Reading view

Modal Tebak Harga, Pemain Bisa Raup Pool Reward Rp25,3 Miliar di Game Web3 Ini

YGG Play mengonfirmasi kolaborasi dengan Roach Racing Club, sebuah game simulasi trading kompetitif yang menyulap prediksi pergerakan pasar menjadi balapan cepat berhadiah kripto. Lewat kerja sama ini, Roach Racing Club bergabung ke YGG Play Launchpad, dengan quest yang langsung terintegrasi ke dalam gameplay inti.

Kolaborasi ini dirancang untuk mendorong pemain tetap aktif, mendongkrak retensi, sekaligus memperkuat aktivitas on-chain dalam ekonomi game.

Apa Itu Roach Racing Club?

Roach Racing Club adalah game simulasi trading kompetitif berbasis Abstract chain. Alih-alih farming pasif, game ini mengusung konsep race to win, di mana pemain saling adu kecepatan dan akurasi dalam membaca market.

Pemain akan mengendalikan “roach” mereka untuk melakukan prediksi market secara real-time. Setiap prediksi yang tepat akan mendorong roach semakin dekat ke garis finis. Semakin jago membaca market, semakin besar pula peluang untuk menang dan membawa pulang hadiah.

Model ini membuat trading terasa seperti balapan—cepat, kompetitif, dan penuh tekanan—bukan sekadar menunggu hasil atau skor akhir.

Raup Cuan dari Main Game

Berbeda dari banyak game Web3 yang mengandalkan grinding, Roach Racing Club menekankan skill-based gameplay. Artinya, hasil yang didapat pemain sangat bergantung pada kemampuan mereka membaca pergerakan harga, bukan seberapa lama bermain.

Pendekatan ini terbukti menarik minat crypto degen, streamer, hingga pemain kompetitif. Sejak meluncur di Abstract, Roach Racing Club telah:

  • Membagikan lebih dari US$1,5 juta total hadiah
  • Menarik lebih dari 450.000 pemain
  • Mencatat lebih dari 9,2 juta balapan

Raihan tersebut menjadikannya salah satu game dengan performa terbaik di ekosistem Abstract.

Lewat kemitraan ini, YGG Play akan mendukung Roach Racing Club dari berbagai sisi, mulai dari revenue share berbasis smart contract, akuisisi pemain, strategi marketing, hingga aktivasi KOL.

Sejumlah KOL dari ekosistem Abstract seperti Badlynasty, GMB, lorenzo, Marcello, Micka Penguins, dan Nickytha akan mempromosikan quest Roach Racing Club di YGG Play.

Di samping itu, game unggulan YGG Play, LOL Land, juga akan menghadirkan papan bertema Roach Racing mulai 29 Januari 2026. Tim Roach Racing Club juga tengah menyiapkan event in-game lanjutan, melanjutkan kolaborasi sebelumnya yang sempat menghadirkan YGG Stadium map dengan total hadiah lebih dari US$10.000.

Game Kompetitif untuk “Casual Degen”

CEO Roach Racing Club, 0xRoachCoach, menyebut kolaborasi ini sebagai kelanjutan alami dari kerja sama yang sudah terjalin sebelumnya dan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Sementara itu, co-founder YGG, Gabby Dizon, menilai Roach Racing Club sebagai game crypto-native yang relevan dengan tren saat ini.

“Ini adalah game kompetitif berbasis aksi market nyata. Sangat cocok untuk casual degen, dan itu membuatnya pas dengan visi YGG Play,” ujar sang co-founder.

Kolaborasi dengan Roach Racing Club menjadi kemitraan pertama YGG Play di 2026. Ke depannya, YGG Play berencana menambah lebih banyak developer dan judul game lain ke dalam ekosistemnya.

Dengan menggabungkan prediksi market, kompetisi real-time, dan insentif kripto, Roach Racing Club menunjukkan bagaimana konsep play-to-earn (P2E) berevolusi menjadi play-to-win (P2E), di mana skill, bukan sekadar waktu, menjadi kunci untuk mendulang cuan dari game Web3.

Bagaimana pendapat Anda tentang tren baru game kompetitif berbasis skill trading di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Mengapa Adopsi Kripto Tidak Berubah Menjadi Pembayaran Sehari-hari

Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 5.700 holder Bitcoin (BTC) menunjukkan adanya jurang yang jelas antara keyakinan dan perilaku di dunia aset kripto. Meski hampir 80% responden mendukung adopsi aset kripto yang lebih luas, 55% mengatakan mereka jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan aset digital untuk pembayaran sehari-hari.

Jurang yang makin melebar antara keyakinan dan penggunaan nyata ini menandakan bahwa tantangan terbesar dalam industri ini bukan lagi soal pemahaman atau dukungan ideologis, melainkan hal lainnya.

Mayoritas Pengguna Kripto Mendukung Adopsi, tapi Jarang Membelanjakan Aset Kripto: Ini Alasannya

Survei GoMining ini mendapat respons dari pengguna di berbagai wilayah. Bagian terbesar berasal dari Eropa (45,7%) dan Amerika Utara (40,1%).

Peserta juga mewakili beragam tingkat pengalaman, hampir terbagi rata antara mereka yang masih baru dalam aset kripto dan para holder yang sudah beberapa tahun terjun di pasar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan soal belanja menggunakan aset kripto tidak hanya terjadi di satu wilayah atau jenis pengguna saja. Survei itu menemukan bahwa pembayaran dengan aset kripto masih menjadi kebiasaan minoritas di kalangan pengguna.

