Normal view

Harga Polymarket di Februari US$70.000 untuk Bitcoin

5 February 2026 at 00:43

Bitcoin sempat turun di bawah US$72.000 pada Kamis pagi di sesi perdagangan Asia, menyentuh level terendahnya dalam hampir 16 bulan. Saat aksi jual makin dalam, trader pasar prediksi di Polymarket langsung menyesuaikan ekspektasi mereka—dan data memperlihatkan gambaran yang cukup suram untuk jangka pendek, walaupun optimisme jangka panjang masih ada.

Kontrak real-money Polymarket memperlihatkan pasar sedang terombang-ambing antara mempertahankan US$70.000 sebagai batas bawah dan berharap pada keuntungan tahunan di US$100.000.

Outlook Februari: US$70.000 Jadi Batas Penting

Kontrak harga Bitcoin bulan Februari di Polymarket, dengan sisa waktu 24 hari dan volume hampir US$1,78 juta hanya pada target US$70.000, memperlihatkan cerita yang jelas.

Kontrak US$70.000 melonjak ke probabilitas 74%—naik 65%—menjadikannya target paling ramai diperdagangkan bulan ini. Ekspektasi kenaikan anjlok: kontrak US$85.000 jatuh 61% hingga tersisa 29%, sedangkan US$90.000 bertahan di 12% dan US$95.000 hanya 7%.

Di sisi bawah, kontrak US$65.000 turun 13% ke 39%, sementara US$60.000 bertahan di 19%. Probabilitas jatuh di bawah US$55.000 berada di satu digit saja. Kisaran harga yang diprediksi untuk Februari adalah US$65.000–US$85.000, dan US$70.000 menjadi titik yang paling mungkin.

Kontrak Tahunan 2026: Masih Bullish, namun Mulai Rapuh

Kontrak jangka panjang Polymarket menampilkan gambaran yang lebih detail. Level US$100.000 memiliki probabilitas 55% tetapi turun 29%, sedangkan US$110.000 ada di 42% dan juga anjlok 29%. Penurunan ini cukup signifikan dibandingkan hanya beberapa minggu lalu, ketika trader masih memperkirakan reli 2025 akan berlanjut.

Kontrak US$65.000 untuk 2026 naik 24% ke 83% dengan volume di atas US$1 juta—tertinggi saat ini—menandakan fokus trader lebih ke perlindungan di sisi bawah daripada spekulasi di sisi atas. Pada sisi puncak, probabilitas turun tajam: US$130.000 di 20%, US$140.000 di 15%, dan US$250.000 mendekati 5%.

Apa yang Mendorong Selloff

Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$73.199, setelah sempat turun di bawah US$72.000 pada Kamis pagi. Token ini sudah turun 16% sejak awal tahun dan kurang lebih 40% dari rekor tertinggi US$126.000 pada Oktober 2025.

Banyak faktor sedang bertemu: ketegangan geopolitik meningkat, kekosongan data masih tersisa dari penutupan pemerintah AS berdurasi 43 hari pada musim gugur lalu, dan nominasi Ketua The Fed yang hawkish, membuat dolar AS makin menguat

Kerusakan teknikal cukup parah. Lebih dari US$5,4 miliar likuidasi terjadi sejak akhir Januari, menyebabkan open interest merosot ke level terendah dalam sembilan bulan. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot AS telah mengalami arus keluar modal hampir sepanjang tiga minggu terakhir, dengan outflow sebanyak US$817 juta pada 29 Januari, US$509 juta di 30 Januari, dan US$272 juta di 3 Februari, hanya diselingi inflow US$561 juta di 2 Februari. Total aset bersih di seluruh ETF Bitcoin spot anjlok dari lebih dari US$128 miliar di pertengahan Januari menjadi US$97 miliar.

Fear and Greed Index kripto turun tajam ke angka 12—masuk ke zona “Extreme Fear” dan terendah sejak November 2025. Sementara itu, harga emas melesat melewati US$5.000 per ons, menunjukkan peralihan besar ke aset safe haven.

Kesimpulan Utama

Data Polymarket memberikan gambaran real-time tentang bagaimana trader yang mempertaruhkan uangnya mengambil posisi. Ekspektasi Februari berpusat di US$65.000–US$85.000 dan hampir tak ada peluang untuk pulih ke US$95.000.

Kontrak tahunan masih lebih longgar, dengan mayoritas tipis yang masih berharap Bitcoin menyentuh US$100.000 pada 2026. Tapi, keyakinan itu pun perlahan melemah. Untuk sekarang, angka US$70.000 menjadi perhatian semua orang.

Sebuah Tweet White House Ungkap Risiko Sebenarnya dalam CLARITY Act

4 February 2026 at 23:40

Perdebatan seputar CLARITY Act sebagian besar berputar pada tarik-ulur antara bank dan perusahaan kripto mengenai yield stablecoin. Meskipun konflik ini mendominasi pemberitaan soal RUU yang dianggap sebagai aturan struktur pasar, ada isu yang lebih tenang tapi berpotensi lebih berdampak—dan kerap luput dari perhatian.

Setelah diberlakukan, CLARITY Act akan secara resmi melegitimasi peran kripto yang diregulasi dan secara implisit membuatnya harus tunduk pada kepatuhan Bank Secrecy Act. Bahkan tanpa keharusan eksplisit, kondisi ini berisiko mengukuhkan model pengawasan yang menekan perantara untuk delist aset privasi dan meninggalkan konsep privacy-by-design, sebelum Kongres secara terbuka membahas berbagai pertukaran risiko dan manfaatnya.

Bank Ikut dalam Diskusi tentang Imbal Hasil Stablecoin

Pada hari Senin, para pelaku industri bertemu dengan penasihat Presiden AS Donald Trump untuk mencari kompromi dalam RUU struktur pasar yang masih menuai perdebatan.

Pembahasan dipimpin oleh Patrick Witt, direktur eksekutif Dewan Penasihat Presiden untuk Aset Digital. Dalam diskusi tersebut hadir juga tokoh senior dari sektor kripto maupun perbankan tradisional.

Sincere thanks to the representatives from the crypto and banking industries who participated in today’s meeting on stablecoin rewards and yield. The discussion was constructive, fact-based, and, most importantly, solutions-oriented.

Over the course of the past few months, we…

— Patrick Witt (@patrickjwitt) February 2, 2026

Pertemuan itu kembali memanaskan hubungan antara sektor kripto dan keuangan tradisional.

Para pengkritik mempertanyakan mengapa pembuat kebijakan mengajak Wall Street membantu merancang undang-undang yang justru akan mengatur produk yang menjadi pesaing utama bisnis inti mereka. Salah satunya adalah stablecoin ber-yield, yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai ancaman langsung bagi simpanan bank tradisional.

Meski begitu, pertemuan itu juga membuat isu yang jauh lebih halus namun sama pentingnya—yakni privasi—hampir tidak mendapat perhatian.

KOL mempertanyakan mengapa bank ikut dalam diskusi terkait CLARITY Act
KOL Mempertanyakan Mengapa Bank Ikut dalam Diskusi Terkait CLARITY Act

Bagaimana CLARITY Menarik Aset Kripto di Bawah Bank Secrecy Act

CLARITY Act hadir sebagai kerangka struktur pasar yang menawarkan kepastian regulasi bagi industri kripto di AS. Tujuannya adalah menetapkan otoritas pengawas terhadap berbagai aktivitas sekaligus memberikan kejelasan hukum yang lama dinantikan bagi pelaku pasar.

Tapi, RUU ini lebih dari sekadar membagi wilayah pengawasan.

Dengan secara resmi mendefinisikan peran kripto yang diregulasi, khususnya untuk exchange terpusat dan penerbit stablecoin, RUU ini menempatkan para pelaku ini di dalam sistem keuangan yang sudah ada.

Setelah peran tersebut diakui secara hukum, maka kepatuhan terhadap Bank Secrecy Act (BSA) menjadi hal yang tidak terelakkan, walaupun legislasi ini tidak secara rinci menjelaskan bagaimana persyaratan BSA mengatur aktivitas on-chain.

Ketiadaan detail ini memberi keputusan penting pada para perantara, sehingga merekalah yang menentukan aturan, bukan Kongres.

CLARITY Act puts banks in charge of crypto rules, risking surveillance-first regulation. Privacy for crypto may vanish without clear debate, say experts pic.twitter.com/ZgZlquHuV7

— BeInCrypto (@beincrypto) February 4, 2026

Akibatnya, exchange dan kustodian biasanya menjalankan pemeriksaan identitas secara ketat, memantau transaksi secara luas, dan mengumpulkan data dalam skala besar. Dengan cara ini, mereka membuat standar de facto tanpa landasan hukum yang jelas dari legislasi.

