masih Penting
Meskipun banyak suara miring, fokus langsung saat ini tetap jelas. Jika bertahan di atas US$76.000, Strategy bisa menunjukkan kinerja keuangannya berkat ketahanan, keyakinan jangka panjang, dan akumulasi disiplin saat menghadapi volatilitas.
“Volatilitas adalah hadiah Satoshi bagi yang setia,” seloroh Saylor .
Jika terjadi breakdown di bawah level tersebut, narasi bisa berubah drastis ke arah:
Kerugian yang belum terealisasi
Dilusi akibat penggalangan dana sebelumnya, dan
Pertanyaan tentang apakah Strategy masih punya fleksibilitas keuangan untuk terus melakukan akumulasi tanpa merusak nilai bagi pemegang saham.
Saat MSTR diperdagangkan sebagai proksi Bitcoin ber-beta tinggi dan laporan keuangan tinggal hitungan jam, pasar memantau dengan saksama.
Apakah Bitcoin bisa stabil atau justru turun lebih jauh, mungkin tidak akan mengubah tesis jangka panjang milik Strategy, tapi situasi ini sangat mungkin mengubah bagaimana tesis tersebut dinilai pekan ini.
PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) menyatakan dukungan penuh atas langkah strategis anak usahanya, Bursa Kripto PT Central Finansial X (CFX), dalam menyesuaikan struktur biaya transaksi. Kebijakan ini dinilai selaras dengan visi jangka panjang Perseroan untuk memperbesar pangsa pasar industri kripto nasional melalui peningkatan volume transaksi dan pendalaman likuiditas.
COIN menilai, struktur biaya yang lebih kompetitif menjadi faktor kunci untuk menarik kembali minat konsumen domestik agar bertransaksi di dalam negeri. Upaya ini juga dipandang krusial dalam rangka memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan industri aset kripto global yang kian ketat.
Tekanan Biaya Transaksi dan Ancaman Capital Outflow
Merujuk riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), tantangan utama industri aset kripto domestik saat ini terletak pada penciptaan likuiditas yang dalam serta biaya transaksi yang kompetitif. Studi tersebut menyoroti tingginya sensitivitas pengguna terhadap biaya, di mana sekitar 54,5% pengguna platform menyatakan akan berpindah exchange bila biaya transaksi dianggap terlalu mahal.
Temuan ini mengindikasikan potensi capital outflow (arus keluar modal) yang signifikan, sekaligus menunjukkan masih adanya ruang besar untuk mengoptimalkan daya saing industri aset kripto nasional. Dalam konteks tersebut, langkah penyesuaian biaya transaksi dinilai sebagai strategi penting untuk menahan arus perpindahan pengguna ke platform offshore.
Penurunan Biaya Transaksi CFX sebagai Strategi Jangka Panjang
Sebagai respons konkret, CFX selaku bursa aset kripto berizin di Indonesia akan memotong biaya transaksi bursa dari 0,04% menjadi 0,02% mulai 1 Maret 2026, kemudian kembali dipangkas menjadi 0,01% per 1 Oktober 2026. Kebijakan ini diumumkan oleh Direktur Utama Bursa Kripto CFX dalam forum CFX Cryptalk bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) di CFX Tower, Senin (2/2/2026).
Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk, Ade Wahyu, menyatakan bahwa penyesuaian struktur biaya secara terukur merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan industri kripto dalam jangka panjang.
“Bursa Kripto CFX selaku perusahaan anak dari COIN senantiasa mengikuti dinamika pasar. Saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengeksekusi rencana tersebut guna meningkatkan daya saing industri aset kripto nasional di kancah global. Biaya yang lebih kompetitif akan menarik kembali konsumen lokal untuk bertransaksi di dalam negeri dan pada akhirnya memperbesar pangsa pasar,” ucap Ade.
Ia menambahkan, pemangkasan biaya transaksi berpotensi menciptakan multiplier effect positif. Ketika ekosistem menjadi lebih efisien dan menarik, frekuensi serta volume transaksi diproyeksikan meningkat dan pada akhirnya mengompensasi penyesuaian biaya tersebut.
Fokus Inovasi Produk Guna Perluas Sumber Pendapatan
Seiring dengan strategi efisiensi biaya, COIN juga terus mendorong pengembangan inovasi produk sebagai bagian dari diversifikasi sumber pendapatan. Ade menyebutkan, CFX akan fokus mengembangkan produk derivatif kripto guna meningkatkan volume transaksi dan memperdalam likuiditas pasar.
Tak berhenti sampai di situ, Perseroan juga melihat potensi besar pada produk-produk aset kripto baru yang berpeluang menjadi gelombang inovasi berikutnya di industri. Menurut Ade, kehadiran inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong partisipasi investor lokal maupun asing, baik ritel maupun institusi, secara lebih masif.
“COIN dan seluruh anak perusahaan selalu terbuka untuk meluncurkan dan mendorong inovasi produk serta layanan baru. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk mendongkrak kinerja perusahaan, tetapi juga untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat perdagangan aset kripto di kawasan Asia Tenggara,” tutur Ade.
Bagaimana pendapat Anda tentang COIN dan Bursa Kripto CFX yang pangkas biaya transaksi? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Bursa kripto CFX menggarisbawahi perlunya penguatan daya saing industri aset kripto Indonesia di tengah ketatnya persaingan global. Upaya ini dinilai penting guna mendongkrak partisipasi konsumen domestik sekaligus memperkuat kontribusi industri kripto atas perekonomian nasional.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi CFX Cryptalk yang digelar di CFX Tower, Jakarta, Senin (2/2). Forum ini menjadi wadah dialog antara regulator, bursa, dan pelaku industri. Tujuannya tak lain membahas tantangan struktural pasar kripto nasional serta merumuskan solusi agar ekosistem domestik semakin atraktif bagi investor lokal.
Biaya Transaksi dan Tantangan Daya Saing Pasar Kripto Indonesia
CFX menyoroti struktur biaya transaksi yang dinilai belum kompetitif sebagai salah satu faktor utama yang mendorong konsumen Indonesia hijrah ke platform offshore tidak berizin. Konsumen domestik yang sensitif akan biaya cenderung mencari alternatif dengan ongkos transaksi lebih rendah, walaupun tanpa proteksi regulasi.
Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat, volume perdagangan konsumen Indonesia di platform offshore tidak berizin mencapai 2,6 kali lipat ketimbang volume transaksi di platform berizin di dalam negeri. Temuan ini menguak masih adanya ruang besar untuk mengoptimalkan daya saing industri aset kripto nasional.
Dalam diskusi tersebut, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Djoko Kurnijanto, menekankan bahwa regulasi dan pengawasan yang kuat dapat menjadi fondasi penting bagi daya saing industri kripto Indonesia di tingkat global.
“Aspek regulasi dan pengawasan oleh otoritas, serta dukungan ekosistem perdagangan aset keuangan digital yang telah terbentuk, dapat menjadi pondasi penting dalam meningkatkan daya saing sektor aset keuangan digital Indonesia di tingkat global,” tutur Djoko.
Pemotongan Biaya Jadi Strategi untuk Tarik Kembali Konsumen Lokal
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, menyebut ketimpangan biaya transaksi antara platform berizin di Indonesia dan platform offshore tidak berizin telah memicu capital outflow yang substansial. Menurutnya, tanpa struktur biaya yang lebih kompetitif, konsumen lokal akan terus melirik pasar luar negeri.
“Saat ini masih ada ketimpangan biaya transaksi yang cukup terasa antara platform dalam negeri dan global. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif,” terang Subani.
Sebagai langkah konkret, CFX mengumumkan pemangkasan biaya transaksi bursa secara bertahap. Biaya yang saat ini berada di level 0,04% per transaksi akan diturunkan menjadi 0,02% mulai 1 Maret 2026, lalu kembali dipangkas menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026.
Subani menilai kebijakan ini tidak hanya bertujuan memperluas pangsa pasar domestik, tetapi juga mendorong konsumen Indonesia kembali bertransaksi di platform berizin. Dampaknya diharapkan dapat dirasakan secara luas lewat peningkatan aktivitas pasar, likuiditas, serta kontribusi terhadap perekonomian nasional, termasuk pendapatan pajak.
Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Robby, menyambut positif langkah tersebut. Ia menilai biaya transaksi yang lebih kompetitif akan mendorong konsumen lebih aktif bertransaksi di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada platform offshore tidak berizin.
Ke depan, CFX berharap Cryptalk dapat terus digelar sebagai forum berkelanjutan untuk mempertemukan regulator dan pelaku industri. Forum ini diharapkan mampu merumuskan arah penguatan industri aset kripto nasional secara komprehensif, sekaligus membangun ekosistem perdagangan yang efisien, likuid, berintegritas, dan semakin menarik bagi investor global.
Bagaimana pendapat Anda tentang langkah bursa kripto CFX dalam potong biaya transaksi di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, mengajak jaringan layer-2 untuk memikirkan ulang strategi mereka. Ia menyoroti penurunan besar pengguna L2—dari 58,4 juta menjadi sekitar 30 juta—padahal jaringan utama Ethereum justru lebih dari dua kali lipatkan jumlah alamat aktifnya.
