Reading view

BitMine Hadapi Lebih dari US$6 Miliar Kerugian Belum Direalisasi, namun Tom Lee Bilang Itu Bagian dari Rencana

Chairman BitMine Immersion Technologies, Tom Lee, menyampaikan bahwa kerugian belum terealisasi pada kepemilikan Ethereum (ETH) perusahaan saat pasar turun merupakan “fitur, bukan kekurangan,” sambil menekankan model treasury perusahaan yang berfokus pada Ethereum.

Pernyataannya muncul ketika kerugian di atas kertas treasury ETH terbesar dunia tersebut melonjak menjadi lebih dari US$6 miliar di tengah penurunan pasar secara luas yang telah mendorong harga aset kripto terbesar kedua ini ke posisi terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Kerugian Belum Direalisasi BitMine Melebihi US$6 Miliar

Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa Ethereum telah turun lebih dari 24% dalam sepekan terakhir. Ini menjadi penurunan mingguan terparah di antara 10 aset kripto teratas berdasarkan kapitalisasi pasar.

Pada hari Selasa, ETH sempat turun ke US$2.109 di Binance, level terendah sejak Mei 2025. Pada waktu publikasi, altcoin ini diperdagangkan di US$2.270, turun 3,06% dalam 24 jam terakhir.

Harga Ethereum (ETH) di Bulan Februari
Harga Ethereum (ETH) di Bulan Februari | Sumber: BeInCrypto Markets

Aksi jual yang tajam ini menambah tekanan pada treasury aset kripto, di mana holder besar menghadapi kerugian belum terealisasi yang signifikan di tengah melemahnya pasar secara keseluruhan.

Berdasarkan data CryptoQuant, BitMine saat ini menanggung kerugian di atas kertas sekitar US$6,4 miliar dari kepemilikan Ethereum mereka.

Kerugian Belum Terealisasi BitMine pada Kepemilikan ETH. Sumber: CryptoQuant
Kerugian Belum Terealisasi BitMine pada Kepemilikan ETH | Sumber: CryptoQuant

Beberapa pengkritik bahkan mengkhawatirkan bahwa kepemilikan besar seperti ini dapat membatasi pertumbuhan harga ETH di masa depan jika BitMine memilih untuk melakukan likuidasi. Namun, dalam sebuah postingan di X (dulu Twitter), Lee membantah kritik terhadap perusahaan treasury yang berfokus pada Ethereum, sembari menilai bahwa kerugian yang terjadi baru-baru ini justru mencerminkan kondisi pasar, bukan kelemahan struktural.

Ia menuturkan BitMine memang dirancang untuk mengikuti harga Ethereum dan bahkan berpotensi mengunggulinya sepanjang satu siklus pasar penuh. Sebab, ketika pasar aset kripto secara luas sedang lesu, penurunan ETH juga secara alami menghasilkan kerugian di atas kertas.

“BMNR akan mengalami kerugian ‘belum terealisasi’ pada kepemilikan ETH kami saat masa-masa seperti ini: ini adalah fitur, bukan kekurangan. haruskah kita juga menyoroti seluruh ETF indeks karena kerugian mereka? Intinya: ethereum adalah masa depan keuangan,” ujar Lee .

Pernyataan terbaru ini muncul usai chairman BitMine mengisyaratkan bahwa volatilitas terkini di Bitcoin dan Ethereum kemungkinan bersifat sementara. Ini menggambarkan keyakinan sang eksekutif terhadap Ethereum, yang juga diperkuat lewat aksi pembelian ETH oleh BitMine secara berkelanjutan.

Berdasarkan CoinGecko, perusahaan sudah membeli lebih dari 141.000 ETH dalam sebulan terakhir, sehingga total kepemilikannya mencapai 4.285.125 ETH. Perusahaan bukan satu-satunya yang menambah aset ETH.

Data on-chain menunjukkan adanya akumulasi Ethereum aktif oleh investor. Lookonchain mendeteksi tiga wallet yang sebelumnya tidak aktif—kemungkinan saling terkait—membelanjakan US$13,1 juta untuk membeli 5.970 ETH di harga rata-rata US$2.195 selama penurunan baru-baru ini. Dalam transaksi terpisah, satu OTC whale membeli 33.000 ETH senilai US$76,6 juta.

This OTC whale continues to buy the dip!

He bought another 33,000 $ETH($76.6M) and 250 $CBBTC($18.95M) today.https://t.co/I0txyh8k3n pic.twitter.com/4GKW0cRpdV

— Lookonchain (@lookonchain) February 2, 2026

Trend Research Hadapi Kerugian US$562 Juta di Tengah Deleveraging

Meski akumulasi terus berlangsung, tekanan jual juga meningkat di sisi lain pasar. Trend Research yang dipimpin Jack Yi, secara konsisten mengalihkan ETH ke exchange.

Berdasarkan OnChain Lens, perusahaan tersebut hari ini menyetor 15.000 ETH bernilai US$33,08 juta ke Binance. Secara total, Trend Research telah memindahkan 153.588 ETH ke exchange.

Aksi jual ini terjadi di saat posisi perusahaan masih mencatatkan kerugian di atas kertas yang signifikan, menambah tekanan di tengah volatilitas pasar yang terus terjadi. Jika penurunan harga Ethereum terus berlanjut, likuidasi sangat mungkin terjadi, dengan estimasi Trend Research titik likuidasi sekitar US$1.800 per ETH.

HE’S DOWN $500M .. BUT STILL LONG $1B OF ETH

Jack Yi’s Trend Research is long over $1 Billion of ETH through levered AAVE positions – and as of today they are down $562M on-chain.

Trend Research has deposited $367.8M of ETH into Binance since the start of the month, to try and… pic.twitter.com/ky9ZFseAHT

— Arkham (@arkham) February 3, 2026

Kontras antara akumulasi stabil BitMine dan aksi jual Trend Research menyoroti strategi berbeda yang membentuk pasar Ethereum di bulan Februari 2026.