Dalam kerangka ini, proyek-proyek yang berfokus pada privasi menjadi pihak yang paling terkena dampaknya.

Aset Privasi di Garis Tembak

BSA mewajibkan institusi keuangan untuk memverifikasi identitas nasabah dan memantau aktivitas mencurigakan. Dalam praktiknya, artinya mereka harus tahu siapa nasabah mereka dan melaporkan tanda-tanda khusus kepada otoritas.

Namun, hukum ini tidak mengharuskan adanya transparansi penuh sistem setiap saat atau kemampuan melacak setiap transaksi ke identitas pemiliknya sepanjang waktu.

Meskipun begitu, perusahaan kripto besar seperti Binance, Coinbase, dan Circle sudah beroperasi seolah-olah memang ada kewajiban tersebut. Mereka menyamakan kepatuhan BSA dengan keterbukaan penuh aktivitas on-chain untuk meminimalkan risiko regulasi di tengah ketidakjelasan hukum.

Pendekatan ini berdampak pada persyaratan keterlacakan yang ketat dan penghindaran protokol yang membatasi visibilitas transaksi. Exchange terpusat umumnya menolak listing aset kripto berfokus privasi seperti Monero atau Zcash, bukan karena BSA secara eksplisit menuntutnya, melainkan sebagai langkah antisipasi risiko.

The CLARITY Act needs to be stopped. Not tweaked, not modified, completely stopped.

It is how you will “own nothing” – through the tokenization of all of your assets.

You will be impacted by this even if you don’t have crypto. Every thing you buy and sell will be on a…

— Aaron Day (@AaronRDay) February 2, 2026

Saat ini, CLARITY Act tidak membahas bagaimana BSA semestinya berlaku untuk sistem blockchain di mana privasi dan pseudonimitas berjalan berbeda dengan keuangan tradisional. Kekosongan ini jadi sangat penting.

Dengan membiarkan kewajiban utama tidak terdefinisi, CLARITY Act berisiko memperkokoh interpretasi BSA yang paling konservatif dan penuh pengawasan menjadi standar default.

Akibatnya, para partisipan yang berada di jalur prinsip cypherpunk kripto sangat mungkin terdampak paling besar, karena alat dan layanan yang berorientasi pada privasi menghadapi pembatasan paling banyak.

Penambangan Bitcoin Masuk Era Zetahash saat Profitabilitas Makin Ketat

4 February 2026 at 21:21

Bitcoin mining menembus tonggak sejarah baru di akhir 2025. Berdasarkan laporan terbaru dari GoMining, jaringan ini memasuki era zetahash, melampaui 1 zetahash per detik dalam kekuatan komputasinya.

Tapi meskipun hashrate melonjak ke level tertinggi sepanjang masa, profitabilitas miner justru bergerak ke arah sebaliknya. Akibatnya, industri mining kini makin besar, makin terindustrialisasi — dan juga makin rentan terhadap risiko harga dibandingkan kapan pun di siklus ini.

Bitcoin mining has entered a new regime.

Our 2025 Bitcoin Mining Market Review examines:
🔹 How mining economics changed across the year
🔹 What persistent hashprice pressure revealed about the sector
🔹 Why scale, power strategy, and capital structure now matter more than cycle… pic.twitter.com/bh5GJM5WaE

— GoMining Institutional (@GoMiningInst) January 28, 2026

Hashrate Capai Rekor Tertinggi saat Mining Semakin Besar

Laporan tersebut menunjukkan jaringan Bitcoin bertahan di atas 1 ZH/s untuk rata-rata tujuh hari, menandai adanya perubahan struktural, bukan hanya lonjakan sementara.

Pertumbuhan ini terjadi karena upgrade perangkat keras yang agresif, pusat data baru, dan ekspansi operasi industri. Mining tidak lagi dikuasai oleh pelaku kecil. Industri ini sekarang sudah menyerupai infrastruktur energi.

Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan block reward kini semakin ketat.

Grafik pertumbuhan tahunan hashrate jaringan Bitcoin
Pertumbuhan Hashrate Jaringan Tahunan | Sumber: GoMining

Pendapatan per Bitcoin Miner Turun meski Jaringan Bertumbuh

Meski hashrate meningkat, pendapatan per unit komputasi turun ke rentang terendah dalam sejarah.

Laporan tersebut menyoroti bahwa pendapatan para miner kini makin bergantung pada harga Bitcoin dan tingkat kesulitan jaringan saja. Penyangga lain seperti lonjakan biaya transaksi dan subsidi blok yang dulu membantu margin, kini sudah tidak berperan banyak.

Kondisi margin yang menipis ini membuat para miner harus beroperasi dengan laba semakin kecil, meski modal dan daya yang dikeluarkan justru makin besar.

GoMining menjelaskan, dampaknya bisa terlihat langsung di mempool. Untuk pertama kalinya semenjak April 2023, mempool Bitcoin benar-benar kosong beberapa kali pada tahun 2025.

Grafik mempool bersih di tahun 2025
Mempool Kosong di Beberapa Kesempatan pada 2025 | Sumber: Mempool.space

Artinya, jaringan Bitcoin menjadi begitu sepi sampai transaksi bisa langsung selesai meski menggunakan biaya terendah sekalipun.

Akibatnya, para miner hampir tidak mendapat penghasilan dari biaya transaksi dan harus mengandalkan harga Bitcoin serta subsidi blok sebagai sumber pendapatan utama.

Biaya Transaksi Beri Sedikit Keringanan setelah Halving

Tekanan makin berat setelah halving.

Dengan subsidi blok turun menjadi 3,125 BTC, biaya transaksi tidak cukup untuk menutupi pendapatan yang hilang. Laporan mencatat biaya transaksi hanya kurang dari 1% dari total block reward sepanjang 2025.

Akibatnya, ekonomi miner jadi sangat rentan terhadap pergerakan harga Bitcoin, karena makin sedikit faktor penyeimbang dari dalam jaringan.

Grafik biaya transaksi Bitcoin tahun 2025
Sepanjang 2025, Biaya Transaksi Kurang dari 1% Total Block Reward | Sumber: GoMining

Hashprice Cetak Level Rendah saat Margin Tetap Tertekan

Tekanan ini terlihat jelas pada hashprice — pendapatan harian per unit hashrate.

Menurut laporan tersebut, hashprice turun ke titik terendah sepanjang masa, mendekati US$35 per PH per hari di bulan November dan tetap lemah hingga akhir tahun. Nilainya menutup kuartal di sekitar US$38, jauh di bawah rata-rata historis.

Margin operasi pun makin tipis tanpa ruang kesalahan.

Grafik penurunan hashprice Bitcoin
Hashprice Bitcoin Terus Turun Sepanjang Tahun Lalu | Sumber: GoMining

Shutdown Prices Ubah Level Harga jadi Pemicu Ekonomi

Temuan-temuan ini sangat sesuai dengan data terbaru tentang harga shutdown miner.

Pada tingkat kesulitan dan biaya listrik sekitar US$0,08 per kWh sekarang, miner seri S21 yang paling banyak digunakan mendekati titik impas pada harga US$69.000–US$74.000 per BTC. Jika harga Bitcoin turun di bawah kisaran itu, banyak operasi tidak lagi menghasilkan laba operasional.

Mesin kelas atas yang lebih efisien masih mampu bertahan dengan harga lebih rendah. tapi miner kelas menengah langsung harus menghadapi tekanan berat.

Sebagian besar Bitcoin miner memiliki harga shutdown di bawah US$70.000
Sebagian besar Bitcoin miner punya Harga Shutdown di Bawah US$70.000 | Sumber: Antpool

Mengapa Ini Penting untuk Harga Bitcoin Saat Ini

Situasi ini tidak menciptakan batas bawah harga. Pasar bisa saja bergerak di bawah titik impas penambangan.

Namun, kondisi ini menciptakan batasan perilaku. Jika Bitcoin bertahan di bawah level shutdown utama, miner yang lebih lemah bisa menjual cadangan, mematikan alat, atau mengurangi eksposur.

Di pasar yang sudah ketat likuiditasnya, aksi-aksi tersebut dapat membuat volatilitas makin tinggi.

Penambangan Bitcoin kini makin kuat dan lebih industris dari sebelumnya. Tapi, skala besar tetap memberikan sensitivitas. Saat hashrate meningkat dan biaya transaksi menurun, harga menjadi semakin krusial demi stabilitas para miner.

Itu sebabnya level seperti US$70.000 punya arti ekonomi penting — bukan karena analisis grafik, tapi karena struktur biaya di jaringan tersebut.

Wall Street Melirik CME Coin, dan Ini Bisa Lebih Penting daripada Stablecoin

4 February 2026 at 20:38

Bursa derivatif terkuat Wall Street sedang mempertimbangkan token bergaya kripto miliknya sendiri, dan dampaknya jauh lebih besar dari sekadar eksperimen institusional lainnya.

Berdasarkan laporan, CEO CME Group Terry Duffy mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang meninjau “inisiatif dengan koin kami sendiri” yang bisa berjalan di jaringan terdesentralisasi. Pernyataan ini muncul dalam diskusi seputar margin dan jaminan yang ditokenisasi, bukan tentang kripto untuk konsumen atau pembayaran.

Pembedaan tersebut sangat penting. Jika diluncurkan, koin terbitan CME tidak akan mirip aset kripto biasa atau stablecoin ritel.

Sebaliknya, koin ini bisa menjadi bagian inti infrastruktur pasar—yang secara diam-diam mengontrol bagaimana risiko berpindah di pasar keuangan global.

CME Group CEO Terry Duffy said on the company’s latest earnings call that CME is evaluating the potential launch of a proprietary token (“CME Coin”), which could potentially operate on a decentralized network. CME is also working with Google on a “tokenized cash” solution…

— Wu Blockchain (@WuBlockchain) February 4, 2026

CME Coin Adalah Permainan Agunan, Bukan Peluncuran Aset Kripto

Pernyataan CME difokuskan pada masalah jaminan dan margin, yang merupakan fondasi perdagangan derivatif. Setiap posisi futures atau opsi di CME mewajibkan trader menyetor margin, biasanya dalam bentuk uang tunai atau aset cair berkualitas tinggi.

Dengan mentokenisasi proses tersebut, CME bisa memungkinkan margin berpindah secara on-chain, terus-menerus dan hampir secara real time. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada jaringan perbankan tradisional, yang masih beroperasi dengan jam terbatas.

Penting untuk dicatat, CME memang sudah menentukan aset apa saja yang memenuhi syarat sebagai jaminan. Token milik CME akan memperluas kendali tersebut ke lingkungan tokenisasi, tanpa mengubah pengaturannya.

Mengapa Ini Bisa Lebih Besar dari Kebanyakan Stablecoin

Stablecoin seperti USDC atau USDT sering menjadi sorotan utama aset kripto karena ukurannya dan penggunaannya dalam trading serta pembayaran. Tapi stablecoin pada dasarnya hanya memindahkan uang.

Koin CME justru akan memindahkan risiko.

CME menyelesaikan eksposur derivatif senilai triliunan dolar, meliputi suku bunga, saham, komoditas, hingga aset kripto. Instrumen margin di dalam sistem itu memiliki kecepatan perputaran dan peran sistemik yang jauh lebih besar ketimbang sebagian besar token pembayaran.

Jika koin CME diterima sebagai margin, koin tersebut akan berada di pusat penemuan harga dan stabilitas keuangan. Stablecoin jarang mengambil peran sebesar itu.

Kontrol atas Agunan Berarti Kontrol atas Pasar

Jaminan adalah titik krusial sebenarnya dalam keuangan modern. Jaminan menentukan siapa yang bisa berdagang, seberapa besar leverage yang bisa mereka ambil, dan bagaimana tekanan keuangan menyebar saat terjadi volatilitas.

Dengan menerbitkan jaminan yang sudah ditokenisasi sendiri, CME tidak sedang mendesentralisasi pasar. CME justru makin mengukuhkan posisinya sebagai perantara terpercaya—kali ini menggunakan infrastruktur blockchain.

Koin CME hampir pasti akan terbatas untuk peserta institusi. Koin ini bukan untuk perdagangan, spekulasi, atau menghasilkan yield.

Tidak akan ada sistem tata kelola terbuka, akses permissionless, ataupun integrasi dengan DeFi. Blockchain akan berfungsi sebagai infrastruktur bersama, bukan sistem keuangan terbuka.

Hal ini serupa dengan bagaimana perusahaan Wall Street lain menghadapi tokenisasi: mereka mengadopsi teknologi, tapi tetap mempertahankan struktur kekuasaannya yang sudah ada.

Apakah Harga Bitcoin Akan Turun Lagi? Analis Debat Potensi Penurunan yang Lebih Dalam

4 February 2026 at 19:35

Bitcoin anjlok tajam ke US$73.000 pada 3 Februari, melanjutkan tren bearish lebih luas yang kini telah menghapus 41% dari rekor tertinggi pada Oktober 2025 di atas US$126.000. Penurunan ini semakin memanaskan debat apakah pasar sedang mendekati titik dasar siklus—atau akan memasuki fase koreksi yang lebih dalam.

Aksi jual ini mencerminkan kecemasan yang meningkat di pasar tradisional. Indeks saham AS melemah karena kekhawatiran terkait disrupsi yang didorong oleh kecerdasan buatan dan meningkatnya risiko geopolitik, sehingga mendorong investor untuk keluar dari aset berisiko.

Dalam kondisi seperti itu, modal kembali mengalir ke aset safe haven tradisional seperti emas dan perak, sementara Bitcoin gagal menarik permintaan defensif.

Grafik Bitcoin, Emas, dan Perak 5 Hari
Grafik Bitcoin, Emas, dan Perak 5 Hari | Sumber: TradingView

Tekanan Ekonomi Makro dan Geopolitik Dorong Investor ke Aset Safe Haven Tradisional

Volatilitas Bitcoin terus menunjukkan sensitivitas terhadap makroekonomi dibanding isolasi dari pasar global. Penurunan terbaru ini juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah sebuah drone Iran dikabarkan ditembak jatuh di dekat kapal induk AS.

Insiden tersebut mendorong VIX naik sekitar 10% dan membuat Crypto Fear & Greed Index masuk ke zona “ekstrem fear.”

Crypto Fear and Greed Index
Crypto Fear and Greed Index | Sumber: CoinMarketCap

Pada saat yang sama, perkembangan di bidang kecerdasan buatan—termasuk pengumuman baru soal chatbot Claude dari Anthropic—membangkitkan kembali kekhawatiran soal disrupsi di sektor teknologi.

Ketidakpastian tersebut membebani saham-saham teknologi utama dan semakin mengurangi selera pada aset spekulatif.

Saat Bitcoin turun, emas naik 6,8% dan perak menguat 10%, menguatkan perannya sebagai lindung nilai utama di tengah gejolak moneter dan geopolitik.

Dalam wawancara bersama CNN, Gerry O’Shea, Global Head of Market Insights di Hashdex, menerangkan bahwa perbedaan arah antara Bitcoin dan emas menunjukkan investor masih memandang logam mulia sebagai safe haven utama saat ketidakpastian meningkat.

Pergeseran ini telah melemahkan narasi Bitcoin sebagai tempat perlindungan jangka pendek dan menambah tekanan ke bawah.

Fun fact: Gold's correlation with Bitcoin over the last 10 years is 0.09.

In other words, they are not correlated at all, and do not move together. We have seen this movie before. The last time was COVID.

Patience, fellow Bitcoiners. pic.twitter.com/yBcSJVrS2U

— Jack Mallers (@jackmallers) January 29, 2026

Analis Peringatkan Penurunan Lebih Dalam dan Potensi Bull Trap

Pelaku pasar masih terbelah, tapi beberapa analis secara terbuka memperingatkan bahwa koreksi ini mungkin belum berakhir.

Analis kripto Benjamin Cowen menilai bahwa jalur jangka pendek Bitcoin sangat penting:

*#BTC just dropped below the April 2025 low.*

If it does not bounce soon, this is going to be one hell of a midterm year.

If it can bounce, it gives us a few months and gets us closer to October without so much bad price action (likely the bottom in time).

I feel like the bear… pic.twitter.com/5avv8DKNjG

— Benjamin Cowen (@intocryptoverse) February 3, 2026

Sejumlah analis lain bersikap lebih pesimistis. Nehal, seorang trader terkenal di X, menilai struktur saat ini menyerupai klasik bull trap dan memperingatkan bahwa fase penurunan ini mungkin baru separuh jalan.

Berdasarkan perbandingan historis Nehal, siklus Bitcoin sebelumnya berakhir dengan penurunan 86% pada 2018 dan 78% pada 2021.

Jika pola yang sama diterapkan pada siklus saat ini, penurunan berpotensi mencapai 72% yang membuat harga Bitcoin bisa mendekati US$35.000.

Pandangan siklus ini tetap berpengaruh walaupun terjadi perubahan struktural di pasar, seperti adopsi ETF dan partisipasi institusi yang makin besar.

This chart says we’re only halfway through the Bull Trap.

If the pattern is still in play, $BTC will dump to $35,000 in February.

The bear market hasn’t even started yet. pic.twitter.com/Igdx4uQuzQ

— Nehal (@nehalzzzz1) February 4, 2026

Data On-Chain Tunjukkan Fase “Bottom Discovery”

Indikator on-chain menambah satu lapisan lagi dalam perdebatan ini. Analis CryptOpus memaparkan bahwa Bitcoin memasuki fase yang dia sebut sebagai “bottom discovery” untuk pertama kalinya di siklus ini.

Pada puncaknya tahun 2025, sekitar 19,8 juta BTC masih tercatat bernilai keuntungan. Angka itu kini turun menjadi 11,1 juta BTC, atau penurunan 40% dari suplai yang profitable.

Secara historis, kondisi serupa menjadi penanda transisi dari fase korektif ke reset siklus. Pada 2018, Bitcoin bertahan di kondisi ini sekitar delapan bulan sebelum stabil.

👀 #BITCOIN HAS OFFICIALLY ENTERED ITS BOTTOM DICOVERY PHASE! For the first time this cycle, supply-in-profit is moving into the Bottom Discovery #trend line. At last year’s peak, 19.8M $BTC were in profit. Today, only 11.1M are, wiping out ~40% of profitable supply. That means… pic.twitter.com/LJ1WauPrI6

— CryptOpus (@ImCryptOpus) February 4, 2026

Level Teknikal Kunci dalam Sorotan

Dari sudut pandang teknikal, risiko penurunan tetap jelas. Nic, CEO Coin Bureau, menegaskan bahwa Bitcoin terus berada di bawah tekanan sejak menembus di bawah moving average 50-minggu pada bulan November.

Bitcoin saat ini diperdagangkan di dekat harga pokok MicroStrategy dan mendekati level terendah bulan April di sekitar US$74.400.

“Jika kita turun lebih rendah, level penting berikutnya adalah US$70.000, persis di atas rekor harga tertinggi sebelumnya di US$69.000. Jika tertembus dengan jelas, ini membuka jalan menuju target pasar bearish di kisaran US$55.700–US$58.200, yaitu di antara harga realisasi dan rata-rata pergerakan 200 minggu,” peringat Nic.

Where is the Bitcoin Bottom?

Ever since breaking the 50w MA bull trend in November, Bitcoin's momentum has been to the downside.

2 weeks ago, we also broke through the 100w MA.

Last week we broke through the ETF cost basis & the true market mean.

We're currently trading… pic.twitter.com/T2vo4hTedF

— Nic (@nicrypto) February 4, 2026

Pandangan yang Bertentangan tentang Apakah Titik Terendah Sudah Dekat

Tidak semua analis sependapat dengan pandangan bearish tersebut. Michaël van de Poppe percaya Bitcoin mungkin sudah hampir menyelesaikan fase penurunannya.

I'm not selling.

Fuck that.

I think that we're at the end of the bear market.

I also think that Gold & Silver have peaked for now.#Bitcoin peaked in Q4 2024, after which we've seen a normal bear market year in 2025.

The cycle is about to start from here on.

I remain all-in…

— Michaël van de Poppe (@CryptoMichNL) February 3, 2026

Sementara itu, analis David Battaglia menyoroti dinamika likuidasi, menggambarkan kondisi saat ini sebagai semakin tidak rasional.

Battaglia menerangkan bahwa di bawah US$85.000 terdapat celah likuiditas yang besar, artinya para penjual panik—baik institusi maupun whale—kemungkinan keluar di harga yang kurang optimal.

Ia membandingkan situasi ini dengan crash 10 Oktober yang berkaitan dengan Binance, yang ia sebut secara struktur lebih rapi.

“Di antara US$90.000 dan US$100.000, ada kepadatan posisi short yang masif dan rasio put-to-call sebesar 14:1, yang pada kondisi normal sudah menandakan dasar yang kuat,” ujar Battaglia .

Ringkasan

Penurunan Bitcoin ke US$73.000 telah memicu kembali kekhawatiran akan koreksi yang lebih dalam. Ketidakpastian ekonomi makro, ketegangan geopolitik, dan sinyal on-chain yang campur aduk membuat pasar terbelah antara ekspektasi penurunan lanjutan dan tanda-tanda munculnya titik dasar baru.

Minggu-minggu mendatang kemungkinan akan menjadi penentu apakah pergerakan ini hanya jeda sementara—atau justru menjadi pondasi tren baru menuju 2026.

Kerja Sama Ripple dan Hyperliquid Jadi Kemenangan Besar untuk HYPE, Bukan untuk XRP

4 February 2026 at 16:37

Ripple mengumumkan bahwa Ripple Prime, platform prime brokerage institusi miliknya, kini mendukung Hyperliquid, sebuah platform derivatif on-chain yang berkembang pesat.

Sepintas, judul ini nampak bullish untuk ekosistem Ripple. Tapi jika dicermati, manfaat yang diberikan tidak merata: kerja sama ini secara struktural lebih menguntungkan Hyperliquid dan token HYPE, sementara dampaknya terhadap XRP sangat terbatas.

Hyperliquid, meet Ripple Prime: https://t.co/RZWdbRfHoe

We’re now enabling institutions to access onchain derivatives liquidity through @HyperliquidX in a streamlined and secure way. Customers can also efficiently cross-margin crypto with all asset classes supported by our prime…

— Ripple (@Ripple) February 4, 2026

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Ripple Prime

Ripple Prime bukanlah sebuah exchange. Ini adalah prime broker, artinya Ripple Prime berperan sebagai titik akses tunggal bagi perusahaan trading dan institusi besar.

Alih-alih membuka akun di banyak exchange dan mengelola jaminan (collateral) secara terpisah, institusi menggunakan prime broker untuk:

  • Melakukan trading berbagai kelas aset melalui satu akun
  • Menyerahkan satu kumpulan jaminan
  • Memusatkan manajemen risiko dan pelaporan

Ripple Prime sudah menghubungkan kliennya ke pasar aset kripto, FX, fixed income, hingga derivatif. Dengan pembaruan ini, Hyperliquid menjadi salah satu tempat eksekusi trading yang tersedia di dalam sistem ini.

Sementara itu, Hyperliquid saat ini menjadi exchange derivatif on-chain paling populer, yang paling dikenal dengan fitur perpetual futures. Setiap transaksi diproses di on-chain menggunakan smart contract, tanpa exchange terpusat yang menyimpan dana milik pengguna.

Desain ini sangat cocok untuk para trader kripto native, namun masih menimbulkan kendala bagi institusi. Kebanyakan dana institusi tidak bisa mengelola wallet, menandatangani transaksi, atau berinteraksi langsung dengan protokol DeFi.

Integrasi Ripple Prime menjadi solusi untuk masalah tersebut.

The next phase of institutions joining the onchain economy starts with capital markets integration – and @HyperliquidX – one of the fastest growing, most liquid venues for crypto price discovery and onchain derivatives, is an obvious place to start.

From XRP and other crypto… https://t.co/nf60Cb8L3Q

— Mike Higgins (@mikehiggins) February 4, 2026

Mulai sekarang, institusi dapat trading di Hyperliquid tanpa perlu bersentuhan langsung dengan wallet atau smart contract. Ripple Prime berada di tengah, menangani jaminan, margin, settlement, dan risiko, sedangkan Hyperliquid menyediakan likuiditas dan eksekusi di on-chain.

Kenapa Ini Bullish untuk HYPE, Bukan XRP

Dampak positif bagi Hyperliquid sangat jelas. Aliran trading dari institusi kini dapat masuk.

Selain itu, likuiditas bisa makin dalam karena pelaku pasar yang lebih besar dan stabil ikut masuk. Secara keseluruhan, Hyperliquid mendapat reputasi sebagai tempat trading kelas institusi.

Yang terpenting, Hyperliquid dapat meraih semua itu tanpa harus mengubah protokol atau menjadi terpusat. Ripple Prime hanya bertindak sebagai lapisan akses, bukan sebagai pemilik atau pengendali.

Grafik Harga HYPE Selama Sepekan Terakhir
Grafik Harga HYPE Selama Sepekan Terakhir | Sumber: CoinGecko

Hal ini memperkuat narasi pertumbuhan jangka panjang Hyperliquid, yang langsung mendukung HYPE.

Sebaliknya, hubungan dengan token XRP milik Ripple sangat lemah.

Integrasi ini tidak mensyaratkan penggunaan XRP untuk trading ataupun margin, dan tidak menyalurkan aktivitas Hyperliquid melalui XRP Ledger. Jadi, hal ini tidak menciptakan penggunaan XRP secara wajib.

XRP mungkin saja tetap digunakan secara internal oleh Ripple Prime untuk settlement atau pengelolaan likuiditas, namun penggunaan tersebut sifatnya opsional, tidak terlihat oleh pengguna, dan sulit menciptakan permintaan token yang signifikan.

Kesimpulan Utama

Kemitraan Ripple–Hyperliquid paling tepat dipahami sebagai kesepakatan akses institusional, bukan integrasi pada tingkat token.

Langkah ini benar-benar meningkatkan kemampuan Hyperliquid untuk menarik volume institusi, yang pada akhirnya mendukung nilai jangka panjang HYPE. Bagi XRP, dampaknya paling jauh hanya secara tidak langsung.

Emas Jadi Lebih Liar dari Bitcoin karena Volatilitas Meledak ke Level 2008 | US Crypto News

4 February 2026 at 15:33

Selamat datang di US Crypto News Morning Briefing—ringkasan penting mengenai perkembangan paling berpengaruh di dunia aset kripto untuk hari ini.

Ambil secangkir kopi dan bersiaplah: pasar bergerak dengan cara yang tidak diduga banyak orang. Satu aset bergerak liar dengan sangat fluktuatif, sementara yang lain kesulitan mengejar. Trader dan investor mengamati dengan cermat seiring volatilitas mengubah narasi yang sudah dikenal, menandakan bahwa tidak ada yang benar-benar seperti tampaknya.

Berita Kripto Hari Ini: Volatilitas Emas Melejit Lewat Bitcoin di Tengah Pergerakan Pasar Bersejarah

Emas kini melampaui Bitcoin di tengah gejolak pasar. Pergerakan harga emas baru-baru ini bahkan melampaui Bitcoin, menyoroti pembalikan risiko yang jarang terjadi dan tidak banyak diprediksi investor.

Data menunjukkan volatilitas 30 hari pada emas melonjak ke puncak baru, yaitu 48,68, dan berada di 41,04 pada waktu publikasi. Menariknya, level ini belum pernah tercapai sejak krisis keuangan 2008.

Untuk perbandingan, volatilitas Bitcoin saat ini berada di kisaran 39%, meski memiliki reputasi sebagai aset yang sangat spekulatif.

Indeks Volatilitas Bitcoin
Indeks Volatilitas Bitcoin | Sumber: newhedge

Peningkatan volatilitas emas terjadi setelah penurunan tajamnya yang terbesar dalam lebih dari satu dekade, termasuk penurunan hampir 10% dalam satu sesi, dari puncak US$5.600 turun menjadi sekitar US$4.400 per ons di perdagangan Asia.

Sejak Bitcoin diciptakan 17 tahun lalu, emas hanya dua kali lebih volatil. Kejadian terbaru terjadi pada Mei 2019 saat tensi dagang meningkat akibat ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump.

Pergeseran harga ekstrem pada emas terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi makro yang lebih luas. Seperti yang diulas dalam publikasi US Crypto News baru-baru ini, kekhawatiran akan ketidakstabilan geopolitik, pelemahan mata uang, serta pertanyaan soal independensi The Fed mendorong investor memburu logam mulia.

Emas Reli US$6 Triliun dalam Dua Hari, Tinggalkan Bitcoin

Pulihnya harga emas juga sangat dramatis, dengan harga XAU naik kembali melampaui US$5.000 per ons, meningkat 17% hanya dalam 48 jam.

BREAKING: Gold prices surge back above $5,000/oz, now up +17% in 48 hours. pic.twitter.com/7nuSLMyDd1

— The Kobeissi Letter (@KobeissiLetter) February 4, 2026

Selama periode yang sama, emas menambahkan US$4,74 triliun ke kapitalisasi pasarnya, sedangkan perak naik US$1 triliun. Ini membuat pertumbuhan total kapitalisasi pasar logam mulia hampir mencapai US$6 triliun dalam dua hari.

INSANE RECOVERY IN PRECIOUS METALS

Gold is now up 15.62% from Monday lows adding $4.74 Trillion to its market cap in just 48 hours.

Silver is now up 26% from Monday lows adding $1 Trillion to its market cap in just 48 hours.

Nearly $6 trillion has been added back to precious… pic.twitter.com/49BJ2DBVFl

— Bull Theory (@BullTheoryio) February 4, 2026

“Nilai tersebut lebih dari 4× kapitalisasi pasar Bitcoin,” ujar analis Crypto Rover.

Rebound ini mencerminkan akumulasi kuat dari investor institusi dan investor bermodal besar, di mana aksi beli konsisten di setiap penurunan harga menunjukkan siapa yang terus menambah logam mulia ini, terlepas dari sentimen negatif di pasar.

“Volatilitas seharusnya tidak mengejutkan siapa pun di sini—jarang ada aset yang bisa menahan guncangan seperti minggu lalu lalu langsung rebound tanpa beberapa rintangan. Emas masih sangat kurang dimiliki, dan pergerakan ini punya potensi besar dalam siklus yang jauh lebih besar,” terang Otavio dalam sebuah postingan.

Meski di tengah volatilitas, emas tetap menjadi aset safe haven, naik sekitar 66% secara tahunan, sementara Bitcoin anjlok lebih dari 20% dalam periode yang sama.

Perbandingan ini memperlihatkan bahwa, di saat tekanan ekonomi makro meningkat, logam mulia tradisional masih menjadi primadona dalam portofolio investor dan menyalip aset digital berprofil tinggi sekalipun.

Seiring tekanan geopolitik dan kebijakan moneter terus berlanjut, volatilitas baru emas sepertinya masih akan menjadi sorotan dan menyediakan peluang sekaligus risiko bagi trader yang mencari perlindungan dari fluktuasi pasar secara umum.

Chart of the Day

Indeks Volatilitas Emas | Sumber: TradingView

Byte-Sized Alpha

Berikut ringkasan berita kripto AS lain yang patut dipantau hari ini:

Ringkasan Pre-Market Saham Kripto

PerusahaanPenutupan per 3 FebruariRingkasan Pre-Market
Strategy (MSTR)US$133,26US$132,55 (-0,53%)
Coinbase (COIN)US$179,66US$178,89 (-0,43%)
Galaxy Digital Holdings (GLXY)US$21,98US$22,11 (+0,59%)
MARA Holdings (MARA)US$9,05US$8,99 (-0,66%)
Riot Platforms (RIOT)US$15,34US$15,32 (-0,13%)
Core Scientific (CORZ)US$17,74US$17,65 (-0,51%)
Balapan pembukaan pasar saham kripto: Google Finance

Solana (SOL) Unstaking Naik 150% — Pasokan Cair Bertambah Buka Jalan Harga ke US$65?

4 February 2026 at 15:00

Harga Solana masih mendapat tekanan berat di awal Februari, dengan token ini sudah turun hampir 30% dalam 30 hari terakhir dan bergerak dalam channel menurun yang makin melemah. Harga terus turun mendekati batas bawah channel ini karena keyakinan jangka panjang semakin luntur.

Pada saat yang sama, aktivitas staking bersih ambruk, pembelian di exchange juga melambat, dan trader jangka pendek mulai membangun posisi lagi. Semua sinyal ini menunjukkan makin banyak SOL yang tersedia untuk dijual, justru ketika support teknikal makin lemah.


Staking Collapse Bertemu Risiko Breakdown Channel Menurun

Pelemahan terbaru Solana makin terlihat dari penurunan tajam aktivitas staking. Data perbedaan staking Solana melacak perubahan bersih mingguan SOL yang terkunci di akun staking native. Angka positif berarti terjadi staking baru, sementara angka negatif menunjukkan ada unstaking bersih.

Pada akhir November, keyakinan jangka panjang masih kuat. Pada minggu yang berakhir 24 November, akun staking mencatat inflow bersih lebih dari 6,34 juta SOL, menandakan fase akumulasi besar.

Sekarang tren itu sudah sepenuhnya berbalik. Pada pertengahan Januari, arus staking mingguan berubah menjadi negatif. Pada minggu yang berakhir 19 Januari, tercatat unstaking bersih sekitar –449.819 SOL. Lalu pada 2 Februari, memburuk jadi –1.155.788 SOL, atau melonjak sekitar 150% hanya dalam dua minggu.

Staking Ambruk
Staking Ambruk: Dune

Mau insight token seperti ini lagi? Daftar ke Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.

Ini berarti makin banyak SOL yang ter-unlock dari staking dan kembali ke sirkulasi cair. Setelah unstaked, token ini bisa langsung dipindahkan ke exchange dan dijual, sehingga risiko penurunan makin meningkat.

Penurunan ini terjadi saat harga bergerak dekat batas bawah descending channel, dengan kemungkinan breakdown sebesar 30% sedang mengancam.

Struktur Harga SOL Bearish
Struktur Harga SOL Bearish: TradingView

Saat SOL bertahan di kisaran US$96, kombinasi kelemahan teknikal dan suplai cair yang meningkat menciptakan situasi berisiko. Jika tekanan jual makin deras, support channel bisa saja jebol.