Perubahan ini terjadi ketika jaringan utama Ethereum menunjukkan kekuatan yang tidak terduga. Biaya transaksi berada di level terendah sepanjang masa, dan para ahli memperkirakan batas gas akan naik hingga tahun 2026. Akibatnya, layer dasar Ethereum sekarang bisa menangani jauh lebih banyak transaksi secara mandiri.
Tujuan Awal Layer-2 Mulai Memudar
Dalam sebuah posting mendetail, Buterin menerangkan bahwa visi awal layer-2 sudah usang. Awalnya, L2 diproyeksikan sebagai “shard bermerk” yang memperkuat Ethereum karena jaringan utama dianggap terbatas skalanya. Tapi kini, layer-1 Ethereum memproses transaksi dengan biaya sangat minim. Selain itu, rencana kenaikan batas gas akan terus menaikkan kapasitasnya. Sementara itu, proyek layer-2 juga berjuang untuk mencapai tingkat keamanan tertinggi, dan target rollup tahap 2 terbukti sulit diraih.
Data dari TokenTerminal menunjukkan jumlah alamat layer-2 bulanan turun dari 58,4 juta pada pertengahan 2025 menjadi sekitar 30 juta di Februari 2026. Pada periode yang sama, jaringan utama Ethereum justru mendapatkan lebih banyak pengguna—alamat aktif melonjak dari 7 juta menjadi 15 juta, naik 41,4%. Perubahan tajam ini menandakan pengguna kembali ke layer dasar saat biaya transaksi turun.
Buterin juga memaparkan bahwa beberapa operator layer-2 mengakui mereka mungkin tidak pernah mengejar status rollup tahap 2. Sebaliknya, mereka memilih fokus memenuhi kebutuhan regulasi yang mengharuskan kontrol penuh atas jaringan mereka. Cara ini berbeda dari prinsip permissionless dan trustless yang jadi inti Ethereum.
Pasar Menyesuaikan Diri dengan Ketidakpastian
Pasar menanggapi krisis identitas ini dengan skeptis. Token layer-2 teratas turun 15% hingga 30% pada Januari 2026, menurut data CoinGecko. Total kapitalisasi pasar sektor ini kini tercatat US$7,95 miliar per 4 Februari 2026, menandakan masih lemahnya performa L2.
Token utama seperti Arbitrum (US$0,13211), ZKsync (US$0,02327), dan Optimism (US$0,2192) juga menunjukkan performa yang beragam. Meski begitu, angka-angka ini menyembunyikan masalah yang lebih dalam. Seiring kemudahan akses layer-1 Ethereum bertambah, banyak pengguna memilih keamanannya yang unggul. Kebutuhan jaringan layer-2 sebagai penghemat biaya semakin luntur, mendorong tim L2 untuk berpikir ulang soal peran fundamental mereka dalam ekosistem.
Perubahan perilaku pengguna semakin jelas: ketika biaya transaksi turun, pengguna beralih ke chain utama. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan sebelumnya bahwa layer-2 akan mendominasi transaksi harian. Keamanan dan kemudahan pada layer-1 semakin dihargai saat hambatan makin berkurang.
Roadmap Vitalik Buterin untuk Layer-2
Rekomendasi Buterin untuk jaringan layer-2 menekankan pentingnya menemukan nilai tambah baru selain sekadar skalabilitas. Ia menyorot potensi seperti virtual machine fokus privasi, use case spesifik untuk satu aplikasi, atau pendekatan baru untuk platform non-keuangan seperti jejaring sosial dan sistem identitas.
“Apa yang akan saya lakukan hari ini jika saya sebuah L2? Temukan nilai tambah selain ‘scaling’. Contohnya: fitur/VM non-EVM yang fokus pada privasi, efisiensi yang benar-benar dioptimalkan untuk satu aplikasi, tingkat skalabilitas yang sangat ekstrim sehingga bahkan L1 yang sangat berkembang sekalipun tidak sanggup, desain yang benar-benar berbeda untuk aplikasi non-keuangan, misalnya sosial, identitas, AI.”
Buterin menegaskan, layer-2 yang mengelola ETH atau aset berbasis Ethereum harus minimal mencapai keamanan tahap 1. Tanpa standar ini, jaringan mereka hanya menjadi blockchain terpisah dengan jembatan, dan kehilangan fungsinya sebagai ekstensi Ethereum. Ia juga mendukung interoperabilitas kuat, walau detailnya bergantung pada struktur jaringan masing-masing.
Menurut Buterin, native rollup precompile adalah infrastruktur penting. Alat ini memungkinkan Ethereum memverifikasi proof ZK-EVM secara langsung, ikut perkembangan protokol, serta perlindungan dari hard fork. Ini dapat memberi kebebasan pengembangan solusi custom bagi layer-2, sambil mempertahankan verifikasi aman dari Ethereum.
Visi fleksibel ini membuka berbagai model layer-2. Jaringan dengan ekstensi EVM bisa menggunakan precompile untuk transaksi standar sekaligus membuat proof khusus untuk fitur tambahan. Modularitas seperti ini mendukung interaksi trustless dengan Ethereum namun tetap ada ruang untuk kontrol terpusat. Buterin tuturkan, hal ini merupakan bagian dari pilihan pengembang di sistem permissionless.
Seiring pertumbuhan layer dasar Ethereum hingga 2026, jaringan layer-2 menghadapi ujian menentukan. Data membuktikan pengguna memilih keamanan mainnet saat tersedia. Jaringan layer-2 mesti menawarkan alasan menarik agar pengguna ikut serta—bukan hanya karena biaya lebih rendah. Jawabannya mungkin ada pada alat privasi canggih, virtual machine baru, atau aplikasi spesifik. Pilihan yang diambil layer-2 akan membentuk peta masa depan ekosistem Ethereum.
XRP Ledger (XRPL) akan mengaktifkan Permissioned Domains pada 4 Februari 2026, setelah lebih dari 91% validator mendukung amandemen XLS-80.
Pencapaian ini hadir di tengah masa sulit untuk XRP, yang mengalami penurunan dua digit selama seminggu terakhir di tengah tren penurunan pasar secara umum. Dengan jaringan yang sedang mempersiapkan upgrade infrastruktur besar, pertanyaan utama kini adalah apakah peluncuran Permissioned Domains bisa berdampak signifikan pada pergerakan harga XRP.
Apa Itu Domain Permissioned di XRPL?
Proposal XLS-80 memperkenalkan Permissioned Domains. Domain ini adalah lingkungan yang dikelola di dalam XRPL, di mana akses dan aktivitas pengguna diatur berdasarkan kredensial berbasis aturan.
Bukan membuat blockchain pribadi, domain-domain ini berfungsi sebagai lapisan akses berbasis kredensial di XRPL publik, sehingga partisipasi tetap terkontrol sambil memanfaatkan infrastruktur shared ledger.
“Pendekatan ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara manfaat transparansi dan keamanan dari teknologi blockchain terdesentralisasi serta kebutuhan regulasi institusi keuangan tradisional,” terang proposal tersebut.
Dibangun di atas kerangka kerja XLS-70 Credentials, Permissioned Domains memungkinkan kontrol akses berbasis kredensial. Pemilik domain menentukan aturan dengan menetapkan daftar kredensial yang diterima.
Akun dengan kredensial yang diterima akan otomatis menjadi anggota, tanpa perlu langkah tambahan untuk bergabung. Proposal ini memperkenalkan beberapa komponen teknis baru, seperti objek ledger PermissionedDomain dan transaksi manajemen PermissionedDomainSet serta PermissionedDomainDelete.
Menurut dokumentasi proposal, amandemen ini bersifat fundamental. Fitur ini tidak langsung memberi fungsi ke pengguna akhir, namun memungkinkan amandemen dan fitur di masa depan seperti decentralized exchange izin atau aplikasi regulasi lainnya, dibangun di atasnya.
Pertimbangan keamanan dijelaskan secara eksplisit dalam proposal. Model ini bergantung pada kepercayaan kepada penerbit kredensial dan pemilik domain, dan mengakui risikonya seperti kredensial yang dibobol atau potensi penyalahgunaan permissioned domains untuk aktivitas ilegal, yang harus diminimalkan di tingkat aplikasi dan tata kelola.
XLS-80 melewati ambang batas suara supermajority validator lebih dari 80% pada akhir Januari, sesuai proses amandemen XRP Ledger. Amandemen ini memasuki window aktivasi dua minggu, dan dijadwalkan aktif pada 4 Februari.
Permissioned Domains menjawab tantangan utama untuk institusi keuangan: memenuhi standar regulasi sambil tetap mendapat manfaat dari blockchain. Sebelumnya, institusi membutuhkan solusi yang terpisah dan terisolasi. Tapi sekarang, mereka bisa menggunakan jaringan XRPL dalam zona yang patuh regulasi.
