Reading view

Modal Tebak Harga, Pemain Bisa Raup Pool Reward Rp25,3 Miliar di Game Web3 Ini

YGG Play mengonfirmasi kolaborasi dengan Roach Racing Club, sebuah game simulasi trading kompetitif yang menyulap prediksi pergerakan pasar menjadi balapan cepat berhadiah kripto. Lewat kerja sama ini, Roach Racing Club bergabung ke YGG Play Launchpad, dengan quest yang langsung terintegrasi ke dalam gameplay inti.

Kolaborasi ini dirancang untuk mendorong pemain tetap aktif, mendongkrak retensi, sekaligus memperkuat aktivitas on-chain dalam ekonomi game.

Apa Itu Roach Racing Club?

Roach Racing Club adalah game simulasi trading kompetitif berbasis Abstract chain. Alih-alih farming pasif, game ini mengusung konsep race to win, di mana pemain saling adu kecepatan dan akurasi dalam membaca market.

Pemain akan mengendalikan “roach” mereka untuk melakukan prediksi market secara real-time. Setiap prediksi yang tepat akan mendorong roach semakin dekat ke garis finis. Semakin jago membaca market, semakin besar pula peluang untuk menang dan membawa pulang hadiah.

Model ini membuat trading terasa seperti balapan—cepat, kompetitif, dan penuh tekanan—bukan sekadar menunggu hasil atau skor akhir.

Raup Cuan dari Main Game

Berbeda dari banyak game Web3 yang mengandalkan grinding, Roach Racing Club menekankan skill-based gameplay. Artinya, hasil yang didapat pemain sangat bergantung pada kemampuan mereka membaca pergerakan harga, bukan seberapa lama bermain.

Pendekatan ini terbukti menarik minat crypto degen, streamer, hingga pemain kompetitif. Sejak meluncur di Abstract, Roach Racing Club telah:

  • Membagikan lebih dari US$1,5 juta total hadiah
  • Menarik lebih dari 450.000 pemain
  • Mencatat lebih dari 9,2 juta balapan

Raihan tersebut menjadikannya salah satu game dengan performa terbaik di ekosistem Abstract.

Lewat kemitraan ini, YGG Play akan mendukung Roach Racing Club dari berbagai sisi, mulai dari revenue share berbasis smart contract, akuisisi pemain, strategi marketing, hingga aktivasi KOL.

Sejumlah KOL dari ekosistem Abstract seperti Badlynasty, GMB, lorenzo, Marcello, Micka Penguins, dan Nickytha akan mempromosikan quest Roach Racing Club di YGG Play.

Di samping itu, game unggulan YGG Play, LOL Land, juga akan menghadirkan papan bertema Roach Racing mulai 29 Januari 2026. Tim Roach Racing Club juga tengah menyiapkan event in-game lanjutan, melanjutkan kolaborasi sebelumnya yang sempat menghadirkan YGG Stadium map dengan total hadiah lebih dari US$10.000.

Game Kompetitif untuk “Casual Degen”

CEO Roach Racing Club, 0xRoachCoach, menyebut kolaborasi ini sebagai kelanjutan alami dari kerja sama yang sudah terjalin sebelumnya dan menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Sementara itu, co-founder YGG, Gabby Dizon, menilai Roach Racing Club sebagai game crypto-native yang relevan dengan tren saat ini.

“Ini adalah game kompetitif berbasis aksi market nyata. Sangat cocok untuk casual degen, dan itu membuatnya pas dengan visi YGG Play,” ujar sang co-founder.

Kolaborasi dengan Roach Racing Club menjadi kemitraan pertama YGG Play di 2026. Ke depannya, YGG Play berencana menambah lebih banyak developer dan judul game lain ke dalam ekosistemnya.

Dengan menggabungkan prediksi market, kompetisi real-time, dan insentif kripto, Roach Racing Club menunjukkan bagaimana konsep play-to-earn (P2E) berevolusi menjadi play-to-win (P2E), di mana skill, bukan sekadar waktu, menjadi kunci untuk mendulang cuan dari game Web3.

Bagaimana pendapat Anda tentang tren baru game kompetitif berbasis skill trading di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Mengapa Adopsi Kripto Tidak Berubah Menjadi Pembayaran Sehari-hari

Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 5.700 holder Bitcoin (BTC) menunjukkan adanya jurang yang jelas antara keyakinan dan perilaku di dunia aset kripto. Meski hampir 80% responden mendukung adopsi aset kripto yang lebih luas, 55% mengatakan mereka jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan aset digital untuk pembayaran sehari-hari.

Jurang yang makin melebar antara keyakinan dan penggunaan nyata ini menandakan bahwa tantangan terbesar dalam industri ini bukan lagi soal pemahaman atau dukungan ideologis, melainkan hal lainnya.

Mayoritas Pengguna Kripto Mendukung Adopsi, tapi Jarang Membelanjakan Aset Kripto: Ini Alasannya

Survei GoMining ini mendapat respons dari pengguna di berbagai wilayah. Bagian terbesar berasal dari Eropa (45,7%) dan Amerika Utara (40,1%).

Peserta juga mewakili beragam tingkat pengalaman, hampir terbagi rata antara mereka yang masih baru dalam aset kripto dan para holder yang sudah beberapa tahun terjun di pasar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan soal belanja menggunakan aset kripto tidak hanya terjadi di satu wilayah atau jenis pengguna saja. Survei itu menemukan bahwa pembayaran dengan aset kripto masih menjadi kebiasaan minoritas di kalangan pengguna.

Hanya 12% responden yang memakai aset kripto untuk pembayaran sehari-hari. Angka ini sedikit naik menjadi 14,5% untuk pembayaran mingguan dan 18,3% setiap bulan. Tapi, mayoritas tetap mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali membelanjakan aset kripto mereka.

The Use of Crypto As a Payment Method
Penggunaan Aset Kripto Sebagai Metode Pembayaran | Sumber: GoMining

Kebiasaan belanja ini memperlihatkan di mana aset kripto paling efektif digunakan sebagai opsi pembayaran. Produk digital menempati porsi terbesar dengan 47%, lalu disusul dengan pembelian gim sebesar 37,7% dan transaksi e-commerce sebesar 35,7%.

Ini menunjukkan bahwa pengguna sudah aktif memakai aset kripto di lingkungan digital yang memang mendukung pembayaran semacam itu. Di luar area tersebut, penggunaan aset kripto untuk pembayaran jauh menurun.

Hasil survei mengungkap hambatan terbesar dalam membelanjakan aset kripto berasal dari masalah infrastruktur. Responden menyebut terbatasnya merchant yang menerima aset kripto (49,6%), biaya transaksi yang tinggi (44,7%), serta volatilitas harga (43,4%) sebagai alasan utama mereka belum menggunakan aset kripto untuk pembayaran. Selain itu, 36,2% pengguna juga menunjuk risiko potensi penipuan sebagai alasan penting lainnya.

Barriers to Using Bitcoin For Payments
Hambatan Penggunaan Bitcoin untuk Pembayaran | Sumber: GoMining

Mark Zalan, CEO GoMining, mengatakan kepada BeInCrypto bahwa jika memakai aset kripto menambah proses dan kerumitan seperti memilih chain, mengatur biaya, menghitung volatilitas harga, atau mencari cara membalikkan kesalahan transaksi, maka mayoritas pengguna masih akan memandangnya sebagai sekadar hal baru.

“Untuk pengguna sehari-hari, ‘utilitas nyata’ mulai terasa ketika aset kripto menjadi latar belakang saja. Saat sudah diterima di tempat mereka biasa berbelanja, biayanya jelas bersaing, penyelesaiannya cepat, serta harapan konsumen seperti nota pembelian atau penanganan perselisihan tetap terpenuhi. Kalau ingin merebut pengguna itu, pembayaran dengan aset kripto harus terasa sama membosankan dan andalnya seperti mengetapkan kartu saja,” terang dia.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa jurang ini bukan lagi sekadar “masalah adopsi” tapi sudah menjadi “masalah produk sehari-hari”.

“Orang bisa saja terbuka terhadap aset kripto secara prinsip, tapi tetap memilih kartu dan aplikasi bank karena opsi itu diterima di mana-mana dan terasa tanpa hambatan. Hasil survei kami konsisten dengan itu: minat memang ada, namun rutinitas penggunaan justru terhenti ketika penerimaannya terbatas, biaya tidak pasti, dan volatilitas menimbulkan keraguan,” papar dia.

Zalan menjelaskan bahwa banyaknya token tidak serta-merta menghadirkan utilitas sehari-hari karena kebanyakan token tidak memperbaiki masalah sehari-hari bagi konsumen.

Manfaat praktis muncul ketika aset kripto benar-benar memberikan keunggulan, seperti transfer nilai lintas negara, penyelesaian transaksi lebih cepat, serta kemampuan pemrograman. Karena itu, industri kini semakin fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran dan integrasi, bukan sekadar berharap pengguna mau belajar dan mengatur puluhan aset berbeda secara aktif.

Pembayaran Bitcoin Menghadapi Ekspektasi Berbasis Insentif dari Pengguna

Sementara itu, survei juga mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong pengguna memilih aset kripto dibanding metode pembayaran tradisional. Privasi dan keamanan muncul sebagai faktor utama, disebutkan oleh 46,4% responden. Hadiah serta diskon ikut mendekati di angka 45,4%.

Terkait pembayaran Bitcoin, pengguna sudah jelas soal keinginan mereka. Sebanyak 62,6% berharap biaya transaksi lebih rendah. Insentif seperti hadiah atau cashback menyusul dengan 55,2%, sedangkan penerimaan merchant yang lebih luas disebut oleh 51,4% responden.

Menariknya, hampir setengah responden menyatakan mereka berharap mendapat yield atau hadiah setiap kali melakukan pembayaran. Hal ini menunjukkan makin terbentuknya ekspektasi yang didorong oleh insentif.

Data ini juga menyoroti perubahan besar dalam cara pengguna memandang Bitcoin itu sendiri. Meski masih banyak yang menyebut diri mereka sebagai holder jangka panjang, ketertarikan pada mining, produk penghasil yield, dan tokenisasi hashrate menunjukkan munculnya preferensi terhadap Bitcoin yang mampu memberi hasil aktif, bukan hanya diam dalam wallet.

Pembayaran, dalam konteks ini, mulai dipandang sebagai peluang baru untuk menambah kepemilikan aset. Zalan menyampaikan bahwa insentif merupakan mekanisme standar di pembayaran.

Ia menguraikan bahwa sistem tradisional juga memakai skema insentif. Mereka memberi hadiah untuk konsumen, manfaat ekonomi bagi issuer, dan kepastian transaksi bagi merchant.

“Berharap pembayaran dengan aset kripto tumbuh tanpa ada dinamika ‘buat orang mau berpindah’ yang serupa jelas tidak realistis. Insentif justru mengungkapkan di mana hambatan yang tersisa: jika pengalaman pengguna sudah pasti lebih murah, lebih cepat, dan diterima di mana saja, insentif akan kurang penting. Untuk sekarang, insentif menutupi biaya perpindahan dan membantu orang membangun kebiasaan, sembari ekosistem menyelesaikan kekurangan soal penerimaan, pengembalian dana atau ekspektasi bantuan, dan alur checkout yang benar-benar mudah,” ucap CEO itu.

Bisakah Bitcoin Menjadi Alat Pembayaran dan Penyimpan Nilai?