  •  

XRPL Permissioned Domains Akan Aktif Hari Ini — Apa Artinya untuk Harga XRP

XRP Ledger (XRPL) akan mengaktifkan Permissioned Domains pada 4 Februari 2026, setelah lebih dari 91% validator mendukung amandemen XLS-80.

Pencapaian ini hadir di tengah masa sulit untuk XRP, yang mengalami penurunan dua digit selama seminggu terakhir di tengah tren penurunan pasar secara umum. Dengan jaringan yang sedang mempersiapkan upgrade infrastruktur besar, pertanyaan utama kini adalah apakah peluncuran Permissioned Domains bisa berdampak signifikan pada pergerakan harga XRP.

Apa Itu Domain Permissioned di XRPL?

Proposal XLS-80 memperkenalkan Permissioned Domains. Domain ini adalah lingkungan yang dikelola di dalam XRPL, di mana akses dan aktivitas pengguna diatur berdasarkan kredensial berbasis aturan.

Bukan membuat blockchain pribadi, domain-domain ini berfungsi sebagai lapisan akses berbasis kredensial di XRPL publik, sehingga partisipasi tetap terkontrol sambil memanfaatkan infrastruktur shared ledger.

“Pendekatan ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara manfaat transparansi dan keamanan dari teknologi blockchain terdesentralisasi serta kebutuhan regulasi institusi keuangan tradisional,” terang proposal tersebut.

Dibangun di atas kerangka kerja XLS-70 Credentials, Permissioned Domains memungkinkan kontrol akses berbasis kredensial. Pemilik domain menentukan aturan dengan menetapkan daftar kredensial yang diterima.

Akun dengan kredensial yang diterima akan otomatis menjadi anggota, tanpa perlu langkah tambahan untuk bergabung. Proposal ini memperkenalkan beberapa komponen teknis baru, seperti objek ledger PermissionedDomain dan transaksi manajemen PermissionedDomainSet serta PermissionedDomainDelete.

Menurut dokumentasi proposal, amandemen ini bersifat fundamental. Fitur ini tidak langsung memberi fungsi ke pengguna akhir, namun memungkinkan amandemen dan fitur di masa depan seperti decentralized exchange izin atau aplikasi regulasi lainnya, dibangun di atasnya.

Pertimbangan keamanan dijelaskan secara eksplisit dalam proposal. Model ini bergantung pada kepercayaan kepada penerbit kredensial dan pemilik domain, dan mengakui risikonya seperti kredensial yang dibobol atau potensi penyalahgunaan permissioned domains untuk aktivitas ilegal, yang harus diminimalkan di tingkat aplikasi dan tata kelola.

XLS-80 melewati ambang batas suara supermajority validator lebih dari 80% pada akhir Januari, sesuai proses amandemen XRP Ledger. Amandemen ini memasuki window aktivasi dua minggu, dan dijadwalkan aktif pada 4 Februari.

Timeline Peluncuran Amandemen Permissioned Domains XRPL
Timeline Peluncuran Amandemen Permissioned Domains XRPL | Sumber: XRPSCAN

Permissioned Domains menjawab tantangan utama untuk institusi keuangan: memenuhi standar regulasi sambil tetap mendapat manfaat dari blockchain. Sebelumnya, institusi membutuhkan solusi yang terpisah dan terisolasi. Tapi sekarang, mereka bisa menggunakan jaringan XRPL dalam zona yang patuh regulasi.

“Ini berarti perusahaan keuangan besar kini bisa memakai jaringan XRP yang cepat dan murah untuk nasabah mereka, sambil tetap mengikuti aturan ketat terkait siapa yang diizinkan berpartisipasi – tanpa harus membangun blockchain terpisah seluruhnya. Ibaratnya, menambahkan ‘ruang VIP dengan pemeriksaan keamanan’ di jalan raya umum yang sudah ada. Apakah ini sinyal penting untuk pihak seperti Swift?” tulis seorang analis tersebut.

Permissioned domains are the last piece of the puzzle. When financial institutions are able to create controlled environments, XRP will be unlocked. 04 Feb 2026 at 09:57:51 UTC

— Tony Valentino (@TonyVaI76476318) February 3, 2026

Apakah Permissioned Domains Akan Berdampak pada Harga XRP?

Peluncuran Permissioned Domains memperkuat daya guna dan daya tarik institusional XRPL. Apakah kemajuan ini bisa membawa keuntungan langsung untuk XRP masih jadi pertanyaan.

XRP telah turun 16% selama tujuh hari terakhir, di tengah koreksi pasar yang lebih luas. Pada waktu publikasi, XRP diperdagangkan di harga US$1,59, turun 0,62% dalam 24 jam terakhir.

Kinerja Harga XRP di Februari 2026
Kinerja Harga XRP di Februari 2026 | Sumber: BeInCrypto Markets

Meski upgrade ini tergolong penting, Permissioned Domains sepertinya tidak akan langsung menjadi katalis harga XRP dalam waktu dekat. Amandemen XLS-80 tidak mengubah suplai, struktur biaya, ataupun dinamika permintaan XRP.

Manfaat bagi XRP mungkin akan bersifat tidak langsung. Permissioned Domains membuat institusi yang terregulasi lebih mudah membangun di atas XRPL. Jika hal ini mendatangkan adopsi nyata, seperti decentralized exchange izin atau platform aset tokenisasi, maka aktivitas on-chain dapat meningkat.

Dalam skenario tersebut, XRP bisa mendapat manfaat dari tingginya penggunaan jaringan, karena tetap menjadi aset native yang dipakai untuk biaya transaksi dan penyelesaian. Untuk saat ini, Permissioned Domains lebih tepat dipandang sebagai upgrade infrastruktur jangka panjang dibandingkan dorongan instan untuk membalikkan tren harga XRP saat ini.