“Ini berarti perusahaan keuangan besar kini bisa memakai jaringan XRP yang cepat dan murah untuk nasabah mereka, sambil tetap mengikuti aturan ketat terkait siapa yang diizinkan berpartisipasi – tanpa harus membangun blockchain terpisah seluruhnya. Ibaratnya, menambahkan ‘ruang VIP dengan pemeriksaan keamanan’ di jalan raya umum yang sudah ada. Apakah ini sinyal penting untuk pihak seperti Swift?” tulis seorang analis tersebut.
Permissioned domains are the last piece of the puzzle. When financial institutions are able to create controlled environments, XRP will be unlocked. 04 Feb 2026 at 09:57:51 UTC
XRP telah turun 16% selama tujuh hari terakhir, di tengah koreksi pasar yang lebih luas. Pada waktu publikasi, XRP diperdagangkan di harga US$1,59, turun 0,62% dalam 24 jam terakhir.
Meski upgrade ini tergolong penting, Permissioned Domains sepertinya tidak akan langsung menjadi katalis harga XRP dalam waktu dekat. Amandemen XLS-80 tidak mengubah suplai, struktur biaya, ataupun dinamika permintaan XRP.
Manfaat bagi XRP mungkin akan bersifat tidak langsung. Permissioned Domains membuat institusi yang terregulasi lebih mudah membangun di atas XRPL. Jika hal ini mendatangkan adopsi nyata, seperti decentralized exchange izin atau platform aset tokenisasi, maka aktivitas on-chain dapat meningkat.
Dalam skenario tersebut, XRP bisa mendapat manfaat dari tingginya penggunaan jaringan, karena tetap menjadi aset native yang dipakai untuk biaya transaksi dan penyelesaian. Untuk saat ini, Permissioned Domains lebih tepat dipandang sebagai upgrade infrastruktur jangka panjang dibandingkan dorongan instan untuk membalikkan tren harga XRP saat ini.
Ujian sebenarnya adalah apakah institusi benar-benar menjalankan implementasi langsung yang bisa mendorong pertumbuhan aktivitas on-chain secara berkelanjutan.
Jaksa Prancis menggerebek markas X di Paris pada hari Selasa sebagai bagian dari penyelidikan yang semakin meluas terkait dugaan penyebaran gambar pelecehan seksual anak, deepfake yang dihasilkan AI, dan penyangkalan Holocaust di platform tersebut.
Penggerebekan yang didukung oleh Europol ini menandai peningkatan besar dalam upaya regulator Eropa menindak imperium media sosial Elon Musk. Jaksa telah memanggil Musk dan mantan CEO Linda Yaccarino untuk “wawancara sukarela” yang dijadwalkan pada 20 April.
Lingkup Investigasi
Unit kejahatan siber jaksa Paris membuka penyelidikan awal pada Januari 2025, awalnya berfokus pada tuduhan bahwa algoritma bias di X telah memanipulasi sistem pemrosesan data otomatis. Penyelidikan ini berkembang secara signifikan setelah chatbot AI milik Musk bernama Grok menghasilkan konten yang diduga menyangkal Holocaust dan membuat deepfake seksual eksplisit.
Dugaan yang sedang diselidiki meliputi keterlibatan dalam memiliki dan menyebarkan gambar pelecehan seksual anak serta deepfake seksual eksplisit. Jaksa juga menyelidiki penyangkalan kejahatan terhadap kemanusiaan dan manipulasi sistem pemrosesan data otomatis sebagai bagian dari kelompok terorganisasi.
Kantor jaksa mengumumkan penggeledahan yang sedang berlangsung tersebut melalui X. Setelah itu, kantor tersebut menyatakan keluar dari platform tersebut dan mengajak pengikutnya untuk bergabung di layanan media sosial lain.
Grok di Pusat Kontroversi
Chatbot Grok yang dikembangkan oleh xAI memicu kemarahan global bulan lalu. “Spicy mode”-nya menghasilkan puluhan ribu gambar deepfake seksual tanpa persetujuan merespons permintaan pengguna.
Chatbot tersebut juga memposting konten penyangkalan Holocaust dalam bahasa Prancis. Bot itu mengklaim kamar gas di Auschwitz-Birkenau dirancang untuk “desinfeksi dengan Zyklon B melawan tifus” dan bukan untuk pembunuhan massal—narasi yang lama digunakan oleh para penyangkal Holocaust.
Walaupun Grok kemudian mengubah pernyataannya dan mengakui kesalahan itu, kerusakan telah terjadi. Malaysia dan Indonesia menjadi negara pertama yang secara penuh memblokir Grok, di mana Malaysia juga mengumumkan tindakan hukum terhadap X dan xAI.
X Membalas
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di platformnya sendiri, X mengecam penggerebekan tersebut sebagai “tindakan aparat penegak hukum yang abusif, dirancang hanya untuk mencapai tujuan politik yang tidak sah dan bukan untuk memajukan tujuan penegakan hukum yang sah berdasarkan administrasi keadilan yang adil dan tidak memihak.”
Perusahaan itu membantah seluruh tuduhan dan menggambarkan tindakan Prancis tersebut sebagai bentuk sensor bernuansa politik.
Durov Berikan Pendapat
Pendiri Telegram, Pavel Durov, yang juga menghadapi tuduhan serupa di Prancis setelah penangkapannya pada Agustus 2024, membela X dan menyerang otoritas Prancis.
“Polisi Prancis saat ini sedang menggerebek kantor X di Paris. Prancis adalah satu-satunya negara di dunia yang secara pidana menindak seluruh jejaring sosial yang memberi kebebasan dalam tingkatan tertentu (Telegram, X, TikTok…). Jangan salah: ini bukan negara bebas,” tulis Durov di X.
Pada komentar lanjutannya, ia menambahkan: “Mempolitisasi isu perlindungan anak untuk membenarkan sensor dan pengawasan massal adalah hal yang menjijikkan. Orang-orang ini tidak tahu batas.”
Reaksi Campuran
Karakterisasi Durov tersebut menuai dukungan sekaligus kritik di dunia maya. Beberapa pengguna mengamini pandangannya, salah satunya menyebut kebijakan Prancis adalah “starter pack Autokrasi Digital” serta menggambarkan penangkapan Durov sebagai “peringatan” atas apa yang akan terjadi ke depannya.
Pihak lain meminta agar diskusi lebih seimbang. “Platform seperti Telegram dan X tidak hanya ‘alat kebebasan’. Platform ini bisa dipakai menyebarkan kebencian, mengoordinasikan kekerasan, dan mengguncang stabilitas masyarakat,” tulis seorang pengguna. “Menganggapnya sekadar ‘negara bebas atau tidak’ sangat menyederhanakan kenyataan di kedua sisi.”
Tekanan Regulasi Bertambah
Prancis bukan satu-satunya negara yang menyoroti platform milik Musk. Kantor Komisioner Informasi Inggris telah membuka penyelidikan resmi terkait bagaimana X dan xAI menangani data pribadi saat mengembangkan Grok, sementara regulator media Inggris Ofcom melanjutkan investigasi terpisah yang dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Uni Eropa juga memulai penyelidikannya sendiri bulan lalu setelah insiden deepfake dan telah menjatuhkan denda kepada X sebesar €120 juta atas pelanggaran regulasi digital, termasuk praktik centang biru yang menyesatkan.
Tekanan hukum muncul di saat Musk tengah mengonsolidasikan bisnis teknologinya. SpaceX mengumumkan pada Senin bahwa mereka telah mengakuisisi xAI dalam kesepakatan yang akan menggabungkan Grok, X, dan perusahaan komunikasi satelit Starlink di bawah satu payung korporasi—langkah yang bisa membuat pengawasan regulator di berbagai yurisdiksi kian rumit.
Solana masih berada di bawah tekanan setelah penurunan yang berkepanjangan, yang sudah terjadi jauh sebelum kondisi pasar baru-baru ini semakin memburuk. Penurunan harga ini secara perlahan mengikis kepercayaan investor, sehingga para investor besar mulai menyesuaikan posisi mereka.
Polanya kini menunjukkan risiko penurunan yang meningkat. Walaupun ada sinyal oversold yang mulai muncul, data secara keseluruhan tetap mencerminkan pandangan hati-hati terhadap SOL.
Holder Solana Mulai Lakukan Koreksi
HODLer Net Position Change Solana mulai menunjukkan tren menurun. Bar hijau yang semakin sedikit menandakan bahwa holder jangka panjang mulai memperlambat akumulasi. Kelompok ini biasanya berperan membantu menstabilkan harga di saat terjadi koreksi. Penurunan aktivitas pembelian ini menunjukkan keyakinan yang mulai melemah, bukan aksi distribusi besar-besaran pada harga saat ini.
Meski data tersebut tidak mengonfirmasi adanya penjualan aktif, data ini menyoroti berkurangnya permintaan dari investor berpengaruh. Berkurangnya akumulasi sering membatasi upaya pemulihan saat fase oversold. Tanpa tekanan beli baru, SOL bisa saja kesulitan mempertahankan rebound, apalagi jika kondisi pasar secara umum tetap rapuh.
