Reading view

Portugal Menindak Polymarket setelah Aktivitas Judi Pemilu Mencurigakan

Pihak berwenang Portugal sedang bersiap untuk memblokir akses ke Polymarket setelah jutaan euro dipertaruhkan pada hasil pemilihan presiden di negara tersebut sebelum hasil resmi diumumkan.

Langkah ini diambil karena pasar prediksi semakin populer, dengan olahraga, politik, dan aset kripto menjadi aktivitas utama di platform tersebut.

Polymarket Dapat Tekanan Regulasi di Portugal

Menurut Renascença, Layanan Regulasi dan Inspeksi Perjudian (SRIJ) telah memastikan bahwa platform prediksi berbasis kripto ini beroperasi secara ilegal di Portugal, karena taruhan pada peristiwa politik memang dilarang oleh hukum nasional.

Pihak regulator menyampaikan bahwa Polymarket secara resmi telah diberi pemberitahuan pada hari Jumat dan diberikan waktu 48 jam untuk menghentikan aktivitasnya di negara tersebut. Meski sudah diperintahkan, platform ini masih bisa diakses hingga hari Senin, sehingga SRIJ mulai mengambil langkah untuk meminta penyedia layanan internet memblokir aksesnya.

Perhatian mulai tertuju pada Polymarket setelah ada volume taruhan yang sangat besar pada pemilihan presiden Portugal di jam-jam terakhir sebelum tempat pemungutan suara ditutup.

Lebih dari €4 juta dilaporkan dipertaruhkan sesaat sebelum hasil pemilu diketahui, sedangkan total volume pasar utama presiden saat ini sudah melampaui US$120 juta. Selama periode itu, peluang kemenangan berubah drastis untuk mengunggulkan António José Seguro, jauh sebelum proyeksi resmi diumumkan.

Data pasar menunjukkan bahwa peluang kemenangan Seguro naik tajam, dari sekitar 60% di pagi hari menjadi di atas 90% saat malam tiba, hingga hampir pasti ketika stasiun TV mulai menayangkan proyeksi hasil pemilu.

Pergerakan cepat ini memunculkan dugaan bahwa beberapa trader mungkin sudah memiliki akses lebih awal ke data exit poll atau informasi lain yang belum diumumkan ke publik.

  •  

XRP Berpotensi Menjadi Bintang di 2026 dan Ungguli Ethereum

Para ahli mengatakan Ethereum akan segera mengungguli seluruh pasar, tetapi XRP menantang ETH seperti belum pernah terjadi sebelumnya! Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

Dua sinyal bullish, salah satunya muncul kembali untuk pertama kalinya sejak 2021, menunjukkan bahwa ciptaan Vitalik Buterin mungkin bukan rajanya.

XRP Mencetak Terobosan Bersejarah

XRP telah mencapai tonggak sejarah langka terhadap Ethereum dengan menembus di atas awan Ichimoku pada grafik dua mingguan. Secara historis, zona ini telah menghambat kenaikan XRP/ETH selama pasar bullish, bertindak sebagai resistensi kuat sejak 2018. Untuk pertama kalinya sejak 2021, awan tersebut kini tampak sebagai level support potensial.

Rasio XRP/ETH di perdagangkan sekitar 0,00061 ETH setelah penurunan baru-baru ini sekitar 6%, tetapi tetap berada di atas cloud

Setelah mencapai titik terendah 0,0001251 ETH pada Juni 2024, XRP kembali menembus level cloud pada November 2024. Hal ini menandakan pergeseran struktural utama. Pada tahun 2025, pasangan ini mencapai level tertinggi lima tahun di 0,00139 ETH sebelum terkoreksi sebesar 56%. Terlepas dari penurunan ini, harga tetap berada di atas level clou. Sekarang bertindak sebagai support, menandakan kemungkinan pembalikan tren bullish. Analis Matt Hughes menunjukkan bahwa Tenkan-sen telah melintasi di atas Kijun-sen, menunjukkan momentum jangka menengah yang di perbarui.

Sementara itu, cadangan XRP yang di simpan di Binance telah turun sekitar 45% dalam satu tahun. Penurunan signifikan ini menunjukkan pengurangan yang nyata dalam pasokan yang tersedia di platform pertukaran terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna memindahkan XRP mereka ke dompet pribadi daripada membiarkannya di bursa. Tren ini mencerminkan perilaku akumulasi jangka panjang daripada keinginan untuk menjual segera.

Secara historis, kontraksi cadangan di bursa semacam ini sering mendahului pasar bullish, karena pasokan yang lebih terbatas meningkatkan sensitivitas harga terhadap permintaan. Dengan lebih sedikit XRP yang tersedia untuk penjualan langsung, peningkatan permintaan apa pun dapat mendorong harga lebih cepat daripada Ethereum, yang tidak menunjukkan dinamika akumulasi yang begitu kentara.

Sumber: CryptoQuant

Target Kenaikan 5x Lipat Dalam Indikator Hijau

Sementara itu, harga XRP tetap berfluktuasi tetapi mendukung: saat ini di perdagangkan sekitar US$2,06, sedikit turun harian dan mingguan. Harga bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari (US$2,02), menunjukkan dukungan jangka pendek, tetapi tetap di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (US$2,53), mencerminkan tren bearish secara keseluruhan . Terakhir, RSI di 50,7 menunjukkan pasar netral, tanpa penjualan berlebihan maupun pembelian berlebihan.

Altcoin ini baru-baru ini menyelesaikan fase akumulasi panjang setelah menembus pola descending wedge tahun 2020-2024, di ikuti oleh ekspansi 600% sejak awal kemunculannya di US$0,60. Saat ini, altcoin tersebut diperdagangkan di atas zona breakout yang telah dikonfirmasi, dengan struktur bullish yang tetap utuh selama harganya tetap di atas US$1,30.

Target potensial meliputi US$3,50, US$5,00, US$8,70, dan di atas US$10, dengan pembatalan di bawah US$1,30 pada penutupan tertinggi. Struktur teknis ini, di kombinasikan dengan kelemahan relatif Ethereum terhadap awan Ichimoku, memposisikan XRP untuk kinerja yang lebih baik pada tahun 2026.

Bagaimana pendapat Anda tentang potensi XRP di 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Pi Coin Dapat Bantuan Sementara Setelah Cetak Rekor Terendah, tapi Risiko Masih Ada

Pi Coin (PI) milik Pi Network mencatat pemulihan tipis pada hari Selasa setelah turun ke US$0,150 sehari sebelumnya, yang menandai level terendah sejak token ini mulai diperdagangkan di exchange.

Penurunan tajam ini menjadi ujian penting bagi proyek tersebut karena dua kekuatan yang saling bertentangan sedang bermain. Di satu sisi, cadangan exchange yang semakin menyusut menunjukkan tekanan jual dalam jangka pendek mulai berkurang. Di sisi lain, unlock token yang akan datang masih bisa menjadi hambatan bagi harga.

Sentimen Risk-Off Tekan Aset Kripto saat Pi Coin Cetak Rekor Terendah

Pernyataan Presiden Donald Trump terkait tarif baru untuk delapan negara Uni Eropa memicu volatilitas pasar secara luas dan menekan aset-aset berisiko di seluruh pasar.

BeInCrypto melaporkan bahwa logam mulia menguat akibat permintaan aset lindung nilai. Sementara itu, indeks saham dan saham kripto ikut melemah. Bitcoin (BTC) turun di bawah US$95.000, dan Ethereum (ETH) juga mencatat kerugian.

Pi Coin (PI) juga ikut terdampak pelemahan pasar secara menyeluruh. Data memperlihatkan token ini jatuh ke titik terendah sepanjang masa di US$0,150 di OKX, dan grafik harga menunjukkan lower wick yang cukup panjang.

Pi Network Price Performance
Performa Harga Pi Network | Sumber: TradingView

Meski harga ditutup bearish, presence lower wick yang panjang menandakan upaya gagal mendorong harga ke bawah. Penjual memang sempat menekan harga turun tajam, namun minat beli langsung menyerap penurunan tersebut dan menolak penurunan lebih lanjut, sehingga memperlihatkan adanya volatilitas serta permintaan di bawah kisaran saat ini, bukan dominasi jual berkelanjutan.

Pergerakan harga ini sejalan dengan perubahan saldo exchange. Statistik exchange dari Piscan menunjukkan bahwa per 20 Januari, exchange terpusat memegang sekitar 420 juta token Pi senilai kurang lebih US$75,6 juta.

Angka ini telah turun hampir 7 juta sejak awal Januari, yang mengindikasikan investor membeli di harga bawah lalu dengan cepat menarik PI dari platform. Pada waktu publikasi, altcoin ini diperdagangkan di harga US$0,189, naik sekitar 1% selama 24 jam terakhir.

Harga Pi Network Menghadapi Prospek Rapuh Karena Volume Turun dan Supply Akan Naik

Walaupun demikian, pemulihan harga ini nampaknya masih rentan. BeInCrypto menyoroti bahwa volume perdagangan mingguan Pi Coin turun tajam, bahkan berada di bawah US$100 juta. Angka ini menurun 99% dibanding volume mingguan yang sempat menembus US$10 miliar pada Maret 2025.

Karena aktivitas perdagangan sangat tipis, pemulihan harga sulit bertahan, sebab volume rendah menunjukkan minat investor yang juga minim. Kurangnya partisipasi ini juga diperkuat oleh data Google Trends data, di mana pencarian “Pi Network” tetap rendah, hanya di angka 5 pada saat berita ini ditulis.

“Satu-satunya harapan agar PI benar-benar bisa melesat adalah dengan listing di Binance,” klaim seorang pengguna .

Melihat ke depan, tambahan tekanan dari sisi suplai bisa bermunculan. Pi Network dijadwalkan unlock lebih dari 140 juta token dalam 30 hari ke depan.

Token Unlock Pi Network | Sumber: PiScan

Unlock token seringkali menjadi hambatan jangka pendek untuk performa harga karena jumlah suplai di pasar bertambah. Ketika banyak token masuk ke pasar, para holder bisa mengambil keuntungan dengan menjual, yang otomatis menambah tekanan jual. Bila permintaan tidak ikut meningkat secara proporsional, suplai yang melimpah ini dapat menekan harga lebih lanjut.

  •  

XRP Resmi Masuk ‘Big Three’ Kripto dan Raih Imunitas

Dunia aset digital memasuki babak baru pada awal 2026. XRP, token yang dikembangkan oleh Ripple, secara resmi telah mengakhiri ketidakpastian regulasi selama bertahun-tahun.

Melalui implementasi Digital Asset Market Clarity Act yang berlaku mulai 1 Januari 2026, XRP kini memiliki status hukum yang setara dengan Bitcoin dan Ethereum.

Akhir Sengketa Regulasi: Imunitas Hukum dan Yurisdiksi CFTC

Langkah ini memberikan XRP apa yang disebut sebagai “imunitas hukum”. Kini, token tersebut berada di bawah yurisdiksi penuh Commodity Futures Trading Commission (CFTC), bukan lagi di bawah pengawasan ketat SEC. CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyambut antusias perkembangan ini. “Hari ini kita tidak hanya merayakan kemenangan hukum, tetapi juga pengakuan bahwa XRP adalah infrastruktur vital bagi masa depan keuangan global yang transparan,” tegasnya.

Status baru ini memicu pergeseran besar dalam hierarki pasar. XRP kini resmi bergabung dalam kelompok eksklusif “Big Three” bersama Bitcoin dan Ethereum. Analis pasar dari BeInCrypto, Jakub Dziadkowiec, mencatat bahwa momen ini adalah titik balik krusial. “XRP akhirnya terbebas dari bayang-bayang SEC. Ini bukan lagi tentang spekulasi, melainkan tentang adopsi institusi skala besar yang selama ini tertahan,” ungkapnya.

XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Sorotan CNBC Television: XRP Sebagai ‘Kekasih Baru’ Pasar Kripto

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Masa Depan XRP Sebagai Infrastruktur Pembayaran Global

Selain aspek investasi, kegunaan praktis XRP sebagai aset jembatan (bridge asset) untuk penyelesaian pembayaran global semakin menguat. Dengan total nilai terkunci (TVL) di XRP Ledger yang melebihi 15 miliar USD, kepercayaan terhadap teknologi ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Keberhasilan XRP melepaskan diri dari belenggu hukum bukan hanya kemenangan bagi Ripple, tetapi juga menjadi preseden penting bagi seluruh industri kripto dalam mencapai kejelasan regulasi global. XRP kini berdiri tegak sebagai pilar ketiga dalam ekosistem aset digital dunia.

Bagaimana pendapat Anda tentang status hukum XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Proyek Air Jakarta Incar Rp593 Miliar Lewat Tokenisasi Aset Dunia Nyata (RWA)

Kesenjangan pendanaan infrastruktur air di Asia Tenggara semakin mengkhawatirkan. Dengan kebutuhan investasi mencapai US$4 triliun hingga 2040, perlu adanya inovasi pembiayaan baru.

Memanfaatkan teknologi blockchain, GSX dan GIF resmi menjalin kerja sama untuk menguji tokenisasi aset dunia nyata (real-world asset / RWA) pada sektor ini. Proyek perdana bermula di Indonesia dengan nilai US$30 juta, sebagai batu loncatan menuju target US$200 juta di seluruh Asia Tenggara. Skema ini secara unik menggabungkan aset fisik publik dengan kecepatan penyelesaian berbasis kripto tanpa mengabaikan kepatuhan regulasi.

Pilot Infrastruktur Air Jakarta Jadi Fondasi Baru Pembiayaan Publik

Inisiatif ini dimulai dengan fokus pada fasilitas pengolahan air di Jakarta yang beroperasi di bawah kontrak pemerintah. Karena menghasilkan arus kas yang stabil dan jangka panjang, aset ini dinilai sangat ideal sebagai basis tokenisasi bagi investor institusional.

Saat ini, terdapat delapan fasilitas dalam proyek pilot yang melayani lebih dari 36.000 penduduk dengan pasokan air bersih 2.300 liter per detik. Menurut prediksi, proyek ini akan mampu meraup pendapatan lebih dari US$15 juta pada akhir tahun 2026. Melalui skema tokenisasi, GSX dan Globalasia menargetkan dana tambahan sebesar US$35 juta untuk memperluas kapasitas serta jaringan distribusi air.

Struktur ini memungkinkan investor mendapatkan imbal hasil dari infrastruktur publik dengan tingkat transparansi yang setara dengan pasar modal tradisional.

Witjaksono, selaku perwakilan dari Globalasia, menyatakan antusiasmenya atas kolaborasi ini:

“Kami sangat senang bekerja sama dengan GSX untuk mengembangkan tokenisasi aset pada proyek nyata di Indonesia. Proses ini menawarkan peluang pertumbuhan yang signifikan, mengingat Indonesia memiliki banyak pengembangan infrastruktur utama dan aset alam yang dapat diakses untuk tokenisasi. Kolaborasi ini memberikan cara praktis bagi penerbit dan institusi untuk mendanai infrastruktur serta aset terkait ESG lainnya sembari bekerja berdampingan dengan regulator.”

Inovasi Keuangan: Stablecoin Rupiah & Settlement Instan (T+0)

Untuk mendukung efisiensi, kolaborasi ini memperkenalkan sistem penyelesaian (settlement) menggunakan stablecoin berbasis Rupiah. Keunggulan utamanya adalah:

  • Finalitas Instan (T+0): Memangkas waktu kliring lintas negara dari hitungan hari menjadi hampir seketika.
  • Standar Global: Mengintegrasikan kepatuhan internasional seperti rekomendasi FATF, prosedur KYC/AML, dan standar pesan keuangan ISO 20022.
  • Keamanan Terjamin: Aset dapat berpindah secara aman antara sistem keuangan tertutup (permissioned) dan jaringan publik.

Roadmap dan Proyeksi Masa Depan

Dalam 12 bulan ke depan, kedua pihak akan menjalankan uji coba penerbitan token dan penyelesaian stablecoin di koridor terbatas. Rencana ini nantinya akan berekspansi ke jalur valuta asing lain dengan melibatkan lebih banyak mitra institusional di bawah pengawasan ketat komite bersama.

Langkah ini menandai pergeseran besar infrastruktur kripto: dari sekadar eksperimen menuju penerapan nyata di sektor publik. Apabila berhasil, model ini berpotensi menjadi standar baru dalam pembiayaan infrastruktur dan aset berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) di seluruh Asia Tenggara.

Bagaimana pendapat Anda tentang potensi tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dalam mendanai infrastruktur publik di Indonesia di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Hedera Bidik Kenaikan 31% saat Dana Masuk ETF Melonjak ke Level Tertinggi 2026— Satu Level Menjadi Penghalang

Hedera diam-diam sedang mempersiapkan pergerakan yang sudah para trader nantikan sejak beberapa bulan terakhir. Setelah beberapa upaya pantulan gagal, aksi harga HBAR, permintaan ETF, dan arus spot akhirnya mulai selaras. Yang membuat momen ini berbeda bukan hanya pola grafiknya, tapi juga waktunya.

Level yang sebelumnya menggagalkan reli-reli terdahulu kini kembali jadi perhatian. Kali ini, level tersebut diuji bersamaan dengan permintaan ETF terkuat yang pernah dialami Hedera sepanjang 2026.

Hedera Bentuk Pola W Saat Resistance EMA Kembali

Hedera sedang membentuk pola W yang jelas, atau sering juga disebut double bottom, pada grafik harian. Struktur ini muncul ketika harga menguji support yang sama dua kali dan tetap bertahan, menandakan bahwa tekanan jual mulai melemah. Dalam kasus Hedera, level US$0,102 kini sudah beberapa kali menjadi lantai, dan setiap kali harga kembali ke level ini, pembeli kembali masuk.

Dari titik dasar tersebut, harga telah mencoba bergerak naik menuju area US$0,135 yang berfungsi sebagai neckline dari pola W. Jika neckline ini berhasil dilewati, struktur pola ini memproyeksikan potensi kenaikan sebesar 31%, sehingga target kenaikan ada di sekitar zona US$0,176.

HBAR Price Pattern
Pola Harga HBAR: TradingView

Ingin tahu insight token seperti ini? Daftar Newsletter Harian Kripto dari Editor Harsh Notariya di sini.

Tapi di sinilah reli-reli sebelumnya gagal.

Setiap pantulan di awal tahun ini terhenti karena Hedera belum mampu merebut kembali exponential moving average (EMA) utamanya. EMA memberikan bobot lebih pada aksi harga terbaru dan membantu trader melihat apakah suatu pergerakan hanya koreksi atau mulai membentuk tren baru. Pada awal Januari, Hedera sempat menguasai EMA 20 hari dan memicu reli singkat sekitar 8% hingga 16%. Pergerakan itu cepat melemah karena harga gagal bertahan di atas EMA 50 hari.

Key price Levels
Level Penting HBAR: TradingView

Hambatan yang sama kini berada tepat di jalur neckline pola W. Artinya, struktur grafik dan garis EMA bertemu di titik yang sama. Breakout di atas US$0,135 tidak hanya akan mengkonfirmasi pola W, tapi juga menjadi kali pertama EMA 50 hari berhasil direbut lagi dalam beberapa minggu terakhir.

Itulah alasan mengapa pola yang sekarang ini lebih penting dibanding upaya-upaya sebelumnya. Dan, inilah juga alasan mengapa permintaan di balik layar sekarang menjadi sangat krusial.

Permintaan ETF dan Spot Meningkat Bersama seiring Pasokan Makin Ketat

Hedera baru saja mencatatkan arus masuk ETF terbesarnya sepanjang 2026. Pada pekan yang berakhir 16 Januari, arus masuk bersih mencapai sekitar US$1,46 juta; jumlah mingguan terbesar tahun ini. Ini penting karena permintaan ETF menunjukkan dana yang masuk lebih lambat dan stabil, cenderung menyerap pasokan saat konsolidasi, bukan mengejar breakout secara agresif.

HBAR ETF Flow
Arus ETF: SoSo Value

Kekuatan ETF ini kini tercermin pula di pasar spot.

Antara 18 Januari hingga 19 Januari, arus keluar bersih spot Hedera melonjak dari sekitar US$882.000 menjadi US$2,22 juta. Lonjakan lebih dari 150% dalam sehari ini menandakan pembeli menarik token dari exchange, alih-alih bersiap menjualnya.

SPOT Demand
Permintaan SPOT HBAR: Coinglass

Kesejajaran antara arus masuk ETF dan arus keluar spot ini sangat penting. Kali ini, permintaan muncul sebelum breakout, bukan sesudahnya.

Data selanjutnya akan jadi penentu. Pekan ETF saat ini akan ditutup pada 23 Januari. Jika arus masuk tetap positif hingga akhir pekan, berarti permintaan bergaya institusi masih menguat. Jika arus tersebut terhenti, berarti pembeli masih bersikap hati-hati.

Ketidakpastian ini menjadikan reaksi harga HBAR berikutnya sangat krusial.

Satu Level Harga HBAR Menentukan Breakout

Indikator momentum secara diam-diam mendukung skenario bullish. Antara 31 Desember hingga 19 Januari, harga Hedera sedang menguji pola low yang lebih rendah, sementara Relative Strength Index hampir mencetak low yang lebih tinggi. RSI mengukur kekuatan kenaikan dibanding penurunan harga baru-baru ini, dan divergensi seperti ini biasanya menandakan tekanan jual yang mulai melemah.

Sinyal bullish divergence masih bersifat kondisional.

Selama candle Hedera saat ini bertahan di atas US$0,102, divergence tersebut masih berlaku dan mendukung kemungkinan pergerakan naik lebih lanjut. Bila harga turun terus-menerus di bawah US$0,102, maka divergence ini langsung batal sementara, begitu juga pola W-nya, sehingga risiko penurunan pun kembali terbuka.

Jika harga bergerak naik, ujian utamanya bukan pada pantulan itu sendiri, tapi seberapa jauh kenaikannya. Pemulihan di area US$0,118 akan menandai pemulihan exponential moving average (EMA) 20-hari, sesuatu yang Hedera sudah pernah lakukan sebelumnya. Perubahan utama baru benar-benar terjadi ketika harga berada di atas US$0,127, tempat EMA 50-hari berada. Menembus level ini akan mengubah resistance sebelumnya menjadi support, lalu membuka peluang menuju US$0,135 dan dilanjutkan menuju zona target US$0,152 dan US$0,176.

HBAR Price Analysis
Analisis Harga HBAR | Sumber: TradingView

Hedera telah menghabiskan beberapa minggu untuk membangun fondasi saat permintaan perlahan membaik. Grafiknya sudah siap. Arus dana juga makin membaik. Sekarang, semuanya tergantung pada satu level yang selama ini selalu menahan setiap reli — garis EMA 50-hari.

  •  

3 Alasan Mengapa Januari Bitcoin Merupakan Fase Konsolidasi yang Krusial

Fase konsolidasi Bitcoin sering terasa tidak nyaman bagi trader. Fase ini menguji kesabaran dan keyakinan. Tapi, periode ini juga bisa menciptakan peluang bagi investor yang mengikuti rencana manajemen modal dengan disiplin.

Beberapa sinyal menunjukkan Januari bisa menjadi bulan saat Bitcoin memasuki fase konsolidasi krusial sebelum pemulihan harga.

3 Sinyal Tunjukkan Januari Bisa Jadi Saat Bitcoin Membentuk Local Bottom

Berdasarkan data teknikal, on-chain, dan exchange, para analis percaya sinyal positif untuk pemulihan jangka panjang sudah mulai muncul.

Pertama, data teknikal menunjukkan Bitcoin sedang mendekati zona DCA optimal berdasarkan moving average (MA).

Menurut platform analitik on-chain Alphractal, zona akumulasi jangka panjang yang ideal biasanya terbentuk saat harga BTC turun di bawah semua moving average harian, mulai dari siklus 7 hari hingga 720 hari. Kondisi ini menciptakan “zona aman” di mana harga dianggap undervalued terhadap tren jangka panjangnya.

Saat ini, Bitcoin sudah turun di bawah sebagian besar moving average-nya sejak November lalu. Hanya MA720 yang masih bertahan. Level ini berada di kisaran US$86.000.

“Bitcoin sedang sangat dekat dengan salah satu zona terbaik untuk menerapkan strategi DCA. Secara historis, zona ini sangat baik untuk akumulasi jangka panjang. Agar itu terjadi, BTC harus turun di bawah US$86.000,” komentar Alphractal .

Bitcoin Dynamic MA & Price. Source: Alphractal
Bitcoin Dynamic MA & Harga | Sumber: Alphractal

Bitcoin turun di bawah US$86.000 belum tentu langsung menjadi titik terendah, tapi data historis menunjukkan periode BTC menembus MA7 sampai MA720 biasanya berlangsung beberapa bulan.

Kedua, data on-chain memperlihatkan pertumbuhan jaringan Bitcoin berada di titik terendah selama beberapa tahun terakhir. Meski terlihat negatif, pola historis justru menunjukkan hal ini sering menjadi awal fase pemulihan.

Menurut Swissblock, sebuah dana investasi sekaligus penyedia informasi pasar, lemahnya aktivitas jaringan dan likuiditas rendah mengindikasikan Bitcoin sedang berada di fase akumulasi atau konsolidasi sebelum pergerakan besar selanjutnya.

“Pertumbuhan jaringan sudah menyentuh titik terendah sejak 2022, sementara likuiditas terus berkurang. Pada 2022, level jaringan seperti ini memicu fase konsolidasi BTC saat pertumbuhan jaringan mulai membaik, walaupun likuiditas masih lemah dan mendekati dasar,” papar Swissblock.

Bitcoin Network Growth vs Liquidity. Source: Swissblock
Pertumbuhan Jaringan Bitcoin vs Likuiditas | Sumber: Swissblock

Swissblock juga menyebutkan bahwa masih diperlukan tanda-tanda adopsi baru di jaringan. Jika skenario ini terjadi, reli seperti tahun 2022 bisa mendorong Bitcoin menyentuh all-time high baru tahun ini.

Ketiga, data exchange memperlihatkan tekanan jual dari para whale turun drastis dalam satu bulan terakhir. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang lebih mendukung untuk konsolidasi harga dan pemulihan selanjutnya.

Binance Whale to Exchange Flow. Source: CryptoQuant.
Arus Whale ke Exchange Binance | Sumber: CryptoQuant.

Penurunan Tekanan Jual dari Whale

Berdasarkan data CryptoQuant , arus BTC dari whale ke exchange turun sangat tajam, terutama di Binance.

Secara khusus, pasokan BTC masuk dari transaksi besar yang berkisar antara 100 sampai lebih dari 10.000 BTC telah turun dari hampir US$8 miliar per bulan pada akhir November 2025 menjadi sekitar US$2,74 miliar saat ini. Perubahan perilaku ini sangat mengurangi tekanan suplai di sisi penjual. Hal ini mendukung stabilitas harga serta memperkuat potensi pemulihan.

Kombinasi sinyal teknikal (harga diperdagangkan di bawah moving average utama), data on-chain (pertumbuhan jaringan rendah), dan metrik exchange (penurunan tekanan jual whale) mengindikasikan Bitcoin sedang memasuki fase konsolidasi yang ideal untuk membentuk titik terendah lokal.

Meski begitu, data di atas belum cukup untuk menentukan harga dasar secara pasti. Selain itu, beberapa ketidakpastian eksternal masih belum terhitung. Hal ini termasuk potensi kembalinya tekanan tarif di tengah ketegangan geopolitik dan dampak pasar akibat pergantian kepemimpinan Federal Reserve yang akan datang.

Bagaimana pendapat Anda tentang fase konsolidasi Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Pola Breakdown XRP 2022: Sejarah Terulang di Bawah US$1?

Harga XRP (XRP) turun hampir 10% sejak Rabu lalu karena tekanan ekonomi makro terus membebani pasar aset kripto secara keseluruhan.

Menariknya, ada tiga pola utama yang terakhir muncul pada tahun 2022 kini muncul kembali, sehingga memicu kekhawatiran bahwa XRP bisa jatuh di bawah level US$1.

3 Pararel Historis Tunjukkan Risiko XRP yang Meningkat

Pertama, data Glassnode menunjukkan bahwa investor aktif dalam rentang 1 minggu hingga 1 bulan kini sedang melakukan akumulasi pada harga di bawah biaya dasar holder 6 bulan hingga 12 bulan. Hal ini menandakan kalau pelaku pasar baru mulai masuk di level yang lebih menguntungkan.

Dinamika Klaster Holder XRP | Sumber: X/Glassnode

Selama ketidakseimbangan ini terjadi, tekanan psikologis terus meningkat bagi investor yang membeli di dekat harga puncak. Glassnode memperingatkan bahwa “pembeli di puncak” ini akan menghadapi tekanan yang makin besar seiring waktu. Pola ini mirip dengan situasi yang terjadi pada Februari 2022.

“Pola itu tidak berakhir dengan baik waktu itu,” tutur seorang pengamat pasar menambahkan.

Kedua, penurunan volume yang terjadi bersamaan dengan turunnya harga sangat mirip dengan perilaku pasar pada periode 2021–2022.

Kombinasi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga XRP belakangan ini tidak menarik minat beli saat harga rendah yang berarti. Ini menandakan kurangnya keyakinan para pelaku pasar. Pola yang sama juga terjadi sebelum penurunan besar di Februari 2022.

XRP Historical Parallels
Paralel Historis XRP | Sumber: Coinglass

Ketiga, sinyal teknikal menyoroti risiko tambahan. Jika membandingkan struktur histogram Moving average convergence/divergence (MACD) antara periode 2025–2026 dan siklus 2021–2022, nampak pola momentum yang sangat mirip.

Data ini mengindikasikan bahwa XRP bisa saja turun hingga 45% jika harga menembus zona support di US$1,8–US$1,9. Jika terjadi breakdown, harga XRP bisa turun di bawah US$1, dan melintasi ambang psikologis dan teknikal yang penting.

XRP Price Prediction
Prediksi Harga XRP | Sumber: TradingView

Skenario Bullish: Potensi Pembalikan Arah

Sementara itu, analisis BeInCrypto menyebut XRP kini berada di momen penentuan. Harga XRP sedang membentuk pola inverse head-and-shoulders yang berpotensi bullish.

Pola ini hanya akan valid bullish jika XRP berhasil merebut kembali EMA 100 hari di atas US$2,24 dan menembus zona neckline US$2,48–US$2,52. Jika terkonfirmasi, formasi ini berpotensi memberikan kenaikan sekitar 33%.

Selain itu, sebagian pelaku pasar percaya potensi reli mulai terbentuk untuk XRP. Seorang analis on-chain kripto ucap bahwa retest tren harian CME XRP telah selesai dan gap 4 jam CME juga sudah terisi.

Menurut analis tersebut, kondisi ini bisa membuka peluang bagi XRP untuk bergerak terpisah dari pasar dan segera reli dari level saat ini.

$XRP will pump hard soon.

Stay focused. 👇 pic.twitter.com/YEIglUifpK

— STEPH IS CRYPTO (@Steph_iscrypto) January 19, 2026

Dalam beberapa minggu ke depan, para trader akan mengamati apakah pola tahun 2022 terulang. Untuk sekarang, baik sinyal teknikal maupun on-chain serta kondisi pasar secara luas menunjukkan outlook hati-hati saat XRP menghadapi fase krusial ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang pola breakdown XRP ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Whale Zcash Kalah Tanding dengan Penjual; Harga ZEC Hadapi Crash 55%

Pergerakan harga Zcash mengecewakan para trader setelah breakout yang sangat dinantikan tidak terjadi. ZEC justru berbalik arah dengan tajam seiring memburuknya kondisi pasar secara menyeluruh, menghapus momentum bullish yang sempat terbentuk.

Meningkatnya ketidakpastian ekonomi makro menggeser sentimen, sehingga posisi short kini lebih diunggulkan. Koreksi ini kini menguntungkan trader bearish yang sudah memposisikan diri ke arah downside setelah Zcash kehilangan support teknikal utama.

Whale Zcash Sudah Berusaha Maksimal

Sentimen pasar Zcash mencerminkan pertarungan jelas antara akumulasi dan distribusi. Data on-chain menunjukkan whale telah mencoba mengakumulasi ZEC dalam beberapa hari terakhir, menandakan keyakinan jangka panjang. Tapi penjual juga turut aktif, secara bertahap melepas token mereka dan mengantisipasi koreksi harga yang lebih dalam.

Saldo Zcash di exchange naik 3,4% dalam 24 jam terakhir, menjadi indikator kuat bahwa tekanan jual makin meningkat. Kenaikan saldo pada exchange biasanya menandakan token dipindahkan untuk likuidasi. Dengan ZEC yang kini telah breakdown secara teknikal, aktivitas jual ini kemungkinan akan makin cepat, sehingga harga semakin rentan menuju penurunan.

Ingin wawasan token lain seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Newsletter Crypto Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.

Zcash Exchange Balance
Saldo Zcash di Exchange | Sumber: Nansen

Trader Long Harus Waspada Ancaman

Indikator makro semakin menunjukkan momentum bearish untuk Zcash. Funding rate ZEC selama lebih dari satu minggu tetap berada di area negatif, mencerminkan pasar yang didominasi posisi short. Para trader kini jelas lebih memilih strategi penurunan harga, sehingga tekanan turun pun makin kuat.

Zcash Funding Rate
Funding Rate Zcash | Sumber: Coinglass

Funding rate negatif menandakan trader short membayar biaya untuk mempertahankan posisi, biasanya pada masa keyakinan bearish yang kuat. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi trader long karena risiko terus meningkat seiring harga tidak mampu pulih. Funding rate negatif yang berkelanjutan biasanya berjalan seiring tren turun dalam waktu lama.

Data likuidasi semakin menambah pandangan waspada. Berdasarkan peta likuidasi, sekitar US$4,73 juta posisi long bisa terlikuidasi jika ZEC turun ke US$352. Konsentrasi risiko ini meningkatkan kemungkinan terjadi sell-off beruntun, sebab likuidasi paksa akan memperparah volatilitas dan menambah dorongan bearish.

Zcash Liquidation Map
Peta Likuidasi Zcash | Sumber: Coinglass

Harga ZEC Bisa Naik Lagi

Pada waktu publikasi, ZEC diperdagangkan di sekitar US$363 setelah menembus turun pola segitiga. Pergerakan harga sebelumnya sempat memberi harapan akan breakout, namun sentimen makro yang memburuk membalikkan skenario itu. Breakdown ini berpotensi membawa penurunan hingga 55%, sehingga target teknikal turun mendekati US$171.

Jika skenario bearish berjalan, Zcash kemungkinan akan merosot terlebih dahulu ke area support US$340. Jika ZEC gagal bertahan di zona ini, tekanan jual diperkirakan akan semakin deras. Breakdown lebih lanjut dapat menyeret harga menuju US$300, dengan area US$256 menjadi support berikutnya jika tekanan jual berlanjut.

ZEC Price Analysis.
Analisis Harga ZEC | Sumber: TradingView

Meski sedang lemah, narasi privacy coin tetap bertahan. Jika bull mampu mengambil alih, ZEC dapat stabil di atas US$340 dan berpeluang rebound. Pemulihan menuju US$405 akan membatalkan skenario bearish, menandakan permintaan baru dan mengubah momentum kembali berpihak pada pembeli.

  •  

Whale Ethereum Transaksi US$110 Juta saat Tekanan Pasar Meningkat

Ethereum (ETH) mengalami tekanan jual yang signifikan pada Januari 2026. Wallet whale dan institusi telah memindahkan lebih dari US$110 juta ETH ke beberapa exchange utama.

Pada saat yang sama, Coinbase Premium Index menunjukkan permintaan yang melemah di pasar Amerika Serikat. Meski begitu, permintaan staking yang semakin tinggi. Sinyal teknikal yang mendukung memberikan prospek yang tetap optimistis meskipun hati-hati untuk aset ini.

Transfer Ethereum Besar Tunjukkan Aktivitas Tinggi dari Whale dan Institusi

Data on-chain menunjukkan banyak transaksi besar Ethereum. Perusahaan analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa sebuah wallet dengan identitas 0xB3E8, yang mulai melakukan trading ETH delapan tahun lalu, telah mentransfer 13.083 ETH senilai sekitar US$43,35 juta ke Gemini minggu lalu.

Walaupun terjadi perpindahan tersebut, wallet tersebut masih menyimpan 34.616 ETH, dengan nilai sekitar US$115 juta.

It appears that a whale is dumping 13,000 $ETH($41.75M).

Galaxy Digital OTC wallet just transferred 13,000 $ETH($41.75M) out and has already deposited 6,500 $ETH($20.89M) into #Binance, #Bybit, and #OKX.https://t.co/UT2jKKEMFS pic.twitter.com/GolGaNMzrN

— Lookonchain (@lookonchain) January 19, 2026

Selain whale, pelaku institusi juga melakukan pergerakan besar. Lookonchain mencatat bahwa perusahaan Ethereum treasury FG Nexus menjual 2.500 ETH, dengan nilai sekitar US$8,04 juta.

Penjualan sebelumnya dari perusahaan ini terjadi pada November 2025, saat mereka memindahkan 10.975 ETH ke Galaxy Digital pada 18 dan 19 November. Saat ini, perusahaan tersebut memegang 37.594 ETH dengan nilai sekitar US$119,7 juta.

Selain itu, Lookonchain mengungkapkan bahwa sebuah wallet yang kemungkinan terkait dengan perusahaan venture capital Fenbushi Capital mengirim 7.798 ETH senilai US$25 juta ke Binance. Token-token tersebut telah di-staking selama dua tahun sebelum akhirnya kembali beredar.

Perlu dicatat bahwa pelaku pasar sering melihat arus masuk dana ke exchange sebagai sinyal awal adanya potensi aksi jual. Aset biasanya dipindahkan ke exchange terpusat untuk mendapatkan likuiditas atau melakukan trading.

Tapi, pergerakan ini belum tentu langsung diikuti oleh penjualan pasar secara segera. Dana tersebut bisa juga untuk kebutuhan rebalancing internal, penempatan collateral, strategi hedging, atau penyelesaian over-the-counter. Jadi, meskipun deposit ke exchange bisa meningkatkan risiko aksi jual jangka pendek, hal ini tidak serta merta menandakan bahwa likuidasi akan segera terjadi.

Sejalan dengan pergerakan on-chain tersebut, indikator berbasis pasar juga memberikan gambaran tambahan soal kondisi saat ini. Coinbase Premium Index, yang mengukur perbedaan persentase harga Coinbase Pro (pasangan USD) dan harga Binance (pasangan USDT), saat ini berada di zona negatif. Hal ini menunjukkan permintaan yang lebih lemah dari investor institusi asal Amerika Serikat.

ETH's Negative Coinbase Premium Index
Coinbase Premium Index Negatif ETH | Sumber: CryptoQuant

Ethereum Staking dan Sinyal Teknikal Tunjukkan Ketahanan

Meski begitu, ekosistem staking Ethereum terus menunjukkan permintaan yang konsisten. Berdasarkan data antrean validator, terdapat 2,7 juta ETH dalam antrean masuk untuk staking, sehingga menyebabkan waktu tunggu hingga 47 hari. Backlog yang besar ini menandakan minat yang tinggi untuk berpartisipasi sebagai validator dan dukungan jangka panjang terhadap jaringan.

Perbandingan antara antrean masuk dan keluar menjadi perhatian. Ada 36.960 ETH yang menunggu antrean keluar. Ketidakseimbangan ini memberi sinyal bahwa meski beberapa holder besar memilih untuk menjual, mayoritas validator tetap berkomitmen ingin mendapatkan imbalan staking dan membantu menjaga keamanan jaringan.

Tom Lee(@fundstrat)'s #Bitmine staked another 86,848 $ETH($277.5M) 5 hours ago.

In total, #Bitmine has now staked 1,771,936 $ETH($5.66B).https://t.co/P684j5Yil8 pic.twitter.com/fNoIuERqKt

— Lookonchain (@lookonchain) January 20, 2026

Selain itu, analis pasar juga menyoroti sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi kenaikan lebih lanjut untuk aset ini. Mengomentari situasi saat ini, analis Crypto Gerla menuturkan bahwa ETH sedang berada di fase re-akumulasi. Analis tersebut juga menambahkan bahwa pergerakan menuju US$3.600 bisa saja terjadi.

Bears called for a top last cycle because of the $ETH head and shoulder pattern.

Now, ETH is forming an inverse head and shoulder pattern, but bears think it won't play out this time.

They were right in 2022 and will be wrong in 2026. pic.twitter.com/mHcDZyGBXY

— BitBull (@AkaBull_) January 19, 2026

Berdasarkan data terbaru dari BeInCrypto Markets, harga perdagangan Ethereum berada di angka US$3.166,51, turun 1,11%. Apakah tekanan jual akan tetap menekan aset ini atau justru momentum bullish kembali berkuasa, bakal menjadi tren penting yang perlu diperhatikan dalam periode mendatang.

Bagaimana pendapat Anda tentang pergerakan whale Ethereum ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Setup Cardano Ini Pernah Picu Reli 32% — On-Chain Metrics Nampaknya Akan Terjadi Lagi?

Harga Cardano sepertinya sedang mendekati titik keputusan. Walau harganya masih tertekan, ada pola teknikal yang sudah dikenal mulai terbentuk di balik permukaan. Struktur yang sama pernah mendahului reli sebesar 32% di akhir tahun lalu, kini kembali muncul, tapi kali ini didukung oleh perilaku on-chain tertentu dari whale dan holder jangka panjang.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal ada atau tidak adanya sinyal. Melainkan, apakah perilaku pendukungnya cukup kuat untuk mendorong sinyal itu terwujud.


Setup Bullish yang Sudah Dikenal Muncul Lagi — dan Crypto Whale Bersiap Lebih Awal

Cardano sedang membentuk bullish divergence di chart harian. Bullish divergence terjadi saat harga mencetak lower low, namun momentum, yang diukur dengan Relative Strength Index (RSI), justru bergerak naik. RSI membandingkan keuntungan dan kerugian terbaru untuk menilai apakah tekanan jual mulai melemah.

Pola ini sebelumnya pernah penting bagi Cardano.

Antara 4 November hingga 31 Desember 2025, ADA mencetak lower low sementara RSI membentuk higher low. Divergensi itu menandai tekanan jual yang mulai habis dan selanjutnya diikuti reli sebesar 32%. Struktur serupa kini mulai terbentuk lagi antara 4 November 2025 hingga 19 Januari 2026, selama harga ADA masih bertahan di atas area US$0,35.

Bullish Divergence Forming
Bullish Divergence Forming | Sumber: TradingView

Ingin insight token lainnya seperti ini? Daftar ke Newsletter Harian Crypto Editor Harsh Notariya di sini.

Perilaku whale memperkuat sinyal kali ini.

Wallet yang memegang antara 1 juta hingga 10 juta ADA terlihat terus menambah akumulasi sejak 12 Januari. Total simpanan mereka naik dari sekitar 5,51 miliar ADA menjadi 5,61 miliar ADA, meningkat sekitar 100 juta ADA, atau 1,8% hanya dalam waktu kurang dari dua minggu. Dengan harga saat ini, itu setara eksposur tambahan lebih dari US$36 juta.

Cardano Whales
Whale Cardano | Sumber: Santiment

Akumulasi seperti ini biasanya muncul sebelum terjadi pergeseran momentum, bukan setelahnya. Tapi, momentum saja tidak cukup. Perilaku dari kelompok holder lain juga yang bakal menentukan apakah pola ini bisa berlanjut.


Holder Tetap Tenang Sementara Aktivitas Jangka Pendek Meningkat — Sinyal Campuran

Agar bisa memahami risiko di balik pola ini, kita perlu melihat aktivitas pergerakan koin yang sudah dipegang atau spent coin. Aktivitas spent coin melacak berapa banyak koin yang dipindahkan di jaringan, sehingga memberi gambaran siapa yang menjual dan siapa yang masih diam.

Holder jangka panjang, yang di sini berarti wallet yang memegang ADA selama 180 hingga 365 hari, menunjukkan keyakinan kuat. Aktivitas spent coin mereka anjlok dari sekitar 67,47 juta ADA pada 14 Januari ke sekitar 174.000 ADA dalam waktu dekat ini. Penurunan lebih dari 99% ini menyebabkan aktivitas sentuh titik terendah bulanan. Singkatnya, holder jangka panjang tidak menjual di saat harga lemah.

HODLers Not Moving ADA
Holder Tidak Memindahkan ADA | Sumber: Santiment

Sementara, holder jangka pendek justru memperlihatkan kondisi yang sangat berbeda.

Koin yang dipegang selama 30 hingga 60 hari tiba-tiba menjadi jauh lebih aktif seiring dengan terbentuknya pola bullish. Aktivitas spent coin untuk kelompok ini melonjak dari sekitar 3,6 juta ADA pada 18 Januari menjadi sekitar 14,84 juta ADA, naik sekitar 312% dalam waktu singkat.

Divergensi ini cukup berpengaruh.

Kurangnya aktivitas dari holder jangka panjang cukup menopang sisi bawah harga serta menurunkan risiko panik. Di waktu bersamaan, naiknya aktivitas jangka pendek memperbesar risiko suplai jika harga mulai bergerak naik. Ketidakseimbangan semacam ini bisa saja yang dulu membatasi reli Cardano berbasis RSI sebelumnya sehingga tidak berubah jadi tren yang bertahan lama.

Short-Term Cohort
Kelompok Jangka Pendek | Sumber: Santiment

Apakah pola ini akan menghasilkan reli kini sangat bergantung pada reaksi harga di level-level kunci.


Level Harga Cardano dan Dua Metrik Lain Tentukan Apakah Sejarah Terulang

Terakhir kali Cardano reli 32%, pergerakan itu akhirnya gagal karena harga ADA tidak berhasil kembali ke exponential moving average (EMA) 50 hari. EMA memberikan bobot lebih pada harga terbaru sehingga lebih sensitif terhadap perubahan tren. Pada reli itu, ADA tertahan di dekat EMA 50 hari yang sekarang ada di sekitar US$0,41.

Level tersebut menjadi rintangan utama pertama lagi.

Jika divergensi RSI saat ini terkonfirmasi dan harga naik lebih tinggi, penutupan harian yang jelas di atas US$0,41 akan menandakan bahwa momentum jangka pendek akhirnya sejalan dengan skemanya. Di atas itu, US$0,43 menjadi resistance berikutnya, lalu US$0,48 yang sangat dekat dengan EMA 200 hari, sekaligus menandai perubahan tren yang lebih berarti.

Arus modal membawa perbedaan penting kali ini.

Chaikin Money Flow (CMF) yang memantau apakah modal masuk atau keluar dari suatu aset justru bergerak naik walaupun harga sempat turun. Sebelumnya, CMF gagal bertahan di atas garis nol saat reli, menandakan arus masuk lemah. Kali ini, CMF naik dan tetap positif, menunjukkan akumulasi terjadi bahkan saat harga Cardano turun.

Pembelian whale yang sudah disebutkan sebelumnya juga punya peran mendorong CMF ke level yang lebih tinggi.

Cardano Price Analysis
Analisis Harga Cardano | Sumber: TradingView

Dari sisi bawah, pola ini masih bersifat kondisional. Jika terus turun di bawah US$0,35, maka divergensi bullish akan melemah dan membuka jalan menuju US$0,32 sehingga peluang pola berulang pun tertunda.

  •  

3 Altcoin yang Berpotensi Cetak Rekor ATH Baru di Pekan Ketiga Januari 2026

Pasar kripto saat ini berada dalam kondisi netral, tidak didominasi oleh sentimen greed maupun fear, karena mayoritas token belum menunjukkan arah yang tegas. Sementara sebagian aset masih berjuang sekadar untuk pulih, beberapa altcoin justru mulai mendekati peluang pencetakan rekor harga all-time high (ATH) baru.

BeInCrypto menganalisis tiga altcoin yang berpotensi mencetak all-time high dalam beberapa hari ke depan.

Monero (XMR)

XMR masih menjadi salah satu kandidat terkuat untuk mencetak all-time high baru pekan ini. Setelah melesat 57% hingga mencapai puncak sementara di dekat US$800, aset ini terkoreksi tajam. Saat ini, Monero nangkring di kitaran US$635, mencerminkan aksi ambil untung, bukan pelemahan struktural, di tengah minat yang tetap tinggi atas aset kripto yang berfokus privasi.

Kendati terkoreksi, XMR masih bertahan kokoh di atas zona support US$560. Indikator Chaikin Money Flow tidak menunjukkan arus keluar modal, melainkan hanya pelemahan arus masuk dalam 24 jam terakhir. Stabilitas ini mengindikasikan potensi akumulasi lanjutan, yang bisa membuka jalan bagi rebound sekitar 24% menuju all-time high sebelumnya.

XMR Price Analysis.
Analisis Harga XMR | Sumber: TradingView

Risiko tetap ada apabila sentimen pasar memburuk. Bila terperosok secara tegas di bawah support US$560, itu akan menggugurkan proyeksi bullish. Dalam skenario tersebut, XMR terancam turun menuju US$500 atau lebih rendah, menandakan koreksi yang lebih dalam serta pergeseran momentum ke pihak penjual.

Rain (RAIN)

Rain termasuk salah satu altcoin yang saat ini bertengger paling dekat dengan all-time high-nya. Token ini berada kurang dari 10% di bawah puncak US$0,0100 yang tercapai awal bulan ini. Kinerja relatif yang kuat mencerminkan minat berkelanjutan, menjadikan RAIN sebagai aset penting untuk dipantau dalam fase pasar saat ini.

Pergerakan harga RAIN sangat bergantung pada kemampuannya untuk bertahan di atas support US$0,0090. Rebound yang solid dari area ini akan menandakan kembalinya momentum beli. Apabila itu terjadi, harga berpeluang kembali menguji US$0,0100, dan breakout di atas level tersebut akan mengantarkan Rain ke all-time high baru.

RAIN Price Analysis.
Analisis Harga RAIN | Sumber: TradingView

Risiko drop masih ada andaikata momentum bullish gagal terbentuk. Aksi turun ke bawah support US$0,0090 akan melemahkan struktur pasar. Dalam skenario ini, harga RAIN berpotensi terkoreksi menuju US$0,00860, mencerminkan retracement alias koreksi yang lebih dalam dan meningkatnya tekanan jual jangka pendek.

River (RIVER)

Harga RIVER masih berada sekitar 75% di bawah all-time high US$43. Namun, momentum terbaru mulai memangkas jarak tersebut. Altcoin ini meroket hampir 40% pada hari Minggu, menunjukkan akselerasi reli yang signifikan. Lonjakan tajam semacam ini menandakan minat spekulatif masih aktif, membuat prospek harga RIVER tetap terfokus pada volatilitas lanjutan dan kelanjutan tren.

Saat diperdagangkan di bawah resistance US$30, RIVER menunjukkan tekanan jual yang relatif terbatas dalam beberapa sesi terakhir. Volume yang stabil mengindikasikan holder cenderung bertahan alih-alih melepas kepemilikan. Jika struktur ini bertahan, momentum bullish dapat berlanjut sepanjang pekan, mendorong RIVER menembus US$30 dan membuka jalur menuju retest all-time high US$43.

RIVER Price Analysis.
Analisis Harga RIVER | Sumber: TradingView

Proyeksi bullish akan melemah seumpama sentimen investor beralih ke aksi ambil untung. Koreksi berpotensi menyeret harga RIVER menuju support US$19. Lenyapnya level tersebut akan serta-merta membuyarkan proyeksi bullish dan membuka risiko drop yang lebih curam menuju US$11, sekaligus menandai pembalikan struktur pasar secara tegas.

Bagaimana pendapat Anda tentang 3 altcoin yang berpotensi mencetak rekor harga ATH di pekan ketiga Januari 2026 ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Bitcoin Bakal Koreksi 30%+ Menurut Prediksi Trader Veteran Peter Brandt

Trader veteran Peter Brandt membeber prediksi bahwa Bitcoin (BTC) bisa turun menuju zona US$58.000–US$62.000. Bila benar terjadi, itu akan mewakili koreksi sebesar 33–37% dari level harga terkini sekitar US$92.400.

Prediksi ini muncul di tengah Bitcoin yang terus memancarkan banyak sinyal bearish, sementara analis lain juga turut menyoroti adanya risiko koreksi lanjutan.

Peter Brandt Wanti-wanti Bitcoin Berpotensi Drop Merujuk Pola Teknikal

Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), Brandt menyebut Bitcoin berpeluang bergerak turun ke kisaran US$58.000 sampai US$62.000. Chart atau grafik harga yang tercantum menunjukkan bahwa pandangannya bersandarkan pada pola rising wedge yang terbentuk selama dua bulan terakhir.

“US$58.000 sampai US$62.000 adalah area yang saya prediksi akan menjadi tujuan BTC,” begitu isi unggahan tersebut.

Peter Brandt's Bitcoin Price Prediction
Prediksi Harga Bitcoin Peter Brandt | Sumber: X/Peter Brandt

Sebagai informasi, pola rising wedge muncul ketika harga terkonsolidasi di antara dua garis tren naik yang saling mendekat, di mana garis tren bawah naik lebih curam ketimbang garis tren atas.

Pola ini acap kali mengindikasikan melemahnya momentum dan meningkatkan probabilitas pergerakan turun, meskipun analisis teknikal tidak pernah menjamin hasil pasti. Brandt juga mengakui adanya ketidakpastian dalam setiap proyeksi pasar. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak keberatan jika prediksinya meleset.

“Kalau ternyata tidak turun sampai ke sana, saya TIDAK akan malu. Jadi saya tidak perlu melihat para troll menyimpan tangkapan layar ini di masa depan. Saya salah sekitar 50% sejauh ini. Saya tidak masalah jika salah.”

Selain Brandt, beberapa pengamat pasar juga menyoroti skenario bearish lain. Seorang analis menemukan kemiripan antara struktur harga Bitcoin saat ini dengan siklus pasar tahun 2022, lalu berpendapat bahwa aset ini “mengulang pola fractal 2022 secara persis”.

Sang analis membagikan perbandingan visual yang menunjukkan bahwa dalam kedua periode tersebut, Bitcoin sempat mencatat relief rally yang kemudian tertahan di bawah resistance horizontal. Pergerakan ini akhirnya membentuk bull trap sebelum harga menembus support yang menanjak.

Pada 2022, jebolnya support tersebut memicu akselerasi penurunan yang tajam. Menurut analis tersebut, dinamika serupa kini berpotensi kembali terjadi, seiring momentum penurunan yang mulai terakumulasi.

Bitcoin 2022 vs 2026
Bitcoin 2022 vs 2026 | Sumber: Linton Worm

Terakhir, BeInCrypto juga telah menemukan 5 sinyal utama bearish untuk Bitcoin, yang semakin memperkuat kemungkinan pergerakan turun. Meski begitu, beberapa analis punya pandangan yang berlawanan.

Analis Ted Pillows menerangkan bahwa pertumbuhan likuiditas AS secara tahunan mulai menyentuh titik terendah pada November 2025, yang kebetulan juga bertepatan dengan titik terendah lokal bagi Bitcoin.

Menurut Pillows, kondisi likuiditas AS kini sudah mulai membaik, hal yang ia percaya dapat mendukung reli aset kripto.

“Sekarang likuiditas AS membaik, yang menjadi salah satu alasan kenapa saya memperkirakan akan ada reli aset kripto. Sesederhana itu,” papar dia.

$BTC is still in an uptrend on the weekly chart.

We’ve tested the same support line 3 times now and it keeps holding.
This last bounce around ~$93K shows buyers are still stepping in.

As long as BTC stays above this trendline, the trend stays bullish.

Next level to watch is… pic.twitter.com/XPCC3K0ME6

— Crypto King (@CryptoKing4Ever) January 19, 2026

Aktivitas Crypto Whale OG Bitcoin Kembali Muncul di Tengah Pandangan Pasar yang Terbelah

Di tengah indikator teknikal dan ekonomi makro yang menunjukkan sinyal beragam, data on-chain menunjukkan bahwa holder jangka panjang juga mulai semakin aktif. Platform analitik blockchain Lookonchain melaporkan bahwa seorang crypto whale OG Bitcoin yang lama tidak aktif terekam memindahkan 909,38 BTC senilai sekitar US$84,62 juta ke wallet baru setelah 13 tahun.

Saat pertama kali diterima, setiap BTC tersebut bernilai kurang dari US$7, yang berarti telah mengalami apresiasi sekitar 13.900 kali lipat. Pergerakan semacam ini kerap memantik perhatian pasar karena bisa mengindikasikan potensi aksi jual atau reposisi strategis oleh investor awal.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024.

“Sejak 4 Desember 2024, ia sudah menjual $BTC, melakukan dump sebanyak 2.500 $BTC (US$265,0 juta) di harga rata-rata US$106.164. Dia masih menyimpan 2.500 $BTC (US$237,5 juta), dengan total keuntungan lebih dari US$500,0 juta,” terang postingan tersebut.

Dalam laporan terpisah, Lookonchain juga mengungkap aktivitas whale OG lainnya yang mulai melepas kepemilikan. Whale ini mengakumulasi 5.000 BTC dengan harga US$332 per koin sekitar 12 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjual 500 BTC senilai US$47,77 juta, melanjutkan pola distribusi bertahap yang dimulai sejak Desember 2024. Ihwal ke mana arah Bitcoin selanjutnya, masih harus kita tunggu.

Bagaimana pendapat Anda tentang analisis dan prediksi Bitcoin versi Brandt di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

3 Meme Coin Wajib Pantau di Pekan Ketiga Januari 2026

Meme coin mengalami pekan yang berat, seiring pasar kripto secara luas memancarkan sinyal netral hingga bearish. Meski banyak token masih mencatatkan koreksi, sebagian lainnya kini berada di titik yang berpotensi memicu pembalikan arah alias reversal.

BeInCrypto menganalisis 3 meme coin yang wajib masuk watchlist investor menjelang akhir Januari ini.

Ponke (PONKE)

PONKE masuk dalam jajaran performer terlemah pekan ini setelah anjlok 21% dan diperdagangkan di kisaran US$0,0474. Meski demikian, meme coin ini masih bertahan di atas level support US$0,0454, yang untuk sementara membatasi tekanan turun lebih lanjut. Pergerakan harga jangka pendek mencerminkan tekanan jual yang kokoh, namun stabilisasi mengindikasikan belum terjadi kapitulasi penuh.

Di tengah koreksi tersebut, PONKE masih mampu bertahan di atas exponential moving average (EMA) 50 hari. Level ini kerap menjadi penanda kekuatan tren jangka pendek. Selama harga tetap berada di atas EMA tersebut, peluang terjadinya breakdown yang lebih dalam relatif menurun, sekaligus menjaga peluang rebound teknikal tetap terbuka.

PONKE Price Analysis.
Analisis Harga PONKE | Sumber: TradingView

Agar pemulihan benar-benar terkonfirmasi, PONKE perlu merebut kembali resistance di US$0,0525. Jika level ini berhasil diterobos, harga berpotensi melaju menuju US$0,0611, yang dapat menutup sebagian kerugian sebelumnya. Sebaliknya, jika sentimen bearish terus berlanjut, drop di bawah US$0,0454 dapat membuka jalan bagi pelemahan lanjutan menuju US$0,0402.

Popcat (POPCAT)

POPCAT terkoreksi 18,4% dalam sepekan terakhir dan menjadi salah satu meme coin dengan kinerja terlemah. Saat ini, token tersebut diperdagangkan di atas support US$0,081. Meski tekanan jual cukup intens, zona ini sejauh ini mampu menahan penurunan lebih lanjut, menandakan fase stabilisasi jangka pendek ketika pelaku pasar menilai apakah tekanan jual mulai mereda.

Indikator teknikal mulai mengisyaratkan potensi kelelahan penjual. Money Flow Index (MFI) berada di sekitar ambang oversold (jenuh jual) di level 20,0, yang biasanya menandai berkurangnya tekanan jual. Penurunan di bawah level ini kerap diikuti oleh relief rally. Apabila minat beli kembali muncul, POPCAT berpotensi rebound menuju US$0,089, dengan US$0,100 menjadi level kunci untuk memulihkan kerugian terbaru.

POPCAT Price Analysis
Analisis Harga POPCAT | Sumber: TradingView

Namun, risiko koreksi masih membayangi apabila sentimen pasar gagal membaik. Tekanan jual yang berlanjut dapat mendorong POPCAT menembus support US$0,081. Jika itu terjadi, harga berpotensi meluncur ke area US$0,077 atau lebih rendah, yang akan membatalkan skenario pembalikan bullish dan memperkuat momentum bearish dalam jangka pendek.

Mog Coin (MOG)

Harga MOG turun 17,8% sepanjang pekan lalu dan kini parkir di sekitar US$0,000000267 pada waktu publikasi. Berbeda dengan meme coin lainnya, MOG masih menunjukkan tanda stabilisasi yang terbatas. Struktur harga dan indikator momentum justru mengarah pada risiko penurunan lanjutan, alih-alih sinyal pembalikan dalam kondisi pasar saat ini.

Tekanan jual masih terus terbangun berdasarkan indikator momentum. Money Flow Index berada di level 37,1, jauh di atas ambang oversold 20,0 yang biasanya mendahului rebound. Kondisi ini mengindikasikan harga MOG masih berpotensi melanjutkan penurunan, menembus support US$0,000000242, dan meluncur menuju level yang sebelumnya sempat diuji di US$0,000000206.

MOG Price Analysis.
Analisis Harga MOG | Sumber: TradingView

Meski demikian, perubahan sentimen pasar secara luas dapat mengubah prospek MOG. Jika kondisi bullish menguat, MOG berpotensi bertahan di atas support US$0,000000242. Bertahannya level ini dapat membuka peluang rebound menuju US$0,000000317, sekaligus membatalkan skenario bearish dan menandakan kembalinya minat spekulatif terhadap meme coin tersebut.

Bagaimana pendapat Anda tentang meme coin untuk masuk watchlist pekan ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  

Data Tarif Baru Tunjukkan Mengapa Pasar Kripto Macet Selama Berbulan-Bulan

Riset terbaru yang dikutip oleh The Wall Street Journal menunjukkan tarif perdagangan AS secara diam-diam membebani ekonomi domestik. Beban inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa pasar kripto kesulitan untuk mendapatkan momentum sejak aksi jual di bulan Oktober.

Sebuah studi dari Kiel Institute for the World Economy di Jerman menemukan bahwa untuk tarif yang diterapkan antara Januari 2024 hingga November 2025, sebanyak 96% biaya ditanggung oleh konsumen dan importir di AS, sedangkan eksportir asing hanya menanggung 4% saja.

Hampir US$200 miliar pendapatan dari tarif dibayarkan hampir seluruhnya di dalam ekonomi AS.

By analyzing $4 trillion of shipments between January 2024 and November 2025, researchers found that foreign exporters absorbed only about 4% of the burden of last year’s U.S. tariff increases by lowering their prices, while American consumers and importers absorbed 96%.

The…

— Nick Timiraos (@NickTimiraos) January 19, 2026

Tarif Bea Masuk Berperan Seperti Pajak Konsumsi Domestik

Riset ini menantang klaim politik utama yang menyatakan tarif dibayar oleh produsen asing. Faktanya, importir AS yang membayar tarif di perbatasan, lalu menanggung atau meneruskan biayanya ke konsumen.

Eksportir asing sebagian besar tetap mempertahankan harga. Alih-alih, mereka mengirimkan barang lebih sedikit atau mengalihkan pasokan ke pasar lain. Hasilnya bukan impor yang lebih murah, melainkan volume perdagangan yang menurun.

Ekonom menyebut efek ini sebagai pajak konsumsi yang berjalan lambat. Harga tidak langsung melonjak. Biaya secara perlahan masuk ke rantai pasok dari waktu ke waktu.

Presiden AS Trump Terapkan Tarif Baru ke Sejumlah Negara Eropa karena Menolak Penawaran Pembelian Greenland. Sumber: Truth Social

Inflasi AS Tetap Moderat, tapi Tekanan Mulai Meningkat

Inflasi AS masih cukup terkendali sampai tahun 2025. Karena itu, sebagian orang beranggapan tarif tidak berdampak besar.

namun, studi yang dikutip WSJ menunjukkan hanya sekitar 20% biaya tarif yang masuk ke harga konsumen dalam enam bulan. Sisanya ditanggung importir dan retailer, sehingga memangkas margin mereka.

Keterlambatan ini menjelaskan mengapa inflasi tetap moderat namun daya beli perlahan menurun. Tekanan menumpuk secara diam-diam, bukan meledak seketika.

Today, the US CPI inflation is 1.57% (YoY).

It's been holding below the 2% target since the end of the year.

To calculate an independent gauge of US inflation, we aggregate millions of price points daily, whereas the official US inflation is reported by the US Bureau of Labor… pic.twitter.com/ysDd9Obt68

— Truflation (@truflation) January 19, 2026

Bagaimana Ini Terkait dengan Stagnasi Pasar Aset Kripto

Pasar kripto bergantung pada likuiditas dari dana lebih. Pasar akan naik ketika rumah tangga dan bisnis percaya diri untuk mengalokasikan modal berlebih.

Tarif telah menguras kelebihan dana itu sedikit demi sedikit. Konsumen membayar lebih mahal. Bisnis menanggung tambahan biaya. Dana tunai untuk aset spekulatif pun jadi lebih sedikit.

Hal inilah yang membuat pasar kripto tidak ambruk setelah Oktober, tapi juga gagal rebound lebih tinggi. Market masuk ke liquidity plateau, bukan bear market.

Aksi jual di bulan Oktober menguras leverage dan menghentikan arus dana ke ETF. Dalam kondisi normal, inflasi yang mulai reda biasanya membuat minat risiko kembali naik.

tapi, tarif menjaga kondisi keuangan tetap ketat secara perlahan. Inflasi tetap di atas target. The Fed pun terus berhati-hati. Likuiditas tidak berkembang.

Harga kripto pun bergerak sideways akibatnya. Tidak ada kepanikan, tapi juga tak ada bahan bakar untuk kenaikan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data tarif baru ini bukan satu-satunya penjelasan volatilitas pasar kripto. Tapi, data ini membantu menjelaskan kenapa market tetap tertahan.

Tarif diam-diam memperketat sistem, menguras dana ekstra, dan menunda kembalinya minat risiko.

  •  

Zcash Terhindar dari Crash 34% saat Dip Buyer Masuk — Penyelamatan Sempurna atau Hanya Jeda Sementara?

Zcash Hampir Alami Breakdown Besar, Tapi Pembeli Langsung Menyelamatkan. Pada Chart 12 Jam, Pola Bearish Hampir Terbentuk Sepenuhnya dan Mengisyaratkan Koreksi Harga Zcash yang Dalam.

Alih-alih breakdown, aksi beli saat harga turun menciptakan ekor bawah yang panjang, sehingga breakdown tertunda. Tapi pertanyaan lebih besar adalah apakah ini aksi pembelian penuh keyakinan atau hanya upaya bertahan sementara untuk menunda yang tak terelakkan.


Breakdown 34% Hampir Terjadi — Sampai Pembeli Masuk

Pada chart 12 jam, Zcash membentuk pola head-and-shoulders yang jelas. Level breakdown berada di sekitar US$359, dan harga sempat diperdagangkan di bawah titik tersebut. Pergerakan ini hampir memicu aktivasi penuh pola tersebut yang menargetkan penurunan 34%.

Namun, breakdown ini belum terkonfirmasi.

Pembeli bereaksi agresif, mendorong harga naik lagi di atas support sebelum candle ditutup. Hasilnya, tercipta ekor bawah yang panjang – sebuah tanda klasik bahwa permintaan muncul tepat di area yang diharapkan penjual akan melanjutkan tekanan jual. Untuk saat ini, ekor itu melambangkan breakdown yang terselamatkan, bukan pembalikan tren.

Bearish Pattern
Pola Bearish | Sumber: TradingView

Ingin dapat insight token seperti ini? Daftar di Newsletter Crypto Harian Editor Harsh Notariya di sini.

Momen ini menambah sedikit lapisan support. Antara 10 Januari sampai 19 Januari, Zcash membentuk lower low pada harga, sedangkan indikator RSI (Relative Strength Index) justru membentuk higher low. Ini adalah bullish divergence standar di time frame 12 jam. Umumnya, sinyal ini menunjukkan adanya potensi rebound jangka pendek, terutama setelah penurunan tajam.

Bullish Divergence Forming
Bullish Divergence Mulai Terbentuk | Sumber: TradingView

Meski demikian, divergence ini masih rapuh. Agar tetap valid, harga Zcash harus bertahan di atas US$335 pada time frame 12 jam. Jika harga ditutup di bawah angka tersebut, sinyal akan melemah dan peluang penurunan kembali terbuka. Singkatnya, pembeli berhasil menunda penurunan. Tapi mereka belum menghilangkannya.


Pembelian Whale dan Arus Spot Mulai Melambat

Melihat lebih dalam, ada alasan kenapa breakdown ini tertahan.

Selama tujuh hari terakhir, whale menambah kepemilikan Zcash sebesar 12,65%, sehingga pasokan yang dikuasai whale naik jadi sekitar 9.950 ZEC. Kelompok inilah yang menyokong harga paling kuat selama tekanan jual. Sebaliknya, 100 alamat teratas (mega whale) tidak menambah kepemilikan secara signifikan, yang berarti para holder besar jangka panjang masih berhati-hati.

Zcash Whales
Whale Zcash | Sumber: Nansen

Data pasar spot juga memperkuat gambaran ini.

Pada akhir November, Zcash mencatat arus keluar harian dari exchange hampir US$61 juta, menandakan adanya aksi beli penuh keyakinan. Sekarang, permintaan sebesar itu sudah hilang. Pada 18 Januari, arus bersih keluar hanya US$15,7 juta. Lalu, 19 Januari, angkanya langsung turun ke US$7,68 juta saja. Ini merupakan penurunan 87% dibandingkan level akumulasi puncaknya.

Spot Exchange Netflows
Arus Bersih Exchange Spot | Sumber: Coinglass

Pembelian masih terjadi, tapi lajunya jauh lebih lambat.

Money Flow Index (MFI) membantu mengidentifikasi tipe permintaan yang terjadi. MFI menggabungkan data harga dan volume untuk menunjukkan apakah tekanan beli bersifat agresif atau defensif. Pada chart 12 jam, MFI membentuk higher low, walau harga Zcash menurun.

Pergerakan ini menandakan aksi beli saat harga turun, bukan aksi kejar breakout. Artinya, pembeli masuk hanya setelah harga melemah, bukannya langsung percaya diri membeli di harga tinggi.

ZEC Dip Buyers Continue To Come In
Aksi Beli Saat Harga Turun di ZEC Masih Berlanjut | Sumber: TradingView

Pembedaan ini penting. Aksi beli saat harga turun bisa menghentikan penurunan tajam, persis seperti yang baru terjadi di dekat level breakdown. Tapi tanpa dorongan lanjutan yang lebih kuat, biasanya aksi ini jarang mampu mendorong reli yang berkelanjutan sendirian.

Saat ini, permintaan Zcash masih ada. Tapi, permintaan itu terlihat hati-hati, selektif, dan lebih bersifat reaktif, bukan mendesak.


Level Harga Zcash yang Menentukan Apakah Save Berubah Menjadi Reversal

Karena breakdown tertunda, level harga kini menjadi lebih penting daripada indikator.

Zona penting pertama masih di kisaran US$359 hingga US$350. Jika Zcash kehilangan area ini dalam penutupan 12 jam, pola head-and-shoulders kemungkinan kembali aktif. Hal ini bisa membuka jalan turun ke US$250, yang hampir menyelesaikan proyeksi penurunan 34%.

Jika para pembeli terus mempertahankan zona ini, stabilisasi jangka pendek masih mungkin terjadi.

Untuk potensi kenaikan, level US$450 menjadi ujian nyata pertama. Level ini menandai bahu kanan dari pola bearish. Jika harga mampu bergerak stabil di atasnya, pola bearish dapat melemah dan momentum kembali terbentuk.

Zcash Price Analysis
Analisis Harga Zcash | Sumber: TradingView

Namun, pola bearish baru benar-benar patah jika harga menembus di atas US$559. Sebelum itu terjadi, setiap pantulan masih tergolong koreksi, bukan perubahan tren.

Zcash sekarang berada di tengah-tengah. Pembeli membuktikan mereka siap bertahan di harga ini. Crypto whale mulai masuk. Aktivitas beli saat harga turun masih aktif. Tapi keyakinan sudah tak sekuat fase akumulasi sebelumnya.

Penurunan 34% sudah tertahan — untuk saat ini. Apakah kondisinya bertahan atau tidak akan sangat bergantung pada langkah para pembeli selanjutnya, bukan hanya tindakan mereka sebelumnya.

  •  

Taruhan Tokenized Securities NYSE Bisa Membentuk Ulang Pasar Saham AS

New York Stock Exchange sedang mempersiapkan fondasi untuk salah satu perubahan paling besar pada infrastruktur pasar saham AS dalam beberapa dekade terakhir.

Bursa ini mengumumkan rencana untuk mendukung sekuritas ter-tokenisasi dan memungkinkan perdagangan tanpa henti selama 24 jam, 7 hari seminggu. Upaya ini bertujuan memodernisasi cara saham diperdagangkan, diselesaikan, dan menerima informasi dalam sistem keuangan global.

Jika berhasil, perubahan ini bisa mengubah mekanisme pembentukan harga, risiko penyelesaian, perilaku likuiditas, dan psikologi investor di seluruh pasar AS.

Apa yang Sebenarnya Diusulkan oleh NYSE

Rencana NYSE berfokus pada pembangunan platform berbasis blockchain yang mampu mendukung versi ter-tokenisasi dari sekuritas tradisional, seperti saham dan ETF. Sekuritas ter-tokenisasi ini akan mewakili saham asli yang diakui secara hukum, didukung satu banding satu dengan aset dasarnya, dan diatur oleh hukum sekuritas AS yang berlaku.

Today, NYSE is proud to announce the development of a platform for trading and on-chain settlement of tokenized securities.

NYSE’s new digital platform will enable tokenized trading experiences, including 24/7 operations, instant settlement, orders sized in dollar amounts, and…

— NYSE 🏛 (@NYSE) January 19, 2026

Sebuah saham ter-tokenisasi tetap merepresentasikan kepemilikan di perusahaan publik, dengan hak ekonomi dan tata kelola yang sama seperti saham konvensional. Perbedaannya ada pada cara pencatatan kepemilikan dan penyelesaian transaksi.

Poin pentingnya, NYSE tidak serta-merta mengganti sistem pasar yang sudah ada. Sekuritas ter-tokenisasi ini dirancang untuk beroperasi bersama-sama dengan saham tradisional, dengan kemungkinan saling dipertukarkan di masa depan.

Jadi, ini merupakan sistem paralel, bukan perpindahan paksa.

NYSE’s announcement on tokenized securities is being misunderstood across X.

The New York Stock Exchange is not turning stocks into crypto, moving markets on-chain overnight, or launching DeFi for equities. This is an announcement of intent, not an approved or live product.

At… pic.twitter.com/NQ1fHV0A2r

— Andrew Hiesinger (@AndrewHiesinger) January 19, 2026

Struktur Pasar Saham Saat Ini Mulai Menua

Meski teknologi sudah berkembang pesat selama puluhan tahun, pasar saham AS masih bergantung pada struktur berlapis yang dibuat untuk era sebelum digital. Proses perdagangan, kliring, penyelesaian, dan penitipan saham ditangani oleh pihak berbeda, masing-masing memegang buku catatannya sendiri.

Struktur ini menimbulkan beberapa masalah. Modal tertahan selama masa penyelesaian. Risiko pihak lawan tetap ada sampai transaksi benar-benar selesai. Rekonsiliasi antarlembaga perantara menambah biaya dan risiko operasional.

Lebih penting lagi, pasar tetap terikat pada jam perdagangan tetap, sementara arus informasi kini berjalan secara global dan terus-menerus.

Gesekan-gesekan ini memang tidak selalu terlihat oleh investor ritel. tapi faktor-faktor inilah yang membentuk volatilitas, likuiditas, dan perilaku pasar setiap hari.

The NYSE is going all-in on tokenization.

The world's most iconic stock exchange just announced plans for 24/7 trading and instant settlement of tokenized securities.

“Tokenization has the potential to bring greater efficiency, transparency and accessibility to capital… pic.twitter.com/JajKg1zX0T

— Ondo Finance (@OndoFinance) January 19, 2026

Tokenisasi Mengubah Segalanya di Tingkat Infrastruktur

Tokenisasi menargetkan masalah-masalah ini secara langsung. Dengan merepresentasikan sekuritas di buku digital bersama, pembaruan kepemilikan dan penyelesaian bisa berlangsung hampir seketika. Proses perdagangan dan penyelesaian pun tidak harus terpisah lalu digabungkan belakangan.

Hal ini mengurangi risiko penyelesaian karena penyerahan dan pembayaran bisa terjadi secara otomatis dalam satu transaksi. Selain itu, efisiensi modal juga meningkat karena jaminan dan uang tunai tidak lagi mengendap menunggu penyelesaian.

Bagi institusi, hal ini berpengaruh pada neraca keuangan. Untuk pasar secara keseluruhan, proses administrasi pasca-perdagangan yang makin rumit bisa lebih sederhana.

Poin pentingnya adalah tokenisasi tidak mengubah apa itu saham, melainkan mengubah cara sistem memproses kepemilikan saham.

Sebuah pasar ter-tokenisasi yang dirancang untuk beroperasi tanpa henti akan mengubah dinamika lama. Perdagangan tidak perlu berhenti saat akhir pekan atau larut malam. Pembentukan harga pun berlangsung secara terus-menerus, bukan dibatasi waktu.

Ini membawa dampak penting. Saat ini, jika ada laporan keuangan, kejadian geopolitik, atau data ekonomi makro yang muncul di luar jam bursa, penyesuaian harga jadi tertunda dan lalu terjadi lonjakan tajam saat bursa dibuka.

Secara keseluruhan, perdagangan tanpa henti membuat harga menyesuaikan secara bertahap seiring menyebarnya informasi, sehingga titik-titik kejutan buatan bisa berkurang.

  •  

Ekonomi Bermuda Masuk ke Chain dengan Bantuan Circle dan Coinbase

Bermuda mengumumkan rencana di World Economic Forum di Davos pada hari Senin untuk mengubah dirinya menjadi ekonomi nasional sepenuhnya on-chain pertama di dunia.

Circle dan Coinbase sudah berkomitmen akan menyediakan infrastruktur aset digital dan alat enterprise yang dibutuhkan untuk mendukung transisi tersebut.

Bermuda Pindahkan Pembayaran ke Chain

Inisiatif ini berfokus untuk mengintegrasikan aset kripto ke dalam infrastruktur keuangan sehari-hari negara, sehingga sistem berbasis blockchain dapat mendukung pembayaran serta aktivitas ekonomi inti lainnya.

Circle dan Coinbase juga berencana membantu transisi ini dengan berkontribusi pada inisiasi edukasi keuangan digital secara nasional.

“Bermuda selalu percaya bahwa inovasi yang bertanggung jawab paling baik dicapai melalui kemitraan antara pemerintah, regulator, dan industri,” ujar David Burt, Premier Bermuda. “Dengan dukungan dari Circle dan Coinbase, dua perusahaan keuangan digital paling terpercaya di dunia, kami mempercepat visi untuk mewujudkan keuangan digital di tingkat nasional.”

We’re taking Bermuda’s economy onchain@BermudaPremier @jerallaire https://t.co/lDqFUIb9qe pic.twitter.com/QGLzaI5VNw

— Brian Armstrong (@brian_armstrong) January 19, 2026

Dalam pernyataan terpisah, Circle menyoroti bahwa ekonomi Bermuda yang sangat berjiwa wirausaha sebagai pihak utama yang diuntungkan dari ekonomi on-chain. Pelaku usaha lokal bisa mendapatkan manfaat dari model yang tidak terlalu bergantung pada pemroses pembayaran onshore, karena biasanya biaya layanan menjadi lebih tinggi dan margin merchant pun lebih sempit.

Pengumuman terbaru ini sejalan dengan keterlibatan Bermuda yang sudah berlangsung lama dengan aset kripto.

Sejarah Kebijakan Aset Digital

Peralihan Bermuda menuju ekonomi on-chain berakar dari keterlibatan pemerintah selama bertahun-tahun dengan aset kripto.

Pencapaian besar terjadi pada 2018 saat memperkenalkan kerangka kerja Digital Asset Business Act. Regulasi ini menghadirkan persyaratan lisensi untuk exchange, kustodian, penerbit, dan penyedia pembayaran yang beroperasi di Bermuda.

Tugas pengawasan diberikan pada Otoritas Moneter Bermuda, agar pengawasan sejalan dengan standar regulasi layanan keuangan yang berlaku. Regulasi lanjutan memperluas kerangka kerja untuk mengatur penerbitan aset kripto dan kewajiban pelaporan prudensial secara nasional.

Lembaga pemerintah juga berinteraksi langsungdenganpelaku industri melalui regulatory sandbox dan program percontohan. Pada periode ini, perusahaan aset kripto seperti Circle, Coinbase, dan Binance mendapatkan lisensi untuk beroperasi di yurisdiksi tersebut.

Inisiatif ekonomi on-chain ini menjadi kelanjutan kebijakan yang sudah berjalan, bukan perubahan mendadak. Ini menandakan tahap berikutnya dari upaya panjang pemerintah untuk mengintegrasikan aset kripto ke infrastruktur keuangan negara.

  •  

3 Altcoin yang Bisa Picu Likuidasi Besar di Pekan Ketiga Januari

Pada awal minggu ketiga Januari, total likuidasi di seluruh pasar mencapai hampir US$900 juta. Volatilitas negatif yang dipicu oleh dampak tarif Trump terhadap Uni Eropa menyebabkan lonjakan ini. Angka ini bisa terus bertambah karena beberapa altcoin menunjukkan tanda peringatan.

XRP, Axie Infinity (AXS), dan Dusk (DUSK) menarik modal serta leverage minggu ini karena alasan berbeda. Akan tetapi, aset kripto ini bisa menjadi jebakan bagi investor yang tidak punya rencana manajemen risiko yang ketat.

1. XRP

Pada 19 Januari, harga XRP turun ke US$1,85 sebelum kembali naik ke US$1,95. Penurunan ini menghapus sebagian besar upaya pemulihan sejak awal tahun.

Trader jangka pendek nampaknya semakin bearish. Banyak yang bertaruh harga akan turun lebih dalam. Peta likuidasi 7 hari menunjukkan potensi likuidasi Short lebih besar daripada posisi Long.

XRP Exchange Liquidation Map. Source: Coinglass
Peta Likuidasi Exchange XRP | Sumber: Coinglass

Data likuidasi mengungkapkan bahwa jika XRP rebound ke US$2,29 minggu ini, posisi Short berpotensi terkena likuidasi lebih dari US$600 juta.

Skenario ini dapat terjadi jika kekhawatiran terkait tarif baru Trump cepat mereda. Permintaan beli yang kuat di kisaran US$1,8 juga akan mendukung peluang rebound.

Metode kunci lainnya adalah rata-rata ukuran pesanan spot XRP. Data CryptoQuant menunjukkan bahwa ketika harga XRP di bawah US$2,4, pesanan besar dari whale sering muncul. Pola ini mencerminkan permintaan whale yang kuat di harga lebih rendah.

XRP Spot Average Order Size. Source: CryptoQuant.
Rata-rata Ukuran Pesanan Spot XRP | Sumber: CryptoQuant.

“Minat whale berada di level tertinggi sejak 2026. Pesanan besar mendominasi pasar, menandakan ‘Smart Money’ bergerak lebih dulu untuk kenaikan selanjutnya,” komentar seorang analis dari CryptoQuant .

Jika akumulasi whale mampu mengalahkan rasa takut pasar sementara, XRP bisa pulih secara cepat. Langkah ini akan memaksa trader Short untuk likuidasi posisi.

2. Axie Infinity (AXS)

Axie Infinity (AXS) secara tak terduga kembali ke daftar top trending di minggu ketiga Januari. Token ini telah mencetak kenaikan lebih dari 120% sepanjang tahun ini.

Reli Januari ini didorong rencana pendiri Axie untuk mengonversi reward menjadi token utilitas baru bernama bAXS. Perubahan ini adalah bagian dari pembaruan tokenomics besar yang dijadwalkan pada tahun 2026.

Peta likuidasi 7 hari untuk AXS menunjukkan potensi volume likuidasi sekitar US$12 juta. Akan tetapi, rentang harga yang dibutuhkan untuk melikuidasi posisi Long lebih sempit dibandingkan Short. Kondisi ini menggambarkan bahwa banyak trader masih berharap harga naik dalam waktu dekat.

AXS Exchange Liquidation Map. Source: Coinglass
Peta Likuidasi Exchange AXS | Sumber: Coinglass

Di sisi lain, data menunjukkan reli AXS di bulan Januari bersamaan dengan lonjakan tajam setoran ke exchange. Rata-rata jumlah transaksi deposit selama 7 hari mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Axie Infinity Exchange Depositing Transactions. Source: CryptoQuant.
Transaksi Deposit Exchange Axie Infinity | Sumber: CryptoQuant.

Tren ini menandakan banyak investor berniat keluar saat harga pulih, sehingga tekanan jual bisa sewaktu-waktu muncul. Perkembangan seperti ini bisa jadi risiko besar untuk posisi Long.

3. Dusk (DUSK)

Dusk kini muncul sebagai sorotan baru di tengah meningkatnya minat pada koin privasi. Reli ini mencerminkan rotasi modal dari koin privasi kapitalisasi besar ke alternatif kapitalisasi kecil.

Meski harganya telah meningkat hampir enam kali lipat sejak awal tahun, DUSK sudah memicu likuidasi Short besar selama empat hari terakhir. Trader jangka pendek terus menambah modal serta leverage untuk bertaruh pada pergerakan bullish.

Peta Likuidasi DUSK di Exchange. Sumber: Coinglass
Peta Likuidasi DUSK di Exchange | Sumber: Coinglass

Peta likuidasi DUSK memperlihatkan bahwa potensi likuidasi Long sangat mendominasi. Jika harganya mengalami koreksi minggu ini, posisi Long akan menghadapi risiko besar.

Laporan terbaru BeInCrypto menyoroti peningkatan arus masuk DUSK ke exchange. Tren ini menggambarkan adanya tekanan jual untuk ambil untung. Selain itu, DUSK tengah reli di tengah kembalinya rasa takut di pasar akibat tarif baru dari Trump untuk Eropa. Faktor-faktor ini mengancam keberlanjutan tren naik.

Pada Oktober tahun lalu, harga DASH melonjak enam kali lipat setelah terjadi rotasi modal dari ZEC ke privacy coin berkapitalisasi kecil. Namun, harga DASH turun 60% pada minggu berikutnya. DUSK pun berisiko mengalami hal serupa.

Jika FOMO DUSK mereda dan harganya turun di bawah US$0,13, total likuidasi Long bisa mencapai US$12.000.000.

Ketiga altcoin ini mencerminkan harapan yang sangat berbeda, bahkan saling bertentangan, di antara trader jangka pendek. Kompleksitas ini muncul karena tekanan geopolitik bertabrakan dengan dinamika internal pasar. Tanpa strategi stop-loss yang disiplin, kerugian likuidasi bisa menimpa posisi Long maupun Short.

  •  

‘Kiamat’ Dolar AS Makin Nyata? Seteru Trump vs The Fed Bikin Yuan Cina Makin Perkasa

Kepercayaan pada dolar AS kini berada di bawah tekanan seiring meningkatnya pengawasan terhadap Federal Reserve (The Fed). Tensi geopolitik turut memuncak, terpicu oleh sengketa yang berkaitan dengan minat Washington pada Greenland.

Di tengah situasi ini, Cina muncul sebagai pihak yang diuntungkan secara tidak langsung. Melalui perluasan perdagangan serta sistem pembayaran berbasis yuan, Beijing berpotensi diuntungkan dari dorongan global untuk diversifikasi akibat ketidakpastian politik dan kebijakan.

Stabilitas Dolar Jadi Tanya di Tengah Gejolak The Fed

Langkah-langkah kebijakan dari Washington dalam beberapa pekan terakhir telah menyuntikkan ketidakpastian ke pasar global, dan dolar menjadi salah satu aset yang paling terdampak.

Kepercayaan pada mata uang utama dunia ini pun melemah di tengah berbagai perkembangan politik, terutama penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.

You might be watching the beginning of the end for the dollar's dominance.

And if you're still holding dollar-denominated assets while this unfolds in real time…

Let me tell you something:

On Friday, the Department of Justice served Federal Reserve Chair Jerome Powell with… pic.twitter.com/2UGqcaZIAb

— George Noble (@gnoble79) January 13, 2026

Langkah tersebut secara luas dipandang sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga, meski data ekonomi dan juga Federal Open Market Committee tidak menunjukkan perlunya hal itu.

Faktanya, Trump bukanlah presiden AS pertama yang bersitegang dengan Federal Reserve terkait arah kebijakan. Namun, keterlibatan Departemen Kehakiman menandai eskalasi yang jarang terjadi dan tergolong luar biasa.

Tak ayal, situasi ini pun mengguncang kepercayaan investor. Pertanyaan ihwal independensi bank sentral pun mencuat, bersamaan dengan keraguan soal seberapa besar kepercayaan yang layak diberikan kepada dolar.

Langkah geopolitik dari Gedung Putih juga semakin memperdalam keresahan ini.

Persatuan AS-Uni Eropa Mulai Retak

Amerika Serikat dan Uni Eropa selama ini dikenal menampilkan front persatuan yang solid. Namun, kohesi tersebut mulai terkikis sejak awal masa kepresidenan Trump.

Ketegangan meningkat setelah perhatian presiden tertuju pada Greenland.

Usai para pemimpin Eropa menolak kemungkinan akuisisi wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark itu oleh AS, Trump merespons dengan mengancam tarif impor sebesar 10% untuk barang dari delapan negara Eropa.

Para pemimpin Eropa kemudian bergerak menuju langkah balasan. Para kepala negara dari 27 anggota Uni Eropa menurut jadwal akan bertemu dalam beberapa hari ke depan untuk membahas respons terkoordinasi terhadap ancaman Washington.

Sejauh ini, tidak ada pihak yang mengambil langkah untuk meredakan eskalasi. Ketika berbicara kepada wartawan di World Economic Forum di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa akan menjadi langkah yang “sangat tidak bijak” apabila blok Eropa mengambil tindakan balasan terhadap Amerika Serikat.

WATCH: Scott Bessent warned at Davos that “it would be very unwise” for Europe to retaliate over U.S. ambitions to purchase Greenland. pic.twitter.com/NZ8cLFnRwA

— BeInCrypto (@beincrypto) January 19, 2026

Di saat yang sama, eskalasi risiko geopolitik, ketidakpastian perdagangan, serta pertanyaan mengenai kredibilitas institusi membayangi peran dolar dalam perekonomian global. Namun, kondisi ini juga membuka peluang bagi negara-negara pesaing yang berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan kelemahan yang mulai muncul tersebut.

Cina Manfaatkan Perpecahan Barat

Cina telah lama mempersiapkan fondasi bagi sistem keuangan alternatif.

Seiring waktu, negara ini memperluas penyelesaian perdagangan berbasis yuan, mempromosikan infrastruktur pembayaran lintas negara miliknya sendiri, serta mendorong penggunaan mata uangnya secara lebih luas dalam transaksi internasional.

Inisiatif-inisiatif ini dirancang dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap kebijakan dan sanksi AS, terlepas dari dinamika geopolitik saat ini.

Kini, langkah-langkah tersebut memiliki bobot yang lebih besar seiring meningkatnya keraguan atas stabilitas institusional Amerika Serikat. Bagi Beijing, lingkungan saat ini menghadirkan celah strategis yang lebih dibentuk oleh ketidakpastian kepemimpinan AS ketimbang oleh tindakannya sendiri.

Cina tidak perlu menggantikan dolar untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran ini. Daya tariknya terletak pada opsionalitas, bukan dominasi, dengan menawarkan jalur tambahan bagi mitra dagang dalam penyelesaian transaksi dan pembiayaan.

Tensi antara Washington dan Uni Eropa semakin memperkuat peluang tersebut. Blok Barat yang kurang solid melemahkan persepsi tatanan persatuan yang selama ini menopang peran global dolar.

Bagi negara-negara yang waspada terhadap gangguan perdagangan, infrastruktur keuangan Cina yang terus berkembang dapat menjadi alternatif yang layak.

Dalam menguji kepemimpinannya sendiri, Washington berpotensi justru menciptakan ruang bagi Beijing untuk secara senyap memperluas pengaruhnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang tekanan pada The Fed serta keretakan Barat yang buka celah bagi Yuan Cina ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

  •  
❌