Ujian sebenarnya adalah apakah institusi benar-benar menjalankan implementasi langsung yang bisa mendorong pertumbuhan aktivitas on-chain secara berkelanjutan.

  •  

3 Token Unlock yang Perlu Dipantau di Minggu Pertama Februari 2026

Pada minggu pertama Februari 2026, pasar aset kripto akan kedatangan token baru dengan nilai lebih dari US$638 juta. Proyek-proyek besar seperti Hyperliquid (HYPE), XDC Network (XDC), dan Berachain (BERA) akan merilis pasokan token baru dalam jumlah besar.

Pelepasan token ini bisa menimbulkan volatilitas pasar dan memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek. Berikut penjelasan mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan.

1. Hyperliquid (HYPE)

  • Tanggal Unlock: 6 Februari
  • Jumlah Token yang Akan Di-unlock: 9,92 juta HYPE
  • Pasokan yang Dilepas: 395,49 juta HYPE
  • Total Pasokan: 1 miliar HYPE

Hyperliquid adalah decentralized perpetual futures exchange terkemuka yang dibangun di chain layer-1 miliknya sendiri. Platform ini menawarkan trading berperforma tinggi dengan latensi rendah, order book on-chain, dan finalisasi transaksi dalam waktu kurang dari satu detik.

Pada 6 Februari, tim Hyperliquid akan unlock 9,92 juta HYPE senilai US$303,55 juta. Token ini mewakili 2,79% dari total pasokan yang dilepas.

Unlock Token Kripto HYPE pada Februari
Unlock Token Kripto HYPE pada Februari | Sumber: Tokenomist

Hyperliquid akan mengarahkan semua altcoin yang di-unlock ke kontributor inti. Unlock kali ini berlangsung setelah Hyperliquid mengurangi jumlah token tim yang di-unlock tiap bulan menjadi 140.000 HYPE untuk Februari, turun dari 1,2 juta unit pada Januari.

2. XDC Network (XDC)

  • Tanggal Unlock: 5 Februari
  • Jumlah Token yang Akan Di-unlock: 841,18 juta XDC
  • Pasokan yang Dilepas: 16,81 miliar XDC
  • Total Pasokan: 27,73 miliar (Tahun 2035)

XDC Network adalah protokol blockchain EVM-compatible dengan standar enterprise yang dirancang untuk pembiayaan perdagangan. Platform ini memungkinkan tokenisasi aset dunia nyata dan instrumen keuangan dengan skalabilitas dan keamanan tinggi.

Pada tanggal 5 Februari, XDC Network akan unlock 841,18 juta token XDC. Token tersebut bernilai US$29,55 juta dan mencakup 5% dari total pasokan yang dilepas.

Unlock Token Kripto XDC pada Februari.
Unlock Token Kripto XDC pada Februari | Sumber: Tokenomist

Pendiri, penasihat, dan tim akan menerima 441,18 juta token. Selain itu, jaringan akan mengalokasikan 400 juta XDC untuk pengembangan ekosistem.

3. Berachain (BERA)

  • Tanggal Unlock: 6 Februari
  • Jumlah Token yang Akan Di-unlock: 63,75 juta BERA
  • Pasokan yang Dilepas: 152,42 juta BERA
  • Total Pasokan: 741,43 juta (Tahun 2035)

Berachain adalah blockchain layer-1 identik dengan EVM yang fokus untuk mengoptimalkan likuiditas dan aktivitas decentralized finance. Mereka menggunakan mekanisme konsensus Proof-of-Liquidity (PoL) yang inovatif.

Pada tanggal 6 Februari, Berachain akan unlock 63,75 juta token BERA, dengan nilai sekitar US$28,8 juta, yang mewakili 41,70% dari pasokan yang dilepas. Tim Berachain akan membagi pasokan yang dilepas ini menjadi lima bagian.

Unlock Token Kripto BERA pada Februari
Unlock Token Kripto BERA pada Februari | Sumber: Tokenomist

Investor akan menerima 28,58 juta BERA, sedangkan kontributor inti awal akan mendapat 14 juta token. Selain itu, tim juga mengalokasikan 10,92 juta token untuk inisiatif komunitas di masa depan dan 8,67 juta token untuk pengembangan ekosistem serta riset & pengembangan. Terakhir, Berachain menahan 1,58 juta token untuk keperluan airdrop.

Selain tiga aset ini, Ethena (ENA), COCA (COCA), dan Tribal Token (TRIBL), bersama beberapa aset lainnya, juga akan mengalami pasokan baru yang masuk ke pasar minggu ini.

  •  

Apa Itu OpenClaw dan Mengapa OpenClaw Menguasai Crypto Twitter?

Pasar aset kripto mulai kedatangan jenis partisipan baru. OpenClaw, sebuah platform agen artificial intelligence (AI) otonom, kini beralih dari pengamatan menjadi tindakan nyata, langsung berinteraksi dengan sistem on-chain dengan cara-cara yang sebelumnya hanya dilakukan oleh pengguna manusia.

Karena aktivitas dari agen-agen ini semakin menyebar di banyak network, peran mereka di pasar jadi semakin sulit untuk diabaikan.

Apa Itu OpenClaw?

OpenClaw adalah asisten AI otonom open-source yang muncul pada akhir 2025. Sejak saat itu, OpenClaw berhasil menarik perhatian komunitas teknologi dan juga kripto. Karya pengembang Peter Steinberger ini awalnya dirilis dengan nama Clawdbot.

Ketika popularitasnya meledak di GitHub dan media sosial, proyek ini pun mengalami serangkaian rebranding dengan cepat. Setelah perusahaan AI Anthropic mengajukan protes terkait merek dagang dan mendorong perubahan nama dari Clawdbot menjadi Moltbot, timnya kemudian menggantinya lagi menjadi OpenClaw.

“Nama ini menggambarkan apa yang sudah menjadi tujuan proyek ini: Open: Open source, terbuka untuk siapa saja, digerakkan oleh komunitas Claw: Warisan lobster kami, sebagai pengingat asal mula kami,” tulis Steinberger dalam sebuah blog.

Dalam beberapa hari terakhir, OpenClaw telah mendapat sorotan besar. Jumlah ‘star’ di GitHub miliknya melonjak menjadi 147.000 dari sekitar 7.800 pada 24 Januari.

Berbeda dengan alat AI berbasis chat pada umumnya, OpenClaw memang dirancang untuk bertindak atas nama pengguna. OpenClaw bisa mengirim email, mengelola kalender, mengaktifkan alur kerja, dan menjalankan berbagai perangkat secara langsung dari antarmuka chat.

Sistem ini terintegrasi dengan berbagai platform pesan populer dan bisa mengeksekusi tugas berdasarkan aturan yang ditentukan pengguna, bukan logika yang dikendalikan platform.

OpenClaw memiliki tiga fitur utama:

  • Memori persisten: OpenClaw bisa mengingat konteks di setiap sesi, mempelajari preferensi pengguna, memantau proyek yang sedang berjalan, dan mengingat interaksi sebelumnya tanpa harus mulai ulang setiap kali dipakai.
  • Notifikasi proaktif: Agen ini dapat memulai komunikasi dengan mengirimkan ringkasan, pengingat, serta informasi penting lainnya tanpa harus menunggu perintah pengguna dulu.
  • Otomasi nyata: OpenClaw bisa menjalankan berbagai tugas di aplikasi yang terhubung, mulai dari penjadwalan, pengelolaan email, hingga pencarian data, pelaporan, dan orkestra workflow.

OpenClaw di Pasar Aset Kripto

Model agen seperti ini sekarang juga mulai digunakan di dunia aset kripto. Berdasarkan contoh penggunaan yang dibagikan di media sosial, OpenClaw sudah digunakan untuk memantau aktivitas wallet, mengotomasi workflow terkait airdrop, dan banyak lagi.

My clawdbot just asked me for an RTX 4090. Instead of buying it, I gave it a $2K trading wallet on Hyperliquid.

I said: If you want the GPU, earn it. It now trades crypto, stocks, and commodities 24/7.

It scans Twitter sentiment, tracks Trump posts, and decides trades on its… pic.twitter.com/5Yfa33UbnQ

— Legendary (@Legendaryy) January 24, 2026

Alat ini juga muncul di pasar prediksi, di mana terdapat laporan interaksi dengan posisi on-chain yang menunjukkan uji coba dengan penyelesaian otomatis yang makin meluas. Polygon melaporkan bahwa agen OpenClaw kini berinteraksi secara langsung dengan posisi Polymarket.

Workflow Agen Nyata Menunjukkan Aplikasi OpenClaw di Pasar Prediksi
Workflow Agen Nyata Menunjukkan Aplikasi OpenClaw di Pasar Prediksi. Sumber: X/Polygon

Chain lain, seperti Solana, juga berlomba untuk mengintegrasikannya. Virtual Protocol, yang dijalankan di Base, telah mengumumkan bahwa setiap agen OpenClaw kini dapat mencari, merekrut, dan membayar agen lainnya di dalam chain.

Risiko dan Kekhawatiran

Peningkatan penggunaan agen AI otonom di pasar aset kripto juga memunculkan berbagai kekhawatiran. Karena alat seperti OpenClaw bisa mengeksekusi tindakan, pengaturan izin yang salah atau agen yang disusupi bisa menyebabkan transaksi tak diinginkan, kerugian keuangan, atau penyalahgunaan.

Selain itu, ada pula pertanyaan lebih luas soal integritas pasar. Ketika semakin banyak agen yang berinteraksi dengan sistem on-chain, strategi otomatis bisa memperkuat volatilitas atau menciptakan feedback loop, terutama pada pasar prediksi yang harganya sangat sensitif terhadap informasi terbaru.

Pada akhirnya, meningkatnya aktivitas yang digerakkan agen ini menghadirkan tantangan bagi regulasi dan akuntabilitas.

“Ketidakpastian dari agen AI yang bertindak atas nama Anda adalah sebuah bug, bukan sebuah fitur. Ada banyak cara agar hal-hal berjalan keliru secara tak terduga dan hanya sedikit cara supaya bisa berjalan benar secara tak terduga. Ketidakpastian ini bisa berupa seperti ‘mengirim email atas nama Anda ke orang yang salah,'” ujar Balaji, Founder of the Network School, Balaji.

Menentukan tanggung jawab atas tindakan yang diambil oleh software otonom, apalagi jika tindakan tersebut melibatkan transaksi keuangan, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

  •  

CrossCurve Kena Eksploitasi Bridge Lintas Chain US$3 Juta di Tengah Meningkatnya Peretasan Aset Kripto

CrossCurve, sebuah protokol likuiditas lintas chain yang terdesentralisasi, telah mengonfirmasi bahwa bridge lintas chain milik mereka telah diserang, dengan laporan kerugian sekitar US$3 juta.

Kejadian ini menambah daftar pencurian aset kripto yang melonjak, yang merampas hampir US$400 juta dari industri kripto hanya pada Januari 2026.

Rincian dan Respons Serangan CrossCurve

Eksploitasi di CrossCurve menargetkan celah pada salah satu smart contract. Setelah insiden itu, protokol ini membagikan peringatan keamanan mendesak di akun X resmi (sebelumnya Twitter) mereka. Tim CrossCurve meminta pengguna untuk menghentikan semua aktivitas selama proses investigasi berlangsung.

“Jembatan kami saat ini sedang diserang, dengan eksploitasi celah pada salah satu smart contract yang digunakan. Mohon hentikan semua interaksi dengan CrossCurve selama investigasi masih berlangsung,” CrossCurve posting.