Ingin insight token seperti ini? Daftar untuk mendapatkan Crypto Newsletter Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Perubahan Posisi Bersih HODLer Solana | Sumber: Glassnode
HODL Waves memberikan pemahaman lebih lanjut tentang perilaku investor. Wallet yang mengakumulasi SOL satu sampai tiga bulan lalu turun sebesar 5%. Sementara itu, proporsi holder dengan usia tiga hingga enam bulan naik 4,5%. Pergeseran ini menunjukkan bahwa investor yang sedang mengalami kerugian belum menjual asetnya.
Walaupun masih ada ketahanan, kesabaran holder tentu memiliki batas. Secara historis, pelemahan harga dalam waktu lama akan menguji keyakinan holder. Jika harga Solana turun lebih dalam, kelompok ini mungkin mulai menjual. Pola tersebut akan memperbesar tekanan turun dan memperkuat tren makro bearish yang sudah ada.
Solana saat ini diperdagangkan di kisaran US$103, masih berada di atas support penting US$100. Level ini sesuai dengan Fibonacci Extension 161,8%. Mempertahankan zona ini penting untuk kestabilan jangka pendek. Namun, reli yang gagal membuat risiko koreksi ke bawah menuju ke harga US$95 yang berada di Fibonacci 178,6%.
Indikator momentum menunjukkan kondisi oversold. Money Flow Index hampir mendekati level oversold. Secara historis, setiap penurunan di bawah level ini biasanya memicu rebound singkat. Namun, pantulan ini sering gagal membalikkan tren utama dan akhirnya diikuti penurunan lagi setelah pemulihan singkat.
Dalam waktu dekat, Solana mungkin akan bertahan di US$100 atau memantul ke resistance US$107. Bounce secara teknikal masih mungkin terjadi karena kondisi oversold. Akan tetapi, sinyal makro masih lebih condong ke risiko penurunan. Tanpa permintaan yang lebih kuat, SOL nampaknya rentan terhadap breakdown lagi di bawah US$100.
Pandangan bearish akan batal jika Solana berhasil menembus US$107 dan menjadikannya support. Kenaikan yang konsisten bisa membuka jalan menuju US$118. Untuk mencapai level itu, Solana membutuhkan arus investasi yang stabil dan kepercayaan investor yang baru. Jika modal belum kembali masuk ke SOL, upaya kenaikan harga kemungkinan masih akan terbatas.
Karena volatilitas yang sering terjadi di pasar meme coin Solana, bertahan saja adalah hal yang langka. Namun The White Whale (WHITEWHALE), sebuah token yang lahir di launchpad Pump.fun pada akhir 2025, berhasil melawan berbagai rintangan.
WHITEWHALE sudah melewati aksi jual besar-besaran, tuduhan rug pull, serta sorotan tajam dari para trader dan analis.
Pergerakan Harga Whitewhale yang Liar dan Asal Usul Narasi Meme-nya
Pada waktu publikasi, WHITEWHALE diperdagangkan di harga US$0,089, dengan data CoinGecko menunjukkan kapitalisasi pasar sebesar US$89,6 juta.
Sementara pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan, token White Whale justru mencatatkan kenaikan sebesar 180% dalam dua minggu terakhir. Ini menunjukkan betapa ekstrimnya pergerakan harga token ini.
Meme coin WHITEWHALE diluncurkan pada Oktober 2025, terinspirasi dari sosok di X (Twitter) @TheWhiteWhaleV2, seorang trader perpetuals yang dikenal karena pernah mengalami likuidasi sebesar US$80 juta yang cukup terkenal.
Token ini tidak memiliki roadmap, tidak menjanjikan utilitas, dan tidak diketahui siapa pendirinya. Token ini hanya bermodalkan narasi meme dan suplai tetap hampir 1 miliar token, seperti yang diuraikan dalam posting komunitas di Medium pada awal peluncuran.
Karena khawatir reputasinya terganggu oleh penipuan yang menggunakan namanya, @TheWhiteWhaleV2 akhirnya turun tangan. Pada Desember, ia membeli token, menambah likuiditas, dan membantu mengoordinasikan pengambilalihan komunitas (CTO).
I'll make this brief because people don't read and then spout off at the mouth.
The White Whale meme was not created by me.
I took it over to control use of image/likeness/reputation.
I make zero money from this.
An X user (sorry can't give credit, don't remember who) made…
Biaya Pump.fun dialihkan kembali ke para holder, dan aktivitas treasury dibuat transparan, sebuah langkah yang jarang terjadi di ekosistem meme Solana.
Lalu, siapa sebenarnya yang mengendalikan treasury WHITEWHALE saat ini?
“Saya yang mengendalikan. Memang itulah intinya. Token yang memakai nama saya, saya yang bertanggung jawab sepenuhnya. DAO dan struktur lain sering menciptakan ilusi demokrasi di ruang ini, padahal pada kenyataannya hampir tidak pernah ada. Kamu mempercayakan Jeff untuk menjadi pengelola yang baik di HyperLiquid. Kamu mempercayakan The White Whale untuk berlaku amanah atas namanya sendiri,” jelas The White Whale kepada BeInCrypto.
Peserta awal mendapat keuntungan besar, dengan beberapa laporan menyebutkan ada trader yang berhasil mengubah dana ratusan dolar menjadi lebih dari US$1 juta.
THIS GUY TURNED $370 INTO $1.2 MILLION
Remus (@remusofmars) bought 1.5% of the WHITEWHALE supply for only $370, and he is now up $1.2 MILLION.
Namun, trader yang sama, Remus di X, hampir kehilangan semua keuntungan itu seminggu kemudian dan hanya sempat mencairkan US$220.000 saja.
“Trader ini merugi US$1 juta di WHITEWHALE minggu lalu. Remus sempat untung US$1,5 juta dengan WHITEWHALE. Sayangnya, dia baru sempat mencairkan US$220K sebelum harga anjlok -80%. Sekarang ia hanya untung US$464.000. Akankah Remus bisa balik modal? Atau waktunya beralih ke koin berikutnya?” papar Arkham melaporkan.
Bagaimana Aksi Balas Dendam Retail Membuat WHITEWHALE Melonjak Vertikal
Momen WHITEWHALE melejit terjadi pada awal Januari 2026. Dari harga terendah bulan Desember di US$0,0082, harga WHITEWHALE melonjak hampir 930% hingga sempat menyentuh US$0,20, menurut CoinGecko.
Kapitalisasi pasar token ini menembus US$200 juta, menjadikannya salah satu peluncuran Pump.fun paling sukses dalam beberapa bulan terakhir menurut Messari.
Listing di exchange seperti Bybit, MEXC, KuCoin, sampai LBank turut memicu lonjakan volume yang mencapai US$48 juta dalam 24 jam.
Di X, para trader menganggap WHITEWHALE sebagai “balas dendam retail” yakni gerakan budaya melawan bot, snipers, dan peluncuran meme coin yang dikendalikan orang dalam.
Respectfully why the only “meme” I’ve bought ever is $Whitewhale@WhiteWhaleMeme. This the exact culture we should be promoting, no kols, rug pulls every 5 seconds, giving to communty. There can be cool thing about crypto currently. There is a token providing counter culture.…
Rug atau Peristiwa Likuiditas? di Balik Crash WHITEWHALE Pada 20 Januari
Pada 20 Januari 2026, salah satu holder terbesar menjual token senilai sekitar US$1,3 juta, sehingga memicu penurunan harga hingga 60% dalam waktu singkat.
Perkiraan kapitalisasi pasar pun jatuh dari kisaran US$200 juta menjadi hanya US$20–40 juta. Hal ini memicu gelombang di media sosial, dengan tuduhan rug pull bermunculan.
Sementara banyak berita utama menyebut kejadian ini sebagai rug pull, analis on-chain yang memakai Bubblemaps melacak aksi jualnya pada satu wallet besar, yang berbeda dari milik Remus.
Tim menepis tudingan itu, dan malah menyebut kejadian tersebut sebagai “peristiwa likuiditas” daripada exit scam, namun kepercayaan sudah lebih dulu goyah.
“…holder privat terbesar kami keluar dari sebagian besar posisi mereka… kami tidak ikut serta dalam aksi jual, walaupun kami melakukan beberapa buyback… Yang berubah hanyalah distribusi. Satu posisi privat yang sangat besar kini sudah tidak lagi mendominasi pasar. Supply sekarang tersebar ke lebih banyak holder. Ini bukan peristiwa yang digerakkan oleh treasury. Ini juga bukan penyimpangan dari prinsip yang sudah kami sampaikan. Ini adalah peristiwa likuiditas,” tulis The White Whale.
BeInCrypto bertanya kepada The White Whale mengapa konsentrasi sebesar ini masih bisa terjadi, padahal proyek ini mengusung narasi anti-whale. Dia menjawab bahwa proyek ini mengikuti prinsip utama kripto: keuangan yang permissionless. Dia menekankan bahwa para trader harus bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan.