Hanya 12% responden yang memakai aset kripto untuk pembayaran sehari-hari. Angka ini sedikit naik menjadi 14,5% untuk pembayaran mingguan dan 18,3% setiap bulan. Tapi, mayoritas tetap mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali membelanjakan aset kripto mereka.

The Use of Crypto As a Payment Method
Penggunaan Aset Kripto Sebagai Metode Pembayaran | Sumber: GoMining

Kebiasaan belanja ini memperlihatkan di mana aset kripto paling efektif digunakan sebagai opsi pembayaran. Produk digital menempati porsi terbesar dengan 47%, lalu disusul dengan pembelian gim sebesar 37,7% dan transaksi e-commerce sebesar 35,7%.

Ini menunjukkan bahwa pengguna sudah aktif memakai aset kripto di lingkungan digital yang memang mendukung pembayaran semacam itu. Di luar area tersebut, penggunaan aset kripto untuk pembayaran jauh menurun.

Hasil survei mengungkap hambatan terbesar dalam membelanjakan aset kripto berasal dari masalah infrastruktur. Responden menyebut terbatasnya merchant yang menerima aset kripto (49,6%), biaya transaksi yang tinggi (44,7%), serta volatilitas harga (43,4%) sebagai alasan utama mereka belum menggunakan aset kripto untuk pembayaran. Selain itu, 36,2% pengguna juga menunjuk risiko potensi penipuan sebagai alasan penting lainnya.

Barriers to Using Bitcoin For Payments
Hambatan Penggunaan Bitcoin untuk Pembayaran | Sumber: GoMining

Mark Zalan, CEO GoMining, mengatakan kepada BeInCrypto bahwa jika memakai aset kripto menambah proses dan kerumitan seperti memilih chain, mengatur biaya, menghitung volatilitas harga, atau mencari cara membalikkan kesalahan transaksi, maka mayoritas pengguna masih akan memandangnya sebagai sekadar hal baru.

“Untuk pengguna sehari-hari, ‘utilitas nyata’ mulai terasa ketika aset kripto menjadi latar belakang saja. Saat sudah diterima di tempat mereka biasa berbelanja, biayanya jelas bersaing, penyelesaiannya cepat, serta harapan konsumen seperti nota pembelian atau penanganan perselisihan tetap terpenuhi. Kalau ingin merebut pengguna itu, pembayaran dengan aset kripto harus terasa sama membosankan dan andalnya seperti mengetapkan kartu saja,” terang dia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jurang ini bukan lagi sekadar “masalah adopsi” tapi sudah menjadi “masalah produk sehari-hari”.

“Orang bisa saja terbuka terhadap aset kripto secara prinsip, tapi tetap memilih kartu dan aplikasi bank karena opsi itu diterima di mana-mana dan terasa tanpa hambatan. Hasil survei kami konsisten dengan itu: minat memang ada, namun rutinitas penggunaan justru terhenti ketika penerimaannya terbatas, biaya tidak pasti, dan volatilitas menimbulkan keraguan,” papar dia.

Zalan menjelaskan bahwa banyaknya token tidak serta-merta menghadirkan utilitas sehari-hari karena kebanyakan token tidak memperbaiki masalah sehari-hari bagi konsumen.

Manfaat praktis muncul ketika aset kripto benar-benar memberikan keunggulan, seperti transfer nilai lintas negara, penyelesaian transaksi lebih cepat, serta kemampuan pemrograman. Karena itu, industri kini semakin fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran dan integrasi, bukan sekadar berharap pengguna mau belajar dan mengatur puluhan aset berbeda secara aktif.

Pembayaran Bitcoin Menghadapi Ekspektasi Berbasis Insentif dari Pengguna

Sementara itu, survei juga mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong pengguna memilih aset kripto dibanding metode pembayaran tradisional. Privasi dan keamanan muncul sebagai faktor utama, disebutkan oleh 46,4% responden. Hadiah serta diskon ikut mendekati di angka 45,4%.

Terkait pembayaran Bitcoin, pengguna sudah jelas soal keinginan mereka. Sebanyak 62,6% berharap biaya transaksi lebih rendah. Insentif seperti hadiah atau cashback menyusul dengan 55,2%, sedangkan penerimaan merchant yang lebih luas disebut oleh 51,4% responden.

Menariknya, hampir setengah responden menyatakan mereka berharap mendapat yield atau hadiah setiap kali melakukan pembayaran. Hal ini menunjukkan makin terbentuknya ekspektasi yang didorong oleh insentif.

Data ini juga menyoroti perubahan besar dalam cara pengguna memandang Bitcoin itu sendiri. Meski masih banyak yang menyebut diri mereka sebagai holder jangka panjang, ketertarikan pada mining, produk penghasil yield, dan tokenisasi hashrate menunjukkan munculnya preferensi terhadap Bitcoin yang mampu memberi hasil aktif, bukan hanya diam dalam wallet.

Pembayaran, dalam konteks ini, mulai dipandang sebagai peluang baru untuk menambah kepemilikan aset. Zalan menyampaikan bahwa insentif merupakan mekanisme standar di pembayaran.

Ia menguraikan bahwa sistem tradisional juga memakai skema insentif. Mereka memberi hadiah untuk konsumen, manfaat ekonomi bagi issuer, dan kepastian transaksi bagi merchant.