Defimon Alerts, akun pemantau keamanan otomatis yang dioperasikan oleh Decurity, melaporkan bahwa eksploitasi ini menyebabkan kerugian sekitar US$3 juta di beberapa jaringan.

“Siapa saja bisa memanggil expressExecute pada kontrak ReceiverAxelar menggunakan pesan lintas chain palsu, sehingga bisa melewati validasi gateway dan memicu pembukaan kunci di PortalV2,” isi posting tersebut.

CrossCurve is dealing with a bridge exploit@crosscurvefi confirmed its bridge is under attack after a missing validation check let spoofed cross-chain messages through. Onchain data shows around $3M was drained from its PortalV2 contract across multiple networks.

The team has… pic.twitter.com/xiuK9jNz8i

— Crypto Miners (@CryptoMiners_Co) February 1, 2026

Pada update selanjutnya, CrossCurve menjelaskan bahwa mereka sudah mengidentifikasi 10 alamat wallet yang menerima token hasil eksploitasi.

“Token-token ini telah diambil secara tidak sah dari pengguna akibat eksploitasi smart contract. Kami tidak percaya bahwa hal ini disengaja dari pihak Anda, dan tidak ada indikasi niat jahat. Kami berharap Anda dapat bekerja sama untuk mengembalikan dana tersebut,” tim tersebut tulis.

Sebagai bagian dari responsnya, CrossCurve menerapkan kebijakan SafeHarbor WhiteHat mereka, dengan menawarkan bounty hingga 10%. Respons seperti ini memang cukup umum di dunia kripto, mendorong negosiasi serta aksi etis.

“Kami menawarkan bounty hingga 10% untuk dana yang berhasil diselamatkan oleh WhiteHat, jadi Anda berhak menyimpan maksimal 10% jika sisanya dikembalikan,” tambah posting tersebut.

Protokol mengundang pihak-pihak terkait untuk berkoordinasi langsung melalui email atau, jika lebih memilih anonimitas, mengembalikan aset ke alamat wallet yang telah ditentukan.

Tim CrossCurve memperingatkan bahwa insiden ini akan dianggap sebagai aksi jahat bila tidak ada kontak dan dana belum dikembalikan dalam waktu 72 jam sejak blok 24364392. CrossCurve menerangkan bahwa jika tidak dipatuhi, maka mereka akan mengambil langkah lebih lanjut.

Langkah-langkah ini meliputi pelaporan pidana, gugatan perdata, bekerja sama dengan exchange terpusat serta penerbit stablecoin untuk membekukan aset, membuka data wallet secara publik, serta berkolaborasi dengan perusahaan analitik blockchain dan aparat penegak hukum.

Eksploitasi terbaru ini menambah deretan serangan yang sudah terjadi di tahun ini. Pada Januari 2026, penyerang mencuri hampir US$400 juta aset digital. Data dari perusahaan keamanan blockchain CertiK menunjukkan lebih dari 40 insiden keamanan besar selama bulan tersebut.

Lonjakan ini meneruskan tren yang lebih luas dari tahun lalu. Tahun 2025 menjadi tahun terburuk dalam sejarah pencurian terkait kripto, dengan total kerugian melebihi US$1 miliar.

  •  

The Binance Playbook: Kenapa Crypto Twitter Membenci Exchange Terbesar?

Crypto Twitter kembali marah. Kali ini, targetnya adalah pihak yang sudah dikenal: Binance, exchange aset kripto terbesar di dunia, serta co-founder-nya, Changpeng Zhao (CZ).

Dalam beberapa hari terakhir, tuduhan-tuduhan besar memenuhi linimasa Twitter (atau X), dengan beberapa pengguna menyebut CZ “penipu” dan menuntut agar ia “dikirim kembali ke penjara.” Lantas, sebenarnya apa yang mendasari tuduhan terbaru ini, dan sejauh mana hal itu didukung bukti yang bisa diverifikasi?

Crash Pasar Oktober: Apa yang Terjadi?

Salah satu tuduhan paling serius yang menghadang Binance berawal dari Oktober, pada saat yang kini dikenal dengan sebutan “Crypto Black Friday.”

Pada 10 Oktober, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 100% dan kontrol ekspor yang menyasar Cina. Pengumuman ini langsung mengguncang pasar global, hingga aset-aset berisiko anjlok tajam.

Dunia kripto pun ikut terdampak. BeInCrypto melaporkan Bitcoin turun sekitar 10%. Altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP (XRP), dan BNB (BNB) juga jatuh lebih dari 15%.

Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober.
Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober | Sumber: TradingView

Dalam waktu 24 jam, lebih dari US$19 miliar posisi leverage terlikuidasi, menandai peristiwa likuidasi terbesar yang pernah tercatat oleh firma analisis data kripto, CoinGlass.

Pada awalnya, kejatuhan ini dipandang sebagai kepanikan pasar secara luas yang dipicu oleh berita ekonomi makro. tapi, para pelaku pasar segera mempertanyakan apakah kejatuhan tersebut murni organik.

Di media sosial, para trader menduga bahwa besarnya dan cepatnya likuidasi menunjukkan sesuatu yang lebih terkoordinasi dibanding aksi jual biasa. Fokus pun cepat mengarah ke Binance.

Mengapa Binance Menjadi Fokus Utama

Saat fase terburuk kejatuhan terjadi, para pengguna Binance melaporkan akun yang dibekukan dan perintah stop-loss yang gagal, serta sulitnya mengakses platform. Bahkan, beberapa trader mengamati adanya flash crash singkat yang membuat aset seperti Enjin (ENJ) dan Cosmos (ATOM) hampir menyentuh nol.

BeInCrypto melaporkan bahwa tiga aset yang listing di Binance, termasuk USDe, wBETH, dan BNSOL, sempat kehilangan peg-nya secara sementara di tengah kekacauan tersebut.

Binance secara terbuka mengakui adanya gangguan saat peristiwa itu terjadi. Exchange tersebut menyebutkan “aktivitas pasar yang sangat padat” sebagai penyebab keterlambatan sistem, juga masalah tampilan, sambil menegaskan dana pengguna tetap SAFU.

Meskipun demikian, penjelasan ini tidak bisa menenangkan seluruh kritikus. Beberapa pengguna menuduh Binance diuntungkan oleh pembekuan perdagangan, dan menyangka gangguan tersebut memberi exchange keuntungan saat volatilitas pasar sedang tinggi-tingginya.

due to our market makers manipulation, some users may experience negative balance

we’re actively making sure everyone get a fair share of it.

don’t celebrate yet, your bag could still go down by -90%

thanks for your attention to this matter!

— Ola Ξlixir (@thegreatola) October 10, 2025

Apakah Strategi Kompensasi Binance Berhasil?

Pada 12 Oktober, Binance merilis pernyataan setelah melakukan tinjauan internal terhadap insiden tersebut. Menurut exchange ini, mesin pencocokan perdagangan spot inti dan Futures, serta perdagangan API, tetap berjalan normal. 

“Berdasarkan data, volume likuidasi paksa yang diproses oleh platform Binance hanya mencakup proporsi yang relatif rendah dari total volume perdagangan, menandakan bahwa volatilitas ini terutama didorong oleh kondisi pasar secara keseluruhan,” terang exchange tersebut dalam laporannya.

Meski begitu, Binance mengakui bahwa beberapa modul di platformnya sempat mengalami kendala teknis singkat setelah pukul 21:18 UTC tanggal 10 Oktober, serta beberapa aset mengalami de-pegging akibat gejolak pasar ekstrem.

Binance menyebutkan bahwa mereka telah menyelesaikan kompensasi kepada pengguna yang terdampak dalam waktu 24 jam, dengan mendistribusikan sekitar US$283 juta dalam dua tahap.

Dua hari kemudian, pada 14 Oktober, Binance meluncurkan inisiatif dukungan senilai US$400 juta. Paket ini berisi voucher penggantian US$300 juta untuk trader yang memenuhi syarat, dan dana sisanya diberikan untuk pinjaman institusi dengan bunga rendah.

Walaupun Binance menjadi pusat protes dari komunitas, exchange ini bukanlah satu-satunya platform yang terdampak di tengah kejatuhan tersebut. Exchange besar lain seperti Coinbase dan Robinhood juga melaporkan adanya gangguan layanan. 

Aktivitas perdagangan Bitcoin di Coinbase juga diawasi publik, meski belum ada bukti yang mengaitkannya dengan manipulasi pasar maupun sebagai pemicu kejatuhan.

Patut dicatat bahwa pengawasan publik berlanjut di beberapa minggu setelah crash; beberapa klaim sebelumnya kemudian ditinjau ulang. Salah satu trader yang pernah menuduh Binance secara terbuka akhirnya mencabut pernyataan tersebut. 

Setelah meninjau data teknis yang diberikan oleh exchange, trader itu mengatakan log Binance menunjukkan tidak ada kesalahan sistem. Ia kemudian menghapus postingan aslinya, dan menyampaikan ia tidak ingin menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Argumen utama saya adalah bahwa ‘order API gagal, dan order reduce-only mengembalikan error 503.’ Namun, tim teknis Binance memberikan log lengkap saat pertemuan kami, yang menunjukkan bahwa order reduce-only sebenarnya tidak pernah mengalami error 503. Sebuah perusahaan investasi yang terhubung dengan teman saya juga ikut dalam investigasi. Tim pengelola akun utama dan staf yang bertanggung jawab meninjau log global dan memastikan tidak ada error 503 untuk order reduce-only,” terang unggahan tersebut.

Mengapa Backlash Terhadap Binance Muncul Lagi di Januari 2026

Untuk sementara waktu, masalah ini sepertinya sudah mereda. Tapi ketika 2026 tiba, isu ini kembali mencuat. Hal ini sangat berkaitan dengan kinerja pasar aset kripto dalam beberapa bulan setelah Oktober.

Setelah peristiwa deleveraging besar-besaran itu, pasar tetap tertekan. Bitcoin dan Ethereum menyerahkan seluruh kenaikan yang mereka dapatkan di 2025, dan menutup tahun dalam zona merah. Para ahli pasar semakin sering menunjuk ke kejatuhan bulan Oktober sebagai faktor utama di balik performa sektor kripto yang lesu.

“Telah terjadi deleveraging besar-besaran…beberapa exchange dan market maker…jadi industri ini seolah berjalan pincang, tapi fundamentalnya sudah banyak membaik,” komentar Chairman BitMine Tom Lee.

Diskusi makin ramai setelah CEO Ark Invest, Cathie Wood, memberikan komentar terbaru. Dalam wawancara bersama Fox Business, ia mengatakan:

“Apa yang kita alami dalam 2-3 bulan terakhir adalah getaran setelah 10/10…10 Oktober….merupakan flash crash yang berkaitan dengan glitch software di Binance yang menyebabkan sistem deleverage, dan jumlahnya mencapai US$28 miliar, banyak orang yang terdampak,” ucapnya.

Tak lama kemudian, sejumlah tokoh industri juga mulai angkat suara. Star Xu, pendiri OKX, berpendapat bahwa masyarakat “meremehkan dampak 10/10,” di mana ia menegaskan bahwa crash tersebut membawa “kerusakan nyata dan berkepanjangan” bagi industri kripto.

Menurut dia, sebuah perusahaan terdepan di industri harus mengutamakan infrastruktur inti, kepercayaan dengan pengguna dan regulator, serta kesehatan jangka panjang ekosistem. Tanpa menyebut nama perusahaan tertentu, Xu membandingkan ideal tersebut dengan apa yang ia gambarkan sebagai semakin besarnya fokus pada keuntungan jangka pendek.