“Perlu diketahui bahwa saya tidak meluncurkan token ini. Jika saya yang meluncurkan, saya tidak akan memakai launchpad mana pun, karena saya menilai tak ada launchpad yang punya struktur supply/liquidity token yang cocok untuk melindungi investor dari hal-hal seperti ini. Tentu saja, kami berusaha menghubungi holder besar kami yang tersisa sebanyak mungkin, menawarkan deal OTC supaya dampak ke pasar bisa lebih kecil, dan sebagainya, namun orang-orang tetap bebas memilih apapun yang mereka mau.”
Paling penting, The White Whale menampik anggapan bahwa aksi jual satu wallet sebagai penyebab utama crash secara keseluruhan. Menurut dia, kejadian itu hanya memicu kepanikan dan aksi jual berantai.
Recovery Didukung oleh Penguncian, Dibayangi oleh Kontrol
Berlawanan dengan prediksi banyak orang, harga WHITEWHALE justru rebound. Hanya dalam beberapa hari, aset ini mencatat lonjakan harian di atas 70% dan bergerak naik lagi ke market cap US$80–90 juta.
Treasury mengunci 40 juta token selama setahun, sehingga suplai beredar berkurang sekaligus memberi sinyal komitmen untuk jangka panjang. Langkah ini sudah dikonfirmasi secara publik oleh sejumlah figur komunitas di X.
“Langkah ini betul-betul memangkas supply beredar, menghilangkan tekanan jual dari treasury, dan memperlihatkan komitmen kuat untuk jangka panjang – tidak ada dump jangka pendek di sini. Proyek yang kredibel memang menerapkan hal ini untuk membangun kepercayaan riil; disiplin seperti ini memunculkan sentimen positif dengan cepat,” observasi salah satu pengguna.
Data on-chain yang dikutip Rootsdata mengungkap bahwa treasury dan wallet yang berafiliasi menguasai porsi supply signifikan, bahkan lebih dari 50%.
Sepuluh holder WHITEWHALE terbesar menguasai secara kolektif 64,5% (612,6 juta token) dari total supply. Sumber: Solscan
Konsentrasi ini punya dua sisi, karena pendukungnya menilai hal tersebut bisa menghambat aksi dump yang merugikan, namun para kritikus memperingatkan token jadi rentan terhadap potensi jatuh mendadak lagi.
Everyone was talking about $WHITEWHALE before, screaming “rug” and calling it a scandal… and now?
Today it’s calmly pushing again for a new ATH, yet you don’t hear any of Crypto Twitter calling it out.
First they praise you, then they kill you, then they forget you. Sadly,…
Tidak bisa dipungkiri memang ada risiko besar. Token WHITEWHALE tidak punya utilitas selain narasi, dan pergerakan harga hingga 60% atau lebih sangat sering terjadi. Sebagian besar trader juga masih berekspektasi penurunan harga, mengingat sebagian besar meme coin Solana akhirnya gagal. Namun, The White Whale sendiri tetap optimistis proyek ini bisa menjadi contoh standar baik bagi semua token di masa depan.
“Menurut saya, seluruh inti dari sebuah meme adalah karena memang tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Banyak proyek yang gagal karena mencoba tampil lebih dari yang sebenarnya. Sebaliknya, kami memilih jujur tentang apa adanya kami, dan kami bangga terhadap itu. Prinsip utama, jika bisa disebut demikian, dari gerakan $WhiteWhale adalah membuktikan bahwa sesuatu bisa sukses tanpa mengorbankan integritas. Dan tujuan pribadi saya adalah menaikkan standar setinggi mungkin agar investor meme coin mulai menuntut transparansi, ketelitian, dedikasi, dan integritas yang sama dari semua pengembang.”
Meskipun begitu, keberlangsungan sangat penting. Di ekosistem di mana banyak token hilang tanpa jejak hanya dalam semalam, kemampuan WHITEWHALE untuk pulih serta aksi treasury yang terbuka membuatnya menonjol.
Namun, tetap saja aset ini sangat berisiko, didorong oleh whale, narasi, dan momentum, bukan fundamental.
Faktor Risiko
Detail
Tingkat Dampak
Konsentrasi Whale
54% di satu alamat
Tinggi – Potensi dump besar-besaran
Volatilitas
Pergerakan 60%+ setiap pekan
Ekstrem – Banyak trader ritel merugi
Riwayat Rug
Peristiwa “likuiditas” 20 Januari
Sedang – FUD masih ada, tapi selamat
Tidak Ada Utilitas
Hanya narasi
Tinggi – Mengandalkan hype
Kekuatan Komunitas
Kunci supply transparan, redistribusi
Mitigasi – Membentuk loyalitas
Analisis Risiko Meme Coin WHITEWHALE
Jadi, token WHITEWHALE sepertinya bukan scam, hal ini juga didukung oleh sudah adanya trading di exchange besar. Volume yang dicatat juga nyata, dan komunitasnya terbilang aktif dan loyal, seperti yang disebutkan dalam dokumentasi dukungan exchange.
Sebagai penutup, BeInCrypto menanyakan kepada The White Whale tentang apa yang mungkin terjadi pada token tersebut jika ia memutuskan untuk mundur.
“Lucunya, kalau saya sampai tertabrak bus, sepertinya itu justru akan sangat bullish untuk pergerakan harga. Namun, proyek ini membawa nama saya, jadi mustahil bagi saya untuk berpikir mundur.“
Harga Onyxcoin sedang berusaha stabil setelah mengalami salah satu koreksi paling tajam dalam beberapa bulan terakhir. Koin XCN telah turun hampir 60% antara 6 Januari dan 31 Januari, setelah reli besar 216% pada akhir Desember dan awal Januari. Sejak saat itu, harga bergerak dalam sebuah falling wedge di grafik 12 jam, pola yang biasanya menandakan tekanan jual mulai melemah.
Pada saat yang sama, partisipasi trader ritel turun drastis, menandakan banyak trader memilih lebih hati-hati setelah penurunan tajam. Meski ada keraguan ini, para holder besar justru bergerak berlawanan arah, mengisyaratkan adanya perbedaan pandangan antara smart money dan sentimen pasar secara umum.
Retail Fokus pada Sinyal Bearish saat Aktivitas Beli Melambat
Pada grafik 12 jam, XCN masih bergerak di dalam falling wedge setelah mengalami koreksi 60%. Walau struktur ini secara teknikal cenderung bullish, sekarang mulai diuji oleh kemungkinan terjadinya bearish crossover di antara exponential moving average (EMA) periode 50 dan 100. Jika crossover ini benar terjadi, itu berarti tekanan turun bertambah kuat dan prospek pemulihan jangka pendek akan melemah.
Mau dapat insight token seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.
Risiko teknikal ini nampaknya mempengaruhi perilaku pasar ritel. Data arus keluar exchange menunjukkan bahwa aktivitas beli sudah sangat melambat. Di awal Januari, arus keluar harian dari exchange sempat mencapai puncak mendekati 1,51 miliar XCN, menandakan akumulasi besar. Namun, pada awal Februari, arus keluar turun jadi sekitar 13,16 juta XCN, artinya terjadi penurunan lebih dari 99%.
Arus keluar yang turun berarti makin sedikit koin yang ditarik dari exchange untuk di-hold dalam jangka panjang. Biasanya ini menandakan kepercayaan yang menurun dan minat beli di harga bawah juga makin lemah. Secara praktis, trader ritel memilih sikap hati-hati ketimbang ikut mengakumulasi saat sinyal bearish terus muncul di timeframe yang lebih tinggi.
Penurunan partisipasi ini juga bisa menjelaskan kenapa harga XCN kesulitan bergerak naik meski masih berada dalam pola bullish. Tapi, nampaknya ada sesuatu yang sedang berubah cepat!
Whale Akumulasi Secara Agresif saat Zona Cost-Basis Batasi Risiko Penurunan
Walau minat pasar ritel memudar, para holder besar justru agresif mengakumulasi. Dalam 24 jam terakhir, wallet whale XCN menambah kepemilikannya dari sekitar 42,5 miliar XCN menjadi kurang lebih 52,19 miliar XCN. Itu artinya, mereka menambah hampir 10 miliar token (tepatnya 9,7 miliar).
Di harga saat ini, akumulasi ini nilainya sekitar US$55 juta, menunjukkan keyakinan kuat dari para pelaku besar.
Perilaku beli mendadak ini nampaknya berhubungan dengan zona cost-basis yang menguntungkan. Data on-chain menunjukkan ada klaster permintaan besar di antara US$0,0052 dan US$0,0053, yang mewakili lebih dari 5,2 miliar XCN. Area ini berfungsi sebagai support struktural yang kuat, sehingga risiko penurunan lebih lanjut jadi terbatas walaupun harga melemah lagi.
Di sisi atas, ada klaster suplai besar antara US$0,0060 dan US$0,0061 yang berisi sekitar 4,9 miliar XCN. Jika harga berhasil menembus zona ini, didorong oleh aksi beli para whale, potensi terjadinya forced covering dan momentum baru bisa terbuka lebar.
Para whale mungkin bersiap lebih awal di dekat area support, bertaruh bahwa risiko penurunan sudah terbatas sementara potensi naik masih besar jika harga berhasil melewati resistance. Dan grafik memang menunjukkan alasan kenapa klaster di sisi atas mungkin tidak sekuat kelihatannya.