“Berharap pembayaran dengan aset kripto tumbuh tanpa ada dinamika ‘buat orang mau berpindah’ yang serupa jelas tidak realistis. Insentif justru mengungkapkan di mana hambatan yang tersisa: jika pengalaman pengguna sudah pasti lebih murah, lebih cepat, dan diterima di mana saja, insentif akan kurang penting. Untuk sekarang, insentif menutupi biaya perpindahan dan membantu orang membangun kebiasaan, sembari ekosistem menyelesaikan kekurangan soal penerimaan, pengembalian dana atau ekspektasi bantuan, dan alur checkout yang benar-benar mudah,” ucap CEO itu.

Bisakah Bitcoin Menjadi Alat Pembayaran dan Penyimpan Nilai?

Responden juga menjelaskan hal apa saja yang mereka pertimbangkan untuk menggunakan Bitcoin di masa depan. Pengeluaran sehari-hari menempati urutan teratas dengan 69,4%. Setelah itu, diikuti oleh gaming dan hiburan digital sebesar 47,3%, dan pembelian barang bernilai tinggi atau mewah sebesar 42,9%.

Dari sudut pandang pengguna, Bitcoin tidak hanya terbatas pada penggunaan khusus saja, tapi kini makin dianggap sebagai opsi untuk belanja sehari-hari yang layak. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan penting: jika Bitcoin berhasil dipakai secara luas sebagai metode pembayaran harian, apakah hal tersebut memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai, atau justru berisiko mengikis narasi tersebut?

Zalan meyakini bahwa manfaat pembayaran yang makin luas justru pada akhirnya akan memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Ia menerangkan bahwa status sebagai penyimpan nilai pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan di masyarakat dan pasar.

Status tersebut terbentuk dari likuiditas tinggi, penyelesaian transaksi yang andal, dan sejauh mana suatu aset terintegrasi dalam sistem keuangan dunia nyata. Menurutnya,

“Semakin sering Bitcoin digunakan (bahkan lewat layer seperti Lightning atau kartu), semakin Bitcoin bertindak sebagai aset moneter yang tahan lama dengan permintaan dan infrastruktur yang kuat di sekelilingnya.”

Ia menekankan bahwa kekhawatiran soal “pengenceran nilai” sering kali timbul karena orang keliru menganggap penggunaan harian sama dengan hilangnya keyakinan pada aset tersebut. Dalam sistem keuangan yang sudah matang, aktivitas hold jangka panjang dan penggunaan harian bisa berjalan beriringan selama infrastrukturnya memudahkan transaksi.

Melihat ke tahun 2026 mendatang, Zalan menggambarkan hasil yang lebih realistis: Bitcoin berperan sebagai cadangan dan jangkar penyelesaian transaksi, sedangkan layer pembayaran yang ramah pengguna memudahkan pembayaran langsung, sehingga pengguna dapat bertransaksi tanpa perlu memikirkan soal blok, biaya, ataupun waktu.

  •  

Rencana ETF Grayscale Makin Dekat Sementara Token Hadapi Tekanan Jual

Manajer aset Grayscale sedang mengupayakan persetujuan dari regulator untuk mengonversi Grayscale Near Trust menjadi exchange-traded fund (ETF) spot.

Perusahaan tersebut mengajukan Formulir S-1 ke US Securities and Exchange Commission pada 20 Januari, yang menandai langkah untuk memperluas jajaran produk ETF aset kripto mereka.

Grayscale Ajukan Perubahan Near Trust Jadi ETF dengan Pengajuan Baru ke SEC

Sebagai informasi, Grayscale Near Trust saat ini mengelola sekitar US$900.000 aset dan memiliki nilai aset bersih US$2,19 per saham. Produk ini diperdagangkan di pasar OTCQB dengan kode GSNR.

Jika konversi ini disetujui, ETF tersebut akan tercatat di NYSE Arca. Berdasarkan pengajuan tersebut,

“Saham saat ini tercatat di OTCQB dengan simbol ticker ‘GSNR’ dan setelah pernyataan pendaftaran yang menjadi bagian dari prospektus ini berlaku, Trust bermaksud untuk mencatatkan saham di NYSE Arca, Inc. (‘NYSE Arca’) dengan simbol ‘GSNR’.”

Selain itu, Grayscale menunjuk Coinbase Custody Trust Company sebagai kustodian untuk aset NEAR. Sementara itu, Coinbase akan bertindak sebagai broker utama. Bank of New York Mellon akan berperan sebagai administrator dan agen transfer.

Dalam pengajuannya dijelaskan bahwa ETF ini dirancang untuk memberi investor cara yang mudah dan efisien untuk mengakses NEAR melalui kendaraan investasi yang diatur. Grayscale terang bahwa dana tersebut tidak akan menggunakan leverage, derivatif, atau instrumen keuangan serupa dalam strategi investasinya.

Crypto ETP filings continue to come across the SEC's desk. https://t.co/wJhFQcGMtM

— James Seyffart (@JSeyff) January 20, 2026

Manajer aset tersebut kini bergabung dengan Bitwise, yang juga mengajukan Formulir S-1 untuk ETF Near pada Mei 2025. Pengajuan terbaru ini memperlihatkan ekspansi strategis berkelanjutan Grayscale di pasar ETF aset kripto.

Pada tahun 2025, perusahaan ini mengonversi beberapa produk menjadi ETF, termasuk Digital Large Cap Fund, Chainlink Trust, dan XRP Trust. Kini, Grayscale menawarkan 9 ETF aktif.