Responden juga menjelaskan hal apa saja yang mereka pertimbangkan untuk menggunakan Bitcoin di masa depan. Pengeluaran sehari-hari menempati urutan teratas dengan 69,4%. Setelah itu, diikuti oleh gaming dan hiburan digital sebesar 47,3%, dan pembelian barang bernilai tinggi atau mewah sebesar 42,9%.

Dari sudut pandang pengguna, Bitcoin tidak hanya terbatas pada penggunaan khusus saja, tapi kini makin dianggap sebagai opsi untuk belanja sehari-hari yang layak. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan penting: jika Bitcoin berhasil dipakai secara luas sebagai metode pembayaran harian, apakah hal tersebut memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai, atau justru berisiko mengikis narasi tersebut?

Zalan meyakini bahwa manfaat pembayaran yang makin luas justru pada akhirnya akan memperkuat peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai. Ia menerangkan bahwa status sebagai penyimpan nilai pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan di masyarakat dan pasar.

Status tersebut terbentuk dari likuiditas tinggi, penyelesaian transaksi yang andal, dan sejauh mana suatu aset terintegrasi dalam sistem keuangan dunia nyata. Menurutnya,

“Semakin sering Bitcoin digunakan (bahkan lewat layer seperti Lightning atau kartu), semakin Bitcoin bertindak sebagai aset moneter yang tahan lama dengan permintaan dan infrastruktur yang kuat di sekelilingnya.”

Ia menekankan bahwa kekhawatiran soal “pengenceran nilai” sering kali timbul karena orang keliru menganggap penggunaan harian sama dengan hilangnya keyakinan pada aset tersebut. Dalam sistem keuangan yang sudah matang, aktivitas hold jangka panjang dan penggunaan harian bisa berjalan beriringan selama infrastrukturnya memudahkan transaksi.

Melihat ke tahun 2026 mendatang, Zalan menggambarkan hasil yang lebih realistis: Bitcoin berperan sebagai cadangan dan jangkar penyelesaian transaksi, sedangkan layer pembayaran yang ramah pengguna memudahkan pembayaran langsung, sehingga pengguna dapat bertransaksi tanpa perlu memikirkan soal blok, biaya, ataupun waktu.

  •  

Rencana ETF Grayscale Makin Dekat Sementara Token Hadapi Tekanan Jual

Manajer aset Grayscale sedang mengupayakan persetujuan dari regulator untuk mengonversi Grayscale Near Trust menjadi exchange-traded fund (ETF) spot.

Perusahaan tersebut mengajukan Formulir S-1 ke US Securities and Exchange Commission pada 20 Januari, yang menandai langkah untuk memperluas jajaran produk ETF aset kripto mereka.

Grayscale Ajukan Perubahan Near Trust Jadi ETF dengan Pengajuan Baru ke SEC

Sebagai informasi, Grayscale Near Trust saat ini mengelola sekitar US$900.000 aset dan memiliki nilai aset bersih US$2,19 per saham. Produk ini diperdagangkan di pasar OTCQB dengan kode GSNR.

Jika konversi ini disetujui, ETF tersebut akan tercatat di NYSE Arca. Berdasarkan pengajuan tersebut,

“Saham saat ini tercatat di OTCQB dengan simbol ticker ‘GSNR’ dan setelah pernyataan pendaftaran yang menjadi bagian dari prospektus ini berlaku, Trust bermaksud untuk mencatatkan saham di NYSE Arca, Inc. (‘NYSE Arca’) dengan simbol ‘GSNR’.”

Selain itu, Grayscale menunjuk Coinbase Custody Trust Company sebagai kustodian untuk aset NEAR. Sementara itu, Coinbase akan bertindak sebagai broker utama. Bank of New York Mellon akan berperan sebagai administrator dan agen transfer.

Dalam pengajuannya dijelaskan bahwa ETF ini dirancang untuk memberi investor cara yang mudah dan efisien untuk mengakses NEAR melalui kendaraan investasi yang diatur. Grayscale terang bahwa dana tersebut tidak akan menggunakan leverage, derivatif, atau instrumen keuangan serupa dalam strategi investasinya.

Crypto ETP filings continue to come across the SEC's desk. https://t.co/wJhFQcGMtM

— James Seyffart (@JSeyff) January 20, 2026

Manajer aset tersebut kini bergabung dengan Bitwise, yang juga mengajukan Formulir S-1 untuk ETF Near pada Mei 2025. Pengajuan terbaru ini memperlihatkan ekspansi strategis berkelanjutan Grayscale di pasar ETF aset kripto.

Pada tahun 2025, perusahaan ini mengonversi beberapa produk menjadi ETF, termasuk Digital Large Cap Fund, Chainlink Trust, dan XRP Trust. Kini, Grayscale menawarkan 9 ETF aktif.

Selain itu, di awal bulan ini, Grayscale telah membentuk Delaware statutory trusts baru untuk ETF BNB dan Hyperliquid yang diusulkan. Registrasi trust Delaware ini menjadi langkah awal sebelum pengajuan aplikasi ETF lengkap ke SEC. Di samping itu, Grayscale juga mengupayakan persetujuan untuk ETF atas Hedera, Avalanche, dan Bittensor.

Meski demikian, pengumuman ini tidak mampu mendorong harga NEAR secara langsung. Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa altcoin ini turun sebesar 1,76% dalam 24 jam terakhir, mengikuti tren penurunan pasar secara keseluruhan. Pada waktu publikasi, NEAR diperdagangkan di harga US$1,54.

NEAR Price Performance
Performa Harga NEAR | Sumber: BeInCrypto Markets

Penurunan NEAR lebih besar jika dilihat secara mingguan. Dalam tujuh hari terakhir, token ini kehilangan sekitar 14,3% nilainya, mencerminkan tekanan jual yang berkelanjutan dan sentimen investor yang berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik yang terus berlangsung.

  •  

Politik Stablecoin Nampaknya Mengancam Reformasi Struktur Pasar AS

Pertarungan politik baru terkait imbal hasil stablecoin mengancam menggagalkan reformasi struktur pasar kripto AS yang sudah lama dinanti.

Perkembangan terbaru mengungkap perpecahan mendalam antara perbankan, perusahaan kripto, dan pembuat kebijakan tentang siapa yang paling diuntungkan dari fase regulasi keuangan berikutnya.

Persaingan Yield Stablecoin Hambat Reformasi Pasar Kripto di AS

Pusat dari perselisihan ini ialah apakah platform kripto boleh menawarkan imbalan atau yield atas stablecoin kepada pengguna.

CEO Galaxy, Mike Novogratz, memperingatkan bahwa penolakan dari lobi perbankan bisa saja menghancurkan upaya legislasi secara luas, walaupun hukum yang berlaku sebenarnya sudah mengizinkan beberapa bentuk yield stablecoin tertentu.

“Dinamika yield dalam RUU stable coin ini sangat menarik dan bisa berakibat pada gugurnya RUU tersebut. Politik mengalahkan kebijakan yang baik. Bank tidak ingin platform kripto mampu memberikan imbalan kepada pengguna (GENIUS, yang merupakan hukum, mengizinkan itu). Jika RUU ini batal, maka status quo yang mereka nampaknya takutkan,” tulis Novogratz .

Menurut Novogratz, bank lebih khawatir terhadap persaingan dibandingkan perlindungan konsumen. Jika platform kripto boleh membayar imbal hasil atas stablecoin, ini bisa mempercepat arus keluar dana dari bank tradisional, menekan margin keuntungan, sekaligus menantang model bisnis lama yang telah mapan.

“Jika hal ini yang menyingkirkan RUU struktur pasar, maka pihak yang paling rugi adalah konsumen AS,” tambahnya.

Kekhawatiran tersebut kini mulai terasa di Washington. Komite Perbankan Senat menunda pembahasan tentang CLARITY Act yang lebih luas karena tekanan besar dari sektor perbankan.

Lebih dari 3.200 bankir telah meminta legislator untuk menutup apa yang mereka sebut sebagai “celah pembayaran bunga.” Mereka menegaskan bahwa imbalan stablecoin bisa melemahkan bank komunitas serta mengurangi kemampuan pinjaman.

Pihak yang mengkritik menyatakan bahwa RUU tersebut, dalam bentuk draft saat ini, menguntungkan salah satu pihak. Meski bank masih punya hak untuk memberi bunga atas simpanan, platform kripto menghadapi pembatasan lebih ketat, di mana imbalan hanya boleh untuk partisipasi aktif seperti staking, penyediaan likuiditas, atau tata kelola.

Akibatnya, para penentang berpendapat regulasi ini justru melindungi pemain lama dan mengorbankan persaingan serta pilihan konsumen.

Perselisihan White House dan Kripto Semakin Dalam saat Kompromi Beradu dengan Kekhawatiran Retail

Kebuntuan ini juga mengungkap gesekan antara Gedung Putih dan industri kripto. Jurnalis Brendan Pedersen baru-baru ini menuturkan bahwa “Gedung Putih masih kesal dengan Coinbase,” menyoroti adanya ketegangan yang belum selesai di saat perundingan terus berlangsung di balik layar.

white house still mad @ coinbase https://t.co/gkxpWziyQo

— Brendan Pedersen (@BrendanPedersen) January 21, 2026

CEO Coinbase, Brian Armstrong, membantah klaim tentang adanya perpecahan, menegaskan bahwa diskusi masih berlangsung secara konstruktif serta berfokus pada upaya kompromi.

Meski demikian, pandangan di dalam pemerintahan masih terbelah. Patrick Witt, Direktur Eksekutif Dewan Penasihat Presiden untuk Aset Digital, telah memperingatkan agar kesempurnaan legislatif jangan sampai menghalangi kemajuan.

“Akan ada RUU struktur pasar kripto — pertanyaannya adalah kapan, bukan apakah,” tulis Witt .

Dia mengungkapkan bahwa meloloskan RUU sekarang di bawah pemerintahan yang pro-kripto lebih baik daripada menghadapi aturan yang lebih keras di masa depan.

“Mungkin kamu tidak suka setiap bagian dari CLARITY Act, tapi saya bisa jamin kamu akan lebih tidak suka pada versi Demokrat di masa mendatang.”

Tidak semua orang setuju. Komentator kripto Wendy O merespons dengan menyebut bahwa meski logika Witt bisa saja benar secara politik, investor ritel tetap akan dirugikan.

You are not wrong, but at the same time this is retails chance to actually be able to get ahead and it’s really sad watching public servants continue to take more from us.

— Wendy O (@CryptoWendyO) January 21, 2026

Di sisi lain, para ahli hukum memperingatkan bahwa taruhannya bisa lebih besar dari yang diperkirakan saat ini. Pengacara Consensys, Bill Hughes, mengingatkan bahwa regulasi kripto yang menghukum tidak memerlukan krisis keuangan baru.

“Tidak perlu ada krisis keuangan masa depan untuk melihat undang-undang yang menghukum,” ujar dia , memperingatkan akan adanya “potongan kecil tersembunyi dalam undang-undang yang wajib disahkan.”

Selain masalah yield stablecoin, CLARITY Act nantinya akan memberi aturan lebih jelas untuk aset kripto besar, perlindungan bagi pengembang, serta perbedaan antara DeFi dan TradFi.

Sementara itu, seluruh reformasi tersebut masih tertahan, terperangkap dalam pertarungan politik di mana bank, legislator, dan perusahaan kripto saling berebut pengaruh untuk membentuk masa depan regulasi aset digital di AS.

  •  

Harga XRP Turun 3% tapi Presiden Ripple Punya 4 Prediksi Kuat untuk 2026

Harga XRP turun 3% pada hari Rabu, meskipun Presiden Ripple, Monica Long, memaparkan salah satu pandangan institusional paling optimistis untuk aset kripto sejauh ini.