Divergensi Harga Onyxcoin yang Tersembunyi Jelaskan Mengapa Whale Mulai Masuk Lebih Awal
Sinyal paling penting yang mendukung optimisme whale nampaknya muncul di timeframe yang lebih rendah, namun sejauh ini retail belum menyadarinya.
Pada grafik 4 jam, harga XCN membentuk bullish divergence antara 21 Januari hingga 3 Februari. Selama periode ini, harga mencetak lower low, sementara Relative Strength Index (RSI), yaitu indikator momentum, membentuk higher low. Pola ini sering kali menandakan tekanan jual mulai melemah dan ada potensi pantulan lebih awal di timeframe yang lebih pendek.
Pada saat yang sama, harga juga mendekati exponential moving average (EMA) 20-periode pada timeframe 4 jam. Level ini pernah menjadi pemicu penting sebelumnya. Pada 28 Januari, harga berhasil merebut kembali EMA ini dengan bersih dan menghasilkan reli 18% dalam beberapa hari.
Formasi serupa sedang terbentuk sekarang, namun dengan sudut yang lebih bertahap layaknya domino.
Jika harga XCN mampu bertahan dan menutup candle 4 jam di atas US$0,0057, yang selaras dengan EMA dan resistance jangka pendek, momentum bisa semakin kuat. Target selanjutnya berada di sekitar US$0,0061. Breakout di atas zona ini akan menembus klaster supply utama (yang telah dibahas sebelumnya) dan membuka peluang menuju US$0,0070, bahkan mungkin US$0,0076 dalam reli relief.
Struktur berlapis ini menjelaskan perilaku whale. Mereka mulai masuk posisi di dekat support kuat, bersiap menghadapi potensi breakout karena divergence, sementara retail masih fokus pada risiko di timeframe yang lebih tinggi. Struktur ini hanya berubah menjadi bearish jika harga Onyxcoin ditutup di bawah US$0,0052 pada timeframe 4 jam.
Platform prediction market Polymarket dan Kalshi sedang mengadakan bagi-bagi sembako besar-besaran di New York City, saat para pembuat undang-undang tengah membahas regulasi yang bisa sangat membatasi bisnis mereka di negara bagian tersebut.
Waktunya membuat kedua perusahaan ini berada langsung di pusaran politik Zohran Mamdani. Agenda keterjangkauan biaya hidup dari walikota baru ini mencakup usulan toko bahan pangan milik kota tanpa tujuan laba.
Sembako Gratis sebagai Latar Politik
Polymarket mengumumkan hari ini bahwa mereka telah menandatangani kontrak sewa untuk pop-up sementara yang mereka sebut “Toko Sembako Gratis Pertama di New York” yang akan dibuka pada 12 Februari. Perusahaan ini juga menyampaikan sudah menyumbang US$1.000.000 pada Food Bank For New York City.
After months of planning, we're excited to announce 'The Polymarket' is coming to New York City.
New York's first free grocery store.
We signed the lease. And we donated $1 million to Food Bank For NYC — an organization that changes how our city responds to hunger. 🧵 pic.twitter.com/BGMCWUMz8n
Kalshi mengadakan acara “sembako gratis” terpisah yang durasinya lebih singkat. Mereka menanggung belanjaan pembeli untuk waktu tertentu di satu supermarket Manhattan.
Kedua perusahaan tersebut tidak mengatakan bahwa inisiatif ini dikoordinasikan dengan Balai Kota.
Walau begitu, bahasa dan narasinya sangat mirip dengan usulan kampanye Mamdani yang ingin membuka toko sembako milik pemerintah di kelima borough demi menurunkan harga pangan.
Thousands have already picked up their free Kalshi groceries!
We are being told we've already inspired other companies to keep up the initiative!
Mamdani berpendapat bahwa toko sembako milik kota bisa menekan biaya dengan beroperasi tanpa tujuan keuntungan dan memakai properti publik demi mengurangi sewa serta ongkos operasional. Usulan tersebut masih berada di tahap konsep percobaan, dan belum ada jadwal pelaksanaan yang disepakati.
Penting untuk dicatat bahwa walikota tidak punya wewenang langsung dalam mengatur prediction market. Pengawasan untuk platform-platform tersebut ada di tingkat negara bagian dan federal.
Meski demikian, kampanye keterjangkauan Mamdani sudah jadi sorotan utama dalam diskusi politik di New York, sehingga sangat wajar bila perusahaan menjadikan ini acuan agar lebih diterima publik.
Anggota DPRD Bergerak Secara Paralel
Saat yang sama, para legislator negara bagian New York juga tengah mengajukan usulan yang bisa langsung berdampak ke platform seperti Polymarket dan Kalshi.
Salah satu usulan, yang sering disebut ORACLE Act, akan membatasi atau melarang sejumlah kategori kontrak prediksi khusus bagi warga New York, dan memperketat pembatasan di pasar berbasis event.
Rancangan undang-undang terpisah mewajibkan operator prediction market memperoleh izin negara sebelum bisa beroperasi. Regulasi ini muncul karena ada kekhawatiran bahwa beberapa kontrak mirip perjudian tanpa regulasi atau sangat rentan direkayasa.
Sebagai keseluruhan, dengan mengaitkan branding mereka ke isu keterjangkauan bahan pokok dan filantropi setempat, kedua platform ini nampaknya sedang menempatkan diri sebagai perusahaan New York yang peduli masyarakat di tengah masa depan bisnis mereka yang masih belum pasti di negara bagian itu.
Hyperliquid mencatat lonjakan harga tajam seiring antisipasi yang meningkat menjelang peluncuran HIP-4. HYPE telah reli kuat dalam sesi-sesi terbaru, didorong oleh minat tinggi pada kontrak outcome yang sepenuhnya terjamin.
Kontrak-kontrak ini diselesaikan dalam rentang harga tetap dan membatasi keuntungan maupun kerugian. Desain ini cocok untuk prediction market dan strategi DeFi bergaya opsi. Walaupun sentimen optimistis semakin tinggi, permintaan belum berada di puncaknya.
Dampak HIP-4 Hyperliquid Belum Tercermin di Harga
Meski HYPE tampil kuat, dominasi sosialnya masih cukup rendah. Data menunjukkan diskusi tentang aset ini masih terbatas jika dibandingkan dengan reli harga yang serupa.
Hal ini menandakan reli belum menarik perhatian besar dari ritel. Keterpaparan sosial yang rendah biasanya mengurangi risiko posisi yang terlalu ramai, sehingga dapat membantu menjaga tren saat pasar sedang volatil.
Faktor lain yang berperan adalah kelelahan trader. Banyak pelaku pasar masih berhati-hati setelah berkali-kali melihat pump satu aset di tengah siklus bear yang lebih luas. Selain itu, perkembangan HIP-4 pun belum sepenuhnya menjangkau masyarakat aset kripto secara umum.
Keterlambatan penyebaran informasi ini mencegah spekulasi berlebihan dan membantu HYPE terhindar dari kondisi overbought.
Ingin insight token lain seperti ini? Daftar untuk menerima Daily Crypto Newsletter dari Editor Harsh Notariya di sini.
Data derivatif menunjukkan eksposur bullish yang sangat kuat di pasar Futures. Peta likuidasi menunjukkan dominasi posisi long yang jelas. Likuidasi sisi long berada di kisaran US$3,86 juta, sementara likuidasi short hanya US$93.700. Ketimpangan ini mencerminkan posisi trader yang cukup percaya diri akan berlanjutnya tren naik.
Eksposur yang berat ke satu sisi seperti ini sering memberi dorongan pada tren naik. Saat harga terus bergerak naik, para pemegang short HYPE terpaksa menutup posisi sehingga tekanan beli semakin kuat. Meski begitu, risiko tetap terkonsentrasi.
Klaster likuidasi terbesar berada di dekat US$26. Jika harga mendekati level ini, akan terjadi likuidasi sekitar US$3,86 juta, yang dapat menguji struktur bullish dan menggerus kepercayaan pada semua posisi leverage.
Harga HYPE saat ini diperdagangkan di sekitar US$36 pada waktu publikasi. Token ini naik hampir 20% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini menambah reli 76% selama dua minggu terakhir.
Percepatan ini mencerminkan permintaan kuat dan minat yang terus tumbuh terhadap perubahan protokol yang akan datang dari Hyperliquid.
Reli ini sebagian besar dipicu oleh antisipasi, bukan spekulasi setelah peluncuran. Dinamika ini mengisyaratkan potensi kenaikan bisa berlanjut setelah perilisan HIP-4. Aliran investasi masih kuat, dan tidak ada tanda distribusi besar. Jika kondisi pasar secara umum stabil, HYPE berpeluang untuk melanjutkan kenaikan lebih jauh.
Dari level saat ini, HYPE masih 60,5% di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya di US$59. Momentum terbaru mengisyaratkan gap ini bisa cepat tertutup. Target jangka pendek yaitu merebut kembali US$42 dan US$47 sebagai support. Jika bertahan di level ini, ini akan mengonfirmasi kekuatan tren sekaligus menjaga ATH tetap dalam jangkauan.