Selain itu, di awal bulan ini, Grayscale telah membentuk Delaware statutory trusts baru untuk ETF BNB dan Hyperliquid yang diusulkan. Registrasi trust Delaware ini menjadi langkah awal sebelum pengajuan aplikasi ETF lengkap ke SEC. Di samping itu, Grayscale juga mengupayakan persetujuan untuk ETF atas Hedera, Avalanche, dan Bittensor.

Meski demikian, pengumuman ini tidak mampu mendorong harga NEAR secara langsung. Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa altcoin ini turun sebesar 1,76% dalam 24 jam terakhir, mengikuti tren penurunan pasar secara keseluruhan. Pada waktu publikasi, NEAR diperdagangkan di harga US$1,54.

NEAR Price Performance
Performa Harga NEAR | Sumber: BeInCrypto Markets

Penurunan NEAR lebih besar jika dilihat secara mingguan. Dalam tujuh hari terakhir, token ini kehilangan sekitar 14,3% nilainya, mencerminkan tekanan jual yang berkelanjutan dan sentimen investor yang berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik yang terus berlangsung.

  •  

Politik Stablecoin Nampaknya Mengancam Reformasi Struktur Pasar AS

Pertarungan politik baru terkait imbal hasil stablecoin mengancam menggagalkan reformasi struktur pasar kripto AS yang sudah lama dinanti.

Perkembangan terbaru mengungkap perpecahan mendalam antara perbankan, perusahaan kripto, dan pembuat kebijakan tentang siapa yang paling diuntungkan dari fase regulasi keuangan berikutnya.

Persaingan Yield Stablecoin Hambat Reformasi Pasar Kripto di AS

Pusat dari perselisihan ini ialah apakah platform kripto boleh menawarkan imbalan atau yield atas stablecoin kepada pengguna.

CEO Galaxy, Mike Novogratz, memperingatkan bahwa penolakan dari lobi perbankan bisa saja menghancurkan upaya legislasi secara luas, walaupun hukum yang berlaku sebenarnya sudah mengizinkan beberapa bentuk yield stablecoin tertentu.

“Dinamika yield dalam RUU stable coin ini sangat menarik dan bisa berakibat pada gugurnya RUU tersebut. Politik mengalahkan kebijakan yang baik. Bank tidak ingin platform kripto mampu memberikan imbalan kepada pengguna (GENIUS, yang merupakan hukum, mengizinkan itu). Jika RUU ini batal, maka status quo yang mereka nampaknya takutkan,” tulis Novogratz .

Menurut Novogratz, bank lebih khawatir terhadap persaingan dibandingkan perlindungan konsumen. Jika platform kripto boleh membayar imbal hasil atas stablecoin, ini bisa mempercepat arus keluar dana dari bank tradisional, menekan margin keuntungan, sekaligus menantang model bisnis lama yang telah mapan.

“Jika hal ini yang menyingkirkan RUU struktur pasar, maka pihak yang paling rugi adalah konsumen AS,” tambahnya.

Kekhawatiran tersebut kini mulai terasa di Washington. Komite Perbankan Senat menunda pembahasan tentang CLARITY Act yang lebih luas karena tekanan besar dari sektor perbankan.

Lebih dari 3.200 bankir telah meminta legislator untuk menutup apa yang mereka sebut sebagai “celah pembayaran bunga.” Mereka menegaskan bahwa imbalan stablecoin bisa melemahkan bank komunitas serta mengurangi kemampuan pinjaman.

Pihak yang mengkritik menyatakan bahwa RUU tersebut, dalam bentuk draft saat ini, menguntungkan salah satu pihak. Meski bank masih punya hak untuk memberi bunga atas simpanan, platform kripto menghadapi pembatasan lebih ketat, di mana imbalan hanya boleh untuk partisipasi aktif seperti staking, penyediaan likuiditas, atau tata kelola.

Akibatnya, para penentang berpendapat regulasi ini justru melindungi pemain lama dan mengorbankan persaingan serta pilihan konsumen.

Perselisihan White House dan Kripto Semakin Dalam saat Kompromi Beradu dengan Kekhawatiran Retail

Kebuntuan ini juga mengungkap gesekan antara Gedung Putih dan industri kripto. Jurnalis Brendan Pedersen baru-baru ini menuturkan bahwa “Gedung Putih masih kesal dengan Coinbase,” menyoroti adanya ketegangan yang belum selesai di saat perundingan terus berlangsung di balik layar.

white house still mad @ coinbase https://t.co/gkxpWziyQo

— Brendan Pedersen (@BrendanPedersen) January 21, 2026

CEO Coinbase, Brian Armstrong, membantah klaim tentang adanya perpecahan, menegaskan bahwa diskusi masih berlangsung secara konstruktif serta berfokus pada upaya kompromi.

Meski demikian, pandangan di dalam pemerintahan masih terbelah. Patrick Witt, Direktur Eksekutif Dewan Penasihat Presiden untuk Aset Digital, telah memperingatkan agar kesempurnaan legislatif jangan sampai menghalangi kemajuan.

“Akan ada RUU struktur pasar kripto — pertanyaannya adalah kapan, bukan apakah,” tulis Witt .

Dia mengungkapkan bahwa meloloskan RUU sekarang di bawah pemerintahan yang pro-kripto lebih baik daripada menghadapi aturan yang lebih keras di masa depan.

“Mungkin kamu tidak suka setiap bagian dari CLARITY Act, tapi saya bisa jamin kamu akan lebih tidak suka pada versi Demokrat di masa mendatang.”

Tidak semua orang setuju. Komentator kripto Wendy O merespons dengan menyebut bahwa meski logika Witt bisa saja benar secara politik, investor ritel tetap akan dirugikan.

You are not wrong, but at the same time this is retails chance to actually be able to get ahead and it’s really sad watching public servants continue to take more from us.

— Wendy O (@CryptoWendyO) January 21, 2026

Di sisi lain, para ahli hukum memperingatkan bahwa taruhannya bisa lebih besar dari yang diperkirakan saat ini. Pengacara Consensys, Bill Hughes, mengingatkan bahwa regulasi kripto yang menghukum tidak memerlukan krisis keuangan baru.

“Tidak perlu ada krisis keuangan masa depan untuk melihat undang-undang yang menghukum,” ujar dia , memperingatkan akan adanya “potongan kecil tersembunyi dalam undang-undang yang wajib disahkan.”

Selain masalah yield stablecoin, CLARITY Act nantinya akan memberi aturan lebih jelas untuk aset kripto besar, perlindungan bagi pengembang, serta perbedaan antara DeFi dan TradFi.

Sementara itu, seluruh reformasi tersebut masih tertahan, terperangkap dalam pertarungan politik di mana bank, legislator, dan perusahaan kripto saling berebut pengaruh untuk membentuk masa depan regulasi aset digital di AS.

  •  

Harga XRP Turun 3% tapi Presiden Ripple Punya 4 Prediksi Kuat untuk 2026

Harga XRP turun 3% pada hari Rabu, meskipun Presiden Ripple, Monica Long, memaparkan salah satu pandangan institusional paling optimistis untuk aset kripto sejauh ini.

Menurut pendapatnya, tahun 2026 akan menjadi titik balik penting dari masa eksperimen ke produksi penuh di seluruh sektor keuangan global.

Prediksi Presiden Ripple Monica Long untuk 2026

Monica Long membagikan sebuah unggahan terperinci beserta laporan yang menunjukkan bahwa industri ini sedang memasuki “era produksi”.

Ia menuturkan infrastruktur yang terpercaya dan utilitas nyata akhirnya mendorong bank, korporasi, dan penyedia layanan keuangan untuk melampaui tahap uji coba dan mulai melakukan penerapan skala besar.

“Setelah salah satu tahun paling menarik bagi kripto (dan Ripple), industri ini sedang memasuki era produksinya,” mulai Long.

Menurut eksekutif Ripple tersebut, tahun 2026 akan menjadi masa institusionalisasi aset kripto, di mana:

Stablecoin Jadi Infrastruktur Utama untuk Penyelesaian Transaksi

Pusat dari tesis Long terletak pada stablecoin, yang menurutnya sudah beralih dari jalur pembayaran alternatif menjadi fondasi penyelesaian global. Hal ini sejalan dengan prediksi CEO Coinbase bahwa bank pada akhirnya akan menuntut stablecoin yang memberikan bunga.

Monica Long mengungkapkan bahwa jaringan pembayaran besar dan perusahaan fintech sudah mulai memasukkan dolar digital langsung ke dalam sistem yang telah ada.

“Stablecoin akan menjadi fondasi penyelesaian global, bukan lagi jalur alternatif,” ujar Long menunjukkan Visa, Stripe, dan institusi finansial besar yang mengintegrasikan stablecoin ke dalam alur pembayaran.

Meskipun adopsi ritel terus berlanjut, ia menekankan bahwa pembayaran B2B menjadi mesin pertumbuhan utama, dengan korporasi memanfaatkan dolar digital untuk memperoleh likuiditas real-time dan efisiensi modal.

Presiden Ripple ini juga menyoroti data yang menunjukkan bahwa pembayaran stablecoin B2B mencapai run rate tahunan sebesar US$76 miliar tahun lalu, naik dari kurang dari US$100 juta per bulan di awal 2023.

Ia memaparkan bahwa hadiahnya adalah membebaskan triliunan dolar modal kerja yang selama ini mengendap di neraca perusahaan.

Akses Kripto Menjadi Arus Utama

Prediksi besar kedua dari Long adalah bahwa aset kripto tidak lagi dipandang sebagai spekulasi oleh institusi, melainkan sebagai infrastruktur keuangan inti.

Pada 2026, ia memperkirakan sekitar 50% perusahaan Fortune 500 akan memiliki eksposur ke kripto atau strategi treasury aset digital yang terstruktur.

“Aset kripto bukan lagi spekulatif — aset ini sedang menjadi lapisan pengoperasian dari keuangan modern,” ia tulis, memproyeksikan penggunaan aktif dari aset tokenisasi, T-bill on-chain, stablecoin, serta instrumen keuangan terprogram di neraca perusahaan.

Ia juga menyoroti ekspansi pesat exchange-traded fund (ETF) kripto, yang kini menyediakan akses institusional, tapi masih baru mewakili 1–2% dari pasar ETF di AS, sehingga masih ada peluang pertumbuhan yang besar.

Pasar Modal dan Kustodian Mengikuti On-Chain

Seiring dengan meningkatnya adopsi, Long memperkirakan pasar modal akan mengikuti. Ia memprediksi bahwa 5–10% aktivitas penyelesaian global akan berpindah ke on-chain, didorong oleh tokenisasi dan mobilitas jaminan berbasis stablecoin.

Pada saat yang sama, layanan kustodian kripto sedang memasuki fase konsolidasi. Dengan nilai aktivitas merger dan akuisisi aset kripto mencapai US$8,6 miliar di tahun 2025, Long memperkirakan layanan kustodian akan menjadi arena persaingan utama berikutnya, di mana komoditisasi mendorong integrasi vertikal dan strategi multi-custodian.

4/ Crypto M&A reflects market maturity, with $8.6B in deal volume in 2025 driven largely by institutions and custody emerging as the next major consolidation driver. As custody commoditizes, spurring vertical integration and multi-custodian strategies, ~50% of the world’s top 50…

— Monica Long (@MonicaLongSF) January 20, 2026

Menjelang tahun 2026, ia memperkirakan lebih dari separuh dari 50 bank terbesar dunia akan meresmikan kerja sama kustodian baru.

Blockchain Bertemu dengan AI tapi Pasar Tetap Waspada

Long juga menyoroti konvergensi antara blockchain dan AI, di mana smart contract, model AI, dan zero-knowledge proof yang menjaga privasi akan mengotomasi manajemen treasury, optimalisasi jaminan, dan penilaian risiko secara real-time.

Meski visinya sangat luas, respons pasar justru datar karena harga XRP turun lebih dari 3% ke level US$1,90, sehingga turun di bawah angka US$2.

Ripple (XRP) Price Performance
Performa Harga Ripple (XRP) | Sumber: BeInCrypto

Penurunan harga XRP ini mencerminkan masih adanya kesenjangan antara pergerakan harga jangka pendek dan narasi infrastruktur jangka panjang. Hal ini terjadi meskipun Ripple menempatkan tahun 2026 sebagai tahun penentu bagi adopsi kripto institusional.

  •  

Likuidasi Kripto Capai US$1 Miliar saat 182.000 Trader Rugi Besar dalam Satu Hari

Pada 20 Januari 2026, pasar aset kripto mengalami peristiwa deleveraging tajam. Lebih dari 182.000 trader terpaksa menutup posisi mereka, dengan total likuidasi lebih dari US$1,08 miliar. Posisi long menjadi penyumbang utama kerugian karena trader Bitcoin dan Ethereum Futures terkena margin call beruntun.

Saat ini, para trader menghadapi leverage yang lebih tinggi di tengah tekanan ekonomi makro global yang semakin intensif dan kelemahan teknikal di seluruh aset digital.

Likuidasi Rekor Hantam Trader Leverage

Berdasarkan data CoinGlass, sebanyak 182.729 trader terlikuidasi selama periode 24 jam yang berakhir pada 20 Januari, dengan total kerugian mencapai US$1,08 miliar. Sebagian besar merupakan posisi long, sebesar US$1,08 miliar, sedangkan likuidasi short jauh lebih kecil, yaitu US$79,67 juta.

Bitcoin mencatat likuidasi long sebesar US$427,06 juta, disusul Ethereum sebesar US$374,47 juta. Likuidasi tunggal terbesar di Bitget terjadi pada posisi BTCUSDT_UMCBL dengan nilai US$13,52 juta. Sejumlah exchange utama juga mencatat kerugian besar: Hyperliquid membukukan long likuidasi senilai US$132,39 juta, Bybit US$91,35 juta, dan Binance US$64,08 juta dalam periode empat jam.

Likuidasi terjadi ketika exchange menutup posisi leverage trader karena margin tidak cukup untuk menutupi kerugian. Saat harga bergerak berlawanan dengan posisi leverage tinggi, exchange otomatis menjual jaminan, yang memicu aksi jual beruntun karena setiap likuidasi mendorong harga turun dan menimbulkan margin call lanjutan.

Trader papan atas juga terkena dampak besar. Machi Big Brother, seorang investor ternama, mengalami lima kali likuidasi dalam satu hari. Total kerugiannya mencapai US$24,18 juta, dan sisa 2.200 ETH miliknya, senilai US$6,67 juta, berisiko terlikuidasi juga jika Ethereum turun ke US$2.991,43.

Sinyal Kelemahan Teknis dan Stres Pasar

Sejumlah indikator pasar menunjukkan tekanan jelas di luar harga yang jatuh. Analisis teknikal menemukan bahwa sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan Relative Strength Index (RSI) harian di bawah 50, menandakan adanya tekanan jual. RSI bergerak dari 0 sampai 100; nilai di bawah 50 menunjukkan sentimen bearish.

Market stress indicators
Indikator teknikal menunjukkan RSI di bawah 50 dan rasio likuidasi yang tinggi. Sumber: Alphractal

Rasio likuidasi-terhadap-open interest selama 24 jam terakhir tetap tinggi di sebagian besar pasar, menandakan proses deleveraging secara nyata. Rasio ini mengukur persentase posisi terbuka yang terlikuidasi dan biasanya melonjak saat terjadi tekanan dan aksi jual paksa.

“Sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan RSI harian di bawah 50, mengindikasikan tekanan jual. Selain itu, rasio 24 jam Likuidasi / Open Interest tinggi di banyak pasar, menandakan banyak trader telah terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Ini adalah situasi deleverage dan tekanan pasar yang biasa terjadi.”

Likuidasi yang berulang ini menguras modal investor, sehingga trader makin sulit masuk kembali ke pasar saat harga lebih rendah. Kondisi ini bisa menyebabkan spiral penurunan harga yang berulang karena jumlah pembeli semakin sedikit saat permintaan paling dibutuhkan untuk menahan harga.

Ancaman Likuiditas Global yang Meningkat Tekan Pasar Lebih Kuat

Selain tantangan internal kripto, peristiwa ekonomi makro memperbesar volatilitas pasar. Pasar obligasi Jepang mengalami pergeseran ekstrem pada 20 Januari: yield Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun melonjak 25 basis poin menjadi 3,86%, sedangkan yield 10 tahun naik 8 basis poin ke 2,34%. Keduanya mencetak rekor tertinggi baru untuk surat utang Jepang.

Japan bond yields chart
Lonjakan tajam yield Obligasi Pemerintah Jepang ke rekor tertinggi (Sumber: Ole S. Hansen)

Pergeseran yield ini berdampak luas. Rendahnya yield Jepang selama puluhan tahun menjadi pijakan likuiditas global dan mendorong carry trade, di mana investor meminjam yen dengan bunga murah lalu mengalirkannya ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi, termasuk aset kripto.

namun, naiknya yield Jepang membuat posisi carry trade menjadi jauh lebih mahal. Akibatnya, modal berpindah kembali ke Jepang dan menjauh dari aset berisiko seperti kripto. Bank of Japan memiliki pilihan terbatas: menahan yield berisiko membuat yen melemah, sementara kebijakan moneter ketat bisa mendistorsi pasar atau mengikis kepercayaan. Apa pun pilihannya, ketatnya likuiditas global semakin terasa.

Tekanan tambahan hadir dari penyelenggaraan World Economic Forum di Davos, di mana diskusi kebijakan bisa memunculkan ketidakpastian regulasi baru. Acara tahunan ini kerap menimbulkan gejolak pasar, khususnya pada aset kripto yang terus berada di bawah pengawasan regulasi global.

Volatilitas Berlanjut Nampaknya Akan Terjadi di Pasar Aset Kripto

Kelemahan teknikal, modal trader leverage yang terkuras, dan ketatnya likuiditas global semua menandakan ketidakpastian masih berlanjut. Volatilitas jangka pendek bisa makin tinggi seiring pasar menghadapi kenaikan yield Jepang dan sinyal baru dari Davos.

Trader dengan leverage tinggi tetap sangat rentan. Saat kondisi memburuk, exchange secara otomatis melikuidasi posisi untuk membatasi risiko—seringkali modal trader langsung habis. Komunitas kripto menyebut hasil seperti ini sebagai “rekt”, istilah slang untuk “wrecked.”

Manajemen risiko yang efektif menjadi sangat penting saat rasio likuidasi dan tekanan pasar tinggi. Walau demikian, kondisi yang tidak menarik dan kelelahan modal dapat membatasi pembelian, sehingga harga tetap tertekan sampai harga turun cukup dalam untuk menarik modal baru, atau tren makro mulai mereda.

Beberapa hari ke depan akan menunjukkan apakah pasar kripto mampu menyerap gejolak ini, atau justru akan menghadapi gelombang likuidasi lanjutan sejalan dengan perubahan kondisi keuangan global.

  •  

Smart Money Akumulasi Bitcoin Senilai US$3,2 Miliar: Apa Artinya untuk Harga?

Para whale dan shark Bitcoin (BTC) terus melakukan akumulasi selama sembilan hari terakhir, meskipun investor ritel kecil mengurangi eksposurnya. Hal ini menandakan, menurut Santiment, adanya “kondisi optimal” untuk potensi breakout.

Perbedaan perilaku antara holder besar dan kecil ini terjadi di tengah volatilitas yang meningkat, di mana Bitcoin hampir menghapus seluruh keuntungan yang didapat selama 2026.

Smart Money Bangun Posisi Bitcoin saat Investor Ritel Keluar

Setelah penutupan tahun 2025 yang penuh tantangan, tahun baru untuk Bitcoin dibuka dengan catatan positif. Aset kripto ini naik lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari, didukung oleh sentimen optimistis di berbagai aset berisiko. tapi, reli ini tidak berlangsung lama karena volatilitas pasar kembali terjadi.

Meskipun sempat pulih sebentar pekan lalu, kondisi pasar secara keseluruhan kembali memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif untuk 8 negara di Uni Eropa (UE), sehingga menimbulkan ketidakpastian baru. Kabar ini menekan aset berisiko dan ikut memicu penurunan pasar aset kripto.

Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa BTC turun 6,25% selama sepekan terakhir. Kemarin, harga BTC turun di bawah US$88.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun.

Pada waktu publikasi, kripto terbesar ini diperdagangkan di US$89.329, turun 3,31% dalam 24 jam terakhir.

Bitcoin Price Performance
Performa Harga Bitcoin | Sumber: BeInCrypto Markets

Meski volatilitas melanda, whale dan shark terus menambah posisi mereka. Data Santiment menunjukkan wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah 36.322 koin, senilai US$3,2 miliar dengan harga pasar saat ini, dalam sembilan hari terakhir. Hal ini menunjukkan kenaikan 0,27% dalam kepemilikan investor besar.

Tren akumulasi ini sangat kontras dengan perilaku investor ritel. Holder kecil justru melepas 132 koin selama sembilan hari, atau penurunan 0,28% dalam total kepemilikan mereka.

Biasanya, pola seperti ini menandakan holder lemah keluar saat harga menurun, sementara investor berpengalaman justru membeli saat harga turun.

“Kondisi optimal untuk breakout di kripto adalah ketika smart money melakukan akumulasi, dan ritel melakukan dump. Terlepas dari isu geopolitik, pola ini terus menciptakan divergensi bullish jangka panjang,” terang postingan tersebut.

Retail has left Bitcoin markets and whales are buying. pic.twitter.com/5I8ev1GftT

— Ki Young Ju (@ki_young_ju) January 15, 2026

Penting dicatat, meski smart money sedang akumulasi, prospek Bitcoin masih terbelah. Beberapa pengamat pasar menilai Bitcoin memberikan sinyal bear market, sehingga risiko penurunan lanjut semakin besar. tapi, ada juga indikator baru yang menguatkan peluang pemulihan jangka panjang.

Saat ini, sensitivitas Bitcoin terhadap perkembangan ekonomi makro global masih menjadi faktor utama yang perlu diawasi. Apakah aset ini akan terus melemah dalam waktu dekat atau mulai bangkit kembali sangat tergantung pada bagaimana sentimen risiko global berkembang.

  •  

Emas Kalahkan Bitcoin, Minyak Anjlok Tapi Investor Borong Kripto

Harga emas melonjak, minyak anjlok, dan Bitcoin stagnan di tahun 2025. Di saat yang sama, banyak perusahaan diam-diam membeli aset kripto senilai puluhan miliar US$. Pergerakan ini bersama-sama memperlihatkan bagaimana tarif, likuiditas, dan perilaku institusi membentuk ulang pasar menjelang 2026.

Data dari CoinGecko menunjukkan tahun yang penuh dengan kontras tajam. Emas naik 62,6%, minyak turun 21,5%, dan Bitcoin berakhir turun 6,4%. Meski begitu, Digital Asset Treasury Companies (DAT) menggelontorkan hampir US$50 miliar ke dalam Bitcoin dan Ethereum, sehingga menguasai lebih dari 5% total pasokan.

Performa Harga Bitcoin Vs Aset Utama di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Emas Menguat saat Tarif Meningkatkan Ketidakpastian

Kinerja emas yang unggul sejalan dengan situasi yang penuh tarif. Hambatan dagang meningkatkan ketidakpastian, melemahkan kepercayaan pada stabilitas mata uang jangka panjang, dan mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Emas langsung mendapat keuntungan dari situasi ini.

Berbeda dengan aset pertumbuhan, emas tidak butuh likuiditas yang terus meningkat untuk reli. Emas merespons risiko kebijakan dan tekanan geopolitik. Karena tarif meningkat dan gesekan perdagangan global terus naik, emas menjadi pilihan lindung nilai utama.

Minyak Menyerap Kejutan Pertumbuhan Saat Bitcoin Tertahan

Minyak justru menunjukkan cerita sebaliknya. Tarif memperlambat perdagangan, menekan aktivitas manufaktur, serta mengurangi volume pengiriman barang. Itu secara langsung menekan permintaan energi.

Harga minyak mentah turun 21,5% di tahun 2025 karena pasokan tetap melimpah dan produksi non-OPEC naik. Dalam situasi penuh tarif, minyak bergerak seperti proksi pertumbuhan—dan laju pertumbuhan pun menurun.

Capaian -6,4% Bitcoin pada tahun ini mencerminkan tarik-menarik. Tarif menyebabkan ketidakpastian yang seharusnya menguntungkan aset lindung nilai, tapi juga menguras likuiditas bebas. Di saat yang sama, inflasi di AS tetap moderat namun cenderung bertahan, sehingga kondisi keuangan tetap ketat.

Hasilnya adalah konsolidasi panjang setelah guncangan likuidasi pada bulan Oktober. Bitcoin tidak anjlok seperti minyak dan juga tidak reli seperti emas. Bitcoin menunggu tekanan likuiditas mereda.

Grafik Harga Bitcoin 1 Tahun | Sumber: CoinGecko

Tekanan Fiat Masih Terkendali untuk Saat Ini

Walau tarif berperan sebagai “pajak domestik yang lambat”, inflasi tetap terjaga. Biaya naiknya tarif diambil secara bertahap oleh importir dan peritel, sehingga kenaikan harga ke konsumen tertunda. Itulah sebabnya stres terhadap mata uang fiat tidak begitu terlihat di data utama, sekalipun daya beli publik diam-diam menyusut.

“Slow burn” ini membatasi selera risiko tanpa memicu kepanikan—itulah salah satu alasan kenapa kripto bergerak sideways, bukan mengalami penurunan drastis.

Pembeli Treasury Terus Akumulasi Selama Reset

Ketika harga masih tertahan, DAT justru membeli besar-besaran. Mereka membelanjakan US$49,7 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar setengahnya dilakukan di paruh kedua tahun. Kepemilikan mereka naik menjadi US$134 miliar pada akhir tahun, meningkat 137% dibanding tahun sebelumnya.

Perilaku ini menandakan keyakinan jangka panjang. Pembeli treasury menerima volatilitas demi mengamankan pasokan. Akumulasi mereka selama periode penurunan membuat Bitcoin dan Ethereum makin terkonsentrasi di pemegang kuat, serta mengurangi jumlah yang tersedia di pasar.

Pembelian Kripto oleh Digital Asset Treasury di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tahun pengetatan untuk pasar kripto. Tarif mendukung emas, menekan minyak, dan menunda siklus Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas. Sementara itu, institusi membangun posisi mereka secara diam-diam.

Saat tekanan tarif tidak lagi bertambah berat dan tekanan jual mulai reda, Bitcoin perlahan bergerak lagi. Pasar memasuki 2026 dengan pasokan yang lebih ketat, holder yang lebih kuat, dan peluang ekspansi yang lebih jelas ketika likuiditas membaik.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena divergensi aset antara emas dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  
❌