Pembelian di Exchange Melambat saat Spekulan Meningkatkan Eksposur

Penurunan aktivitas staking kini juga tercermin pada arus di exchange. Exchange Net Position Change adalah data pergerakan SOL yang masuk dan keluar dari exchange dalam periode 30 hari secara rolling. Angka negatif berarti ada outflow dan akumulasi, sementara angka yang naik menandakan permintaan mulai melemah.

Pada 1 Februari, metrik ini masih sekitar –2,25 juta SOL yang menunjukkan tekanan beli kuat. Tetapi, pada 3 Februari, angkanya turun ke –1,66 juta SOL. Dalam dua hari, outflow exchange turun sekitar 26%, menandakan akumulasi SOL makin melambat.

Outflow Exchange Melambat
Outflow Exchange Melambat: Glassnode

Penurunan pembelian ini terjadi saat unstaking SOL makin cepat, sehingga jumlah SOL untuk diperdagangkan bertambah. Ketika suplai naik tapi permintaan malah melemah, harga pun makin rentan terhadap penurunan tajam.

Pada saat yang sama, aktivitas spekulatif juga meningkat.

Data HODL Waves, yang membagi wallet berdasarkan waktu memegang token, menunjukkan kelompok holder satu hari sampai satu minggu meningkatkan pangsanya dari 3,51% jadi 5,06% dari 2 Februari sampai 3 Februari. Kelompok ini adalah holder Solana jangka pendek yang biasanya masuk saat volatilitas lalu keluar dengan cepat.

Kelompok Spekulatif Membeli
Kelompok Spekulatif Membeli: Glassnode

Perilaku serupa terjadi juga di akhir Januari. Pada 27 Januari, kelompok ini memegang 5,26% suplai saat SOL ada di dekat US$127. Sampai 30 Januari, proporsinya turun ke 4,31% saat harga SOL anjlok ke US$117, atau turun hampir 8%.

Pola ini menandakan dana spekulatif lebih banyak berburu pantulan jangka pendek dan bukannya memegang lama, sehingga risiko pantulan harga yang cepat pudar makin besar.


Level Harga Solana Kunci Masih Mengarah ke Risiko US$65

Struktur teknikal masih terus mencerminkan kelemahan yang terlihat pada data on-chain. SOL masih terkunci di dalam channel menurun yang telah membawa harga turun sejak November. setelah kehilangan zona support penting di US$98, saat ini harga SOL diperdagangkan di sekitar US$96, dan mendekati batas bawah channel tersebut.

Jika support ini gagal bertahan, target penurunan besar berikutnya berada di sekitar US$67 berdasarkan proyeksi Fibonacci. Pergerakan turun yang lebih dalam bisa membawa harga ke sekitar US$65, yang sesuai dengan breakdown channel sebesar 30% secara penuh.

Di sisi atas, peluang pemulihan masih sulit. Level pertama yang harus direbut kembali oleh Solana adalah US$98, lalu resistance yang lebih kuat di sekitar US$117, yang menahan beberapa reli pada Januari. Pergerakan yang bertahan di atas US$117 dibutuhkan agar struktur bearish bisa dinetralkan.

Analisis Harga Solana
Analisis Harga Solana | Sumber: TradingView

Sampai saat itu tercapai, risiko penurunan tetap tinggi.

Dengan staking yang runtuh, pembelian di exchange yang melemah, dan posisi spekulatif yang meningkat, semakin banyak SOL beredar di pasar ketika support teknikal juga melemah. Kecuali akumulasi jangka panjang kembali terjadi, Solana masih rawan terkoreksi lebih dalam ke US$65.

Stellar (XLM) Turun di Bawah US$0,20, namun Aktivitas On-Chain Catat Rekor Tertinggi

4 February 2026 at 14:42

Stellar (XLM) telah turun di bawah US$0,20. Pergerakan ini menghapus seluruh pemulihan yang dicapai pada tahun lalu. Walaupun begitu, beberapa sinyal positif menunjukkan banyak investor masih bertahan dalam ekosistem ini.

Selain itu, real-world assets (RWA) dan stablecoin bisa menjadi penggerak utama akumulasi XLM berikutnya.

Tanda Positif untuk Stellar (XLM) meski Harga Turun Tajam

Data dari DefiLlama memperlihatkan jumlah XLM yang terkunci di protokol DeFi pada jaringan Stellar mencapai rekor tertinggi baru di awal Februari 2026. Jumlahnya melampaui 900 juta XLM.

Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan ekosistem DeFi Stellar. Hal ini terjadi walau XLM masih terus turun di bawah level support utama tahun ini di US$0,20.

Total Value Locked pada Stellar dalam XLM. Sumber: DefiLlama
Total Value Locked pada Stellar dalam XLM | Sumber: DefiLlama

Walaupun TVL Stellar yang dihitung dalam dolar kini berada di kisaran US$163 juta, lonjakan jumlah XLM yang terkunci menegaskan kepercayaan kuat dari komunitas dan investor jangka panjang terhadap potensi adopsi jaringan ini.

Protokol utama yang mendorong masuknya dana ini antara lain Blend, yaitu protokol likuiditas yang memungkinkan siapa saja menciptakan pasar pinjaman fleksibel di Stellar, dan Aquarius Stellar, protokol AMM sekaligus lapisan manajemen likuiditas untuk jaringan ini. Kedua protokol ini secara total menyumbang hampir 70% dari total TVL.

Data Artemis juga menunjukkan sinyal penting lainnya. Pengguna aktif mingguan dalam ekosistem Stellar tetap stabil di sekitar 60.000 selama beberapa minggu terakhir. Tidak terlihat penurunan signifikan walaupun harga XLM mengalami dump besar.

Pengguna Baru dan Kembali di Stellar. Sumber: Artemis
Pengguna Baru dan Kembali di Stellar | Sumber: Artemis

Grafik tersebut memperlihatkan bahwa di akhir tahun 2024, saat XLM turun di bawah US$0,10 sebelum naik ke US$0,60, aktivitas pengguna tetap stabil bahkan cenderung meningkat.

Hal ini menunjukkan bahwa pengguna Stellar tidak meninggalkan jaringan, walaupun modal terus keluar dari pasar aset kripto secara luas. namun, kurangnya pengguna baru saat ini bisa menjadi alasan kenapa XLM belum pulih.

Metode analisis derivatif juga menandakan bahwa XLM bisa saja memasuki zona konsolidasi baru. Volume Open Interest turun ke level terendah sejak November 2024. Penurunan ini mencerminkan pengurangan tajam eksposur leverage dari para trader.

Stellar Open Interest. Sumber: Coinglass
Stellar Open Interest | Sumber: Coinglass

Akibatnya, volatilitas tinggi kemungkinan mulai mereda. XLM kini bisa bergerak ke fase sideways, dengan tekanan jual-beli leverage yang berkurang. Kondisi seperti ini biasanya menciptakan zona akumulasi baru.

namun, mengidentifikasi titik dasar pasar dan menentukan waktu pemulihan masih sangat sulit di tengah kondisi pasar saat ini.

Aset Dunia Nyata dan Stablecoin Bisa Jadi Penggerak Utama Stellar di 2026

Sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu menyebutkan bahwa total nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi di Stellar, di luar stablecoin, telah mencapai US$1 miliar pada awal tahun ini.

Santiment, platform analitik pasar kripto, juga melaporkan bahwa Stellar termasuk dalam empat besar proyek RWA teratas berdasarkan aktivitas pengembangan GitHub sejak awal tahun ini.

“XLM bukan sekadar tambahan spekulatif. XLM memang diperlukan untuk transaksi, operasi akun, dan aktivitas jaringan. Seiring volume RWA tumbuh, penggunaan $XLM ikut meningkat — bukan secara siklikal, tapi mendasar,” ujar Scopuly, penyedia wallet Stellar.

Kapitalisasi pasar stablecoin Stellar masih tergolong kecil di sekitar US$200 juta. namun, MoneyGram, salah satu perusahaan jasa remitansi internasional dan pembayaran P2P terbesar di dunia, baru-baru ini kembali menegaskan stabilitas instrumen stablecoin berbasis dolar AS miliknya. Perusahaan ini juga terus mengujinya di Stellar.

USD-backed stablecoins can unlock access to stability in even the most volatile economies.

That's why we piloted stablecoins in the MoneyGram® Money Transfers App in Colombia with @StellarOrg, @Crossmint and @USDC.

— MoneyGram (@MoneyGram) February 3, 2026

Oleh karena itu, permintaan terhadap RWA dan stablecoin bisa menjadi penggerak utama akumulasi XLM, apalagi ketika token ini menghadapi tekanan jual yang sangat kuat di level terendah saat ini.

Teori ‘Feature, Not a Bug’ dari Ketua BitMine Gagal Tarik Pembeli saat BMNR Lanjutkan Penurunan 30%

4 February 2026 at 13:00

Harga saham BMNR tetap tertekan pada awal Februari karena aksi jual terus berlanjut di saham-saham yang terhubung dengan aset kripto. Saham ini turun hampir 25% dalam lima hari dan lebih dari 33% dalam satu bulan, diperdagangkan di sekitar US$22,35.

Meskipun manajemen membela kerugian kertas yang dipicu aset kripto sebagai bagian dari strategi jangka panjang, data pasar menunjukkan kelemahan teknikal masih mengendalikan perilaku investor—dan semakin mendorong mereka menjauh, walaupun ada pembelaan unik dari Chairman BitMine, Tom Lee.

Kerugian Treasury Ethereum Picu Pembelaan ‘Fitur, Bukan Bug’

Kekhawatiran terhadap neraca keuangan BitMine semakin meningkat setelah data menunjukkan kerugian belum terealisasi yang besar pada kas Ethereum milik perusahaan.

Hingga 3 Februari, BitMine telah menginvestasikan sekitar US$14,95 miliar ke dalam kepemilikan ETH. Namun, nilai pasar saat ini turun menjadi sekitar US$8,53 miliar, sehingga menandakan kerugian di atas kertas lebih dari US$6,4 miliar.

Pada saat yang sama, harga Ethereum berada di kisaran US$2.200, jauh di bawah rata-rata biaya akuisisi BitMine yang sekitar US$3.800. Selisih ini menyoroti betapa dalamnya posisi kas perusahaan sudah negatif.

Kepemilikan BitMine
Kepemilikan BitMine | Sumber: CryptoQuant

Ingin insight token lain seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Angka-angka ini memicu kritik dari pengamat pasar, yang berpendapat bahwa kerugian belum terealisasi sebesar itu bisa membatasi potensi keuntungan di masa depan dan memberi tekanan terhadap pengembalian bagi pemegang saham. Beberapa pihak memperingatkan bahwa akumulasi ETH pada akhirnya dapat menjadi suplai penjualan.

BMNR is now sitting on a -$6.6 Billion dollar unrealized LOSS on the ETH they've accumulated. This is ETH in the future that will be sold, putting a future ceiling on ETH prices. Tom Lee was the final exit liquidity for OG ETH whales to get out of their worthless token. https://t.co/FmD8qPcFub pic.twitter.com/oRgvUOy1CM

— Flood (@ThinkingUSD) February 3, 2026

Menanggapi hal tersebut, Chairman Tom Lee membela strategi itu dan mengatakan bahwa penurunan seperti ini adalah “sebuah fitur, bukan bug.” Ia berpendapat bahwa siklus aset kripto memang secara alami melibatkan kerugian sementara, serta BitMine memang dirancang untuk terus mengakumulasi di masa sulit agar bisa mengungguli pasar dalam jangka panjang.

These tweets miss the point of an ethereum treasury:
– BitMine is designed to track the price of $ETH
– outperform over the cycle (think up ETH)
– crypto is in a downturn, so naturally ETH is down$BMNR will see “unrealized” losses on our holdings of ETH during these times:
-… https://t.co/VpoNjAnJdC

— Thomas (Tom) Lee (not drummer) FSInsight.com (@fundstrat) February 3, 2026

Walau sudah ada penjelasan tersebut, saham BMNR tetap gagal menarik minat beli jangka panjang setelah komentar itu dilontarkan.

OBV dan CMF Tunjukkan Pembeli Menjauh setelah Breakdown

Data partisipasi pasar menunjukkan para investor sebenarnya sudah mulai keluar sebelum perdebatan publik makin ramai.

On-Balance Volume (OBV) melacak tekanan beli dan jual secara kumulatif dengan menambah volume saat harga naik dan menguranginya saat harga turun, sehingga mencerminkan apakah para trader sedang mengakumulasi atau mendistribusikan saham.

Dari awal Desember hingga akhir Januari, OBV membentuk titik terendah yang semakin tinggi, menandakan akumulasi yang stabil. Namun, antara 28 sampai 29 Januari, OBV menembus garis tren naiknya. Hal ini menunjukkan kemungkinan trader ritel maupun jangka pendek mulai mendistribusikan sahamnya.

Pembeli Ritel Pergi
Pembeli Ritel Pergi | Sumber: TradingView

Setelah OBV melemah, modal besar bergaya institusi juga ikut keluar.

Chaikin Money Flow (CMF) mengukur apakah dana sedang masuk atau keluar dari suatu aset dengan melihat harga dan volume. Angka di atas nol mengindikasikan akumulasi, sementara angka negatif menandakan arus modal keluar.

Sejak 30 Januari, CMF turun tajam dan tetap berada di bawah nol. Hal ini menegaskan bahwa pembeli bermodal besar mengurangi eksposur saat harga BMNR mendekati level support penting. Kedua indikator itu selaras dengan struktur grafik harga.

Selama Desember dan Januari, BMNR sempat membentuk pola head-and-shoulders. Ketika harga gagal menembus neckline dan akhirnya breakdown pada 2 Februari (pola gap-down), OBV dan CMF langsung mengonfirmasi pergerakan tersebut.

Modal Besar Tinggalkan BitMine
Modal Besar Tinggalkan BitMine | Sumber: TradingView

Berturut-turut, volume ritel melemah lebih dulu, arus modal besar keluar berikutnya, dan terakhir harga ambruk. Narasi kas ETH sebagai “fitur, bukan bug” yang digaungkan tidak berhasil membalikkan aksi jual yang digerakkan arus tersebut.

Level Harga Saham BMNR yang Penting Tentukan Langkah Berikutnya

Setelah menembus neckline head-and-shoulders dan garis tren naik, harga saham BMNR kembali ke tren turun jangka panjang, dengan potensi penurunan lebih dari 30%.

Saat ini ada beberapa level yang menjadi patokan. Dari sisi penurunan, support awal berada di sekitar US$19,26 jika harga saham BMNR gagal merebut kembali US$22,52 pada timeframe harian. Di bawah US$19,26, level utama berikutnya ada di kisaran US$16,71, yang sejalan dengan proyeksi teknikal penuh dari pola bearish tersebut.

Jika tekanan jual semakin tajam, penurunan lanjutan bisa menargetkan area sekitar US$9,87 dan membawa saham turun ke level satu digit. Untuk sisi kenaikan, peluang pemulihan masih sangat sulit.

Resistance pertama ada di dekat US$22,52. Harga saham BMNR harus kembali menembus level ini agar penurunan bisa melambat. Di atas itu, resistance berikutnya muncul di US$25,07 dan US$28,66. Zona-zona ini perlu dilampaui untuk memberi sinyal stabilisasi awal.

Analisis Harga BMNR
Analisis Harga BMNR | Sumber: TradingView

Perubahan tren yang lebih luas akan membutuhkan pergerakan di atas US$34,46, lalu konfirmasi di sekitar US$42. Untuk saat ini, baik OBV maupun CMF masih terlihat lemah, yang menunjukkan bahwa pembeli belum kembali dengan kuat. Sebelum arus modal berubah positif dan resistance utama berhasil ditembus kembali, tekanan teknikal nampaknya akan tetap mendominasi pergerakan harga saham BMNR.

Tim Inti Pi Pindahkan Lebih dari 500 Juta Pi di Awal Februari saat Token Turun Lebih dari 94%

4 February 2026 at 11:20

Hampir satu tahun penuh telah berlalu sejak Pi membuka jaringannya dan terdaftar di exchange. Namun, kinerja harga Pi mengecewakan banyak Pioneer, karena token ini telah turun sekitar 94% dari harga tertingginya. Aktivitas terbaru menunjukkan tim inti Pi mungkin sedang menyiapkan rencana baru untuk memperkuat ekosistemnya.

Di saat yang sama, tekanan unlock yang berat memicu kekhawatiran bahwa tren penurunan bisa semakin parah.

Tim Inti Pi Memindahkan Lebih dari 500 Juta Pi di Awal Februari

Alamat wallet yang diberi label oleh Piscan — platform pelacak data Pi Network — sebagai milik Pi Core Team tercatat melakukan beberapa transaksi besar pada awal Februari. Aktivitas ini muncul saat harga Pi turun sekitar 25% sejak awal tahun, diperdagangkan di kisaran US$0,16.

Satu transaksi besar melibatkan wallet PI Foundation 1 mengirimkan 500 juta Pi yang nilainya lebih dari US$80 juta. Wallet tersebut tidak mentransfer Pi ke exchange. Sebaliknya, dana tersebut dikirim ke wallet internal lain yang juga diberi label PI Foundation 1.

Pemindahan ini dilakukan setelah pengumuman dari Pi Core Team menyampaikan bahwa lebih dari 16 juta Pioneer telah menyelesaikan migrasi Mainnet. Sekitar 2,5 juta Pioneer yang sebelumnya diblokir karena pemeriksaan keamanan kini sudah dibuka blokirnya dan bisa melakukan migrasi.

Nearly 2.5 million Pioneers in certain regions are unblocked by a new technical update to migrate to Mainnet, if they’ve completed the Mainnet Checklist and are active in mining. Over 700,000 additional accounts can also soon submit KYC applications! With these updates, more…

— Pi Network (@PiCoreTeam) February 2, 2026

Tim juga mengumumkan bahwa dalam beberapa minggu ke depan, lebih dari 700.000 Pioneer akan mendapat akses untuk mengajukan KYC. Selain itu, sistem distribusi hadiah untuk validator KYC sedang diuji. Peluncuran sistem ini dijadwalkan pada akhir Maret 2026.

Banyak Pioneer meyakini bahwa transfer on-chain yang dilakukan tim adalah persiapan untuk rencana ke depan.

“Update ini merefleksikan upaya berkelanjutan untuk memperluas akses KYC dan migrasi Mainnet, sehingga partisipasi di ekosistem Pi semakin meluas,” demikian ujar Pi Network.

Dari sisi positif, makin banyak Pioneer yang menyelesaikan migrasi Mainnet bisa membuat ekosistem Pi jadi lebih aktif dan meningkatkan permintaan. Tapi, hal ini juga dapat menguji kepercayaan investor jangka panjang, mendorong holder untuk memilih apakah akan menjual atau tetap menyimpan tokennya.

Lebih dari 193 Juta Pi Akan Unlock di Februari

Data Piscan menunjukkan lebih dari 193 juta Pi akan unlock pada bulan Februari, dengan nilai lebih dari US$31 juta. Ini merupakan jumlah unlock terbesar yang terjadwal dari sekarang hingga Oktober 2027.

Statistik Unlock Pi per Bulan. Sumber: Piscan
Statistik Unlock Pi per Bulan | Sumber: Piscan

Rata-rata, 30 hari ke depan akan terjadi unlock lebih dari 7 juta Pi per hari, setara sekitar US$1,1 juta.

Laporan BeInCrypto baru-baru ini mengungkap volume perdagangan Pi di exchange turun tajam. Volume harian tetap lemah, belum menunjukkan perbaikan, dan masih di bawah US$20 juta. Volume yang rendah ditambah tekanan unlock tinggi menciptakan kombinasi negatif yang terus menekan harga.

Namun, awal Februari memperlihatkan ada tanda-tanda permintaan mulai kembali. Data saldo exchange yang dikumpulkan Piscan mengindikasikan cadangan Pi di exchange mulai menurun setelah berbulan-bulan tetap tinggi.

Cadangan Pi di CEX per Bulan | Sumber: Pisan

Saat ini, saldo Pi di exchange berada di kisaran 419,9 juta Pi, turun dari 427 juta Pi bulan lalu. Walaupun penurunan ini masih kecil, namun hal ini menunjukkan akumulasi dini mungkin sedang berjalan saat harga masih rendah.

Analisis terbaru BeInCrypto menilai sentimen positif bisa saja kembali. Bulan Februari dianggap sebagai bulan peringatan debut Pi Network di exchange. Investor juga berharap pada perayaan Pi Day di bulan Maret.

Standard Chartered: “Buy Quality” saat Harga Solana Turun Buka Peluang Outperformance Jangka Panjang

4 February 2026 at 11:09

Standard Chartered mendesak investor untuk melihat peluang jangka panjang di aset digital dan fokus pada apa yang mereka sebut sebagai proyek blockchain “berkualitas”.

Pernyataan ini muncul ketika aksi jual baru-baru ini mengubah nilai relatif di pasar kripto.

Standard Chartered Dukung Ethereum dan Solana untuk Kinerja Lebih Baik dalam Jangka Panjang meski Volatilitas Jangka Pendek

Geoff Kendrick, Kepala Riset FX dan Aset Digital di bank tersebut, menyampaikan bahwa ia sedang aktif melakukan akumulasi selama penurunan harga. Menurut analis itu, koreksi pasar ini adalah momen penting untuk penempatan modal jangka panjang.

“Saya membeli di penurunan harga aset digital ini,” ujar Kendrick melalui email kepada BeInCrypto. “Selain itu, saya meyakini ini adalah awal dari perbedaan performa aset digital yang lebih besar, di mana proyek berkualitas akan unggul.”

Berdasarkan kerangka tersebut, Standard Chartered tetap memfavoritkan Ethereum dan Solana sebagai eksposur layer-1 utama mereka. Kendrick pun menegaskan kembali pandangan tersebut dan menambahkan:

“Saya sebelumnya sudah menyoroti pandangan saya bahwa Ethereum adalah salah satu proyek berkualitas. Dan di sini saya menegaskan hal yang sama untuk Solana. Beli proyek berkualitas.”

Baru-baru ini, Standard Chartered menyatakan bahwa mereka melihat Ethereum mengungguli Bitcoin karena dominasinya di DeFi, upgrade skalabilitas, dan kejelasan regulasi.

Namun, bank tersebut menurunkan ekspektasi jangka pendek untuk Solana. Standard Chartered memangkas proyeksi harga SOL di akhir 2026 menjadi US$250 dari sebelumnya US$310. Dalam hal ini, mereka menyebutkan waktu yang dibutuhkan untuk use case berikutnya di jaringan ini agar benar-benar matang.

“Kami menurunkan proyeksi harga di akhir tahun 2026 menjadi US$250, karena use case utama Solana berikutnya mungkin membutuhkan waktu,” terang Kendrick.

Meski memangkas target jangka pendek, bank tersebut justru menaikkan proyeksi jangka panjangnya, dengan alasan keunggulan struktural Solana tetap terjaga.

Performa Harga Solana (SOL)
Performa Harga Solana (SOL) | Sumber: TradingView

Perubahan Solana dari Meme Coin ke Micropayment Bisa Dorong Kinerja Jangka Panjang

Menurut Standard Chartered, arsitektur Solana yang sangat cepat dan berbiaya sangat rendah memposisikan jaringan itu untuk mendominasi transaksi mikro di masa depan. Kendrick memaparkan, hal ini semakin relevan seiring aplikasi berbasis AI serta transaksi berbasis stablecoin semakin populer.

“Kami menaikkan proyeksi setelahnya, karena kami melihat Solana pada akhirnya akan mendominasi ruang micropayment,” tutur Kendrick.

Jika skenario itu terjadi, bank tersebut memperkirakan SOL akan mengungguli Bitcoin pada periode 2027 hingga 2030, walau pertumbuhannya menuju level Ethereum akan berlangsung secara bertahap seiring pengembangan ekosistemnya.

Laporan itu juga menyoroti adanya pergeseran penting di decentralized exchange Solana. Jika sebelumnya Solana dikenal aktif dengan pergerakan meme coin, kini arus transaksi mulai beralih ke pasangan perdagangan SOL-stablecoin.

Stablecoin ini, terang Standard Chartered, berputar dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan stablecoin di jaringan Ethereum.

Perkembangan tersebut dapat membantu Solana meninggalkan “diskon meme coin”, yang sebelumnya menekan valuasi dan membuat pelaku TradFi enggan masuk.

Analis Dukung Narasi Kemenangan Kualitas dari Standard Chartered

Banyak komentator pasar sependapat dengan narasi “proyek berkualitas akan unggul” dari bank tersebut. Investor Mike Alfred menggambarkan penurunan ini sebagai pergerakan risk-off yang wajar.

“…ini adalah pergerakan risk-off biasa di mana aset dengan kualitas terendah turun paling dalam, lalu segalanya berbalik naik… Di saat inilah uang sebenarnya dibuat,” tulis Alfred, menanggapi koreksi pasar baru-baru ini.

Pengembang sekaligus investor Mike Ippolito pun berpendapat serupa dan menilai sentimen di pasar terlalu pesimis.

“Saya rasa saat ini orang terlalu pesimis pada ETH dan SOL,” ucap dia, sambil menyebut blockchain layer-1 sebagai “Amazon atau Google di zaman kita” karena pasar yang bersifat global, hambatan masuk yang tinggi, dan potensi penghasil biaya besar.

Standard Chartered memperkirakan Solana masih akan tertinggal dibanding Ethereum hingga 2026 dan masuk 2027. namun setelah periode itu, bank melihat adanya fase penyeimbangan didorong oleh skala, utilitas, dan keunggulan biaya.

Menurut Kendrick, volatilitas saat ini bukan tanda peringatan, melainkan proses penyaringan, yang akhirnya bisa memberi keuntungan bagi investor berani membeli aset berkualitas saat pasar masih belum stabil.

❌