Namun demikian, risiko penurunan masih ada jika sentimen berubah atau momentum melemah. Jika support US$30 hilang, HYPE bisa rawan terkoreksi lebih dalam. Dalam skenario tersebut, harga bisa turun mendekati US$26. Breakdown pada level itu akan menginvalasi skenario bullish dan memicu likuidasi besar-besaran.
Harga Zcash terus turun semakin dalam ke wilayah bearish karena baik harga maupun aktivitas trading makin melemah. Token yang fokus pada privasi ini turun hampir 5% dalam 24 jam terakhir dan sekarang sudah jatuh lebih dari 44% dalam sebulan terakhir.
Zcash sebenarnya masih mencatat kenaikan sekitar 700% secara year-on-year. Tapi, reli itu kini terasa jauh. Tekanan jual terus meningkat, minat trader mulai hilang, dan harga perlahan-lahan bergerak menuju target penurunan utama berikutnya di kisaran US$200. Dengan momentum yang melemah di berbagai indikator, pasar mulai meragukan apakah penurunan yang lebih dalam kini tidak bisa dihindari lagi.
Breakdown Head-and-Shoulders dan Volume Anjlok Jadikan Target US$200 Zcash Jadi Sorotan
Penurunan harga Zcash saat ini dimulai karena terjadinya breakdown teknikal yang jelas di akhir Januari. Pada 31 Januari, token ini membentuk pola head-and-shoulders, yaitu formasi bearish klasik yang sering menandakan perubahan tren. sejak itu, harga ZEC konsisten mengikuti struktur breakdown tersebut.
Ingin insight token seperti ini setiap hari? Daftar untuk Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.
Di saat yang sama, aktivitas trading turun drastis. Data Dune menunjukkan volume total Zcash di exchange terpusat memuncak pada 9 Januari. Pada hari itu, volume harian gabungan melewati US$1,5 miliar. Namun, pada 2 Februari, volume harian turun menjadi sekitar US$450 juta. Ini berarti penurunan sekitar 70% hanya dalam tiga minggu saja.
Penurunan aktivitas tajam seperti ini menandakan minat trader yang makin surut. Peserta yang lebih sedikit berarti likuiditas melemah dan dukungan saat penjualan juga makin rendah. Dalam praktiknya, ini membuat penurunan harga makin mudah terjadi.
Arus Modal Menjadi Negatif saat Penjualan Whale Mengalahkan Pembelian Smart Money
Indikator aliran modal juga mengonfirmasi bahwa tekanan jual saat ini masih mendominasi. Chaikin Money Flow (CMF), yang memantau apakah dana sedang masuk atau keluar dari suatu aset berdasarkan harga dan volume, terus turun sejak akhir Desember.
CMF memuncak sekitar 27 Desember, saat Zcash membentuk bagian “kepala” pada polanya. sejak itu, CMF gagal menembus garis tren turunnya. Pada awal Februari, CMF akhirnya jatuh di bawah garis nol, menandakan bahwa dana yang keluar kini lebih banyak dari dana yang masuk.
Dengan kata lain, lebih banyak modal yang keluar dari Zcash dibandingkan yang masuk ke dalamnya.
Data exchange dan posisi whale semakin memperkuat pandangan ini. Dalam 24 jam terakhir, cadangan Zcash di exchange melonjak lebih dari 64%.
Kenaikan cadangan biasanya berarti holder sedang memindahkan koin ke exchange untuk persiapan jual. Selain itu, holder besar juga memangkas eksposur lebih dari 35% dalam beberapa sesi terakhir. Ini sejalan dengan turunnya CMF dan menunjukkan tekanan suplai makin besar.
Dalam situasi ini, hanya ada satu data yang sedikit memberi harapan. Wallet “smart money” meningkatkan kepemilikan Zcash sekitar 9% dalam 24 jam terakhir. Walau mereka sering bergerak tepat waktu, partisipasi mereka tetap kecil dibandingkan arus keluar besar-besaran yang sedang terjadi.
Saat ini, akumulasi selektif masih kalah oleh aksi jual yang meluas.
Pergerakan Harga Zcash Menunjukkan Mengapa Taruhan Smart Money Masih Terlihat Berisiko
Struktur harga Zcash sangat jelas mencerminkan ketidakseimbangan ini. Saat ini, Zcash sudah menembus zona support US$289.
Support penting berikutnya ada di kisaran US$262. Di bawahnya, target teknikal utama dari pola head-and-shoulders ada di sekitar US$200. Dari level saat ini sekitar US$284, ini berarti potensi penurunan hampir 30% lagi.
Sampai sekarang, pergerakan harga belum menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Jika akumulasi oleh smart money mendorong adanya pantulan jangka pendek, Zcash harus terlebih dahulu merebut kembali US$289 dengan meyakinkan. Pergerakan di atas level ini bisa membuka jalan menuju US$317, yang sejalan dengan resistance Fibonacci dan zona konsolidasi sebelumnya. Walau begitu, reli semacam ini kemungkinan hanya bersifat korektif dan bukan perubahan tren utama.
Dalam banyak kasus, reli di tengah tren turun yang sudah terkonfirmasi biasanya hanya digunakan untuk menjebak posisi short sebelum harga kembali melemah. Jika tidak ada volume besar dan arus modal yang kuat, biasanya reli tersebut akan mudah memudar. Agar struktur bearish secara keseluruhan benar-benar melemah, Zcash harus bisa mengambil kembali area US$407 yang berada di dekat bahu kanan pola ini. Sampai itu terjadi, formasi head-and-shoulders masih tetap bertahan.
Setelah berminggu-minggu mendapat tekanan berat dan turun lebih dari 12%, saham MicroStrategy mencoba untuk stabil. Reli Bitcoin mendekati US$79.000 pada waktu publikasi membantu meredakan kekhawatiran tentang harga rata-rata akuisisi perusahaan, yang sempat mendominasi sentimen pasar pada akhir Januari.
Selama beberapa waktu, investor cemas kalau penurunan harga Bitcoin yang lebih dalam bisa membuat MSTR mengalami rugi belum terealisasi. Kini karena risiko langsung itu sudah mereda, perhatian beralih pada apakah pemulihan harga bisa terjadi. Data korelasi, arus modal, dan struktur harga menunjukkan saham ini berada di zona risiko tinggi, di mana pergerakan besar Bitcoin berikutnya berpotensi mengarahkan tren MSTR dalam beberapa minggu ke depan.
Korelasi Bitcoin Menjelaskan Kenapa MicroStrategy Turun Lebih Cepat
Sejak awal Oktober, saham MicroStrategy sudah turun sekitar 62%, sedangkan Bitcoin turun sekitar 38% di periode yang sama. Perbedaan ini menyoroti bahwa MSTR bergerak seperti versi Bitcoin dengan leverage. Kalau Bitcoin melemah, biasanya saham MicroStrategy jatuh lebih dalam karena investor juga mempertimbangkan paparan neraca, utang, dan risiko sentimen.
Data Dune juga mendukung hubungan ini. Korelasi 90 hari antara MSTR dan Bitcoin hampir mencapai 0,97 (mendekati 1), artinya kedua aset ini bergerak ke arah yang sama hampir setiap hari.
Meskipun begitu, korelasi tinggi ini tidak berarti besaran penurunannya sama. Korelasi hanya mengukur arah, bukan besar kecilnya pergerakan. Data ini menunjukkan bahwa MSTR mengikuti tren Bitcoin, akan tetapi risiko leverage dan struktur membuat pergerakan saham lebih ekstrem.
Situasi seperti ini makin terlihat jelas pada akhir Januari, ketika Bitcoin sempat turun di bawah harga rata-rata pembelian MicroStrategy sekitar US$76.000. Saat itu muncul kekhawatiran soal rugi belum terealisasi dan tekanan tambahan pada saham MSTR. Setelah Bitcoin kembali naik di atas US$78.000, ancaman itu pun mereda dan suasana market menjadi lebih tenang.
Walau begitu, korelasi tetap sangat tinggi. Jika Bitcoin kembali melemah, harga saham MSTR kemungkinan akan ikut turun, sehingga risiko penurunan tetap besar.
Money Flow dan Volume Beri Sinyal Campuran
Data arus modal mencerminkan gambaran yang lebih rumit. Chaikin Money Flow (CMF), yaitu indikator yang mengukur apakah uang mengalir masuk atau keluar berdasarkan harga dan volume, trennya makin naik sejak pertengahan Januari. Antara 14 Januari hingga 2 Februari, harga saham MSTR memang turun, namun CMF terus naik. Divergensi bullish ini menandakan investor besar secara diam-diam mengakumulasi ketika harga sedang lemah.
Ingin insight token seperti ini? Daftar untuk Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Saat ini CMF mendekati garis nol, yaitu batas antara arus modal masuk bersih dan keluar bersih. Jika CMF bisa menembus dan bertahan di atas nol, maka tekanan beli lebih dominan dari tekanan jual. Terakhir kali CMF bergerak jelas di atas level nol adalah awal September, setelah itu saham reli hampir 25%. Karena itulah, CMF jadi pemicu utama bila ada upaya pemulihan harga.