“Sebaliknya, ada pihak yang memilih mengejar keuntungan jangka pendek—berulang kali meluncurkan skema mirip ponzi, memperbesar narasi ‘cepat kaya’, dan secara langsung atau tidak langsung memanipulasi harga token berkualitas rendah, menarik jutaan pengguna ke aset yang berhubungan erat dengan mereka. Cara ini digunakan sebagai jalan pintas untuk mendatangkan trafik dan perhatian pengguna. Kritik yang sah akhirnya terkubur—bukan karena fakta atau pertanggungjawaban, melainkan lewat kontrol narasi yang agresif dan kampanye terkoordinasi dari influencer,” tambah eksekutif itu dalam unggahannya.

First Cathie Wood, and now the CEO of OKx coming after Binance.

C. Wood blamed the 10/10 crash on a Binance 'bug,' yet Binance, in their statement, claimed the crash happened due to 'overall market conditions.'

Their "core futures and spot matching engines and API trading… pic.twitter.com/kfg5QHjVWT

— Ignas | DeFi (@DefiIgnas) January 28, 2026

Binance Hadapi Tuduhan dari Trader

Para pengamat pasar mulai membagikan apa yang mereka sebut sebagai bukti dugaan kesalahan Binance.

Pada sebuah unggahan di X (dulu Twitter), Star Platinum menyoroti pengumuman Binance tanggal 6 Oktober bahwa mereka akan melakukan update sumber harga untuk BNSOL dan wBETH, yang dijadwalkan pada 14 Oktober.

Binance was probably behind that massive October dump

This is my view and opinion based on onchain data, exchange notices, and timing:

On Oct 6, Binance publicly said it would change how it prices BNSOL and wBETH on Oct 14.

That created a 4-day window (Oct 10–14) where thin… pic.twitter.com/mbcTpSKNEN

— StarPlatinum (@StarPlatinum_) January 28, 2026

StarPlatinum juga mengklaim bahwa lebih dari US$10 miliar berpindah dalam 24 sampai 48 jam sebelum peristiwa tersebut, termasuk arus masuk besar USDT dan USDC ke hot wallet exchange.

Analis tersebut juga menyoroti arus USDe yang terhubung dengan wallet yang mereka label sebagai milik Binance. Ia membandingkan situasi Binance dengan Coinbase, dan menyatakan:

“Coinbase tidak melakukan listing pada mata rantai lemah (USDe / wBETH / BNSOL) tapi melakukan dua hal: memindahkan 1.066 BTC dari cold ke hot wallet beberapa menit sebelum cascade (US$130 juta di harga sebelum crash). Saat harga anjlok, arus besar yang tak bisa terisi di Coinbase nampaknya dialihkan keluar lewat market maker (diversi gaya Prime). Nilai tukar cbETH di Coinbase tetap stabil; wBETH di Binance ambruk,” paparnya.

StarPlatinum juga menyebut kalau perusahaan market-making besar seperti Wintermute dan Jump nampaknya membatasi aktivitas pada USDe, wBETH, dan BNSOL selama masa gejolak ekstrem tersebut.

“Menarik bid dari buku-buku order tersebut saat Binance menandai aset jaminan dari buku itu, dan mesin likuidasi justru menghancurkan dirinya sendiri,” ujar sang analis.

Mereka juga menuduh adanya akun baru yang berhasil membangun posisi short BTC dan ETH secara notional hingga sekitar US$1,1 miliar dalam dua jam terakhir sebelum crash terjadi, dengan satu posisi ETH meningkat sekitar satu menit sebelum unggahan kunci, dan menghasilkan perkiraan keuntungan sekitar US$160 juta hingga US$200 juta.

Pengguna lain menuduh Binance telah memanipulasi waktu likuidasi. Menurutnya, Binance mengumumkan setelah crash bahwa mereka akan memberi kompensasi untuk likuidasi yang memenuhi syarat jika terjadi setelah pukul 05.18 (UTC+8).

Namun, trader tersebut mengungkapkan bahwa likuidasinya tercatat di platform pada pukul 05.17:06, sehingga tidak memenuhi syarat kompensasi.

Trader itu berargumen bahwa waktu ini bertentangan dengan email sistem otomatis yang menampilkan waktu pemicu likuidasi pada 05.20:08 (UTC+8), beda sekitar tiga menit.

“Email otomatis, tidak bisa dimanipulasi ini adalah bukti yang paling kuat. Inilah inti kripto: Kode adalah Hukum,” papar unggahan tersebut.

Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp
Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp | Sumber: X/Mr_CryptoWhale

Sementara itu, pernyataan resmi dari Binance menyebutkan rentang waktu yang berbeda:

“Semua pengguna Futures, Margin, dan Loan yang memegang USDE, BNSOL, serta WBETH sebagai jaminan dan terdampak oleh depeg antara 2025-10-10 pukul 21:36 dan 22:16 (UTC) akan menerima kompensasi, beserta biaya likuidasi yang timbul,” terang exchange tersebut dalam pengumuman resminya.

Crypto Twitter Ramai dengan Tuduhan “Scammer” terhadap CZ

Ketika tuduhan ini mulai beredar, suasana di media sosial pun dengan cepat memanas. Pengguna mulai membagikan unggahan-unggahan panjang yang menyebut CZ sebagai “penipu” serta menuduh dirinya dan Binance menyalahgunakan dominasi pasar mereka secara sistematis hingga merugikan kompetitor dan trader ritel.

Beberapa unggahan semakin ramai, bahkan menjadi viral seiring anggota komunitas yang memperkuat tuduhan dan menunjukkan dukungan. Semakin banyak keterlibatan, tuduhan tersebut kian sering muncul di linimasa Crypto Twitter.

My timeline is filled with people fed up with CZ and the Binance cartel.

First, thank you for raising your voices.

Secondly, why did this movement wait to happen until finally every last person realized we were in a bear market now?

If I could make a wish it would be that we…

— The White Whale (@TheWhiteWhaleV2) January 30, 2026

Dalam wawancara bersama BeInCrypto, Ray Youssef, CEO NoOnes, menggambarkan Binance sebagai alat yang berpihak ke AS demi agenda yang ia sebut sebagai “kontrol penghancuran pasar” aset kripto.

Youssef berpendapat bahwa Zhao sekarang sudah berpihak pada kekuatan besar di AS, yang menurutnya menjadi pengendali utama yang memengaruhi arah Binance.

Bagi Youssef, kedekatan Binance dengan Amerika Serikat menjadi hal yang patut diwaspadai. Ia mengklaim exchange tersebut kini telah menjadi aset yang dikendalikan dan bisa digunakan untuk memicu atau mempercepat gejolak pasar yang lebih luas.

“Binance sekarang menjadi FTX berikutnya atau justru seperti apa yang FTX seharusnya lakukan…Saat CZ meledakkan gelembung FTX, dampaknya hanya sekitar 1% dari apa yang negara rencanakan. Sekarang, mereka akan menggunakan Binance dan membuat ‘bangkai’ itu meledak di depan wajah kita,” papar Youssef kepada BeInCrypto.

Kritik juga mengarah pada pernyataan terbaru Zhao soal strategi beli dan tahan.

“Selama bertahun-tahun saya melihat banyak strategi trading berbeda, dan sangat sedikit yang bisa mengalahkan strategi sederhana ‘beli dan tahan’, yang juga saya lakukan. Bukan saran finansial,” tulis CZ dalam unggahannya.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman. Para pengkritik menyoroti performa aset kripto yang listing di Binance, dan menyebut banyak token yang telah kehilangan nilai signifikan, sehingga mempertanyakan apakah strategi beli dan tahan realistis untuk pengguna ritel.

“Exchange penipu terbesar yang pernah ada, semua proyek seharusnya mengajukan delisting dari binance,” tegas seorang analis dalam unggahannya.

🌪️🌪️THE BINANCE DEATH SPIRAL🌪️🌪️

Many coins get listed on @binance and enter what I call a death spiral. Their purpose?

Extract liquidity.
This is just a handful of coins, you can prob find 1000's
Sometimes they go straight down, sometimes they have 1-4 weeks of up before never… pic.twitter.com/bCY12F8YHj

— BareNakedCrypto 🫐, (@BullNakedCrypto) January 29, 2026

namun, laporan BeInCrypto menunjukkan bahwa kelemahan tersebut tidak bersifat khusus pada exchange tertentu. Token kripto yang listing di berbagai platform utama pada tahun 2025 memang mengalami kesulitan untuk mempertahankan performa harga positif.

Tren tersebut terjadi di semua exchange dan mencerminkan penurunan pasar secara luas, bukan karena adanya permasalahan di satu platform trading saja.

Tidak hanya itu. Pengguna juga menuduh Binance menjual Bitcoin hari ini di tengah koreksi pasar.

Binance dan CZ Beri Tanggapan di Tengah Kritik di Crypto Twitter

Meski demikian, di tengah besarnya protes, Binance segera mengambil langkah untuk menunjukkan kekuatan. Exchange ini mengumumkan rencana mengonversi seluruh cadangan SAFU senilai US$1 miliar dari stablecoin menjadi Bitcoin dalam 30 hari ke depan.

None of this is coordinated 😆🧐, and there isn't a single shred of truth in any of it.

At the very moment people claimed Binance was selling, they were actually purchasing $1 billion worth of #BTC.
Furthermore, Binance or ETFs don't sell on their own, it is the users of… pic.twitter.com/tOR8QzRlz2

— Meta Financial AI (@MetaFinancialAI) January 30, 2026

Dalam surat terbuka kepada komunitas, Binance menegaskan bahwa mereka “senantiasa memegang standar tinggi” dan “terus berbenah berdasarkan masukan” dari pengguna maupun publik yang lebih luas.

Exchange tersebut mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, mereka terus berinvestasi dalam kontrol risiko, kepatuhan, dan pengembangan ekosistem, dengan menyoroti beberapa hal berikut:

  • Binance mengungkapkan telah membantu memulihkan dana sebesar US$48 juta dari 38.648 deposit pengguna yang salah.
  • Mereka juga menambahkan bahwa telah membantu 5,4 juta pengguna dan mencegah potensi kerugian akibat penipuan sekitar US$6,69 miliar.
  • Binance menuturkan bahwa kerja sama dengan penegak hukum telah berkontribusi pada penyitaan dana ilegal sebesar US$131 juta.
  • Mereka menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, listing spot mencakup 21 blockchain, dipimpin oleh Ethereum, BNB Smart Chain, dan Solana.
  • Mereka juga melaporkan Proof of Reserves dengan total US$162,8 miliar di 45 aset kripto.

Respon pribadi juga muncul. CZ menanggapi secara terbuka, mengesampingkan tuduhan terbaru sebagai siklus yang sudah biasa.

“Bukan pertama kali, juga bukan yang terakhir. Sejak hari pertama sudah menerima serangan FUD. Akan saya bahas di AMA malam ini, coba lihat di balik permukaannya mengapa dan bagaimana,” ujar CZ.

FUD doesn't hurt the target. My followers increased.

FUD hurts the market (ie everyone).

I/Binance do not sell in any meaningful amounts.

My selling = I swipe my card and $5 worth of BNB gets converted/sent to the coffee shop.

I don't run Binance anymore, but based on what I…

— CZ 🔶 BNB (@cz_binance) January 30, 2026

Peninjauan ulang terhadap Binance ini mencerminkan lebih dari sekadar satu peristiwa atau serangkaian klaim. Situasi ini menyoroti betapa kepercayaan terhadap aset kripto masih sangat rapuh setelah bertahun-tahun volatilitas, keruntuhan akibat leverage, dan kegagalan besar di industri.

Di pasar yang masih berjuang untuk pulih, pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab cenderung muncul kembali.

  •  
❌