Menurut pendapatnya, tahun 2026 akan menjadi titik balik penting dari masa eksperimen ke produksi penuh di seluruh sektor keuangan global.

Prediksi Presiden Ripple Monica Long untuk 2026

Monica Long membagikan sebuah unggahan terperinci beserta laporan yang menunjukkan bahwa industri ini sedang memasuki “era produksi”.

Ia menuturkan infrastruktur yang terpercaya dan utilitas nyata akhirnya mendorong bank, korporasi, dan penyedia layanan keuangan untuk melampaui tahap uji coba dan mulai melakukan penerapan skala besar.

“Setelah salah satu tahun paling menarik bagi kripto (dan Ripple), industri ini sedang memasuki era produksinya,” mulai Long.

Menurut eksekutif Ripple tersebut, tahun 2026 akan menjadi masa institusionalisasi aset kripto, di mana:

Stablecoin Jadi Infrastruktur Utama untuk Penyelesaian Transaksi

Pusat dari tesis Long terletak pada stablecoin, yang menurutnya sudah beralih dari jalur pembayaran alternatif menjadi fondasi penyelesaian global. Hal ini sejalan dengan prediksi CEO Coinbase bahwa bank pada akhirnya akan menuntut stablecoin yang memberikan bunga.

Monica Long mengungkapkan bahwa jaringan pembayaran besar dan perusahaan fintech sudah mulai memasukkan dolar digital langsung ke dalam sistem yang telah ada.

“Stablecoin akan menjadi fondasi penyelesaian global, bukan lagi jalur alternatif,” ujar Long menunjukkan Visa, Stripe, dan institusi finansial besar yang mengintegrasikan stablecoin ke dalam alur pembayaran.

Meskipun adopsi ritel terus berlanjut, ia menekankan bahwa pembayaran B2B menjadi mesin pertumbuhan utama, dengan korporasi memanfaatkan dolar digital untuk memperoleh likuiditas real-time dan efisiensi modal.

Presiden Ripple ini juga menyoroti data yang menunjukkan bahwa pembayaran stablecoin B2B mencapai run rate tahunan sebesar US$76 miliar tahun lalu, naik dari kurang dari US$100 juta per bulan di awal 2023.

Ia memaparkan bahwa hadiahnya adalah membebaskan triliunan dolar modal kerja yang selama ini mengendap di neraca perusahaan.

Akses Kripto Menjadi Arus Utama

Prediksi besar kedua dari Long adalah bahwa aset kripto tidak lagi dipandang sebagai spekulasi oleh institusi, melainkan sebagai infrastruktur keuangan inti.

Pada 2026, ia memperkirakan sekitar 50% perusahaan Fortune 500 akan memiliki eksposur ke kripto atau strategi treasury aset digital yang terstruktur.

“Aset kripto bukan lagi spekulatif — aset ini sedang menjadi lapisan pengoperasian dari keuangan modern,” ia tulis, memproyeksikan penggunaan aktif dari aset tokenisasi, T-bill on-chain, stablecoin, serta instrumen keuangan terprogram di neraca perusahaan.

Ia juga menyoroti ekspansi pesat exchange-traded fund (ETF) kripto, yang kini menyediakan akses institusional, tapi masih baru mewakili 1–2% dari pasar ETF di AS, sehingga masih ada peluang pertumbuhan yang besar.

Pasar Modal dan Kustodian Mengikuti On-Chain

Seiring dengan meningkatnya adopsi, Long memperkirakan pasar modal akan mengikuti. Ia memprediksi bahwa 5–10% aktivitas penyelesaian global akan berpindah ke on-chain, didorong oleh tokenisasi dan mobilitas jaminan berbasis stablecoin.

Pada saat yang sama, layanan kustodian kripto sedang memasuki fase konsolidasi. Dengan nilai aktivitas merger dan akuisisi aset kripto mencapai US$8,6 miliar di tahun 2025, Long memperkirakan layanan kustodian akan menjadi arena persaingan utama berikutnya, di mana komoditisasi mendorong integrasi vertikal dan strategi multi-custodian.

4/ Crypto M&A reflects market maturity, with $8.6B in deal volume in 2025 driven largely by institutions and custody emerging as the next major consolidation driver. As custody commoditizes, spurring vertical integration and multi-custodian strategies, ~50% of the world’s top 50…

— Monica Long (@MonicaLongSF) January 20, 2026

Menjelang tahun 2026, ia memperkirakan lebih dari separuh dari 50 bank terbesar dunia akan meresmikan kerja sama kustodian baru.

Blockchain Bertemu dengan AI tapi Pasar Tetap Waspada

Long juga menyoroti konvergensi antara blockchain dan AI, di mana smart contract, model AI, dan zero-knowledge proof yang menjaga privasi akan mengotomasi manajemen treasury, optimalisasi jaminan, dan penilaian risiko secara real-time.

Meski visinya sangat luas, respons pasar justru datar karena harga XRP turun lebih dari 3% ke level US$1,90, sehingga turun di bawah angka US$2.

Ripple (XRP) Price Performance
Performa Harga Ripple (XRP) | Sumber: BeInCrypto

Penurunan harga XRP ini mencerminkan masih adanya kesenjangan antara pergerakan harga jangka pendek dan narasi infrastruktur jangka panjang. Hal ini terjadi meskipun Ripple menempatkan tahun 2026 sebagai tahun penentu bagi adopsi kripto institusional.

  •  

Likuidasi Kripto Capai US$1 Miliar saat 182.000 Trader Rugi Besar dalam Satu Hari

Pada 20 Januari 2026, pasar aset kripto mengalami peristiwa deleveraging tajam. Lebih dari 182.000 trader terpaksa menutup posisi mereka, dengan total likuidasi lebih dari US$1,08 miliar. Posisi long menjadi penyumbang utama kerugian karena trader Bitcoin dan Ethereum Futures terkena margin call beruntun.

Saat ini, para trader menghadapi leverage yang lebih tinggi di tengah tekanan ekonomi makro global yang semakin intensif dan kelemahan teknikal di seluruh aset digital.

Likuidasi Rekor Hantam Trader Leverage

Berdasarkan data CoinGlass, sebanyak 182.729 trader terlikuidasi selama periode 24 jam yang berakhir pada 20 Januari, dengan total kerugian mencapai US$1,08 miliar. Sebagian besar merupakan posisi long, sebesar US$1,08 miliar, sedangkan likuidasi short jauh lebih kecil, yaitu US$79,67 juta.

Bitcoin mencatat likuidasi long sebesar US$427,06 juta, disusul Ethereum sebesar US$374,47 juta. Likuidasi tunggal terbesar di Bitget terjadi pada posisi BTCUSDT_UMCBL dengan nilai US$13,52 juta. Sejumlah exchange utama juga mencatat kerugian besar: Hyperliquid membukukan long likuidasi senilai US$132,39 juta, Bybit US$91,35 juta, dan Binance US$64,08 juta dalam periode empat jam.

Likuidasi terjadi ketika exchange menutup posisi leverage trader karena margin tidak cukup untuk menutupi kerugian. Saat harga bergerak berlawanan dengan posisi leverage tinggi, exchange otomatis menjual jaminan, yang memicu aksi jual beruntun karena setiap likuidasi mendorong harga turun dan menimbulkan margin call lanjutan.

Trader papan atas juga terkena dampak besar. Machi Big Brother, seorang investor ternama, mengalami lima kali likuidasi dalam satu hari. Total kerugiannya mencapai US$24,18 juta, dan sisa 2.200 ETH miliknya, senilai US$6,67 juta, berisiko terlikuidasi juga jika Ethereum turun ke US$2.991,43.

Sinyal Kelemahan Teknis dan Stres Pasar

Sejumlah indikator pasar menunjukkan tekanan jelas di luar harga yang jatuh. Analisis teknikal menemukan bahwa sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan Relative Strength Index (RSI) harian di bawah 50, menandakan adanya tekanan jual. RSI bergerak dari 0 sampai 100; nilai di bawah 50 menunjukkan sentimen bearish.

Market stress indicators
Indikator teknikal menunjukkan RSI di bawah 50 dan rasio likuidasi yang tinggi. Sumber: Alphractal

Rasio likuidasi-terhadap-open interest selama 24 jam terakhir tetap tinggi di sebagian besar pasar, menandakan proses deleveraging secara nyata. Rasio ini mengukur persentase posisi terbuka yang terlikuidasi dan biasanya melonjak saat terjadi tekanan dan aksi jual paksa.

“Sebagian besar altcoin diperdagangkan dengan RSI harian di bawah 50, mengindikasikan tekanan jual. Selain itu, rasio 24 jam Likuidasi / Open Interest tinggi di banyak pasar, menandakan banyak trader telah terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Ini adalah situasi deleverage dan tekanan pasar yang biasa terjadi.”

Likuidasi yang berulang ini menguras modal investor, sehingga trader makin sulit masuk kembali ke pasar saat harga lebih rendah. Kondisi ini bisa menyebabkan spiral penurunan harga yang berulang karena jumlah pembeli semakin sedikit saat permintaan paling dibutuhkan untuk menahan harga.

Ancaman Likuiditas Global yang Meningkat Tekan Pasar Lebih Kuat

Selain tantangan internal kripto, peristiwa ekonomi makro memperbesar volatilitas pasar. Pasar obligasi Jepang mengalami pergeseran ekstrem pada 20 Januari: yield Obligasi Pemerintah Jepang (JGB) 30 tahun melonjak 25 basis poin menjadi 3,86%, sedangkan yield 10 tahun naik 8 basis poin ke 2,34%. Keduanya mencetak rekor tertinggi baru untuk surat utang Jepang.

Japan bond yields chart
Lonjakan tajam yield Obligasi Pemerintah Jepang ke rekor tertinggi (Sumber: Ole S. Hansen)

Pergeseran yield ini berdampak luas. Rendahnya yield Jepang selama puluhan tahun menjadi pijakan likuiditas global dan mendorong carry trade, di mana investor meminjam yen dengan bunga murah lalu mengalirkannya ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi, termasuk aset kripto.

namun, naiknya yield Jepang membuat posisi carry trade menjadi jauh lebih mahal. Akibatnya, modal berpindah kembali ke Jepang dan menjauh dari aset berisiko seperti kripto. Bank of Japan memiliki pilihan terbatas: menahan yield berisiko membuat yen melemah, sementara kebijakan moneter ketat bisa mendistorsi pasar atau mengikis kepercayaan. Apa pun pilihannya, ketatnya likuiditas global semakin terasa.

Tekanan tambahan hadir dari penyelenggaraan World Economic Forum di Davos, di mana diskusi kebijakan bisa memunculkan ketidakpastian regulasi baru. Acara tahunan ini kerap menimbulkan gejolak pasar, khususnya pada aset kripto yang terus berada di bawah pengawasan regulasi global.

Volatilitas Berlanjut Nampaknya Akan Terjadi di Pasar Aset Kripto

Kelemahan teknikal, modal trader leverage yang terkuras, dan ketatnya likuiditas global semua menandakan ketidakpastian masih berlanjut. Volatilitas jangka pendek bisa makin tinggi seiring pasar menghadapi kenaikan yield Jepang dan sinyal baru dari Davos.

Trader dengan leverage tinggi tetap sangat rentan. Saat kondisi memburuk, exchange secara otomatis melikuidasi posisi untuk membatasi risiko—seringkali modal trader langsung habis. Komunitas kripto menyebut hasil seperti ini sebagai “rekt”, istilah slang untuk “wrecked.”

Manajemen risiko yang efektif menjadi sangat penting saat rasio likuidasi dan tekanan pasar tinggi. Walau demikian, kondisi yang tidak menarik dan kelelahan modal dapat membatasi pembelian, sehingga harga tetap tertekan sampai harga turun cukup dalam untuk menarik modal baru, atau tren makro mulai mereda.

Beberapa hari ke depan akan menunjukkan apakah pasar kripto mampu menyerap gejolak ini, atau justru akan menghadapi gelombang likuidasi lanjutan sejalan dengan perubahan kondisi keuangan global.

  •  

Smart Money Akumulasi Bitcoin Senilai US$3,2 Miliar: Apa Artinya untuk Harga?

Para whale dan shark Bitcoin (BTC) terus melakukan akumulasi selama sembilan hari terakhir, meskipun investor ritel kecil mengurangi eksposurnya. Hal ini menandakan, menurut Santiment, adanya “kondisi optimal” untuk potensi breakout.

Perbedaan perilaku antara holder besar dan kecil ini terjadi di tengah volatilitas yang meningkat, di mana Bitcoin hampir menghapus seluruh keuntungan yang didapat selama 2026.

Smart Money Bangun Posisi Bitcoin saat Investor Ritel Keluar

Setelah penutupan tahun 2025 yang penuh tantangan, tahun baru untuk Bitcoin dibuka dengan catatan positif. Aset kripto ini naik lebih dari 7% dalam lima hari pertama Januari, didukung oleh sentimen optimistis di berbagai aset berisiko. tapi, reli ini tidak berlangsung lama karena volatilitas pasar kembali terjadi.

Meskipun sempat pulih sebentar pekan lalu, kondisi pasar secara keseluruhan kembali memburuk setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif untuk 8 negara di Uni Eropa (UE), sehingga menimbulkan ketidakpastian baru. Kabar ini menekan aset berisiko dan ikut memicu penurunan pasar aset kripto.

Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa BTC turun 6,25% selama sepekan terakhir. Kemarin, harga BTC turun di bawah US$88.000 untuk pertama kalinya sejak awal tahun.

Pada waktu publikasi, kripto terbesar ini diperdagangkan di US$89.329, turun 3,31% dalam 24 jam terakhir.

Bitcoin Price Performance
Performa Harga Bitcoin | Sumber: BeInCrypto Markets

Meski volatilitas melanda, whale dan shark terus menambah posisi mereka. Data Santiment menunjukkan wallet yang memegang antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah 36.322 koin, senilai US$3,2 miliar dengan harga pasar saat ini, dalam sembilan hari terakhir. Hal ini menunjukkan kenaikan 0,27% dalam kepemilikan investor besar.

Tren akumulasi ini sangat kontras dengan perilaku investor ritel. Holder kecil justru melepas 132 koin selama sembilan hari, atau penurunan 0,28% dalam total kepemilikan mereka.

Biasanya, pola seperti ini menandakan holder lemah keluar saat harga menurun, sementara investor berpengalaman justru membeli saat harga turun.

“Kondisi optimal untuk breakout di kripto adalah ketika smart money melakukan akumulasi, dan ritel melakukan dump. Terlepas dari isu geopolitik, pola ini terus menciptakan divergensi bullish jangka panjang,” terang postingan tersebut.

Retail has left Bitcoin markets and whales are buying. pic.twitter.com/5I8ev1GftT

— Ki Young Ju (@ki_young_ju) January 15, 2026

Penting dicatat, meski smart money sedang akumulasi, prospek Bitcoin masih terbelah. Beberapa pengamat pasar menilai Bitcoin memberikan sinyal bear market, sehingga risiko penurunan lanjut semakin besar. tapi, ada juga indikator baru yang menguatkan peluang pemulihan jangka panjang.

Saat ini, sensitivitas Bitcoin terhadap perkembangan ekonomi makro global masih menjadi faktor utama yang perlu diawasi. Apakah aset ini akan terus melemah dalam waktu dekat atau mulai bangkit kembali sangat tergantung pada bagaimana sentimen risiko global berkembang.

  •  

Emas Kalahkan Bitcoin, Minyak Anjlok Tapi Investor Borong Kripto

Harga emas melonjak, minyak anjlok, dan Bitcoin stagnan di tahun 2025. Di saat yang sama, banyak perusahaan diam-diam membeli aset kripto senilai puluhan miliar US$. Pergerakan ini bersama-sama memperlihatkan bagaimana tarif, likuiditas, dan perilaku institusi membentuk ulang pasar menjelang 2026.

Data dari CoinGecko menunjukkan tahun yang penuh dengan kontras tajam. Emas naik 62,6%, minyak turun 21,5%, dan Bitcoin berakhir turun 6,4%. Meski begitu, Digital Asset Treasury Companies (DAT) menggelontorkan hampir US$50 miliar ke dalam Bitcoin dan Ethereum, sehingga menguasai lebih dari 5% total pasokan.

Performa Harga Bitcoin Vs Aset Utama di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Emas Menguat saat Tarif Meningkatkan Ketidakpastian

Kinerja emas yang unggul sejalan dengan situasi yang penuh tarif. Hambatan dagang meningkatkan ketidakpastian, melemahkan kepercayaan pada stabilitas mata uang jangka panjang, dan mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap defensif. Emas langsung mendapat keuntungan dari situasi ini.

Berbeda dengan aset pertumbuhan, emas tidak butuh likuiditas yang terus meningkat untuk reli. Emas merespons risiko kebijakan dan tekanan geopolitik. Karena tarif meningkat dan gesekan perdagangan global terus naik, emas menjadi pilihan lindung nilai utama.

Minyak Menyerap Kejutan Pertumbuhan Saat Bitcoin Tertahan

Minyak justru menunjukkan cerita sebaliknya. Tarif memperlambat perdagangan, menekan aktivitas manufaktur, serta mengurangi volume pengiriman barang. Itu secara langsung menekan permintaan energi.

Harga minyak mentah turun 21,5% di tahun 2025 karena pasokan tetap melimpah dan produksi non-OPEC naik. Dalam situasi penuh tarif, minyak bergerak seperti proksi pertumbuhan—dan laju pertumbuhan pun menurun.

Capaian -6,4% Bitcoin pada tahun ini mencerminkan tarik-menarik. Tarif menyebabkan ketidakpastian yang seharusnya menguntungkan aset lindung nilai, tapi juga menguras likuiditas bebas. Di saat yang sama, inflasi di AS tetap moderat namun cenderung bertahan, sehingga kondisi keuangan tetap ketat.

Hasilnya adalah konsolidasi panjang setelah guncangan likuidasi pada bulan Oktober. Bitcoin tidak anjlok seperti minyak dan juga tidak reli seperti emas. Bitcoin menunggu tekanan likuiditas mereda.

Grafik Harga Bitcoin 1 Tahun | Sumber: CoinGecko

Tekanan Fiat Masih Terkendali untuk Saat Ini

Walau tarif berperan sebagai “pajak domestik yang lambat”, inflasi tetap terjaga. Biaya naiknya tarif diambil secara bertahap oleh importir dan peritel, sehingga kenaikan harga ke konsumen tertunda. Itulah sebabnya stres terhadap mata uang fiat tidak begitu terlihat di data utama, sekalipun daya beli publik diam-diam menyusut.

“Slow burn” ini membatasi selera risiko tanpa memicu kepanikan—itulah salah satu alasan kenapa kripto bergerak sideways, bukan mengalami penurunan drastis.

Pembeli Treasury Terus Akumulasi Selama Reset

Ketika harga masih tertahan, DAT justru membeli besar-besaran. Mereka membelanjakan US$49,7 miliar sepanjang 2025, di mana sekitar setengahnya dilakukan di paruh kedua tahun. Kepemilikan mereka naik menjadi US$134 miliar pada akhir tahun, meningkat 137% dibanding tahun sebelumnya.

Perilaku ini menandakan keyakinan jangka panjang. Pembeli treasury menerima volatilitas demi mengamankan pasokan. Akumulasi mereka selama periode penurunan membuat Bitcoin dan Ethereum makin terkonsentrasi di pemegang kuat, serta mengurangi jumlah yang tersedia di pasar.

Pembelian Kripto oleh Digital Asset Treasury di Tahun 2025 | Sumber: CoinGecko

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi tahun pengetatan untuk pasar kripto. Tarif mendukung emas, menekan minyak, dan menunda siklus Bitcoin dengan cara menyedot likuiditas. Sementara itu, institusi membangun posisi mereka secara diam-diam.

Saat tekanan tarif tidak lagi bertambah berat dan tekanan jual mulai reda, Bitcoin perlahan bergerak lagi. Pasar memasuki 2026 dengan pasokan yang lebih ketat, holder yang lebih kuat, dan peluang ekspansi yang lebih jelas ketika likuiditas membaik.

Bagaimana pendapat Anda tentang fenomena divergensi aset antara emas dan Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Portugal Menindak Polymarket setelah Aktivitas Judi Pemilu Mencurigakan

Pihak berwenang Portugal sedang bersiap untuk memblokir akses ke Polymarket setelah jutaan euro dipertaruhkan pada hasil pemilihan presiden di negara tersebut sebelum hasil resmi diumumkan.

Langkah ini diambil karena pasar prediksi semakin populer, dengan olahraga, politik, dan aset kripto menjadi aktivitas utama di platform tersebut.

Polymarket Dapat Tekanan Regulasi di Portugal

Menurut Renascença, Layanan Regulasi dan Inspeksi Perjudian (SRIJ) telah memastikan bahwa platform prediksi berbasis kripto ini beroperasi secara ilegal di Portugal, karena taruhan pada peristiwa politik memang dilarang oleh hukum nasional.

Pihak regulator menyampaikan bahwa Polymarket secara resmi telah diberi pemberitahuan pada hari Jumat dan diberikan waktu 48 jam untuk menghentikan aktivitasnya di negara tersebut. Meski sudah diperintahkan, platform ini masih bisa diakses hingga hari Senin, sehingga SRIJ mulai mengambil langkah untuk meminta penyedia layanan internet memblokir aksesnya.

Perhatian mulai tertuju pada Polymarket setelah ada volume taruhan yang sangat besar pada pemilihan presiden Portugal di jam-jam terakhir sebelum tempat pemungutan suara ditutup.

Lebih dari €4 juta dilaporkan dipertaruhkan sesaat sebelum hasil pemilu diketahui, sedangkan total volume pasar utama presiden saat ini sudah melampaui US$120 juta. Selama periode itu, peluang kemenangan berubah drastis untuk mengunggulkan António José Seguro, jauh sebelum proyeksi resmi diumumkan.

Data pasar menunjukkan bahwa peluang kemenangan Seguro naik tajam, dari sekitar 60% di pagi hari menjadi di atas 90% saat malam tiba, hingga hampir pasti ketika stasiun TV mulai menayangkan proyeksi hasil pemilu.

Pergerakan cepat ini memunculkan dugaan bahwa beberapa trader mungkin sudah memiliki akses lebih awal ke data exit poll atau informasi lain yang belum diumumkan ke publik.

  •  

XRP Berpotensi Menjadi Bintang di 2026 dan Ungguli Ethereum

Para ahli mengatakan Ethereum akan segera mengungguli seluruh pasar, tetapi XRP menantang ETH seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

XRP Mencetak Terobosan Bersejarah

XRP telah mencapai tonggak sejarah langka terhadap Ethereum dengan menembus di atas awan Ichimoku pada grafik dua mingguan. Secara historis, zona ini telah menghambat kenaikan XRP/ETH selama pasar bullish, bertindak sebagai resistensi kuat sejak 2018. Untuk pertama kalinya sejak 2021, awan tersebut kini tampak sebagai level support potensial.

Rasio XRP/ETH di perdagangkan sekitar 0,00061 ETH setelah penurunan baru-baru ini sekitar 6%, tetapi tetap berada di atas cloud

Setelah mencapai titik terendah 0,0001251 ETH pada Juni 2024, XRP kembali menembus level cloud pada November 2024. Hal ini menandakan pergeseran struktural utama. Pada tahun 2025, pasangan ini mencapai level tertinggi lima tahun di 0,00139 ETH sebelum terkoreksi sebesar 56%. Terlepas dari penurunan ini, harga tetap berada di atas level clou. Sekarang bertindak sebagai support, menandakan kemungkinan pembalikan tren bullish. Analis Matt Hughes menunjukkan bahwa Tenkan-sen telah melintasi di atas Kijun-sen, menunjukkan momentum jangka menengah yang di perbarui.

Sementara itu, cadangan XRP yang di simpan di Binance telah turun sekitar 45% dalam satu tahun. Penurunan signifikan ini menunjukkan pengurangan yang nyata dalam pasokan yang tersedia di platform pertukaran terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna memindahkan XRP mereka ke dompet pribadi daripada membiarkannya di bursa. Tren ini mencerminkan perilaku akumulasi jangka panjang daripada keinginan untuk menjual segera.

Secara historis, kontraksi cadangan di bursa semacam ini sering mendahului pasar bullish, karena pasokan yang lebih terbatas meningkatkan sensitivitas harga terhadap permintaan. Dengan lebih sedikit XRP yang tersedia untuk penjualan langsung, peningkatan permintaan apa pun dapat mendorong harga lebih cepat daripada Ethereum, yang tidak menunjukkan dinamika akumulasi yang begitu kentara.

Sumber: CryptoQuant

Target Kenaikan 5x Lipat Dalam Indikator Hijau

Sementara itu, harga XRP tetap berfluktuasi tetapi mendukung: saat ini di perdagangkan sekitar US$2,06, sedikit turun harian dan mingguan. Harga bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari (US$2,02), menunjukkan dukungan jangka pendek, tetapi tetap di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (US$2,53), mencerminkan tren bearish secara keseluruhan . Terakhir, RSI di 50,7 menunjukkan pasar netral, tanpa penjualan berlebihan maupun pembelian berlebihan.

Altcoin ini baru-baru ini menyelesaikan fase akumulasi panjang setelah menembus pola descending wedge tahun 2020-2024, di ikuti oleh ekspansi 600% sejak awal kemunculannya di US$0,60. Saat ini, altcoin tersebut diperdagangkan di atas zona breakout yang telah dikonfirmasi, dengan struktur bullish yang tetap utuh selama harganya tetap di atas US$1,30.

Target potensial meliputi US$3,50, US$5,00, US$8,70, dan di atas US$10, dengan pembatalan di bawah US$1,30 pada penutupan tertinggi. Struktur teknis ini, di kombinasikan dengan kelemahan relatif Ethereum terhadap awan Ichimoku, memposisikan XRP untuk kinerja yang lebih baik pada tahun 2026.

Bagaimana pendapat Anda tentang potensi XRP di 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Pi Coin Dapat Bantuan Sementara Setelah Cetak Rekor Terendah, tapi Risiko Masih Ada

Pi Coin (PI) milik Pi Network mencatat pemulihan tipis pada hari Selasa setelah turun ke US$0,150 sehari sebelumnya, yang menandai level terendah sejak token ini mulai diperdagangkan di exchange.

Penurunan tajam ini menjadi ujian penting bagi proyek tersebut karena dua kekuatan yang saling bertentangan sedang bermain. Di satu sisi, cadangan exchange yang semakin menyusut menunjukkan tekanan jual dalam jangka pendek mulai berkurang. Di sisi lain, unlock token yang akan datang masih bisa menjadi hambatan bagi harga.

Sentimen Risk-Off Tekan Aset Kripto saat Pi Coin Cetak Rekor Terendah

Pernyataan Presiden Donald Trump terkait tarif baru untuk delapan negara Uni Eropa memicu volatilitas pasar secara luas dan menekan aset-aset berisiko di seluruh pasar.

BeInCrypto melaporkan bahwa logam mulia menguat akibat permintaan aset lindung nilai. Sementara itu, indeks saham dan saham kripto ikut melemah. Bitcoin (BTC) turun di bawah US$95.000, dan Ethereum (ETH) juga mencatat kerugian.

Pi Coin (PI) juga ikut terdampak pelemahan pasar secara menyeluruh. Data memperlihatkan token ini jatuh ke titik terendah sepanjang masa di US$0,150 di OKX, dan grafik harga menunjukkan lower wick yang cukup panjang.

Pi Network Price Performance
Performa Harga Pi Network | Sumber: TradingView

Meski harga ditutup bearish, presence lower wick yang panjang menandakan upaya gagal mendorong harga ke bawah. Penjual memang sempat menekan harga turun tajam, namun minat beli langsung menyerap penurunan tersebut dan menolak penurunan lebih lanjut, sehingga memperlihatkan adanya volatilitas serta permintaan di bawah kisaran saat ini, bukan dominasi jual berkelanjutan.

Pergerakan harga ini sejalan dengan perubahan saldo exchange. Statistik exchange dari Piscan menunjukkan bahwa per 20 Januari, exchange terpusat memegang sekitar 420 juta token Pi senilai kurang lebih US$75,6 juta.

Angka ini telah turun hampir 7 juta sejak awal Januari, yang mengindikasikan investor membeli di harga bawah lalu dengan cepat menarik PI dari platform. Pada waktu publikasi, altcoin ini diperdagangkan di harga US$0,189, naik sekitar 1% selama 24 jam terakhir.

Harga Pi Network Menghadapi Prospek Rapuh Karena Volume Turun dan Supply Akan Naik

Walaupun demikian, pemulihan harga ini nampaknya masih rentan. BeInCrypto menyoroti bahwa volume perdagangan mingguan Pi Coin turun tajam, bahkan berada di bawah US$100 juta. Angka ini menurun 99% dibanding volume mingguan yang sempat menembus US$10 miliar pada Maret 2025.

Karena aktivitas perdagangan sangat tipis, pemulihan harga sulit bertahan, sebab volume rendah menunjukkan minat investor yang juga minim. Kurangnya partisipasi ini juga diperkuat oleh data Google Trends data, di mana pencarian “Pi Network” tetap rendah, hanya di angka 5 pada saat berita ini ditulis.

“Satu-satunya harapan agar PI benar-benar bisa melesat adalah dengan listing di Binance,” klaim seorang pengguna .

Melihat ke depan, tambahan tekanan dari sisi suplai bisa bermunculan. Pi Network dijadwalkan unlock lebih dari 140 juta token dalam 30 hari ke depan.

Token Unlock Pi Network | Sumber: PiScan

Unlock token seringkali menjadi hambatan jangka pendek untuk performa harga karena jumlah suplai di pasar bertambah. Ketika banyak token masuk ke pasar, para holder bisa mengambil keuntungan dengan menjual, yang otomatis menambah tekanan jual. Bila permintaan tidak ikut meningkat secara proporsional, suplai yang melimpah ini dapat menekan harga lebih lanjut.

  •  

XRP Resmi Masuk ‘Big Three’ Kripto dan Raih Imunitas

Dunia aset digital memasuki babak baru pada awal 2026. XRP, token yang dikembangkan oleh Ripple, secara resmi telah mengakhiri ketidakpastian regulasi selama bertahun-tahun.

Melalui implementasi Digital Asset Market Clarity Act yang berlaku mulai 1 Januari 2026, XRP kini memiliki status hukum yang setara dengan Bitcoin dan Ethereum.

Akhir Sengketa Regulasi: Imunitas Hukum dan Yurisdiksi CFTC

Langkah ini memberikan XRP apa yang disebut sebagai “imunitas hukum”. Kini, token tersebut berada di bawah yurisdiksi penuh Commodity Futures Trading Commission (CFTC), bukan lagi di bawah pengawasan ketat SEC. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyambut antusias perkembangan ini. “Hari ini kita tidak hanya merayakan kemenangan hukum, tetapi juga pengakuan bahwa XRP adalah infrastruktur vital bagi masa depan keuangan global yang transparan,” tegasnya.

Status baru ini memicu pergeseran besar dalam hierarki pasar. XRP kini resmi bergabung dalam kelompok eksklusif “Big Three” bersama Bitcoin dan Ethereum. Analis pasar dari BeInCrypto, Jakub Dziadkowiec, mencatat bahwa momen ini adalah titik balik krusial. “XRP akhirnya terbebas dari bayang-bayang SEC. Ini bukan lagi tentang spekulasi, melainkan tentang adopsi institusi skala besar yang selama ini tertahan,” ungkapnya.

XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Sorotan CNBC Television: XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Masa Depan XRP Sebagai Infrastruktur Pembayaran Global

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Bagaimana pendapat Anda tentang status hukum XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

3 Alasan Mengapa Januari Bitcoin Merupakan Fase Konsolidasi yang Krusial

Fase konsolidasi Bitcoin sering terasa tidak nyaman bagi trader. Fase ini menguji kesabaran dan keyakinan. Tapi, periode ini juga bisa menciptakan peluang bagi investor yang mengikuti rencana manajemen modal dengan disiplin.

Beberapa sinyal menunjukkan Januari bisa menjadi bulan saat Bitcoin memasuki fase konsolidasi krusial sebelum pemulihan harga.

3 Sinyal Tunjukkan Januari Bisa Jadi Saat Bitcoin Membentuk Local Bottom

Berdasarkan data teknikal, on-chain, dan exchange, para analis percaya sinyal positif untuk pemulihan jangka panjang sudah mulai muncul.

Pertama, data teknikal menunjukkan Bitcoin sedang mendekati zona DCA optimal berdasarkan moving average (MA).

Menurut platform analitik on-chain Alphractal, zona akumulasi jangka panjang yang ideal biasanya terbentuk saat harga BTC turun di bawah semua moving average harian, mulai dari siklus 7 hari hingga 720 hari. Kondisi ini menciptakan “zona aman” di mana harga dianggap undervalued terhadap tren jangka panjangnya.

Saat ini, Bitcoin sudah turun di bawah sebagian besar moving average-nya sejak November lalu. Hanya MA720 yang masih bertahan. Level ini berada di kisaran US$86.000.

“Bitcoin sedang sangat dekat dengan salah satu zona terbaik untuk menerapkan strategi DCA. Secara historis, zona ini sangat baik untuk akumulasi jangka panjang. Agar itu terjadi, BTC harus turun di bawah US$86.000,” komentar Alphractal .

Bitcoin Dynamic MA & Price. Source: Alphractal
Bitcoin Dynamic MA & Harga | Sumber: Alphractal

Bitcoin turun di bawah US$86.000 belum tentu langsung menjadi titik terendah, tapi data historis menunjukkan periode BTC menembus MA7 sampai MA720 biasanya berlangsung beberapa bulan.

Kedua, data on-chain memperlihatkan pertumbuhan jaringan Bitcoin berada di titik terendah selama beberapa tahun terakhir. Meski terlihat negatif, pola historis justru menunjukkan hal ini sering menjadi awal fase pemulihan.

Menurut Swissblock, sebuah dana investasi sekaligus penyedia informasi pasar, lemahnya aktivitas jaringan dan likuiditas rendah mengindikasikan Bitcoin sedang berada di fase akumulasi atau konsolidasi sebelum pergerakan besar selanjutnya.

“Pertumbuhan jaringan sudah menyentuh titik terendah sejak 2022, sementara likuiditas terus berkurang. Pada 2022, level jaringan seperti ini memicu fase konsolidasi BTC saat pertumbuhan jaringan mulai membaik, walaupun likuiditas masih lemah dan mendekati dasar,” papar Swissblock.

Bitcoin Network Growth vs Liquidity. Source: Swissblock
Pertumbuhan Jaringan Bitcoin vs Likuiditas | Sumber: Swissblock

Swissblock juga menyebutkan bahwa masih diperlukan tanda-tanda adopsi baru di jaringan. Jika skenario ini terjadi, reli seperti tahun 2022 bisa mendorong Bitcoin menyentuh all-time high baru tahun ini.

Ketiga, data exchange memperlihatkan tekanan jual dari para whale turun drastis dalam satu bulan terakhir. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk konsolidasi harga dan pemulihan selanjutnya.

Binance Whale to Exchange Flow. Source: CryptoQuant.
Arus Whale ke Exchange Binance | Sumber: CryptoQuant.

Penurunan Tekanan Jual dari Whale

Berdasarkan data CryptoQuant , arus BTC dari whale ke exchange turun sangat tajam, terutama di Binance.

Secara khusus, pasokan BTC masuk dari transaksi besar yang berkisar antara 100 sampai lebih dari 10.000 BTC telah turun dari hampir US$8 miliar per bulan pada akhir November 2025 menjadi sekitar US$2,74 miliar saat ini. Perubahan perilaku ini sangat mengurangi tekanan suplai di sisi penjual. Hal ini mendukung stabilitas harga serta memperkuat potensi pemulihan.

Kombinasi sinyal teknikal (harga diperdagangkan di bawah moving average utama), data on-chain (pertumbuhan jaringan rendah), dan metrik exchange (penurunan tekanan jual whale) mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang ideal untuk membentuk titik terendah lokal.

Meski begitu, data di atas belum cukup untuk menentukan harga dasar secara pasti. Selain itu, beberapa ketidakpastian eksternal masih belum terhitung. Hal ini termasuk potensi kembalinya tekanan tarif di tengah ketegangan geopolitik dan dampak pasar akibat pergantian kepemimpinan Federal Reserve yang akan datang.

Bagaimana pendapat Anda tentang fase konsolidasi Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Pola Breakdown XRP 2022: Sejarah Terulang di Bawah US$1?

Harga XRP (XRP) turun hampir 10% sejak Rabu lalu karena tekanan ekonomi makro terus membebani pasar aset kripto secara keseluruhan.

Menariknya, ada tiga pola utama yang terakhir muncul pada tahun 2022 kini muncul kembali, sehingga memicu kekhawatiran bahwa XRP bisa jatuh di bawah level US$1.

3 Pararel Historis Tunjukkan Risiko XRP yang Meningkat

Pertama, data Glassnode menunjukkan bahwa investor aktif dalam rentang 1 minggu hingga 1 bulan kini sedang melakukan akumulasi pada harga di bawah biaya dasar holder 6 bulan hingga 12 bulan. Hal ini menandakan kalau pelaku pasar baru mulai masuk di level yang lebih menguntungkan.

Dinamika Klaster Holder XRP | Sumber: X/Glassnode

Selama ketidakseimbangan ini terjadi, tekanan psikologis terus meningkat bagi investor yang membeli di dekat harga puncak. Glassnode memperingatkan bahwa “pembeli di puncak” ini akan menghadapi tekanan yang makin besar seiring waktu. Pola ini mirip dengan situasi yang terjadi pada Februari 2022.

“Pola itu tidak berakhir dengan baik waktu itu,” tutur seorang pengamat pasar menambahkan.

Kedua, penurunan volume yang terjadi bersamaan dengan turunnya harga sangat mirip dengan perilaku pasar pada periode 2021–2022.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga XRP belakangan ini tidak menarik minat beli saat harga rendah yang berarti. Ini menandakan kurangnya keyakinan para pelaku pasar. Pola yang sama juga terjadi sebelum penurunan besar di Februari 2022.

XRP Historical Parallels
Paralel Historis XRP | Sumber: Coinglass

Ketiga, sinyal teknikal menyoroti risiko tambahan. Jika membandingkan struktur histogram Moving average convergence/divergence (MACD) antara periode 2025–2026 dan siklus 2021–2022, nampak pola momentum yang sangat mirip.

Data ini mengindikasikan bahwa XRP bisa saja turun hingga 45% jika harga menembus zona support di US$1,8–US$1,9. Jika terjadi breakdown, harga XRP bisa turun di bawah US$1, dan melintasi ambang psikologis dan teknikal yang penting.

XRP Price Prediction
Prediksi Harga XRP | Sumber: TradingView

Skenario Bullish: Potensi Pembalikan Arah

Sementara itu, analisis BeInCrypto menyebut XRP kini berada di momen penentuan. Harga XRP sedang membentuk pola inverse head-and-shoulders yang berpotensi bullish.

Pola ini hanya akan valid bullish jika XRP berhasil merebut kembali EMA 100 hari di atas US$2,24 dan menembus zona neckline US$2,48–US$2,52. Jika terkonfirmasi, formasi ini berpotensi memberikan kenaikan sekitar 33%.

Selain itu, sebagian pelaku pasar percaya potensi reli mulai terbentuk untuk XRP. Seorang analis on-chain kripto ucap bahwa retest tren harian CME XRP telah selesai dan gap 4 jam CME juga sudah terisi.

Menurut analis tersebut, kondisi ini bisa membuka peluang bagi XRP untuk bergerak terpisah dari pasar dan segera reli dari level saat ini.

$XRP will pump hard soon.

Stay focused. 👇 pic.twitter.com/YEIglUifpK

— STEPH IS CRYPTO (@Steph_iscrypto) January 19, 2026

Dalam beberapa minggu ke depan, para trader akan mengamati apakah pola tahun 2022 terulang. Untuk sekarang, baik sinyal teknikal maupun on-chain serta kondisi pasar secara luas menunjukkan outlook hati-hati saat XRP menghadapi fase krusial ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang pola breakdown XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Whale Ethereum Transaksi US$110 Juta saat Tekanan Pasar Meningkat

Ethereum (ETH) mengalami tekanan jual yang signifikan pada Januari 2026. Wallet whale dan institusi telah memindahkan lebih dari US$110 juta ETH ke beberapa exchange utama.

Pada saat yang sama, Coinbase Premium Index menunjukkan permintaan yang melemah di pasar Amerika Serikat. Meski begitu, permintaan staking yang semakin tinggi. Sinyal teknikal yang mendukung memberikan prospek yang tetap optimistis meskipun hati-hati untuk aset ini.

Transfer Ethereum Besar Tunjukkan Aktivitas Tinggi dari Whale dan Institusi

Data on-chain menunjukkan banyak transaksi besar Ethereum. Perusahaan analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa sebuah wallet dengan identitas 0xB3E8, yang mulai melakukan trading ETH delapan tahun lalu, telah mentransfer 13.083 ETH senilai sekitar US$43,35 juta ke Gemini minggu lalu.

Walaupun terjadi perpindahan tersebut, wallet tersebut masih menyimpan 34.616 ETH, dengan nilai sekitar US$115 juta.

It appears that a whale is dumping 13,000 $ETH($41.75M).

Galaxy Digital OTC wallet just transferred 13,000 $ETH($41.75M) out and has already deposited 6,500 $ETH($20.89M) into #Binance, #Bybit, and #OKX.https://t.co/UT2jKKEMFS pic.twitter.com/GolGaNMzrN

— Lookonchain (@lookonchain) January 19, 2026

Selain whale, pelaku institusi juga melakukan pergerakan besar. Lookonchain mencatat bahwa perusahaan Ethereum treasury FG Nexus menjual 2.500 ETH, dengan nilai sekitar US$8,04 juta.

Penjualan sebelumnya dari perusahaan ini terjadi pada November 2025, saat mereka memindahkan 10.975 ETH ke Galaxy Digital pada 18 dan 19 November. Saat ini, perusahaan tersebut memegang 37.594 ETH dengan nilai sekitar US$119,7 juta.

Selain itu, Lookonchain mengungkapkan bahwa sebuah wallet yang kemungkinan terkait dengan perusahaan venture capital Fenbushi Capital mengirim 7.798 ETH senilai US$25 juta ke Binance. Token-token tersebut telah di-staking selama dua tahun sebelum akhirnya kembali beredar.

Perlu dicatat bahwa pelaku pasar sering melihat arus masuk dana ke exchange sebagai sinyal awal adanya potensi aksi jual. Aset biasanya dipindahkan ke exchange terpusat untuk mendapatkan likuiditas atau melakukan trading.

Tapi, pergerakan ini belum tentu langsung diikuti oleh penjualan pasar secara segera. Dana tersebut bisa juga untuk kebutuhan rebalancing internal, penempatan collateral, strategi hedging, atau penyelesaian over-the-counter. Jadi, meskipun deposit ke exchange bisa meningkatkan risiko aksi jual jangka pendek, hal ini tidak serta merta menandakan bahwa likuidasi akan segera terjadi.

Sejalan dengan pergerakan on-chain tersebut, indikator berbasis pasar juga memberikan gambaran tambahan soal kondisi saat ini. Coinbase Premium Index, yang mengukur perbedaan persentase harga Coinbase Pro (pasangan USD) dan harga Binance (pasangan USDT), saat ini berada di zona negatif. Hal ini menunjukkan permintaan yang lebih lemah dari investor institusi asal Amerika Serikat.

ETH's Negative Coinbase Premium Index
Coinbase Premium Index Negatif ETH | Sumber: CryptoQuant

Ethereum Staking dan Sinyal Teknikal Tunjukkan Ketahanan

Meski begitu, ekosistem staking Ethereum terus menunjukkan permintaan yang konsisten. Berdasarkan data antrean validator, terdapat 2,7 juta ETH dalam antrean masuk untuk staking, sehingga menyebabkan waktu tunggu hingga 47 hari. Backlog yang besar ini menandakan minat yang tinggi untuk berpartisipasi sebagai validator dan dukungan jangka panjang terhadap jaringan.

Perbandingan antara antrean masuk dan keluar menjadi perhatian. Ada 36.960 ETH yang menunggu antrean keluar. Ketidakseimbangan ini memberi sinyal bahwa meski beberapa holder besar memilih untuk menjual, mayoritas validator tetap berkomitmen ingin mendapatkan imbalan staking dan membantu menjaga keamanan jaringan.

Tom Lee(@fundstrat)'s #Bitmine staked another 86,848 $ETH($277.5M) 5 hours ago.

In total, #Bitmine has now staked 1,771,936 $ETH($5.66B).https://t.co/P684j5Yil8 pic.twitter.com/fNoIuERqKt

— Lookonchain (@lookonchain) January 20, 2026

Selain itu, analis pasar juga menyoroti sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi kenaikan lebih lanjut untuk aset ini. Mengomentari situasi saat ini, analis Crypto Gerla menuturkan bahwa ETH sedang berada di fase re-akumulasi. Analis tersebut juga menambahkan bahwa pergerakan menuju US$3.600 bisa saja terjadi.

Bears called for a top last cycle because of the $ETH head and shoulder pattern.

Now, ETH is forming an inverse head and shoulder pattern, but bears think it won't play out this time.

They were right in 2022 and will be wrong in 2026. pic.twitter.com/mHcDZyGBXY

— BitBull (@AkaBull_) January 19, 2026

Berdasarkan data terbaru dari BeInCrypto Markets, harga perdagangan Ethereum berada di angka US$3.166,51, turun 1,11%. Apakah tekanan jual akan tetap menekan aset ini atau justru momentum bullish kembali berkuasa, bakal menjadi tren penting yang perlu diperhatikan dalam periode mendatang.

Bagaimana pendapat Anda tentang pergerakan whale Ethereum ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Bitcoin Bakal Koreksi 30%+ Menurut Prediksi Trader Veteran Peter Brandt

Trader veteran Peter Brandt membeber prediksi bahwa Bitcoin (BTC) bisa turun menuju zona US$58.000–US$62.000. Bila benar terjadi, itu akan mewakili koreksi sebesar 33–37% dari level harga terkini sekitar US$92.400.

Prediksi ini muncul di tengah Bitcoin yang terus memancarkan banyak sinyal bearish, sementara analis lain juga turut menyoroti adanya risiko koreksi lanjutan.

Peter Brandt Wanti-wanti Bitcoin Berpotensi Drop Merujuk Pola Teknikal

Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), Brandt menyebut Bitcoin berpeluang bergerak turun ke kisaran US$58.000 sampai US$62.000. Chart atau grafik harga yang tercantum menunjukkan bahwa pandangannya bersandarkan pada pola rising wedge yang terbentuk selama dua bulan terakhir.

“US$58.000 sampai US$62.000 adalah area yang saya prediksi akan menjadi tujuan BTC,” begitu isi unggahan tersebut.

Peter Brandt's Bitcoin Price Prediction
Prediksi Harga Bitcoin Peter Brandt | Sumber: X/Peter Brandt

Sebagai informasi, pola rising wedge muncul ketika harga terkonsolidasi di antara dua garis tren naik yang saling mendekat, di mana garis tren bawah naik lebih curam ketimbang garis tren atas.

Pola ini acap kali mengindikasikan melemahnya momentum dan meningkatkan probabilitas pergerakan turun, meskipun analisis teknikal tidak pernah menjamin hasil pasti. Brandt juga mengakui adanya ketidakpastian dalam setiap proyeksi pasar. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika prediksinya meleset.

“Kalau ternyata tidak turun sampai ke sana, saya TIDAK akan malu. Jadi saya tidak perlu melihat para troll menyimpan tangkapan layar ini di masa depan. Saya salah sekitar 50% sejauh ini. Saya tidak masalah jika salah.”

Selain Brandt, beberapa pengamat pasar juga menyoroti skenario bearish lain. Seorang analis menemukan kemiripan antara struktur harga Bitcoin saat ini dengan siklus pasar tahun 2022, lalu berpendapat bahwa aset ini “mengulang pola fractal 2022 secara persis”.

Sang analis membagikan perbandingan visual yang menunjukkan bahwa dalam kedua periode tersebut, Bitcoin sempat mencatat relief rally yang kemudian tertahan di bawah resistance horizontal. Pergerakan ini akhirnya membentuk bull trap sebelum harga menembus support yang menanjak.

Pada 2022, jebolnya support tersebut memicu akselerasi penurunan yang tajam. Menurut analis tersebut, dinamika serupa kini berpotensi kembali terjadi, seiring momentum penurunan yang mulai terakumulasi.

Bitcoin 2022 vs 2026
Bitcoin 2022 vs 2026 | Sumber: Linton Worm

Terakhir, BeInCrypto juga telah menemukan 5 sinyal utama bearish untuk Bitcoin, yang semakin memperkuat kemungkinan pergerakan turun. Meski begitu, beberapa analis punya pandangan yang berlawanan.

Analis Ted Pillows menerangkan bahwa pertumbuhan likuiditas AS secara tahunan mulai menyentuh titik terendah pada November 2025, yang kebetulan juga bertepatan dengan titik terendah lokal bagi Bitcoin.

Menurut Pillows, kondisi likuiditas AS kini sudah mulai membaik, hal yang ia percaya dapat mendukung reli aset kripto.

“Sekarang likuiditas AS membaik, yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memperkirakan akan ada reli aset kripto. Sesederhana itu,” papar dia.

$BTC is still in an uptrend on the weekly chart.

We’ve tested the same support line 3 times now and it keeps holding.
This last bounce around ~$93K shows buyers are still stepping in.

As long as BTC stays above this trendline, the trend stays bullish.

Next level to watch is… pic.twitter.com/XPCC3K0ME6

— Crypto King (@CryptoKing4Ever) January 19, 2026

Aktivitas Crypto Whale OG Bitcoin Kembali Muncul di Tengah Pandangan Pasar yang Terbelah

Di tengah indikator teknikal dan ekonomi makro yang menunjukkan sinyal beragam, data on-chain menunjukkan bahwa holder jangka panjang juga mulai semakin aktif. Platform analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa seorang crypto whale OG Bitcoin yang lama tidak aktif terekam memindahkan 909,38 BTC senilai sekitar US$84,62 juta ke wallet baru setelah 13 tahun.

Saat pertama kali diterima, setiap BTC tersebut bernilai kurang dari US$7, yang berarti telah mengalami apresiasi sekitar 13.900 kali lipat. Pergerakan semacam ini kerap memantik perhatian pasar karena bisa mengindikasikan potensi aksi jual atau reposisi strategis oleh investor awal.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024.

“Sejak 4 Desember 2024, ia sudah menjual $BTC, melakukan dump sebanyak 2.500 $BTC (US$265,0 juta) di harga rata-rata US$106.164. Dia masih menyimpan 2.500 $BTC (US$237,5 juta), dengan total keuntungan lebih dari US$500,0 juta,” terang postingan tersebut.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024. Ihwal ke mana arah Bitcoin selanjutnya, masih harus kita tunggu.

Bagaimana pendapat Anda tentang analisis dan prediksi Bitcoin versi Brandt di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Data Tarif Baru Tunjukkan Mengapa Pasar Kripto Macet Selama Berbulan-Bulan

Riset terbaru yang dikutip oleh The Wall Street Journal menunjukkan tarif perdagangan AS secara diam-diam membebani ekonomi domestik. Beban inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa pasar kripto kesulitan untuk mendapatkan momentum sejak aksi jual di bulan Oktober.

Sebuah studi dari Kiel Institute for the World Economy di Jerman menemukan bahwa untuk tarif yang diterapkan antara Januari 2024 hingga November 2025, sebanyak 96% biaya ditanggung oleh konsumen dan importir di AS, sedangkan eksportir asing hanya menanggung 4% saja.

Hampir US$200 miliar pendapatan dari tarif dibayarkan hampir seluruhnya di dalam ekonomi AS.

By analyzing $4 trillion of shipments between January 2024 and November 2025, researchers found that foreign exporters absorbed only about 4% of the burden of last year’s U.S. tariff increases by lowering their prices, while American consumers and importers absorbed 96%.

The…

— Nick Timiraos (@NickTimiraos) January 19, 2026

Tarif Bea Masuk Berperan Seperti Pajak Konsumsi Domestik

Riset ini menantang klaim politik utama yang menyatakan tarif dibayar oleh produsen asing. Faktanya, importir AS yang membayar tarif di perbatasan, lalu menanggung atau meneruskan biayanya ke konsumen.

Eksportir asing sebagian besar tetap mempertahankan harga. Alih-alih, mereka mengirimkan barang lebih sedikit atau mengalihkan pasokan ke pasar lain. Hasilnya bukan impor yang lebih murah, melainkan volume perdagangan yang menurun.

Ekonom menyebut efek ini sebagai pajak konsumsi yang berjalan lambat. Harga tidak langsung melonjak. Biaya secara perlahan masuk ke rantai pasok dari waktu ke waktu.

Presiden AS Trump Terapkan Tarif Baru ke Sejumlah Negara Eropa karena Menolak Penawaran Pembelian Greenland. Sumber: Truth Social

Inflasi AS Tetap Moderat, tapi Tekanan Mulai Meningkat

Inflasi AS masih cukup terkendali sampai tahun 2025. Karena itu, sebagian orang beranggapan tarif tidak berdampak besar.

namun, studi yang dikutip WSJ menunjukkan hanya sekitar 20% biaya tarif yang masuk ke harga konsumen dalam enam bulan. Sisanya ditanggung importir dan retailer, sehingga memangkas margin mereka.

Keterlambatan ini menjelaskan mengapa inflasi tetap moderat namun daya beli perlahan menurun. Tekanan menumpuk secara diam-diam, bukan meledak seketika.

Today, the US CPI inflation is 1.57% (YoY).

It's been holding below the 2% target since the end of the year.

To calculate an independent gauge of US inflation, we aggregate millions of price points daily, whereas the official US inflation is reported by the US Bureau of Labor… pic.twitter.com/ysDd9Obt68

— Truflation (@truflation) January 19, 2026

Bagaimana Ini Terkait dengan Stagnasi Pasar Aset Kripto

Pasar kripto bergantung pada likuiditas dari dana lebih. Pasar akan naik ketika rumah tangga dan bisnis percaya diri untuk mengalokasikan modal berlebih.

Tarif telah menguras kelebihan dana itu sedikit demi sedikit. Konsumen membayar lebih mahal. Bisnis menanggung tambahan biaya. Dana tunai untuk aset spekulatif pun jadi lebih sedikit.

Hal inilah yang membuat pasar kripto tidak ambruk setelah Oktober, tapi juga gagal rebound lebih tinggi. Market masuk ke liquidity plateau, bukan bear market.

Aksi jual di bulan Oktober menguras leverage dan menghentikan arus dana ke ETF. Dalam kondisi normal, inflasi yang mulai reda biasanya membuat minat risiko kembali naik.

tapi, tarif menjaga kondisi keuangan tetap ketat secara perlahan. Inflasi tetap di atas target. The Fed pun terus berhati-hati. Likuiditas tidak berkembang.

Harga kripto pun bergerak sideways akibatnya. Tidak ada kepanikan, tapi juga tak ada bahan bakar untuk kenaikan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data tarif baru ini bukan satu-satunya penjelasan volatilitas pasar kripto. Tapi, data ini membantu menjelaskan kenapa market tetap tertahan.

Tarif diam-diam memperketat sistem, menguras dana ekstra, dan menunda kembalinya minat risiko.

  •  

Ekonomi Bermuda Masuk ke Chain dengan Bantuan Circle dan Coinbase

Bermuda mengumumkan rencana di World Economic Forum di Davos pada hari Senin untuk mengubah dirinya menjadi ekonomi nasional sepenuhnya on-chain pertama di dunia.

Circle dan Coinbase sudah berkomitmen akan menyediakan infrastruktur aset digital dan alat enterprise yang dibutuhkan untuk mendukung transisi tersebut.

Bermuda Pindahkan Pembayaran ke Chain

Inisiatif ini berfokus untuk mengintegrasikan aset kripto ke dalam infrastruktur keuangan sehari-hari negara, sehingga sistem berbasis blockchain dapat mendukung pembayaran serta aktivitas ekonomi inti lainnya.

Circle dan Coinbase juga berencana membantu transisi ini dengan berkontribusi pada inisiasi edukasi keuangan digital secara nasional.

“Bermuda selalu percaya bahwa inovasi yang bertanggung jawab paling baik dicapai melalui kemitraan antara pemerintah, regulator, dan industri,” ujar David Burt, Premier Bermuda. “Dengan dukungan dari Circle dan Coinbase, dua perusahaan keuangan digital paling terpercaya di dunia, kami mempercepat visi untuk mewujudkan keuangan digital di tingkat nasional.”

We’re taking Bermuda’s economy onchain@BermudaPremier @jerallaire https://t.co/lDqFUIb9qe pic.twitter.com/QGLzaI5VNw

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 19, 2026

Dalam pernyataan terpisah, Circle menyoroti bahwa ekonomi Bermuda yang sangat berjiwa wirausaha sebagai pihak utama yang diuntungkan dari ekonomi on-chain. Pelaku usaha lokal bisa mendapatkan manfaat dari model yang tidak terlalu bergantung pada pemroses pembayaran onshore, karena biasanya biaya layanan menjadi lebih tinggi dan margin merchant pun lebih sempit.

Pengumuman terbaru ini sejalan dengan keterlibatan Bermuda yang sudah berlangsung lama dengan aset kripto.

Sejarah Kebijakan Aset Digital

Peralihan Bermuda menuju ekonomi on-chain berakar dari keterlibatan pemerintah selama bertahun-tahun dengan aset kripto.

Pencapaian besar terjadi pada 2018 saat memperkenalkan kerangka kerja Digital Asset Business Act. Regulasi ini menghadirkan persyaratan lisensi untuk exchange, kustodian, penerbit, dan penyedia pembayaran yang beroperasi di Bermuda.

Tugas pengawasan diberikan pada Otoritas Moneter Bermuda, agar pengawasan sejalan dengan standar regulasi layanan keuangan yang berlaku. Regulasi lanjutan memperluas kerangka kerja untuk mengatur penerbitan aset kripto dan kewajiban pelaporan prudensial secara nasional.

Lembaga pemerintah juga berinteraksi langsungdenganpelaku industri melalui regulatory sandbox dan program percontohan. Pada periode ini, perusahaan aset kripto seperti Circle, Coinbase, dan Binance mendapatkan lisensi untuk beroperasi di yurisdiksi tersebut.

Inisiatif ekonomi on-chain ini menjadi kelanjutan kebijakan yang sudah berjalan, bukan perubahan mendadak. Ini menandakan tahap berikutnya dari upaya panjang pemerintah untuk mengintegrasikan aset kripto ke infrastruktur keuangan negara.

  •  

‘Kiamat’ Dolar AS Makin Nyata? Seteru Trump vs The Fed Bikin Yuan Cina Makin Perkasa

Kepercayaan pada dolar AS kini berada di bawah tekanan seiring meningkatnya pengawasan terhadap Federal Reserve (The Fed). Tensi geopolitik turut memuncak, terpicu oleh sengketa yang berkaitan dengan minat Washington pada Greenland.

Di tengah situasi ini, Cina muncul sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak langsung. Melalui perluasan perdagangan serta sistem pembayaran berbasis yuan, Beijing berpotensi diuntungkan dari dorongan global untuk diversifikasi akibat ketidakpastian politik dan kebijakan.

Stabilitas Dolar Jadi Tanya di Tengah Gejolak The Fed

Langkah-langkah kebijakan dari Washington dalam beberapa pekan terakhir telah menyuntikkan ketidakpastian ke pasar global, dan dolar menjadi salah satu aset yang paling terdampak.

Kepercayaan pada mata uang utama dunia ini pun melemah di tengah berbagai perkembangan politik, terutama penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

You might be watching the beginning of the end for the dollar's dominance.

And if you're still holding dollar-denominated assets while this unfolds in real time…

Let me tell you something:

On Friday, the Department of Justice served Federal Reserve Chair Jerome Powell with… pic.twitter.com/2UGqcaZIAb

— George Noble (@gnoble79) January 13, 2026

Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga, meski data ekonomi dan juga Federal Open Market Committee tidak menunjukkan perlunya hal itu.

Faktanya, Trump bukanlah presiden AS pertama yang bersitegang dengan Federal Reserve terkait arah kebijakan. Namun, keterlibatan Departemen Kehakiman menandai eskalasi yang jarang terjadi dan tergolong luar biasa.

Tak ayal, situasi ini pun mengguncang kepercayaan investor. Pertanyaan ihwal independensi bank sentral pun mencuat, bersamaan dengan keraguan soal seberapa besar kepercayaan yang layak diberikan kepada dolar.

Langkah geopolitik dari Gedung Putih juga semakin memperdalam keresahan ini.

Persatuan AS-Uni Eropa Mulai Retak

Amerika Serikat dan Uni Eropa selama ini dikenal menampilkan front persatuan yang solid. Namun, kohesi tersebut mulai terkikis sejak awal masa kepresidenan Trump.

Ketegangan meningkat setelah perhatian presiden tertuju pada Greenland.

Usai para pemimpin Eropa menolak kemungkinan akuisisi wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark itu oleh AS, Trump merespons dengan mengancam tarif impor sebesar 10% untuk barang dari delapan negara Eropa.

Para pemimpin Eropa kemudian bergerak menuju langkah balasan. Para kepala negara dari 27 anggota Uni Eropa menurut jadwal akan bertemu dalam beberapa hari ke depan untuk membahas respons terkoordinasi terhadap ancaman Washington.

Sejauh ini, tidak ada pihak yang mengambil langkah untuk meredakan eskalasi. Ketika berbicara kepada wartawan di World Economic Forum di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa akan menjadi langkah yang “sangat tidak bijak” apabila blok Eropa mengambil tindakan balasan terhadap Amerika Serikat.

WATCH: Scott Bessent warned at Davos that “it would be very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to purchase Greenland. pic.twitter.com/NZ8cLFnRwA

— BeInCrypto (@beincrypto) January 19, 2026

Di saat yang sama, eskalasi risiko geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta pertanyaan mengenai kredibilitas institusi membayangi peran dolar dalam perekonomian global. Namun, kondisi ini juga membuka peluang bagi negara-negara pesaing yang berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan kelemahan yang mulai muncul tersebut.

Cina Manfaatkan Perpecahan Barat

Cina telah lama mempersiapkan fondasi bagi sistem keuangan alternatif.

Seiring waktu, negara ini memperluas penyelesaian perdagangan berbasis yuan, mempromosikan infrastruktur pembayaran lintas negara miliknya sendiri, serta mendorong penggunaan mata uangnya secara lebih luas dalam transaksi internasional.

Inisiatif-inisiatif ini dirancang dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap kebijakan dan sanksi AS, terlepas dari dinamika geopolitik saat ini.

Kini, langkah-langkah tersebut memiliki bobot yang lebih besar seiring meningkatnya keraguan atas stabilitas institusional Amerika Serikat. Bagi Beijing, lingkungan saat ini menghadirkan celah strategis yang lebih dibentuk oleh ketidakpastian kepemimpinan AS ketimbang oleh tindakannya sendiri.

Cina tidak perlu menggantikan dolar untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran ini. Daya tariknya terletak pada opsionalitas, bukan dominasi, dengan menawarkan jalur tambahan bagi mitra dagang dalam penyelesaian transaksi dan pembiayaan.

Tensi antara Washington dan Uni Eropa semakin memperkuat peluang tersebut. Blok Barat yang kurang solid melemahkan persepsi tatanan persatuan yang selama ini menopang peran global dolar.

Bagi negara-negara yang waspada terhadap gangguan perdagangan, infrastruktur keuangan Cina yang terus berkembang dapat menjadi alternatif yang layak.

Dalam menguji kepemimpinannya sendiri, Washington berpotensi justru menciptakan ruang bagi Beijing untuk secara senyap memperluas pengaruhnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang tekanan pada The Fed serta keretakan Barat yang buka celah bagi Yuan Cina ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Hyperliquid Rebut Mahkota Perp DEX setelah Volume dan Harga Token Lighter Turun

Pasar decentralized exchange perpetual sedang mengalami perombakan lagi. Hyperliquid berhasil kembali merebut posisi teratas, sedangkan volume perdagangan perpetual mingguan Lighter turun hampir tiga kali lipat dari puncaknya.

Bersamaan dengan itu, token LIT milik Lighter turun ke level terendah sepanjang masa pada hari Senin, tertekan oleh pelemahan pasar secara umum dan banyak holder airdrop yang keluar.

Hyperliquid Rebut Dominasi Perpetual Decentralized Exchange

Hyperliquid berhasil kembali memimpin di antara DEX perpetual. Data CryptoRank menunjukkan Hyperliquid membukukan volume perdagangan sekitar US$40,7 miliar minggu lalu. Aster menempati posisi kedua dengan US$31,7 miliar, sedangkan Lighter turun ke peringkat ketiga dengan US$25,3 miliar.

“Seiring airdrop Lighter dibagikan, volume di platform itu mulai turun – volume mingguan turun hampir 3x dari puncaknya,” terang CryptoRank.

Perubahan ini juga terlihat pada open interest 24 jam. Open interest adalah metrik di pasar derivatif yang menunjukkan jumlah total kontrak derivatif terbuka (seperti futures atau opsi) yang belum diselesaikan, ditutup, atau kedaluwarsa.

Hyperliquid memimpin dengan open interest sekitar US$9,57 miliar, melampaui total open interest gabungan semua platform DEX utama lainnya. Platform lain seperti Aster, Lighter, Variational, edgeX, dan Paradex, secara total memegang US$7,34 miliar. Lighter sendiri hanya di angka US$1,42 miliar dan Aster di US$2,73 miliar.

Top Perp DEX's Weekly Trading Volumes
Volume Perdagangan Mingguan DEX Perpetual Teratas | Sumber: X/CryptoRank

Postingan tersebut menambahkan bahwa Variational kini juga menjadi pesaing yang cukup menonjol, dengan volume harian mencapai US$1 miliar dan masuk ke dalam lima besar DEX perpetual.

Token Lighter (LIT) Turun ke Level Terendah Sepanjang Masa

Perlambatan pasca-airdrop turut berdampak bukan hanya pada volume, tapi juga harga token LIT. Sejak diluncurkan, altcoin ini mengalami volatilitas tinggi. Seorang analis mengungkapkan bahwa sekitar 40% airdrop telah dijual hanya dalam minggu pertama.

“Holder airdrop pada pergi. Dalam waktu yang sangat singkat, persentase token yang dipegang penerima awal turun dari 51% jadi 36% (dan saya yakin saat kamu membaca ini, angkanya bahkan lebih rendah lagi)…FUD datang dan pergi, bahkan Hyperliquid juga pernah menghadapi situasi serupa selama berbulan-bulan. Selalu perhatikan metrik internal; kondisinya tidak seburuk itu,” tambah posting itu.

Data BeInCrypto Markets memperlihatkan bahwa token ini sudah kehilangan 37% nilainya dalam sebulan terakhir. Hari ini, LIT anjlok ke US$1,68 di OKX dan mencetak rekor terendah baru.

Pada waktu publikasi, altcoin tersebut diperdagangkan di harga US$1,71, turun lebih dari 14% hanya dalam satu hari terakhir.

Lighter (LIT) Price Performance
Performa Harga Lighter (LIT) | Sumber: BeInCrypto Markets

Kesulitan terbaru Lighter muncul di tengah tren penurunan pasar yang lebih luas. Kapitalisasi pasar total turun 2,6% selama 24 jam terakhir. Selain itu, token perp DEX lainnya yaitu Aster, native token dari Aster, juga anjlok lebih dari 12% ke rekor terendah, padahal telah meluncurkan Program Buyback Tahap 5.

  •  
❌