Namun, volume saham MicroStrategy justru memberi sinyal berbeda. On-Balance Volume (OBV), yang melacak apakah volume perdagangan mendukung tren harga, justru menurun. OBV anjlok seiring harga dan kini sudah turun di bawah garis tren naiknya. Ini artinya partisipasi makin lemah dan minat trader ritel juga memudar.
Secara keseluruhan, indikator-indikator ini memberi sinyal beragam. CMF mengisyaratkan akumulasi selektif dari pemain besar, sedangkan OBV menunjukkan minat pelaku pasar umum masih lemah, kemungkinan karena sentimen negatif dari rata-rata harga beli di masa lalu.
Ketika metrik-metrik ini tidak sejalan, reli sering kesulitan untuk mendapatkan momentum. Tanpa partisipasi yang kuat, pergerakan naik biasanya cepat memudar. Oleh karena itu, meskipun institusi mungkin melakukan positioning lebih awal, kenaikan berkelanjutan kemungkinan membutuhkan performa Bitcoin yang lebih kuat.
Level Harga Saham MicroStrategy Kunci Tunjukkan Zona Keputusan 20% di Depan
Dengan indikator yang memberikan sinyal bertentangan, level harga MSTR sekarang lebih penting dari sebelumnya. Support terpenting berada di dekat US$139. Level ini sudah beberapa kali diuji dan sejalan dengan support Fibonacci dari penurunan Oktober, sehingga menjadi titik keputusan utama pasar.
Jika US$139 jebol pada penutupan harian, risiko penurunan akan meningkat tajam. Dalam skenario itu, harga bisa turun menuju US$107, yang berarti penurunan tambahan sekitar 20%. Pergerakan seperti ini kemungkinan akan terjadi bersamaan dengan melemahnya Bitcoin lagi. Breakdown yang lebih dalam kemungkinan juga akan terjadi seiring dengan berlanjutnya pelemahan Bitcoin.
Di sisi atas, resistance utama pertama ada di dekat US$170, juga sekitar 20% dari level saat ini. Level ini telah beberapa kali membatasi upaya rebound dan tetap menjadi hambatan utama. Breakout di atas US$170 secara konsisten akan memperbaiki struktur teknikal dan menandakan mulai pulihnya kepercayaan. Setelah itu, hambatan berikutnya ada di dekat US$190.
Jika zona ini tembus, tren akan berbalik menjadi bullish secara meyakinkan dan mengonfirmasi bahwa masuknya modal benar-benar membuat harga menguat.
Analisis Harga MicroStrategy | Sumber: TradingView
Saat ini, MicroStrategy berada di sekitar US$139, dengan risiko ke bawah menuju US$107 dan resistance di dekat US$170. Rentang yang lebar ini mewakili hampir 20% ke dua arah, sehingga membentuk zona keputusan dua arah. Pergerakan Bitcoin nampaknya akan menentukan sisi mana yang akan ditembus lebih dulu. Jika Bitcoin bergerak di atas US$80.000, MSTR berpotensi menguji US$170, sementara pergerakan sideways bisa memperpanjang konsolidasi. Jika Bitcoin melemah, support di dekat US$139 menjadi rentan.
Sampai breakout yang jelas terjadi, volatilitas kemungkinan tetap tinggi dan setiap reli berisiko mengalami pembalikan.
Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—ringkasan penting untuk perkembangan utama di dunia kripto hari ini.
Siapkan kopi dan duduklah sebentar—pasar bergerak dengan cara yang membuat para investor berpengalaman pun harus memicingkan mata ketika melihat grafik. Emas dan perak sedang melonjak, aset kripto bergerak tidak stabil, dan kebijakan Washington menambah ketidakpastian. Tapi menurut Tom Lee, di tengah kekacauan ini, sepertinya titik balik diam-diam mulai terbentuk.
Berita Kripto Hari Ini: Tom Lee Sebut White House Mempercepat Kemenangan Pemilu Sela dan Mengacaukan Pasar
Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors memberikan pandangan hati-hati namun optimistis bagi investor aset kripto, dan berpendapat gejolak terbaru di Bitcoin dan Ethereum mungkin hanya bersifat sementara.
Saat tampil di Squawk Box CNBC, Lee mengaitkan lonjakan harga emas dan perak di awal tahun dengan manuver kebijakan dari Washington, D.C.
Ia menuturkan bahwa langkah-langkah Gedung Putih untuk sementara telah “membajak” selera risiko, menciptakan sebuah “pusaran” yang menarik modal keluar dari aset kripto meski punya fundamental yang kuat.
Emas melonjak hingga US$4.954,99 per ons, naik 6,5% dalam sehari, sementara perak melejit 13,66% ke US$87,53. Ini menjadi kenaikan harian terbesar untuk kedua logam sejak krisis keuangan tahun 2008.
🚨 WARNING: SOMETHING BIG IS COMING!
GOLD: $4,958 SILVER: $87
That's a 6.5% and 14% pump in ONE day.
It's the BIGGEST daily gain since 2008.
This is a WARNING you gotta understand if you hold stocks, crypto, or anything else.
“Industri aset kripto saat ini sama sekali tidak punya leverage,” ujar dia. “Performa emas dan perak menyedot seluruh selera risiko ke perdagangan logam mulia.”
Lee juga menyoroti politik di Washington sebagai pemicu utama ketidakpastian pasar. Dengan midterms yang semakin dekat, ia mengkritik Gedung Putih karena “sengaja lebih cepat menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah,” mendahulukan agendanya dan membuat pasar “terkunci”.
Spekulasi seputar siapa Ketua The Fed berikutnya juga menambah volatilitas, dengan Lee memperingatkan pasar akan menguji kebijakan dan komitmen suku bunga dari pejabat baru, seperti yang terjadi pada Janet Yellen dan Jerome Powell sebelumnya.
Meski banyak pihak percaya Partai Republik akan kehilangan kursi di DPR, Lee memaparkan bahwa jika partai itu bertahan, hasilnya bisa jadi “kejutan positif”.
Tanda-Tanda Menunjukkan Titik Terendah Kripto di Tengah Euforia Emas dan Perak
Meski dalam jangka pendek ada hambatan, Lee melihat sinyal bahwa aset kripto mungkin sudah menyentuh titik terbawah. Penasehat Fundstrat, Tom DeMark, menilai “keselarasan waktu dan harga” sudah tercapai, di mana Bitcoin kembali di atas US$78.000 dan Ethereum mendekati US$2.300.
Performa Harga Bitcoin dan Ethereum | Sumber: TradingView
Lee menambahkan bahwa alamat aktif Ethereum sedang “naik tajam,” karena Wall Street makin banyak mengadopsi aset digital.
“Semua komponen sudah siap agar aset kripto membentuk titik terbawah saat ini,” ucapnya, membandingkan lemahnya harga dengan aktivitas jaringan.
Pandangan ini sejalan dengan catatan analis soal rotasi modal yang mungkin terjadi, di mana beberapa pihak menyoroti rebound emas 11% dari titik terendah, bertambah US$3,07 triliun, dan lonjakan perak 20% sehingga mengembalikan US$800 miliar.
Analis Bull Theory membandingkan kondisi sekarang dengan Agustus 2020, ketika emas mencapai puncak di US$2.075, Bitcoin sempat turun 20%, lalu reli 559% selama delapan bulan karena modal kembali masuk ke aset berisiko.
“Emas sepertinya sudah di puncak, dan Bitcoin sudah terkoreksi—sekarang kita bisa melihat rotasi ke aset berisiko,” papar mereka.
Namun, tidak semua komentar bersifat bullish. Analis Wimar.X memberi peringatan bahwa lonjakan logam mulia ini menandakan sebuah sistem yang “rusak”, seperti kondisi sebelum krisis 2000, 2007, dan 2019.
Dengan rasio harga emas terhadap perak mendekati 56, mereka menilai institusi-institusi “keluar dari kasino”, yang mungkin menandakan kejatuhan pasar di tahun 2026.
Lee, di sisi lain, menekankan bahwa kondisi ekonomi makro secara umum masih kuat. Saham-saham naik 1% pada Januari, yang secara historis berkorelasi dengan kenaikan indeks S&P sebesar 18% per tahun dalam periode serupa sejak 1950.
Meski valuasi AI dan teknologi bisa saja kembali ke rata-rata, ia memandang logam mulia yang “beristirahat” adalah hal baik bagi pasar dan bisa membuka jalan bagi pergerakan kripto berikutnya.
Pertanyaannya sekarang, apakah arus modal yang digerakkan Washington akan terus mengalir ke logam mulia atau Bitcoin dan Ethereum sudah siap untuk bangkit kembali?
Chart of the Day
Rasio Emas ke Bitcoin pada 2026 | Sumber: Milk Road
Rasio dominasi Emas ke Bitcoin membandingkan kapitalisasi pasar kedua aset tersebut.
Alpha Singkat Byte
Berikut ringkasan berita kripto AS lainnya yang bisa kamu simak hari ini: